Sabtu, 31 Januari 2009

For The Gath...

Ternyata aku tidak salah...
kupikir ada yang salah denganku...
ternyata bukan aku yang salah...
ternyata memang orang itu tidak di tempat yang sama denganku...
masih jauh di seberang sana rupanya...
pantas saja setiap ucapanku tidak disetujuinya...
padahal aku berbicara benar sesuai dengan yang kuketahui dan kupercaya...
ternyata memang aku tidak salah...
hanya orang itu yang belum mengerti...
karena dia masih di seberang sana...
tapi bukan kebetulan kami ketemu di dunia maya...
semua karena rencanaNya yang ajaib...
aku pikir dia juga sudah termasuk anakNya...
ternyata belum...
aku terselamatkan dari pikiran yang menghakimiku...
terima kasih Roh Kudus...
terima kasih buat karunia membedakan ini...
terima kasih buat keberanian yang Kau beri...
sehingga aku bisa menuliskan apa pun yang harus kutuliskan...
semuanya demi kemuliaanMu, Bapa di surga...
terima kasih banyak...
I love You...
Haleluya...
Amin...

Teman Sejati

Kembali aku duduk di depan meja belajarku yang nyaman. Maksud hati hendak menuliskan sesuatu yang penuh makna. Tapi sepertinya belum ada cukup embusan inspirasi dari Sang Sumber. Tidak mengapa. Akan aku tuliskan apa pun yang terlintas di kepalaku.

Aku sedang memikirkan teman-teman lamaku. Entah kenapa aku tiba-tiba memikirkan mereka. Aku ingin sekali bermain dan ngobrol-ngobrol bersama mereka. Jadi teringat beberapa waktu yang lalu, saat aku sedang kosong sehingga manikku kambuh dengan suksesnya. Teman-temanku berdatangan ke rumahku dan kami menghabiskan waktu-waktu yang berkualitas bersama-sama. Apa aku harus manik lagi supaya mereka datang kembali? Tidak kan?

Aku sekarang mempunyai teman-teman baru yang mengiringi langkah kakiku di rimba raya koas ini. Meskipun belum terlalu akrab seakrab teman lama, aku bersyukur karena kehadiran mereka setidaknya mampu mencerahkan hari-hariku yang tadinya nampak kelabu. Aku bersyukur karena akhirnya lembah kekelaman itu berubah menjadi lembah pujian. Setiap hari saat aku berangkat ke tempat koas aku selalu menanamkan dalam hatiku bahwa aku sedang berjalan ke Rumah Tuhan. Memikirkan hal itu setidaknya dapat meringankan bebanku. Haleluya.

Bicara tentang teman, aku sellau diingatkan bahwa aku selalu mempunyai Satu Teman Sejati yang tidak pernah meninggalkan maupun mengecewakanku. Siapa lagi kalau bukan Sang Sumber, Bapa Surgawi, Yesus Kristus sendiri? Aku adalah manusia yang paling beruntung dan sudah selayaknya bersyukur akan kebenaran ini. Temen-teman boleh datang silih berganti dan meninggalkan kenangan manis maupun pahit. Tetapu Teman Sejati itu selalu ada bersama-sama denganku saat suka maupun duka, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Kurang apa lagi coba? Dan aku ingin semua orang mengalami apa yang kualami bersamaNya ini... Amin...

Minggu Ini dan Minggu Depan

Hari ini hari terakhir aku menjalani stase THT... hari terakhir pula di bulan Januari 2009... cepat ya waktu berlalu... tadi pagi jam 10.00 WIB, aku dan temanku Dewang menjalani ujian lisan THT bersama Dr. dr. RM. Tedjo Oedono, SpTHT (K) dengan hasil yang acak adul... aku yang kurang banget belajarnya, karena lagi2 ketiduran, terpaksa plonga plongo aja waktu nggak bisa njawab banyak pertanyaan dasar yang sederhana... Dewang juga begitu, meskipun dia lebih banyak menjawab... Walhasil, kami dikasih PR untuk dikumpulkan minggu depan... Terima kasih banyak, dok... Hehe...

