Postingan

Pujian Kemenangan

Saat aku di kamar mandi sore ini, aku nyaris jatuh dalam pikiran-pikiran negative nan suram. Begini ceritanya. Kilasan-kilasan bayangan tentang ketidakmampuan dan ketidakberdayaanku jika tanpa Mas Cah menyerangku dengan diam-diam, terslamur di antara ‘suara’ pikiranku. Maka, kuambil cara seorang konvergen untuk menangkalnya. Aku ucapkan kebenaran firman-Mu dengan bersuara sampai telingaku mendengar. Aku ucapkan firman-firman-Mu yang menyatakan bahwa Engkau selalu besertaku, bahwa dalam-Mu aku cakap menanggung segala perkara, bahwa Engkaulah gembalaku. Kemudian pujian iman dan pengagungan kunaikan dengan teguh dan mantap sehingga bayangan-bayangan negative itu tidak merasuki pikiranku. Sambil mandi keramas, sambil memuji dan menyembah-Mu dengan bahasa manusia. Aku merasa sedang memenangkan pertempuranku karena kukenakan selengkap senjata-Mu berjubahkan pujian. Dahsyat! Terima kasih, Bapa. Haleluya!!!             Kesimpulanku har...

Konvergen dan Divergen

Selamat petang, Bapa—Yesus—Roh Kudus! Wow, dahsyat hari ini! Sore ini aku WA-nan sama Pak Ias, masih membahas tentang cara berpikir convergen dan divergen. Aku tertarik untuk meneliti (iseng) tentang cara berpikir konvergen dan divergen dalam masyarakat pada umumnya. Apa pula itu konvergen dan divergen? Ini penjelasan singkatnya, terinspirasi dari film Divergent banget ceritanya: 1.       Cara berpikir konvergen adalah cara berpikir dengan berbicara kepada diri sendiri sehingga lebih focus dan terarah. Orang itu sendirilah yang mengarahkan pikirannya hendak ke mana. 2.       Cara berpikir divergen adalah cara berpikir dengan mendengar diri sendiri sehingga lebih acak dan sporadic. Arah pikirannya sukar ditebak dan sering dianggap sebagai ide yang melompat-lompat (padahal sebenarnya tidak). Mengapa aku tertarik? Karena, aku mendapati diriku cenderung berpikir secara divergen, alias lebih banyak ‘mendengar’ suara hati (dan suara...

Berpikir secara Divergen

Kupikir-pikir dan kurasa-rasakan, cara berpikir demikian (aktif berbicara kepada diri sendiri) itu seperti memfokuskan diri pada satu hal atau konvergen. Itu baik untuk forum diskusi yang sedang berusaha mencari solusi. Tapi untuk keseharian, sepertinya kurang pas bagiku. Selama ini aku terbiasa berpikir secara divergen, ala cewek yang seperti bakmi, dan aku tidak mengalami masalah yang berarti dengan itu. Aku bukannya ‘pasif’ dalam arti negative, melainkan ‘aktif’ menyeleksi apa pun yang ‘kudengar’ dalam pikiran. Mungkin ini cara berpikir yang kurang dipahami oleh para ahli intelektual ya. Tapi, bukankah Einstein pun juga demikian? Bukankah para pemikir ‘out of the box’ itu juga berpikir secara divergen? Dan, menurutku, sepanjang tidak merusak diri sendiri maupun orang lain, bukankah cara berpikir divergen itu adalah cara jitu untuk menemukan solusi? Ah, jadi ingat film Divergent, hehe.

