Postingan

Wajah Bangsa: "Syukur dan Terima Kasih"

Siang tadi, Pak Ias melontarkan bahan perbincangan menarik. Berdasarkan apa yang disampaikan pengkotbah dari Korea yang mengisi firman di gereja tempat Pak Ias berjemaat, ada fakta menarik yang membedakan bangsa Korea dengan bangsa Indonesia. Dikatakan bahwa bangsa Korea adalah bangsa yang sangat berterima kasih atas pengaruh misionari Injil yang masuk selama seratusan tahun di Korea. Hal ini tampak dari begitu banyaknya misi penginjilan modern Korea dari berbagai profesi ke seluruh dunia. Bandingkan dengan Indonesia. Indonesia dapat dikatakan lebih lama 'dipengaruhi' oleh misionari Injil, namun apa yang dihasilkan? Adakah Indonesia pun mempunyai wujud 'rasa terima kasih' atau syukur yang nyata atas pengaruh Injil tersebut? Jika ada, apakah itu? Jika tidak, mengapa bisa demikian? Dari sekilas obrolan yang tiba-tiba kuingat itu, aku jadi mikir. Apakah bangsaku ini sedemikian parah mentalnya sehingga tidak punya rasa terima kasih? Apakah sedemikian sukarnya bangsa Indon...

Komodo Hijau Tosca

Komodo adalah julukan yang kuberikan bagi mobil Escudo dengan cat hijau tosca metalic atas nama ibuku yang diwariskannya kepadaku. Saat ini si Komodo ini menjadi pusaka keluarga di Rumah Cahaya, alias tidak pernah dioperasikan sebagaimana tugas panggilannya, sebagai kendaraan keluarga. Dulu, ketika masih jaya-jayanya, si Komodo pernah dikendarai kami sekeluarga sampai ke Bali, bahkan sampai mendaki ke Bromo. Bannya yang kuat dan kokoh mampu memanjat trotoar, meskipun itu bukanlah bagian dari tugas wajibnya. Bodinya yang imut dan lucu itu sering terbentur-bentur entah itu pagar, tembok, maupun kendaraan lain. Dengan Komodo inilah aku pertama kali belajar mengendarai mobil. Komodo ini pulalah yang setia kuajak ke sekolah dan kuliah. Hiasannya yang awet dan paling khas adalah gantungan berbentuk tulang paha mini di spion tengah depan. Di kaca belakang, tertempel stiker-stiker lucu dengan satu yang paling keren yaitu tulisan “Holy Spirit Team”. Yang paling penting dari si Komodo ini adala...

Petualangan Naik Bus

Naik bus keliling kota. Siapa yang pernah melakukannya? Saya pernah, entah sendiri entah bersama-sama. Pengalaman naik bus kota satu putaran sendirian pernah saya lakoni sekali dua kali dulu ketika masih bujangan. Motivasinya hanya sekedar melepas kejenuhan dan melihat-lihat suasana kota sepintas lalu. Sedangkan naik bus bersama Mas Cah pernah saya lakukan satu dua tahun yang lalu. Waktu itu kami naik bus Trans Jogja jurusan RS Bethesda-Prambanan-RS Bethesda. Waktu itu bus Trans Jogja masih adem dan nyaman sekali. Waktu itu pula saya pertama kali naik bus Trans Jogja. Beberapa menit perjalanan saya sempat jatuh tertidur karena begitu nyamannya. Mas Cah berhasil mengambil gambar saya sewaktu tertidur dengan kamera ponselnya. Sungguh bukan hasil yang fotogenik tentunya. Pengalaman kedua kali naik bus Trans Jogja jurusan yang sama, RS Bethesda-Prambanan-RS Bethesda, mempunyai kenangan tersendiri. Kenyamanan sudah agak berkurang, penumpang pun banyak yang tidak kebagian tempat duduk. Sela...

