Selasa, 19 Juni 2018

Our Father by Andina: Sebuah Rencana Aransemen


Someday we'll find
other great experiences
but, will we remember
our simple things together

Tears, laughs, and dreams
hurt, happiness, and hope
there are too much process, so...
how we can forget you

'coz you are our father
you are our teacher
and you are our friend
in all of the time

well, despite not forever
we will be together
but we will always love you
and call you, our father

Lord, thanks for fulfill his life
with Your love
and lead us to share
Your kindness and grace...

'coz you are our father
you are our teacher
and you are our friend
in all of the time

well, despite not forever
we will be together
but we will always love you
and call you, our father





Jangan Lupa untuk Bahagia

Itu pesan penting yang kupelajari hari ini. Setelah tiga hari libur lebaran yang diwarnai melankolia akut, dan dua hari masuk kerja yang dihiasi perasaan tidak berdaya, sore malam ini kudapatkan penawarnya. Apakah itu? Sederhana, itu adalah sukacita atau kegembiraan yang sejati.

Bagaimana caranya? Ini beberapa hal yang kulakukan hari ini untuk mengembalikan suasana hatiku menjadi lebih ceria:
  1. Buka-buka laman daring dan baca-baca artikel di blog orang yang membuka wawasan, memberi ide segar untuk dipraktekkan.
  2. Menemukan satu tips mengatasi depresi yaitu melakukan hal-hal sederhana yang bisa dilakukan. Melalui hal-hal sederhana itulah Tuhan bekerja memulihkan semangat dan membangkitkan rasa keberhargaan diriku.
  3. Mencoba hal baru yaitu menyeterika sambil mendengarkan siaran radio yang muatannya lucu yaitu Geronimo FM. 
  4. Menemani dan mengikuti gerak lincah energi Asa yang ceria.
  5. Berbagi cerita dan canda tawa dengan teman-teman via grup WA (ARMY of God--Andin, Reza, Mimi, Yiska dalam Tuhan) yang ternyata sanggup mengangkat suasana hatiku menjadi lebih cerah.
Begitulah aksi kecil berdampak luar biasa (memijam istilah SABI--small action big impact--dari tayangan singkat di Sasando FM) yang kualami dan kubagikan untukmu, para pembaca yang baik dan terberkati. Mari berbahagia sambil mengingat bahwa diri kita begitu berharga karena dicintai oleh-Nya.

Minggu, 17 Juni 2018

Berbagi Proses Kehidupan

Aku punya banyak kesempatan untuk berbagi kasih kepada mereka yang membutuhkan. Keterbatasanku adalah sikapku yang kaku.

Sering kulihat orang berpakaian kumal dengan rambut acak-acakan, kulitnya dekil seperti sudah lama tidak mandi. Pandangan matanya kadang kosong, kadang menerawang jauh. Mulutnya sibuk berkata-kata sendiri, entah apa yang diucapkannya. Bukan satu dua saja orang seperti itu. Mereka ada beberapa. Entah dari mana asalnya dan hendak ke mana. Sering aku heran, di mana keluarga mereka. Mengapa mereka terpisah dari keluarga? Apakah keberadaan mereka sudah tidak dianggap lagi oleh orang-orang terdekat? Ataukah keluarga mereka sudah tidak sanggup lagi hidup bersama orang yang terjebak dengan dunianya sendiri?

Namun di tengah hangatnya keluarga pun, sering pula kujumpai tatapan mata menerawang jauh dari mereka yang menyimpan duka. Duka akibat luka kehidupan yang belum kunjung sembuh. Sejarah luka-luka itu membuatku ngilu. Dalam diam kuperhatikan orang-orang terluka itu saling menyemangati. Meskipun tidak jarang mereka saling melukai juga. Aku tahu itu tidak mereka sengaja. Mereka hanya ingin melindungi satu sama lain.