Eksperimen Pikiran

Selamat pagi menjelang siang. TUHAN, kali ini aku sedang bereskperimen dengan pikiranku. Aku mencoba untuk lebih aktif dalam berpikir dengan cara berbicara kepada diri sendiri alih-alih mendengarkan diri sendiri. Ini aku praktekkan sesuai dengan apa kata buku ‘Out of The Blues’ karya Dr. Wayne Mack yang sedang kubaca kembali. Aku membaca kembali buku ini karena aku merasa depresi sedang berusaha menaklukkanku hari-hari ini. Dr. Mack menulis di bukunya ini supaya kita jangan pasif tetapi aktif dalam pikiran. Aku sedang mencobanya. Rasanya sedikit menakutkan, Bapa, karena aku seperti rawan terserang kebingungan. Waktu kucoba untuk membaca artikel di kopibrik, agak susah untuk konsentrasi karena aku terlalu sibuk dengan pikiranku yang aktif. Jika ini tidak berhasil, aku tetap bersyukur karena setidaknya aku sudah mencoba. Tidak ada sesuatu yang sia-sia. Amen.

Jogja Istimewa

Selamat pagi! TUHAN… Jogja asat, Jogja ora didol. Apa kabar kota Jogja? Meskipun terlambat, aku mau menyumbangkan sesuatu untuk kota ini. Aku mau berdoa kembali lebih sungguh. Kali ini aku memohon hikmat-Mu supaya aku diberi ide atau sesuatu yang bisa kulakukan untuk kesejahteraan kota ini, itu. Aku rindu Jogja tetap nyaman dan makin nyaman. Aku rindu para pemimpin kota dan provinsinya benar-benar mengayomi dan merakyat. Aku rindu melihat rakyat berdaya yang manunggal dengan para abdinya. Aku rindu melihar dan mendengar kabar baik dari kota Jogja. Bukan hanya kabar tentang hotel dan mal yang berdiri menggusur semesta Jogja. Bukan hanya terpisahnya para abdi dari rakyatnya. Bukan hanya tercerabutnya spirit kota Jogja yang ramah dan hangat. Tolong, TUHAN, berikanku wawasan dan hikmat yang kuperlukan untuk kota Jogja ini. Karena Jogja begitu istimewa di hati-Mu.

Hikmat dari Nonton RED

Sugeng dalu, Gusti Rama Prabu. Aku tadi sore lihat film RED bersama Mas Cah di Rumah Cahaya. Film yang dibintangi Bruce Willis ini bercerita tentang seorang pensiunan CIA yang masih sangat handal. Ia berjuang mempertahankan hidupnya, cintanya, dan menegakkan kebenaran serta keadilan dengan caranya. Ada banyak hal menarik yang menjadi bahan refleksiku secara pribadi. Beberapa di antaranya adalah ini: 1.        Tokoh utama film RED ini sedang jatuh cinta dengan seorang perempuan muda yang tidak tahu apa-apa. Karena diincar oleh pihak yang berkepentingan, maka si perempuan pun ikut-ikut menjadi target untuk dihabisi. Hal ini mirip dengan TUHAN yang jatuh cinta pada mempelai-Nya yang sering tidak tahu apa-apa. Tahu-tahu si mempelai berada dalam kondisi di tengah-tengah pertempuran dahsyat sehingga mau tidak mau ia pun harus ekstra waspada jika ingin selamat. Satu-satunya cara untuk tetap aman adalah selalu berada di dekat si RED. Demikian juga dengan k...

Elang Mati

Ini adalah cerita tentang seekor elang yang menyia-nyiakan hidupnya. Alkisah, ada seorang pemburu yang menaruh beberapa ekor telur elang di antara kawanan ayam hutan. Telur-telur tersebut menetas, menghasilkan elang-elang aneka rupa. Mereka hidup bersama-sama dengan ayam-ayam hutan, mengais-ngais tanah, berburu cacing, berkotek-kotek, dan terbang rendah ke sana ke mari. Tidak ada yang merisaukan hati para elang itu meskipun tubuh besar mereka merupakan keganjilan yang nyata bagi siapa pun yang melihat.                 Hingga suatu saat, elang-elang muda itu melihat seekor elang besar terbang tinggi jauh di langit biru yang cerah. Sayap lebarnya mengembang dengan gagahnya. Salah seorang elang muda itu bertanya, “Wah, kerennya, siapakah gerangan dia?”                 “Dia adalah burung elang, sang raja para burung,” sahut salah seekor a...