Senin, 13 Desember 2010

Kemenangan Hari Ini, Once More!!!

Hari ini sungguh luar biasa. Aku mengalami kemenangan. Kemenangan yang sungguh indah. Aku menang terhadap pikiran-pikiran negatif dan bad mood yang merongrong jiwaku tadi siang. Bagaimana bisa? How come? Thanks to Jesus Christ, the Lord my God... and thanks to Mas Cah, me beloved one... Begini ceritanya... siapkan mata dan telinga anda untuk menyaksikan... ^^

Pulang dari Bethesda, aku merasa bahwa diriku adalah manusia paling dungu dan bego. Aku gak bisa berkomunikasi verbal dengan baik. Apa pun yang kulakukan tidak ada yang betul. Sangat-sangat tidak memuaskan. Aku merasa tidak dianggap ada. Aku merasa dipandang sebelah mata, atau bahkan mungkin tidak dipandang sama sekali. Aku merasa kecil dan tidak sehebat rekan-rekan sejawatku. Di antara semuanya, aku merasa akulah yang paling hina dina, paling miskin-buta -telanjang, paling memalukan, paling lemah daya pikirnya, dsb dll. Sehingga, aku menarik kesimpulan--entah benar entah salah--bahwa aku telah salah tempat. Tidak seharusnya aku berada di tempat di mana aku bekerja. Aku seperti keledai dungu yang dipaksa untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak kusukai sama sekali. Betapa menyedihkan. Makhluk paling malang sedunia, itulah aku.

Itulah pikiran-pikiran dan perkataan-perkataan negatif yang menyerangku bertubi-tubi. Akibatnya, aku jadi nggak bisa ceria. Maka, Mas Cah memutuskan untuk mengajakku jalan-jalan setelah beberapa saat duduk-duduk di ruang tamu rumah Pelem Kecut. Pertama-tama, kami jalan-jalan naik motor mau beli es krim tip top. Ternyata tokonya tutup. Kemudian sejenak melihat kondisi Kali Code yang semakin dangkal saja. Akhirnya, kami ke Galeria beli es krim coco top. Sambil duduk-duduk, kami makan es krim dan menikmati suasana yang ada di Galeria. Setelah puas makan es krim dan duduk-duduk, aku mengajak Mas Cah untuk sembahyang di Taman Doa GKI Gejayan. Di sanalah sesuatu yang indah terjadi.

Taman Doa GKI Gejayan. Sudah lama kami gak berdoa bareng di tempat ini. Aku mengambil satu alkitab milik seseorang yang tertinggal di lemari kaca. Kemudian kami duduk di kursi batu yang nyaman. Ngobrol ngalor ngidul. Kemudian, entah bagaimana mulainya, aku membacakan kitab Wahyu dan Mas Cah mendengarkan. Aku menikmati membacakan kitab Wahyu dan menerangkan sedikit-sedikit semua yang kutahu kepada Mas Cah. Mas Cah pun sepertinya menikmati juga penjelasanku. Puas dengan membaca satu dua pasal kitab Wahyu, kami pun mulai berdoa. Mas Cah berdoa terlebih dahulu, mendoakan kebutuhan-kebutuhan spesifik kami berdua. Saat Mas Cah berdoa, aku merasa sangat damai sejahtera. Aku merasa sangat tenang. Kemudian aku menyanyikan lagu El Shaddai dengan penuh perasaan. Rasanya terharu, sepertinya Tuhan ada di tengah-tengah kami (memang iya). Kemudian aku menutup dengan doa yang isinya hanyalah pujian pengagungan buat Tuhan Yesus. Sesaat sebelum doa berakhir, HPku berbunyi. SMS dan misscall. Musik ringtone "Refiners fire" seolah menjadi back sound doa kami. Doa selesai, kata amin terucapkan dengan mantap. SMS dan misscall kubuka, ternyata dari Pak Paulus yang memberi tahu bahwa besok Selasa aku mulai mengajar piano dari jam 15.00 sampai 18.30. Aku segera menelpon balik Pak Paulus dan menyatakan kesanggupanku. Benar-benar tepat waktu. Indah sekali.

Sebelum pulang, aku meminta Mas Cah untuk jalan-jalan lagi naik motor, menikmati suasana hati yang sudah diperbarui. Rasanya benar-benar luar biasa indah. Aku tidak lagi merasa sedih atau bad mood. Semua pikiran dan perasaan negatif itu hilang sirna, digantikan sukacita dan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Sungguh ajaib. Sampai di rumah, Mas Cah langsung pulang karena ada pekerjaan yang masih harus diselesaikannya.

Di rumah, aku menyetel DVD Hillsong, A beautiful Exchange. Aku berdiri dan menaikkan pujian dengan sepenuh hati. Rasanya dahsyat. Aku sangat menikmatinya. Tuhan benar-benar kreatif. Berbagai pikiran kreatif yang menyukakan hati membanjiri hati dan pikiranku. Menggantikan semua pikiran dan perasaan negatif sebelumnya. Siang sampai sore ini aku akhiri dengan mandi air dingin. Puas sekali rasanya. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Haleluya. Maranatha!!! ^^

Selasa, 07 Desember 2010

Bajawa-Ende, 6 Desember 2010--bukan tempat dan waktu penulisan






Hari ketiga. Bajawa, 6 Desember 2010. Pagi-pagi seperti hari yang sudah-sudah, Mimi Imut bangun, mandi, dan siap-siap. Kali ini rencananya mau ke RS Bajawa dan ke Dinkes. Makan pagi di hotel dengan menu yang cukuplah untuk mengganjal perut. Mimi imut pakai baju yang agak resmi sedikit, nggak sekedar kaos oblong. Bawahan tetap black jeans dengan sepatu kets yang sudah agak mendingan gak bau kecut. Ibu, Pak Heru, dr. Rahardjo, dan Pak Adi semuanya pakai batik. Wah, kompak ya. Seperti mau kondangan. Maklum, hari ketiga ini mau ketemu direktur RS Bajawa untuk membicarakan program sister hospital. Inilah inti acara kita selama ini, saudara-saudara. Jadi bukan hanya capek-capek hiking dan jalan-jalan! Hehe...

RS Bajawa. Rumah Sakit tipe C dengan kontur yang naik turun. Sister hospital. PONEK. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Mimi imut cuma mendengar segala sesuatu yang dibicarakan oleh rombongan secara sambil lalu saja. Solanya memang Mimi imut cuma penggembira di sini. Tugas Mimi imut hanyalah bergembira dan menikmati apa yang ada. Syukur-syukur disuruh memfoto. Hasil jepretan Mimi imut lumayan juga, gak goyang. Hehe... Tidak banyak yang bisa Mimi imut ceritakan di RS Bajawa ini. Semuanya serba teknis. Tapi Mimi imut cukup senang dengan acara jalan-jalan mellihat-lihat suasana RS Bajawa. Apalagi waktu pertemuan dengan direktur. Disuguh pisang goreng lho. Mimi imut makan satu. Enak. ^^ Pertemuan cuma berlangsung sekitar satu jam, seperti rencana. Agak molor karena harus menunggu ibu direktur yang lagi ada pertemuan juga di Dinkes. Hebat juga lho ibu direktur RS Bajawa ini. Coba Mimi imut lebih mengenal profilnya. Mungkin bisa diceritakan dengan lebih detil lagi di sini. Hasil pembicaraan semalam dengan dr Ririel dkk disampaikan di pertemuan dengan direktur ini, menjadi masukan yang berharga bagi RS Bajawa. Maju terus RS Bajawa!

Dari RS Bajawa, rombongan menuju Dinkes dengan diantar oleh mobil dan driver dari RS. Tidak terlalu jauh letaknya dengan RS. Kota Bajawa memang tidak terlalu besar. Cukup sejuk. Bahkan cenderung dingin. Maklum, di daerah pegunungan. Di Dinkes, rombongan disambut dengan hangat. Cuma sebentar, tidak terlalu lama. Jadi nggak sempat disuguh makan dan minum ^^. Jam 12.00 harus segera check out dari hotel. Pihak Dinkes pun memaklumi.

Tiba di hotel, Pak Markus dengan kendaraannya telah menunggu. Kami pun segera berkemas-kemas, siap kembali ke Ende. Sebelumnya, kami makan siang di RM Padang (lagi???). Lumayan... dari sini Mimi imut menyimpulkan, apapun daerahnya, selalu ada RM Padang. Mimi imut dan ibu kali ini membeli ransum untuk bekal kletik kletik selama perjalanan menuju Ende. Lumayan...

Karena kekenyangan, Mimi imut tidak bisa tidur selama perjalanan ke Ende. Walhasil, terjadilah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mimi imut mabuk darat. Wew... untung nggak sampai muntah-muntah. Cukup diatasi dengan tiduran di pangkuan ibu. Setelah puyeng di jalan, sampailah kami di Ende. Menginap di hotel Grand Wisata. Kali ini benar-benar kualitas hotel betulan. Hehe... Mimi imut dan ibu pun beristirahat dengan tenang. ^^

Nggak ada yang terlalu menarik untuk diceritakan selanjutnya. Jadi, mohon maaf kalau laporan perjalanannya diakhiri sampai di sini saja. Semoga bisa menghibur dan menjadi inspirasi bagi siapa saja yang membacanya. Next time better. GBU all!!!

Bajawa, 5 Desember 2010--bukan tempat dan waktu penulisan






Wuaaaa... Mimi imut kewalahan mau menuliskan perjalanan hari-hari selanjutnya di Flores, NTT. Setelah pengalaman hari pertama yang cukup melelahkan, capek di jalan, Mimi Imut pun tepar gak sanggup bangun untuk menunaikan tugasnya menulis di hari-hari berikutnya. Jadi, mohon maaf kalau tulisan kali ini tidak on the spot. Semoga masih hangat-hangat tahi bebek, maksudnya ceritanya masih cukup segar dalam ingatan dan kesan yang ditangkap Mimi Imut. Here we go.

