Jumat, 06 Juli 2018

Aku yang Mudah Lupa vs Tuhan yang Setia

Orang kadang lupa akan berbagai hal yang sudah terjadi dalam hidupnya. Hal-hal yang menyenangkan dan penting untuk kesehatan jiwa seringkali terlupakan. Sebaliknya, hal-hal traumatis yang merongrong kalbu malah sukar dilupakan.

Aku ternyata mudah lupa. Aku sering lupa akan janjiku kepada Tuhan, diri sendiri, dan orang lain. Aku sering lupa akan perananku yang baru. Jika tidak kudokumentasikan dengan baik, hal-hal penting dalam hidupku bisa benar-benar terhapus dari lembaran sejarah ingatanku.

Ganti suasana hati mempengaruhi ingatan. Berkaitan dengan suasana hatiku yang rawan masuk dalam kondisi ekstrem (entah 'tinggi' atau 'rendah'), aku mendapati bahwa pergantian suasana hati itu berpengaruh juga terhadap ingatanku. Ingatan itu sangat mempengaruhi komitmenku, baik itu komitmenku dalam bekerja, melayani Tuhan, di rumah, tempat kerja, maupun di persekutuan gereja.

Perubahan-perubahan yang drastis dan bertolak belakang itu membuatku menjadi tampak tidak konsisten. Saat dalam kondisi 'tinggi', aku bisa sedemikian bersemangat, optimistis, percaya diri, dan yakin akan kemampuan diriku dalam memberi solusi. Namun sebaliknya, dalam kondisi 'rendah', aku kesulitan berpikir, diserang rasa minder, dan timbul semacam rasa tidak aman, seolah-olah sedang dirasani atau dibicarakan di belakang oleh orang-orang di sekitarku.

Satu hal yang menjadi penghiburan dan sauh bagi jiwaku adalah ini, yaitu bahwa TUHAN tidak pernah berubah. TUHAN tidak seperti aku yang sering dipengaruhi mood swing yang ekstrem dan ngeri ngeri sedap. Jika Dia seperti terlalu baik atau terlalu kejam, itu hanya sudut pandang kita saja yang kurang pas memandang-Nya. Bukan berarti aku membela Tuhan (karena Dia tidak perlu pembelaanku, Dialah yang malah menjadi pembelaku--keyakinan yang jangan sampai menjadi klise belaka). Aku hanya ingin mengkontraskan diriku yang labil dengan Tuhanku yang bagaikan gunung batu yang teguh.

Tuhan selalu ingat akan janji-Nya, apalagi janji yang tertulis abadi dalam Alkitab. Lain sekali denganku yang amat mudah lupa janji-janjiku, terutama yang kubuat saat kondisi tidak stabil secara mood. Dia berjanji selalu menyertai kita sampai kepada akhir zaman, tak pernah meninggalkan kita sebagai yatim piatu. Itu salah satu dari sekian banyak janji-Nya. Mengingat hal itu saja sudah sangat membuatku terhibur.

Tuhan setia meskipun kita tidak setia. Itu sudah menjadi sifat-Nya sejak kekekalan sampai kepada kekekalan. Kesetiaan Tuhan itulah yang membuatku tetap bertahan sampai kepada Maranatha. Aku tidak bisa mengandalkan diriku sendiri maupun orang lain. Hanya oleh kasih karunia-Nya sajalah aku ada sebagaimana ku ada.

Banyak hal boleh kulupakan. Tapi satu hal yang selalu kuingat, yaitu adalah senantiasa bersyukur pada Tuhan. Itulah yang menjagaku tetap teguh berjalan dalam rencana-Nya yang penuh damai sejahtera. Syukur kepada Tuhan.

Jumat, 22 Juni 2018

PMS

Premenstrual Syndrome. Rupanya itulah yang kualami semingguan yang lalu. Perasaan melankolia dan seperti depresi itu berlalu seiring dengan berlalunya pula sindrom pramenstruasi. Cukup lega rasanya mengetahui hal ini. Bagaimana tidak? Saat sindrom tersebut menyerang, aku jadi lebih mudah marah terhadap Asa (kasihan dia). Aku nyaris kehilangan semangat, pengharapan, dan kepercayaan diri. Di rumah aku uring-uringan dan ingin tidur lebih banyak. Di kantor aku lebih banyak bengong dan tidak tahu harus berbuat apa. 

Syukur pada Tuhan untuk pengetahuan ini. Ternyata mengetahui penyebab atau akar masalah dari suasana hati yang buruk itu sangatlah penting. Dengan menemukan sumber penyebab mood swing, aku jadi bisa merespon dengan tepat. Kalau pun toh belum menemukan cara yang jitu untuk mengenyahkan perasaan tidak enak akibat pengaruh hormon, minimal aku bisa 'nyicil ayem' karena tahu bahwa pengaruh hormon itu akan berlalu seiring periode menstruasi yang kualami.