Hari ini aku nggak ke gereja karena nggak siap... belum mandi, belum berdoa... mungkin minggu depan aja kencan bersama Tuhan di gerejanya... minggu depan aku sudah masuk stase IKM... gak tahu bakalan gimana... apakah aku mau jadi chief? Mmmm... entahlah... aku mau berdoa dulu untuk itu supaya aku mendapatkan kemantapan hati... IKM yang cuma dua minggu ini sepertinya bakalan sibuk banget... tapi sepertinya juga bakalan menyenangkan karena bakalan bisa jalan2... hehe...

Overall, hidup ini indah dan semakin indah saja kelihatannya... Lembah kekelaman berubah menjadi lembah pujian... dan hari depan yang penuh harapan semakin dekat saja kusongsong... hehe...

Jumat, 30 Januari 2009

Buku Rahasia

Hujan kembali turun. Alunan musik surgawi memenuhi kamarku dan memberkati hatiku. Setelah melakukan ritual doa-pujian-penyembahan yang tidak terlalu "dahsyat", aku merasa seperti disegarkan dan dipuaskan kembali. Terutama setelah aku menuliskan doa bagi dua jiwa yang terhilang, yaitu W dan B, di buku doa khususku.

O iya, aku akan bercerita tentang buku doaku itu. Begini. Aku punya dua buku doa rahasia, yang hanya aku dan Tuhan saja yang tahu apa isinnya. Buku yang satu berwarna merah dan yang lainnya berwarna hijau. Rencana awalnya sih buku merah untuk mendoakan bangsa dan negara Indonesia sedangkan buku hijau untuk mendoakan Israel jasmani dan rohani. Seiring dengan berjalannya waktu, karena jarang mendapatkan mood untuk mendoakan bangsa, negara, dan Israel, maka tujuannya pun menjadi sedikit bergeser. Buku merah menjadi buku khusus untuk mendoakan jiwa-jiwa yang belum kenal Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat pribadinya sedangkan buku hijau menjadi buku khusus untuk mendoakan mereka yang sudah di dalam Tuhan. Puji Tuhan, sampai sekarang aku masih mengisi kedua buku tersebut kalau Roh Kudus menggerakkanku meskipun tulisan tanganku semakin acak adul.

Bagaimana? Cukup menyenangkan ya punya buku rahasia... jadi berasa seperti orang penting... Pertanyaannya, bagaimana jika suatu saat nanti rahasia-rahasia dalam dua buku tersebut terbongkar? Apa kata dunia? Bakalan goncangkah dunia ini? Hehe... berlebihan ya... atau mengikuti istilah anak zaman sekarang: Lebay!!!

Yang pasti, aku beriman bahwa apa pun yang aku tulis di buku rahasia merah dan hijauku itu tidaklah sia-sia. Tuhan mendengarnya dan menjawabnya seturut hikmat dan waktuNya yang ajaib. Jadi, buat apa bingung dan susah? Serahkan saja segala uneg-uneg dan kekhawatiran kita sama Dia yang memiliki hidup, maka segala jalan kita akan diluruskan, termasuk jalan pikiran kita yang sering kacau balau. Setuju? Ada amin?

Segala kemuliaan hanya bagi TUHAN, Jehova Tsebaoth... Haleluya!!!

No Title--about prayer

Akan kucoba menuliskan sesuatu di sini... ya, di sini... Setelah sekian lama aku tidak memuji dan menyembah Tuhan secara pribadi, rasanya sulit untuk sekedar masuk dan menikmati hadiratNya.... menyelami isi hatiNya... Seakan ada semacam selubung yang memisahkan aku denganNya... Maka aku akui dosaku yang sering kulakukan tanpa rasa bersalah itu... Karena aku ingin merasakan kembali kasih mesraNya itu...

Oh Bapaku yang baik.... maukah Engkau menerimaku kembali? Masih maukah Engkau menyambutku untuk yang kesekian kalinya setelah aku meninggalkanMu sedemikian rupa?

Kutorehkan isi hatiku di sini karena aku sungguh merindukanNya, kekasih jiwaku, Sahabat sejatiku... Bilakah aku merasakan hadirMu kembali?

Bapaku... oh Bapaku...

After a few moment...