Hari kedua. Tanggal 5 Desember 2010. Mimi imut bangun pagi-pagi sekali, mandi, dan siap-siap. Mau ke manakah gerangan? O rupanya rombongan Mimi imut mau berhiking ke danau Kelimutu. Jarak antara Ende dengan Kelimutu sekitar 2-3 jam perjalanan naik mobil. Untung mobil kali ini lebih akomodatif (baca: nyaman) dibandingkan mobil yang dipakai driver untuk menjemput dari bandara kemarin. Sopirnya pun ganti, bukan lagi om Ignas yang kurang banyak cerita (sopir kok gak banyak cerita ya ^^) melainkan Pak Markus yang lebih friendly dan lebih banyak cerita. Perjalanan menuju danau Kelimutu ditempuh dari jam 6-7 WITA. Tanpa ada banyak halangan dan rintangan (cuma beberapa bekas longsoran dan baru besar yang menutupi sebagian jalan, hiiii), kami pun sampai ke Kelimutu dengan selamat.

Kami jalan kaki dari parkiran mobil ke kawah tiga warna Kelimutu yang sudah sangat tersohor seantero dunia itu. Wah, jauh juga ya. Untung Mimi imut pakai sepatu basket yang cukup nyaman di kaki (meskipun setelah dilepas baunya kecut banget--kata ibu ^^). Perjalanan naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali pun dimulai. Mimi imut dan ibu bersama-sama berjalan santai sambil sebentar-sebentar foto-foto (padune mung pingin leren). Jalan setapak yang dilalui cukup bersih dan nyaman, nggak banyak sampah berceceran. Wisatawan yang mengunjungi lokasi pun nggak terlalu banyak. Jadilah perjalanan hiking ini terasa amat nyaman. Mimi Imut dan ibu berfoto-foto di dua danau pertama yang airnya sekarang berwarna hijau tosca. Sebelumnya, katanya, air yang di danau pertama berwarna merah hati. Tapi waktu Mimi imut dan rombongan tiba, airnya telah berubah warna menjadi hijau tosca. Kata orang, warna danau Kelimutu itu menunjukkan arti tertentu. Hmmm... menarik... menarik... Danau yang satu lagi baru kelihatan jika dilihat dari puncak, itu berarti kami masih harus melanjutkan hiking lagi... yah, pelan-pelan kami pun berjalan menuju puncak (kok seperti AFI ya? masih ingat AFI?). Sayang, Mimi imut dan ibu merasa kecapekan sehingga gak kuat sampai ke puncak. Beberapa meter dari puncak, Mimi imut dan ibu menghentikan perjuangan mereka dan cukup puas dengan melihat sekilas danau ketiga yang meminjam kata Pak Markus, berwarna cocacola... ^^ Saat itu kabut mulai turun... di puncak, katanya lagi, adalah tempat Bung Karno bersemedi sehingga mendapatkan rumusan Pancasila... wew...

Puas dengan memandangi danau Kelimutu dan berfoto-foto, rombongan pun turun gunung... di kaki gunung, dekat tempat parkir, kami duduk-duduk sambil jajan mie instan dan teh hangat, mengingat belum sempat sarapan di hotel... Sambil ngobrol-ngobrol dengan ibu-ibu penjual makanan, ibu berusaha menawar kain ikat hasil tenunan tangan untuk oleh-oleh... namun gagal... si ibu penjual tetap tidak mau menurunkan harganya... 1-0 untuk mama penjual... Gerimis turun rintik-rintik, kami pun pulang kembali ke Ende...

Di Ende, kami makan siang di RM padang (yang sudah jelas kualitasnya). Kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke Bajawa sekitar jam 13.00 WIB atau 14.00 WITA. Jarak Ende ke Bajawa sekitar 3 jam perjalanan naik mobil. Mimi imut banyak tidur di mobil seperti kebiasaannya selama ini ^^. Sehingga, tidak banyak yang bisa diceritakan di sini. Cuma sebentar-sebentar bangun. Yang jelas, awal perjalanan kami menyusuri pantai yang indah dan bersih. Kemudian mulai memasuki daerah pegunungan yang hijau asri. Berkelok-kelok, begitu terus selama 2-3 jam, bosan. Maka, lebih baik tidur saja. Hehe...

Sampai di Bajawa... kami menuju hotel Bintang Wisata yang katanya merupakan hotel terbaik di Bajawa. Masuk ke kamar, Mimi imut dan ibu beristirahat sebentar. Dan seperti sudah diduga sebelumnya, sepatu dan kaos kaki Mimi imut bau kecut. Untunglah, di hotel tersedia air hangat untuk mandi. Mimi imut lupa kronologis di hotel ngapain aja. Yang jelas, mandi dan siap-siap ketemu dr Ririel beserta rombongannya.

Jam 18.00 WIB atau 19.00 WITA, rombongan dr Ririel datang menjemput kami. Mimi imut cuma ikut-ikut aja acara makan-makan dan meeting yang dilaksanakan di restoran Camelia. Ibu sebagai team leader memimpin acara meeting yang berisi laporan dari dr Ririel dkk. Laporan itu pun dicatat dan dijadikan bahan masukan untuk pertemuan hari berikutnya dengan direktur RS Bajawa dan Dinkes. Meeting diakhiri dengan makan-makan. Mimi imut pesan nasi goreng ayam. Ibu pesan nasi goreng B2 yang katanya asin sekali.

Makan malam selesai. Rombongan pulang ke hotel. Istirahat. Jadilah petang dan jadilah pagi. Demikianlah hari kedua.

Sabtu, 04 Desember 2010

Ende, 4 Desember 2010 jam 18.00 WITA






Akhirnya, setelah tanpa proses yang rumit2 atau terlalu pikir panjang, Mimi Imut pun ikut juga pergi ke Flores dari tanggal 4 sampai 7 Desember 2010. Tanpa terlalu berharap yang muluk-muluk, Mimi Imut berangkat menemani ibu dengan satu tekad bulat yaitu untuk mendapatkan pelajaran berharga yang bisa dituliskannya sebagai oleh-oleh. Mimi Imut tidak berharap akan mendapatkan kenyamanan ataupun kemewahan selama perjalanan ke timur ini. Sebaliknya, Mimi Imut ingin memanfaatkan waktu yang ada untuk menyerap apa pun sebaik-baiknya supaya bisa membagikan sesuatu yang berharga, sekecil apa pun itu, melalui laporan tertulis tidak wajib ini. Dengan diiringi doa singkat yang tidak bertele-tele, Mimi imut pun berangkat dengan penuh rasa syukur dan percaya diri bersama rombongan. Mari kita ikuti bersama perjalanan Mimi Imut.

Pada hari Sabtu, tanggal 4 Desember 20101, di rumah Pelem Kecut, Mimi Imut terbangun dengan perasaan masih terkantuk-kantuk karena semalam tidurnya tidak terlalu nyenyak. Maklum, mau menemani ibu pergi ke NTT, FLores, Bajawa. Mimi Imut belum pernah ke sana. Sedangkan ibu sendiri sudah pernah ke sana, ini kali yang kedua buat ibu pergi ke Bajawa. Jam 4.00 Mimi Imut bangun dan harus berjuang mengalahkan rasa malas dan godaan untuk tidur lagi. Setelah melalui beberapa fase bangun-tidur-bangun, kira-kira jam 4 lebih sedikit, Mimi imut pun bangun dan segera menyiapkan baju2 dan barang bawaan. Mimi imut secara khusus membawa si laptop Lenovo pink kembang2 yang selama ini setia menemaninya ke mana2, buku tulis, buku Eat Pray Love terjemahan bahasa Indonesia, Our Daily Bread, pensil, buku neuorologi ringkas serta pemeriksaan fisik untuk membunuh waktu selama di sana. Baju-baju pun secukupnya saja. Barang bawaan Mimi Imut dan ibu cukup ringkas.

Setelah mandi dan siap2, mimi Imut dan ibu berangkat juga ke bandara diantar oleh bapak. Waktunya lumayan mepet, untung tidak terlambat. Sampai di bandara Adisutjipto, Mimi imut dan ibu ketemu pak Adi yang sudah mengantri check in. Dr Rahardjo sudah check in duluan. Pak Heru pun baru datang kemudian. O iya, rombongan kali ini adalah lima orang terdiri dari ibu, dr. Rahardjo, Pak Heru, Pak Adi, dan si penggembira Mimi Imut. Pesawat pertama yang kami tumpangi adalah Lion Air dengan tujuan Surabaya, kemudian dari Surabaya ke Denpasar naik Wings Air, dari Denpasar ke Ende naik Wings Air. Yang menarik, Wings Air yang kami tumpangi adalah pesawat baling-baling ^^. Jadi ingat perjalanan Mimi Imut ke Soroako waktu kecil dulu, juga naik pesawat baling-baling. Untung bukan pesawat bolang-baling ^^. Selama naik pesawat, Mimi Imut banyak tidur. Jadi nggak ada hal-hal spesial yang bisa diceritakan di sini selama perjalanan naik pesawat itu.

Penerbangan cukup tepat waktu, bahkan kami sampai hampir ketinggalan waktu transit di Surabaya sama di Denpasar. Untunglah semua baik-baik dan lancar-lancar saja. Di Denpasar, Mimi Imut menyempatkan diri minta dibelikan kacang disko untuk kletik2 selama perjalanan (gak penting ya ^^). Ternyata, penerbangan dari Denpasar singgah dulu di Bandara Komodo di Muara Bajo. Tahu begitu, Yoyo diajak saja soalnya Yoyo kan kepingin banget ke Pulau Komodo. Yah, meskipun kami nggak benar2 turun di Pulau Komodo sih, cukup di bandara Komodo saja. Dan komodonya cukup diwakilkan dengan patung kecil saja. Singkat kata, kami pun sampai di Ende dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun.

Di Ende, kami sudah ditunggu oleh driver yang sudah dipesan sebelumnya. Nama drivernya Om Ignas. Kendaraan yang dipakai oleh Om Ignas cukup 'merakyat'. Beberapa dari rombongan sedikit mengeluh karena ukuran kendaraannya kecil, AC kurang dingin, dan kaca jendela terlalu gelap. Buat Mimi Imut sih no problemo. Yang penting sampai di tujuan dan masih utuh bersama dengan rombongan. Setelah makan siang di rumah makan Padang (gak ada rumah makan Ende), kami diantarkan melihat-lihat sekilas rumah pengasingan Bung Karno. Kami menyempatkan diri berfoto-foto di sana. Mimi imut dalam hati berpikir, bagaimana ya rasanya diasingkan? Mungkin kalau diasingkan, Mimi Imut dapat menghasilkan karya pikir yang luar biasa pula seperti halnya tokoh2 besar dunia. Hehe...

Puas foto-foto dan jalan-jalan melihat-lihat suasana kota, Mimi imut dan rombongan kemudian mencari hotel yang cukup representatif. Dan akhirnya, setelah mencari-cari dengan tekun, kami pun dapat beristirahat dengan tenang di hotel Dwi Putra yang berAC dan bertempat tidur besar, ada TVnya, dan yang penting buat Mimi Imut: ada cop2an listriknya sehingga dapat menyalakan laptop sesuka hati. Thank God, hari pertama ini sungguh menyenangkan. Sekarang Mimi Imut mau beristirahat dulu untuk menyiapkan diri buat waktu yang lebih luar biasa lagi nanti malam dan besok. Haleluya. Maranatha!!! ^^



Kamis, 02 Desember 2010

Imanku dalam Pergumulan

Pak Yusup minta aku mempersiapkan presentasi untuk les terakhir ini, hari ini. Tema yang harus kusiapkan adalah "short term & long term plans", sedangkan buat Yoyo "next project". Berhubung aku masih hidup dan kerja secara serabutan, maka kupandang tugas kali ini cukup banyak membantuku untuk memikirkan secara lebih serius dan sistematis tentang rencana hidupku. Sampai sekarang aku merasa masih belum menemukan minat sejatiku. Yang baru kelihatan sekarang adalah terbukanya satu kesempatan untuk melakukan hal baru yaitu mengajar anak-anak main piano. Di samping itu, menulis apa saja yang terlintas dalam kepalaku di mana pun dan kapan pun aku sanggup. Yang masih belum kelihatan adalah apa yang harus kuambil untuk melanjutkan jenjang karier di masa yang akan datang. Sudah berkali-kali aku katakan bahwa aku nggak suka jadi klinisi. Lalu mengapa aku jadi dokter di sini? Kenapa aku nggak berani melangkah menuju apa yang benar-benar kusukai? Hmmm...

Susah juga menjawab pertanyaan itu. Seandainya aku dalam kondisi manik, mungkin aku akan bisa menjawabnya dengan lebih pe de. Apa harus manik dulu baru bisa menjawab? Yang dibutuhkan di sini, menurut Pdt. Eka Darmaputra, adalah iman. Iman adalah menjawab pertanyaan dan mempertanyakan jawaban. Jadi, aku coba untuk menjawab pertanyaan itu terlebih dahulu. Mengapa aku jadi dokter di sini? Pertama, karena pada awalnya aku sendirilah yang memilih untuk ambil jurusan kedokteran dulu. Tanpa paksaan. Mungkin orang tua memang sangat berharap besar supaya aku jadi dokter, tapi mereka tidak pernah memaksaku sedemikian rupa. Mungkin akunya sendiri yang kurang wawasan sehingga hanya tahu satu macam dunia kerja yaitu dunia kedokteran. Menyesal? Tidak, sedapat mungkin tidak. Aku tidak boleh dan tidak akan menyesali pilihan yang sudah kubuat. Sebab tidak ada gunanya. Mungkin sedikit penyesalan yang ada adalah mengapa aku nggak berani mengambil jurusan musik gerejawi, padahal aku merasa sangat tertarik. Yah, sudahlah. Sudah kadung. Setidaknya aku masih bisa main musik ala kadarnya untuk mengiringi ibadah di gereja meskipun masih nggandul2 ibu. Kedua, aku harus bertanggung jawab dengan pilihan yang sudah kubuat itu. Menurut kata Pramodia Ananta Toer, bertanggung jawab itu adalah berani menanggung dan berani menjawab. Aku sudah berani menanggung akibat dari pilihan2ku. Sekarang waktunya untuk memikirkan jawaban2 dan mengumpulkan keberanian untuk menyampaikannya pada saat yang tepat. Ketiga, mungkin Tuhan punya maksud yang aku belum tahu sekarang, tapi pasti rencana Tuhan itu indah pada waktuNya.

Dari ketiga jawaban tersebut, apa yang bisa kutarik sebagai kesimpulan sementara? Untuk sementara, aku menyimpulkan bahwa:
hidup yang kujalani ini ditentukan oleh pilihan-pilihanku di masa yang lalu dan masa sekarang, karena itu aku harus benar-benar bijaksana dalam memilih.
penyesalan itu ada, tapi aku tidak boleh hidup berlarut-larut dalam penyesalan.
menjadi dokter saat ini di tempat ini mungkin terasa tidak nyaman dan tampaknya bukanlah panggila hiduku yang sebenarnya, tapi aku tetap optimis dan percaya bahwa Tuhan terus campur tangan dan pasti akan menunjukkan jalanNya serta membuka jalan pikiranku sehingga aku dapat melihat seperti Tuhan melihat segala sesuatu.

Itulah rumusan jawaban dan pertanyaan yang mecerminkan iman dalam pergumulanku saat ini. Semoga memberkati dan mencerahkan. Maranatha!!!

Selasa, 30 November 2010

Minat Sejati? Hmmm...

Ada begitu banyak keinginanku saat ini. Keinginan jangka pendek untuk melakukan sesuatu yang tidak sia-sia. Salah satunya adalah menuliskan uneg-unegku di sini saat ini. Bukan uneg-uneg yang suram dan mengerikan sih. Cuma pingin membagikan sedikit cerita saja. Bukan cerita mungkin tepatnya. Sekedar bunga rampai kehidupan.

Aku sebentar lagi akan memulai kegiatan baru. Apakah itu? Tidak lain tidak bukan yaitu mengajar anak-anak main piano di sekolah musik sawokembar. Wew. Kok bisa? Gimana tuh ceritanya? Jadi begini. Beberapa hari yang lalu, aku terima message di fb dari seorang pengurus sekolah musik sawokembar yang intinya meminta kesediaanku untuk membantu mengajar anak-anak main piano. Mereka kekurangan pengajar, katanya. Seorang pengajar akan segera bekerja di luar kota. Dan ketika omong-omong sama pak Paulus, kepala sekolah musiknya, beliau bercerita dengan gaya meyakinkan seorang guru bahwa terbersit nama Yohana (namaku) saat memikirkan siapa yang dapat membantu mengajar. Dibantu dengan doa dan harapan supaya aku mau dan bersedia membantu, beliau pun menghubungiku melalui hp. Dan mungkin karena doa-doa itulah, aku merasakan dorongan dalam hati untuk bersedia membantu sekolah musik sawokembar tanpa perlu banyak berpikir panjang. Entahlah. Memang aku pernah punya keinginan kuat, saat manik dulu, untuk mengajar piano. Dan sepertinya keinginan itu masih ada sampai sekarang, terkubur dalam hatiku dan baru diaktifkan kembali saat-saat ini. Wew. Apakah ini yang namanya panggilan Tuhan? Apakah Tuhan sedang menunjukkan minat sejatiku seperti yang selama ini kudoakan sambil lalu tiap hari? Hmmm... Hmmm... curious... curious...

Karena jadwal jagaku yang nggak bisa dipatok, maka aku pun sudah bilang ke Pak Paulus dan mbak siapa itu namanya (maaf, lupa), kalau aku mungkin bakalan gak bisa kalau harus mengajar di hari tertentu. Untuk bulan Desember ini, kebetulan (atau mungkin bukan kebetulan) hari Selasa aku bebas jaga. Maka, dapat diaturlah jadwal mengajarku setiap selasa (cuma dua kali) di bulan Desember 2010 ini. Mungkin kalau aku sungguh-sungguh punya passion di sini, mengajar piano, aku bisa minta yiska dan dr tono untuk tidak menjadwalku jaga wonosari maupun jaga sore tiap hari selasa. Hmmm... patut dipikirkan. Karena di mana ada kemauan, pastilah ada jalan. Apalagi les bahasa Inggrisnya sudah hampir selesai. Well, kok bisa tepat banget ya waktunya? Entahlah... yang jelas, Tuhan pasti ada rencana yang indah, itu bahasa klisenya.

Ok deh... doakan aku ya, aku akan berusaha... Semangat, semangat!!! ^^

Perjalanan Jogja Nanggulan yang Menyenangkan

Hari ini aku mencetak satu prestasi. Nggak terlalu spektakuler sih. Cuma bisa bertahan nggak ketiduran di mobil sewaktu perjalanan pulang pergi Jogja Nanggulan-Nanggulan Jogja. Perjalanan dari Jogja ke Nanggulan, tepatnya ke BP Maranatha, diiringi oleh alunan rancak musik pujian yang diputer di Sasando 90.3 fm, thanks to Pak Sopir yang mohon maaf aku lupa namanya. Nggak ada yang terlalu menarik untuk diceritakan di sini. Perjalanan pulangnyalah yang lebih menarik. Dijemput tepat jam 13.00 WIB di BP, oleh pak supir yang lain yang sekali lagi mohon maaf aku lupa namanya, aku menghabiskan perjalanan pulang dengan melek semelek-meleknya. Thanks to pak sopir yang mengajakku ngobrol. Bisa-bisanya aku ngobrol ngalor ngidul tentang kecerdasan, kesuksesan, minat bakat, dan seputar kepuasan hidup. Pak sopir itu awal mulanya nanya gimana caranya supaya bisa pinter, karena dia punya anak yang masih duduk di bangku SMA. Dia prihatin dengan nilai bahasa Indonesia anaknya yang dikatakan cukup njomplang jika dibandingkan dengan nilai mata pelajaran eksakta. Yah, aku katakan saja berdasarkan keyakinanku, bahwa nilai-nilai akademis itu hanyalah sebatas di atas kertas. Dan kecerdasan itu ada macam-macam. Sebaiknya pusatkan saja pada kelebihan dan bukan kelemahan si anak. Justru, dengan nilai yang njomplang itu, semakin ketahuan minat dan bakat si anak sehingga ke depannya malah semakin mudah untuk menentukan jurusan apa yang dapat diambilnya. Kemudian aku juga menceritakan bahwa kesuksesan itu nggak bisa diukur semata-mata dengan nilai rupiah yang dihasilkan, tetapi bagaimana seseorang memperoleh kepuasan dalan bekerja. Yang kutekankan adalah: lakukan apa yang disukai, sukai apa yang dilakukan, maka uang akan mengejar kita, bukan kita yang mengejar uang. Aku membandingkan diriku dengan kakakku dalam hal pekerjaan di mana aku sangat menilai positif apa yang dilakukan oleh kakakku. Meskipun banyak yang tidak paham dengan yang dilakukannya, dia tetap berpegang teguh pada impiannya dan berani bayar harga untuk itu. Kulihat hidupnya pun sangatlah menyenangkan dan memuaskan sehingga dapat dikategorikan sebagai hidup yang sukses. Sedangkan aku masih mencari minat sejatiku sampai detik ini, sambil jalan dan kerja serabutan di rumah sakit.

