Postingan

Sang Pustakawan Sejati

Aku mengenal namanya hanya sebatas Bu Ari. Bu Ari penjaga perpustakaan. Kesan pertama mungkin agak jutek atau kurang senyum. Tapi lama kelamaan seiring berjalannya waktu, aku semakin mengenal beliau. Ternyata beliau orang yang sangat perhatian. Sangat teliti, berdedikasi tinggi. Suka membaca juga rupanya. Jelas, kan pustakawan eh pustakawati! Lucu jika seorang pustakawan atau pustakawati tidak gemar membaca. Hidupnya pasti akan membosankan sekali karena sehari-harinya berkutat di antara buku-buku. Tapi, kalau seorang yang gemar membaca pasti akan merasakan perpustakaan sebagai surganya. Bahkan, bagi seorang kutu buku, surga baginya pastilah akan dipenuhi dengan beribu-ribu bahkan berlaksa-laksa buku yang tidak akan habis dibaca sepanjang kekekalan. Wow, luar biasa!                 Kembali ke Bu Ari. Setiap hari aku biasanya menyempatkan diri untuk ke perpustakaan rumah sakit, tempat mangkal beliau. O iya, aku ...

Terima Kasih, Bu Sari

Kami memanggilnya Bu Sari. Seorang perempuan ramah yang setia menyapa kami, para pekerja rumah sakit ini, dengan berbagai macam makanan dagangannya. Setiap jam delapan sampai sembilan pagi, Bu Sari selalu datang menyambangi kami di kulon desa , tempat favorit kami untuk makan-makan, begitu kami menyebutnya. Di kulon desa itulah keakraban yang murni dan alami terjadi manakala kami menyantap makanan dagangan Bu Sari. Ada nasi kucing (nasi dengan lauk teri atau tempe ditambah sedikit sambal khas angkringan Jogja), nasi gudangan (nasi dengan lauk sayur bayam, taoge, dengan disertai parutan kelapa), nasi pecel, dan yang terbaru adalah nasi jinggo. Minumannya pun beraneka macam ragamnya. Ada jus jambu, jus alpokat, susu kedelai, dan kadang teh hangat. Belum cukup itu, masih ditambah lagi gorengan tempe dan kletik-kletik­ khas desa seperti lanting, kacang polong goreng, ketela berbentuk kubus kecil-kecil yang digoreng, dsb. Suasana sangat meriah ditimpali senda gurau para karyawan. Murah ha...

Musyawarah Sangkakala

Setiap Jumat sore, di rumah ibuku, diadakan latihan rutin paduan suara Sangkakala. Paduan suara ini adalah paduan suara yang anggotanya sudah senior alias berumur setengah baya. Terbentuk dari persekutuan warga gereja wilayah Sagan beberapa dekade lalu, paduan suara Sangkakala masih solid dan bersemangat meskipun sudah senior. Yang aku suka dari paduan suara ini adalah suasana keakraban dan kekeluargaan yang begitu kental mewarnai setiap latihan dan pertemuannya.                 Seperti itu juga suasana kekeluargaan yang hangat dan ‘gayeng’ yang kurasakan saat bapak-bapak dan ibu-ibu anggota Sangkakala sedang musyawarah kemarin sore. Musyawarah tersebut membicarakan masalah jadi atau tidaknya Sangkakala mengisi pujian di GKJ Manahan Solo. Seminggu sebelumnya, bapak-bapak dan ibu-ibu Sangkakala telah menyatakan niat mereka untuk mengisi pujian, mengiringi Pdt. Siswadi dari GKJ Gondokusuman Yogyakarta yang dijad...

Perlindungan Tuhan

Pagi ini, aku sungguh berterima kasih kepada TUHAN atas perlindungan-Nya terhadap bapakku. Benar-benar luar biasa perlindungan-Nya, hampir saja, nyaris. Begini ceritanya. Bapak tiba-tiba mengetuk pintu kamarku, minta tolong Mas Cah membantunya untuk membetulkan pralon tangki air yang jebol. Jebolnya karena apa, aku belum ‘ngeh’ sehingga tidak kucari tahu lebih lanjut. Aku pikir itu karena hal kecil biasa. Maka, kulanjutkan kegiatanku membaca buku sendiri di kamar. Mas Cah yang ringan tangan segera pergi membantu bapak.                 Tak berapa lama kemudian, terbit keingintahuanku untuk melihat apa yang sedang dikerjakan bapak dan Mas Cah itu. Dalam hatiku timbul dorongan untuk berdoa bagi mas Cah supaya TUHAN melindunginya karena tandon air itu lumayan tinggi. Aku lihat Mas Cah dengan semangatnya ‘methangkring’ di bawah tandon dengan kaki bertumpu besi-besi ‘cagak’ tandon, sedang membetulkan pralon yang rus...

