Postingan

Menampilkan postingan dengan label kegelisahan hati

Seruan Hati Nurani: Jangan Diam!

Hari-hari ini, kita disuguhi berita tentang manuver Jokowi dan keluarganya dalam hal kekuasaan. Lihatlah bagaimana keputusan Mahkamah Konstitusi dipakai untuk memuluskan jalan Gibran (putra sulung Jokowi) agar bisa lolos menjadi bakal calon wakil presiden. Lihat pula bagaimana Jokowi yang mengatakan netral di depan media, tetapi pada kenyataannya tidak demikian di aplikasinya. Dan lihatlah bagaimana semua hal memuakkan itu bisa terjadi tanpa ada rasa malu oleh pelakunya, bahkan dibungkus dengan sikap santun dan senyum ramah yang sering membutakan sebagian pendukung Jokowi, yang terus saja mengikuti tegak lurus apa katanya, sekalipun nyata-nyata menabrak etika dan membengkokkan konstitusi.  Kesalahan kita juga pada umumnya adalah menganggap satu orang pemimpin yang memenuhi harapan dan seolah sanggup menjadi tokoh ksatria pembebas (baca: mesias) yang selama ini kita idam-idamkan, adalah manusia yang tanpa cacat cela dan haram hukumnya untuk dikritik. Bagaimanapun juga, Jokowi itu ma...

Berbagi Kegelisahan dengan “Impian dari Yogyakarta” (Y.B. Mangunwijaya)

Saat ini aku sedang menyelesaikan membaca buku “Impian dari Yogyakarta”, kumpulan esai masalah pendidikan dari Y.B. Mangunwijaya. Buku terbitan KOMPAS tahun 2003 itu masih berbicara lantang menggelisahkan hati sanubariku. Romo Mangun masih abadi jiwa dan semangatnya melalui tulisan-tulisan buah pikirannya yang bernas dan menggelitik, seperti biasanya. Kali ini kegelisahan Sang Romo tentang pendidikan dasar Indonesia telah menyalakan juga kegelisahanku yang senada. Romo Mangun yang mumpuni dalam bidangnya telah meninggalkan warisan yang sangat berharga perihal pandangannya tentang pendidikan dasar yang semestinya. Aku yang sedang belajar dan akan terus belajar ini menjadi semakin terpacu, meskipun sedikit pusing, untuk terus menggelorakan semangat kemanusiaan yang sejati.                  Dari ribuan kata dan kalimat yang tesusun secara apik itu, aku hanya mampu menangkap satu hal yang sangat penting dan...

Sedikit Cemas

Sedikit cemas, itu yang kurasakan saat ini. Seorang temanku mengatakan bahwa akan ada semacam acara orientasi (yang dinilai) besok, semacam magang. Yang membuatku sedikit cemas adalah ketidakbiasaanku menggerakkan otot dalam bekerja. Aspek psikomotorikku kurang terlatih karena selama ini aku keasyikan di zona nyaman. Aku perlu mempersiapkan diri secara khusus untuk mengaktifkan psikomotorikku. Cara termudah adalah dengan rajin melakukan pekerjaan rumah tangga, mulai dari hal-hal sederhana terlebih dahulu. Dengan melakukan pekerjaan rumah tangga, aku melatih kepekaanku terhadap lingkungan sekitar. Pekerjaan rumah tangga membuatku bergerak dengan lebih sigap, gesit, dan disiplin. Apalagi, dalam rumah tangga, aku juga berinteraksi dengan orang terdekat. Di situ aku bisa berlatih aspek sosial. Dua hal yang kudapati semakin menyenangkan karena makin terbiasa adalah mencuci piring dan menyeterika. Aku menemukan keasyikan tersendiri dari melakukan dua hal itu. Memang sih pada awalnya terasa...

Di Mana Engkau?

Yesus, di mana Engkau saat ini?  aku baru saja melahap kekelaman  cerita-cerita sedih nan miris  di sudut ruang dan waktu  kemudian aku teringat akan Engkau  Kristus yang menerobos sejarah  sebagai titik terang di tengah gelap  sejarah yang berulang dan berulang  dalam kisah pilu manusiawi  Kristus, Engkau hadir dan mengintervensi  begitu lembut hampir tak kentara  tampak jauh namun dekat  Immanuel  Yesus, Engkaulah Kristus itu  saat kemuraman menggelayuti hati  kutujukan pikiranku akan Engkau  yang saat ini baru berupa bayangan  namun akan segera nyata             “Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” (Yesaya 60:2)

