Postingan

Menampilkan postingan dengan label Mimiel Chronicles

Grace

Gambar
INi adalah gambar Grace, anak manusia yang dijaga dan dilindungi oleh Mimiel... Cool, calm, confident... She is like a sunflower, like a black eagle, like a mountain rock... So strong and pure at heart... Alone but not lonely... Kisah selengkapnya baca aja di Mimiel Chronicles, hehe...

Saint Rarael

Gambar
Ini adalah gambar Saint Rarael, little angel the apprentice, the kerubim of God Almighty, an angel of Nevaeh; the worshipper, waiter, and warrior... Rarael adalah teman sejawat Mimiel yang bertugas menjaga dan melindungi anak manusia bernama Melody, teman dan sahabat Grace.. kisahnya belum aku ceritakan... selengkapnya dalam Mimiel chronicles... hehe...

Saint Mimiel

Gambar
Ini adalah gambar Saint Mimiel (little angel.. the apprentice), the kerubim of God Almighty... The worshipper and warrior... one of angles of Nevaeh... Lihatlah bagaimana penampilanMImiel.. begitu dahsyat dan penuh aksesoris... Sayapnya banyak dan besar... Di kepalanya terdapat materai sang Anak DOmba berinisial JC... Pakaiannya adalah jubah kebesaran berlanggam batik... INi dia Mimiel yang bertugas menjaga dan melindungi anak manusia bernama Grace...cerita lengkapnya baca aja di Chronicles of MImiel... hehe...

Mimiel Chronicles bagian 11

Memasuki kembali gerbang Nevaeh yang berbentuk mutiara raksasa, Mimiel merasa tegang bercampur dengan semangat karena mengingat pertemuannya dengan Grace yang sangat mengesankan. Entah apa nanti yang akan dikatakan oleh Big Boss akan keteledorannya membiarkan Grace melihat dan bercakap-cakap dengan Mimiel. Kalau pun harus dibuang keluar Nevaeh seperti yang pernah dialami oleh sang sesepuh Luciel yang akhirnya berganti nama menjadi Lucifer, Mimiel merasa itu semua layak untuk diterimanya. Apa pun yang bakalan Mimiel hadapi nanti, Mimiel cuma pasrah dan berserah saja sama Big Boss. Keputusan Big Boss adalah keputusan yang paling adil. Tidak pernah sekalipun Mimiel meragukanNya. "Mimiel, BIg Boss menunggumu...", seru seorang malaikat penjaga ruangan sesaat ketika Mimiel telah sampai di pelataran. Yah, apapun yang terjadi, terjadilah. Mimiel pun menghadap The Big Boss. "Bagaiamana, Mimiel?" sapa Big Boss dengan penuh wibawa tapi sangat lembut dan ramah. "Tuga...

Mimiel Chronicles 10

Pembicaraan antara Mimiel dan Grace berlanjut dengan seru. Mereka membicarakan tentang pribadi The Big Boss yang selama ini Mimiel layani. Grace begitu bersukacita saat menceritakan hubungan dan pengalamannya dengan The Big Boss. Mimiel pun semakin kagum akan pribadi The Big Boss dan hubungan pribadi Grace denganNya. Tanpa terasa, hari telah beranjak menjadi pagi. Alam mimpi Grace sedikit demi sedikit memudar, pertanda Grace akan segera bangun dari tidurnya yang nyenyak. Alamat bagi Mimiel untuk segera pergi kembali ke Nevaeh, tempat kudusnya. "Wah, Grace, sayang sekali perjumpaan kita harus selesai sampai di sini," kata Mimiel dengan agak sedih. "Mau ke mana, Mimiel?" tanya Grace. "Aku harus kembali ke Nevaeh untuk melaporkan tugasku pada Big Boss..." "Tugas apa?" "Yah itu tadi, aku harus menyampaikan jawaban doa dari Big Boss khusus untukmu" "Jawaban doa? Yang berwarna seperti pelangi itu tadi? Apa itu sebenarnya?...

Mimiel Chronicles 9

Mimiel begitu takjub dengan apa yang dilihat dan dirasakannya. Sungguh suatu dunia yang lain daripada yang lain. Hamparan rumput hijau, lebih hijau daripada rumput2 dunia yang pernah dilihatnya. Bentangan langit biru, lebih biru daripada langit yang ada di dunia yang pernah dilaluinya. Begitu sejuk, begitu damai. Sayup-sayup terdengar suara kicau burung yang bernyanyi, sungguh seirama dan senada dengan pemandangan indah yang dilihat oleh Mimiel. "Halo, kamu siapa?" tiba-tiba terdengar suara seorang anak dari belakang Mimiel. Secara spontan dan refleks, Mimiel membalik badan. Ternyata yang menyapanya adalah si gadis kecil yang menjadi target perlindungannya. Aduh, aku ketahuan, pikir Mimiel. "Namaku Grace, siapa namamu? Dari mana asalmu?" tanya si gadis kecil dengan polosnya dan tanpa ada rasa takut atau gentar. Hanya ada rasa penasaran yang terpancar begitu jelas dari matanya. "Aku Mimiel...aku berasal dari Nevaeh..." jawab Mimiel sekenanya, sekalia...