Akhirnya jiwaku tenang dan aku dapat berdoa kembali... AKu kembali merasakan imanku bertumbuh dan kuyakini TUHAN mendengar doa syafaat yang kunaikkan bagi jiwa-jiwa yang terhilang... Lebih dari rasa puas, yang kurasakan saat aku kembali memenuhi panggilan kudusNya dalam hidupku...

Terima kasih, Bapa, Engkau sungguh dahsyat... Haleluya...

Cemburu Itu

Hari telah beranjak semakin malam. Aku kembali duduk menekuri meja belajar yang telah setia menemaniku selama ini. Di meja itulah aku eprnah tertawa dan menangis, mencurahkan seluruh isi hatiku baik secara lisan maupun tertulis kepada Sang Bapa. Benar-benar meja yang penuh kenangan. Bahkan mungkin sudah lebih dari sekedar meja, lebih merupakan sebuah altar atau mezbah untuk berdoa. Ya, mezbah doaku adalah meja belajarku.

Pagi ini, di meja belajarku, aku mencurahkan isi hatiku secara jujur kepada Tuhan Yesus. Isi curahan hatiku itu tentang rasa cemburuku terhadap seorang temanku, atau lebih tepatnya adik kelasku, yang selama ini tidak pernah memperhatikanku meskipun aku sangat memperhatikannya. Bisa dibilang aku mengalami apa yang namanya bertepuk sebelah tangan. Ditambah lagi temanku itu sepertinya sedang dekat dengan orang lain yang tidak kukenali dengan baik. Klop sudah. Aku benar-benar cemburu.

Ketika aku sudah menyerahkan seluruh isi hatiku termasuk rasa cemburuku kepada Tuhan, aku mendapatkan penghiburan. Penghiburannya adalah sebagai berikut. Ternyata Tuhan juga pernah mengalami yang namanya cemburu. Cemburu yang dirasakanNya jauh lebih dahsyat lagi. Namanya cemburu ilahi. Bagaimana mungkin Allah yang penuh kasih itu bisa merasakan cemburu juga? Menurutku begini penjelasannya. TUHAN telah menciptakan manusia serupa gambaranNya dengan satu maksud atau tujuan, yaitu untuk bersekutu denganNya. Karena TUHAN itu adalah kasih, maka Dia memberikan menusia kehendak bebas untuk memilih, apakah mau menyembahNya secara sukarela atau tidak. Prinsip Tuhan adalah tanpa paksaan. Dan seringnya, manusia itu memilih untuk menduakan TUHAN. Bisa dibayangkan tidak bagaimana perasaan TUHAN?

Manusia menduakan Tuhan dengan berbagai macam cara misalnya dengan menyembah allah lain, mengandalkan kekuatan lain, terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, dsb. Dalam kasusku, aku mungkin telah menduakanNya saat aku terlalu terobsesi dengan temanku itu tadi. Terlalu terobsesinya aku sehingga ketika kudengar suaraNya yang lembut tapi tegas untuk melupakan temanku itu beberapa waktu yang lalu, aku tidak langsung menanggapiNya dan terus saja asyik dengan harapan-harapan yang kubangun sendiri. Hasilnya? Ya, aku akhirnya mengalami cemburu buta yang menyakitkan. Cemburu manusiawi yang sangat jauh levelnya dari cemburu ilahinya Tuhan. Sungguh memalukan.

Saat ini aku sedang menata kembali hatiku supaya aku bisa tenang dan bisa kembali berhubungan secara intim dan akrab dengan Tuhan. Rasa sakit yang kurasakan akibat cemburu itu pun berangsur-angsur mereda saat kualihkan fokusku padaNya. Aku tidak lagi mengharapkan yang tidak masuk akal. Aku serahkan kembali harapanku kepada Tuhan Yesus. Dan akhirnya, di sinilah aku berada. Kutuliskan semua ini selain untuk latihan menulis juga sebagai pengingat akan bahayanya rasa cemburu yang merusak. Cukup sudah kebodohanku itu sampai di sini. Sekarang aku mau berbalik pada TUHAN dan hanya mengharapkan kasih setiaNya saja.

Terpujilah TUHAN yang telah menjaga hatiku dan menarikku kembali ke dalam hatiNya yang kudus itu. Haleluya!!!

