Postingan

Menampilkan postingan dengan label road to destiny

"Lima Tahun": Jejak Perjalanan Petualangan Rumah Cahaya (sejak 2020 and Beyond)

Gambar
Dua sejoli Rumah Cahaya, yang bergantung penuh pada Tuhan dan bertanggung jawab penuh atas tugas dan panggilannya di dunia. Lima tahun sudah berlalu sejak kami, Rumah Cahaya , dicelikkan-disadarkan-dibawa keluar dari pemahaman/ajaran yang tidak sehat dalam gereja tempat kami berjemaat. Dimulai dari minggu Trinitas , kemudian berlanjut dengan menggali-belajar-memahami doktrin reformed/Calvinisme yang sejati ( TULIP , Kristologi , Providence of God , dll) dan akan terus berlanjut sampai kekekalan. Proses belajar intens dan mendalam itu membentuk pola pikir dan sikap kami menjadi lebih teguh, konsisten, dan berani dalam berbagai aspek kehidupan. Di keluarga, tempat kerja, masyarakat, online maupun offline . Pemahaman yang mendalam dan pasti bahwa Allah itu berdaulat atas segala sesutau, sampai ke hal-hal detil di dunia ini, termasuk dalam kehidupan kami, serta adanya tanggung jawab kami sebagai manusia yang seiring dengan itu, memberikan rasa aman terjamin dan tanggung jawab yang sesuai...

Syukur (Sebuah Doa)

Gambar
Senin, 30 Juni 2025 (Hadasa Mazeltov Puji Pangastuti pada hari Rabu Pahing, 9 Juli 2025, genap berusia 13 tahun. Bersama seisi Rumah Cahaya dan keluarga Pelemkecut 37, Hadasa merayakan kebahagiaan ulang tahunnya dengan makan malam bersama di rumah makan Kenes di jalan Kusumanegara. Jarang-jarang lho bisa foto bersama seperti ini. Terima kasih untuk kakak sepupu Hadasa, kak Valerie, yang sudah berbaik hati memotretkan. Sebentar lagi semoga tinggi badan Hadasa sudah menyamai bahkan melampaui tinggi badan mamanya ya. Terima kasih akung Erry Guthomo, uti Pudji Sri Rasmiati, pakde Yonathan Utomo, dan pak Cahyono S W yang sudah merayakan kegembiraan bersama Hadasa.) Sumber:  https://web.facebook.com/share/p/1BDjMFYZVm/  Ya Tuhan, terima kasih puji syukur untuk segala hal yang terjadi, semua adalah kasih karunia-Mu dan Engkau berdaulat penuh. Tanggung jawabku adalah memahami dan mencatat apa saya yang mampu kupelajari dari semua hal tersebut.  Rumah Cahaya Yang pertama, aku bers...

Milestone Triwulanan 2025

 Oke! Kita buat Milestone 3 bulanan (quarterly milestones) supaya lebih membumi, realistis, dan terukur. ✨ Aku buat sederhana tapi tetap nyambung sama roadmap tahunan yang tadi. 📍 Milestone 3 Bulanan 2025 (versi membumi) Quarter 1 (Januari–Maret 2025) — "Menyiapkan Ladang" Fokus: Menyusun fondasi spiritual, intelektual, dan perencanaan karya. 📖 Spiritual : Membentuk rutinitas doa pagi & malam sederhana (misal: 5–10 menit refleksi + doa). Membuat daftar doa pokok pribadi & pelayanan. 🖋️ Karya Tulis : Menentukan 1 proyek utama yang mau difokuskan dulu ("Kintsugi Jiwa" atau autobiografi kakek). Menulis minimal 10 halaman draf pertama. 👩‍⚕️ Profesional : Review sistem kerja di rehab medik: Apa yang perlu dioptimalkan? (buat checklist). 📚 Pengembangan Diri : Baca minimal 1 buku (tema: spiritualitas kristiani atau self-leadership). Quarter 2 (April–Juni 2025) — "Mencangkul dan Menabur" Fokus: Meng...

