Postingan

Kliping

Mozaik kehidupan satu dua dekade yang lalu sedang kupandangi... Kupelajari dan kuresapi perlahan-lahan... Kuperoleh gambaran sekilas tentang negeti ini, tentang bangsa ini, dari penuturan para jurnalis... Menoleh ke belakang dan bercermin diri, itulah yang kulakukan... Dengan bahasa budi dan rasa aku mencoba menyelami setiap cerita, setiap makna... Dalam ketenangan dan kedamaian yang kudus, aku menikmati jalannya cerita negeriku... Dulu... Kini... Dan esok... Turut merasakan dan memahami setiap kata, kalimat, paragraf, karangan... Dan kudapati diriku makin peka, makin mudah tersentuh oleh gerak batin sesamaku... Makin terbukalah jiwaku, TUHAN...

Ahok

Pengharapan kembali menyala, diembusi oleh iman... Kasih pun mulai dihargai... Orang-orang benar, jujur, dan hebat mulai dipromosikan oleh Tangan Tak Terlihat... Keyakinan akan Sang Pribadi yang "datan sare" bertumbuh bersemi... Dengan senandung doa kami mengiringi angin perubahan ini... Terima kasih, TUHAN...

TUHAN...

Mata hati membuka diri Memahami mencoba menghayati Mendengarkan rahasia kelam Pertumpahan darah tiada habisnya Memenuhi bumi langit negeri Kekejaman yang curang Kebengisan yang kelam Senyum tak lagi tersungging Menyisakan garis datar sudut bibir Memendam geram duka nestapa "Sampai kapan, Tuhan?" TUHAN... pertumpahan darah, Ketidakadilan, Kesewenang-wenangan, Intrik licik politik, Telah, sedang, dan masih terus terjadi Di sini di bumi ini... TUHAN... tolong suarakan kebenaran Tolong tegakkan keadilan Paparkan semuanya apa adanya... Kami rindu... Kami muak... Kami siap... TUHAN... bukan demi negeri ini... Bukan demi diri kami... Tapi demi nama-Mu yang kudus... Karena Engkau benar dan adil... Hosana Anak Daud... Hosana Gusti Yesus... Hosana Jehova Shalom... TUHAN... kami merindukan-Mu Sang Alfa Sang Omega TUHAN... aku tahu Engkau lebih tahu Aku tahu Engkau berkuasa Aku tahu Engkau adil dan benar Engkau telah mendengar seru doa Engkau tel...

Optimis dan Ingin Tahu

Pada hari Kamis malam tanggal 4 Februari 2016, aku menyapa TUHAN-ku. Malam itu, aku diingatkan untuk selalu: * bersikap optimis karena iman sejati yang tumbuh dari pendengaran akan firman-Nya; iman yang melihat seperti Dia melihat, berpikir seperti Dia berpikir; iman yang tumbuh karena aku hidup melekat pada-Nya, * menumbuhkan rasa ingin tahu; aku selalu ingin tahu akan kehendak-Nya, cara kerja-Nya, jalan-jalan-Nya; aku ingin melihat dan memahami gambaran besar fenomena-fenomena yang ada di sekitarku; aku ingin mempelajari hal-hal yang berguna bagiku, orang lain, dan kemuliaan-Nya. Itu! Inilah aku. Aku berterima kasih kepada TUHAN. Haleluya.

Awal Baru 2016

Selamat malam! Selamat tahun baru 2016 meskipun agak terlambat. Tahun yang baru ini kumulai dengan sikap tenang. Aku sedang menenangkan hati dan pikiranku untuk bisa mendengar dengan lebih baik. Aku berketetapan hati untuk mendengarkan suara TUHAN melalui apa pun yang ada. Aku sedang mengumpulkan data dan petunjuk mengenai arah yang hendak kutuju. Aku sedang menjajagi berbagai kemungkinan yang bisa kuambil berkenaan dengan jalan hidupku. Setelah pengumuman hasil seleksi PPDS kemarin--aku tidak lolos, terima kasih TUHAN--aku saat ini sedang mempersiapkan diri untuk berbagai kemungkinan. Supaya aku siap saat kesempatan atau kairos TUHAN itu datang, aku lagi-lagi membekali diri dengan banyak membaca, mendengar, berdiskusi, bermeditasi, dan bergaul dengan TUHAN dan sesama seintens mungkin. Kiranya kehendak TUHAN yang sempurna itu terjadi dalam hidupku, di bumi seperti di surga. Amin.

Bersyukur untuk Vertigo Bapak, Refleksi Tujuh Tahun

Bapak opname lagi karena vertigo. Sejak Jumat sore, bapak resmi menjadi pasien rawat inap di bangsal saraf. Syukurlah vertigonya terjadi saat bapak tidak sedang menyetir mobil atau sendirian. Bapak waktu itu sedang bekerja di kamar operasi sehingga segera tertolong. Singkat cerita, bapak dipondokkan lagi setelah tujuh tahun berlalu sejak serangan vertigo hebat itu. Terhitung sudah tiga kali bapak terserang vertigo hebat. Yang pertama saat aku sedang dalam fase depresi yang kelam. Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi. Bapak yang vertigo berat dan harus dibawa ke rumah sakit tidak membuat hatiku tergerak untuk melakukan hal baik. Depresi yang jahat telah melumpuhkan kebaikan hati yang TUHAN tanamkan di dalamku. Bersyukur, ada anggota keluarga besar yang mau menolong dan memperhatikan bapak. Serangan kedua adalah saat aku menjelang masuk masa koasistensi. Waktu itu aku sudah bebas dari cengkeraman depresi, namun masih sedikit apatis dan kurang semanak. Lihat saja posting...

Pemahaman Baru tentang Bipolar: Desain Ulang Pola Pikir

Syukur kepada TUHAN untuk pemahaman baru yang kuperoleh mengenai diagnosis bipolar yang kusandang. Selama ini aku berpikir bahwa diagnosis bipolar ini adalah sebuah stigma yang membedakanku dari orang-orang pada umumnya. Dengan stigma tersebut, aku seperti sudah ditandai untuk menjadi objek tontonan dan pertaruhan antara TUHAN dengan yang bukan TUHAN. Dan aku pun menjalani kehidupanku setiap waktu dengan rasa waspada ekstra, berjaga-jaga penuh supaya tidak kalah dengan pihak yang bukan TUHAN. Pendek kata, bipolar bagiku adalah suatu beban yang harus kupikul sepanjang hayat. Kini, pandangan tersebut diperingan dengan satu pemahaman baru. Bipolar tidak lagi semata-mata menjadi beban bagiku. Bipolar menjadi semacam rahmat dalam penyamaran. Entah bagaimana, pikiranku terbuka untuk menyadari bahwa sebenarnya TUHAN sedang mendesain ulang pola pikirku dengan adanya bipolar itu. Kesadaran ini berawal dari menyimak baik-baik obrolan para ibu Kalyca melalui fasilitas grup WA. Waktu itu, ibu-...