Postingan

Menampilkan postingan dengan label aku malam ini

Ketika Dikenali Sebagai Pemimpin yang Ngrengkuh

Hari Buruh tahun ini terasa berbeda. Saat membuka WhatsApp, mataku tertumbuk pada status Pak Lukas, perawat IBS yang saat ini menjadi ketua Serikat Pekerja di rumah sakit kami. Ia menulis: "Berkah di momen Hari Buruh, merasakan kepemimpinan yang humanis, dengan pendekatan ngayomi dan merengkuh... walau tetap megedepankan solusi." Saya membacanya pelan-pelan. Ada keteduhan dalam kata-kata itu. “Sae,” balasku singkat. Sebuah pengakuan kecil atas keindahan narasi yang ia tuliskan. Tak lama kemudian, muncul balasan yang membuatku terdiam sejenak: "Dan.... slh satu pemimpin yg humanis & ngrengkuh itu dr. Mimi..." Saya membalas dengan sederhana: "wah... matur nuwun, pak ketua... saya masih terus belajar dan bertumbuh." Tapi dalam hati saya tidak sesederhana itu. Ada rasa syukur yang dalam—bahwa di tengah perjuangan, tekanan, dan tarik-ulur peran, ternyata ada hal-hal baik yang diam-diam dirasakan dan diingat oleh orang lain. Saya tidak pernah...

Jangan Lupa untuk Bahagia

Itu pesan penting yang kupelajari hari ini. Setelah tiga hari libur lebaran yang diwarnai melankolia akut, dan dua hari masuk kerja yang dihiasi perasaan tidak berdaya, sore malam ini kudapatkan penawarnya. Apakah itu? Sederhana, itu adalah sukacita atau kegembiraan yang sejati. Bagaimana caranya? Ini beberapa hal yang kulakukan hari ini untuk mengembalikan suasana hatiku menjadi lebih ceria: Buka-buka laman daring dan baca-baca artikel di blog orang yang membuka wawasan, memberi ide segar untuk dipraktekkan. Menemukan satu tips mengatasi depresi yaitu melakukan hal-hal sederhana yang bisa dilakukan. Melalui hal-hal sederhana itulah Tuhan bekerja memulihkan semangat dan membangkitkan rasa keberhargaan diriku. Mencoba hal baru yaitu menyeterika sambil mendengarkan siaran radio yang muatannya lucu yaitu Geronimo FM.  Menemani dan mengikuti gerak lincah energi Asa yang ceria. Berbagi cerita dan canda tawa dengan teman-teman via grup WA (ARMY of God--Andin, Reza, Mimi, Yiska...

AADC2: Sekedar Renungan Ringan

Minggu malam, setelah menemani Asa tidur, saya berniat membaca-baca sebentar di ruang keluarga Rumah Cahaya. Tanpa sengaja, papa Asa memencet remote TV dan tertampillah film Ada Apa dengan Cinta 2 di sebuah stasiun TV nasional. Maka, saya pun menonton AADC2 untuk pertama kalinya. Sayang sekali tidak dari awal. Tapi masih lebih lumayanlah, karena rupanya film belum terlalu jauh diputarnya. Saya sangat bersyukur karena sepertinya melalui film ini ada sesuatu yang penting yang hendak disampaikan oleh Tuhan pada saya secara pribadi. Saya anggap ini sebagai hadiah kejutan dari berakhirnya perayaan hari ‘Sabat’ pribadi saya. Saya menangkap tema besar yang hendak disampaikan melalui film AADC2 ini adalah ‘berdamai dengan masa lalu untuk menyambut hari esok’. Ada banyak pertanyaan menggelitik bagi saya mengenai film AADC2 yang saya tonton malam ini. Mengapa AADC2? Mengapa Jogja? Dan mengapa Rangga dan Cinta harus bertemu kembali? Itulah sebagian pertanyaan besar yang menggelitik hati sanubar...