Sekelumit Tentang Masa Depan

Meskipun sedang nggak ada inspirasi, akan kucoba untuk menuliskan sesuatu... tapi apa ya? Mmmm... tentang cinta? tentang persahabatan? tentang Tuhan? Hehe... bingung nih... mau sok2an juga wagu jadinya... oke deh, tentang masa depan aja... here we go...

Tadi waktu konsul ke dokter Mahar, ditanyain lagi tentang masalah yang dihadapi... pertanyaan yang standar dan itu2 aja... aku jawab aja dengan jujur kalo aku lagi bingung besok sehabis lulus koas mau ke mana... aku ceritakan aja bahwa aku nggak pingin praktek... dan dokter Mahar kasih sedikit pencerahan sepengetahuan beliau, yaitu bahwa dokter itu nggak harus praktek untuk bisa kerja... hehe... bingung? Maksudnya gini, kerjaan seorang dokter atau seseorang dengan titel dokter itu nggak harus praktek atau menghadapi pasien... Dokter Mahar sendiri yang seorang spesialis jiwa lebih banyak mengajar dan mengikuti rapat daripada menghadapi pasien... terus ada juga orang dengan titel dokter yang ahli dalam bidang manajemen (Pak Coco), ahli dalam pasien safety (Pak Iwan), dan ahli dalam pendidikan (lupa namanya). Hmmm... interesting... cukup mencerahkan... terima kasih, Pak...

Aku emang lagi mencari-cari di mana sebenarnya letak kekuatanku... dari buku yang lagi aku baca, kalo aku sudah menemukan letak kekuatanku dan berfokus pada hal2 yang menjadi kesenanganku, maka hidupku akan menjadi penuh dan bahagia... masalahnya, aku masih belum menemukan dengan pasti apa yang sebenarnya menjadi kesukaanku... Aku suka apa ya? Membaca, menulis, berdoa... main musik nggak terlalu suka, cuma bisa aja dan itu pun standar2 aja... yang jelas, aku suka mendengarkan orang yang curhat atau berkeluh kesah dan diam2 mendoakan mereka... sukur2 aku bisa berdoa bersama mereka... kata mbak Herfina sih itu cocoknya jadi konselor... tapi aku belum pernah tuh jadi konselor yang resmi... kalo nggak resminya sih sudah pernah sekali dua kali... Hmmm... konselor? sepertinya menarik... adakah ide lain?

Kamis, 29 Januari 2009

Sebuah Awal

Cuaca di luar mendung, akan turun hujan. Tapi tidak mengapa. Justru hujan akan meneduhkan jiwaku dan membuatku merasa nyaman. Seolah seluruh surga bersorak menyetujui apa pun yang aku perbuat. Dan bunyi gemuruh hujan lebat itu seolah suara tepuk tangan yang bergelora memberi dukungan padaku.

Aku sedang duduk tenang di kamarku yang nyaman. Lantai dua rumahku yang bisa dibilang besar dan indah. Aku sedang mencoba menuliskan apa pun yang kusukai, sesuai anjuran sesepuh penulis yang aku kagumi, Pak Stephen King. Aku sedang menanti embusan inspirasi dari sumber kreativitasku yang tertinggi, yaitu Sang Pemberi Hujan. Entah apa yang akan kutuliskan dan apa pun nanti hasilnya. Aku tidak begitu peduli akan hasil akhirnya, aku hanya ingin mencoba menikmati proses menulis yang kata si bapak tadi merupakan proses yang mengasyikkan.

Kembali terlintas di benakku akan satu kebiasaan yang dulu pernah dan sekarang sedang aku geluti dengan sangat antusias, yaitu berdoa. Bukan sembarang doa, melainkan doa syafaat yang penuih kuasa. Entah kenapa aku suka sekali berdoa. Mungkin karena faktor kepribadianku yang terbilang cukup introvert ini. Aku bisa curhat sepuasnya sama Sang Pencipta mengenai apa pun, mulai dari yang paling sederhana seperti sakit pilek yang sedang kuderita saat ini sampai ke hal-hal kompleks seperti konflik Israel dan Palestina di jalur Gaza sana. Aku suka menceritakan uneg-unegku yang paling pribadi seperti siapa orang yang sedang kutaksir, kubenci, bahkan siapa yang ingin kubawa kepada Sang Juru Selamat. Pendek kata, aku suka sekali sama yang samanya curhat, terutama curhat dengan Sahabat Sejati.

