Postingan

Menampilkan postingan dengan label bipolar

Aku yang Mudah Lupa vs Tuhan yang Setia

Gambar
Orang kadang lupa akan berbagai hal yang sudah terjadi dalam hidupnya. Hal-hal yang menyenangkan dan penting untuk kesehatan jiwa seringkali terlupakan. Sebaliknya, hal-hal traumatis yang merongrong kalbu malah sukar dilupakan. Aku ternyata mudah lupa. Aku sering lupa akan janjiku kepada Tuhan, diri sendiri, dan orang lain. Aku sering lupa akan perananku yang baru. Jika tidak kudokumentasikan dengan baik, hal-hal penting dalam hidupku bisa benar-benar terhapus dari lembaran sejarah ingatanku. Ganti suasana hati mempengaruhi ingatan. Berkaitan dengan suasana hatiku yang rawan masuk dalam kondisi ekstrem (entah 'tinggi' atau 'rendah'), aku mendapati bahwa pergantian suasana hati itu berpengaruh juga terhadap ingatanku. Ingatan itu sangat mempengaruhi komitmenku, baik itu komitmenku dalam bekerja, melayani Tuhan, di rumah, tempat kerja, maupun di persekutuan gereja. Perubahan-perubahan yang drastis dan bertolak belakang itu membuatku menjadi tampak tidak konsisten....

Pemahaman Baru tentang Bipolar: Desain Ulang Pola Pikir

Syukur kepada TUHAN untuk pemahaman baru yang kuperoleh mengenai diagnosis bipolar yang kusandang. Selama ini aku berpikir bahwa diagnosis bipolar ini adalah sebuah stigma yang membedakanku dari orang-orang pada umumnya. Dengan stigma tersebut, aku seperti sudah ditandai untuk menjadi objek tontonan dan pertaruhan antara TUHAN dengan yang bukan TUHAN. Dan aku pun menjalani kehidupanku setiap waktu dengan rasa waspada ekstra, berjaga-jaga penuh supaya tidak kalah dengan pihak yang bukan TUHAN. Pendek kata, bipolar bagiku adalah suatu beban yang harus kupikul sepanjang hayat. Kini, pandangan tersebut diperingan dengan satu pemahaman baru. Bipolar tidak lagi semata-mata menjadi beban bagiku. Bipolar menjadi semacam rahmat dalam penyamaran. Entah bagaimana, pikiranku terbuka untuk menyadari bahwa sebenarnya TUHAN sedang mendesain ulang pola pikirku dengan adanya bipolar itu. Kesadaran ini berawal dari menyimak baik-baik obrolan para ibu Kalyca melalui fasilitas grup WA. Waktu itu, ibu-...

Tunduk dan Sabar

Sering terpikir olehku, mengapa aku yang cukup percaya akan kesembuhan ilahi ini harus membutuhkan obat rutin untuk menjagaku tetap stabil dari "mood swing" yang ekstrim. Untuk apa? Bukankah cukup hanya dengan percaya dan bergantung pada TUHAN, tanpa harus minum berbiji-biji obat mahal, aku sudah bisa disembuhkan? Mengapa harus repot-repot menunggu dinyatakan sembuh oleh dokter? Ini jawabanku saat ini. Mungkin aku perlu belajar berjalan dalam otoritas yang benar dengan penuh kesabaran, sebagai pelengkap dari imanku. Dengan hidup dalam otoritas yang benar, aku aman dari segala macam "tuduhan" dari si pendakwa. Dan mungkin dengan sikap tunduk itu, aku dapat menjembatani antara iman dengan pengetahuan. Maka, aku rela mnejadi pion TUHAN dalam rangka dialog iman dan pengetahuan ini. Dengan demikian, aku dapat melanjutkan hidupku dengan bangga dan penuh syukur.

Depresi yang Mengintip

Obat rutin yang kuminum sekarang diselingi absen 2 hari dalam seminggu. Untuk memudahkan, aku libur minum obat tiap hari Senin dan Kamis. Seperti puasa saja ya! Untuk kesekian kalinya, aku menjalani "tappering off" obat rutin. Semoga kali ini bisa sampai lepas obat secara perlahan-lahan. Tantangannya adalah kalau timbul episode mania dan/atau depresi yang hebat. Tapi berdasarkan pengalaman, biasanya ada "warning sign" terlebih dahulu sebelum episode yang nyata itu benar-benar muncul. Kalau mau mania, biasanya yang paling tampak adalah jam tidur yang makin berkurang. Sebaliknya, kalau mau depresi, jam tidurku menjadi bertambah. Dan saat ini aku sepertinya akan "swing" ke episode depresi. Untuk mengatasinya,  biasanya pada episode mania, aku menciptakan karya-karya yang kreatif entah itu tulisan, gambar, musik. Pada episode depresi, aku akan lebih banyak membaca, menulis, dan berinteraksi dengan sesama. Episode depresi harus kuatasi dengan tetap "terh...

Didengarkan dan Dimengerti sebagai Wujud Terapi

Dari pengalamanku selama ini mengontrolkan diri setiap bulan untuk kondisi kejiwaanku, aku mendapati bahwa aku sangat senang jika diperlakukan sebagai manusia seutuhnya oleh sang terapis (psikiater), dan bukan hanya sebagai diagnosa berjalan. Selama ini sudah terhitung tiga orang psikiater yang menanganiku. Psikiater pertama adalah teman kuliah bapakku. Beliau adalah tokoh terkenal yang sering menulis di koran. Tulisannya bagus-bagus. Sayangnya, aku kurang bisa mempercayai beliau karena beliau pun tidak bisa mempercayaiku. Setiap kali memeriksakan diri, aku mendapati bahwa beliau tidak pernah mempercayai setiap ucapanku, meskipun mungkin memang banyak ucapanku yang tidak relevan. Beliau hanya berkutat pada diagnosa dan terapi tanpa pernah mengajakku berbicara secara personal sebagai manusia seutuhnya. Walhasil, aku bersikap defensif terhadap setiap langkah terapetisnya. Aku malas minum obat-obat resepannya yang sebagian besar hanya membuatku mengantuk dan tidak bisa melakukan aktivitas...

Bersyukur Atas Stigma

Mungkin ini saatnya aku kembali bercerita tentang hidupku, yang jarang sekali kuungkapkan, kecuali kepada orang-orang yang sungguh-sungguh kupercaya. Ini tentang kondisi kejiwaan yang ada padaku sejak usia remaja. Mungkin juga sudah ada yang tahu dan maklum akan keadaan yang aku alami. Tapi izinkan di sini aku untuk menceritakan kembali dengan bahasaku yang semoga dapat mudah dimengerti. Baiklah, kita mulai saja ya. Aku menerima bahwa diriku didiagnosa gangguan manik bipolar. Sejak kapan tepatnya aku tidak begitu ingat. Tapi aku hanya ingin menekankan bahwa aku bersyukur dengan keadaan yang menurut pandangan umum dianggap sebagai stigma ini. Ya, stigma. Stigma sebagai orang yang 'gila', tidak waras, tidak normal, tidak umum. Aku menerima dengan rasa syukur segala macam stigma itu. Malah, aku cukup bangga dengan dianggap sebagai orang yang tidak umum, karena itu berarti aku bukanlah orang pasaran. Itu berarti ada nilai keunikan dan kehususan yang ada padaku, yang tidak dimilik...