Postingan

Menampilkan postingan dengan label renunganku

Anugerah dalam Luka, Sebuah Renungan

Gambar
Hari Jumat pagi, 17 Oktober 2025 kemarin, aku membawakan renungan firman Tuhan di instalasi rehabilitasi medik RS Bethesda, tempatku bekerja. Dan inilah yang kusampaikan. Yohana Mimi berswa-foto bersama teman-teman staf di rehab medik setelah selesai membawakan renungan pagi (Jumat, 17 Oktober 2025) Filipi 3:1-16   3:1  Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. (3-1b) Menuliskan hal ini lagi  kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu.  3:2  Hati-hatilah terhadap anjing-anjing,  hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu ,  3:3  karena kitalah orang-orang bersunat,  yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus  dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.  3:4  Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya  pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, ...

Dari Yohana Mimi, yang berarti “anugerah terindah”, untuk siapa pun juga yang bukan kebetulan membaca ^^

Jumat, 15 September 2023 Hari ini, aku melihat-lihat tayangan youtube Sekretariat Kabinet RI yaitu pidato, rapat terbatas, tinjauan lapangan, dan keterangan pers Presiden Jokowi dalam minggu ini. Aku melihat tiap hari selalu saja ada kegiatan produktif dan bermakna yang Jokowi kerjakan dan tampilkan. Sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, Jokowi tampak selalu konsisten dalam bersikap dan bertindak terhadap berbagai macam permasalahan baik itu dalam negeri maupun luar negeri, nasional maupun internasional. Konsisten di sini maksudnya adalah penguasaan diri yang luar biasa, baik itu dalam situasi menggembirakan (seperti saat perayaan hari kemerdekaan dan event-event massal lainnya) maupun menakutkan (seperti situasi geopolitik saat ini, krisis pangan, perubahan iklim, dll).  Melihat citra yang selalu konsisten ditampilkan pada diri Jokowi tersebut, timbullah pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam diriku sebagai berikut: Bagaimana memiliki sikap, mental/jiwa, dan perilaku yang ...

Enyahkan Takut

1 Yohanes 4:18 (TB) Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. http://www.bibleforandroid.com/v/f5f346e4c125 Apa yang paling ditakuti oleh civitas hospitalia saat mendengar kata "survey" atau "audit" atau "akreditasi"? Sebagian besar (mungkin) akan merasa takut salah saat ditanyai oleh surveyor atau auditor. Mengapa? (Mungkin) karena takut dihukum, atau takut dimarahi, takut disalah2kan apabila salah menjawab atau memperagakan. Ada semacam ketakutan/kekuatiran akan terlihat bodoh atau tidak kompeten (saat disurvey/diaudit/dinilai). Karena takut/kuatir yg berlebihan, orang jadi malu bertanya padahal tidak tahu. Orang jadi enggan berproses meningkatkan diri. Akibatnya, jadi mudah iri hati saat melihat orang/pihak lain yg tampak lebih maju dan enjoy dlm prosesnya. Tidak terasa, pikiran2 negatif pun mengungkung. Semua itu dapat meng...

Pikiran Positif: TUHAN Punya Rencana

Si pemikir negatif ini sedang berlatih berpikir positif. Yang biasa memunculkan sikap pesimis ini sedang berupaya menjadi optimis. Aku yang pasif apatis ini sedang berusaha lebih aktif proaktif. Pagi hari itu meskipun bangun teralu siang, aku berjuang untuk bangkit mengatasi kesuraman pikiran. Aku mulai dengan menyentuh air sejuk sambil mencuci peralatan makan. Air jernih nan sejuk itu mampu membangunkan semangatku dan membuatku terjaga dari kantuk yang menggoda. Kusisihkan waktu terbaik 10 menit untuk menyapa TUHAN melalui perenungan singkat atau bahasa kerennya 'devosi'. Kata-kata doaku sangat singkat, cenderung spontan dan tidak tertata. Yang penting hatiku tetap tertuju pada TUHAN. Sepanjang perjalanan dari rumah sampai ke tempat kerja, aku mengaktifkan pikiran supaya tetap fokus pada karakter TUHAN. Satu hal yang menjadi penekananku pagi itu adalah mengenai maksud rencana TUHAN di ballik setiap peristiwa yang terjadi. Terngiang dalam benakku sepenggal lagu rohani berik...

Sikapku: Menjawab Pertanyaan 'Sejauh Mana'

Pada hari Rabu tanggal 23 April 2014, aku mengobrol lagi dengan Pak Ias. Obrolan itu sungguh sarat makna dan perenungan. Kata kuncinya adalah 'sejauh mana'. Sejauh manakah kita harus berdoa ngotot mempertahankan hidup seseorang yang sakit parah dan lanjut usia? Sejauh manakah kita bersikap profesional sekaligus personal dalam melakukan tugas dan tanggung jawab di tempat kerja? Atas kedua pertanyaan tersebut, jawabannya tidak bisa digebyah uyah alias digeneralisasi. Tiap kasus punya keunikannya sendiri-sendiri. Beda kasus beda masalah. Beda masalah beda jawaban. Yang diperlukan di sini adalah sikap mau belajar dan terbuka atas apa pun jawaban TUHAN. Itulah hikmat yang sejati. Misalnya, sampai sejauh manakah kita berdoa ngotot untuk kesembuhan seseorang yang sakit terminal sekaligus lanjut usia? Apakah ngotot itu timbul dari sikap mengasihi (TUHAN dan sesama) atau hanya untuk unjuk/pamer iman? Ah, siapakah yang berhak menilai dan menghakimi sikap, motivasi, dan iman seseorang? ...

Atmosfer Surga

Atmosfer kemenangan yang ada pada gereja yang sudah menang itu kubawa dalam hidupku di dunia dalam gereja yang berjuang. Atmosfer kemenangan itu kualami dan kurasakan manakala kurenungkan janji kehidupan kekal bersama TUHAN. Hati dan pikiranku dipenuhi bayangan dan suasana yang terasa saat aku benar-benar hidup kekal bersama TUHAN. Contoh bayangan indah dan "nengsemake" itu adalah bagaimana orang-orang yang mengasihiku dan mengenalku memberiku semangat untuk terus berjuang dalam atmosfer kemenangan. Aku membayangkan misalnya bagaimana mbah Kasmolo dan mbah Giyono menyemangatiku dari surga sana. Aku membayangkan TUHAN berkata, "Lihat itu, Kasmolo, Giyono, cucumu yang sedang berjuang itu! Beri semangatlah dan banggalah..." dst dst. Membayangkan itu membuat hatiku penuh rasa haru karena bahagia yang amat sangat. Semangat hidupku terpompa. Dan aku biarkan suasana surga itu melingkupi hati dan pikiranku. Demikianlah yang kudapatkan sewaktu aku lari-lari pagi ini. Barukh ...

Percikan Inspirasi: Dua Meskipun

Ada dua percikan inspirasi yang aku dapatkan hari ini sembari mencuci perkakas di dapur. Pertama, meskipun aku belum atau bahkan tidak pernah bisa merumuskan tujuan hidupku dengan tepat dan terperinci, aku akan tetap terus melakukan apa saja di hadapanku dengan hati yang antusias dan gembira. Itu berarti meskipun sampai akhir hayat aku akan terus meraba-raba, aku akan tetap menikmati rutinitas hidup sehari-hari karena itulah yang dikehendaki TUHAN. Aku tetap bersyukur karena meskipun mungkin aku tidak akan tahu persis apakah panggilan hidupku itu, aku tidak terjebak dalam ketidaksadaran massal dalam pekerjaan sehari-hari. Setidaknya, aku masih sempat 'eling lan waspada' akan siapa diriku dan ke mana seharusnya aku berada. Setidaknya, naluri elangku tidak terninabobokan oleh atmosfer lingkungan ayam. Kedua, walau aku mendapat perlakuan kurang menyenangkan dan sering terkecewakan, aku akan tetap memandang bahwa TUHAN itu baik. Aku tidak akan latah dalam merenungkn kebaikan TUHA...

Iman bagi Pertanyaan Eksistensial

Ibrani 11: 8 (BIS) Karena beriman, maka Abraham mentaati Allah ketika Allah memanggilnya dan menyuruhnya pergi ke negeri yang Allah janjikan kepadanya. Lalu Abraham berangkat dengan tidak tahu ke mana akan pergi. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Bapa orang beriman itu hanya pergi begitu saja tanpa tahu arah tujuannya, tanpa bisa merumuskan dengan jelas 'destiny'nya. Bagi TUHAN, itulah hakikat karunia iman yang sejati. Beriman berarti pasrah bongkokan pada sang pemberi iman itu sendiri. Ke mana Ia mengutus, ke situlah kita pergi. Tidak perlu kita tanya sampai memperoleh jawaban yang detil. Cukuplah kita tahu garis besarnya saja. Pegangannya adalah janji TUHAN atas hidup kita yang tidak pernah gagal. Bagian kita hanya percaya saja dan melangkah terus. Kita akan tahu dan mengerti setelah kita melangkah dalam iman dan ketaatan. Kita akan memahami saat kita sudah sampai ke tujuan. Selama perjalanan, kita munbgkin masih meraba-raba dan mengira-ira. Tidak apa-apa, yang penting ...