Masalah di Pintu Gerbang Kota

Selamat sore, TUHAN. Aku baru saja membaca habis buku Nick Vujicic ‘Unstoppable’. Ada satu pelajaran penting yang cukup berkesan, yaitu mengenai mewartakan kebenaran tanpa menyerang keyakinan orang lain meskipun tahu bahwa yang mereka percayai itu salah. Semua orang perlu mendengar kabar baik yang disampaikan dengan bahasa kasih yang kuat. Membaca kisah-kisah perjalanan dan perjumpaan Nick, aku jadi tertantang melakukan hal-hal yang serupa di mana aku Engkau tempatkan. Jargonnya, kalau Nick bisa, mengapa aku tidak?                 Jadi, ada di mana kita sekarang? Mari kita ‘berperkara’. Saat ini aku ‘ada’ di RS Ladang Anggur-Mu yang merupakan salah satu ‘pintu gerbang’ kota di mana banyak orang datang dari berbagai tempat dengan berbagai kebutuhan di bidang kesehatan. Apapun agama/keyakinan, suku bangsa, bahasa, jenis kelamin, usia, pangkat, jabatan, dan pekerjaannya, semua orang disambut dan dilayani sesuai ...

Doa: Ujian JKN

TUHAN, Bapaku yang penuh hikmat dan pengetahuan, di sini aku hendak mengutarakan kegelisahanku mengenai sistem JKN di Ladang Anggur-Mu ini. Begini. Sepengetahuanku, Ladang Anggur-Mu ini terkenal dengan  jiwa kasihnya sehingga dijuluki sebagai RS Toeloeng pada zaman dulu. Sampai sekarang, motto ‘Tolong dulu, urusan belakang’ masih terpampang jelas di tembok IGD. Memang, RS ini cukup dikenal karena cepat, sigap, dan tanggap dalam melayani pasien. Dan itu menjadi kebanggan kami para civitas hospitalia-Mu di sini.         Namun, dengan adanya sistem JKN yang dicanangkan oleh pemerintah RI, kami mendapat tantangan yang cukup berat. Sistem JKN ini berorientasi pada azas pemerataan finansial, dan sepertinya bukan ada azas kesembuhan secara maksimal. Indikasinya adalah besarnya plafon yang ‘memaksa’ pihak RS khususnya swasta untuk meminimalkan standar pelayanan kesehatan. Selama ini, RS Ladang Anggur-Mu ini cukup nyaman dan tenang dengan standar pelaya...

Harta Berharga: Pengharapan

Pada hari Sabtu tanggal 19 April 2014, aku bercakap-cakap dengan rekanku yang bernama Pak Ias. Kami bercakap-cakap perihal kesusahan-kesusahan di dunia, perihal kerusakan lingkungan, kebobrokan manusia dan masyarakat, perihal Indonesia. Banyak hal yang memprihatinkan dan membuat susah hati dan pikiran. Dalam mendengarkan, aku memahami dan turut merasakan keprihatinan yang mendalam. Dalam diam, aku bertanya-tanya dan mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Aku tahu jawabannya ada di dalam TUHAN dan diperlukan hikmat serta wahyu untuk menyampaikannya secara tepat. Di dalamku ada iman dan pengharapan yang tidak berkesudahan akan penyelamatan TUHAN atas dunia ini. Dibutuhkan kasih yang besar untuk bisa mengkomunikasikan apa yang kupercayai dan kuharapkan itu supaya jawaban yang kuberikan tidak hambar. Aku pun membaca kitab Wahyu. Setidaknya, aku mendapat penghiburan akan apa yang bakal terjadi dari sudut pandang surga. Sebuah skenario ilahi yang jauh lebih spektakuler...

Sekali Lagi Tentang Kegelisahan Kudus

TUHAN Yesus, (Terima kasih untuk harta karun rohani yang kita temukan dan nikmati bersama melalui buah pikiran manusia dalam bentuk tulisan yang dibukukan) Proses, perjalanan, pencarian kita masih berlangsung. Mengutip Paulus sang rasul, bukan seolah-olah aku sudah memperolehnya. Aku rindu dan ingin betul menemukan harta rohani yang Engkau taruh supaya kutemukan. Setelah ketemu, akan kuamati, kugosok-gosok, kupoles, kuasah, kubentuk hingga menjadi sebongkah berlian rohani yang cantik dan mahal. Apapun itu, akan kucari dan kukejar sampai ketemu. Aku mencari hikmat terdalam, pengetahuan tertinggi, kesadaran diri yang sejati yang sudah kudapatkan dalam-Mu, Yesus. Aku sedang berproses membuka bungkus kado selapis demi selapis. Aku akan buka terus bungkusan itu sampai kudapatkan intisari anugerah-Mu. Akan kutuliskan perjalanan ini, entah panjang entah pendek, entah sampai kapan, entah sampai menemukan atau tidak. (Karena aku tahu apa yang kulakukan ini tidaklah sia-sia). Dan, perjalana...