Optimis dan Ingin Tahu

Pada hari Kamis malam tanggal 4 Februari 2016, aku menyapa TUHAN-ku. Malam itu, aku diingatkan untuk selalu: * bersikap optimis karena iman sejati yang tumbuh dari pendengaran akan firman-Nya; iman yang melihat seperti Dia melihat, berpikir seperti Dia berpikir; iman yang tumbuh karena aku hidup melekat pada-Nya, * menumbuhkan rasa ingin tahu; aku selalu ingin tahu akan kehendak-Nya, cara kerja-Nya, jalan-jalan-Nya; aku ingin melihat dan memahami gambaran besar fenomena-fenomena yang ada di sekitarku; aku ingin mempelajari hal-hal yang berguna bagiku, orang lain, dan kemuliaan-Nya. Itu! Inilah aku. Aku berterima kasih kepada TUHAN. Haleluya.

Awal Baru 2016

Selamat malam! Selamat tahun baru 2016 meskipun agak terlambat. Tahun yang baru ini kumulai dengan sikap tenang. Aku sedang menenangkan hati dan pikiranku untuk bisa mendengar dengan lebih baik. Aku berketetapan hati untuk mendengarkan suara TUHAN melalui apa pun yang ada. Aku sedang mengumpulkan data dan petunjuk mengenai arah yang hendak kutuju. Aku sedang menjajagi berbagai kemungkinan yang bisa kuambil berkenaan dengan jalan hidupku. Setelah pengumuman hasil seleksi PPDS kemarin--aku tidak lolos, terima kasih TUHAN--aku saat ini sedang mempersiapkan diri untuk berbagai kemungkinan. Supaya aku siap saat kesempatan atau kairos TUHAN itu datang, aku lagi-lagi membekali diri dengan banyak membaca, mendengar, berdiskusi, bermeditasi, dan bergaul dengan TUHAN dan sesama seintens mungkin. Kiranya kehendak TUHAN yang sempurna itu terjadi dalam hidupku, di bumi seperti di surga. Amin.

Bersyukur untuk Vertigo Bapak, Refleksi Tujuh Tahun

Bapak opname lagi karena vertigo. Sejak Jumat sore, bapak resmi menjadi pasien rawat inap di bangsal saraf. Syukurlah vertigonya terjadi saat bapak tidak sedang menyetir mobil atau sendirian. Bapak waktu itu sedang bekerja di kamar operasi sehingga segera tertolong. Singkat cerita, bapak dipondokkan lagi setelah tujuh tahun berlalu sejak serangan vertigo hebat itu. Terhitung sudah tiga kali bapak terserang vertigo hebat. Yang pertama saat aku sedang dalam fase depresi yang kelam. Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi. Bapak yang vertigo berat dan harus dibawa ke rumah sakit tidak membuat hatiku tergerak untuk melakukan hal baik. Depresi yang jahat telah melumpuhkan kebaikan hati yang TUHAN tanamkan di dalamku. Bersyukur, ada anggota keluarga besar yang mau menolong dan memperhatikan bapak. Serangan kedua adalah saat aku menjelang masuk masa koasistensi. Waktu itu aku sudah bebas dari cengkeraman depresi, namun masih sedikit apatis dan kurang semanak. Lihat saja posting...

Ingat Bersyukur

Daya ingatku tidak bagus-bagus amat. Aku sering lupa banyak hal. Tapi satu hal yang selalu kuingat yaitu bersyukur. Dengan bersyukur, aku dapat merasa bahagia lebih lama. Dengan bersyukur, aku merasa dunia tidak jelek-jelek amat. Dengan bersyukur, aku semakin menyadari betapa Tuhan itu sungguh amat baik. Bersyukur adalah sikap yang bagiku sangatlah vital untuk memiliki kehidupan yang penuh makna. Tanpanya, hidup dapat dengan mudah tergelincir ke sisi kelam. Kita jadi mudah bersikap sinis, apatis, dan nyinyir terhadap segala sesuatu. Hal-hal yang kita lihat dan dengar sehari-hari dapat membuat kita terjebak dalam sikap pesimis berlebihan jika saja bersyukur tidak kita jadikan gaya hidup. Misalnya saja berita-berita seputar dunia, negara, dan profesi yang hari-hari ini dipenuhi oleh teror, kekecewaan, dan kemarahan yang dilampiaskan melalui hiruk pikuk dunia maya (dan nyata). Lihat saja status-status dan komentar-komentar yang saling sindir dan saling hujat setiap saat menanggapi peris...

