Minggu, 30 Juni 2013

Percikan Inspirasi: Dua Meskipun

Ada dua percikan inspirasi yang aku dapatkan hari ini sembari mencuci perkakas di dapur. Pertama, meskipun aku belum atau bahkan tidak pernah bisa merumuskan tujuan hidupku dengan tepat dan terperinci, aku akan tetap terus melakukan apa saja di hadapanku dengan hati yang antusias dan gembira. Itu berarti meskipun sampai akhir hayat aku akan terus meraba-raba, aku akan tetap menikmati rutinitas hidup sehari-hari karena itulah yang dikehendaki TUHAN. Aku tetap bersyukur karena meskipun mungkin aku tidak akan tahu persis apakah panggilan hidupku itu, aku tidak terjebak dalam ketidaksadaran massal dalam pekerjaan sehari-hari. Setidaknya, aku masih sempat 'eling lan waspada' akan siapa diriku dan ke mana seharusnya aku berada. Setidaknya, naluri elangku tidak terninabobokan oleh atmosfer lingkungan ayam.

Kedua, walau aku mendapat perlakuan kurang menyenangkan dan sering terkecewakan, aku akan tetap memandang bahwa TUHAN itu baik. Aku tidak akan latah dalam merenungkn kebaikan TUHAN. Aku akan memikirkan sungguh-sungguh dalam hal apa saja kebaikan TUHAN dinyatakan secara spesifik. Misalnya, meskipun di rumah dan di tempat kerja aku merasa kurang cakap dan menjadi ganjalan hati bagi sekelilingku, aku akan tetap optimis karena TUHAN masih memberiku kesempatan untuk belajar, bertumbuh, berubah, dan berbuah. Mungkin ini  bakalan tidak mudah dan sering muncul pada saat yang tidak tepat menurutku. Tapi, aku akan berusaha untuk disiplin meskipun harus menerjang rasa tidak nyaman. Akan tiba saatnya TUHAN mengujiku. Jika saat itu tiba, aku sudah siap.

Rabu, 19 Juni 2013

Iman bagi Pertanyaan Eksistensial

Ibrani 11: 8 (BIS)
Karena beriman, maka Abraham mentaati Allah ketika Allah memanggilnya dan menyuruhnya pergi ke negeri yang Allah janjikan kepadanya. Lalu Abraham berangkat dengan tidak tahu ke mana akan pergi.

Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Bapa orang beriman itu hanya pergi begitu saja tanpa tahu arah tujuannya, tanpa bisa merumuskan dengan jelas 'destiny'nya. Bagi TUHAN, itulah hakikat karunia iman yang sejati. Beriman berarti pasrah bongkokan pada sang pemberi iman itu sendiri. Ke mana Ia mengutus, ke situlah kita pergi. Tidak perlu kita tanya sampai memperoleh jawaban yang detil. Cukuplah kita tahu garis besarnya saja. Pegangannya adalah janji TUHAN atas hidup kita yang tidak pernah gagal. Bagian kita hanya percaya saja dan melangkah terus.

Kita akan tahu dan mengerti setelah kita melangkah dalam iman dan ketaatan. Kita akan memahami saat kita sudah sampai ke tujuan. Selama perjalanan, kita munbgkin masih meraba-raba dan mengira-ira. Tidak apa-apa, yang penting kita terus melangkah  di jalan-Nya. Meskipun belum mempunyai rumusan yang lengkap dan tepat mengenai tujuan hidup, kita beroleh penghiburan yaitu bahwa kita tidak sendirian dalam perjalanan ini. Kita bersama sang Imanuel, TUHAN sendiri, yang diam di dalam kita dan kita di dalam Dia. Ada tertulis bahwa penyertaan-Nya itu sempurna. Sempurna berarti tidak perlu diragukan, tidak perlu dipertanyakan, tidak perlu didebat. Dalam kesempurnaan penyertaan TUHAN itulah kita beroleh hikmat, wahyu, dan pengertian. Nikmati saja proses perjalanan panjang bersama TUHAN ini karena itulah bagian terbaik bagi kita.