Selasa, 19 Juni 2018

Our Father by Andina: Sebuah Rencana Aransemen


Someday we'll find
other great experiences
but, will we remember
our simple things together

Tears, laughs, and dreams
hurt, happiness, and hope
there are too much process, so...
how we can forget you

'coz you are our father
you are our teacher
and you are our friend
in all of the time

well, despite not forever
we will be together
but we will always love you
and call you, our father

Lord, thanks for fulfill his life
with Your love
and lead us to share
Your kindness and grace...

'coz you are our father
you are our teacher
and you are our friend
in all of the time

well, despite not forever
we will be together
but we will always love you
and call you, our father





Jangan Lupa untuk Bahagia

Itu pesan penting yang kupelajari hari ini. Setelah tiga hari libur lebaran yang diwarnai melankolia akut, dan dua hari masuk kerja yang dihiasi perasaan tidak berdaya, sore malam ini kudapatkan penawarnya. Apakah itu? Sederhana, itu adalah sukacita atau kegembiraan yang sejati.

Bagaimana caranya? Ini beberapa hal yang kulakukan hari ini untuk mengembalikan suasana hatiku menjadi lebih ceria:
  1. Buka-buka laman daring dan baca-baca artikel di blog orang yang membuka wawasan, memberi ide segar untuk dipraktekkan.
  2. Menemukan satu tips mengatasi depresi yaitu melakukan hal-hal sederhana yang bisa dilakukan. Melalui hal-hal sederhana itulah Tuhan bekerja memulihkan semangat dan membangkitkan rasa keberhargaan diriku.
  3. Mencoba hal baru yaitu menyeterika sambil mendengarkan siaran radio yang muatannya lucu yaitu Geronimo FM. 
  4. Menemani dan mengikuti gerak lincah energi Asa yang ceria.
  5. Berbagi cerita dan canda tawa dengan teman-teman via grup WA (ARMY of God--Andin, Reza, Mimi, Yiska dalam Tuhan) yang ternyata sanggup mengangkat suasana hatiku menjadi lebih cerah.
Begitulah aksi kecil berdampak luar biasa (memijam istilah SABI--small action big impact--dari tayangan singkat di Sasando FM) yang kualami dan kubagikan untukmu, para pembaca yang baik dan terberkati. Mari berbahagia sambil mengingat bahwa diri kita begitu berharga karena dicintai oleh-Nya.

Minggu, 17 Juni 2018

Berbagi Proses Kehidupan

Aku punya banyak kesempatan untuk berbagi kasih kepada mereka yang membutuhkan. Keterbatasanku adalah sikapku yang kaku.

Sering kulihat orang berpakaian kumal dengan rambut acak-acakan, kulitnya dekil seperti sudah lama tidak mandi. Pandangan matanya kadang kosong, kadang menerawang jauh. Mulutnya sibuk berkata-kata sendiri, entah apa yang diucapkannya. Bukan satu dua saja orang seperti itu. Mereka ada beberapa. Entah dari mana asalnya dan hendak ke mana. Sering aku heran, di mana keluarga mereka. Mengapa mereka terpisah dari keluarga? Apakah keberadaan mereka sudah tidak dianggap lagi oleh orang-orang terdekat? Ataukah keluarga mereka sudah tidak sanggup lagi hidup bersama orang yang terjebak dengan dunianya sendiri?

Namun di tengah hangatnya keluarga pun, sering pula kujumpai tatapan mata menerawang jauh dari mereka yang menyimpan duka. Duka akibat luka kehidupan yang belum kunjung sembuh. Sejarah luka-luka itu membuatku ngilu. Dalam diam kuperhatikan orang-orang terluka itu saling menyemangati. Meskipun tidak jarang mereka saling melukai juga. Aku tahu itu tidak mereka sengaja. Mereka hanya ingin melindungi satu sama lain.

Di tengah kepedihan itulah aku berada. Aku pun tidak luput dari sejarah yang penuh luka. Hampir saja, kalau bukan karena kemurahan Tuhan melalui keluarga, aku menjadi seperti orang-orang berpakaian kumal yang tercampakkan. Syukur pada Tuhan, Dia menjagaku dengan amat sangat dan memulihkanku seperti seorang penjunan yang telaten memperbaiki bejananya. Kepingan demi kepingan kehidupanku dirangkai-Nya sehingga menjadi suatu karya yang unik. Dan aku tahu Dia masih terus bekerja memulihkan kehidupan. Dimulai dari hatiku yang paling dalam, kemudian mengalir menjangkau sekelilingku, dari yang terdekat--yaitu keluargaku.

Sikap kaku yang membatasi gerakku pun dibuat-Nya melunak sedikit demi sedikit. Kecenderungan menghakimi dan merasa paling benar sendiri dirombak-Nya, dengan kerja sama dariku tentunya. Firman dan kuasa Roh-Nya membimbingku selangkah demi selangkah. Kasih-Nya yang kuat terus mendorongku untuk maju. Sungguh proses yang panjang dan keras untuk mengubah karakterku.