Pilihan Menjadi Dokter

Mengapa begitu banyak orang yang ingin menjadi dokter? Demi apa? Status? Kekayaan? Atau panggilan? Kepuasan? Di Indonesia, dan seluruh dunia pada umumnya, anak-anak kecil bercita-cita ingin menjadi dokter. Dalam benak mereka, dokter adalah pribadi yang luhur mulia. Jas putih yang disandang melambangkan kesucian dan kemurnian hati yang sigap menolong. Ketenangan hati dan ketajaman pikiran seorang dokter menjadi syarat utama kesembuhan. Obat-obatan dan tindakan medis menjadi sarana efektif di tangan dokter yang cakap. Berurusan dengan penyakit dan kondisi kritis merupakan makanan sehari-hari seorang dokter. Karena kemampuannya dalam mendiagnosa dan memberi terapi itulah banyak orang mempercayakan proses kesembuhan di tangan dokter. Tidak heran, profesi dokter masih dihormati dalam masyarakat sampai sekarang. Ketika aku memilih profesi dokter sebagai bagian dari identitasku, aku melakukannya bukan tanpa sadar. Aku memilih dengan kesadaran bahwa profesi dokter dapat menjadi sarana efekti...

Sekali Lagi Tentang Kegelisahan Kudus

TUHAN Yesus, (Terima kasih untuk harta karun rohani yang kita temukan dan nikmati bersama melalui buah pikiran manusia dalam bentuk tulisan yang dibukukan) Proses, perjalanan, pencarian kita masih berlangsung. Mengutip Paulus sang rasul, bukan seolah-olah aku sudah memperolehnya. Aku rindu dan ingin betul menemukan harta rohani yang Engkau taruh supaya kutemukan. Setelah ketemu, akan kuamati, kugosok-gosok, kupoles, kuasah, kubentuk hingga menjadi sebongkah berlian rohani yang cantik dan mahal. Apapun itu, akan kucari dan kukejar sampai ketemu. Aku mencari hikmat terdalam, pengetahuan tertinggi, kesadaran diri yang sejati yang sudah kudapatkan dalam-Mu, Yesus. Aku sedang berproses membuka bungkus kado selapis demi selapis. Aku akan buka terus bungkusan itu sampai kudapatkan intisari anugerah-Mu. Akan kutuliskan perjalanan ini, entah panjang entah pendek, entah sampai kapan, entah sampai menemukan atau tidak. (Karena aku tahu apa yang kulakukan ini tidaklah sia-sia). Dan, perjalana...

Utusan Khusus dengan Tugas Khusus

Perasaan atau kesadaran bahwa diri kita adalah 'utusan khusus' dan memiliki 'tugas khusus' itu penting. Hal ini menjadi motivasi intrinsik yang mendorong kita untuk menjalani hidup yang lebih bermakna. Dengan menumbuhkan kesadaran bahwa diri kita adalah benar-benar 'utusan khusus' dari surga atau Kerajaan Allah, kita akan memiliki rasa kebanggaan akan identitas. Kita akan merasa dimiliki. Kita akan dengan mudah mengeyahkan perasaan terasing atau terhilang. 'Tugas khusus' yang kita emban sanggup mendorong kita untuk bekerja di atas rata-rata, tidak biasa-biasa saja. Setiap hari, kita dapat memperbarui atau membentuk ulang 'tugas khusus' kita untuk membuat rutinitas sehari-hari menjadi lebih menantang. Misalnya, tugasku sebagai dokter yang ditempatkan di bagian rekam medis dan piutang ini. Karena setiap hari berkutat dengan hal-hal administratif yang tidak bersentuhan langsung dengan pasien, aku rawan untuk terserang rasa bosan dan disorientasi t...

Metanoia

Ternyata aku masih melakukan metawork hari ini. Apa itu metawork? Dari bacaan spirit motivator dua hari yang lalu, metawork diartikan sebagai seolah-olah melakukan suatu pekerjaan padahal sebenarnya hanya pekerjaan semu. Dengan kata lain, metawork adalah nampaknya saja sedang bekerja tapi sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa. Tampaknya aku sedang sibuk berpikir dan menulis-nulis sesuatu, padahal sebenarnya apa yang kupikirkan dan kutuliskan itu tidak relevan dengan kehidupanku. Benarkah demikian? Tidak juga. Dalam berpikir itu, aku sedang berproses mencari dan belajar. Aku sedang mencari tahu kembali apa yang menjadi passion hidupku. Berarti selama ini aku ngapain aja? Terlalu sibuk dengan apa? Aku terlalu sibuk dengan hal-hal yang sekunder dan tersier mungkin. Aku terlalu asyik berlari ke sana ke mari tanpa mau berhenti untuk menekuni apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabku. Aku mungkin belum kena batunya lagi. Tapi apakah harus menunggu sampai kena batunya dulu baru aku sadar d...