Sepanjang perjalanan itu, dengan kalimat yang simpang siur dan terbata-bata, aku mencoba menjelaskan apa yang menjadi pandanganku tentang hidup dan pekerjaan. Yah, hitung2 sebagai latihan ngomong. Thank God, buat waktu yang luar biasa ini.

Senin, 22 November 2010

Reveal

Terbuka kembali satu sisi kehidupanku yang telah lalu dan mungkin terkubur. Mungkin ini salah satu penyebab mengapa aku sampai mengalami goncangan jiwa sedemikian rupa. Aku diingatkan akan hal ini setelah aku membaca sedikit dari novel Doctors. Aku ingat, usia 18 adalah usia di mana aku lulus SMU dan mulai masuk kuliah. Di usia itu pula, aku sedang begitu antusias dan semangat untuk mengejar hal-hal rohani. Mungkin lebih tepatnya, supaya dipandang rohani. Entahlah. Yang jelas, ada ketidakseimbangan jiwa yang kronis. Di satu sisi aku begitu ingin tampil serohani mungkin, di sisi lain aku kesulitan berkomunikasi dengan orang-orang terdekatku. Begitu keras dan kaku. Ketika beban hati semakin bertambah dengan hal baru, yaitu mulai pacaran back street, sementara masih ada ambisi yang kuat untuk ingin selalu menjadi nomor satu, maka semakin dekatlah aku pada kegoncangan jiwa. Seandainya waktu itu aku bisa bersikap jujur dan terbuka, bukannya sok kuat dan sok rohani, mungkin aku gak akan mengalami yang namanya goncangan jiwa. Seandainya aku bisa menekan egoku dan mulai bersikap rendah hati, maka aku nggak perlu jatuh dalam siklus manik depresi. Tapi aku bersyukur untuk semua yang telah kualami. Semua menjadi berkat. Semua dipakai Tuhan untuk kebaikanku. Aku tidak larut dalam penyesalan diri yang tidak ada habisnya. Semua bisa menjadi bahan pelajaran berharga. Terima kasih, Tuhan Yesus.

Mungkin aku belum bisa cerita secara detil sekarang. Tapi aku bersyukur karena sedikit demi sedikit aku bisa menilai kembali diriku dengan lebih jernih. Baru segini yang bisa kupahami. Tapi tidak mengapa. Lama kelamaan pastilah Tuhan bukakan semua yang masih menjadi pertanyaan besar dalam hidupku. Masa lalu tidak lagi menghantui. Sebaliknya, aku malah menemukan harta rohani yang begitu berharga saat aku menggali kembali ingatanku. Tentunya dengan bimbingan Roh Kudus. Sekali lagi terima kasih buat Bapaku terkasih.

Captivated

Ya Tuhan Yesus... bagaimana rasanya menanggung beban seluruh dunia di pundakMu? Bagaimana rasanya merasakan kepedihan dan kesia-siaan seluruh umat manusia di hatiMu? Aku baru membaca sedikit buku novel tebal berjudul Doctors karangan Erich Segal. Gila, sungguh gila. Benar-benar top markotop. Sungguh-sungguh mantap. Aku sampai kekenyangan dibuatnya. Maksudku, aku sampai kemlakaren. Jiwaku mendapatkan makanan berat yang membuatku merasa amat sangat kenyang kenying. Aku menjadi larut dalam haru biru perasaan yang campur aduk. Campuran antara kekaguman dengan kengerian. Aku merasakan pahit manisnya kehidupan manusia yang fana dan sia-sia. Kesia-siaan yang tergambar melalui cerita fiksi yang didasarkan oleh hasil riset dan pengamatan yang amat jeli. Ditambah dengan perenungan yang cukup dalam tapi tetap ringan untuk bisa dipahami oleh orang awam. Baru membaca sebagian kecil novel itu saja sudah membuatku merasa seperti memikul beban dunia. Hiperbolis ya. Maksudku, aku seperti dibukakan kembali akan diriku sendiri. Aku seolah bisa bercermin, melihat diriku sendiri.

Novel yang kubaca itu berkisah seputar kehidupan mahasiswa kedokteran Harvard tahun 50an. Penuh dengan dinamika dan romantisme, meskipun tidak melupakan aspek-aspek teknis. Yang bikin aku begitu tergetar dan takjub adalah tentang sisi psikiatri atau kejiwaan yang digambarkan dengan demikian suramnya. Aku masih belum bisa bercerita banyak di sini, karena masih terjebak oleh kesan mendalam yang kurasakan. Tapi overall, puji Tuhan Yesus, aku tidak salah membeli buku. Aku merasa tertantang untuk menyelesaikan membacanya dan menarik intisari yang mengena bagi jiwaku. Kuharap aku pun mampu menciptakan karya seperti itu. Doakan saja ya. Aku akan berusaha.

Jumat, 19 November 2010

What Should I Do?

Aku merasa seperti kurcaci di tengah raksasa. Aku merasa diriku adalah orang paling bego di tempat di mana aku berada. Mungkin perasaan-perasaanku ini tidaklah benar 100%. Mungkin aku hanya kurang percaya diri saja. Tapi yang jelas, aku sungguh merasa terasing di sini. Meskipun aku ada backing yang kuat terutama dari Tuhan dan keluarga serta orang-orang yang mengasihiku, aku merasa sangat-sangat tidak layak berada di sini. Aku kembali merasa salah tempat. Aku kembali memikirkan tentang prospek masa depanku. Mungkin menurut orang lain begitu cerah dan gemilang, tapi di mataku ini sungguh mengerikan dan menegangkan. Sungguh aku perlu memetakan kembali kekuatan dan kelemahanku. Aku perlu mawas diri lebih lagi sebelum melangkahkan kakiku.

Dimulai dari pertanyaan dr. Laksmi, apakah aku akan jadi pegawai tetap nantinya. Kurang lebihnya begitu. Pertanyaan yang sederhana dan lugas itu begitu mengena. Pertanyaan itu sukses membuatku meragukan kembali posisiku. Kembali berkecamuk dalam hatiku apakah aku sungguh menyenangi pekerjaan sebagai dokter ini. Apakah aku sungguh mantap untuk bergabung dengan korps RS Bethesda sebagai pegawai tetap. Aku merasa semakin kecil saja. Kemudian, waktu aku mengikuti acara presentasi kasus yang dilakukan oleh dr. Winny dan dr. Hansen. Aku melihat mereka begitu brilian dan tangguh. Merekalah yang layak untuk diandalkan sebagai penerus RS Bethesda yang mumpuni. Melihat ketangguhan mereka, aku merasa semakin tidak percaya dengan diriku sendiri. Aku merasa sangat sangat tidak mampu. Aku seperti membohongi semua orang, termasuk diriku sendiri. Aku seperti merasa sendirian tadi. Minder. Kecil hati. Tidak pe de.

Bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Sementara minat sejatiku masih juga belum tergali. Aku bimbang dan ragu. Sepeti kapal yang diombang-ambingkan gelombang. Kompas yang kupunyai tidak menunjuk ke arah utara, tetapi menunjuk ke arah di mana minat sejatiku berada. Masalahnya, aku masih belum menemukannya. Aku masih belum menemukannya. Maka, sama seperti Jack Sparrow yang kehilangan tujuan dan gairah dalam berlayar, aku pun demikian. Aku hanya berputar-putar ke sana ke mari mengikuti arus dan gelombang. Aku hanya mengikuti jadwal dan peraturan dengan patuh tanpa adanya inisiatif untuk selangkah lebih maju. Hanya mendapatkan capek saja, minim peningkatan kualitas. So this is me right now. Anybody help?

What For

Kadang terbersit pertanyaan, mengapa aku sampai harus mengalami goncangan jiwa yang sedemikian besarnya. Kalau mencontoh sikap simbah putri Giyono, bukan pertanyaan "mengapa" yang seharusnya terucap melainkan pertanyaan "untuk apa". Maka dari itu, aku ubah pertanyaanku menjadi: untuk apa sampai aku harus mengalami goncangan jiwa yang sedemikia besarnya? Segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku ini tentunya nggak pernah terlepas dari campur tangan Tuhan. Mulai dari sejak aku dibentuk di kandungan ibuku, lahir, tumbuh besar, sampai sekarang ini, bahkan sampai nanti, Tuhan senantiasa memeliharaku. Aku semakin bertumbuh dalam pengenalanku akan Dia. Ingin rasanya aku menuliskan perjalanan hidupku itu dengan runtut dan teratur, sebagai dokumen kehidupan yang dapat aku baca-baca kembali. Syukur syukur bisa menjadi berkat bagi banyak orang. Tapi aku masih belum memulainya juga karena kurang disiplin. Yah, mungkin sekarang lah saatnya untuk memulainya. Tuhan kiranya memberiku kekuatan dan ketahanan dalam perjalanan panjang menuliskan cerita hidup versiku ini. Semoga tulisanku itu nanti bisa menjawab pertanyaanku sendiri, "untuk apa, Tuhan?".