Begitu juga dengan diriku. Begitu sering pertanyaan-pertanyaan eksistensial muncul yang membuatku menghentikan langkah. Bukannya salah atau tidak boleh bertanya-tanya, melainkan jangan sampai aku frustrasi jika jawaban yang jelas dan rinci belum juga kuperoleh. Semestinya aku bersandar terus pada Sumber Damai dalam hatiku bahkan juga sewaktu bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu. JIka aku mencoba sok kuat dan sok bijak dalam bertanya-tanya, entah apa jadinya. Syukur atas anugerah TUHAN yang menjagaiku seperti perisai! Dalam pergumulan pencarian jawaban itu, aku tahu bahwa perjalanan batinku tidak sia-sia karena adanya persekutuan yang erat dengan TUHAN. Sama seperti Yakub yang akhirnya diberkati menjadi Israel setelah pergumulan panjangnya dengan TUHAN, aku percaya demikian juga nanti aku akan beroleh 'sesuatu' yang membuatku terberkati.

Bagaimana dengan dirimu, kisanak sesama musafir? Adakah dirimu digelisahkan pula oleh pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti "siapakah aku", "dari mana aku", dan "hendak ke mana"? Jangan frustrasi! Kamu tidak sendirian! Aku di sini menemanimu. Mari kita jalani rute kita masing-masing dengan iman yang teguh kepada Sang Pembimbing Agung. Mari izinkan Dia menyatakan diri-Nya yang sejati kepadamu secara pribadi. "Jangan takut", itu kalimat favorit-Nya. Bersedialah dan belajarlah untuk mengenali pribadi-Nya. Izinkanlah Dia menjadi bagian dalam dirimu. Dan, saksikanlah bagaimana Dia menolongmu menjawab pertanyaan-pertanyaan dan pergumulan-pergumulanmu itu.

Mari... ^^

Pilihan Menjadi Dokter

Mengapa begitu banyak orang yang ingin menjadi dokter? Demi apa? Status? Kekayaan? Atau panggilan? Kepuasan? Di Indonesia, dan seluruh dunia pada umumnya, anak-anak kecil bercita-cita ingin menjadi dokter. Dalam benak mereka, dokter adalah pribadi yang luhur mulia. Jas putih yang disandang melambangkan kesucian dan kemurnian hati yang sigap menolong. Ketenangan hati dan ketajaman pikiran seorang dokter menjadi syarat utama kesembuhan. Obat-obatan dan tindakan medis menjadi sarana efektif di tangan dokter yang cakap. Berurusan dengan penyakit dan kondisi kritis merupakan makanan sehari-hari seorang dokter. Karena kemampuannya dalam mendiagnosa dan memberi terapi itulah banyak orang mempercayakan proses kesembuhan di tangan dokter. Tidak heran, profesi dokter masih dihormati dalam masyarakat sampai sekarang.

Ketika aku memilih profesi dokter sebagai bagian dari identitasku, aku melakukannya bukan tanpa sadar. Aku memilih dengan kesadaran bahwa profesi dokter dapat menjadi sarana efektif untuk pekabaran Injil. Pertimbangannya adalah bahwa masyarakat Indonesia masih sangat menghormati profesi ini. Apa yang dikatakan dokter akan lebih didengarkan daripada apa yang dikatakan pendeta. Apalagi jika yang disampaikan berkaitan dengan hidup mati seseorang secara harafiah. Dan dalam kondisi kritis seorang pasien, dokterlah yang memiliki akses paling dekat untuk mengabarkan Injil keselamatan. Masalahnya adalah ketika idealisme itu bertabrakan dengan pragmatisme dalam dunia kerja sehari-hari. Ketika diperhadapkan dengan kondisi 'suam-suam kuku', aku ditantang untuk ikut lebur atau bertahan dengan visi misi yang mendasari pilihanku atas profesi ini.