Teguran-Nya Menyadarkanku

TUHAN itu sungguh baik. Dia menegurku dengan lembut sehingga aku disadarkan bahwa aku telah tertipu dan terpikat. Ya, aku telah tertipu dan terpikat oleh ajaran dunia yang menyerupai kebenaran firman TUHAN. Sungguh licin caranya menipu dan memikatku itu, tanpa kentara. Tapi, sungguh lembut pula cara TUHAN menegurku, yaitu dengan melalui firman-Nya. Firman-Nya sungguh nyata lebih tajam dan berkuasa. Dan saat aku tersadar telah tertipu, aku pun hanya bisa bergumam, "Oooo... gitu to..." (jadi ingat pelajaran tentang mengatasi penipuan di School of Healing level dua ^^). Bagaimana aku bisa tertipu? Dan bagaimana cara TUHAN menyadarkanku? Begini ceritanya... Seminggu ini aku keranjingan dengan yang namanya 'law of attraction' yang gencar dikumandangkan oleh penulis buku RAHASIA (terjemahan). Aku mencoba mempraktekkan prinsip sederhana itu. Rasanya sangat enak dan membuatku ketagihan. Aku mencoba memikirkan hal-hal yang menyenangkan bagiku dan mengimaninya sungguh-sungguh...

Sekali Lagi Tentang Belajar

Saat aku sedang menuliskan tulisan ini, aku sedang duduk di kursi belajar. Tepatnya di depan meja belajar hasil rancangan Mas Cah. Meja belajar kali ini sangatlah unik dan spesial. Terbuat dari kayu (tidak tahu namanya) kekuningan, sederhana, namun sangat nyaman. Buku-buku beraneka tema tersusun dengan rapi di rak-rak yang menghiasi meja tersebut. Lampu belajar tergantung di sisi kiriku, menerangi dengan optimal sehingga mataku dapat membaca dengan nyaman. Inilah tempat ternyaman untuk belajar di rumah Cahaya. Membicarakan meja belajar membuatku ingin berbagi cerita tentang proses belajarku. Aku memahami proses dan kegiatan belajar sebagai duduk di depan meja belajar untuk membaca buku pelajaran dan menulis sesuatu. Bayangan aku yang sedang asyik duduk menulis di meja belajar itu sudah terpatri sejak aku kecil dulu. Bagiku, saat-saat ternyaman dan terasyik itu adalah saat sedang belajar. Di situ aku bisa hanyut larut dalam asyiknya menjelajah dunia ide (meminjam istilah Plato) dan se...

Refleksi Hasil Belajar Seminggu

Setelah sukses dengan kesibukan  seminggu penuh makna, aku mau sedikit merefleksikan apa saja yang kulalui. Bagaimana aku bisa menyelesaikan semua hal tersebut? Sederhana saja, yaitu dengan melakukan perencanaan sebelum bekerja. Aku menuliskan apa saja yang akan kulakukan hari itu dan batas waktu penyelesaiannya. Setelah menuliskannya di secarik kertas, aku mengerjakannya satu per satu dengan penuh perhatian dan semangat. Kemudian, aku membubuhkan tanda centang pada poin atau item yang telah selesai kukerjakan. Rasanya sangat menyegarkan, sangat jauh dari jenuh karena rutinitas. Aku sama sekali tidak merasa sedang melakukan hal-hal rutin yang menjemukan. Sebaliknya, semua hal yang kukerjakan serasa penjelajahan jiwa yang sangatlah menarik. Banyak hal yang singgah dalam benakku yang sedang dalam modus pembelajaran. Dengan menumbuhkan dan menggelorakan semangat belajar, segala hal yang kukerjakan berubah menjadi bahan pelajaran. Aku yang tidak suka atau alergi dengan istilah 'beker...

