Senin, 13 Februari 2017

AADC2: Sekedar Renungan Ringan

Minggu malam, setelah menemani Asa tidur, saya berniat membaca-baca sebentar di ruang keluarga Rumah Cahaya. Tanpa sengaja, papa Asa memencet remote TV dan tertampillah film Ada Apa dengan Cinta 2 di sebuah stasiun TV nasional. Maka, saya pun menonton AADC2 untuk pertama kalinya. Sayang sekali tidak dari awal. Tapi masih lebih lumayanlah, karena rupanya film belum terlalu jauh diputarnya. Saya sangat bersyukur karena sepertinya melalui film ini ada sesuatu yang penting yang hendak disampaikan oleh Tuhan pada saya secara pribadi. Saya anggap ini sebagai hadiah kejutan dari berakhirnya perayaan hari ‘Sabat’ pribadi saya.

Saya menangkap tema besar yang hendak disampaikan melalui film AADC2 ini adalah ‘berdamai dengan masa lalu untuk menyambut hari esok’. Ada banyak pertanyaan menggelitik bagi saya mengenai film AADC2 yang saya tonton malam ini. Mengapa AADC2? Mengapa Jogja? Dan mengapa Rangga dan Cinta harus bertemu kembali? Itulah sebagian pertanyaan besar yang menggelitik hati sanubari saya sembari saya menonton film yang sangat rawan menimbulkan baper bagi para ‘mantan-move-on-er’. Oleh karena itu, saya merekomendasikan bagi para remaja yang sudah bertumbuh menjadi dewasa muda saat ini untuk tidak menonton film ini sendirian.

Bagi saya, judul AADC2 ini lebih tepat jika disebut sebagai AADR (Ada Apa dengan Rangga). Atau lebih pas lagi disebut sebagai AADR&C (Ada Apa dengan Rangga dan Cinta). Mengapa demikian? Karena jika di film AADC seolah kita diajak berkenalan dengan tokoh Cinta (yang kala itu masih remaja banget), maka di film AADC2 ini kita diajak untuk mengenali Rangga yang misterius (dan juga Cinta yang bertumbuh dewasa).

Saya selalu bertanya, mengapa nama tokoh utama film ini dipilih Rangga dan Cinta. Apakah suatu kebetulan jika ada seorang pujangga besar bernama Raden Ranggawarsita? Dan bukankah Rangga juga suka menulis puisi layaknya pujangga? Dan bukankah Rangga dan Cinta pertama kali bertemu (di film AADC) juga karena minat yang sama akan puisi/sastra? Apakah kaitannya antara puisi dengan cinta? Mengapa Rangga dan Cinta harus bertemu, kemudian berpisah sekian lama, berproses masing-masing, untuk kemudian bertemu kembali?

Pertanyaan-pertanyaan berikutnya berkaitan dengan lokasi film AADC2, yaitu Jogja (dan sekitarnya). Mengapa sutradara dan produser film memilih Jogja? Dan bukan sembarang lokasi yang dipilih, melainkan sudut-sudut tertentu yang khas dan seolah hendak menyuarakan pesan-pesan sarat makna. Apakah itu? Untuk menyebutkan satu per satu secara lengkap, saya perlu menonton lagi film ini beberapa kali. Mungkin nanti atau kapan saya akan menulis hal ini, kalau ingat. ^^

Sewaktu Rangga bertemu kembali dengan Cinta, saya menangkap adanya rasa dan karsa dari cinta yang belum kesampaian. Ada rasa terkhianati atas alasan cinta. Ada sesuatu yang harus dijelaskan, dibereskan, dan diselesaikan saat itu supaya hidup bisa terus berjalan. Agar Cinta bisa move on, ada proses berdamai dengan Rangga yang merupakan kenangan masa lalunya. (Dan Rangga pun diperlihatkan pula berdamai dengan ibunya.) Saya, seperti Cinta (dan Rangga), juga belajar move on tanpa menghancurkan sama sekali ‘prasasti’ atau ‘arsip’ lama.