Ritual Jalan-Jalan

Sebelum membangun keluarga sendiri, aku dan keluarga intiku (bapak, ibu, dan kakak) punya ritual untuk melepas penat dan sekaligus mempererat hubungan antaranggota keluarga. Ritual itu adalah ‘berjalan-jalan’ naik mobil. Biasanya kami melakukan ritual itu setelah menghadiri kebaktian hari Minggu, entah siang atau sore. Rute yang ditempuh bervariasi, tergantung selera sang pengemudi, yaitu bapak. Jarak yang ditempuh bisa mencapai berpuluh-puluh kilo meter. Perjalanan pergi pulang dari Jogja dapat memakan waktu sampai larut malam. Capek atau lelah tidak terasa karena tertutup oleh kepuasan batin yang diperoleh. Masing-masing kami mempunyai kesenangan sendiri-sendiri. Bapak senang mengemudi dengan penuh konsentrasi, tanpa banyak omong, mungkin sambil mendengarkan obrolan atau celetukan para penumpang dengan latar belakang musik dari audio mobil. Ibu lebih senang tertidur menjelang pertengahan perjalanan sampai ke tujuan perjalanan. Aku dan kakakku cenderung suka mengamati sekeliling, men...

Menjadi Juru Semangat

Kegiatanku sehari-hari diwarnai dengan banyak mendengarkan celotehan menarik dari sesamaku manusia. Baik itu di lingkungan keluarga, tempat kerja, dan persekutuan, aku sering mendengarkan mereka bercerita tentang kehidupannya masing-masing. Ada yang menceritakan tentang kegelisahan, kegaduhan, kegalauan, kesedihan, dan penderitaan yang dialaminya. Ada pula yang menceritakan tentang pergumulan iman dan bagaimana solusi atau jawaban Tuhan yang diperolehnya. Begitu penuh variasi isi pembicaraan yang berseliweran di sekitarku membentuk mozaik kehidupan yang penuh dinamika.                 Kecenderungan alami manusia adalah membicarakan keburukan situasi atau sesamanya dalam percakapan ringan di mana pun mereka berada. Tidak terasa sudah sedemikian banyak energi negatif yang dihasilkan akibat pembicaraan yang juga bernada negatif itu. Tanpa terasa pula, semangat hidup yang ada menjadi negatif dipenuhi kemarahan, pe...

Mengiringi dan Ngesound

Dalam ibadah atau kebaktian di gereja, selain kotbah dan doa, pelayanan musik memegang peranan yang tidak kalah penting. Rasanya ada yang kurang jika ibadah tanpa ada nyanyian atau musiknya. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa gereja itu adalah jemaat yang bernyanyi. Kualitas musik dan nyanyian jemaat sangat menentukan kualitas ibadah atau kebaktian yang diselenggarakan. Jika jemaat menyanyikan dengan baik dan sesuai dengan tujuan, maka sebenarnya kotbah dan doa sudah termasuk di dalamnya. Unsur yang membuat kualitas musik dan nyanyian jemaat menjadi baik adalah pelayanan musik yang ditunjang oleh pelayanan sound system. Kedua hal ini saling menopang dan melengkapi. Tanpa musik, jemaat kadang kurang semangat untuk menyanyikan lagu-lagu pujian. Tempo kadang melambat, jemaat pun takut salah. Tanpa sound system, musik yang dimainkan pun tidak maksimal karena jemaat kadang terganggu oleh volume suara yang mungkin terlalu keras atau lemah. Di sinilah diperlukan kerja sama antara pemain musik...

Mbak Ami Sang Pekerja

PRT atau pekerja rumah tangga menjadi fenomena tersendiri bagi masyarakat Indonesia khususnya dalam lingkup keluarga. Karena pada zaman sekarang, di Indonesia, sudah umum jika laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja di luar rumah, kebutuhan akan PRT menjadi tak terelakkan. Memang ada juga keluarga yang mandiri dan modern yang tidak mempekerjakan PRT dalam rumah tangga mereka. Tapi, bagi sebagian besar keluarga yang mampu secara ekonomi, sepertinya sudah menjadi hal wajib untuk mempekerjakan PRT. Bermula atas dasar kebutuhan itulah, maka beberapa waktu yang lalu, kami mepekerjakan seorang PRT yang tugas utamanya adalah membantu menjaga Asa yang masih bayi sementara aku dan Mas Cah bekerja di luar rumah.                 Namanya Aminah. Aku memanggilnya Mbak Ami. Mbak Ami adalah PRT yang direkrut bekerja di rumah tangga kami di Rumah Cahaya selama beberapa waktu yang lalu. Pekerjaan utamanya adalah membantuku m...