Di tengah kepedihan itulah aku berada. Aku pun tidak luput dari sejarah yang penuh luka. Hampir saja, kalau bukan karena kemurahan Tuhan melalui keluarga, aku menjadi seperti orang-orang berpakaian kumal yang tercampakkan. Syukur pada Tuhan, Dia menjagaku dengan amat sangat dan memulihkanku seperti seorang penjunan yang telaten memperbaiki bejananya. Kepingan demi kepingan kehidupanku dirangkai-Nya sehingga menjadi suatu karya yang unik. Dan aku tahu Dia masih terus bekerja memulihkan kehidupan. Dimulai dari hatiku yang paling dalam, kemudian mengalir menjangkau sekelilingku, dari yang terdekat--yaitu keluargaku.

Sikap kaku yang membatasi gerakku pun dibuat-Nya melunak sedikit demi sedikit. Kecenderungan menghakimi dan merasa paling benar sendiri dirombak-Nya, dengan kerja sama dariku tentunya. Firman dan kuasa Roh-Nya membimbingku selangkah demi selangkah. Kasih-Nya yang kuat terus mendorongku untuk maju. Sungguh proses yang panjang dan keras untuk mengubah karakterku.

Dan proses itu pun masih terus dan akan terus berjalan. Sampai kapan? Sampai Dia memanggilku kembali atau sampai Dia datang untuk yang kedua kali. Bagianku adalah terus berproses bersama-Nya. Dan momen-momen berkesan dari proses itu pun kubagikan melalui tulisan seperti ini. Aku hanya bisa bersyukur dan berdoa supaya apa yang kubagikan ini dapat bermanfaat dan menjadi penyemangat bagi sesama bejana yang diproses Tuhan.

Mari kita sama-sama bersyukur atas proses hidup yang semakin mengutuhkan ini.

Syukur pada Tuhan.

Sabtu, 16 Juni 2018

Oleh-oleh Mudik: Pengharapan di Tengah Keluarga

Tiga hari ini, kami seisi rumah Cahaya pergi ke Solo. Mudik. Ziarah batin. Mengikuti tradisi penuh makna masyarakat Indonesia pada umumnya. Di tengah-tengah tahun 2018 yang sibuk dan penat oleh upaya efisiensi dan promosi tempat kerja, ritual mudik ini cukup menjadi oase bagiku. Ziarah batin ini cukup memberiku kesegaran baru dalam hidup yang penuh warna dan dinamika.

Ada banyak hal yang patut disyukuri. Dan ada beberapa hal yang menjadi catatan bagiku. Patut disyukuri karena hal-hal tersebut menerbitkan sukacita tersendiri dan rasa kagum yang amat dalam terhadap Tuhan. Sedangkan yang menjadi catatan adalah hal-hal yang masih menjadi keprihatinan pribadi dan bersama.

Berikut ini adalah hal-hal yang patut disyukuri:
1. Disambut dengan hangat dan mesra penuh kasih sayang oleh keluarga di Solo.
2. Menyaksikan demonstrasi kasih dan pengabdian yang luar biasa antara bapak dan ibu Solo.
3. Mengalami dan merasakan suasana guyub di kampung Gremet saat bersalam-salaman.
4. Perjalanan yang menyenangkan dan selamat sampai tujuan ke Purwodadi.
5. Beramah tamah dan menyelami keluarga besar di Purwodadi.
6. Mengalami momen-momen kecil sederhana yang menghibur hati

Sedangkan beberapa catatan yang menjadi perhatian dan pergumulan adalah sebagai berikut:
1. Masing-masing pribadi memiliki kepedihannya sendiri yang jarang terucap.
2. Keprihatinan terhadap situasi keluarga besar yang sarat beban

Di atas semuanya itu, aku sangat terberkati karena aku melihat dan merasakan betapa Tuhan selalu hadir dalam keluarga. Kehadiran-Nya dapat kusaksikan dalam suasana kebersamaan nan hangat keluarga besar. Kasih sayang dan perhatian yang dicurahkan membuatku yakin dan makin teguh percaya bahwa masih ada pengharapan. Ya, masih ada pengharapan di tengah dunia yang makin suram kelam ini. Dan sungguh masih ada pengharapan bagi keluarga-keluarga yang mengalami masa-masa krisisnya masing-masing.

