Postingan

Biografi dr. Kasmolo Paulus

  Wajah Sederhana Seorang Tokoh Besar Dr. Kasmolo Paulus, seorang ahli bedah di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, dikenal bukan hanya karena keahliannya dalam dunia medis, tetapi terutama karena kehidupan dan keteladanan iman yang ia jalani. Dengan penampilan yang unik—berpakaian sederhana, berkacamata tebal, rambut pelontos, dan membawa payung hitam besar—ia sering kali mengingatkan orang pada sosok Mahatma Gandhi. Namun di balik penampilan luar yang sederhana, tersimpan jiwa yang kuat, penuh iman, dan teguh dalam prinsip. Sebutan "nabi-nya Bethesda" melekat padanya karena kehidupan spiritualnya yang mendalam. Ia hidup dalam kesederhanaan dan tidak mengejar kemewahan. Salah satu contohnya adalah usulan beliau agar Tunjangan Hari Raya (THR) Natal bagi seluruh staf rumah sakit—baik dokter maupun pegawai kecil—diberikan dalam jumlah yang sama, sebagai bentuk penghormatan terhadap makna Natal dan solidaritas bagi mereka yang kecil dan kurang mampu. Dedikasinya pada pelayanan r...

Kebangkitan yang Terlupakan: Saat Gereja Tidak Lagi Mengabarkan Injil yang Sejati

Selamat Paskah! Tapi mari kita bertanya dengan jujur: apa sebenarnya yang sedang kita rayakan? Di banyak gereja, Paskah dirayakan dengan meriah: ada drama, lagu pujian, perjamuan kudus, dan kotbah-kotbah yang menyentuh hati. Namun sering kali, inti dari berita Paskah justru tertinggal di belakang panggung: bahwa Kristus mati karena dosa-dosa kita , dikuburkan , dan dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci (1 Korintus 15:3–4). Ini adalah Injil sejati—satu-satunya kabar baik yang menyelamatkan. Apa yang Salah Jika Injil Tidak Diberitakan? "The Church is the pillar of truth when it faithfully upholds the gospel; but when it perverts it, it becomes the seat of Satan." – John Calvin ( Institutes IV.2.1 ) Saat Injil dikaburkan, gereja kehilangan identitasnya. Kotbah berubah menjadi motivasi kosong. Jemaat menjadi pasif dan tidak bertumbuh dalam iman. Tanpa dasar yang kuat, iman menjadi lemah, dan kehidupan Kristen kehilangan arah. Ketidaktegasan Ajar...

Kesetaraan yang Membebaskan: Iman, Budaya, dan Harmoni dalam Terang Injil

Pendahuluan: Harmoni sebagai Mitos atau Realitas? Dalam banyak masyarakat, termasuk budaya Jawa, harmoni dipandang sebagai nilai tertinggi. Namun, harmoni versi budaya ini sering berarti keheningan — menyingkirkan konflik bukan dengan penyelesaian adil, tapi dengan tunduk pada hirarki yang dianggap “alamiah.” Struktur sosial dan gender yang menempatkan laki-laki di atas perempuan, tua di atas muda, dan bangsawan di atas rakyat, dianggap bagian dari tatanan dunia yang harus dijaga demi persatuan. Seperti dikemukakan oleh Sciortino dan Smith (1996), dalam budaya Jawa: “Keharmonisan yang ideal dalam masyarakat tidak dapat dicapai dalam hubungan yang setara, tetapi lebih melalui penghormatan pada otoritas hirarkis yang terbentuk dari ideologi gender patriarkal.” Pertanyaannya: benarkah struktur semacam ini sesuai dengan nilai Injil? Di sinilah iman Reformasi — khususnya dalam tradisi Calvinis — memberikan terang kritis dan pembebasan. Budaya yang Menindas atas Nama Harmoni Studi “...