Semangat, Hasrat, dan Minat

Aku harus bersyukur kepada Tuhan, sang sumber ide dan semangat. Berkat anugerah-Nya yang tak terkira dan tak terduga, aku dimampukan untuk mengatasi kecemasanku  dengan cara-cara yang kreatif. Berkat anugerah-Nya pula, aku boleh mengalami dan merasakan yang namanya determinasi dan usaha, ketekunan dan daya juang, di samping doa dan keberserahan total pada-Nya. Singkat kata, ora est labora , demikian istilah yang selalu kuingat dari Pendalaman Alkitab para dokter RS Bethesda dulu. Bukan hanya ora et labora , melainkan ora est labora . Artinya kurang lebih begini, doa yang melandasi setiap kerja, atau kerja yang dinafasi oleh doa. Setiap kerja yang kita lakukan dengan sepenuh hati itu adalah wujud nyata dari doa yang sungguh-sungguh. Seminggu ke depan sudah kuatur jadwal kegiatanku dengan penuh pertimbangan. Ada tenggat waktu dan target yang mesti kupenuhi. Aku mesti mengatur waktu dan energi dengan pas untuk dapat mengerjakan hal-hal berikut ini secara sangkil dan mangkus: mela...

Ngobrol dengan Bu Yohana

Hari-hari ini aku merasa hidupku berjalan dengan penuh makna. Maksudnya adalah tidak ada waktu yang berlalu dengan sia-sia. Setiap tindakan dan pekerjaan yang kulakukan terasa penuh semangat dan energi. Mungkin ini efek dari membaca habis dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya buku Myelin  karya Rhenald Kasali. Lebih dari itu, aku pun menjadi lebih kreatif dalam berkata-kata. Hal ini diaminkan oleh bu Yohana Martini, perawat senior di RS Bethesda, pagi menjelang siang hari ini. Pagi tadi, saat aku sedang asyik membaca-baca E-book, Bu Yohana menyela. Ia mengajakku ke ruang pertemuan F untuk membantu menyusun Root Cause Analysis (RCA) temuan Tim PKRS berkaitan dengan pengisian form edukasi dan informasi.  Dua masalah temuan Tim PKRS dicari akar masalahnya kemudian dicari langkah koreksi dan pencegahannya. Di situlah ide-ide kreatifku muncul. Bahasa dan kosakata yang kupakai terasa sangat berenergi. Aku cenderung mengusulkan hal-hal sederhana yang memotivasi ...

Sedikit Cemas

Sedikit cemas, itu yang kurasakan saat ini. Seorang temanku mengatakan bahwa akan ada semacam acara orientasi (yang dinilai) besok, semacam magang. Yang membuatku sedikit cemas adalah ketidakbiasaanku menggerakkan otot dalam bekerja. Aspek psikomotorikku kurang terlatih karena selama ini aku keasyikan di zona nyaman. Aku perlu mempersiapkan diri secara khusus untuk mengaktifkan psikomotorikku. Cara termudah adalah dengan rajin melakukan pekerjaan rumah tangga, mulai dari hal-hal sederhana terlebih dahulu. Dengan melakukan pekerjaan rumah tangga, aku melatih kepekaanku terhadap lingkungan sekitar. Pekerjaan rumah tangga membuatku bergerak dengan lebih sigap, gesit, dan disiplin. Apalagi, dalam rumah tangga, aku juga berinteraksi dengan orang terdekat. Di situ aku bisa berlatih aspek sosial. Dua hal yang kudapati semakin menyenangkan karena makin terbiasa adalah mencuci piring dan menyeterika. Aku menemukan keasyikan tersendiri dari melakukan dua hal itu. Memang sih pada awalnya terasa...

