Postingan

MMR: Selamat Datang

Gambar
Ada rasa syukur dan bangga yang kurasakan saat aku diterima masuk kuliah pascasarjana. Sejujurnya ada sedikit rasa tidak layak karena aku merasa bukan siapa-siapa dan kurang mampu dalam banyak hal. Tapi aku diingatkan bahwa bukan aku yang memilih (jalan ini) melainkan akulah yang dipilih (oleh jalan ini), sesuai dengan sabda Tuhan. Dan jika Dia yang memilihku untuk menjalani pilihan ini, maka Dialah yang melayakkan dan memampukanku untuk menjalaninya. Maka, aku dapat berdiri dan berjalan dengan kepala tegak, tidak lagi tertunduk malu tersipu-sipu. Saat mulai terpapar materi pembelajaran yang menantang, aku kembali teringat akan kisah Yohanes pembaptis, sang suara yang berseru-seru di padang gurun. Materi yang bagiku seperti kabar buruk yang mencengangkan itu adalah ancaman global dari resistensi antimikroba. Dan seperti para pendengar seruan di padang gurun itu, dalam hati aku pun bertanya, "Lalu apa yang harus kami lakukan/perbuat?" Jika Yohanes pembaptis saat itu mampu me...

Efek Terapetik Cuci Piring

Gambar
Semakin terbukti bahwa kegiatan cuci piring itu punya efek terapetik. Hati dan pikiran yang penat atau kurang bergairah dapat terobati dengan cuci piring. Ada pengaruh nyata saat aku mulai membuka kran, bersentuhan dengan air, dan mulai mencuci peralatan makan minum. Kesan awal yang sering menipu adalah banyaknya tumpukan piring dan gelas kotor di bak cucian yang membuatku agak malas mulai mencuci. Namun dengan lompatan tekad sederhana, aku selalu berhasil memulai kegiatan cuci piring. Selanjutnya adalah aktivitas menyenangkan yang meningkatkan kualitas hidupku, yaitu membasahi tangan, melumuri dan menggosok barang-barang pecah belah dan stainless dengan sabun cuci, menumpuk peralatan makan yang sudah digosok secara rapi, membilas satu per satu sampai bersih, dan menaruh piring gelas sendok garpu ke rak masing-masing. Tidak terasa, selesai sudah. Yang paling mengasyikkan bagiku saat mencuci piring adalah aku bisa melakukannya sambil menyanyi memuji Tuhan. Dengan melantunkan syair-sya...

Oleh-oleh dari Bogor: Keluarga Besar yang Menginspirasiku

Gambar
Kronologi Hari Sabtu sampai Senin tanggal 21-23 Juli 2018, kami seisi rumah Cahaya pergi ke Bogor. Bersama keluarga besar Soegiyono, kami menghadiri acara pernikahan sepupu kami. Tiga hari dua malam kebersamaan yang sangat berkualitas bagiku. Aku menikmati jalanan kota besar yang macet sambil memdengarkan sekilas informasi seputar anggota keluarga besar saat ini. Ada yang dipenuhi semangat hidup yang berdampingan dengan keprihatinan yang cukup besar, ada yang sedang menapaki hari depan yang penuh harapan diiringi dengan sikap mawas diri yang terslamur dengan jiwa humoris ramai canda tawa, dan ada pula yang sekadar hadir turut meramaikan suasana. Apapun itu, aku menyaksikan betapa indahnya keakraban yang terjalin di dalam keluarga besar ini. Inspirasi kehidupan Hal yang sangat menarik dan amat berharga dalam keluarga besarku ini adalah beraneka ragamnya unsur suku, agama, dan pilihan politik yang ada di dalamnya. Ada yang beragama Kristen, Katholik, dan ada yang Islam. Ada suku Jawa, B...