Kala Aku Menggendong Asa

Sore hari yang tenang dipecahkan oleh tangisan Asa yang membahana. Asa baru sakit batuk. Dari napasnya yang cepat terdengar bunyi ‘ngik ngik’. Mungkin ia menangis karena merasa tidak nyaman atau panik dengan kondisinya. Langsung saja kugendong dan kudekap erat-erat. Sambil kutenangkan, aku pun mendaraskan lagu-lagu pujian dan penyembahan yang menguatkan iman dan meninggikan TUHAN. Karena lagu pujian penyembahan itu, perhatianku tidak melulu terpusat pada tangisan Asa yang keras dan cukup mengintimidasi. Sebaliknya, ketenangan dan kedamaian yang kurasakan sepertinya dirasakan pula oleh Asa sehingga berangsur-angsur tangisannya mereda. Asa pun tertidur dengan nyamannya di dalam pelukanku. Namun jika mau kutaruh ke dalam boks atau ke atas kasur, Asa kembali terbangun dan menangis. Rupanya, Asa sedang ingin dipeluk-peluk. Maka, kugendong terus dan kudekap erat dengan bantuan selendang ia. Lagu pujian dan penyembahan terus kunyanyikan. Dengan iman, sambil menggendongnya, kutumpangkan tanga...

Ajrih Asih

Hari Minggu kemarin aku mendapat pelajaran yang berharga. Aku belajar tentang arti dari mengasihi TUHAN. Dalam bahasa Jawa, terdapat ungkapan ajrih asih untuk menggabarkan bagaimana sikap kita seharusnya terhadap Pribadi TUHAN. Ajrih secara hurufiah berarti takut. Sedangkan asih berarti mengasihi. Jika digabungkan, maka dapat diartikan bahwa di dalam kita mengasihi TUHAN, sudah selayaknya terdapat rasa takut. Takut seperti apakah? Dari pengalamanku kemarin Minggu, setidaknya aku mendapatkan sedikit gambaran tentang sikap takut seperti apakah yang layak kita miliki terhadap TUHAN kita.                 Hari Minggu kemarin merupakan hari yang sangat sibuk buatku. Sejak pagi sampai sore aku disibukkan dengan kegiatan mengiringi ibadah dan latihan (gladi resik) untuk acara kebaktian Natal. Saking sibuknya, aku jadi kurang fokus terhadap hal-hal kecil tapi penting. Salah satunya adalah hal komunikasi dengan pasan...

Pelajaran Berharga dari Lek Sar

Hari ini dan kemarin, aku mendapatkan pelajaran yang berharga dari Tuhan. Pelajaran yang sederhana tetapi tidak mudah juga untuk kulakukan secara sempurna. Apakah itu? Ini tentang sikap yang benar antara atasan dengan bawahan, antara majikan dengan pembantunya. Bagaimana ceritanya? Beginilah ceritanya. Dimulai dari hari kemarin sore, ketika aku sedang mandi sore. Asa, putri kami—anugerah TUHAN—tiba-tiba menangis keras. Tidak ada satu pun yang langsung sigap menenangkannya karena aku sedang mandi. Mas Cah, sang suami dan ayah Asa, sedang pergi bekerja. Asa terbangun dari tidur sorenya. Aku masih di kamar mandi. Kira-kira lima menit Asa menangis keras sampai sesenggukan. Cepat-cepat kuselesaikan ritual mandi soreku, dan segera menuju ke boks tempat tidur bayi. Hampir bersamaan dengan itu, Lek Sar—sang pekerja rumah tangga—pun masuk ke kamar kami. Dengan pembawaan yang tidak pernah kalem dan selalu menomorsatukan teriakan, Lek Sar pun berkomentar begini,      ...