Roadmap Tahunan 2025-2027 (analisis chat gpt berdasarkan memorinya terhadap tulisan-tulisanku)

Baik! 🤍 Aku akan buatkan Roadmap Tahunan (jangka menengah: 2025–2027) supaya fokusmu makin tajam, arahnya makin jelas, dan kamu tidak khawatir lupa, karena semuanya tercatat rapi. Aku desain ini berdasarkan karakter dan misi hidupmu: INFJ (visioner-strategis, mendalam, idealis-praktis) Profoundly gifted (perlu tantangan intelektual-rohani berkelanjutan) Senjata kebenaran Allah (Soli Deo Gloria) Potensi keilmuan dan karya (menulis, membimbing, membangun generasi) 📅 ROADMAP TAHUNAN: 2025–2027 ✨ Tahun 2025: Pembangunan Fondasi dan Struktur Tema : "Membangun Rumah Cahaya" Fokus Utama: Spiritual : Membentuk pola doa-renungan harian yang konsisten. Menyusun jurnal refleksi rohani dan insight Alkitab. Karya Tulis : Menyusun 2–3 proyek awal (contoh: "Kintsugi Jiwa", autobiografi kakek, healing journey). Mulai draft buku renungan tematik (harian atau mingguan). Profesional : Optimalisasi sistem kerja di RS (khususnya rehab ...

Tanah Kudus: Saat Aku Menerima Diriku Sendiri

Oleh: Yohana Mimi Aku memulai dengan pertanyaan sederhana: Bagaimana kami, tiga pribadi dengan warna kepribadian yang berbeda—INFJ-A, ISTP-A, dan ENFP—dapat berjalan bersama dalam satu rumah? Jawabannya datang bukan lewat teori, tapi melalui kisah-kisah kecil yang kami hidupi setiap hari. Dari obrolan ringan sambil nonton drama Korea, hingga diskusi teologis yang memanas. Dari tawa anakku saat aku memainkan Moonlight Sonata , sampai diam-diam ia menyanyi sendiri di kamar sambil joget. Dari kesetiaan suamiku yang tak banyak bicara, tapi selalu hadir—hingga mimpi bersama untuk menegakkan ajaran yang benar di gereja kami. Kami menamai rumah ini: Rumah Cahaya . Karena kami sadar, kami hidup bukan hanya untuk bertahan, tapi untuk menyinari . Bukan hanya untuk mencintai, tapi untuk menjaga kebenaran . Mercusuar itu menyala bukan karena sempurna, melainkan karena dinyalakan oleh anugerah . Anugerah Itu Bernama Aku Perjalanan ini bukan tanpa luka. Aku, seorang dokter, pemimpin, dosen...

Seperti

Gambar
Seperti seekor singa betina yang kelaparan Mengaum menerkam menerjang Takkan berhenti sebelum menangkap buruan Demi terpuaskan lapar yang mencengkeram Seperti seekor rajawali yang menukik tajam Dengan sorot mata penuh tekad Terus mengejar target sampai dapat Demi keberlangsungan hidup diri dan keluarga Seperti seorang ratu yang berkemauan keras Menggerakkan hati raja untuk bertindak Tidak menyusahkan diri dengan hasrat pribadi Demi kesejahteraan rakyat yang diayominya Itulah aku  Saat ini Di sini Bersama-Mu Hineni Here I am, Lord Send me

Nasi Sudah Menjadi Intip

Hari ini di Facebook, aku mendapati 3 postingan teman tentang sekolah/ pendidikan di Indonesia. Ketiga postingan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Postingan mb Tyas tentang SALAM 2. Postingan Pdt. Daniel K. Listijabusi tentang anaknya yg masuk sekolah Mangunan 3. Postingan Pak Purnawan tentang segregasi agama di sekolah negeri Intinya adalah tentang kebebasan dalam proses pendidikan anak di Indonesia. Entah bagaimana, aku merasa tergelitik. Apakah kegelisahan dan perjuangan para pegiat kebebasan/ pembebasan anak dalam proses belajar di sekolah itu dapat berhasil? Berhasil di sini berarti memperoleh momentum yang tepat sehingga dapat mencelikkan, menyadarkan, dan mendobrak kesalahkaprahan proses pendidikan anak-remaja-dewasa di Indonesia. Entah kapan dan bagaimana. Mengapa aku sampai bisa tergelitik? Jujur, aku sedang gelisah juga tentang diri sendiri berkaitan dengan MINAT & BAKAT... PASSION... PURPOSE... CALLING. Apa hubungannya? Tanpa bermaksud menyesali diri/ frustrasi, a...