Memulai dan Menemukan Tujuan

Gambar
Saat yang paling terasa berat adalah saat memulai sesuatu, misalnya saat hendak membaca, menulis, belajar, bekerja, dll. Rasanya seperti ada halangan tak terlihat yang menahan kita untuk sekedar beranjak dari stadium diam. Belum lagi jika stadium diam itu adalah kondisi jiwa terendah alias malas berbuat apa-apa. Diperlukan lompatan iman yang diikuti perbuatan yang nyata untuk merobohkan hambatan tak terlihat itu. Jika hanya lompatan iman, maka tidak akan terjadi apa-apa. Betul apa kata penulis Alkitab (kitab Yakobus) yaitu bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati. Untuk memulai sesuatu saja dibutuhkan iman dan perbuatan, apalagi untuk meneruskan secara konsisten sampai selesai. Sesungguhnya, apa yang membuat kita malas dan tidak bersemangat? Mungkin itu karena kegagalan dalam menemukan passion yang tepat bagi jiwa. Hidup jadi asal mengalir saja, tanpa tujuan yang pasti. Kehidupan jadi tampak semu, karena hanya merupakan tiruan saja dari kehidupan sejati. Jika dibiarka...

Terima Kasih, Bu Sari

            Kami memanggilnya Bu Sari. Seorang perempuan ramah yang setia menyapa kami, para pekerja rumah sakit ini, dengan berbagai macam makanan dagangannya. Setiap jam delapan sampai sembilan pagi, Bu Sari selalu datang menyambangi kami di kulon desa , tempat favorit kami untuk makan-makan, begitu kami menyebutnya. Di kulon desa itulah keakraban yang murni dan alami terjadi manakala kami menyantap makanan dagangan Bu Sari. Ada nasi kucing (nasi dengan lauk teri atau tempe ditambah sedikit sambal khas angkringan Jogja), nasi gudangan (nasi dengan lauk sayur bayam, taoge, dengan disertai parutan kelapa), nasi pecel, dan yang terbaru adalah nasi jinggo. Minumannya pun beraneka macam ragamnya. Ada jus jambu, jus alpokat, susu kedelai, dan kadang teh hangat. Belum cukup itu, masih ditambah lagi gorengan tempe dan kletik-kletik­ khas desa seperti lanting, kacang polong goreng, ketela berbentuk kubus kecil-kecil yang digoreng, dsb. Suasana sangat mer...

Sabar

Kasih itu sabar (1 Korintus 13:4a)                 Bahasa Inggris dari kata sabar kita kenal sebagai patient. Bukan kebetulan bahwa kata ini, patient , berkorelasi atau berhubungan dengan kata “pasien” dalam konteks rumah sakit. Kita mengenal kata “pasien” sebagai orang yang mempercayakan dirinya untuk diperiksa oleh dokter, untuk mengetahui apakah dirinya sehat atau sakit. Kegiatan yang paling jamak kita jumpai diakukan oleh pasien adalah menunggu. Entah itu menunggu waktu untuk diperiksa, menunggu dipanggil perawat, menunggu hasil pemeriksaan, menunggu waktu rawat inap, menunggu kapan diperbolehkan pulang oleh dokter, dan lain sebagainya. Dalam kegiatan menunggu itulah diperlukan apa yang dinamakan sebagai ‘sabar’. Sabar menunggu. Sabar menanti kepastian.                 Bukan hanya pasien yang memerlukan kata ‘sabar’ dalam keseh...

Roh Kudus

Kembali aku tidak tahu apa yang hendak kutulis di sini. Tapi aku akan tetap mencoba menuliskan sesuatu sampai aku mendapatkan idea tau inspirasi dari Roh Kudus. Sebab aku sedang belajar untuk mendengar suara bisikan-Nya yang lembut itu. Aku sedang belajar untuk dengar perkataan-Nya yang tidak kurang dan tidak lebih.                 Seperti apakah suara Roh Kudus, Rohnya TUHAN sendiri, itu? Beberapa waktu yang lalu, aku diizinkan untuk mengalami dan merasakan bagaimana mendengar suara-Nya dalam hatiku. Suara-Nya ternyata begitu tenang, lembut, dan tegas, tepat pada waktu-Nya dan tepat sasaran, tidak kurang tidak lebih. Suara-Nya lebih seperti dorongan yang halus tapi kuat dalam hatiku untuk melakukan sesuatu yang harus kulakukan saat itu juga. Suara-Nya mampu menggerakkanku untuk melakukan sesuatu di luar kebiasaan.                 Se...