Kembali sebentar ke film AADC2, saya mencatat beberapa hal yang menurut saya penting dan menarik. Hal-hal tersebut adalah:

  • Kalau pada film AADC seolah-olah Cinta yang banyak kesalahan, kali ini dalam AADC2 giliran Rangga yang seolah banyak ‘salah’.  
  • Ditampilkannya sebuah sudut kedai kopi yang menampilkan proses pembuatan kopi yang menitikberatkan pada nilai penting dari lokasi dan waktu (untuk proses cinta bisa bertumbuh).
  • Rangga suka menulis surat. Apakah ini suatu kebetulan jika saya juga sedang mulai mengembangkan kebiasaan menulis surat baru-baru ini? ^^
  • Cinta sempat bingung memilih warna lipstik. Dari yang tadinya merah menjadi pink (atau lebih samar).
  • Rangga menjelaskan kepada Cinta bedanya liburan dengan travelling. Liburan itu mengutamakan kenyamanan, sedangkan travelling itu memerlukan keberanian dalam mengambil risiko dan kesiapan untuk menerima kejutan-kejutan. Ini bisa menjadi analogi yang baik bagi cara saya memandang hidup.


Beberapa menit sebelum film berakhir, saya sempat berpikir alangkah lebih indah dan lebih menggores jika kisah AADC2 ini berakhir dengan tidak bersatunya Rangga dan Cinta. Mengapa demikian? Karena saya lebih suka akan nilai-nilai kesetiaan dan move on yang benar-benar. Maksudnya, saya lebih suka melihat Cinta benar-benar selesai terhadap Rangga yang merupakan simbol dari masa lalu, seberapa manis ataupun menyakitkannya itu. Dengan demikian, Cinta benar-benar siap melangkah maju menyambut hari depannya bersama tunangannya. Tapi apa daya. Saya boleh berandai-andai, namun sutradara dan produser yang menentukan.

Bagaimanapun juga, Cinta telah memilih dan setiap pilihan tentu ada konsekuensinya. Seandainya Cinta memilih untuk terus maju bersama tunangannya, tentu kita akan melihat akhir kisah yang berbeda. Tapi saya turut legowo dengan pilihan Cinta (sesuai skenario sutradara film) itu. Meskipun, bagi saya akhir cerita menjadi kurang menggigit. Ini menurut saya, lho.

Akhir kata, saya sangat beryukur dan terberkati bisa menonton film AADC2 ini. Bisa dibilang ini adalah kado Valentine (dari Tuhan) yang cukup menggetarkan kalbu dan mendorong saya untuk mikir. Sehingga, tersusunlah tulisan ini. Mohon maaf jika kurang padat isinya. Mungkin lain kali akan saya sambung lagi. Dan terima kasih telah berlelah-lelah membaca. Shalom!

Jumat, 10 Februari 2017

Surat untuk Ibu (7): Tips untuk Luka Hati

Ytk
Ibuku yang dikasihi Tuhan
Yang kukasihi
Dan yang mengasihiku

Shalom! Apa kabar, Ibu? Kiranya Ibu, bapak, dan Yoyo baik-baik saja dan tansah binerkahan di Rumah Pelem Kecut, rumah kemuliaan Tuhan. Kiranya roh, jiwa, dan tubuh Ibu dan seisi rumah Ibu terpelihara aman sentosa di dalam Tuhan Yesus Kristus yang mahamulia. Segala puji, hormat, syukur hanya bagi Tuhan kita, Yesus Kristus, amin!

Di penghujung hari ini, aku ingin menyampaikan ungkapan kasih dan kepedulianku kepada Ibu. Khususnya mengenai apa yang kusaksikan hari ini di "Gua Adulam". Aku menyaksikan betapa Ibu berusaha keras untuk tidak berlarut-larut sakit hati dan kepahitan karena perkataan orang lain. Dengan jujur Ibu mengakui bahwa Ibu sering terngiang-ngiang oleh ungkapan-ungkapan orang lain yang begitu tajam dan dalam melukai hati Ibu. Dan dengan jujur pula Ibu mengakui betapa lama dan sukarnya sembuh dari hal tersebut. Untuk kejujuran Ibu itu, aku sangat menghargai dan salut. Karena tidak mudah untuk berkata jujur tentang hati kita di hadapan orang lain.

Karena aku peduli pada Ibu, khususnya masalah kesejahteraan batin Ibu, maka perkenankanlah aku mengusulkan satu tips atau cara untuk Ibu bisa lebih mudah pulih dan sembuh dari luka hati tersebut. Cara ini sederhana saja, Ibu. Aku sudah sering melakukannya. Mudah saja, hanya perlu kemauan dan kesungguhan hati Ibu. Jadi, setiap kali ada orang yang melukai hati Ibu, cobalah untuk mengatakan ini (bisa dibatin atau diucapkan), "Aku memberkati ... (sebut nama orang itu)". Saat mengucapkannya, lepaskanlah segenap emosi Ibu yang penuh kesakitan dan kepahitan itu. Ucapkan saja kalimat tersebut tanpa ditambahi embel embel yang tidak perlu. Ucapkan sampai tidak ada lagi emosi negatif terhadap orang yang bersangkutan. Ini berlaku bagi siapa pun tanpa terkecuali. Silakan mencoba, Ibu, dan rasakan perbedaannya.

Usulku, lakukan hal ini sebelum Ibu menyuarakan isi hati Ibu yang terluka kepada orang-orang lain yang Ibu percayai. Dan, mari kita lihat adakah perbedaan yang nyata.

Ibu, perkara mengampuni orang lain itu adalah perkara yang sangat penting. Karena jika kita tidak mengampuni orang lain, maka Bapa di sorga pun tidak mengampuni kita juga. Bukankah demikian bunyi sebagian kalimat dalam Doa Bapa Kami?

Jika Ibu merasa begitu berat dan sukar untuk melepaskan pengampunan, berserulah pada TUHAN, Ibu. Atau, Ibu bisa meminta dukungan doa dari orang-orang yang Ibu percayai supaya Ibu dimampukan untuk mengampuni. Hal ini menurutku sangatlah penting, Ibu. Karena jika kita terluka, kita pun berpotensi melukai pula orang-orang lain tanpa kita sadari. Itulah mengapa penting sekali untuk segera membereskan luka-luka jiwa dan hati kita di hadapan Tuhan. Karena, seperti luka yang tidak tertangani bakalan terinfeksi dan menginfeksi bagian tubuh yang lain, demikian juga analoginya dengan luka hati seseorang. Satu orang terluka dapat mengobarkan luka tersebut kepada orang-orang lain. Apalagi jika orang tersebut punya kuasa, wewenang, dan otoritas yang besar.

Ibu, aku menyampaikan ini karena aku peduli pada Ibu dan orang-orang yang kita kasihi. Mohon maaf jika aku menyinggung perasaan Ibu. Tolong pertimbangkan usul yang kusampaikan di atas. Dan terima kasih atas respon dan usaha Ibu untuk mengampuni orang lain sampai terjadi pemulihan. Kiranya TUHAN memampukan Ibu untuk mengampuni dan memberkati orang-orang yang melukai hati Ibu. Shalom!

Dari anakmu yang peduli,
Yohana Mimi

Surat untuk Ibu (6): Introvert

Ytk
Ibu di tempat

Shalom! Selamat sore, Ibu! Apa kabar? Hari ini bagiku sangat luar biasa, Bu! Bagaimana tidak? Semalam aku membuat target pencapaian kerjaku selama seminggu ini, meliputi PPK CP terintegrasi, rencana audit rekam medis tertutup, dan audit klinis evaluasi CP lama. Aku pikir cukup padat daftar pekerjaanku itu. Aku belajar untuk fokus pada satu hal demi satu hal. Pikiranku kuatur sedemikian rupa supaya berkonsentrasi pada hal yang sedang kulakukan saat itu, tidak memusingkan hal-hal lain sebelum dan sesudahnya. Entah bagaimana, satu per satu target (bahkan lebih) bisa kulakukan. Dan aku bisa enjoy dan santai. Rasanya puas sekali, Bu! Apakah Ibu juga demikian hari ini?

Terima kasih, Ibu, telah memberiku ruang dan kesempatan untuk bisa fokus pada hal-hal yang sedang kukerjakan hari ini tadi, sehingga satu demi satu bisa kutuntaskan. Terima kasih, Ibu, telah dan selalu berusaha memahami kecenderunganku dalam bekerja. Secara umum, aku cenderung lebih ke arah introvert. Bagiku hal ini bukanlah masalah besar, Bu, karena aku belajar bahwa seseorang yang introvert itu memperoleh energi dari waktu-waktu sendirian. Berbeda dengan orang extrovert, yang memperoleh energi (energize) dari waktu-waktu bersama orang-orang lain.

Jangan salah, Ibu, aku cukup bangga dan bahagia dengan kecenderunganku ini. Introvert tidaklah identik dengan pemalu, Ibu. Itu! Ibu, tidak ada yang perlu disesali tentang pembawaanku yang cenderung introvert dan lebih banyak diam. Karena, aku mendapati bahwa dengan diam lebih banyak, aku bisa mendengarkan lebih banyak juga. Dan, aku sangat menikmati menjadi pendengar yang baik, Ibu! Aku suka sekali mendengarkan orang lain berbicara. Dan, aku juga suka menyelami apa yang orang lain rasakan saat berbicara itu. Inikah yang dinamakan empati, Bu?

Ibu, mungkin di masa-masa lalu aku sering mengeluh dan kurang puas dengan kecenderunganku ini. Tapi sekarang, aku sangat bersyukur, Bu! Sungguh! Aku telah belajar menerima diriku apa adanya. Aku belajar memandang dengan cara Tuhan, yaitu bahwa aku berharga di mata-Nya. Aku belajar betapa Tuhan sangat mengasihiku. Tuhan yang menyatakan kasih-Nya kepadaku mengajariku bahwa Ia pun mengasihi orang-orang lain, termasuk Ibu. Maka, aku pun belajar mengasihi Ibu sebagaimana Tuhan mengasihiku. Maka, inilah yang kulakukan, Ibu. Semoga Ibu dapat merasakan sungguh betapa besar kasih Tuhan dan kasihku pada Ibu.

Terima kasih, Ibu, telah membuatku belajar dan bertumbuh dalam kasih Tuhan. Mari kita rayakan semua ini dengan hal-hal yang menyukakan hati.

O iya, besok rencananya Asa akan dititipkan ke Rumah Pelem Kecut. Mohon perkenanan Ibu dan semoga Ibu bergembira karena Asa. Terima kasih sekali lagi, Bu. Selamat bersukacita! Shalom!

Dari anakmu yang bertumbuh,
Yohana Mimi

Sabtu, 28 Januari 2017

Surat untuk Ibu (5): Istirahat itu Penting

28 Januari 2017

Ytk Ibuku yang kusayangi

Shalom!
Hari ini cerah dengan beberapa awan putih tebal menghiasi birunya langit. Mungkin nanti sore atau malam bakalan turun hujan. Dan sekiranya turun hujan, semoga tidak banjir ataupun disertai angin kencang. Semoga damai sejahtera Tuhan selalu beserta kita di kota Jogja ini. Amin!

Ibu, apa kabarmu hari ini? Apakah Ibu baik dan sehat? Sibukkah Ibu hari ini? Hari ini tanggal merah, libur Imlek. Dan hari ini adalah hari Sabtu atau sabat. Hari yang indah untuk beristirahat. Setelah disibukkan dengan kerja dan kerja yang menguras pikiran dan tenaga, namun juga berlimpah sukacita, marilah kita nikmati waktu istirahat ini, Ibu.

Istirahat itu penting, Ibu. Sepertiga waktu hidup kita dihabiskan untuk tidur karena kita sangat memerlukannya. Maka, benar kata bu Yohana supaya jangan menyesali manakala Ibu tertidur waktu malam dan tidak bangun sampai pagi. Meskipun rasanya gemes dan kesal karena banyak hal yang masih belum selesai, percayalah bahwa semua itu tidaklah sia-sia. Tidur Ibu pun tidak sia-sia. Karena dalam waktu tidur itu, Tuhan sudah merancang mekanisme regenerasi sel-sel tubuh. Oleh karena itu, bersyukurlah Ibu jika masih bisa menikmati dan merasakan tidur malam. Bandingkan dengan orang-orang yang sulit tidur sehingga memerlukan bantuan obat-obat tidur.

Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari, itu kata firman Tuhan, Ibu. Nasihat yang sangat tepat sekali bagi kita yang memikul banyak beban dan tanggung jawab, baik itu di rumah maupun di tempat kerja. Bukan berarti kita tidak boleh memikirkan atau menggumulkan suatu atau banyak masalah, Ibu. Maksudnya, kita dinasihati untuk fokus pada hal penting yang sudah kita prioritaskan pada suatu waktu. Dan, urusan selebihnya kita serahkan pada yang lebih kompeten. Ini adalah prinsip yang bagus sekali untuk menjaga stamiba dalam bejerja. Bukan begitu, Bu?
Ibu pasti sudah mengenal dan akrab dengan hal-hal sbb: "Paretto 80/20", "first thing first", dsb. Itu adalah prinsip-prinsip praktis atau hikmat yang tergali dalam ruang lingkup manajemen. Dan aku percaya Ibu pasti juga sudah menghayatinya. Hal itu terbukti dari cara kerja Ibu selama ini. Aku pun belajar untuk bertumbuh dan berkembang seperti itu, Ibu. Mari kita pertahankan dan tingkatkan kinerja kita. Di atas semua itu, aku pikir yang terpenting adalah kita dapat menikmati setiap proses dan hasil jerih payah kita, Ibu. Saat kita benar-benar menikmati, orang lain yang melihat pun akan tertarik ikut. Sehingga, kita tidak sendirian dalam berjuang dan berusaha. Sikap positif dan optimis itu menular, begitu kata pakar-pakar manajemen. Mari kita buktikan, Ibu!

Terima kasih kepadamu, Ibu, untuk sikap positif dan antusiasme yang Ibu tularkan setiap saat. Aku akan teladani dan radiasikan semangat itu sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Salam hangat dari anakmu yang terus-menerus belajar. Shalom!

Anakmu,
Yohana Mimi

Surat untuk Ibu (4): Pengaruh Tulisan

26 Januari 2017

Ytk Ibuku yang kusayangi

Shalom! Semangat pagi, Ibu!
Sudahkah Ibu bersukacita hari ini? Puji syukur pada Tuhan Yesus untuk Ibu yang dilimpahi anugerah dan berkat kesehatan, kecukupan, dan kebahagiaan. Terima kasih pada Tuhan Yesus untuk kesempatan yang diberikan sehingga aku bisa menyampaikan cinta kasihku pada Ibu. Terima kasih, Ibu, untuk kesediaanmu menanti dan menerima perwujudan cinta kasihku.

Ibu, apa lagi yang bisa kusampaikan? Selama kusaksikan Ibu masih bersemangat untuk hidup, bekerja, dan melayani Tuhan, selama itu pulalah aku akan terus menyampaikan ungkapan hatiku pada Tuhan dan pada Ibu. Aku hanya ingin Ibu tersemangati dan makin bersukacita dalam setiap hal yang Ibu jalani. Jika selama ini aku sering berdoa dan menyampaikan isi hati dan pikiranku kepada Tuhan, maka bolehlah sekarang aku berbagi semangat dan isi hati kepada pribadi-pribadi yang selama ini kudoakan. Ibu adalah yang pertama kubagikan isi hati melalui surat. Aku harap Ibu tidak bosan. Terima kasih, Ibu, untuk kesediaanmu dalam membaca tulisanku yang acak adut.

Ibu, entah kenapa aku suka sekali menulis. Rasanya damai dan sejahtera sekali saat aku bisa menuliskan segenap pikiran dan perasaanku. Aku seperti hidup dan lebih hidup saat menulis. Inikah yang dinamakan talenta/minat dan bakat, Bu? Jika iya, maka betapa aku sangat bersyukur dan terberkati. Karena dengan tulisan, aku bisa menyampaikan banyak hal kepada siapa pun. Kepada Tuhan, diri sendiri, dan orang lain. Termasuk kepada Ibu!

Ibu, aku belajar bahwa ternyata tulisan itu sangatlah besar pengaruhnya. Dengan tulisan, aku bisa membangun namun bisa juga menghancurkan. Semakin besar keterampilanku dalam menulis, semakin besar pula dampak pembangunan ataupun kehancuran yang diakibatkannya. Seperti potensi yang ada pada setitik atom atau nuklir. Bisa sangat membangun (jika dijadikan reaktor untuk pembangkit energi), bisa sangat merusak (jika digunakan sebagai bom atau senjata perang). Oleh karena itu, aku memilih menggunakan keterampilan menulisku untuk membangun. Aku memilih untuk membangun semangat dan motivasi orang lain, termasuk Ibu, supaya Tuhan disenangkan lebih dan lebih lagi.

Maafkan dan ampuni aku, Ibu, jika aku pernah melukai hatimu melalui perkataan, sikap, dan tulisan-tulisanku di masa yang telah lalu. Terima kasih, Ibu, telah mendidik dan mengajarku melalui teladanmu untuk menyatukan kata dan perbuatan. Aku akan terus belajar dan bertumbuh.

Ibu, inilah isi hati dan pikiranku saat ini melalui surat ini. Akan kutulis lagi surat untuk Ibu nanti atau besok. Selama masih ada kesempatan, aku akan terus membanjiri Ibu dengan surat-suratku. Mohon Ibu berkenan. Terima kasih. Shalom!

Salam semangat,
Yohana Mimi

Surat untuk Ibu (3): Gua Adulam

25 Januari 2017

Shalom, Ibuku yang terkasih!

Hari ini sungguh luar biasa ya, Bu! Kita masih diberi kekuatan oleh Tuhan untuk berkarya di Bethesda, di mana Dia telah tempatkan kita. Sekalipun sepertinya ada banyak hal yang menjadi hambatan dan tantangan, entah bagaimana selalu saja ada jalan keluarnya. Entah bagaimana, selalu ada stok sukacita yang melimpah ruah yang selalu terpancar dari Ruang Pertemuan F.

Bicara tentang Ruang Pertemuan F, bagiku ini sangatlah inspiratif. Setiap kali aku kehilangan orientasi (kerja), aku selalu berkunjung ke Ruang Pertemuan F. Mengapa? Karena di sana ada pribadi-pribadi luar biasa, Bu! Di sana, pribadi-pribadi luar biasa itu saling bersinergi sedemikian rupa sehingga mampu menciptakan daya dorong dan energi bagi sistem kerja di Bethesda.

Yang terutama dan pertama, di Ruang Pertemuan F itu ada pribadi Ibu Pudji Sri Rasmiati, yang dijuluki Kartininya Bethesda. Ibu menjadi spirit penyemangat dan penggerak semua orang yang tergabung dalam barisan pejuang mutu civitas hospitalia Bethesda. Bisa dikatakan, Ibu adalah semacam pembimbing spiritual, guru, atau bahkan ibu rohani bagi kita-kita di Bethesda.

Kemudian, ada Bu Endang yang berpandangan global sehingga mampu memperkaya wawasan tim yang Ibu pimpin. Selanjutnya, Bu Yohana Martini, yang punya passion luar biasa dalam mendidik dan mengajar orang lain. Pak Adhi, yang piawai dalam logika dan diplomasi secara verbal. Tidak ketinggalan, ada Pak Purwoko yang melengkapi tim dengan talentanya dalam hal hitung-hitungan, rumus, dan wawasan ekonomi.

Tahukah Ibu betapa luar biasanya Ibu dalam mengenali kelebihan dan kekuatan masing-masing orang/pribadi yang bekerja bersama Ibu itu? Ibu tidak merasa terancam atau tersaingi oleh mereka. Sebaliknya, Ibu selalu memberdayakan orang demi orang seturut minat dan bakat mereka. Sungguh aku kagum dan salut terhadap Ibu!

Satu hal penting yang selalu kupegang dari Ibu adalah bagaimana menilai orang dari kinerja mereka, bukan melulu dari perkataan mereka. Ibu menilai dan mengenali karakter setiap orang dengan cara menugasi mereka melalui hal-hal kecil dan sederhana. Jika mereka bertanggung jawab, maka mereka adalah pribadi yang dapat dipercaya. Itu sebabnya aku selalu bersemangat mengerjakan tugas-tugasku sedemikian rupa, meskipun mungkin tugas-tugas tersebut terbilang remeh dan kecil.

Tentang Ruang Pertemuan F, bagaimana kalau kita namakan ruangan tersebut sebagai: Gua Adulam?

Ibu, satu hal yang aku rindukan dari Ibu adalah: bersyukurlah, Ibu... bersyukurlah Ibu, untuk Gua Adulam ini. Gua di mana banyak pribadi menjadi pejuang mutu yang perkasa berkat karya bakti Ibu yang sepenuh hati. Karena dengan hati bersyukur itu, Ibu niscaya mudah mengampuni dan tidak mudah sakit hati lagi. Trust me!

Terima kasih, Ibu, telah menjadi laksana Debora bagi kami semua, warga Bethesda. Segala puji, hormat, syukur bagi Tuhan Yesus yang maha mulia. Shalom!

Anakmu yang mengagumimu,
Yohana Mimi

N. B. : gua Adulam adalah gua tempat Daud dan para pengikutnya berproses menjadi cakap dan perkasa hingga disegani lawan dan dihormati kawan.

Surat untuk Ibu (2): Rumah Anugerah

24 Januari 2016

Ytk Ibuku yang kukasihi
Dan mengasihiku Shalom!

Apa kabar Ibu hari ini? Aku sangat bersyukur pada Tuhan karena hari ini aku menyaksikan Ibu bersemangat dalam aktivitas di Rumah Anugerah (Bethesda). Semua karena anugerah-Nya saja, Bu... amin! Jika Rumah Sakit Bethesda yang kita perjuangkan dan majukan mutu pelayanannya itu masih tegak berdiri sampai "hari ini", itu benar-benar karena anugerah Tuhan. Apakah Ibu percaya akan hal ini? Aku sungguh-sungguh percaya!

RS Bethesda tercinta ini telah menjadi perwujudan anugerah Tuhan Yesus di tengah-tengah masyarakat Jogja, Indonesia, dan dunia. Bagaimana tidak? Melalui berbagai macam tantangan, hambatan, dan ancaman, dengan berbagai macam karakter manusia di dalamnya, Tuhan menunjukkan kasih dan kuasaNya yang ajaib sekali. Apakah Ibu ingat tentang demonstrasi karyawan beberapa waktu yang lalu? Tentu Ibu ingat, karena Ibu menjadi seorang pahlawan yang berani menghadapi orang-orang yang marah itu dengan sepenuh hati. Itu yang kudengar pernah Ibu ceritakan. Melalui peristiwa tersebut, Tuhan mempromosikan Ibu menjadi dokter bintang lima, yang melampaui klinisi biasa. Yang membuatku kagum, Ibu tidak bermalas-malasan ataupun bertindak sesuka hati terhadap promosi Tuhan itu. Ibu terus menambah kapasitas Ibu dalam bidang manajerial, tanpa ada yang menyuruh... murni karena Ibu merasa terpanggil dan terbeban untuk kebaikan RS Bethesda. Bahkan, melalui Ibu, Tuhan menggerakkan hati-pikiran-tenaga civitas hospitalia untuk sangkul sinangkul ing bot repot sehingga RS Bethesda beroleh predikat PARIPURNA. Meskipun, kita sama-sama tahu bagaimana gemes dan jengkelnya Ibu terhadap para pimpinan yang seolah lambat berproses dan kurang bisa berterima kasih. Sekali lagi, ini adalah anugerah Tuhan dalam RS Bethesda.

Ibu, anugerah Tuhan itulah yang menyelamatkan kita dan memampukan kita untuk terus hidup sampai akhir. Anugerah Tuhan itulah yang menjaga keutuhan keluarga kita di Pelem Kecut. Anugerah Tuhan itu pulalah yang menjaga kita, terutama Ibu... dan aku juga... Oleh anugerah Tuhan, aku disadarkan akan betapa besar kasih dan peran Ibu dalam kehidupanku. Untuk itu, aku sangat bersyukur. Terima kasih, Ibu!

O iya. Aku diberi nama oleh Ibu: Yohana Puji Dyah Utami (Mimi). Tahukah Ibu apa arti nama itu? Suatu ketika, aku membaca buku arti-arti nama di perpus sekolah. Dan, kudapati nama Yohana Mimi yang berarti "anugerah terindah". Wow! Luar biasa! Kebetulankah?

Mari, Ibu, kita nyatakan anugerah Tuhan yang terindah itu melalui karya nyata kita di Rumah Anugerah-Nya ini. Sekian surat cintaku kali ini. Besok akan kulanjutkan lagi. Shalom!

Salam semangat
Dari si anugerah kecil,

Yohana Mimi