Mimiel Chronicles bagian 8

Mimiel asyik memperhatikan si gadis kecil yang sedang asyik pula bersekutu dengan Big Boss. Wajah si gadis kecil tampak berseri-seri seperti memancarkan cahaya surgawi yang lembut dan hangat. Senang sekali Mimiel melihatnya. Tidak sia-sia rasanya semua perjuangan yang telah dilakukan Mimiel untuk menyampaikan pesan dari The Big Boss. Sekarang tinggal menunggu si gadis kecil tertidur dan selesailah tugasku, pikir Mimiel. Semakin ditunggu, semakin lama saja si gadis kecil itu berasekutu dengan Big Boss. Tidak sabar rasanya Mimiel ingin segera melaksanakan tugasnya. Kalau saja Big Boss tidak mewanti-wantinya supaya bersikap hati-hati jangan sampai si gadis kecil menyadari kehadirannya, Mimiel pasti sudah menampakkan dirinya dan segera menyampaikan pesan Big Boss. Selesai sudah. Tapi entah mengapa Big Boss ingin Mimiel bertindak sedemikian rupa. Sungguh sulit dimengerti. Tapi meskipun demikian, Mimiel tetap dan harus menaati perintah Big Boss dengan sempurna karena memang demikianlah seh...

Mimiel Chronicles 7

Mimiel terbang melayang merendah mendekati sebuah rumah... sebuah rumah yang lumayan besar... rumah yang indah... rumah yang nyaman... itulah kesan yang ditangkap oleh Mimiel saat melihatnya... di sebuah kamar di lantai dua, masih menyala lampunya, terdengarlah suara merdu seorang gadis kecil... suaranya bening membelah kesunyian malam yang pekat... sayup-sayup terdengar kidung pujian yangn dinaikkan dengan sepenuh hati... In moment like this I sing out a song I sing out a love song to Jesus In moment like this I live up my hands I live up my hands to the Lord Singing I love You Lord Singing I love You Lord Singing I love You Lord I love You Lagu yang sederhana memang... tetapi Mimiel dapat merasakan hadirat The Big Boss amat sangat nyata di kamar itu... dengan perlahan tapi pasti Mimiel mendekati ruangan yang tampak sangat nyaman itu... dengan hati2 Mimiel masuk melewati tembok dan tampaklah di hadapannya seorang gadis kecil sedang berlutut di samping sebuah ranjang besar... gadis k...

Mimiel Chronicles bagian 6

Duh, Mimiel mengeluh dalam hati, kapankah ia dapat melewati penghalang yang dibuat oleh musuh. Pandangannya lama2 semakin kabur. Pegangan tangannya semakin terasa kendur. Pedangnya terasa semakin berat. Perisainya sepertinya sudah penyok terkena serangan bertubi-tubi dari musuh yang tanpa ampun menghajarnya. Duh, Big Boss, kapankah pertolonganMu akan datang, jerit Mimiel dalam hati. (Sebenarnya lucu juga membayangkan malaikat yang meminta pertolongan, karena selama ini kan gambaran malaikat adalah penolong yang diberikan Tuhan untuk menolong manusia...hehe, ya maap... saya bukan ahli teologi yang baik) Kulayangkan pandanganku ke gunung2, dari manakah pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN semesta alam... Syuuuuut.... Pranggggg!!!!!! Tiba2 saja Mimiel mampu memusatkan perhatiannya dan mengayunkan pedangnya tepat mengenai pangkal sayap musuhnya. Entah dari mana tiba2 Mimiel bisa memikirkan sepenggal frase tersebut di atas. Pastilah ini kerjaaan si anak manusia yang menjadi targe...

Mimiel Chronicles bagian 5

Dengan mengerang menahan sakit di pundak dan sayapnya, Mimiel bangkit menghadapi lawan yang menghalangi jalannya. Dihunuskannya pedang dan disiapkannya perisai. Dipandangnya lawannya dengan tatapan yang tajam dan penuh dengan kemarahan. Kemarahan yang kudus. Kemarahan yang timbul karena kehendak The Big Boss dihalangi. "Siapa kau? Beraninya menghalangi jalanku!" seru Mimiel dengan garang. "Khu khu khu... cukup sampai di sini perjalananmu, malaikat kecil..." jawab si penghalang jalan meremehken Mimiel. "Enak saja kau bicara... aku tidak mau menyerah begitu saja di hadapanmu... kehendak The Big Boss harus jadi!!!" balas Mimiel. "Langkahi dulu sayapku, kalau kamu mampu... khu khu khu..." "Minggir kalau tidak ingin sayapmu tecabut!!!" tiba-tiba Mimiel menyerang. PRANG!!! BRUUK!!! Pedang dan perisai saling beradu... Mimiel menyerang dengan tanpa ragu-ragu... si penghalang jalan juga tidak mau kalah... dibalasnya serangan Mimiel d...