Fatherless Generation dan Gaya Kepemimpinan

Hari-hari menjelang akhir tahun 2024 ini, saya cukup banyak mengobrol dengan Bu Martini, staf administrasi kantor Instalasi Rawat Inap (IRNA) RS Bethesda Yogyakarta tempat saya bekerja. Obrolan yang cukup menguras emosi dan air mata karena menjelang berakhirnya SK kami para pejabat struktural di tahun 2024 dan akan berganti dengan susunan pejabat struktural yang baru di tahun 2025. Berbagai pertanyaan menyeruak, terutama terkait kepemimpinan dan budaya organisasi yang menurut kami, kaum ibu-ibu ini, begitu kompleks dan nggegirisi . Kami mendapati bahwa di setiap masa, termasuk masa transisi ini, ada pemimpin yang tegas dan berani mengambil keputusan dengan berbagai risikonya, dan ada pula yang cenderung main aman serta menghindari konflik apa pun. Hal ini saya kaitkan dengan fenomena fatherless generation yang berdampak terhadap gaya kepemimpinan dan mempengaruhi budaya organisasi yang dipimpinnya. Fenomena fatherless generation yang berdampak terhadap gaya kepemimpinan itu nampak pad...

Laki-Laki dan Perempuan

 (Tulisan ini dibuat pada 9 Mei 2024) Hore, libur kenaikan Tuhan Yesus Kristus! Hari-hari ini penuh dengan kegembiraan karena berkat-berkat Tuhan yang tidak terduga. Terima kasih, Tuhan! Sinambi mempersiapkan agenda berikutnya yaitu penilaian lomba mutu Bethesda award dan ajang presentasi oral lima nominasi terbaiknya, juga menyongsong pelantikan direktur dan wakil direktur RS Bethesda, serta menjelang acara puncak ulang tahun ke-125 RS Bethesda, aku berusaha untuk stay alert dan aware dengan tetap eling dan waspada bahwa waktu-waktu yang ada ini cepat berlalu dan perlu kuisi dengan hal-hal bermakna bersama keluarga dan teman-teman yang kukasihi dan mengasihiku. Saat ini (jam 15.09), aku lagi di Solo, menemani Pak Cahyono yang lagi mengurus perkara tanah warisan di Gremet, Manahan. Senang dan bersyukur karena kulihat dan kudengar sendiri progres kesepakatan yang sepertinya akan berakhir dengan baik. Sambil menunggu, aku baca² buku Rahasia Nusantara karya Asisi Suharyanto, hadiah ...

Bukan Kebetulan IRNA: Sebuah Refleksi

Mengapa Ada di IRNA Bukan kebetulan kita ada dan ditempatkan di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Sejak tahun 2018 sampai 2024 ini, situasi dan kondisi rumah sakit telah mengantar kita sedemikian rupa. Kita mengalami silih berganti direksi, kalakhar, dan kepala ruang yang masing-masing punya ciri dan gayanya tersendiri. Kita percaya bahwa semua itu pasti ada maksud dan tujuan-Nya, sehingga tidak ada yang sia-sia. Pasti ada hal yang kita pelajari, yaitu belajar untuk hidup dan bertumbuh sehingga tidak stagnan. Kita selalu diingatkan, bahwa semua ini adalah dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dia saja segala kemuliaan. Dan, semua itu terwujud dalam sikap dan karya kita di IRNA. Kerja, Harapan, dan Tujuan Selama kita berada di IRNA, berbagai program kerja dari 2018-2024 telah, sedang, dan akan kita lakukan. Indikator mutu dan pencapaian targetnya menjadi tolok ukur kinerja kita sebagai satu kesatuan instalasi. Dan yang terus menjadi fokus saat ini adalah sistem manajemen bed....

Seruan Hati Nurani: Jangan Diam!

Hari-hari ini, kita disuguhi berita tentang manuver Jokowi dan keluarganya dalam hal kekuasaan. Lihatlah bagaimana keputusan Mahkamah Konstitusi dipakai untuk memuluskan jalan Gibran (putra sulung Jokowi) agar bisa lolos menjadi bakal calon wakil presiden. Lihat pula bagaimana Jokowi yang mengatakan netral di depan media, tetapi pada kenyataannya tidak demikian di aplikasinya. Dan lihatlah bagaimana semua hal memuakkan itu bisa terjadi tanpa ada rasa malu oleh pelakunya, bahkan dibungkus dengan sikap santun dan senyum ramah yang sering membutakan sebagian pendukung Jokowi, yang terus saja mengikuti tegak lurus apa katanya, sekalipun nyata-nyata menabrak etika dan membengkokkan konstitusi.  Kesalahan kita juga pada umumnya adalah menganggap satu orang pemimpin yang memenuhi harapan dan seolah sanggup menjadi tokoh ksatria pembebas (baca: mesias) yang selama ini kita idam-idamkan, adalah manusia yang tanpa cacat cela dan haram hukumnya untuk dikritik. Bagaimanapun juga, Jokowi itu ma...