Semangat untuk Kembali Menulis

Dari perayaan kecil dengan belanja buku  murah di Gramedia Warehouse hari Sabtu kemarin, aku beroleh berkat tak terhingga. Berkat itu berupa semangat yang menyala-nyala (kembali). Aku disemangati oleh Tuhan melalui buku yang kubaca. Terima kasih untuk penulis buku yang sedang kubaca, Prof Rhenald Kasali. Buku yang sedang kubaca saat aku menulis ini adalah ' Myelin'--Mobilisasi Intangibles menjadi Kekuatan Perubahan . Entah mengapa setiap kali aku membaca tulisan sang Prof, aku selalu merasa tersemangati oleh optimismenya yang begitu tinggi. Sekali lagi terima kasih kepada Tuhan untuk pribadi luar biasa ini. Mengenai buku Myelin, aku sangat tertarik dengan bagian ' knowledge management '. Di situ dijelaskan betapa pentingnya kegiatan dan proses menulis pengalaman dan pembelajaran. Suatu pengalaman yang berharga akan sangat sayang jika hilang tanpa jejak. Pengalaman itu akan semakin memberi dampak jika ditulis sehingga banyak orang yang beroleh transfer pengetahuan. Men...

Buku, Buku, dan Buku

Hari ini aku merayakan keberhasilan kecilku dalam seminggu. Keberhasilan-keberhasilan kecil memang perlu dirayakan secara pribadi untuk menyemangati diri sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi? Setelah berhasil mencapai target, aku merayakannya dengan hal sederhana yaitu pergi ke perpustakaan dan membaca. Aku memilih empat buku yang hanya kubaca bagian-bagian awalnya saja. Cukup menyegarkan pikiran dan mengenyangkan hasratku untuk mereguk berbagai macam informasi dan pengetahuan. Waktu satu jam di perpustakaan cukup membuatku santai sekaligus memperoleh kembali energi. Memang betul, aku ini orang introvert sejati yang memerlukan waktu menyendiri untuk mengembalikan energiku. Kemudian, perayaan berlanjut dengan memborong buku di warehouse Gramedia di daerah Tajem. Aku, mas Cah, dan Asa menyusuri lorong-lorong penuh buku bagus, diskon besar-besaran. Kami memilih-milih buku untuk Asa. Untuk diriku sendiri, aku memilih tujuh buku yang menarik perhatianku dan kurasa cukup relevan dengan ke...

Meditasi untuk Memenuhkan Pikiran

Setelah tulisan tentang  kebuntuan  yang ringkas, saat ini aku mau menuliskan lagi sesuatu sebelum beristirahat. Ini tentang penyebab kebuntuan itu. Kemungkinan besar salah satu penyebabnya adalah pikiran yang tidak fokus, alias mengembara ke mana-mana. Menurut artikel dari Lumosity yang kubaca, pikiran yang mengembara itu selain menyebabkan tidak fokus ternyata juga mengurangi kebahagiaan seseorang. Aku akui bahwa aku kurang fokus dalam banyak hal. Pikiranku terisi oleh berbagi macam pernak-pernik yang menurutku penting tapi kurang tertata dengan sistematis sehingga nampak berupa potongan puzzle yang belum tersusun. Amburadul, mawut, kalau orang Jogja bilang. Mungkin ini sebangun dengan status Jogja yang kabarnya sedang istimawut ya ^^ just kidding ^^ Kebalikan dari pikiran yang mengembara adalah pikiran yang fokus atau penuh pada saat 'ini'. Apa pula itu pikiran yang fokus dan penuh? Bahasa Inggris mengistilahkannya sebagai 'mindfulness', yang sampai saat aku menuli...

Terima Kasih, BPJS... ^^

Senang sekali aku malam ini. Diskusi singkat yang sangat bermakna dengan bapakku baru saja terjadi. Topik yang diangkat adalah tentang kepesertaan BPJS. Meskipun topiknya lumayan tidak populer, aku sangat menikmati jalannya obrolan dengan bapak karena cukup jarang kami bisa ngobrol dari hati ke hati seperti tadi (aku anggap tadi itu sebagai obrolan dari hati ke hati ^^). Makanya, kesempatan langka tadi tidak aku sia-siakan. Dengan pura-pura tidak tahu aturan BPJS, aku sambung percakapan dengan bertanya sana-sini. Yang penting obrolan berbalut diskusi itu terus terjalin. Maklum, gap generasi... ^^ Terima kasih, TUHAN, untuk kesempatan yang indah ini. Terima kasih, BPJS... sweet irony, ^^