Mimiel Chronicles bagian 4

Mimiel melesat dengan kecepatan yang melebihi kilat... kedua tangannya menggenggam sesuatu... sesuatu yang sangat berharga, yaitu jawaban doa dari The Big Boss buat anak manusia pilihanNya... anak manusia yang harus dilindungi dengan sekuat tenaga oleh Mimiel... Semangat Mimiel begitu tinggi dan menggebu-gebu seperti belum pernah ia rasakan selama ini... Tangannya terasa hangat... Pikiran Mimiel begitu terfokus pada tugasnya itu, tidak ada yang lain... Diingatnya peringatan The Big Boss yaitu supaya Mimiel tidak menyatakan dirinya sedemikian rupa kepada si anak manusia supaya hanya The Big Boss saja yang ditinggikannya... Mimiel tidak ingin gagal... oleh karena itu... BLAAAARRRR!!!!!! Tiba2 saja, sayap sebelah kanan Mimiel terasa panas dan sakit... ada sesuatu yang menghantamnya dengan keras... seperti semacam bola api... bukan sembarang bola api... bola tersebut seperti sengaja dilemparkan ke arah Mimiel untuk menjatuhkan Mimiel yang sedang terbang menuju ke satu titik di bumi... ...

Mimiel Chronicles bagian 3

Mimiel sedang menunggu dengan bosan... Latihan rutinnya telah selesai dan sekarang adalah waktu untuk bermeditasi di ruang kudus... satu tingkat lebih tinggi daripada pelataran... di ruang kudus itu, Mimiel diharuskan untuk merenungkan apa saja yang telah dipelajarinya selama ini... yang terutama, Mimiel diharuskan untuk merenungkan perkataan2 The Big Boss yang telah didengar dan dipelajarinya selama latihan bersama Sang Pelatih... benar2 saat yang tenang dan teduh sehingga jika tidak hati2, Mimiel pasti akan jatuh tertidur karena saking bosannya... Mimiel ingin segera berlatih kembali menggunakan senjatanya... "Mimiel, kamu dipanggil menghadap The Big Boss di ruang maha kudus," seru seorang kerub yang dikenal sebagai penjaga ruang maha kudus. Mimiel pun segera bangkit dan dengan hati2 sekali melangkahkan kakinya di ruang maha kudus. Salah sedikit saja, kilat akan menyambarnya dan Mimiel tidak tahu apa yang bakal terjadi. Saat2 seperti inilah yang selama ini dinanti-nanti...

Mimiel Chronicles bagian 2

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga dikaruniakanNya anakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal... begitu bunyi salah satu kutipan firman The Big Boss yang bisa Mimiel ingat... diayunkan pedangnya sambil mengingat-ingat dan merenungkan kutipan tersebut... dan wuuuuush... tepat sasaran... "Bagus, Mimiel! Pukulan telak!" seru Sang Pelatih. Mimiel merasa bangga akan prestasinya itu... biasanya pikirannya melantur ke mana2 sehingga ayunan pedangnya menjadi tidak terarah dan tidak terkontrol dengan baik... tapi kali ini, Mimiel bisa memusatkan perhatiannya sedemikian rupa sehingga ia sendiri merasa heran... mengapa bisa demikian? "Mimiel, salah satu alasan kenapa engkau bisa berkonsentrasi dengan baik saat mengayunkan pedangmu tadi adalah karena anak manusia yang akan engkau lindungi saat itu sedang berada dalam hadirat Sang Mahatinggi dan sedang menyelami kebenaran firmanNya,"...

Mimiel Chronicles bagian 1

Mimiel tidak bisa tenang saat ini... Sedang ada rapat penting di Ruang Maha Kudus... sayang Mimiel tidak boleh masuk... belum saatnya... Mimiel masih dalam tahap belajar untuk menjadi seorang malaikat pelindung... entah melindungi siapa nanti, Mimiel masih belum tahu... yang jelas, The Big Boss telah menetapkan bahwa suatu saat nanti Mimiel akan ditugaskan untuk melindungi seorang anak manusia yang sangat berarti bagi The Big Boss... Sampai waktunya tiba, Mimiel harus bersabar dengan latihan2 berat yang harus dijalaninya setiap waktu... Mimiel tidak pernah mengeluh akan hal itu... Hanya saja ia penasaran, seperti apakah orang yang akan dilindunginya itu... Saat ini Mimiel sedang berlatih menggunakan pedang dan perisainya... kata Sang Pelatih, senjata2 tersebut nantinya sangat berguna dalam tugasnya sebagai malaikat pelindung... Sejauh ini Mimiel telah berlatih bertahan menggunakan perisainya yang bertatatahkan zamrud itu, tapi ia belum terbiasa menggunakan pedangnya untuk menyerang....