Postingan

Menampilkan postingan dengan label literatur

Wajah Bangsa: "Syukur dan Terima Kasih"

Siang tadi, Pak Ias melontarkan bahan perbincangan menarik. Berdasarkan apa yang disampaikan pengkotbah dari Korea yang mengisi firman di gereja tempat Pak Ias berjemaat, ada fakta menarik yang membedakan bangsa Korea dengan bangsa Indonesia. Dikatakan bahwa bangsa Korea adalah bangsa yang sangat berterima kasih atas pengaruh misionari Injil yang masuk selama seratusan tahun di Korea. Hal ini tampak dari begitu banyaknya misi penginjilan modern Korea dari berbagai profesi ke seluruh dunia. Bandingkan dengan Indonesia. Indonesia dapat dikatakan lebih lama 'dipengaruhi' oleh misionari Injil, namun apa yang dihasilkan? Adakah Indonesia pun mempunyai wujud 'rasa terima kasih' atau syukur yang nyata atas pengaruh Injil tersebut? Jika ada, apakah itu? Jika tidak, mengapa bisa demikian? Dari sekilas obrolan yang tiba-tiba kuingat itu, aku jadi mikir. Apakah bangsaku ini sedemikian parah mentalnya sehingga tidak punya rasa terima kasih? Apakah sedemikian sukarnya bangsa Indon...

Tentang Kesembuhan Ilahi--Sebuah Pembelajaran

Hari-hari ini aku sedang membaca buku perpus berjudul "Healing and Christianity". Mengapa aku memilih buku ini? Atau, mengapa buku ini memilihku? Mungkin karena TUHAN ingin menyampaikan sesuatu secara khusus perihal kesembuhan ilahi. Mungkin aku memerlukan sepercik hikmat pengetahuan tentang kesembuhan, entah untuk diriku sendiri atau untuk kubagikan. Apapun itu, aku akan baca buku ini dengan hati yang terbuka dan penuh pengharapan. Selain membaca untuk kesenangan, aku membaca ini juga untuk belajar supaya terjadi transformasi hidup. Mungkin ini alasan aku memilih membaca buku tersebut secara khusus. Dalam hatiku, aku percaya akan "kesembuhan ilahi". Aku percaya bahwa TUHAN masih bekerja mengadakan mujizat kesembuhan sampat saat ini. Meskipun dunia medis klinis telah berkembang sedemikian rupa, aku percaya bahwa Dia masih sanggup dan mau melakukan intervensi kasih dan kuasa ke dalam dunia materi. Aku mendapati bahwa salah satu kendala adalah "bahasa". Ad...

Murakabi Selayang Pandang

Setiap Rabu sore sampai malam, aku dan Mas Cah biasanya menghadiri acara persekutuan doa dan pendalaman Alkitab kalangan keluarga berjiwa muda di lingkungan GKJ Gondokusuman Yogyakarta. Persekutuan ini akrab disebut sebagai persekutuan keluarga Murakabi, disingkat PKM. Pada awal pembentukannya, PKM ini merupakan singkatan dari Persekutuan Keluarga Muda karena awalnya dibentuk sebagai wadah bersekutu keluarga-keluarga anggota jemaat GKJ Gondokusuman yang masih terbilang muda usia perkawinannya. Seiring berjalannya waktu, ternyata bukan hanya keluarga muda saja yang menjadi anggota aktifnya, melainkan juga para ibu-ibu yang sudah janda ataupun lama usia perkawinannya. Dengan hikmat dan kearifan yang ada, maka dipakailah nama “murakabi” sebagai pengganti kata “muda”.                 Murakabi sendiri kurang lebih berarti menjangkau sampai luas, bukan hanya berguna bagi lingkungan keluarga atau kelompok sendiri. D...

Doa bagi Kota Tercinta

Saya masih ingat, waktu itu saya masih kelas satu SMP. Suasana negeri terasa sedemikian mencekam. Isu-isu akan adanya pembakaran atau perusakan rumah-rumah ibadah menghantui kota-kota di Indonesia, termasuk kota di mana saya tinggal, Yogyakarta. Kerusuhan-kerusuhan dimulai dengan peristiwa penyerbuan markas sebuah partai politik pada tanggal 27 Juli 1996, menyebar ke Situbondo (meskipun mungkin tidak berhubungan secara langsung), Surabaya, Kerawang, Rengasdengklok, Pekalongan, Tasikmalaya, dan Kalimantan Barat. Suasana sungguh kelam dan mencekam.                 Yang masih menjadi ingatan yang sangat membekas adalah waktu itu, ketika masih pelajaran agama, seorang kakak kelas dengan gaduh menangis mengabarkan berita buruk. Waktu itu internet belum seperti sekarang, baru beberapa orang saja yang bisa mengaksesnya. Ia, sang kakak kelas (mbak Tina), dengan sesenggukan melapor ke Bu Indarti (guru agama SMP 5) ten...