^^

Salvation

Meskipun capek, aku tidak merasa terintimidasi. Aku merasa cukup nyaman dengan diriku sendiri. Hari ini sungguh luar biasa. Terima kasih, Tuhan. Dari pagi sampai siang pasien yang datang relatif sedikit, tidak sebanyak waktu Senin kemarin. Siang ini pun masih belum terlalu banyak pasien yang datang. Keluhannya pun masih dalam batas kompetensiku. Puji Tuhan.

Tadi ada satu pasiennya ibu yang datang untuk kontrol. Post coloctomy. Aku nggak begitu mudeng dengan perjalanan penyakitnya. Sepertinya dulu aku juga yang periksa itu simbah di IGD, aku lupa. Tapi aku cukup senang dengan sikap si simbah. Beliau begitu tenang dan pasrah sama Tuhan Yesus. Nggak nggedumel, nggak menyerah, tapi penuh dengan ungkapan syukur yang nampak dari wajahnya. Karena sikapnya yang luar biasa itu, aku pun dengan pe de nya memperkenalkan diriku sebagai anak dari ibuku. Beliau pun sangat senang dan semakin sumringah. Beliau bercerita banyak tentang pengalamannya operasi dan bagaimana beliau senang kalau ibuku tersenyum. Benar juga apa kata ibu. Pasien itu sudah sembuh kalau melihat dokternya juga menyenangkan. Itu efek sugesti kalau orang psikologi bilang. Tetapi sebagai orang percaya, itu pasti karena Tuhan sendiri yang bekerja. Memang betul bahwa hati yang gembira adalah obat yang manjur. Maka, aku mendapati bahwa salah satu tugas dokter berikutnya adalah bagaimana membuat hati pasiennya gembira sehingga kesembuhan pun dapat terjadi dengan cepat. Bahkan seandainya pasiennya tidak sembuh pun, dengan kata lain berakhir dengan terminal state atau meninggal, mereka dapat meninggal dengan tenang dan tanpa ada rasa takut. Semua ini dapat terjadi kalau mereka sudah punya jaminan hidup kekal sesudah kematian. Dan jaminan itu hanya ada pada Tuhan Yesus saja. Tidak pada yang lain. Itu yang kupercayai. Agama tidak menyelamatkan. Amal ibadah tidak menyelamatkan. Hanya anugerah Tuhan dalam karya penebusan Tuhan Yesus sajalah yang menyelamatkan. Bagian kita hanyalah mau atau tidak mempercayainya. As simple as that. Yah, kadang yang sederhana ini bisa menjadi rumit karena kita terlalu banyak memakai logika dan tidak memakai iman. Padahal Tuhan Yesus sendiri bilang bahwa hanya dibutuhkan iman seperti seorang anak kecil saja untuk memiliki kerajaan Surga. Iman yang langsung percaya pada Tuhan Yesus dan tidak meragukanNya sedikitpun. Hmmm...

Dari capek kok malah jadi merenungkan tentang keselamatan ya? Hehe... entahlah. Aku memang lagi pingin ketak ketik. Daripada bengong nggak jelas juntrungnya. Mending ngetik ngalor ngidul tapi ada isinya. Betul? ^^

Reportase

Aku sudah menghabiskan lebih dari 200 ribu rupiah untuk membeli buku-buku yang kuharapkan bisa mengenyangkan lapar jiwaku. Buku yang pertama kubaca adalah novel tebal berjudul Doctors karangan Erich Segal. Aku berharap mendapatkan gambaran yang konkret dan memberiku semangat tambahan dalam menjalani kehidupanku sebagai seorang dokter. Aku kan sudah berulang kali gembar gembor bahwa aku nggak suka menjadi dokter dan aku nggak cocok jadi klinisi. Mungkin dengan membaca novel ini, aku mendapatkan inspirasi yang mendorongku untuk terus maju sampai aku mendapatkan minat sejatiku. Amin. Buku berikutnya yang akan aku baca adalah Eat, Pray, Love yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Aku sudah nonton filmnya. Meskipun demikian, aku masih merasa kurang puas. Aku ingin menyelami lebih dalam lagi pergumulan batin yang dialami oleh si penulis. Siapa tahu aku pun mendapat masukan yang berharga sehingga semangatku untuk hidup semakin dikuatkan. Amin. Selanjutnya, aku mau membaca buku dwiloginya Andrea Hirata. Tidak diragukan lagi, Andrea Hirata adalah penulis favoritku. Sekelas dengan Pram. Tulisannya bernas dan tidak monoton, sarat akan makna dan pengetahuan. Semoga dwiloginya ini mampu menggetarkan hatiku sama seperti tetraloginya. Amin. Buku pegangan neurologi pun nggak ketinggalan aku beli, mumpung sekarang aku lagi dijadwalkan ikut di SMF saraf selama sebulan. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Ya. Meskipun seharusnya aku sudah katam membaca waktu kuliah dulu, aku mau membaca sekarang supaya aku tidak menjadi dokter yang membahayakan pasien. Semoga dengan membaca-baca sedikit demi sedikit, aku bisa semakin terampil dan berwawasan sehingga semakin percaya diri dalam memeriksa pasien. Amin. Semoga uang dua ratus ribu lebih itu tidak sia-sia kuhabiskan di Toga Mas. Aku serahkan semua ini ke dalam tangan Tuhan Yesus. Ini lho Tuhan, laporanku. ^^ ACC??? hehe...

Tiredness

Capek, Tuhan... aku pingin tidur nyenyak... tapi bagaimana mungkin? Di tempat ini, BP Wonosari ini, tidur nyenyak tanpa gangguan merupakan kemewahan tersendiri... Aku sering mengalami lagi enak-enaknya tidur, ada saja pasien yang datang... tidur yang terganggu itu lebih nggak enak rasanya daripada nggak tidur sama sekali... dan aku mendapati bahwa suatu kenikmatan itu adalah berupa jatuh tertidur... Meskipun demikian, aku bersyukur, Tuhan... dan meskipun ada banyak alasan untuk mengeluh, aku mau tetap bersyukur saja... Aku bersyukur karena aku masih bisa merasa capek... aku bersyukur karena di tengar rasa capekku ini, aku masih bisa menuliskan sedikit uneg-unegku... Nggak jadi masalah kalau aku kurang banyak omong sama orang lain, itulah kelemahanku... Yang penting aku masih bisa menuliskan sepatah dua patah kata meskipun miskin arti, itu kelebihanku... aku belajar untuk nggak terlalu berfokus kepada kelemahanku. Aku mau berfokus tertutama kepada kelebihan yang Tuhan anugerahkan kepadaku. Kalau aku terlalu berfokus pada kelemahan, ujung-ujungnya aku pasti akan terjerat pada depresi lagi. Aku akan memupuk sikap negatif anhedonia yang berlanjut pada mood sedih kemudian berujung pada depresi patologis. Itu yang harus aku hindari. Sebisa mungkin, aku harus menghindarinya, dengan pertolongan Tuhan tentunya. Perjuanganku ini berlangsung terus seumur hidup. Dibutuhkan stamina yang cukup besar, mungkin seperti stamina yang dimiliki oleh Naruto Uzumaki. Wah, sudah lama aku tidak membaca lagi ceritanya. Baru kemarin aku baca lagi episode terbarunya. Benar-benar tokoh yang menginspirasi meskipun fiktif belaka. Thank God.

Rabu, 17 November 2010

I Miss You

Tiada kata yang terucap...
hanya hati yang merindu...
karena lebih baik hati tanpa kata daripada kata tanpa hati...
tiada nada yang terdengar...
hanya jiwa yang menyanyi...
semua ini karena aku begitu merindukanMu...
karena aku tahu Engkau yang terlebih merindukanku...
Engkau yang terlebih dahulu mengasihiku...
Engkau yang pertama kali menunjukkan kasih kepadaku...
aku hanya merespon...
aku hanya bisa ini...
mungkin tak sebanding dengan apa yang telah Engkau berikan...
sangat jauh dari yang bisa kubayangkan...
tapi semoga ini bisa mengisi ruang kosong dalam hatiku...
terima kasih, Tuhan...
Engkaulah sahabat sejatiku...
Engkaulah yang terbaik bagiku...
Engkau baik, dan jiwaku benar-benar menyadarinya...
Haleluya...

Just Giving Thanks

Kalau hatimu dipenuhi rasa rindu, bersyukurlah...
itu tandanya kamu masih sehat...
itu tandanya kamu masih dipenuhi rasa cinta...
itu tandanya kamu masih hidup...
Kalau kamu begitu merindukan Tuhan tapi tak tahu apa yang mesti dilakukan, bersyukurlah...
itu tandanya Tuhan sedang menunjukkan sayangNya kepadamu...
itu tandanya Tuhan sedang mengusik hatimu yang sering terlalu asyik dengan dirimu sendiri...
Itu tandanya kamu masih peka terhadap suaraNya...
Jika kamu membaca tulisan ini dan kamu merasa ini sangat mirip dengan konidisimu, bersyukurlah...
itu tandanya bukan suatu kebetulan kamu ada...
itu tandanya hidupmu bukanlah suatu kecelakaan...
itu tandanya Tuhan itu ada...

Mari... kita berikan waktu yang ada ini untuk sejenak menikmati kebersamaan dengan Tuhan... inilah saat terindah... saat di mana kita berdiam dalam keheningan dan kekudusan hadiratNya...

Kangen

Aku merasa amat sangat kangen sama Tuhan Yesus. Bagaimana ya melukiskannya? Suatu kerinduan yang amat sangat besar sedang melanda hatiku saat ini. Entah kenapa. Aku merasa ingin sekali melakukan sesuatu, entah apa itu. Semacam ruang kosong dalam hatiku yang minta diisi tapi hanya satu yang dapat memenuhinya, yaitu pribadi Tuhan Yesus sendiri. Tapi bagaimana caranya ya? Aku sudah coba telpon mas Cah, dan ternyata mas Cah nggak bisa membuatku merasa terpuaskan. Memang harus Tuhan Yesus sendiri yang kuhubungi. Ok deh. I'll try...