Ternyata, tantangan yang kuhadapi bukan hanya kondisi eksternal 'suam-suam kuku' saja. Faktor internal pun turut berperan. Rasa lelah, bosan, disorientasi, dan kemalasan sering menggodaku. Jika aku tidak waspada, aku bisa jatuh dalam 'padang gurun' pekerjaan rutin yang menjemukan. Saat berjumpa dengan pasien, keluarganya, dan rekan-rekan di tempat kerja bisa menjadi hambar dan mekanistik. Kemanusiaan memudar digantikan profesionalisme yang dingin. Pasien tidak lagi dipandang sebagai manusia seutuhnya, hanya merupakan seonggok diagnosa yang tercatat rapi dalam rekam medis. Motivasi semula menjadi agen kerajaan Surga terdistorsi secara perlahan-lahan. Api yang menyala-nyala meredup secara laten. Jika tidak ada sesuatu yang mengejutkan, mungkin aku tidak akan bisa bangun lagi.

(Disalin dari coretan buku Kiky hari Rabu, 19 Juni 2013, di belakang meja ladang anggur TUHAN di Yogyakarta)

Sekali Lagi Tentang Kegelisahan Kudus

TUHAN Yesus,
(Terima kasih untuk harta karun rohani yang kita temukan dan nikmati bersama melalui buah pikiran manusia dalam bentuk tulisan yang dibukukan)

Proses, perjalanan, pencarian kita masih berlangsung. Mengutip Paulus sang rasul, bukan seolah-olah aku sudah memperolehnya. Aku rindu dan ingin betul menemukan harta rohani yang Engkau taruh supaya kutemukan. Setelah ketemu, akan kuamati, kugosok-gosok, kupoles, kuasah, kubentuk hingga menjadi sebongkah berlian rohani yang cantik dan mahal. Apapun itu, akan kucari dan kukejar sampai ketemu.
Aku mencari hikmat terdalam, pengetahuan tertinggi, kesadaran diri yang sejati yang sudah kudapatkan dalam-Mu, Yesus. Aku sedang berproses membuka bungkus kado selapis demi selapis. Aku akan buka terus bungkusan itu sampai kudapatkan intisari anugerah-Mu. Akan kutuliskan perjalanan ini, entah panjang entah pendek, entah sampai kapan, entah sampai menemukan atau tidak. (Karena aku tahu apa yang kulakukan ini tidaklah sia-sia).
Dan, perjalanan itu dimulai sekarang. (Terima kasih, TUHAN Yesus, atas bimbingan dan penyertaan-Mu selalu). Sambil mengintip jendela perjalanan orang lain, aku akan melakukan cek dan ricek, menginventarisasi, perjalananku sendiri (bersama-Mu).

Terkadang aku begitu menggebu-gebu mencari "sweet spot" dengan segenap "passion", tapi sering pula aku hanya menikmati apa yang ada. Aku paling tidak nyaman dengan kehilangan orientasi manakala mengerjakan tugas-tugas rutin hampa tujuan (metawork). Jiwaku senantiasa gelisah dengan "sense of destiny". Hal itu diterjemahkan dengan pertanyaan-pertanyaan "siapakah aku?", "dari mana aku datang?", dan "hendak ke manakah aku?" dengan berbagai macam variasinya sesuai konteks. Apakah aku sudah menemukan jawabnya? Kadang sudah, kadang muncul lagi pertanyaan itu sebagai perjalanan yang harus kulanjutkan lagi. Hal itu semacam perhentian-perhentian atau pos-pos kehidupan yang hanya untuk sementara saja kusinggahi. Itulah mengapa aku kadang gelisah dan hilang kemapanan.

(Ditulis pada hari Selasa, 18 Juni 2013 di gudang buku Ladang Anggur TUHAN di Yogyakarta)

Minggu, 16 Juni 2013

Asa Sakit

Asa sakit. Aku malah tertidur lama. Syukurlah ada ibu yang masih sigap menolong. Tapi, tetap saja ini tidak baik. Secara wang sinawang pun tidak. Bukankah aku adalah ibunya Asa? Seharusnya, akulah yang ambil tanggung jawab terbesar untuk menolong dan menghibur Asa, bukannya melimpahkannya pada ibu dan Lek Sar. Meskipun, aku menginap di Pelem Kecut dan di sini adalah kesempatanku untuk beristirahat dari capeknya mengasuh bayi. Aku kudu mengingat kembali janji dan komitmen yang pernah kubuat perihal tugas dan tanggung jawabku sebagai ibu. Aku pernah berjanji pada TUHAN untuk menjadi ibu bagi Asa dengan segala hak dan kewajiban istimewanya. Itu berarti, aku harus siap kehilangan jam-jam tidurku yang nyaman itu. Aku harus rela mengantuk ria manakala Asa rewel minta digendong saat hari sudah larut malam atau masih dini hari. Selama ini, aku masih terlalu mengandalkan kehadiran dan kesediaan mereka-mereka yang ada di dekatku untuk menolong Asa. Syukur masih ada, kalau sudah tidak ada bagaiamana? Sebelum kena batunya, aku mau bertobat terlebih dahulu. Ya, aku bertobat dari kemalasan dan keenggananku untuk menolong Asa. Aku akan kerahkan segenap kekuatan dan kemampuanku, sebisa mungkin, untuk menjadi ibu yang dapat dibanggakan oleh Asa. Kapan? Sekarang! Bukan besok, bukan nanti.

Sekarang Asa lagi tidur, kecapekan setelah semalaman menangis kesakitan. Dalam tidurnya Asa ini, aku akan lebih sering berada di dekatnya untuk siap siapa terhadap semua kebutuhannya. Ini kulakukan bukan karena takut dimarahi atau dicap sebagai ibu yang tidak becus mengurus anak, melainkan karena aku mengasihi TUHAN dan Asa. Aku mengasihi TUHAN karena aku lebih dahulu dikasihi-Nya. Aku memerlukan anugerah TUHAN untuk bisa menjadi seperti yang TUHAN mau, termasuk menjadi ibu yang baik. Oleh karena itu, cukuplah tulisan ini sampai sekian. Aku akan segera melaksanakan tugasku.

Asa, ini ibu datang! Selamat tidur, selamat istirahat! Sembuh ya, Nak! TUHAN memberkati!

Sabtu, 15 Juni 2013

Utusan Khusus dengan Tugas Khusus

Perasaan atau kesadaran bahwa diri kita adalah 'utusan khusus' dan memiliki 'tugas khusus' itu penting. Hal ini menjadi motivasi intrinsik yang mendorong kita untuk menjalani hidup yang lebih bermakna. Dengan menumbuhkan kesadaran bahwa diri kita adalah benar-benar 'utusan khusus' dari surga atau Kerajaan Allah, kita akan memiliki rasa kebanggaan akan identitas. Kita akan merasa dimiliki. Kita akan dengan mudah mengeyahkan perasaan terasing atau terhilang.

'Tugas khusus' yang kita emban sanggup mendorong kita untuk bekerja di atas rata-rata, tidak biasa-biasa saja. Setiap hari, kita dapat memperbarui atau membentuk ulang 'tugas khusus' kita untuk membuat rutinitas sehari-hari menjadi lebih menantang. Misalnya, tugasku sebagai dokter yang ditempatkan di bagian rekam medis dan piutang ini. Karena setiap hari berkutat dengan hal-hal administratif yang tidak bersentuhan langsung dengan pasien, aku rawan untuk terserang rasa bosan dan disorientasi tujuan. Apalagi jika terlalu banyak atau terlalu sedikit tugas yang harus kukerjakan. Idealnya adalah cukup pekerjaan rutin untuk memberiku kesempatan mengembangkan potensi diri melalui hal-hal yang kusukai. Namun, sering kondisi ideal itu tidak terjadi. Ketika hal ini menimpaku, aku disodori pilihan-pilihan seperti hanyut larut dalam rutinitas sehingga melupakan orientasi mengembangkan potensi diri, atau tetap fokus pada tujuan dan hasrat semangat untuk menemukan jati diri dan mengusahakannya terbentuk sebagaimana mestinya. Karena TUHAN menganugerahi kehendak bebas, maka dengan penuh tangguh jawab, aku memilih untuk mereorientasikan ulang diriku manakala badai disorientasi tujuan itu melanda. Berbagai hal aku lakukan untuk membuatku tetap terjaga dan terfokus pada jati diri dan tujuan hidup yang TUHAN tetapkan.

Dengan meminta, mencari, dan mengetok, aku berusaha terus mendapatkan dan mempertahankan orientasi yang benar bagi diriku. Aku harus senantiasa mengingat, eling lan waspada, bahwa diriku adalah 'utusan khusus' dari Kerajaan Allah dan 'tugas khusus'-ku adalah berdiri teguh di mana TUHAN menempatkanku sampai kerajaan-Nya datang dan kehendak-Nya jadi di bumi seperti di surga.

Jumat, 07 Juni 2013

Metanoia


Ternyata aku masih melakukan metawork hari ini. Apa itu metawork? Dari bacaan spirit motivator dua hari yang lalu, metawork diartikan sebagai seolah-olah melakukan suatu pekerjaan padahal sebenarnya hanya pekerjaan semu. Dengan kata lain, metawork adalah nampaknya saja sedang bekerja tapi sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa. Tampaknya aku sedang sibuk berpikir dan menulis-nulis sesuatu, padahal sebenarnya apa yang kupikirkan dan kutuliskan itu tidak relevan dengan kehidupanku. Benarkah demikian? Tidak juga. Dalam berpikir itu, aku sedang berproses mencari dan belajar. Aku sedang mencari tahu kembali apa yang menjadi passion hidupku. Berarti selama ini aku ngapain aja? Terlalu sibuk dengan apa? Aku terlalu sibuk dengan hal-hal yang sekunder dan tersier mungkin. Aku terlalu asyik berlari ke sana ke mari tanpa mau berhenti untuk menekuni apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabku. Aku mungkin belum kena batunya lagi. Tapi apakah harus menunggu sampai kena batunya dulu baru aku sadar diri? Jawaban klisenya adalah TIDAK. Dari jawaban sangat klise itulah aku harus mencetaknya sehingga menjadi gambar warna-warni sejati yang indah.

Baiklah, aku cukupkan sekian untuk metaparagraf di atas. Sekarang aku harus masuk ke pokok masalah yang sebenarnya. Apa yang sebenarnya hendak kutulis di sini? Sekedar ingin membuktikan diri bahwa aku bisa menulis? Untuk mendapat pengakuan bahwa tulisanku bagus? Jawaban klise berikutnya adalah TIDAK. Mengapa aku suka menulis? Aku suka menulis karena dengan menulis itu aku bisa mendapat kelegaan. Sewagu maupun sebagus apapun tulisanku, aku tidak terlalu ambil pusing. Bagiku, merangkaikan kedua puluh enam alfabet adalah seperti permainan yang mengasyikkan. Melihat mereka tesusun berderet-deret menjadi larik-larik yang rapi dan terbaca itu membuatku terhibur. Rasanya seperti minum obat penenang jiwa. Bisa dikatakan, menulis adalah semacam katarsis bagi jiwa yang kalut oleh kerumitan filosifos eksistensialisme diri. Dan kesenangan itu hampir saja terdistorsi akibat penghargaan-penghargaan kecil yang membuatku hampir lupa diri. Aku hampir lupa bahwa menulis adalah kesenangan tanpa perlu diembel-embeli hadiah ataupun trofi. Menulis adalah kesukaan tanpa harus dikotori oleh keinginan menjadi juara atau yang terbaik. Menulis akan kehilangan keasyikannya jika aku tejebak dalam jerat kompetisi yang tiada akhirnya. Hal ini sebangun dengan kesenangan belajar yang terdistorsi oleh keharusan mencapai prestasi akademik yang gemilang. Aku pernah terjebak di dalam arus zaman itu, dan hampir saja aku terjebak kembali dalam jerat yang sama.

