Minggu, 17 Juni 2018

Berbagi Proses Kehidupan

Aku punya banyak kesempatan untuk berbagi kasih kepada mereka yang membutuhkan. Keterbatasanku adalah sikapku yang kaku.

Sering kulihat orang berpakaian kumal dengan rambut acak-acakan, kulitnya dekil seperti sudah lama tidak mandi. Pandangan matanya kadang kosong, kadang menerawang jauh. Mulutnya sibuk berkata-kata sendiri, entah apa yang diucapkannya. Bukan satu dua saja orang seperti itu. Mereka ada beberapa. Entah dari mana asalnya dan hendak ke mana. Sering aku heran, di mana keluarga mereka. Mengapa mereka terpisah dari keluarga? Apakah keberadaan mereka sudah tidak dianggap lagi oleh orang-orang terdekat? Ataukah keluarga mereka sudah tidak sanggup lagi hidup bersama orang yang terjebak dengan dunianya sendiri?

Namun di tengah hangatnya keluarga pun, sering pula kujumpai tatapan mata menerawang jauh dari mereka yang menyimpan duka. Duka akibat luka kehidupan yang belum kunjung sembuh. Sejarah luka-luka itu membuatku ngilu. Dalam diam kuperhatikan orang-orang terluka itu saling menyemangati. Meskipun tidak jarang mereka saling melukai juga. Aku tahu itu tidak mereka sengaja. Mereka hanya ingin melindungi satu sama lain.

Di tengah kepedihan itulah aku berada. Aku pun tidak luput dari sejarah yang penuh luka. Hampir saja, kalau bukan karena kemurahan Tuhan melalui keluarga, aku menjadi seperti orang-orang berpakaian kumal yang tercampakkan. Syukur pada Tuhan, Dia menjagaku dengan amat sangat dan memulihkanku seperti seorang penjunan yang telaten memperbaiki bejananya. Kepingan demi kepingan kehidupanku dirangkai-Nya sehingga menjadi suatu karya yang unik. Dan aku tahu Dia masih terus bekerja memulihkan kehidupan. Dimulai dari hatiku yang paling dalam, kemudian mengalir menjangkau sekelilingku, dari yang terdekat--yaitu keluargaku.

Sikap kaku yang membatasi gerakku pun dibuat-Nya melunak sedikit demi sedikit. Kecenderungan menghakimi dan merasa paling benar sendiri dirombak-Nya, dengan kerja sama dariku tentunya. Firman dan kuasa Roh-Nya membimbingku selangkah demi selangkah. Kasih-Nya yang kuat terus mendorongku untuk maju. Sungguh proses yang panjang dan keras untuk mengubah karakterku.

Dan proses itu pun masih terus dan akan terus berjalan. Sampai kapan? Sampai Dia memanggilku kembali atau sampai Dia datang untuk yang kedua kali. Bagianku adalah terus berproses bersama-Nya. Dan momen-momen berkesan dari proses itu pun kubagikan melalui tulisan seperti ini. Aku hanya bisa bersyukur dan berdoa supaya apa yang kubagikan ini dapat bermanfaat dan menjadi penyemangat bagi sesama bejana yang diproses Tuhan.

Mari kita sama-sama bersyukur atas proses hidup yang semakin mengutuhkan ini.

Syukur pada Tuhan.

Tidak ada komentar: