Kamis, 11 Oktober 2012

Mengampuni dan Memberkati


Mengampuni dan Memberkati
Oleh: dr. Yohana Puji Dyah Utami

                Ah, ini dia topik hangat kita kali ini. Perihal Tante Menik dan sikapnya yang ‘aduhai’ itu. Bikin orang banyak bilang “aduh” dan malas menyapa “hai” padanya. Apa pasal? Entah mengapa dan entah bagaimana sikap Tante Menik bisa sedemikian negatifnya terhadap keluargaku dan keluarga besarku. Akarnya apa? Bagaimana cara mencabutnya? Aku harus sangat berhati-hati menjaga perasaan dan pikiranku terlebih dahulu. Setiap kali muncul gambaran sikap Tante Menik yang negatif itu, aku segera mengucapkan kalimat doa singkat nan ampuh ini, “Tuhan, ampuni Tante Menik. Berkati Tante Menik.” Kemudian, aku lanjukan dengan deklarasi ini, “Aku mengampuni Tante Menik. Aku memberkati Tante Menik”. Berkali-kali, mengikuti perintah Tuhan Yesus Kristus, tujuh puluh kali tujuh kali.
                Itu adalah “perisai iman” yang kupakai untuk bertahan terhadap serangan Iblis yang memakai Tante Menik dengan sikapnya itu. Lalu, “pedang roh”nya adalah doa-doa syafaat atau permohonan yang keluar dari hatiku yang terdalam. Tentu saja sesuai dengan prinsip kebenaran firman Tuhan! Supaya lebih josss, aku rahasiakan baik-baik semua kalimat doaku itu. Tidak sampai kutuliskan di sini. Tunggu nanti kalau sudah dijawab Tuhan, baru aku buka ‘blak’. Luar biasa, bukan?
                Cara yang kupakai ini aku tiru atau terinspirasi dari Alkitab. Di kitab Daniel ada diperintahkan TUHAN supaya memeteraikan semua perkataan TUHAN. Dirahasiakan! Jangan diungkap dulu! Tujuannya supaya rencana TUHAN itu dapat terlaksana dengan sukses sesuai waktu-Nya yang presisi. Juga, supaya pihak musuh bingung dan bertanya-tanya akan strategi TUHAN itu. Perlu dicatat, Iblis itu tidak maha tahu. Hanya TUHAN-lah yang maha tahu!
                Di pihak lain, di kitab Wahyu, rasul Yohanes diperintahkan untuk menulis dan tidak memeteraikan apa yang ditulisnya itu. Ini juga strategi jitu TUHAN supaya membuat musuh kelabakan sendiri. Jadi, ada waktunya untuk berdiam diri menyimpan rahasia dan ada waktu untuk ‘membuka kartu’. Rahasianya adalah ‘TIMING’ atau ‘KAIROS’. Jika waktunya sudah tiba, dan kemenangan sudah 100% di tangan TUHAN dan sekutu-Nya, maka barulah kita boleh buka kartu. Jreng jreng!!! Seru sekali melihat reaksi kaget musuh dan antek-anteknya.
                Satu lagi! Ini adalah peperangan rohani. Musuh kita bukanlah melawan darah dan daging, melainkan dedengkot Iblis dan kroco-kroconya di udara. Kalau ada manusia yang secara sadar atau tidak sadar telah menjadi boneka Iblis, ya kasihan sekali! Tugas kita adalah berdoa, mengampuni, dan bersyafaat seperti Tuhan Yesus. Biar TUHAN dan malaikat-malaikat-Nya yang berperang menggantikan kita. Tugas kita adalah ‘duduk diam’, berdoa, dan mengamati jalannya peperangan. Jika disuruh ‘bangkit berdiri’ untuk bersorak, ya bersoraklah! TUHAN sudah pasti menang!
                Kembali ke masalah konkret kita kali ini: Tante Menik. Sudah jelas, kan? Musuh kita bukanlah Tante Menik, melainkan si Iblis yang telah membutakan dan membisiki Tante Menik dengan hal-hal yang bukan-bukan. Gambarannya sama seperti Yudas Iskariot yang pikirannya dirasuk Iblis itu sehinngga akhirnya mengkhianati Tuhan Yesus. Tidak sampai seperti orang kesurupan macam jathilan itu, kan?
                Tugas kita adalah tetap berdoa, tetap mengampuni, dan tetap memberkati siapapun yang menyakiti hati kita. Perkara dia dongkol atau benci sama kita, itu urusan dia dengan Tuhan. Yang penting kita tidak ikut membenci. Serahkan saja perkara “nyebelin” ini pada yang Mahaadil dan Mahabijaksana. Dan jangan lupa serukan “mantra” dahsyat ini manakala hati kita tertusuk oleh perkataan-perkataan negatifnya: “Kami mengampunimi, kami memberkatimu, Tante Menik!” Salam damai! Peace!

(Tulisan ini sebagai tanggapan atas tulisan-tulisan Tante Menik di Facebook yang pedas dan menyesatkan)

Tidak ada komentar: