Postingan

Menampilkan postingan dengan label pikiranku hari ini

Natural Disasters and Human Responsibility: How Should We Understand Them?

Gambar
The illustration was made with Chat GPT Natural disasters are currently striking several regions of our country. Mismanagement of land and territory has become one of the contributing factors, in addition to extreme weather conditions that have not occurred in the last few decades. Complaints and calls demanding that incompetent power holders take responsibility and act immediately have filled social media throughout this past week. As citizens, members of society, fellow human beings living in a nation founded on Pancasila, and as Christians who hold firmly to the truth of God’s Word written in the Bible, a question inevitably arises—one that must be answered clearly: “How should we understand all these events from the perspective of the Christian faith, which acknowledges both the sovereignty of God and the responsibility of humanity?” In a podcast episode, Bagus Muljadi explains that Western thought often maps the ages of human history into three major eras: premodern, modern, and...

Bencana Alam dan Tanggung Jawab Manusia, Bagaimana Memaknainya

Gambar
Ilustrasi bencana alam dan tanggung jawab manusia serta bagaimana memaknainya  (Sumber: prompting ChatGPT) Bencana alam sedang melanda sebagian wilayah negeri ini saat ini. Salah urus wilayah menjadi salah satu faktor penentunya, di samping cuaca ekstrim yang baru kali ini terjadi dalam puluhan tahun terakhir. Keluhan dan seruan yang menuntut orang-orang inkompeten pemegang kekuasaan untuk bertanggung jawab dan segera ambil tindakan telah bertalu-talu memenuhi ruang media sosial beberapa hari dalam minggu ini. Sebagai seorang warga dan anggota masyarakat serta sebagai sesama manusia yang hidup di negeri berdasar Pancasila ini, dan juga sebagai seorang Kristen yang memegang teguh nilai-nilai kebenaran firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, timbul pertanyaan yang harus dijawab dengan tegas yaitu: "Bagaimana memaknai semua peristiwa ini dari kaca mata iman Kristen yang mengakui adanya kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia?" Bagus Muljadi dalam sebuah siniar menyampaika...

Perjalanan Bersahaja: Seminggu dari Rumah Cahaya ke Rumah Sakit Bethesda

Gambar
Seminggu berlalu dengan bersahaja bagiku di Rumah Cahaya, ruang aman bagi jiwa yang mengembara di dunia dalam zaman akhir ini. Dimulai dari anugerah yang memberikan iman bahwa keselamatan hanya ada di dalam Kristus Yesus Tuhan satu-satunya jalan kepada Bapa, kemudian bergulir dalam pengharapan bahwa Dia akan segera datang kembali, dan wujud nyata kasih sebagai bukti bahwa hidup kekal bersama Allah Tritunggal itu telah ada dan dimulai di sini sampai nanti di kekekalan. Ini sinkron dengan sepenggal ayat Alkitab yaitu Matius 6:33 yang tertempel di dinding ruang jaga satpam gedung Petronella RS Bethesda Yogyakarta, tempatku biasanya menunggu jemputan pulang di sore hari.  "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" Matius 6:33 di dinding pintu masuk gedung Petronella RS Bethesda Yogyakarta Kekayaan yang begitu limpah ruah dan dalam itu dapat diperoleh asalkan kita tekun menggali kebenaran firman yaitu Alkitab, tentu saja den...

Highlight Obrolan: Isu Kesehatan Mental

Gambar
Suasana kamar Hadasa di lantai dua rumah kami di Plumbon terasa sejuk dan syahdu pagi hari yang diwarnai mendung berangin sepoi-sepoi basah. Diiringi dengan lagu-lagu cinta mendayu-dayu dari radio Geronimo FM, dengan tagline-nya " the real sound of Jogja " itu, dan ditemani dengan secangkir kopi hangat dari dapur serta buku Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer yang sedang kubaca pelan-pelan, aku duduk santai menunggu terbangunnya Hadasa, si anak remaja perempuan Rumah Cahaya. Sudah terlalu siang untuk ritual jalan kaki pagi bersama di hari Minggu. Cukuplah dengan mengobrol ringan ngalor ngidul saja. Hadasa mulai sering mengajakku ngobrol berdua di kamarnya. Obrolan random khas anak remaja yang sedang berkutat dengan dunia sekolah dan lingkaran pertemanannya itu mengerucut ke cerita-cerita seputar keluarga besar kami. Hal-hal sensitif dan relatif tabu jika dibicarakan secara terbuka kini mulai menjadi pokok pembicaraan mendalam antara ibu dan anak, biasanya menjelang tidu...

Pilihan Ganda?

Gambar
 "Sekelas surveior, masa ujiannya hanya berupa pilihan ganda? Masa sama seperti anak SD, SMP, SMA? Masa hanya menghafal soal dan jawaban?" Itu pertanyaan saya di tengah-tengah sibuknya para surveior senior belajar mempersiapkan post test di hari terakhir workshop Pitselnas IX KARS tahun 2025 ini. "Lalu mau pakai apa?" tanya balik seorang surveior senior, yang cukup memantik pemikiran yang perlu perenungan lebih dalam. Coba bayangkan! Sejak SD sampai SMA, setiap ujian akhir sekolah, soal-soal pilihan ganda menjadi cara mengukur kemampuan akademis kita selama ini. Nilai-nilai ujian itu prosesnya sebagian besar melalui cara menghafal teori. Itu masih lebih mendingan. Yang lebih parah lagi adalah menghafal soal dan jawaban, hanya demi nilai agar lulus, agar dapat ijazah yang menandakan bahwa kita pernah bersekolah tapi belum tentu pernah berpikir (meminjam ungkapan dari Rocky Gerung). Belajar dan ujian seperti itu (baca: metode menghafal) sepertinya telah dinormalisasi ...

Lagu Paskah dan Bahaya Universalisme Terselubung: Telaah Teologis dari Perspektif Reformed (TULIP)

Pendahuluan Di tengah semangat menyambut Paskah dan kesukaan bernyanyi dalam ibadah, banyak umat Kristen terbawa suasana emosional tanpa menyadari bahwa lagu-lagu rohani yang mereka nyanyikan menyimpan potensi bahaya: pengajaran yang kabur, bahkan menyesatkan. Dua lagu yang menjadi sorotan kali ini adalah sebuah lagu Paskah ciptaan pendeta Gereja Kristen Jawa, dan lagu populer "Tuhan Sumber Gembiraku". Keduanya, meski tampak indah secara musikal dan puitis, mengandung muatan teologis yang perlu dikritisi, khususnya dari sudut pandang iman Reformed yang merujuk pada doktrin TULIP. Bagian I: Analisis Lirik Lagu Paskah Lirik lagu: Pandanglah arah Golgota, Ia disiksa supaya kita ditebus-Nya Ingatlah akan peluh-Nya, yang memikul semua derita dunia Rasakan tubuh derita-Nya, supaya kita mensyukuri cinta-Nya Lumuran merah darah-Nya, yang membasuh semua noda semesta Ingatlah semua sakit-Nya, ngilu menanggung khianat nafsu kita Ingatlah tubuh-Nya luka, yang memulihkan kita s...

Kesetaraan yang Membebaskan: Iman, Budaya, dan Harmoni dalam Terang Injil

Pendahuluan: Harmoni sebagai Mitos atau Realitas? Dalam banyak masyarakat, termasuk budaya Jawa, harmoni dipandang sebagai nilai tertinggi. Namun, harmoni versi budaya ini sering berarti keheningan — menyingkirkan konflik bukan dengan penyelesaian adil, tapi dengan tunduk pada hirarki yang dianggap “alamiah.” Struktur sosial dan gender yang menempatkan laki-laki di atas perempuan, tua di atas muda, dan bangsawan di atas rakyat, dianggap bagian dari tatanan dunia yang harus dijaga demi persatuan. Seperti dikemukakan oleh Sciortino dan Smith (1996), dalam budaya Jawa: “Keharmonisan yang ideal dalam masyarakat tidak dapat dicapai dalam hubungan yang setara, tetapi lebih melalui penghormatan pada otoritas hirarkis yang terbentuk dari ideologi gender patriarkal.” Pertanyaannya: benarkah struktur semacam ini sesuai dengan nilai Injil? Di sinilah iman Reformasi — khususnya dalam tradisi Calvinis — memberikan terang kritis dan pembebasan. Budaya yang Menindas atas Nama Harmoni Studi “...

Laki-Laki dan Perempuan

 (Tulisan ini dibuat pada 9 Mei 2024) Hore, libur kenaikan Tuhan Yesus Kristus! Hari-hari ini penuh dengan kegembiraan karena berkat-berkat Tuhan yang tidak terduga. Terima kasih, Tuhan! Sinambi mempersiapkan agenda berikutnya yaitu penilaian lomba mutu Bethesda award dan ajang presentasi oral lima nominasi terbaiknya, juga menyongsong pelantikan direktur dan wakil direktur RS Bethesda, serta menjelang acara puncak ulang tahun ke-125 RS Bethesda, aku berusaha untuk stay alert dan aware dengan tetap eling dan waspada bahwa waktu-waktu yang ada ini cepat berlalu dan perlu kuisi dengan hal-hal bermakna bersama keluarga dan teman-teman yang kukasihi dan mengasihiku. Saat ini (jam 15.09), aku lagi di Solo, menemani Pak Cahyono yang lagi mengurus perkara tanah warisan di Gremet, Manahan. Senang dan bersyukur karena kulihat dan kudengar sendiri progres kesepakatan yang sepertinya akan berakhir dengan baik. Sambil menunggu, aku baca² buku Rahasia Nusantara karya Asisi Suharyanto, hadiah ...

Bukan Kebetulan IRNA: Sebuah Refleksi

Mengapa Ada di IRNA Bukan kebetulan kita ada dan ditempatkan di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Sejak tahun 2018 sampai 2024 ini, situasi dan kondisi rumah sakit telah mengantar kita sedemikian rupa. Kita mengalami silih berganti direksi, kalakhar, dan kepala ruang yang masing-masing punya ciri dan gayanya tersendiri. Kita percaya bahwa semua itu pasti ada maksud dan tujuan-Nya, sehingga tidak ada yang sia-sia. Pasti ada hal yang kita pelajari, yaitu belajar untuk hidup dan bertumbuh sehingga tidak stagnan. Kita selalu diingatkan, bahwa semua ini adalah dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dia saja segala kemuliaan. Dan, semua itu terwujud dalam sikap dan karya kita di IRNA. Kerja, Harapan, dan Tujuan Selama kita berada di IRNA, berbagai program kerja dari 2018-2024 telah, sedang, dan akan kita lakukan. Indikator mutu dan pencapaian targetnya menjadi tolok ukur kinerja kita sebagai satu kesatuan instalasi. Dan yang terus menjadi fokus saat ini adalah sistem manajemen bed....

Proyeksi 5-10-15-20 Tahun ke Depan di Rumah Sakit Bethesda

Mengapa aku terpikir akan hal ini? Apa yang membuatku tertarik memikirkan hal ini? Apa latar belakang/konteksnya? Entah bagaimana, aku terpikir akan RS Bethesda 5-10-15-20 tahun ke depan akan seperti apa. Mengapa RS Bethesda? Mengapa bukan keluarga, atau gereja? (aku tidak tahu) Apa itu proyeksi 5-10-15-20 tahun ke depan? Apa saja yang mungkin terjadi dalam 5-10-15-20 tahun ke depan? Skenario apa saja yang bisa terjadi dari yang paling optimis-biasa-pesimis? Bagaimana sikapku untuk menyiapkan kemungkinan 5-10-15-20 tahun ke depan? Apa saja yang perlu kulakukan untuk bisa hidup dengan penuh makna dalam 5-10-15-20 tahun ke depan? Siapa saja yang kulibatkan dalam 5-10-15-20 tahun ke depan? Yang aku inginkan hanyalah menikmati Tuhan di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun aku berada. Jadi, di mana pun aku berada, kapan pun itu, dan dengan siapa pun, aku tetap enjoy aja karena ada Tuhan di dalamku dan aku di dalam-Nya.Itu adalah misi utama dalam hidupku, alasan mengapa aku ada. Lalu ap...

Manusiawi dan Tuhanis: Pemikiran dan Pertanyaan

Pemikiran: Manusiawi atau humanis sering dikontraskan dengan Tuhanis, bahkan sering pula dipandang sebagai dikotomi. Manusiawi itu wajar dan umum. Tuhanis itu sering disalahpahami Manakah yang lebih penting/utama? Bisakan menjadi Tuhanis sekaligus manusiawi? Latar Belakang: Aku mendapati unggahan komentar di media sosial sering terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah orang-orang yang sangat teosentris atau Tuhanis, meminjam istilah adik sepupuku. Golongan kedua adalah mereka yang sangat antroposentris atau manusiawi. Misalnya dalam menyikapi pandemi COVID-19 ini. Golongan Tuhanis akan memandang pandemi ini sebagai wujud murka Tuhan terhadap manusia yang sangat berdosa, yang melupakan Tuhan, sehingga layak dihukum. Sebaliknya, golongan manusiawi, akan melihat pandemi ini sebagai ancaman bagi eksistensi ras manusia sehingga mau tidak mau harus melakukan berbagai upaya dengan segenap ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. Seringkali, kedua golongan tersebut ber...

Kasta

Aku pernah mengobrol dengan sepupuku Arin, sempat menyinggung tentang dunia sihir Harry Potter dan kasta-kasta penyihirnya. Dan inilah hasil refleksiku dari obrolan singkat via WA itu. Dunia sihir Harry Potter menceritakan ada kasta-kasta penyihir. Kasta tertinggi adalah pure blood atau penyihir dari keluarga asli penyihir, dari sononya sudah penyihir. Kasta berikutnya adalah halfblood atau penyihir yang berdarah campuran. Misalnya bapaknya penyihir, ibunya manusia non penyihir. Kasta paling hina dina adalah mudblood atau penyihir dari keluarga manusia biasa. Diceritakan di novel-novel berseri Harry Potter, ada kubu penyihir yang sangat mengagung-agungkan perbedaan kasta itu. Di kubu seberang, ada semangat kebhinekaan yang digalang untuk menghargai segala macam ras dan golongam di dunia sihir. Ilustrasi dunia sihir tentang kasta tersebut menurutku sangat mirip dengan "kasta" yang ada di dunia profesi medis. Mirip dengan dunia Harry Potter, di dunia medis ada kasta pureblo...

Berbagi Kegelisahan dengan “Impian dari Yogyakarta” (Y.B. Mangunwijaya)

Saat ini aku sedang menyelesaikan membaca buku “Impian dari Yogyakarta”, kumpulan esai masalah pendidikan dari Y.B. Mangunwijaya. Buku terbitan KOMPAS tahun 2003 itu masih berbicara lantang menggelisahkan hati sanubariku. Romo Mangun masih abadi jiwa dan semangatnya melalui tulisan-tulisan buah pikirannya yang bernas dan menggelitik, seperti biasanya. Kali ini kegelisahan Sang Romo tentang pendidikan dasar Indonesia telah menyalakan juga kegelisahanku yang senada. Romo Mangun yang mumpuni dalam bidangnya telah meninggalkan warisan yang sangat berharga perihal pandangannya tentang pendidikan dasar yang semestinya. Aku yang sedang belajar dan akan terus belajar ini menjadi semakin terpacu, meskipun sedikit pusing, untuk terus menggelorakan semangat kemanusiaan yang sejati.                  Dari ribuan kata dan kalimat yang tesusun secara apik itu, aku hanya mampu menangkap satu hal yang sangat penting dan...

Perjumpaan

Lautan manusia dalam satu tempat Desa, kota, bangsa, dan negara Belum tentu saling mengenal Apalagi berkawan akrab Tetangga pun banyak tidak kenal Padahal setiap hari berdampingan Berbagi lingkungan, jalan, ruangan Lain halnya dengan kantor, sekolah, rumah ibadah Padahal rumahnya saling berjauhan Terlalu dekat kurang baik Terlalu jauh pun kurang pas Karena beda tujuan dan kebiasaan Seperti ada tembok pemisah dengan pintu tersembunyi Untuk terjadi perjumpaan itu Tuhan Yesus pun demikian Tidak semua tetangga-Nya mengenal betul Tidak semua orang menerima-Nya Bagaikan lautan luas penuh ikan Penuh, ramai, tapi hampa Maka Tuhan Yesus pun bertindak Dipilihnya para murid dan rasul Untuk fokus menjala manusia Melalui perjumpaan demi perjumpaan Diawali dengan diri-Nya Sejak penciptaan pun begitu Adam dan Hawa dipertemukan Abraham dan Sara dipanggil Ishak, Yakub, dan keturunannya tampil Seolah fokus sejarah ada di situ Sehingga seluruh bumi penuh makna Tak lag...

Pemahaman Baru tentang Bipolar: Desain Ulang Pola Pikir

Syukur kepada TUHAN untuk pemahaman baru yang kuperoleh mengenai diagnosis bipolar yang kusandang. Selama ini aku berpikir bahwa diagnosis bipolar ini adalah sebuah stigma yang membedakanku dari orang-orang pada umumnya. Dengan stigma tersebut, aku seperti sudah ditandai untuk menjadi objek tontonan dan pertaruhan antara TUHAN dengan yang bukan TUHAN. Dan aku pun menjalani kehidupanku setiap waktu dengan rasa waspada ekstra, berjaga-jaga penuh supaya tidak kalah dengan pihak yang bukan TUHAN. Pendek kata, bipolar bagiku adalah suatu beban yang harus kupikul sepanjang hayat. Kini, pandangan tersebut diperingan dengan satu pemahaman baru. Bipolar tidak lagi semata-mata menjadi beban bagiku. Bipolar menjadi semacam rahmat dalam penyamaran. Entah bagaimana, pikiranku terbuka untuk menyadari bahwa sebenarnya TUHAN sedang mendesain ulang pola pikirku dengan adanya bipolar itu. Kesadaran ini berawal dari menyimak baik-baik obrolan para ibu Kalyca melalui fasilitas grup WA. Waktu itu, ibu-...