Aku yang Mudah Lupa vs Tuhan yang Setia

Gambar
Orang kadang lupa akan berbagai hal yang sudah terjadi dalam hidupnya. Hal-hal yang menyenangkan dan penting untuk kesehatan jiwa seringkali terlupakan. Sebaliknya, hal-hal traumatis yang merongrong kalbu malah sukar dilupakan. Aku ternyata mudah lupa. Aku sering lupa akan janjiku kepada Tuhan, diri sendiri, dan orang lain. Aku sering lupa akan perananku yang baru. Jika tidak kudokumentasikan dengan baik, hal-hal penting dalam hidupku bisa benar-benar terhapus dari lembaran sejarah ingatanku. Ganti suasana hati mempengaruhi ingatan. Berkaitan dengan suasana hatiku yang rawan masuk dalam kondisi ekstrem (entah 'tinggi' atau 'rendah'), aku mendapati bahwa pergantian suasana hati itu berpengaruh juga terhadap ingatanku. Ingatan itu sangat mempengaruhi komitmenku, baik itu komitmenku dalam bekerja, melayani Tuhan, di rumah, tempat kerja, maupun di persekutuan gereja. Perubahan-perubahan yang drastis dan bertolak belakang itu membuatku menjadi tampak tidak konsisten....

PMS

Premenstrual Syndrome. Rupanya itulah yang kualami semingguan yang lalu. Perasaan melankolia dan seperti depresi itu berlalu seiring dengan berlalunya pula sindrom pramenstruasi. Cukup lega rasanya mengetahui hal ini. Bagaimana tidak? Saat sindrom tersebut menyerang, aku jadi lebih mudah marah terhadap Asa (kasihan dia). Aku nyaris kehilangan semangat, pengharapan, dan kepercayaan diri. Di rumah aku uring-uringan dan ingin tidur lebih banyak. Di kantor aku lebih banyak bengong dan tidak tahu harus berbuat apa.  Syukur pada Tuhan untuk pengetahuan ini. Ternyata mengetahui penyebab atau akar masalah dari suasana hati yang buruk itu sangatlah penting. Dengan menemukan sumber penyebab mood swing, aku jadi bisa merespon dengan tepat. Kalau pun toh belum menemukan cara yang jitu untuk mengenyahkan perasaan tidak enak akibat pengaruh hormon, minimal aku bisa 'nyicil ayem' karena tahu bahwa pengaruh hormon itu akan berlalu seiring periode menstruasi yang kualami.

Our Father by Andina: Sebuah Rencana Aransemen

Someday we'll find other great experiences but, will we remember our simple things together Tears, laughs, and dreams hurt, happiness, and hope there are too much process, so... how we can forget you 'coz you are our father you are our teacher and you are our friend in all of the time well, despite not forever we will be together but we will always love you and call you, our father Lord, thanks for fulfill his life with Your love and lead us to share Your kindness and grace... 'coz you are our father you are our teacher and you are our friend in all of the time well, despite not forever we will be together but we will always love you and call you, our father

Jangan Lupa untuk Bahagia

Itu pesan penting yang kupelajari hari ini. Setelah tiga hari libur lebaran yang diwarnai melankolia akut, dan dua hari masuk kerja yang dihiasi perasaan tidak berdaya, sore malam ini kudapatkan penawarnya. Apakah itu? Sederhana, itu adalah sukacita atau kegembiraan yang sejati. Bagaimana caranya? Ini beberapa hal yang kulakukan hari ini untuk mengembalikan suasana hatiku menjadi lebih ceria: Buka-buka laman daring dan baca-baca artikel di blog orang yang membuka wawasan, memberi ide segar untuk dipraktekkan. Menemukan satu tips mengatasi depresi yaitu melakukan hal-hal sederhana yang bisa dilakukan. Melalui hal-hal sederhana itulah Tuhan bekerja memulihkan semangat dan membangkitkan rasa keberhargaan diriku. Mencoba hal baru yaitu menyeterika sambil mendengarkan siaran radio yang muatannya lucu yaitu Geronimo FM.  Menemani dan mengikuti gerak lincah energi Asa yang ceria. Berbagi cerita dan canda tawa dengan teman-teman via grup WA (ARMY of God--Andin, Reza, Mimi, Yiska...