Postingan

Menampilkan postingan dengan label boncel's story

In Memoriam Boncel

Alkisah, hiduplah seekor anjing besar berbulu emas bernama Boncel. Sifatnya yang ceria dan suka tertawa membuat banyak orang yang melihatnya ikut senang dan gembira hati. Boncel terkenal dengan sifat ramah dan suka bersahabat, khas dimiliki oleh anjing serasnya, golden retriever. Tingkah polahnya yang suka pecicilan kerap menimbulkan gelak tawa orang-orang di sekitarnya. Keluargaku mengadopsi Boncel sejak ia berusia empat bulan. Waktu itu badannya masih kecil dan sifatnya masih malu-malu anjing. Pertama kali masuk ke rumah Pelem Kecut, anjing kecil berbulu emas itu belumlah bernama. Maka, kami sekeluarga mencari-cari nama yang tepat untuknya. Bapak sempat mengusulkan nama “Ribut” karena si kecil itu suka menggonggong keras-keras tidak tahu waktu. Ibu mengusulkan nama “Roy”, mungkin karena terdengar keren. Setelah berdiskusi dengan kakak yang waktu itu masih kuliah di Jepang, aku mengusulkan nama “Boncel” yang diterima secara aklamasi sebagai nama sah si anjing kecil berbulu emas. Bela...

Boncel Naik Gunung

Boncel sedang euforia. Ini pertama kalinya Boncel jalan-jalan naik gunung. Sendirian. Nggak bareng Geol dan Jabrik. Cuma ditemani oleh ekor Boncel yang senantiasa mengibas ke kanan dan ke kiri. Maklum, Boncel sedang senang bukan main. Senang kenapa? Karena Boncel sudah lama tidak berjalan-jalan sendiri di alam bebas. Hobby Boncel bertualang tersalurkan kembali setelah lama terkurung di rumah Mimi Imut. Makin gendut. Mimi Imut memang nggak terlalu hobby bertualang seperti Yoyo Imut. Makanya Boncel lebih senang main sama Yoyo Imut dalam hal jalan-jalan. Tapi sekarang pun Yoyo Imut lagi sibuk sendiri dengan kerjaannya di belakang computer. Jadinya, Boncel nggak punya teman untuk jalan-jalan. Geol dan Jabrik lebih hobby ngobrol dan makan, jadinya mereka tambah gendut saja. Kembali ke cerita semula. Boncel sedang asyik menikmati pemandangan. Angin gunung yang sembribit membuat bulu-bulu Boncel terasa sangat nyaman seperti selimut tebal. Lidah Boncel sesekali terjulur ke luar ...

Boncel dan Sekolah

Boncel sedang bercermin di depan pintu mobil Komodo (Suzuki Escudo hijau tosca) yang kempling karena habis dilap dengan penuh kecermatan oleh bapak. Bapaknya Mimi Imut dan Yoyo Imut tentu saja. Bapaknya Boncel entah siapa dan entah di mana sekarang, nggak penting. Sambil becermin, Boncel kembali berpikir. Akhir-akhir ini Boncel semakin sering berpikir. Berpikir apa, Cel? “Ah narrator, belum-belum sudah menggangguku…” jawab Boncel kesal karena acara bercerminnya terganggu. “Aku sedang berpikir tentang sekolah.” Hah? Sekolah? “Iya, sekolah!!!” Nggak salah tuh Cel? Boncel mau sekolah? “Jangan menghina ya… Jelek-jelek begini, aku termasuk ras yang terkenal sebagai ras anjing paling ramah sedunia lho!” kata Boncel dengan bangganya. “Saudara-saudaraku banyak yang jadi juara kontes anjing.” Ooo begitu… “Iya, begitu! Bahkan banyak sepupu jauhku yang dilatih khusus sebagai anjing pelacak yang bisa...

Boncel Ketemu Bapa

Boncel sepertinya sedang stres. Tidak seperti biasanya. Atau malah ini keadaan yang seperti biasanya. Boncel sudah terbiasa hidup dengan stres. Masalah kecil jadi besar, bahkan yang bukan masalah pun menjadi masalah bagi Boncel. Boncel bingung. Sudah sejak kapan dia memelihara kebiasaan buruknya ini, berpikiran negatif. Pikiran negatif yang menghasilkan perasaan-perasaan negatif, yang kemudian menimbulkan proses penyalahan diri sendiri, sehingga memunculkan rasa rendah diri yang kronis eksaserbasi akut, yang pada akhirnya membuat Boncel makin stres saja. Bagai lingkaran setan. Boncel terjebak dalam lingkaran setan stres. Pikirannya makin kalut. Pola pikirnya kacau. Emosinya labil. Hidupnya jadi hambar cenderung pahit. Padahal kondisi lingkungan sekitar Boncel begitu indah, nyaman, dan dipenuhi oleh kasih sayang baik itu antara sesama anjing maupun dengan manusia-manusia. Sepertinya ada api dalam sekam. Boncel dapat merasakannya. Begitu menyeramkan. Bisa menjadi bom waktu yang dapat me...

Boncel Bersyukur

Boncel mau ngapain lagi sekarang ya? Entahlah… sudah lama Boncel tidak diajak main apalagi jalan-jalan oleh Mimi Imut dan Yoyo Imut. Padahal Boncel butuh refreshing. Boncel pingin lihat dunia luar. Selama ini Boncel terkurung di garasi yang pengap dan bau bersama Geol dan Jabrik. Makin gendut dan berisiko terkena stroke atau serangan jantung saja karena hanya diberi makan banyak tanpa ada exercise seperti lari-lari atau jalan-jalan. Padahal dulu Mimi Imut dan Yoyo Imut sering mengajak Boncel jalan-jalan keliling kampung. Sekarang? Mimi Imut dan Yoyo Imut semakin asyik dengan mainan baru mereka yaitu FB dan YM, entah makanan dari mana itu. Boncel nggak mau tahu. Boncel pingin bebas!!! Sudah saatnya untuk melakukan aksi!!! “Pingin bebas ke mana Cel?” tanya Geol sambil menguap malas. Perut Geol pun ikut-ikutan membuncit. Padahal, dulu Geol termasuk pelari tercepat di antara mereka bertiga. “Ah, mau tahu saja kamu, Ol,” jawab Boncel aras-arasen. “Mengganggu ke...

Boncel Sedih, Geol Gembira

Boncel sedang sedih. Hari ini sedih. Kemarin sedih. Kemarinnya lagi sedih. Kemarin dulu juga sedih. Besok kemungkinan besar bakalan sedih. Tidak tahu kenapa, Boncel selalu sedih. Padahal hari-hari yang dilalui selalu memberikan sesuatu yang baru. Matahari bersinar dengan cerahnya. Langit biru begitu bersih dan megah. Awan-awan berarak seperti kapas. Pohon-pohon berayun dan bergemerisik tertiup angin. Burung-burung terbang melayang berkelompok membentuk formasi yang kompak. Namun Boncel tetap bersedih hati. “Mengapa kamu sedih, Boncel?” tanya Geol yang sedang menjilati makanan enak di depannya. Geol adalah teman sepermainan Boncel yang selalu tampak gembira apapun yang terjadi. “Entahlah…” jawab Boncel pendek, singkat dan jelas. “Pasti ada sebabnya… Kemarin kamu tampak sedih, kemarinnya lagi sedih, kemarin dulu juga sedih, besok kemungkinan besar kamu bakalan sedih lagi,” kata Geol panjang lebar. “Sudah, kamu jangan menirukan narator sepe...

Sakit Perutnya Si Boncel

Boncel sakit perut. Hari ini Boncel habis makan banyak sekali. Rasanya perutnya mau meletus saking banyaknya makanan yang dimakannya. Salah sendiri, makan tidak kira-kira. Boncel pun melolong-lolong seperti anjing kesakitan, padahal dia memang betul-betul seekor anjing dan dia sedang kesakitan. “Haduh… haduh… haduh…” begitulah bunyi lolongan Boncel, tentu saja sudah diterjemahkan dalam bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia. Kalau mendengar suara aslinya, sangat menyiksa kuping. Karena itu, tidak usahlah kita mencoba mendengarnya. “Sakit perutku nih, seperti kemasukan bom atom…” seru Boncel dengan wajah memelas. Sebenarnya tidak perlu ada kejadian sakit perut segala, wajah Boncel memang selalu memelas. Lagipula, mana pernah Boncel melihat bom atom apalagi sampai memakannya…. Ada ada saja si Boncel. “Sepertinya aku harus buang air besar alias pup!” kata Boncel kepada dirinya sendiri. Tentu saja, Boncel lambat berpikir sehingga baru lima belas men...

Bonceh Hujan-Hujanan

Boncel sedang bermain hujan-hujanan di luar rumah. Tentu saja di luar rumah, masa main hujan-hujanan di dalam rumah? “Dasar narator bodoh…” batin Boncel dalam hati. Tentu saja dalam hati, soalnya kalau berbicara keras-keras itu bukan dibatin lagi namanya. “Tuh, kan … bodoh kok diulang-ulang…” sekarang Boncel berseru keras-keras saking kesalnya. Ya sudah, tidak usah dilanjutkan lagi perdebatan konyol ini. Kita langsung fokuskan saja pada apa yang sedang dilakukan Boncel saat ini. “ Kan sudah dibilang tadi, aku sedang hujan-hujanan…” kata Boncel masih kesal sambil geleng-geleng kepala. “Tentu saja geleng-geleng kepala, sebab hanya kepala yang bisa digeleng-geleng, kalau ekor itu dikipat-kipit!” Rupanya Boncel mencoba mendahului narator dalam mendeskripsikan dirinya sendiri. “Ah, ayolah, Tor… (kependekan dari Narator, bukan Tora Sudiro) Kalau mau cerita yang serius dikit, kenapa?” Boncel sudah mulai kehilangan kesabaran. Sebentar lagi mung...