Syukur kepada Tuhan sang pemelihara keluarga.

Selasa, 12 Juni 2018

Saat Teduh yang Memulihkanku

Beberapa hari ini aku merasa tidak karuan. Serbuan perasaan minder dan tidak layak mengacaukan fokusku. Perasaan tidak mampu dan tidak berdaya hampir saja melumpuhkanku. Kompensasi dari semua energi negatif yang kurasakan itu adalah aku jadi gampang marah-marah terhadap Asa.

Kucoba meminta pertolongan kepada orang-orang terdekatku, baik itu secara terang-terangan ataupun tersembunyi. Kusampaikan keluh kesahku dengan bahasa yang sederhana kepada mereka. Kasih dan perhatian kudapatkan saat itu juga. Namun aku merasa belum sepenuhnya lega.

Sore hari ini, diiringi semilir angin sepoi-sepoi basa, kuambil waktu teduh nan hening. Kumasuki kamarku dan duduk. Kubuka hati dan pikiranku untuk menyapa Tuhanku. Sungguh indah. Tuhan pun menyapaku. Kami saling berpaut hati. Kembali kurasakan kasih-Nya yang manis di jiwaku.

Firman dan doa sederhana yang kunikmati ternyata sanggup mengangkatku dari kekelaman. Dan inilah impresi yang kutulis untuk menggambarkan betapa Dia mengasihiku.

"AKU merindukanmu, sahabat-Ku... engkau berharga di mata-Ku dan Aku mengasihimu... gapailah kasih-Ku... Aku mengasihimu dengan kasih yang kekal, dan Aku hendak melanjutkan kasih-Ku itu..."

Terima kasih, Tuhan. Aku sungguh bersyukur. ^^

Minggu, 03 Juni 2018

May I Join?

Asa sering bertanya demikian manakala ia ingin bermain bersama orang lain.
Aku pun kadang menirukannya. Sapaan sopan ini sangat tepat bagi kita untuk menawarkan diri bergabung dalam aktivitas yang sedang berlangsung. Jika mendapat "yes" sebagai jawaban, maka kita bisa segera ikut nyemplung atau membaur tanpa ba bi bu.

Sering pula aku menyerukan "may I join" ke Tuhan saat aku begitu takjub akan kasih dan kuasa-Nya dalam peristiwa atau situasi yang kusaksikan. Dan aku percaya Tuhan dengan antusias menjawab "yes". Maka aku segera ikut dalam agenda-Nya tanpa rasa canggung.

Kadang aku baru sadar jika Dia menyerukan "may I join" padaku saat aku begitu sibuk dengan urusan-urusan keluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Padahal pastilah Dia selalu menyerukannya setiap waktu. Dan saat kujawab "yes", saat itulah sukacitaku menjadi penuh dan menggandakan kekuatanku.

Dia selalu punya cara yang unik dan kreatif, serba variatif, untuk menunjukkan kepedulian-Nya. Dan aku hanya bisa menaikkan syukur yang tak terhingga pada-Nya.

Sabtu, 02 Juni 2018

Pemulihan hubungan ilahi

Biarkan TUHAN memulihkan sendi-sendi kehidupanmu.
Sendi berbicara tentang sistem hubungan 2 tulang yang berbeda.
Hubungan kunci.
Divine connection.
Yang dipulihkan meliputi posisi, bentuk, dan fungsi.
Tujuannya untuk melaksanakan tugas baru.
Tantangan dan kesempatan baru.
Menumbuhkan perspektif ilahi yang baru.
Yang segar.
Memberi kesegaran dan semangat baru.

Laksana bola api dari surga dalam tangan TUHAN
Yang siap dilemparkan ke atmosfer bumi
Untuk menyatakan terang kuasa TUHAN
Teruslah membara berapi-api

Bersyukurlah
Belajarlah
Bersemangatlah
Maka kamu akan
Mengalami
Merasakan
Menyaksikan

Cipta rasa karsa karya TUHAN
Yang dahsyat luar biasa

Puji syukur pada TUHAN