Dan proses itu pun masih terus dan akan terus berjalan. Sampai kapan? Sampai Dia memanggilku kembali atau sampai Dia datang untuk yang kedua kali. Bagianku adalah terus berproses bersama-Nya. Dan momen-momen berkesan dari proses itu pun kubagikan melalui tulisan seperti ini. Aku hanya bisa bersyukur dan berdoa supaya apa yang kubagikan ini dapat bermanfaat dan menjadi penyemangat bagi sesama bejana yang diproses Tuhan.

Mari kita sama-sama bersyukur atas proses hidup yang semakin mengutuhkan ini.

Syukur pada Tuhan.

Sabtu, 16 Juni 2018

Oleh-oleh Mudik: Pengharapan di Tengah Keluarga

Tiga hari ini, kami seisi rumah Cahaya pergi ke Solo. Mudik. Ziarah batin. Mengikuti tradisi penuh makna masyarakat Indonesia pada umumnya. Di tengah-tengah tahun 2018 yang sibuk dan penat oleh upaya efisiensi dan promosi tempat kerja, ritual mudik ini cukup menjadi oase bagiku. Ziarah batin ini cukup memberiku kesegaran baru dalam hidup yang penuh warna dan dinamika.

Ada banyak hal yang patut disyukuri. Dan ada beberapa hal yang menjadi catatan bagiku. Patut disyukuri karena hal-hal tersebut menerbitkan sukacita tersendiri dan rasa kagum yang amat dalam terhadap Tuhan. Sedangkan yang menjadi catatan adalah hal-hal yang masih menjadi keprihatinan pribadi dan bersama.

Berikut ini adalah hal-hal yang patut disyukuri:
1. Disambut dengan hangat dan mesra penuh kasih sayang oleh keluarga di Solo.
2. Menyaksikan demonstrasi kasih dan pengabdian yang luar biasa antara bapak dan ibu Solo.
3. Mengalami dan merasakan suasana guyub di kampung Gremet saat bersalam-salaman.
4. Perjalanan yang menyenangkan dan selamat sampai tujuan ke Purwodadi.
5. Beramah tamah dan menyelami keluarga besar di Purwodadi.
6. Mengalami momen-momen kecil sederhana yang menghibur hati

Sedangkan beberapa catatan yang menjadi perhatian dan pergumulan adalah sebagai berikut:
1. Masing-masing pribadi memiliki kepedihannya sendiri yang jarang terucap.
2. Keprihatinan terhadap situasi keluarga besar yang sarat beban

Di atas semuanya itu, aku sangat terberkati karena aku melihat dan merasakan betapa Tuhan selalu hadir dalam keluarga. Kehadiran-Nya dapat kusaksikan dalam suasana kebersamaan nan hangat keluarga besar. Kasih sayang dan perhatian yang dicurahkan membuatku yakin dan makin teguh percaya bahwa masih ada pengharapan. Ya, masih ada pengharapan di tengah dunia yang makin suram kelam ini. Dan sungguh masih ada pengharapan bagi keluarga-keluarga yang mengalami masa-masa krisisnya masing-masing.

Syukur kepada Tuhan sang pemelihara keluarga.

Selasa, 12 Juni 2018

Saat Teduh yang Memulihkanku

Beberapa hari ini aku merasa tidak karuan. Serbuan perasaan minder dan tidak layak mengacaukan fokusku. Perasaan tidak mampu dan tidak berdaya hampir saja melumpuhkanku. Kompensasi dari semua energi negatif yang kurasakan itu adalah aku jadi gampang marah-marah terhadap Asa.

Kucoba meminta pertolongan kepada orang-orang terdekatku, baik itu secara terang-terangan ataupun tersembunyi. Kusampaikan keluh kesahku dengan bahasa yang sederhana kepada mereka. Kasih dan perhatian kudapatkan saat itu juga. Namun aku merasa belum sepenuhnya lega.

Sore hari ini, diiringi semilir angin sepoi-sepoi basa, kuambil waktu teduh nan hening. Kumasuki kamarku dan duduk. Kubuka hati dan pikiranku untuk menyapa Tuhanku. Sungguh indah. Tuhan pun menyapaku. Kami saling berpaut hati. Kembali kurasakan kasih-Nya yang manis di jiwaku.

Firman dan doa sederhana yang kunikmati ternyata sanggup mengangkatku dari kekelaman. Dan inilah impresi yang kutulis untuk menggambarkan betapa Dia mengasihiku.

"AKU merindukanmu, sahabat-Ku... engkau berharga di mata-Ku dan Aku mengasihimu... gapailah kasih-Ku... Aku mengasihimu dengan kasih yang kekal, dan Aku hendak melanjutkan kasih-Ku itu..."

Terima kasih, Tuhan. Aku sungguh bersyukur. ^^