Mimi: Tuhan Yesus...
God: Ya, Mi...
Mimi: aku kangen...
God: sembayang...
Mimi: lho kok ikut-ikut gayaku?
God: hehe...
Mimi: Tuhan Yesus..
God: Ya, Mi...
Mimi: piye ini? aku harus bagaimana?
God: ya sembayang dulu...
Mimi: dulu apa sekarang? hehe...
God: hehe...
Mimi: Tuhan Yesus...
God: Ya, Mi...
Mimi: yuk, ngapain kek... aku ingin berdua denganMu, nih...
God: ya ayo...
Mimi: sekarang ya...
God: ok...
Mimi: sip...
God: ^^

Yah begitulah kira-kira dialog yang terjadi antara aku dengan Tuhan Yesus... hehe...

Minggu, 14 November 2010

Blessing in Disguise ^^

Berkat di balik bencana. Ada udang di balik bakwan. Hehe... begitulah kira-kira... ya, di balik suasana duka dan nestapa yang menggantung akhir-akhir ini akibat bencana alam di Indonesia, pastilah ada berkat tersembunyi yang tinggal tunggu waktunya saja untuk disingkapkan. Saat tirai terbuka, saat itulah suasana duka sontak berubah menjadi sukacita yang tak tergambarkan. Salah satu berkat yang menurutku layak untuk dirayakan adalah diundurnya jadwal ATLS. Advanced Trauma Life Support. Jadwal ATLS yang sedianya akan dilaksanakan tanggal 26-28 November 2010 ini terpaksa diundur hingga sekitar Januari 2011 akibat kondisi tanggap darurat bencana Merapi yang masih belum tahu kapan akan berakhir. Bagiku yang berpembawaan santai, ini merupakan berkat tersendiri. Karena, aku bisa punya waktu yang lebih panjang untuk belajar. Aku nggak suka diburu-buru oleh dead line. Makanya, dalam hatiku, aku mengucap syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yesus atas diundurnya jadwal ATLS ini. Meskipun demikian, aku tidak boleh bermalas-malasan. Aku tetap harus belajar sedikit demi sedikit. Mumpung waktu yang ada cukup panjang. Diharapkan, aku nantinya sudah siap dan tidak memalukan keluarga maupun kerajaan Surga. Hehe...

Selain itu, ada lagi berkat tersembunyi. Aku yang tidak atau belum pernah dijadwal di posko Merapi, entah karena alasan apa, juga sangat bersyukur karena aku bisa lebih banyak waktu tenang dan luang yang bisa kugunakan untuk banyak hal. Banyak hal itu apa? Ya seperti berdoa dan belajar. Ora et labora. Itu yang seharusnya. Itu yang semestinya. Di samping itu, aku pun terhindar dari dampak erupsi Gunung Merapi yang membahayakan kesehatan. Aku kan lagi flu. Puji Tuhan!!! Thank God!!! Jadi, gak perlulah merasa sedih atau seperti dianaktirikan apalagi dianakemaskan. Karena aku tahu semua ini pasti ada hikmahnya. Yang ikut ke posko dapat tambahan pengalaman berharga, yang gak diikutkan pun juga terhindar dari bahaya abu vulkanik yang mengandung silica (kabarnya). Pokoknya apapun itu, di mana pun aku berada, aku akan tetap optimis, berpikiran positif, dan tetap semangat. Hehe...

BP Maranatha

Sekarang gantian donk BP Maranatha unjuk gigi. Di sini jauh lebih tenang dan tenteram dibandingkan dengan BP Wonosari (untuk mengatakan lebih sepi ^^). Bayangkan, sehari di sini bisa cuma dapat satu saja pasien. Rekor tersedikit!!! Bravoo!!! Tapi ya konsekuensinya, penghasilan yang kudapatkan pun jauh lebih kecil dibandingkan yang lain. Satu pasien di sini dihargai lima ribu rupiah. Maka, aku yang kemarin dihitung menangani 8 orang pasien, hanya berhak mendapatkan 40 ribu rupiah. Hehe... tetap puji Tuhan!!! Jangan sampai aku jadi hamba uang. Nilai nominal itu bukanlah ukuran utama keberhasilan. Aku lebih mengutamakan kepuasan dan kenikmatan dalam bekerja. Sehingga, pekerjaan yang membosankan ini dapat kupandang sebagai permainan yang menyenangkan. Betul?

Kembali ke BP Maranatha. Meskipun sepi, aku mendapati bahwa suasana di BP ini cukup menyenangkan. Pegawak-pegawainya sejauh ini sangat baik dan ramah. Cewek semua!!! Maklum, BP ini juga merupakan Rumah Bersalin (RB). Jadi, gak ada perawat apalagi perawat cowok di sini. Yang ada adalah ibu dan mbak bidan. Bidan paling senior adalah Bu Deka, panggilannya. Beliau sudah puluhan tahun di sini. Sempat mengalami 'masa jaya' BP Maranatha waktu masih ada om Fifi di sini. Sekarang jadi sepi karena kalah saing sama RS di dekatnya. Hmmm... jangan menyalahkan siapa2... tetap bersyukur dan berpikiran positif aja. Yang penting masyarakat tertolong dan nama Tuhan tetap dimuliakan dengan hati yang tulus. Ada amen?

BP Maranatha... dari namanya sendiri saja, sudah menunjukkan adanya pengharapan besar akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Apalagi masa-masa sekarang yang musim bencana dan musibah. Tanda-tanda kedatanganNya semakin nyata terlihat dan terdengar. Di mana-mana ada banjir, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, tsunami, dll. Dalam masa-masa yang kata orang tak menentu ini, pengharapan akan kedatangan Tuhan Yesus merupakan berita kesukaan yang wajib disebarkan. Bagaimana caranya? Ya, bermacam-macam. Jangan berkecil hati. Tuhan pasti punya cara. Tuhan pasti buka jalan. Yang penting, saat Tuhan Yesus datang, kita sudah siap. Dan bukan hanya kita sendiri saja yang siap, melainkan juga saudara-saudara kita yang saat ini masih dirundun kegelapan dan membutuhkan juru selamat.

"Siapa mau Kuutus?" tanya Tuhan Yesus...

Ini aku Tuhan, utuslah aku...

Maranatha!!!

Chatting

Mengapa aku suka chatting? Meskipun kelihatannya gak berguna dan gak produktif... Karena dengan chatting, aku bisa mengaktualisasikan diriku sedemikian rupa sehingga aku merasa berarti. Aku bisa menyampaikan isi hati dan isi pikiran dengan lebih leluasa. Memang sih minus ekspresi wajah. Kata orang, ekspresi wajah dan bahasa tubuh itu berbicara lebih keras daripada kata-kata. Hm hm... Sungguhkah demikian? Masih belum tahu jawabannya... mungkin karena aku lebih mengandalkan pendengaran daripada penglihatan sehingga kata-kata dan intonasi suara jauh lebih berpengaruh bagiku daripada gerak gerik atau ekspresi wajah. Aku mungkin lebih ke tipe audio person. Beda dengan para visual atau audio visual person. Yang lucu lagi, aku sering bingung kalo bercakap-cakap face to face dengan orang lain. Aku bingung mau lihat apanya, matanya atau mulutnya. Kata orang lagi, kalo bercakap-cakap itu perhatikan matanya. Itu menunjukkan respek atau perhatian yang penuh. Tapi aku malah tambah bingung kalau harus lihat mata. Mau lihat mata kanan apa mata kiri? Kalau lihat mulutnya, itu lebih enak menurutku. Karena kalau telinga sulit mendengar ucapan yang pelan, aku masih bisa membaca gerakan mulutnya. Tapi kata orang lagi, orang yang suka memperhatikan mulut orang lain saat berbicara dan bukannya memperhatikan mata itu memiliki kecenderungan untuk autis. Doh, berarti aku ini cenderung autis ya? Hehe... Puji Tuhan! Lho kok? Lha iya, soalnya rata-rata orang autis itu punya kelebihan yang ornag lain nggak punya. Mereka dianugerahi Tuhan kecerdasan khusus di atas rata-rata. Ah, masa iya sih? Aku mungkin cenderung autis... tapi cerdas di atas rata-rata? Hehe... pingin banget sih, tapi kita tidak boleh sombong, kata mas Bernard (teman dewasa muda). wkwkwk...

BP Wonosari tempat Mengungsi ^^


Kembali ke BP Wonosari meskipun bukan jadwalnya karena menggantikan Yiska yang harus ikut pelatihan. Hati terasa ringan dan tidak ada beban. Karena ke wonosari, maka tidak bisa untuk ikut naik ke posko pengungsian Merapi di Banteng maupun Atmajaya. Dari 5 sekawan genk IGD, cuma aku saja satu-satunya yang belum pernah ditugaskan di posko merapi. Berpikir positif saja. Mungkin karena ada alasan yang lebih baik. Tetap semangat!!! Bagaimana tidak semangat... setiap kali ke BP Wonosari, pasti ada saja waktu untuk istirahat yang paling nikmat. Di manakah itu? Tidak lain tidak bukan adalah di "limosin putih" mobil ambulance yang tiap pagi mengantarkan pulang pergi Bethesda-BP-Bethesda. Entah kenapa, setiap kali naik si limo putih, rasa kantuk tidak dapat ditahan. Maka, tidak ada cara lain selain tidur untuk mengatasi rasa kantuk berat itu. Walhasil, aku jadi jarang banget ngobrol sama the driver, mas Arif. Padahal kan asyik tuh ngobrol... hehe...