Kegelisahan dalam Obrolan

kegelisahan... kembali terasa... dalam hatiku... Apa yang kamu inginkan? Yang kuinginkan adalah mengerjakan apa yang sungguh-sungguh kusukai. Kalau toh itu tidak terwujud, maka setidaknya aku bisa menyukai apa yang kukerjakan sekarang. Mustahilkan, Bapa? Sudahkah? Belum. Belum terasa... atau aku yang belum menyadarinya. Mungkin aku masih terpaku pada masa lalu dan masa depan, Bapa... penyesalan-penyesalan masa lalu dan ketakutan-ketakutan terhadap masa depan... Apa yang kamu cari? Aku sedang mencari kepenuhan hidup seperti yang Engkau pernah katakan berulang kali... hidup yang bebas dan belenggu kekuatiran... hidup yang bebas dari cengkeraman kesia-siaan... Kekuatiran dan kesia-siaan boleh saja masih merongrong/menerorku, Bapa, tapi setidaknya mereka tidak lagi menduduki singgasana hatiku... Perjuangan terus-menerus melawan intimidasi mereka mungkin tidak akan pernah berakhir. Apa yang kamu kuatirkan? Aku kuatir... kalau aku kalah... kalau aku berakhir tragis... kalau aku kehilangan ha...

Kegelisahanku Kemarin, Jujur tapi Sakit... T_T

Selamat sore, Bapa... Aku harus menuliskan ini sebelum aku curhat-curhat sama orang lain, Bapa. Meskipun berat rasanya, aku harus menyampaikan terlebih dahulu isi hatiku kepadaMu. Urgent banget. Ya, ini penting sekali. Begini... Tadi waktu "nggak sengaja" baca-baca jadwal jaga di BP Wonosari, aku menemukan hal yang menggelitik hatiku. Di lembaran kosong, tertulis namaku (dr Yohana) dan angka-angka 7 deret dimulai dari angka 5, 8, 13, dst. Di atasnya tertulis "Juli 2011". Cukup mencurigakan, bukan? Aku pikir apa mungkin ini jadwal jagaku? Kok cum aku sendiri yang ditulis? Aneh, bukan? Kemudian, aku tanya ke Pak Budi dengan sopan dan ramah. Kata Pak Budi, itu memang benar jadwalku di bulan Juli. Aku tanya, kenapa cuma aku sendiri yang ditulis? Kata Pak Budi lagi, untuk mengatur jadwal perawat yang jaga malam. Khusus yang jaga aku, perawat yang jaga malam harus 2 orang. Kalau yang lain nggak perlu. Dah, aku nggak bertanya-tanya lagi. Langsung diem dan berpura-pura sant...

Where Is My Sweet Spot?

Bapa, kembali aku mempertanyakan lagi akan visi hidup, arah tujuan, my SHAPE, my sweet spot, my passion. Sungguhkah menjadi SpKJ kelak merupakan panggilanMu atasku? Atau itu cuma kamuflase semu untuk memberikan ketenteraman palsu saat ini? Apakah aku sedang pergi menjauh dari rancanganMu? Bagaimana caranya supaya aku menemukan tujuan spesifik hidupku? Aku percaya, Bapa, bahwa Engkau saat ini bersamaku, dan aku bersamaMu. Engkau tidak pernah dan tidak akan pernah meninggalkanku kebingungan seorang diri seperti anak hilang di keramaian. Karena Engkau besertaku, maka aku pun tenang. Aku tidak panik atau gelisah. Cukupkah aku percaya saja, pasrah bongkokan, kepadaMu tanpa tahu hendak ke mana Engkau membawaku? Perlukah aku mengetahui tujuan hidupku secara spesifik itu atau tidak? Apakah aku hanya perlu berjalan selangkah demi selangkah meraba-raba dalam pencarian akan visi dan tujuanku? Hmmm... cukup berat dan sulit juga merumuskan kegelisahan hatiku dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan di at...

Di Tengah Jalan, Wondering...

