Senin, 20 April 2015

Pujian Kemenangan

Saat aku di kamar mandi sore ini, aku nyaris jatuh dalam pikiran-pikiran negative nan suram. Begini ceritanya. Kilasan-kilasan bayangan tentang ketidakmampuan dan ketidakberdayaanku jika tanpa Mas Cah menyerangku dengan diam-diam, terslamur di antara ‘suara’ pikiranku. Maka, kuambil cara seorang konvergen untuk menangkalnya. Aku ucapkan kebenaran firman-Mu dengan bersuara sampai telingaku mendengar. Aku ucapkan firman-firman-Mu yang menyatakan bahwa Engkau selalu besertaku, bahwa dalam-Mu aku cakap menanggung segala perkara, bahwa Engkaulah gembalaku. Kemudian pujian iman dan pengagungan kunaikan dengan teguh dan mantap sehingga bayangan-bayangan negative itu tidak merasuki pikiranku. Sambil mandi keramas, sambil memuji dan menyembah-Mu dengan bahasa manusia. Aku merasa sedang memenangkan pertempuranku karena kukenakan selengkap senjata-Mu berjubahkan pujian. Dahsyat! Terima kasih, Bapa. Haleluya!!!

            Kesimpulanku hari ini:

·         Ada waktu untuk berpikir secara konvergen, ada waktu untuk bepikir secara divergen.
·         Ada waktu untuk mendengar, ada waktu untuk berbicara.

·         TUHAN membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Konvergen dan Divergen

Selamat petang, Bapa—Yesus—Roh Kudus! Wow, dahsyat hari ini! Sore ini aku WA-nan sama Pak Ias, masih membahas tentang cara berpikir convergen dan divergen. Aku tertarik untuk meneliti (iseng) tentang cara berpikir konvergen dan divergen dalam masyarakat pada umumnya. Apa pula itu konvergen dan divergen? Ini penjelasan singkatnya, terinspirasi dari film Divergent banget ceritanya:

1.      Cara berpikir konvergen adalah cara berpikir dengan berbicara kepada diri sendiri sehingga lebih focus dan terarah. Orang itu sendirilah yang mengarahkan pikirannya hendak ke mana.
2.      Cara berpikir divergen adalah cara berpikir dengan mendengar diri sendiri sehingga lebih acak dan sporadic. Arah pikirannya sukar ditebak dan sering dianggap sebagai ide yang melompat-lompat (padahal sebenarnya tidak).

Mengapa aku tertarik? Karena, aku mendapati diriku cenderung berpikir secara divergen, alias lebih banyak ‘mendengar’ suara hati (dan suara-Mu). Sedangkan dua orang yang kutanyai yaitu Pak Ias dan Mas Cah mengatakan mereka cenderung lebih banyak ‘bicara’ kepada diri sendiri. Aku penasaran, apakah orang lain mempunyai cara berpikir konvergen atau divergen. Yang manakah yang lebih dominan dalam masyarakat pada umumnya? Apakah tiap daerah dan kebudayaan berbeda kecenderungannya? Aku berasumsi bahwa yang dominan akan ‘menindas’ atau minimal salah paham terhadap yang lain (yang minoritas). Orang dengan cara berpikir lain akan dipandang aneh, abnormal, bermasalah sehingga harus ‘diluruskan’. Padahal, bisa jadi orang yang dipandang sebagai masalah itu sebenarnya adalah (bagian dari) solusinya.

            Kemudian, aku tertarik untuk melakukan penelitian iseng-iseng dengan menyebar angket dan wawancara mendalam untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi sehingga muncullah kedua cara berpikir tersebut. Apakah factor gender, usia, pola asuh, pendidikan, dll itu ada pengaruhnya? Ataukah itu sudah bawaan dari lahir?
            Lalu, apa kata Alkitab mengenai hal ini? Adakah cara berpikir konvergen dan divergen dalam Alkitab? Adakah contoh-contohnya? Jika ada, lalu apa implikasinya?
         Terakhir, apa tujuan dan manfaat dari mengetahui hal ini? Apa kontribusinya bagi kemanusiaan?


            Hmm, konvergen, divergen. Is it worthy enough, God? Apalah akan jadi beneran ya? Hehe, let’s find out in the future!!!

Berpikir secara Divergen

Kupikir-pikir dan kurasa-rasakan, cara berpikir demikian (aktif berbicara kepada diri sendiri) itu seperti memfokuskan diri pada satu hal atau konvergen. Itu baik untuk forum diskusi yang sedang berusaha mencari solusi. Tapi untuk keseharian, sepertinya kurang pas bagiku. Selama ini aku terbiasa berpikir secara divergen, ala cewek yang seperti bakmi, dan aku tidak mengalami masalah yang berarti dengan itu. Aku bukannya ‘pasif’ dalam arti negative, melainkan ‘aktif’ menyeleksi apa pun yang ‘kudengar’ dalam pikiran. Mungkin ini cara berpikir yang kurang dipahami oleh para ahli intelektual ya. Tapi, bukankah Einstein pun juga demikian? Bukankah para pemikir ‘out of the box’ itu juga berpikir secara divergen? Dan, menurutku, sepanjang tidak merusak diri sendiri maupun orang lain, bukankah cara berpikir divergen itu adalah cara jitu untuk menemukan solusi? Ah, jadi ingat film Divergent, hehe.

Eksperimen Pikiran

Selamat pagi menjelang siang. TUHAN, kali ini aku sedang bereskperimen dengan pikiranku. Aku mencoba untuk lebih aktif dalam berpikir dengan cara berbicara kepada diri sendiri alih-alih mendengarkan diri sendiri. Ini aku praktekkan sesuai dengan apa kata buku ‘Out of The Blues’ karya Dr. Wayne Mack yang sedang kubaca kembali. Aku membaca kembali buku ini karena aku merasa depresi sedang berusaha menaklukkanku hari-hari ini. Dr. Mack menulis di bukunya ini supaya kita jangan pasif tetapi aktif dalam pikiran. Aku sedang mencobanya. Rasanya sedikit menakutkan, Bapa, karena aku seperti rawan terserang kebingungan. Waktu kucoba untuk membaca artikel di kopibrik, agak susah untuk konsentrasi karena aku terlalu sibuk dengan pikiranku yang aktif. Jika ini tidak berhasil, aku tetap bersyukur karena setidaknya aku sudah mencoba. Tidak ada sesuatu yang sia-sia. Amen.