Siapa Mau Ikut

“Bangkitlah ksatria-ksatria TUHAN!”                 Begitulah suara yang “kudengar” hari ini. Suara yang memanggilku dengan lembut. Dan aku kenal suara Siapa itu. Ya. Itulah suara TUHAN yang berseru dengan lembut dalam hatiku. TUHAN telah memanggilku berulang kali untuk menjadi ksatria-Nya yang perkasa dan kuat karena Roh-Nya. Baru kali ini aku “ngeh” dengan panggilan-Nya itu.                 Setiap kita pasti punya tugas panggilannya masing-masing. Dengan talenta dan karunia yang diberikan TUHAN untuk memperlengkapi, kita masing-masing diharapkan untuk maju “bertempur” di medan pertempuran kita masing-masing. Ada yang di garis depan, ada yang di garis belakang. Ada yang bertugas mengintai, ada yang bertugas mendobrak. Masing-masing dengan kelebihan dan kekuatannya saling melengkapi bahu-membahu dalam memenangkan peperangan rohani ya...

Pekerjaan yang Sesuai

Melakukan apa yang kita senangi, dan senangi apa yang kita lakukan. Menikahi orang yang kita cintai, dan cintai orang yang kita nikahi. Itulah kunci kebahagiaan di bumi. Kalau hati sudah senang, seberat apa pun yang kita lakukan akan terasa ringan. Apalagi jika Tuhan beserta dengan kita. Apapun yang kita lakukan pasti berhasil dan menjadi berkat.                 Masalahnya, seringkali kita manusia melakukan apa yang tidak kita senangi. Kita sering merasa terjebak atau terpaksa melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan minat dan bakat kita. Hal-hal yang di luar kompetensi seringkali harus kita lakukan karena berbagai alasan. Ada yang karena dipaksa oleh keadaan, salah memilih pekerjaan, tapi ada juga yang memang karena kehendak Tuhan.                 Lalu bagaimana jika sudah terlanjur mengerjakan sesuatu yang tidak benar-benar kita ...

Janji Harus Ditepati

Masih di depan meja belajar yang sama. Masih pagi. Masih ada sisa semangat. Aku memutuskan untuk mulai menuliskan sesuatu, apa pun itu. Masih belum ad aide atau inspirasi yang muncul. Kuingat-ingat apa yang kuketahui dan sudah kualami. Tapi sepertinya belum ketemu yang cocok dan pas untuk kubagikan di sini.                 Seharusnya pagi tadi jam lima aku ikut doa pagi di gereja untuk pertama kalinya. Tapi entah kenapa aku tidak jadi berangkat, padahal aku sudah bangun jam empat pagi. Rasanya kecewa karena tidak bisa menepati janji kepada diri sendiri. Juga janji kepada Tuhan. Sungguh memalukan.                 Aku ingat seorang temanku pernah menuliskan tentang hal menepati janji, janji yang dibuat terhadap diri sendiri, bahkan terhadap Tuhan. Tulisannya agak keras dan menantang semua orang untuk menepati setiap janji yang dibuat. ...

Indah Pada Waktu-Nya

Pagi ini aku mendengarkan lagu yang indah tentang segala sesuatu yang terjadi indah pada waktu-Nya, waktu Tuhan, kairos. Apa saja yang indah pada waktu-Nya? Semuanya. Makanya ada waktu suka dan duka. Semuanya diizinkan Tuhan terjadi untuk membuat keindahan rencana-Nya semakin nyata terlihat. Kalau kita sekarang sedang mengalami dukacita, ingatlah bahwa pasti ada sukacita yang menanti setelahnya. Dan kalau kita sedang bersukacita, bersyukurlah selalu dan jangan pernah lupakan kebaikan Tuhan.                 Ada kalanya kita tidak mengerti rencana Tuhan. Kita mungkin bingung dengan situasi yang sedang kita hadapi. Kita masih belum tahu mengapa dan untuk apa hal-hal buruk diizinkan terjadi dalam hidup kita. Namun, kita dapat berharap bahwa pasti ada jalan keluar dari setiap masalah. Kita dapat percaya bahwa akan ada pelangi sehabis hujan badai yang dahsyat.         ...