Meskipun BP Wonosari kecil dan tidak ber-AC, aku selalu merasa nyaman berada di sana. Seperti di rumah sendiri. Mungkin masih belum bisa mengaktualisasikan diri sendiri 100% sih, karena aku masih merasa sangat kurang kompeten. Padahal sudah dibooster dengan semangat pagi dan belas kasihan. Tapi sepertinya itu semua belum cukup ya. Dan nggak ada yang bisa menggantikan kompetensi yang hilang selain dengan belajar kembali. Mungkin di antara para dokter yang ditugaskan di sini, akulah yang kompetensinya paling memprihatinkan. Tapi aku tahu aku tidak boleh minder, tidak boleh berlarut-larut berkecil hati, tidak boleh patah semangat. Aku masih harus terus maju sampai menemukan minat sejatiku. Selama ini aku gembar-gembor nggak suka dengan dunia klinis, lebih suka dunia ilmu kesehatan masyarakat. Nah, sekarang waktu tanggap darurat bencana merapi ini, aku perlu mengecek kembali apa yang kuyakini itu. Sungguhkah aku cocok berada di lingkungan yang kugembar-gemborkan itu? Aku sudah lihat sekilas bagaimana suasana posko pengungsian di Banteng, poskonya YEU. Kurang lebih begitulah lingkungan kerja yang jadi wilayah IKM. Salah satunya. Apakah aku cocok di situ? Hmmm... Entahlah...

Hari ini di BP Wonosari ada satu pasien yang juga merupakan pengungsi dari daerah Cebongan, Sleman. Datang dengan keluhan panas, menggigil, sakit perut kanan bawah. Setelah dicek darah, didapati angka lekositnya tinggi, khas appendisitis. Aku sudah menawarkan untuk dirawat di RSB Yogya. Sekarang tinggal menunggu. Semoga gak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kasihan, sudah mengungsi, masih harus menderita sakit. Kiranya Tuhan memberkati.

Peaceful Mind--Once Upon A Time In Wonosari

Akhirnya kelegaan itu tiba. Istirahat. Entah bagaimana, aku akhirnya merasa tenang dan damai kembali. Meskipun tidur siangku nggak terlalu nyenyak, kualitas tidurku menurun, aku sekarang bangun dengan perasaan segar dan pikiran yang jernih. Kubaca-baca kembali tulisan-tulisanku sebelumnya yang kutulis waktu aku lagi kalut dan gak tenang. Kudapati bahwa Tuhan sungguh baik. Tuhan bekerja menenangkanku dan menyadarkanku bahwa aku nggak pernah ditinggalkanNya seorang diri. Bahkan ketika aku merasa amat sangat tidak nyaman dan tidak enak hati. Tuhan selalu ada besertaku. Imanuel. Haleluya. Kalimat-kalimat inspiratif dari Max Lucado di buku Just Like Jesus telah mencelikkan mata batinku. Aku disadarkan bahwa apa pun yang kupikirkan dan kurasakan, Tuhan tahu. Saat aku merasa sangat tidak nyaman seperti tadi pagi, Tuhan juga tahu. Dia pun turut merasakan. Dan dia memahaminya. Benar apa kata Max. Tuhan menerimaku apa adanya, tetapi Dia tidak membiarkan aku seadanya. Dia ingin aku menjadi seperti Yesus. Wew... Tuhan nggak ingin aku berkubang dalam kesedihan dan kemurungan. Tuhan nggak ingin aku tenggelam dalam menyalahkan diri sendiri. Tuhan ingin aku bangkit. Tuhan menciptakanku untuk menjadi anak yang menyukakan hatiNya. Dan Tuhan bersuka saat melihatku bertumbuh semakin kuat. Tuhan beruka saat mnelihatku bersukacita di dalamNya. Betapa luar biasanya hal itu!!! Haleluya!!!

Saat ini, hujan sedang turun rintik-rintik membasahi bumi Selang, Wonosari, BP Bethesda, tempat di mana aku berada saat ini. Tempat yang mencuri hatiku. Tempat yang membuatku tergetar dengan semangat untuk memajukan sistem informasi kesehatannya, ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini. Tempat di mana aku pernah merasa sangat antusias dan semangat. Tempat di mana aku pernah menaruh belas kasihan yang murni untuk sesamaku. Masih adakah semuanya itu? Belum setengah tahun berlalu. Apakah aku sudah semakin menyatu dengan tempat ini? Apakah aku sudah bisa membaur dengan mereka yang ada di sini? Apakah aku sudah bisa memberkati dan bukannya menjadi beban? Hmmm... Thank God, for this wonderful and beautiful place. You have taken me and still using me. I surrender my life to You. Here I am Lord.

Akhirnya, aku memutuskan kembali untuk beryukur dan memuji Tuhan dalam hatiku dengan segenap yang ada padaku sekali lagi. Haleluya!!!

Stiffness

Tuhan, kenapa aku kaku sekali sih? Apakah Engkau menciptakanku sekaku ini? Untuk apa aku harus menjadi kaku seperti ini? Bagaimana caranya aku menjadi pribadi yang memancarkan kasihMU yang luwes itu? Itulah segelintir pertanyaan dan kegelisahanku saat ini. Aku tidak ingin mendengar jawaban yang bukan dari Tuhan. So, aku tidak akan menanyakannya kepada siapa pun juga selain kepada Tuhan. Tuhan pasti mendengar. Tuhan punya jawabannya. Yang kuperlukan hanyalah sabar menunggu, menenangkan hatiku, dan mendengarkan saja jawaban dariNya. Bisa melalui apa saja. Sesimple itu. Nggak bertele-tele, nggak muluk-muluk. Aku sudah bosan omdo. Aku pingin yang lebih simple dan praktis. Bagaimana kalau jawabannya nggak enak? Nggak nyaman? Yah, aku akan berusaha untuk melembutkan hatiku supaya aku bisa dibentuk seperti yang Tuhan mau. Dibentuk menjadi seperti apa? Lebih tepatnya, seperti Siapa? Ya seperti Tuhan Yesus sendiri. Makanya, bukan suatu kebetulan kalau aku sekarang juga lagi baca-baca buku berjudul Just Like Jesus karangan Max Lucado.

The Silence of Mimi

Lagi-lagi aku mendapat masukan tentang kependiamanku... kali ini dari Pak Wahyu Martono. Dengan gayanya yang santai dan gak langsung secara frontal, beliau memberiku masukan tentang kelemahanku (atau kelebihanku) ini. Pak Wahyu tiba-tiba saja bertanya dengan santainya, gimana aku waktu periksa pasien di posko. Terus tanya-tanya seputar itu. Bahkan Pak Wahyu menawarkan untuk diperiksa, untuk sekedar latihan ngomong. Katanya lagi, aku bisa bikin semacam skenario untuk latihan ngomong biar kalau periksa gak diem aja. Wew... Meskipun kesannya cuma sambil lalu saja, aku cukup memasukkannya ke dalam hati. Tahu sendiri kan, kalau aku ini masih sangat sensitif. Meskipun chasingku dari luar kelihatan diem dan cool, di dalam ini kebat kebit nggak karuan. Semakin mencoba menenangkan diri, malah semakin nggak karu-karuan. Semakin berusaha untuk berpikiran positif, malah semakin banyak pikiran negatif yang menyerbu. Doh... susahnya jadi Mimi... T_T

Aku tahu aku memang cenderung pendiam. So what? Salahkah dengan itu? Mungkin menjadi masalah karena aku ditempatkan di garis depan di mana dibutuhkan skill komunikasi aktif yang menuntut keaktifan dari pihakku. Aku sudah berusaha semampuku. Mungkin masih kurang. Yang kubutuhkan mungkin bukan masukan-masukan yang membuatku tambah merasa down atau nggak pe de, melainkan inspirasi, bombongan, dan tambahan semangat yang disampaikan sedemikian rupa sehingga tidak membuatku menjadi patah semangat. Wedew... ruwet ya... Aku ni kalau dikritik, baik itu positif apalagi negatif, bukannya tambah semangat untuk maju tapi malah kendor karena merasa diri masih jauh dari sempurna. Ya aku tahu sih, aku masih banyak kekurangan terutama di bidang komunikasi ini. Tapi semakin ditunjukkan letak kekuranganku, aku malah semakin gak bergairah untuk memajukan diriku. Dibutuhkan cara yang kreatif untuk membuatku mau maju dan mengatasi kekuranganku tanpa membesarkan kelemahan-kelemahanku. Piye yo? Ada yang bisa?

Aku nggak mau menyalahkan orang lain. Aku nggak mau berharap sepenuhnya pada manusia. Aku nggak mau menunggu diperlakukan seperti yang kuharapkan. Aku akan mencoba lagi untuk melakukan hal-hal baik dan sederhana seperti yang sudah pernah aku canangkan. Semangat pagi. Belas kasihan. Itu saja dulu. Selanjutnya aku serahkan pada Tuhan. haleluya. Amin!!!!!!!

Kamis, 28 Oktober 2010

Kemenanganku

Aku sebenernya capek, tapi tidak boleh dan tidak mau mengeluh.
Tidak mau menyalahkan diri sendiri maupun orang lain.
Tidak hendak menyalahkan keadaan.
Aku kan sudah berketetapan hati.
Aku kan sudah mengampuni.
Aku tahu aku sedang diuji.
Masih lumayan gampang sih 'soal ujian' nya.
Tapi aku hampir saja gagal.
Hampir saja melarikan diri lagi.
Untung tidak jadi.
Untung aku ditolong Tuhan.
Mentalitas pemenang mengalahkan mentalitas korban.
Meskipun ada sedikit rasa nggak nyaman di hati, aku harus tetap maju.
Aku tidak mau berhenti.
Karena aku tahu bahwa apa yang kulakukan ini tidaklah sia-sia.
Ada upah yang menantiku di surga.
Ada sukacita abadi yang menantiku di sana.
Jadi, buat apa menyesali diri?
Tidak ada gunanya.
Aku tinggalkan semuanya itu.
Aku buang semua panas hati itu.
Aku padamkan kemarahan yang tidak membawa kepada kebenaran.
Hidupku terlalu indah untuk kuhabiskan dengan marah-marah.
Aku lepaskan pengampunan.
Aku nyalakan api kasih.
Karena kasih itu sabar dan murah hati.
Aku tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Aku memberkati mereka-mereka yang seolah-olah merugikanku secara material maupun nonmaterial.
Haleluya.
^^

