Postingan

Jogja Istimewa

Selamat pagi! TUHAN… Jogja asat, Jogja ora didol. Apa kabar kota Jogja? Meskipun terlambat, aku mau menyumbangkan sesuatu untuk kota ini. Aku mau berdoa kembali lebih sungguh. Kali ini aku memohon hikmat-Mu supaya aku diberi ide atau sesuatu yang bisa kulakukan untuk kesejahteraan kota ini, itu. Aku rindu Jogja tetap nyaman dan makin nyaman. Aku rindu para pemimpin kota dan provinsinya benar-benar mengayomi dan merakyat. Aku rindu melihat rakyat berdaya yang manunggal dengan para abdinya. Aku rindu melihar dan mendengar kabar baik dari kota Jogja. Bukan hanya kabar tentang hotel dan mal yang berdiri menggusur semesta Jogja. Bukan hanya terpisahnya para abdi dari rakyatnya. Bukan hanya tercerabutnya spirit kota Jogja yang ramah dan hangat. Tolong, TUHAN, berikanku wawasan dan hikmat yang kuperlukan untuk kota Jogja ini. Karena Jogja begitu istimewa di hati-Mu.

Hikmat dari Nonton RED

Sugeng dalu, Gusti Rama Prabu. Aku tadi sore lihat film RED bersama Mas Cah di Rumah Cahaya. Film yang dibintangi Bruce Willis ini bercerita tentang seorang pensiunan CIA yang masih sangat handal. Ia berjuang mempertahankan hidupnya, cintanya, dan menegakkan kebenaran serta keadilan dengan caranya. Ada banyak hal menarik yang menjadi bahan refleksiku secara pribadi. Beberapa di antaranya adalah ini: 1.        Tokoh utama film RED ini sedang jatuh cinta dengan seorang perempuan muda yang tidak tahu apa-apa. Karena diincar oleh pihak yang berkepentingan, maka si perempuan pun ikut-ikut menjadi target untuk dihabisi. Hal ini mirip dengan TUHAN yang jatuh cinta pada mempelai-Nya yang sering tidak tahu apa-apa. Tahu-tahu si mempelai berada dalam kondisi di tengah-tengah pertempuran dahsyat sehingga mau tidak mau ia pun harus ekstra waspada jika ingin selamat. Satu-satunya cara untuk tetap aman adalah selalu berada di dekat si RED. Demikian juga dengan k...

Elang Mati

Ini adalah cerita tentang seekor elang yang menyia-nyiakan hidupnya. Alkisah, ada seorang pemburu yang menaruh beberapa ekor telur elang di antara kawanan ayam hutan. Telur-telur tersebut menetas, menghasilkan elang-elang aneka rupa. Mereka hidup bersama-sama dengan ayam-ayam hutan, mengais-ngais tanah, berburu cacing, berkotek-kotek, dan terbang rendah ke sana ke mari. Tidak ada yang merisaukan hati para elang itu meskipun tubuh besar mereka merupakan keganjilan yang nyata bagi siapa pun yang melihat.                 Hingga suatu saat, elang-elang muda itu melihat seekor elang besar terbang tinggi jauh di langit biru yang cerah. Sayap lebarnya mengembang dengan gagahnya. Salah seorang elang muda itu bertanya, “Wah, kerennya, siapakah gerangan dia?”                 “Dia adalah burung elang, sang raja para burung,” sahut salah seekor a...

Senyum Intan

“Bu Sum, jika ada waktu, bisakah saya bertemu siang nanti sehabis pelajaran agama? Saya sudah tidak kuat lagi. Hidup saya sepertinya sudah tidak berharga lagi –Intan L. Kencana”                 Itulah sepenggal surat yang kubaca suatu pagi. Intan adalah seorang muridku dalam mata pelajaran agama Kristen di SMP tempatku mengajar. Aku sangat suka memperhatikannya saat aku mengajar di depan kelas. Kulihat Intan selalu tersenyum memperhatikan pelajaran yang kusampaikan. Senyumnya manis dan membuatku tambah bersemangat. Tapi senyum itu menghilang beberapa waktu entah mengapa.                 Suatu ketika aku menyapa Intan seusai pelajaran, “Halo, Intan! Apa kabar? Kok tidak tersenyum seperti biasanya?” Intan hanya membalasku dengan senyuman hampa. Tatapannya seperti menyimpan kesedihan yang mendalam.       ...