Tuhan layak menerima ucapan syukurku karena telah menegur dan mengingatkanku dengan cara yang lembut tapi tetap terasa sakit. Ya, namanya juga pemangkasan. Cabang kesombongan dan lupa diri yang baru mulai tumbuh itu dipangkas-Nya tanpa tedeng aling-aling. Sakit memang, dan biar sakit, supaya aku tidak terjatuh dalam belitan kesombongan lagi. Memang pada waktu dipangkas, rasanya sakit dan perih, tapi setelah beberapa waktu luka itu menyembuh. Cabang kesombongan diganti dengan tunas kerendahan hati yang sedang bertumbuh dengan manisnya. Disirami dengan air kehidupan yang murni dan sejuk segar, menjadikannya bertumbuh dengan optimal. Hatiku jadi bisa belajar dengan sebagaimana mestinya kembali. Hal-hal kecil dan sederhana menjadi bahan pelajaran yang memberkatiku dengan hikmat dan pengetahuan tiada terkira. Tuhan patut kuberi ucapan terima kasih seribu atas tindakan-Nya yang tepat dan cepat itu. Dan akhirnya, Tuhan layak menerima segala kemuliaan dan hormat dari lubuk hatiku yang paling dalam.

Memulai dan Menemukan Tujuan

Saat yang paling terasa berat adalah saat memulai sesuatu, misalnya saat hendak membaca, menulis, belajar, bekerja, dll. Rasanya seperti ada halangan tak terlihat yang menahan kita untuk sekedar beranjak dari stadium diam. Belum lagi jika stadium diam itu adalah kondisi jiwa terendah alias malas berbuat apa-apa. Diperlukan lompatan iman yang diikuti perbuatan yang nyata untuk merobohkan hambatan tak terlihat itu. Jika hanya lompatan iman, maka tidak akan terjadi apa-apa. Betul apa kata penulis Alkitab (kitab Yakobus) yaitu bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati. Untuk memulai sesuatu saja dibutuhkan iman dan perbuatan, apalagi untuk meneruskan secara konsisten sampai selesai.

Sesungguhnya, apa yang membuat kita malas dan tidak bersemangat? Mungkin itu karena kegagalan dalam menemukan passion yang tepat bagi jiwa. Hidup jadi asal mengalir saja, tanpa tujuan yang pasti. Kehidupan jadi tampak semu, karena hanya merupakan tiruan saja dari kehidupan sejati. Jika dibiarkan berlarut-larut, maka kita berangsur-angsur akan terjatuh (lagi) dalam jurang depresi yang kelam. Lalu bagaiamana? Apa yang harus kita lakukan? Berhenti, amati, renungi, resapi, dan dapatkan kembali semangat jiwa kita! Lawanlah kemalasan itu! Jangan menyerah! Kita belumlah kalah! Percayalah! Meskipun belum terlihat ujungnya, setidaknya kita tidak terjebak dalam kubangan depresi yang melumpuhkan.

Sesaat sebelum memulai sesuatu adalah saat yang paling berat. Tapi begitu sudah dimulai dan dijalankan, entah itu membaca, menulis, belajar, dan bekerja, rasa malas dan berat tahu-tahu sudah hilang entah ke mana. Yang ada hanyalah perasaan ringan seperti kereta api meluncur di atas relnya. Rasanya ingin terus menerus berlangsung, tidak ingin berhenti. Mungkin hukum kelembaman dan momentum berlaku di sini. Kita cenderung untuk mempertahankan kondisi kita saat ini, entah itu diam atau bergerak. Apapun itu, bergerak lebih baik daripada diam dalam kekelaman.

Setelah bergerak, satu hal yang harus kita lakukan adalah menentukan tujuan. Jika kita asal bergerak, kita hanya terjebak lagi dalam arus putaran waktu yang tidak menuju ke mana-mana. Kita hanya akan kehabisan tenaga dan hidup sia-sia. Aku mengistilahkannya sebagai hidup yang sia-sia. Oleh karena itu, diperlukan pikiran yang senantiasa terjaga dan awas. Pikiran yang terjaga itu akan mencari terus tujuannya sampai ketemu. Tujuan itulah yang menjadi dasar gerak kehidupan kita. Hidup menjadi penuh gairah, tidak lagi sia-sia.

Ada di manakah kita saat ini? Diam? Bergerak? Sudahkah kita menemukan tujuan kita? Sudahkah kita memulai melakukan sesuatu? Sudahkah pikiran kita hidup dan waspada?