Postingan

Restorasi Karakter

Siang itu di ruang kopi pecah (coffee break) ladang TUHAN di Yogyakarta, aku dan sesama rekan sejawat mengikuti acara pendalaman Alkitab. Acaranya cukup seru dan menarik. Dipimpin oleh pak pendeta Christian Sutopo, kami semua berdiskusi dan saling berbagi cerita dan pergumulan seputar kehidupan pelayanan di dunia medis. Pada akhir acara, aku membagikan apa yang menjadi semacam visi atau harapanku untuk ladang TUHAN ini. Dengan antusias aku ceritakan bahwa kami para dokter muda alias junior ini telah membentuk diri sebagai satu tim yang kuat dan kompak. Kami menamakan diri kami sebagai “Medical Dragon Team”, mengambil nama dari sebuah judul komik Jepang. Masing-masing kami mempunyai julukan unik yang menggambarkan ciri khas kami masing-masing. Aku yang jarang kelihatan di area pelayanan klinis dinamakan “invisible dragon”. Yohan yang suka memberikan kata-kata bijaknya dinamakan “wise dragon”. Julukan-julukan yang lain adalah “brave dragon”, “smooth dragon”, powerful dragon”, “incredibl...

Si Putri Kerajaan Surga

Asa atau harapan. Nama panggilan putri kami yang Tuhan anugerahakan dan percayakan ini sungguh penuh makna. Lengkapnya adalah Hadasa Mazeltov Puji Pangastuti. Asa diambil dari kata Hadasa. Hadasa aku ambil dari Alkitab, nama asli dari Ester, sang gadis Yahudi yang menjadi ratu Persia yang berjasa menyelamatkan bangsanya dari ancaman genosida pada masa pemerintahan raja Ahasyweros atau Xerxes. Mazeltov aku dapatkan dari usul seorang saudara sepupuku yang mengatakan bahwa artinya adalah ucapan selamat atas keberhasilan dalam bahasa Ibrani modern. Nama Puji adalah nama yang dipakai oleh keluarga besar dari pihak ibuku untuk memberi nama anak perempuan. Untuk anak laki-laki diberi nama Pudyo. Sedangkan Pangastuti aku ambil dari peribahasa Jawa “suradira jayaningrat lebur dening pangastuti” yang artinya sikap sombong dan mengagung-agungkan diri dikalahkan oleh sikap rendah hati dan manembah. Karena nama adalah doa, maka berarti nama putri kami adalah doa dan harapan kami bagi putri kami. B...

Ibuku Pahlawanku

Ibu adalah orang terdekat yang mengenalkanku pada TUHAN dan kasih-Nya sejak aku masih kecil. Ibu jugalah yang membimbing, membombong, dan menstimulasiku sehingga aku menjadi seperti sekarang ini. Banyak hal yang ibuku lakukan yang mempengaruhiku baik aku sadar maupun tidak menyadarinya. Tulisan ini adalah sebagai penghargaan dan wujud cinta kasihku kepada ibuku, sang Kartini ladang anggur TUHAN di Yogyakarta.                 Lahir sebagai anak kelima dari delapan bersaudara, ibuku tumbuh sebagai seorang perempuan kuat yang sangat peduli kepada keluarganya. Beliau biasa dipanggil dengan nama kecilnya di tengah keluarga besar kami, yaitu sebagai bude, tante, eyang, dan ibu Titiek. Nama lengkapnya adalah Pudji Sri Rasmiati. Dengan gelar profesi kebanggannya, yaitu dokter, beliau lebih dikenal sebagai dr. Pudji di lingkungan kerja rumah sakit. Tapi bagiku, apa pun jabatan atau profesinya, ibuku tetaplah ibu yang l...