Cuci Piring Pagi Hari

Aku bangun jam setengah enam pagi lalu segera ke dapur. Kubuka kran, air sejuk mengalir membasahi kedua tanganku. Suara gemericiknya membuatku terjaga, demikian juga kesegarannya menghilangkan kantukku. Kulihat di bak cuci sudah banyak gelas, piring, mangkuk, sendok, dan garpu yang kotor bekas makan semalam. Rasa malas membayangi benakku. Kesal aku, mengapa harus aku yang membersihkan semua ini? Mengapa tidak dilakukannya sendiri? Mencuci piring adalah pekerjaan yang menyebalkan. Selalu!                 Setahun sudah aku hidup bersama suami yang kupilih dan disetujui oleh ayah ibuku. Setahun sudah aku menjalani rutinitas mencuci piring setiap pagi. Tidak pernah aku mendapati suamiku mencuci piring atau gelasnya sendiri. Padahal, dulu ketika pacaran, ia selalu menggembar-gemborkan untuk bisa bekerja sama dalam berumah tangga. Tapi mana buktinya? Ia membiarkanku melakukan pekerjaan yang tidak kreatif ini sendiri...

Penyembahan Puja

Kacau! Kacau sekali jalannya ibadah di tempat pemujaan pagi itu. Penyanyi dan pemusik kejar-kejaran nada. Jemaat pun sangat tidak antusias dalam melantunkan puji-pujian. Tidak ada suasana penyembahan yang syahdu menghanyutkan kalbu. Yang ada hanyalah gerutuan dalam hati yang memuncak menjadi nyanyian sumbang. Mana mungkin ada damai sejahtera yang melegakan kalau begini caranya! Duh, Tuhan, ampunilah kami.                 Persiapanku menjadi sia-sia, acara ibadah menjadi berantakan. Padahal aku dan rekan-rekan sudah latihan dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Alat-alat musik dan sound sistem sudah dicek semua. Demikian juga perlengkapan multi media, semua sudah siap, rapi jali. Kurang apa lagi? Apakah memang jemaat di tempat kami ini ditakdirkan untuk tidak bisa mengekspresikan pujian dan penyembahan dengan segenap keberadaan? Bukankah Tuhan merindukan umat-Nya untuk menyembah-Nya dengan segenap kekuatan, akal b...

Naik Bus Kota

“Asa, bangun! Ayo, bangun. Waktunya mandi pagi!” seru mama, membuatku terbangun dari tidur bertaburan mimpi indah. Aku pun bangun sambil masih terkantuk-kantuk. Rasa haus mendorongku berteriak minta sebotol susu, “Mimiiiiik!” Dengan sigap, mama membuatkanku susu dan kuhisap dengan lahap. Sensasi mengenyot dot karet dengan menggigitinya merupakan hal ternikmat bagiku yang masih batita ini. Kata seseorang bernama Freud, entah siapa itu, aku sedang fase oral yaitu merasakan kenikmatan terbesar melalui mulut.                 Selesai berfase oral ria, aku pun mandi pagi dibantu mama dan papa. Byur, byur! Hangatnya air di ember membuatku ingin berlama-lama bermain air. Tapi seperti biasa, pasti aku disuruh cepat-cepat gosok gigi dan menyudahi acara mandi pagi yang menyenangkan. Rasa kantuk berangsur-angsur menghilang, digantikan rasa antusias. Aku merasakan gejolak euforia pagi. Endorfin dan serotonin sedang berlomb...