Postingan

Dunia Menanti Jawaban

Dunia ini penuh dengan misteri di balik berbagai masalah yang belum terpecahkan. Kebencian mewarnai sikap hidup manusia yang dicengkeram ketakutan akan hal yang tidak diketahuinya. Jawaban yang klise dan dangkal dari para manusia yang dipandang ahli dan "linuwih" itu membuat muak, bosan, dan menyuburkan apatisme. Kehausan dan kelaparan akan kebenaran yang sejati dan hakiki sedang melanda generasi manusia yang hidup di zaman akhir ini. Kegelapan semakin kelam, masa depan semakin suram. Dalam lembah bayang-bayang maut ini, terserulah jeritan minta tolong dari jiwa-jiwa yang sengsara, "Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung, dari manakah datangnya pertolonganku?" Jawaban yang sudah akrab itu bisa datang segera, tapi bisa juga lama setelah jiwa-jiwa itu kembali ke kekekalan. Jeda waktu menunggu jawaban kadang dimanfaatkan oleh mereka-mereka yang sudah hilang akal, kesabaran, dan pengharapan. Maka, muncullah ide-ide dan cita-cita yang meniadakan keabsolutan yang merup...

Dunia dan TUHAN

Ternyata tidak sesederhana yang kubayangkan dunia ini, jalannya sejarah manusia ini. Semakin kupelajari, semakin membuatku pusing. Rumit dan penuh liku-liku, itulah manusia dengan berbagai atributnya. Namun, semakin aku sadar betapa maha dahsyatnya TUHAN itu, sang pencipta manusia. Jika melihat hasil ciptaan-Nya yang super duper canggih dalam hal berpikir abstrak hingga mewujudkan ide-ide tersebut di dunia nyata, betapa lebih super super canggihnya pikiran TUHAN! TUHAN pasti tidak sampai pusing tujuh hingga dua belas keliling dalam mengatur dunia dan segala isinya ini. Dalam menanamkan program kecerdasan dalam diri manusia pun TUHAN pasti sudah memperhitungkan semuanya. Pribadi TUHAN pun pasti tidak sedingin Sang Arsitek dalam trilogi film "The Matrix" itu. Mau tahu seperti apa TUHAN itu? Sederhananya, lihat saja pada Yesus Kristus dari Nazaret itu! Lalu? Mulailah segala pencarian akan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu dari pribadi Yesus Kristus. Dengan de...

Hidup Penuh Makna

Keberadaanku di perpus yang bak kemewahan surgaawi ini bukanlah suatu hal yang harus membuatku merasa bersalah. Aku tidak harus merasa bersalah karena bisa menikmati kemewahan ini sementara di bawah sana rekan-rekan kolegaku berjibaku dengan sibuknya jadwal jaga. Aku mencoba bepikir demikian. Mereka yang berjuang setengah mati menolong pasien memperoleh derajat kesehatan yang lebih baik itu tentu berharap supaya dengan derajat kesehatan yang lebih baik, pasien dapat menjalani kehidupan yang penuh makna. Nah, apakah yang sedang kulakukan di perpus ini? Bukankah itu merupakan kehidupan yang penuh makna juga, setidaknya bagiku? Dengan demikian, bukankah aku sudah menikmati apa yang diperjuangkan oleh rekan-rekanku di garis depan? Untuk inilah--kehidupan yang penuh makna--perjuangan mempertahankan hidup di tengah gempuran maut itu berlangsung. Maka, tidak semestinyalah aku merasa bersalah atas anugerah yang kuterima ini. Sebaliknya, aku harus senantiasa bersyukur dengan mengingat bahwa seg...

Bermain Bersama Bayi

Aku dan Asa habis bermain bersama. Asa bermain dan bereksplorasi. Aku menjaga dan menyemangati. Kami sama-sama belajar dan berproses sampai terobosan demi terobosan terjadi. Aku belum tahu apa yang Asa pikir dan rasakan karena dia belum bisa ngomong seperti orang dewasa. Maka, aku pun belajar menjalin komunikasi dengan cara-cara yang sederhana. Dengan bahasa tubuh dan ilmu kira-kira, aku berusaha memahami dan dipahami Asa. Prinsipku dalam belajar ini adalah tidak terlalu ngoyo tapi juga tidak malas atau asal-asalan. "Samadyane" saja. Aku kerjakan apapun yang aku bisa. Urusan selanjutnya, aku serahkan kepada Tuhan. Segala kekuatiran dan kebingungan tidak kuadopsi dalam pikiran dan perasaanku. Aku dan Asa bermain di ruang keluarga, ruang tamu, dan kamar tidur utama. Segala macam benda dapat menjadi bahan permainan dan penjelajahan Asa. Aku dan Tuhan memastikan bahwa Asa bermain dengan aman. Aku berusaha menghindari kata-kata larangan yang berlebihan. Aku gantikan dengan kata...

