Minggu, 20 Agustus 2017

Wawancara dengan Pak Daniel Suharta: tentang Bersepeda

Ini pertanyaan2 singkat yang mengharapkan jawaban yang tidak singkat
1. Sejak kapan Pak Daniel Suharta suka bersepeda?
2. Apa suka duka selama bersepeda?
3. Bagaimana membudayakan bersepeda?
4. Apa impian Pak Daniel Suharta berkenaan dengan budaya bersepeda di sini (Jogja)?
5. Bagaimana kondisi sekarang? Seberapa jauh dari kondisi ideal?
6. Apakah budaya bersepeda dapat terwujud?
7. Apa saja kesulitan/hambatan/tantangan dalam membudayakan bersepeda?
8. Bagaimana caranya supaya senang bersepeda?
^^
Jawaban Pak Daniel Suharta:

1. Sebelum menjawab hal diatas saya ingin bercerita tentang kenangan bersepeda saya yang ternyata saat ini tidak hanya sekedar menjadi kenangan saja melainkan menjadi kegiatan kesenangansehari-hari saya.
Saat masa kecil terutama pada generasi saya, bersepeda adalah sebuah kegiatan yang benar-benarfun, dimana kita selalu menggunakan sepeda yang saat itu jarang dimiliki setiap orang secara bergantian dengan cara saling membonceng dan di bonceng; meski terkadang saling berebut, akan tetapi disaat berebut tersebut tetap ada dan justru semakin melekat nilai nilai persahatabatannya karena pada saat berebut dengan disertai candaan ringan, tingkah polah saat itulah yang membuat masing-masing anak saling mengenthalkan/mengakrabkan nilai-nilai kedekatan persahabatannya.
Di usia sekolah, hari-hari yang paling menyenangkan adalah disaat hari libur pergi bersama teman-teman sekolah untuk melakukan perjalanan bersepeda dalam jarak yang tidak dekat, tidak dekat dalam ukuran usia sekolah; dimana disetiap pulang melakukan perjalanan bersepeda di keesokan harinya selalu bisa bercerita panjang lebar di sekolah dengan segal suka dukanya.
Mengenai kapan saya suka bersepeda, saya ingin sedikit memberi sebuah ilustrasi.
Ilustrasinya adalah bahwa disaat Anda diejek atau diremehkan seseorang yang meragukan kemampuan Anda apakah sikap Anda terhadap ejekan/remehan tersebut ?
Bagi saya ada dua hal
Pertama, merasa marah, sedih,
Kedua, merasa tertantang.
Ketika ada ajang fun bike dengan jarak tempuh yang lumayan yang saya ikuti paska operasi laminektomi, beberapa teman tidak percaya kalau saya melakoninya secara penuh. Dan sikap marah dan sedih adalah respon awal saya ketika itu, namun setelah itu saya justru merasa tertantang untuk lebih bisa melakukan hal diatas secara rutin.
Nah, mulai saat itulah lah saya menekuni kegiatan bersepeda ini secara rutin dan melakukannya dalam jarak yang dianggaporang yang belum terbiasa adalah jarak yang cukup melelahkan
Kalau kapan harus dijawab dengan kurun waktu adalah sekitar 10 15 tahun yll he he he
Akan tetapi yang lebih penting dari semua itu adalah bahwa pada kejadian diatas saya jadi bisa mendapatkan hikmah positip bahwa dalam setiap ejekan atau apapun yang bersifat memandang sebelah mata pada kemampuan kita, sebaiknya kita sikapi sebagai pemicu dan penyemangat untuk bisa membuat kita lebih baik lagi, walaupun kadang masih kita awali dengan sikap sedih atau bahkan marah terlebih dahulu.

Jawaban nomor 3 yang dijadikan nomor 2 saja ya dok . He he he
2. membudayakan bersepeda bukanlah sebuah usaha yang mudah. Perlu waktu yang panjang dan sabar untuk bisa terlaksana dengan baik. Untuk itu ada beberapa cara yang perlu saya gunakan. Cara yang paling saya sukai adalah justru cara yang tidak secara langsung mengajak bersepeda pada setiap orang yang kita jumpai, akan tetapi perlu pendekatan dengan disertai obrolan ringan yang salah satunya adalh obrolan tentang masalah yang nantinya berhubungan langsung dengan sepeda yaitu obrolan tentang situasi lalu lintat saat ini.
Dalam setiap obrolan disembarang saya bertemu dan berkumpul dengan banyak orang, bila saya mendengar raungan keras knalpot sepeda motor yang juga menandakan kecepatan laju sepeda motor tersebut, saya selalu berucap : sing duwe dalan liwat!!
Nah, dari sanalah segera bermunculan berbagai reaksi komentar yang pada intinya tidak suka dengan kelakuan para pengguna jalan yang tidak tertib dan mengganggu orang lain, hingga akhirnya pembicaraan berkutat pada kemacetan jalan raya saat ini. Nah, disinilah saya berusaha masuk dan mengisi atau mengindoktrinasinya.
Indoktrinasi saya adalah indoktrinasi secara logika. Bahwa kota Jogja adalah kota yang kecil/daerahnya tidak luas, maka seharusnya bila ingin Jogja tidak semrawut dan macet sebaiknya janganlah setiap orang ingin memiliki mobil; memiliki motor bolehlah, akan tetapi mengingat pemanasan global yang sering kita dengungkan bersama belum ada solusi yang tepat dan cepat maka satu-satunya jalan adalah kita semuaharus bersediamenjadi bagian dari solusiyaitu sesering mungkin menggunakan kendaraan ramah lingkungan yaitu sepeda, paling tidak dimulai dari memakai sepeda pada jarak-jarak yang dekat terlebih dulu. Nah, bila sudah terbiasa dari yang dekat-dekat itu bisa kita tingkatkan pada jarak yang agakjauh yaitu berkeliling desa atau komplek dan itu bisa dilakukan dalam frekwensi yang lebih sering. Karena secara kesehatan itu juga sangat bagus, paling tidak bisa membakar lemak dan bukan membakar bahan bakar minyak he he he
Karena bersepeda adalah kesadaran dan bukan paksaan, cara lain yang saya terapkan pada teman-teman di instansi saya yang belum ikut kegiatan bersepeda adalah dengan mengatakan bahwa bersepeda adalah hanya sekedar sarana berkumpul teman-teman sekerja, berkumpul bersama antara Pimpinan dan karyawannya secara non formal, apabila belum terbiasa bersepeda boleh mengikuti dengan memakai sepeda motor, dan apabila sudah merasakan aurakehangatan perbincangan non formal antara para pimpinan dengan semua karyawan tanpa ada penyekat maka barulah nanti mencoba mengikuti kegiatan bersepeda dengan semampunya/sekuatnya, karena bila tidak kuat juga disediakan mobil angkutan. Nah bila sudah terbiasa maka apa yang dikatakan bahwa bersepeda adalah sebuah kegiatan yang hanya sekedar melelahkan sajaakan segera hilang dan menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkandan menyegarkan badan dan pikiran.
Konsekwensi yang harus saya terima adalah berani mengajak harus berani bertanggung jawab; dan salah satunya adalah ketika yang saya ajak tidak/belum memiliki sepeda maka saya harus menyediakannya. Untuk itu demi rasa tanggung jawab saya pada hal tersebut, saya selalu berusaha menambah dan menambah koleksi sepeda saya agar apabila ada yang memerlukannya saya bisa meminjamkannya terlebih dahulu dengan harapan bila sudah kena candusenang bersepeda mereka bersedia memiliki sepeda sendiri dengan cara membeli untuk kemudian melakukan kegiatan bersepeda baik secara bersama ataupun kemudian secara sendiri disaat pergi bekerja atau pada kegiaan lainnya.
Untuk orang luar Jogja, saya selalu membuat promosi wisata sepeda, dimana bahwa untuk bisa menikmati pemandangan di Jogja yang tidak begitu luas ini dengan lebih santai dan seksama kita lebih cocok melakukannya dengan menggunakan sepeda.
Terbukti bahwa ada beberapa yang saya ajak sangat terkesan, yang mudah-mudahan hal tersebut bisa menginspirasi mereka untuk melakukan hal yang sama di tempat asalnya.
yg tadi tetap nomor 3 dok

2. Bersepeda banyak sukanya. Dukanya rasanya tidak ada, hanya keprihatinan saja yang ada; yaitu prihatin terhadap pengguna jalan yang lain yang tidak peduli, tidak mempunyai tenggang rasa pada kendaraan yang lebih kecil yang nota bene adalah harus di lindungi.
Keprihatinan yang terutama saya tujukan pada pengambil kebijakan yang kadang justru membenturkan rakyat dalam bentrok horizontal karena kebijakan yang setengah setengah.
Kebijakan yang hanya responsif dan bukan by design sejak awal sehingga penyelesaiannnya selalu tidak holistic, termasuk diantaranya adalah kebijakan pada berlalulintas yang membuat saya prihatin.

Selasa, 25 Juli 2017

Nasi Sudah Menjadi Intip

Hari ini di Facebook, aku mendapati 3 postingan teman tentang sekolah/ pendidikan di Indonesia. Ketiga postingan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Postingan mb Tyas tentang SALAM
2. Postingan Pdt. Daniel K. Listijabusi tentang anaknya yg masuk sekolah Mangunan
3. Postingan Pak Purnawan tentang segregasi agama di sekolah negeri Intinya adalah tentang kebebasan dalam proses pendidikan anak di Indonesia.

Entah bagaimana, aku merasa tergelitik. Apakah kegelisahan dan perjuangan para pegiat kebebasan/ pembebasan anak dalam proses belajar di sekolah itu dapat berhasil? Berhasil di sini berarti memperoleh momentum yang tepat sehingga dapat mencelikkan, menyadarkan, dan mendobrak kesalahkaprahan proses pendidikan anak-remaja-dewasa di Indonesia. Entah kapan dan bagaimana.

Mengapa aku sampai bisa tergelitik? Jujur, aku sedang gelisah juga tentang diri sendiri berkaitan dengan MINAT & BAKAT... PASSION... PURPOSE... CALLING. Apa hubungannya? Tanpa bermaksud menyesali diri/ frustrasi, aku mengakui bahwa aku selama ini merupakan 'korban' dari kesalahkaprahan itu. Kegelisahan dan kesadaran itu mulai muncul sejak 7 tahunan ini. Nasi sudah menjadi 'intip'. Aku sudah bergelar dokter umum yang tidak umum. Aku masih belum aman dalam hal status dan posisi. Aku masih mencari jati diri. Sebenarnya aku ini senangnya apa? Apakah destinyku? Apakah panggilan tertinggi dalam hidupku? Apakah tujuan hidupku secara spesifik?

Tadi pagi, secara bukan kebetulan pula, aku membaca 2 postingan di Facebook dengan tema PASSION. Ternyata passion itu bisa lebih dari 1. Berarti passionku adalah berdoa, musik, tulis-menulis, learning process. Apa hubungannya dengan dokter?

Setelah proses seleksi PPDS kemarin, kini aku punya waktu untuk piknik. Akan kugunakan waktu piknik ini untuk benar-benar mencari, menemukan, dan menguji sungguh-sungguh tentang PASSION, PURPOSE, DESTINY of my life. Untuk itu, aku mungkin perlu berbagi dan diskusi secara mendalam dengan orang-orang yang kuanggap lebih dewasa dan bijak yang sekiranya bisa menolongku menemukan PASSION, PURPOSE, & DESTINY tersebut. Rencananya, hasil diskusi dan berbagi itu akan kudokumentasikan dengan teratur secara tertulis di blog. Kiranya Tuhan memberkatiku.

Jumat, 16 Juni 2017

Enyahkan Takut

1 Yohanes 4:18 (TB) Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. http://www.bibleforandroid.com/v/f5f346e4c125 Apa yang paling ditakuti oleh civitas hospitalia saat mendengar kata "survey" atau "audit" atau "akreditasi"? Sebagian besar (mungkin) akan merasa takut salah saat ditanyai oleh surveyor atau auditor. Mengapa? (Mungkin) karena takut dihukum, atau takut dimarahi, takut disalah2kan apabila salah menjawab atau memperagakan. Ada semacam ketakutan/kekuatiran akan terlihat bodoh atau tidak kompeten (saat disurvey/diaudit/dinilai). Karena takut/kuatir yg berlebihan, orang jadi malu bertanya padahal tidak tahu. Orang jadi enggan berproses meningkatkan diri. Akibatnya, jadi mudah iri hati saat melihat orang/pihak lain yg tampak lebih maju dan enjoy dlm prosesnya. Tidak terasa, pikiran2 negatif pun mengungkung. Semua itu dapat menghambat kinerja. Lalu bagaimana supaya kita dapat mengenyahkan ketakutan/kekuatiran semacam itu? 1 Yohanes 4:18 memberikan jawabannya. (Kasih yg sempurna mengenyahkan ketakutan). Sadarilah, yakinilah bahwa Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita. Bersyukurlah! Wujudkan rasa syukur itu dalam pikiran, ucapan, & tindakan kita (termasuk saat kita beraktivitas di rs masing2). Nyatakanlah syukur atas kasih yg sempurna tsb kepada Tuhan, sesama, dan lingkungan kerja kita. "Krn Tuhan mengasihiku, aku tdk takut dicap bodoh/kikuk" "Tuhan yang mengasihiku memampukanku berproses menjadi lebih baik setiap hari" "Krn Tuhan mengasihiku, maka aku lakukan jobdesku dengan penuh tangguh jawab" Perkatakan, deklarasikan, isi pikiran dan hati kita dengan kebenaran tsb... sampai hati kita dipenuhi semangat yg meluap-luap dan membara... sehingga tdk kita temui lagi rasa takut/kuatir dlm keseharian kita. Contoh kecil: anak saya Asa (mau 5 tahun) sering dengan berani dan tanpa takut bertanya "kenapa kok...", "what is this" saat ia tidak tahu. Asa tidak malu, sebaliknya dengan penuh antusias dan keingintahuan yg besar, ia akan kejar terus jawabannya. Asa juga mulai suka belajar menyeterika bajunya sendiri meskipun ada risiko keslomot. Asa tidak takut gagal/jatuh/sakit krn yakin dia tetap disayangi, diterima, dan dijaga oleh papa mamanya. Demikian juga kita civitas hospitalia, terlebih asesor internal, hendaknya juga berani bertanya saat tidak tahu/tidak paham, berani bertindak sesuai SPO/standar apa pun risikonya tanpa takut akan bayang2 gagal, tanpa takut diejek/dicemooh apabila gagal/salah/keliru. Saat gagal/keliru, lakukanlah evaluasi dan langkah2 perbaikan sesuai dengan standar mutu yg ada. Jangan tawar hati/ kecil hati karena kita yakin bahwa Tuhan senantiasa mengasihi dan menyertai kita. Mari kita berproses dan senantiasa belajar sehingga kualitas pelayanan kesehatan di RS kita masing2 dpt terus-menerus ditingkatkan. Amin.

Rabu, 24 Mei 2017

Persiapan

Dalam rangka persiapan untuk seleksi ppds di uns, ini yang aku lakukan mulai hari ini.