Selamat pagi, Bapa... Kembali aku banyak tidur semalam, padahal Engkau sudah bangunkan aku berkali-kali tapi aku terlalu malas untuk bangun. Ampuni aku, Bapa, untuk ketidakkudusan dan ketidakdisiplinanku. Aku tahu aku harus bangun dan bersemangat. Aku perlu Engkau dalam setiap langkahku. Bapa, mau nulis apa lagi ya? Hmmm... Apakah aku sedang bingung menentukan arah? Apakah aku sedang ilang2an? Apakah aku sedang tersesat? Sepertinya aku miskin, buta, dan telanjang. Pergumulan dan kegelisahan hatiku masih berkisar seputar tujuan, visi, dan hendak menjadi apa aku ini... Aku masih belum memeluk dengan erat salib yang ada sekarang... Aku masih belum merasa memiliki profesi yang ada sekarang ini...Masih serba tanggung... Masih ngambang... Aku perlu mencari wajahMu, Bapa... Aku perlu tahu kehendakMu... Aku perliu lebih banyak berdiam di hadiratMu dan mendengar suaraMu... Sama seperti Yakub yang tidak melepasMu sampai dia mendapatkan apa yang diinginkannya, demikian juga aku akan terus bergumu...

What Should I Do?

Aku merasa seperti kurcaci di tengah raksasa. Aku merasa diriku adalah orang paling bego di tempat di mana aku berada. Mungkin perasaan-perasaanku ini tidaklah benar 100%. Mungkin aku hanya kurang percaya diri saja. Tapi yang jelas, aku sungguh merasa terasing di sini. Meskipun aku ada backing yang kuat terutama dari Tuhan dan keluarga serta orang-orang yang mengasihiku, aku merasa sangat-sangat tidak layak berada di sini. Aku kembali merasa salah tempat. Aku kembali memikirkan tentang prospek masa depanku. Mungkin menurut orang lain begitu cerah dan gemilang, tapi di mataku ini sungguh mengerikan dan menegangkan. Sungguh aku perlu memetakan kembali kekuatan dan kelemahanku. Aku perlu mawas diri lebih lagi sebelum melangkahkan kakiku. Dimulai dari pertanyaan dr. Laksmi, apakah aku akan jadi pegawai tetap nantinya. Kurang lebihnya begitu. Pertanyaan yang sederhana dan lugas itu begitu mengena. Pertanyaan itu sukses membuatku meragukan kembali posisiku. Kembali berkecamuk dalam hatiku ap...

Temani aku Tuhan

Temani aku Tuhan malam ini... menjelang pagi dini hari... aku merasa gelisah... entah kenapa... ada sesuatu yang ingin kusampaikan secara khusus dan mendalam denganMu... bolehkan?

Stupidity

Aku merasa bodoh... bodoh sekali... doh, padahal aku tidak boleh membodoh-bodohi diriku sendiri, apalagi sampai membodoh-bodohi orang lain... doh, Tuhan, tolonglah aku dari diriku sendiri yang suka menghakimi tanpa ampun terhadap diriku sendiri... padahal Engkau nggak menghukumku... tapi diriku sendiri ternyata sangat kejam dalam menuduh dan menghukumku... Tolong Tuhan, aku perlu Engkau... aku tahu aku sudah sedemikian jauh mengabaikanMu sehingga sulit mendengarkan suaraMu yang lembut menenangkan kalbu... aku lebih sering mendengar suara hatiku yang sumir dan sumbang, yang mematahkan semangatku... mengaburkan pandanganku... mengecutkan hatiku... satu hal yang paling kutakuti dan kubenci: bodoh... kebodohan... menjadi bodoh... tapi Engkau pernah berfirman melalui hambaMu, bahwa yang bodoh dariMu itu lebih besar hikmatnya daripada yang berhikmat menurut dunia... dan Engkau akan memakai yang bodoh untuk membuat malu yang pintar... kurang lebihnya begitu... cukup menghiburku... tapi... ak...

I don't know about Tomorrow... Hmmm...

Sudah empat minggu aku menceburkan diri di IGD... Rasanya? Masih merasa belum bisa apa2... masih mengekor senior... masih belum mandiri.... serba canggung... komunikasi terutama yang jadi problem... aku masih belum bisa berkomunikasi dan mengkomunikasikan diri dengan baik kepada pasien... fisik doagnostik juga masih mediocre... belum bisa baca foto rotgen dsb dengan baik... EKG juga masih terbata-bata... apalagi kalau ada kasus yang benar2 gawat... cuma bisa nonton... belum bisa membantu apa2... sungguh memalukan... meskipun sampai saat ini masih belum ada yang membuatku merasa dipermalukan... tapi kalau begini terus, cepat atau lambat aku pasti akan kena batunya... hmmm... Belum lagi aku masih belum juga mendapatkan petunjuk tentang hendak melanjutkan ke mana nantinya... aku masih belum tertarik untuk melanjutkan spesialis.... terutama karena aku merasa malas untuk belajar... selain itu, aku masih nggak punya passion untuk jadi klinisi... terus, kenapa aku bisa berada di sini, di jant...