Percikan Inspirasi: Dua Meskipun

Ada dua percikan inspirasi yang aku dapatkan hari ini sembari mencuci perkakas di dapur. Pertama, meskipun aku belum atau bahkan tidak pernah bisa merumuskan tujuan hidupku dengan tepat dan terperinci, aku akan tetap terus melakukan apa saja di hadapanku dengan hati yang antusias dan gembira. Itu berarti meskipun sampai akhir hayat aku akan terus meraba-raba, aku akan tetap menikmati rutinitas hidup sehari-hari karena itulah yang dikehendaki TUHAN. Aku tetap bersyukur karena meskipun mungkin aku tidak akan tahu persis apakah panggilan hidupku itu, aku tidak terjebak dalam ketidaksadaran massal dalam pekerjaan sehari-hari. Setidaknya, aku masih sempat 'eling lan waspada' akan siapa diriku dan ke mana seharusnya aku berada. Setidaknya, naluri elangku tidak terninabobokan oleh atmosfer lingkungan ayam. Kedua, walau aku mendapat perlakuan kurang menyenangkan dan sering terkecewakan, aku akan tetap memandang bahwa TUHAN itu baik. Aku tidak akan latah dalam merenungkn kebaikan TUHA...

Iman bagi Pertanyaan Eksistensial

Ibrani 11: 8 (BIS) Karena beriman, maka Abraham mentaati Allah ketika Allah memanggilnya dan menyuruhnya pergi ke negeri yang Allah janjikan kepadanya. Lalu Abraham berangkat dengan tidak tahu ke mana akan pergi. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Bapa orang beriman itu hanya pergi begitu saja tanpa tahu arah tujuannya, tanpa bisa merumuskan dengan jelas 'destiny'nya. Bagi TUHAN, itulah hakikat karunia iman yang sejati. Beriman berarti pasrah bongkokan pada sang pemberi iman itu sendiri. Ke mana Ia mengutus, ke situlah kita pergi. Tidak perlu kita tanya sampai memperoleh jawaban yang detil. Cukuplah kita tahu garis besarnya saja. Pegangannya adalah janji TUHAN atas hidup kita yang tidak pernah gagal. Bagian kita hanya percaya saja dan melangkah terus. Kita akan tahu dan mengerti setelah kita melangkah dalam iman dan ketaatan. Kita akan memahami saat kita sudah sampai ke tujuan. Selama perjalanan, kita munbgkin masih meraba-raba dan mengira-ira. Tidak apa-apa, yang penting ...

Pilihan Menjadi Dokter

Mengapa begitu banyak orang yang ingin menjadi dokter? Demi apa? Status? Kekayaan? Atau panggilan? Kepuasan? Di Indonesia, dan seluruh dunia pada umumnya, anak-anak kecil bercita-cita ingin menjadi dokter. Dalam benak mereka, dokter adalah pribadi yang luhur mulia. Jas putih yang disandang melambangkan kesucian dan kemurnian hati yang sigap menolong. Ketenangan hati dan ketajaman pikiran seorang dokter menjadi syarat utama kesembuhan. Obat-obatan dan tindakan medis menjadi sarana efektif di tangan dokter yang cakap. Berurusan dengan penyakit dan kondisi kritis merupakan makanan sehari-hari seorang dokter. Karena kemampuannya dalam mendiagnosa dan memberi terapi itulah banyak orang mempercayakan proses kesembuhan di tangan dokter. Tidak heran, profesi dokter masih dihormati dalam masyarakat sampai sekarang. Ketika aku memilih profesi dokter sebagai bagian dari identitasku, aku melakukannya bukan tanpa sadar. Aku memilih dengan kesadaran bahwa profesi dokter dapat menjadi sarana efekti...