Proyek Selanjutnya: Multitasking

Malam! Kembali aku bergairah dalam kegelisahan yang kudus. Aku gelisah ingin menghasilkan karya-karya tulis lepas dan bebas lagi. Dimulai dari artikel sederhana tentang kesehatan jiwa yang rencananya akan kukirimkan ke suatu majalah rohani populer. Aku mau menulis di sela-sela kesibukan yang kurang begitu bermakna bagiku di RMIK. Aku akan mengaktifkan kiembali semangat jiwa menulisku. Multitasking. Ya, itu! Dengan multitasking, aku dapat memecah impresiku sehingga tidak terlalu sepaneng. Aku bisa lebih santai dan nyaman dengan keberadaan diriku. Multitasking menyangga eksistensi dan aktualisasi diriku dengan menyediakan ruang cadangan sehingga aku terhindar dari kesuntukan (baca: ngelangut) akibat ketiadaan fokus. Bagaimana itu caraku multitasking? Sederhana saja! Aku tetap menyelesaikan tugas remeh di RMIK sambil mengisi waktu-waktu luang dengan menulis artikel dan/atau cerita yang sudah kurencanakan ini. Aku akan membawa buku Kiky besar untuk menjadi alat bantu menulis draft/ke...

Memilih Bertindak Benar

memilih melakukan yang benar itu menyenangkan terima kasih, TUHAN ^^ Itulah status facebook yang kutuliskan malam ini. Ada cerita di baliknya. Begini ceritanya. Petang ini, paduan suara Sangkakala seperti biasa mengadakan latihan rutin di rumah Pelem Kecut. Target kali ini adalah untuk mengiringi acara manten besok Juni. Karena kupikir aku tidak akan mengiringi kali ini, aku memutuskan untuk tidak mengiringi latihan. Perlu diketahui, aku adalah pengiring paduan suara Sangkakala saat ini di samping Pak Dekri. Spesialisasiku adalah mengiringi dengan kibor, pilihan register suaranya piano, terutama jika iringannya memerlukan ketepatan sesuai partitur not balok. Aku pikir Pak Dekri yang bakalan mendapat giliran ngiringi kali ini. Rupanya, beliau tidak hadir latihan. Yang ada hanya Pak Atmadi yang bisa ngiringi tapi spesialis dengan style kibor. Awalnya, aku menolak untuk mengiringi. Alasanku tidak terlalu jelas, aku sendiri tidak tahu kenapa. Maka, Pak Atmadi mencoba mengiringi se...

Menjadi Pendengar yang Lihai

Saat ini aku sedang mencoba menulis secara spontan. Maksudnya, kali ini aku menulis langsung di blog ini tanpa perlu menulis terlebih dahulu di buku harian. Biasanya, aku menulis di buku harian terlebih dahulu, baru aku salin beberapa bagian yang menurutku layak untuk dibagikan. Tapi kali ini, aku mau mencoba kembali kemampuanku untuk menulis lepas dan bebas tanpa tendensi 'harus bagus'. Sudah siap? Yuk! Kesenanganku untuk mendengarkan cerita orang lain mungkin adalah hal yang tidak biasa bagi kebanyakan orang. Saking sukanya mendengarkan cerita orang lain, aku harus melontarkan pertanyaan-pertanyaan pemancing untuk memperoleh jawaban yang ingin kudengarkan. Misalnya, aku bertanya kepada temanku, "Bagaiamana kabarmu? Ada kabar baik apa hari ini? Sedang sibuk apa?" dengan harapan ia akan menjawab dengan jawaban yang tidak standar. Jika ia pelit menjawab, maka aku harus lihai mengorek jawaban lebih lanjut. Mungkin ini terkesan garing dan tidak ada gunanya ya. Tapi ent...