Ketika Dikenali Sebagai Pemimpin yang Ngrengkuh
Hari Buruh tahun ini terasa berbeda. Saat membuka WhatsApp, mataku tertumbuk pada status Pak Lukas, perawat IBS yang saat ini menjadi ketua Serikat Pekerja di rumah sakit kami. Ia menulis: "Berkah di momen Hari Buruh, merasakan kepemimpinan yang humanis, dengan pendekatan ngayomi dan merengkuh... walau tetap megedepankan solusi." Saya membacanya pelan-pelan. Ada keteduhan dalam kata-kata itu. “Sae,” balasku singkat. Sebuah pengakuan kecil atas keindahan narasi yang ia tuliskan. Tak lama kemudian, muncul balasan yang membuatku terdiam sejenak: "Dan.... slh satu pemimpin yg humanis & ngrengkuh itu dr. Mimi..." Saya membalas dengan sederhana: "wah... matur nuwun, pak ketua... saya masih terus belajar dan bertumbuh." Tapi dalam hati saya tidak sesederhana itu. Ada rasa syukur yang dalam—bahwa di tengah perjuangan, tekanan, dan tarik-ulur peran, ternyata ada hal-hal baik yang diam-diam dirasakan dan diingat oleh orang lain. Saya tidak pernah...