Selain curhat dengan Tuhan Yesus (ups, akhirnya kelepasan juga menyebut merk), aku juga suka sharing dengan teman-teman via chatting di internet. Entah kenapa kalau chatting aku bisa ngobrol panjang lebar. Padahal di dunia nyata aku ini dikenal sebagai anak yang pendiam, jarang sekali ngomong atau ngobrol. Aku jadi binggung sedikit, sebenarnya aku ini orangnya bagaimana sih? Mungkin aku bisa menilai diriku demikian: aku sebenarnya hangat dan punya "passion" untuk berbagi cerita dengan siapa saja tetapi terhalang oleh rasa malu dan kurang percaya diriku yang keterlaluan besarnya itu. Maka dari itu, aku sekarang punya target khusus untuk diriku sendiri. Apa itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah bagaimana membuat diriku sendiri bisa terbuka dan oercaya diri sedemikian rupa sehingga hasrat untuk berbagi cerita dengan sesama dapat tersalurkan.

Oke, masalah pertama sudah terpecahkan yaitu rumusan target jangka pendek. Selanjutnya adalah bagaimana mewujudkannya. Langsung menerobos tanpa ba bi bu, lihat keadaan, atau menunggu saat yang tepat? Hmmm... sepertinya semuanya tergantung bagaimana situasinya nanti, apa yang bakalan kuhadapi. Yang terutama adalah bagaimana keteguhan hatiku... Apakah aku akan langsung loyo atau nglokro saat situasi di luar yang kubayangkan sebelumnya? Misalnya, aku membayangkan akan bisa akrab dengan teman-teman yang selama ini jarang aku ajak ngobrol bareng. Terus ketika saatnya "tampil" tiba, aku jadi mati gaya dan mati kutu. Seperti itu... Apa yang bakal aku lakukan? Diam saja di sudut dan menanti lain kali? Ya kalau ada yang namanya lain kali... jalau tidak? Jadi seperti berjudi atau gambling saja ya... Yang jadi taruhan adalah sikapku sendiri yang sulit ditebak... Yang bertaruh adalah aku, Tuhan, dan entah siapa lagi yang berminat. Yang jelas aku dan Tuhan harus dipastikan ada di pihak yang sama supaya aku nggak mati komyol karena Tuhan adalah Masternya... (master of gambling? hehe)

Untuk itu, aku menetapkan hatiku mulai detik ini untuk benar-benar berserah dan mengandalkan diri pada The Master, The One and Only, Jesus Christ (lagi-lagi menyebut merk). Bukan klise, bukan... biar lebih afdol, aku mau buat pernyataan yang lebih resmi supaya berkesan tidak main-main...

"Dengan ini, saya, Yohana Puji Dyah Utami, mulai detik ini akan berserah total dan sungguh-sungguh percaya serta mengandalkan Tuhan Yesus sebagai sumber kekuatan satu-satunya dalam menghadapi hidup ini. Biarlah kiranya Tuhan Yesus, malaikat-malaikat, dan seluruh penghuni surga menjadi saksi deklarasi ini. Hanya di dalam satu nama saja deklarasi ini dibuat yaitu dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amen."

TTD


Yohana Puji Dyah Utami

Note: bagaimana? lumayan tidak untuk sebuah awal latihan menulis? Hehe...

Rabu, 21 Januari 2009

Praise and Worship

Aku kembali digelisahkan... aku gelisah akan hal ini... bagaimana menciptakan dan menumbuhkan atmosfer pujian dan penyembahan yang dapat memberkati dan dinikmati oleh jemaat Tuhan Yesus di kalangan GKJ... rasanya susah... rasanya mustahil... GKJ yang terkenal akan kurang gairahnya dalam memuji dan menyembah Tuhan dari hati.... atau mungkin karena kultur budaya orang Jawa yang terlalu mengekang ekspresi untuk memuji dan menyembah Tuhan dengan bebas dan lepas... atau mungkin karena adanya benturan kebudayaan antara timur dan barat yang masih belum bisa berjalan dengan mulus... masih kagok dan kaku... masih belum menemukan jati diri... masih mencari-cari bentuk yang pas dan sesuai dengan yang Tuhan mau...