Pak Harto, Sang Pemerhati yang Penuh Aksi

Penampilannya sederhana, tidak terlalu menyolok. Pekerjaan rutinnya pun tidak terbilang spektakuler, ‘hanya’ berkutat di depan komputer menekuni data-data rekam medis. Jika aku menjadi beliau, aku pasti sudah mati kebosanan. Dialah Pak Daniel Suharta. Kami akrab memanggilnya Pak Harto, seperti nama presiden kedua Indonesia itu. Setiap hari aku berjumpa dengan Pak Harto. Bukan suatu kebetulan jika aku ditempatkan di ruangan besar kantor rekam medis bersebelahan dengan Pak Harto. Setiap pagi, kami selalu bersalam komando ria dan menyapa dengan yel “jiwa korsa”, seolah-olah kami adalah anggota Kopasus sungguhan. Maklum, aku dan Pak Harto masih berkerabat dekat dengan abdi negara alias tentara di keluarga masing-masing. Adanya persinggungan dengan para jiwa korsa di keluarga itu membuat aku dan Pak Harto memiliki pula jiwa militan yang kuat dan tangguh. Hal itu tampak dari langgam bahasa percakapan kami sehari-hari. Tidak ada rasa mengasihani diri sendiri, pesimistik, negativistik, dan be...

Kopi Pecah, Sang Saksi Bisu

Tempat itu luas dengan pencahayaan ruang yang cukup terang. Dikelilingi empat dinding dengan terdapat tiga pintu dan sederetan jendela. Di tengah-tengah terdapat meja persegi panjang yang disusun melingkar membentuk susunan seperti untuk konferensi. Kursi-kursi empuk dan nyaman tersusun mengelilingi susunan meja tersebut. Di ruangan inilah aku sering menghabiskan sebagian waktu luangku. Mulai dari sekedar ‘ngadhem’, berbincang-bincang alias ngobrol, sampai mendengarkan alias menguping perbincangan seru antara sesama rekan sejawat para dokter. Ruangan yang nama aslinya adalah Ruang Komite Medik ini lebih terkenal disebut sebagai ruang coffee break alias kopi pecah, demikian aku menyebutnya (coffee=kopi, break=pecah), karena di sinilah para dokter rumah sakit ladang TUHAN mengambil waktu mereka untuk beristirahat sejenak sambil minum kopi, makan camilan, nonton televisi, berselancar internet, dan bermain kibor.             ...

dr Tedjo, Sang Guru Teladan

Suara yang membahana memenuhi ruangan tempat kami para dokter biasa berkumpul untuk istirahat dan ngobrol. Suara itu berasal dari seorang dokter senior bertubuh besar. Usia yang senior tidak membuatnya lambat berpikir atau berinteraksi. Sebaliknya, berbagai pengalaman hidup yang luar biasa selalu dibagikannya dengan murah meriah. Itulah dr. Tedjo. Beliau suka sekali berbincang-bincang dengan siapa pun, terutama sesama rekan dokter dan saudara seiman. Topik pembicaraannya bermacam-macam. Dari urusan klinis medis, politik, bahkan sampai klenik spiritual. Maklum, dulu beliau menggeluti mistik kejawen sebelum akhirnya hidup dalam Kristus. Semenjak hidup baru, beliau selalu rindu untuk berbagi cerita tentang Kristus dan Roh Kudus. Tidak jarang, beliau mengajak atau diajak diskusi (bahkan sampai debat yang selalu dimenangkan oleh dr. Tedjo) oleh rekan-rekan dokter yang berlainan iman kepercayaan.                 Di ...

Pak Ias, Rekan Penyemangat

Suasana ruangan di mana aku duduk bekerja sungguh menyenangkan. Ada canda tawa, ada guyon-guyon, ada ledek-meledek. Pendeknya, penuh sukacita! Tidak ada rasa bosan dalam kamus kami yang ada di sini. Setiap pekerjaan dilakukan dengan hati riang gembira. Aku yakin, TUHAN pun ikut bergembira pula bersama kami setiap hari. Di sudut ruangan, duduklah seorang pekerja yang dengan rajin terpekur menekuni data-data analisis di hadapannya. Angka-angka mati berubah menjadi data-data dan informasi yang hidup dalam pikirannya. Sesekali terdengar celoteh riang menghidupkan suasana. Itulah Pak Ias, begitu kami memanggilnya. Setiap hari aku selalu mendapati beliau bekerja dengan semangat dan menyemangati orang lain. Menyenangkan sekali!                 Pak Ias adalah orang yang ramah, terbuka, dan humoris. Setiap hal selalu diperhatikannya dengan seksama, sekecil apa pun itu kelihatannya. Terlihat dari setiap omonganku mulai ...