Sejenak Di Tengah Pertempuran Kecilku...

Pusingnya kepalaku... doh... kenapa? Ada deh... hari ini aku merasa inferiority syndrom menyerangku tanpa ampun... aku kurang siap menghadapinya sehingga sepertinya dia telah berhasil memukulku dengan telak tepat di kepala sehingga pusinglah sudah kepalaku... setelah pusing, dia pun memanggil bala bantuannya yang kemudian main keroyok... ada rasa minder, sombong, keras hati, keangkuhan, dkk... doh, sakitnya... aku meninggalkan perisai imanku entah di mana... ketopong keselamatanku pun sepertinya penyok2... baju perangku compang camping... terasa berat setelah sekian lama nggak aku pakai... terasa kaku dan kikuk... doh... Aku perlu berlindung sejenak... melarikan diri dari medan pertempuran kecil ini... aku perlu minum air sejuk sungai kehidupan... makan roti kehidupan... minum anggur sukacita... dan membiarkan Dia mengobati luka2ku dan memberiku penguatan... aku membutuhkan semua itu... ya, benar... aku membutuhkanNya... aku perlu mendengarkan suaraNya lebih lagi... bersekutu denganNya...

Janji Ketemu

Aku ada janji ketemu dengan Someone special hari ini jam 2 siang... entah kenapa aku pingin banget ketemu... sebenarnya sudah berkali-kali Dia ngajak aku ketemu pagi dini hari... tapi aku nggak nggagas... aku lebih memilih tidur dan bangun siang2... rasanya rugi banget deh... sepertinya ada banyak waktu yang terbuang sia2... aku mau menebusnya hari ini, sebentar lagi... semoga Someone specialku itu mau mengerti... iya, iya... Dia pasti mengerti... cuma akunya sendiri yang ndableg banget... aku yang sering sekali nggak bisa mengerti apa mauNya... aku yang egois, maunya dimengerti terus... maafkan aku, Sob... jangan tinggalkan aku, ya... I still need You... more and more... thank you... ^^ Sudah jam 2 nih... I must go... So, see you later ya... ^^

Dari Kursus Bahasa Inggris sampai Mana2

Ibu mau mengkursuskan aku bahasa Inggris, lagi, di rumah... nggak tahu demi apa... itu ibu putuskan setelah mendengar Yohan, adek kelasku yang sekarang sudah jadi dokter di Bethesda, dikursuskan bahasa Inggris juga oleh orang tuanya... Ya sudah deh, karena aku gak ada alasan untuk menolak kebaikan hati ibu, dan menurutku nggak ada ruginya untuk belajar lagi bahasa Inggris setelah sekian lama nggak baca tulis in English, maka aku mengiyakan anjuran ibu... Sekali lagi, semua ini atas inisiatif ibu... aku cuma ikut2... kasihan ya? Iya... kasihan banget, nggak punya inisiatif... harus bersyukur atau bersedih nih? ^^ Aku pilih untuk bersyukur aja deh... karena meskipun aku nggak punya inisiatif, aku masih punya semangat untuk melihat hal2 baik yang boleh terjadi dalam hidupku yang pendek ini... hehe... Yang jadi pikiranku sekarang ini, bagaimana nanti kalau kepasifanku yang parah ini membuat hidup rumah tanggaku nanti berantakan? Iya kalau jadi berumah tangga... kalau enggak juga malahane.....

Jangan Bilang Malas

Akhirnya aku memasukkan juga lamaran ke bethesda... gak tahu deh, apa ini langkah yang tepat apa bukan... aku jujur aja nggak punya inisiatif yang kreatif... sebagian besar ini karena dorongan dari ibu... alasanku kenapa aku menyetujui semua saran (baca:perintah) ibu adalah karena aku gak tahu lagi harus ngapain... aku sedang malas untuk berpikir, merenung, dan bergumul... padahal gak boleh kan bilang malas... doh... aku lagi senang2 dalam liburan panjang yang kemungkinan tinggal satu bulan ini... aku harus mengisi sisa waktu liburan ini dengan belajar kembali supaya nggak kaget nantinya... apalagi aku masih harus ujian tanggal 15 Mei karena kemarin masih belum lulus UKDI... wew... kok bisa ya? Ya bisa aja... wong aku belajarnya juga cuma beberapa minggu, dan bahan pelajarannya cuma mengandalkan bank soal dari internet... kurang lengkap, kurang siap... Aku masih belum begitu yakin dengan masa depanku ini, khususnya berkaitan dengan bethesda... entahlah... aku merasa sangat sangat tidak...