O God... kapan ya jemaatMu di GKJ bisa memujiMu dengan segenap hati tanpa perlu takut salah atau diejek kanan kiri karena nggak bisa nyanyi, suara fals, ketukan gak tepat...dsb... dsb... bukankah memujiMu itu lebih dari sekedar lagu, lebih dari sekedar nyanyian, lebih dari sekedar yang kami lakukan di kebaktian tiap Minggu... bukankah memuji dan menyembahMu itu lahir dari hati yang rindu untuk mengasihi dan menyenangkanMu dengan segala yang ada pada kami... tapi mengapa rasanya begitu rumit padahal seharusnya sederhana saja... seperti ketika Daud memetik kecapinya... seperti ketika Daud menari sekuat tenaga... seperti ketika umatMu Israel merayakan kebesaranMu... O God, tidak bisakah umatMu orang Jawa ini juga memujiMu dengan hati dan bisa memberkati dan dinikmati? Tolong hapuskan gap kebudayaan yang memisahkan kami dari kasih karuniaMu itu, Bapa...

Ini seruan hatiku, jeritan jiwaku, karena aku rindu untuk memuji dan menyembah Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan bersama-sama dengna jemaat Tuhan di GKJ... memangnya cuma yang Kharismatik dan Pantekosta saja yang bisa dan boleh memuji dan menyembah Tuhan dengan segenap hati dan jiwa? No offense please... but it is the truth... Stop saling menghujat dan saling mengejek satu sama lain... yang sudah terbiasa dengan praise and worship di jemaatnya masing2, bersyukurlah dan doakan kami yang masih belajar dan mencari jati diri ini... dan buat saudara2 dan keluargaku yang ada di lingkungan gereja tradisional, janganlah berpikiran picik atau sempit, marilah kita melakukan introspeksi dan pembaruan yang dapat memuliakan namaNya...

segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus... maranatha!!!!!!!

Minggu, 18 Januari 2009

What A Nice Day

Besok sudah harus ke klaten lagi nih... nggak nginep... itu enaknya... masih bisa pulang ke rumah untuk ngenet dan membangun mezbah keluarga... Hari ini nggak ada mezbah keluarga soalnya tepar kecapekan habis dari Natalan Wiltima di Kebumen... Tadi sore ke rumah Om Fifi sama ibu karena katanya Om Fifi lagi sakit... ndengerin curhatnya Om Fifi tentang politik di Yakkum dan dunia rumah sakit yang penuh intrik... seru banget... aku pikir sakitnya Om Fifi itu karena ingin menyampaikan uneg2nya sama ibu... terus ibu kasih obat2 antihipertensinya... hmmm... what a nice day...

Lupakan...

Mencoba untuk melupakannya...
terasa sulit tapi harus kulakukan...
Terasa miris tapi memang demikian seharusnya...
Karena waktunya semakin dekat saja...
waktu kedatanganNya...
dan waktu2 penggenapan janjiNya...
tidak ada waktu untuk main2 lagi....
segala sesuatu yang tidak membangun dan hanya menghambat karyaNya harus disingkirkan... termasuk segala pikiran tentangnya...
Tapi aku akan tetap mengasihinya...
aku akan tetap setia mendoakannya...
sampai dia pun layak untuk menyambutNya...
sampai dia pun layak untuk ikut denganNya...

Selasa, 13 Januari 2009

Tujuan Hidup

Pencarianku baru dimulai... pencarian akan tujuan hidup... pencarian akan makna hidup... aku masih belum bisa merumuskan dengan pasti apa tujuan hidupku... aku masih belum menemukan di mana seharusnya aku berada... hal2 yang kusenangi... apakah itu... aku sedang mencarinya... aku sedang menyelidikinya... aku lakukan semua ini karena aku mengasihi Tuhan dan ingin membuatNya tersenyum melihatku... aku tahu bahwa Tuhan tersenyum saat aku tahu apa yang aku lakukan dan aku melakukannya dengan senang hati... begitu sederhana dan mudah untuk dikatakan... semoga tidak terlalu sulit untuk dilakukan dan diwujudkan...

Saat ini aku sedang berada di lembah bayang2 maut... aku percaya sebentar lagi atau entah kapan aku akan berada di gunung kemuliaan... sinar matahari sudah mulai kurasakan hangatnya... angin sepoi2 yang sejuk sudah mulai kurasakan... kicauan burung2 sudah mulai kudengar... nyanyian hati selalu mengiringi langkahku ke Rumah Tuhan setiap hari... dan di mana pun aku berada, aku selalu berusaha untuk terhubung dengan Tuhan... pendek kata, aku sedang belajar berjalan bersama Tuhan... supaya kalau sudah tiba waktuNya, aku nggak gagap atau kaget lagi... tapi aku sudah siap sedia dengan segala yang ada padaku... Ya, ini yang sedang kulakukan...

Hidupku ini sudah dirancang sedemikian rupa oleh Tuhan... bagianku adalah menemukan... menemukan apa yang sudah ditetapkan oleh Tuhan bagiku... pekerjaan menemukan itulah yang dinamakan pencarian... pencarian akan tujuan hidup... sama nilainya dengan pencarian akan Tuhan... suatu tugas yang suci dan mulia... akan aku lakukan dengan segenap hati sampai ketemu... kalau toh tidak ketemu juga, minimal aku sudah berusaha dan berada di jalan yang benar... yeah, jalan kehidupan... Yesus Kristus sendiri yang mengajarkanku... hehe...

Sabtu, 10 Januari 2009

Hatiku, Hatimu, dan HatiNya

Hati ini benar2 licik, selicik ular beludak... dalamnya siapa yang tahu... riaknya siapa yang menyangka... sekali waktu dia tertarik pada seseorang, di waktu yang lain berganti ke orang lain... hati ini sering berkhianat sedemikian rupa... sering sekali mengalami jatuh cinta... sering juga mengalami patah hati... hanya Satu yang tahu bagaimana isi hati yang terdalam... bahkan melebihi diriku sendiri yang terdekat...

Hati yang licik...
Hati yang rapuh...
Hati yang penuh misteri...
Hati yang penuh tipu muslihat...
Hati yang mudah jatuh cinta...
Hati yang mudah patah...
Hati manusia...
Hatiku dan hatimu...

HatiNya...
Hati yang damai...
Hati yang penuh kasih...
Hati yang penuh sukacita...

mari masuk ke dalam hatiNya dan serahkan segenap hati kita kepadaNya... it is so good... yeah, it's good... trust Him forever and ever... amen...

Kamis, 08 Januari 2009

From Sista Mimi to Bro JC

Senangnya hati ini... hari ini terasa begitu sempurna... entah kenapa... meskipun aku merasa dicuekin sama temanku, aku merasa beruntung karena aku masih punya Teman yang nggak pernah sekalipun nyuekin aku... yang ada adalah aku yang sering nyuekin Dia karena terlalu asyik mikirin yang lain... hehe... maaf ya, Bro JC... panggilan sayangku untuk Temanku, Bro JC... My beloved Prince of Peace, Lord of lords and King of kings, Jesus Christ... Akhir2 ini aku sering membuatNya cemburu karena aku membanding-bandingkanNya dengan temanku yang satu itu... nama mereka memang ada kemiripan, tapi tetep aja, Bro JC tiada bandingannya... hehe... aku benar2 beruntung dan merasa terberkati karena bisa mengenal Bro JC dan menjadikanNya TUhan dan Raja dalam hatiku... Bro JC adalah segalanya bagiku... penebusku yang hidup... kakak dan kekasih hatiku.... sahabat terbak yang kumiliki selama-lamanya... Oh haleuya...

Bro, makasih ya buat keluargaku... malam ini aku bisa merasakan secercah harapan dan sukacita saat kami berempat--bapak, ibu, Yoyo, dan aku--duduk bersama berdoa dan berbagi cerita yang saling menghibur dan menguatkan... jarang2 lho kami bisa seperti ini... ini semua karena jasa2 Bro JC... pemersatu keluarga... yang memulihkan hubungan antar anggota keluarga... sekali lagi terima kasih, Bro JC...

Dari sista Mimi