Sabtu, 23 Oktober 2010

Bersyukur Saat Ini

Aku memilih untuk bersyukur saat ini.
Ya, saat ini.
Bukan besok atau nanti2 kalau aku sudah mencapai kesuksesan.
Karena kesuksesan itu sangat relatif sifatnya.
Apa yang aku anggap sukses untuk saat ini mungkin akan dianggap biasa2 saja suatu saat nanti.
Karena hidup itu progresif.
Selalu maju dan tidak pernah stag.
Manusia selalu tidak pernah puas akan pencapaiannya.
Selalu ingin lebih dan lebih lagi.
Kalau aku tidak memutuskan untuk segera bersyukur saat ini, maka aku akan terjebak dalam lingkaran setan ketidakpuasan hidup.
Misalnya begini.
Saat ini aku sudah menceburkan diri sebagai bagian dari civitas hospitalia RS Bethesda.
Beberapa waktu lalu aku anggap ini sebagai wujud kesuksesan.
Tapi sekarang, rasanya malah biasa2 saja dan malah ada beban2 baru.
Muncul lagi keinginan2 baru.
Contohnya keinginan untuk segera mendapatkan tempat yang sesuai dengan passionku, entah apa itu.
Aku yakin, kalau aku tidak segera mensyukuri keadaanku saat ini, aku nggak bakalan bisa menikmati hidup meskipun nantinya aku sudah menempati posisiku yang sebenarnya.
Maka dari itu, aku menghimbau diriku sendiri untuk bersyukur senantiasa saat ini.
Ya, saat ini.
Bukan besok atau nanti2.
Karena kalau tidak sekarang, maka tidak akan ada lagi lain kali.
Semuanya akan terlambat.
Nggak mau kan, ketinggalan?

Rabu, 20 Oktober 2010

Sang Ahli

Dulu aku sering merasa senewen atau gak bisa tenang saat mendengar orang lain memainkan komposisi musik yang begitu indah dan menawan. Rasanya pingin segera bisa memainkan lagu yang sama dengan lebih baik lagi. Rasanya seperti tertantang. Amat sangat tertantang. Tapi sekarang aku lumayan gak seterobsesi dulu. Dulu aku terobsesi untuk bisa bikin komposisi musik yang indah sedahsyat musik2 soundtrack film. Karena impian yang gak segera tercapai (lebih karena kurang gigih dan kurang tekun ^^), maka obsesi tersebut lambat laun memudar. Sekarang obsesiku malah di bidang tulisan. Aku terobsesi untuk menghasilkan karya tulis yang enak dibaca tapi tetap sarat makna. Serius tapi santai. Renyah, gurih, tapi tetap sehat.

Kembali ke bidang musik. Aku sering dibuat takjub dan kagum oleh para pemusik yang mampu menghasilkan musik yang sedemikian rupa ciamiknya. Apapun alat yang mereka gunakan, sesederhana apa pun itu, mereka mampu menciptakan mahakarya yang aduhai dahsyatnya. Mau pakai piano grand, baby grand, electone termodern, organ klasik, atau bahkan pianika sekalipun, kalau yang main itu sudah profesional dan ahli, maka musik yang dihasilkan pun akan tetap bercita rasa tinggi. Aku menyimpulkan bahwa keindahan musik itu bukan terletak pada alatnya melainkan pada si pemain alat musik. Mau alatnya semodern apa pun, kalau yang main masih amatir dan kurang banyak jam terbangnya, tetap saja terdengar kurang grande.

Demikian juga dengan hidup manusia. Keindahan dan nilai hidup manusia itu akan menjadi sangat tinggi bergantung pada Siapa yang memakainya. Sang Ahli pasti sanggup memakai manusia serumit dan sesederhana apa pun untuk menghasilkan karya cipta yang luar biasa indahnya. Apa pun alatnya, siapa pun yang dipakainya, asalkan tangan Tuhan yang bekerja, pasti akan jadi indah luar biasa. Jadi, jangan berkecil hati ya, saudara-saudara yang sederhana dan dipandang kecil oleh dunia.

Bukankah waktu menciptakan manusia, TUHAN melihat bahwa semua itu sungguh amat baik, tidak sekedar baik? Hehe...

Selasa, 19 Oktober 2010

Introspeksi yang Menyenangkan ^^


Tiga hal yang menjadi perhatianku untuk berubah, sekarang menjadi dua hal karena lupa satu... ^^ apakah itu? Mereka adalah: "kurang ramah" dan "kaku". Ya. Kurang ramah. Aku merasa aku ini kurang ramah terhadap orang lain yang belum kukenal. Aku kurang bisa membuka dan mempertahankan obrolan yang asyik dengan orang lain. Lebih banyak menunggu dan pasif. Padahal, statusku sebagai seorang dokter mengharuskanku untuk lebih aktif berkomunikasi. Complain tentang kependiamanku sudah sering kudengar dari banyak pihak. Aku tahu aku memang cenderung pendiam. Dan kependiamanku ini sedikit banyak membuatku dan orang lain jadi terusik atau nggak nyaman. Aku sudah dan sedang berusaha untuk mengurangi intensitas diamku. Butuh proses memang. Harus bisa, pasti bisa, memang bisa. Itulah mottoku. ^^ Kemudian kaku. Sudah sering aku merasa sendiri bahwa gerak gerikku ini kaku, kurang luwes, kurang lincah, dan nggak nyaman dirasakan. Apalagi dilihat. Bahkan sudah ditegur. Aku harus lebih banyak streching nih. Mungkin harus lebih memaksakan diri untuk melenturkan tindak tanduk meskipun amat sangat nggak nyaman rasanya. Seperti kupu2 yang sedang berjuang keluar dari kepompongnya. Butuh usaha aktif. Hei... berarti, aku sekarang sedang dalam tahap kepompong ya? Sudah bukan ulat lagi? Bahkan, kepompong yang sudah matang dan siap menjadi kupu2? Hehe... PUJI TUHAN!!!

Oke deh, keep positive thinking! Thank God, introspeksi ini malah jadi membuatku bersemangat... bukannya negative thinking atau down... thank God... ^^

Sabtu, 16 Oktober 2010

Panggil aku Mbak atau Bu, hehe... ^^


Aku lebih suka dipanggil dengan sebutan "mbak" daripada "dok", demikian juga sebaliknya, aku lebih suka memanggil "bu" atau "pak" daripada "dok"... dok is singkatan dari dokter, saudara-saudara... Ya, begitulah... sejak koas sampai sekarang, aku merasa risi dan canggung kalau harus memanggil senior dengan sebutan "dok" atau dipanggil orang lain dengan sebutan "dok"... rasanya ada semacam sekat pemisah antara aku dan mereka saat sebutan "dok" itu terucap... ada semacam perbedaan kasta yang membuat seseorang yang memanggil "dok" itu lebih rendah daripada seseorang yang dipanggil "dok"... hehe... bingung? Mungkin bahasaku terlalu mbulet... bertele-tele kalau orang Jawa bilang... ^^ Intinya adalah aku nggak gitu suka dengan sebut-menyebut "dok" kepada sesama rekan sejawat baik itu senior maupun junior... Aku lebih suka memanggil mereka "mbak", "mas", "pak", atau "bu"... kesannya lebih akrab dan lebih familier, lebih membumi... kalau "dok" itu kesannya lebih dingin, formal, dan kaku... makanya, waktu dr Meryl mulai manggil aku dengan sebutan "mbak" instead of "dok", aku senang sekali... rasanya seperti punya adik baru, punya anggota keluarga baru... hilang sudah sekat junior senior yang membatasi ruang pergaulan... ^^ Dan sejak kemarin sore, tepatnya waktu jaga, aku mulai membiasakan diri memanggil dokter2 senior dengan sebutan "bu"... rasanya lebih enak dan lebih alami, lebih nyaman di lidah dan di hati... ^^

Kenapa bisa begitu ya? Hmmm... mungkin karena kultur di negeriku yang lebih mengutamakan nilai2 kekeluargaan di atas nilai2 pekerjaan formal... beda dengan budaya barat... istilah "dokter" kan bukan asli dari negeriku... istilah itu berasal dari budaya barat untuk (doctor) untuk menyebut orang2 yang kompeten di bidangnya... dan mereka memang terbiasa dengan budaya kerja yang profesional... bukan berarti orang2 negeriku nggak pofesional, bukan... melainkan adanya semacam skala prioritas hidup yang berbeda... di sini, nilai2 kekeluargaan demikian kentalnya sekental darah yang mengalir di pembuluh darah (hehe)... saking kentalnya, jadi ada ekses negatif yang menyertai yaitu munculnya praktek2 nepotisme yang tidak sehat bin tidak adil... nggak terkecuali di tempat di mana aku berada sekarang ini... apakah ini salah? Dosa? mungkin iya, mungkin juga tidak... susah kalau harus menghitam putihkan semuanya... mungkin ini masuk daerah abu-abu... sebab, kalau nggak ada nepotisme sama sekali, juga repot... karena kita akan bekerja dengan orang2 yang sama sekali tidak kita kenal dan hanya mengedepankan aspek prestasi tanpa ada aspek hubungan yang bersifat manusiawi... padahal kan kita masih hidup sebagai manusia yang mau nggak mau pasti membutuhkan relasi yang nggak sekedar formlitas kaku... hehe... bingung gak? Semoga tidak... ^^

Salahkah memanggil senior sejawat dengan sebutan "pak" atau "bu"? Menurutku nggak salah sih, sejauh kita melakukannya dengan hati yang tulus dan ada ras hormat di dalamnya... dan memanggil dengan sebutan "dok" pun sah-sah saja selama hati kita tidak merasa canggung... pokoknya yang fleksibel saja... kapan mau manggil "dok", kapan mau manggil "pak" atau "bu", itu nggak ada aturan yang baku... yang penting kaidah kasih tetap terpelihara... ^^

So, silakan panggil aku sesukamu, mau "dok" atau "bu" atau "mbak" terserah... yang penting nyaman di hati... betul? ^^


Rabu, 13 Oktober 2010

Lima Sekawan Genk IGD ^^


Ini dia genk terbaru IGD... terdiri dari lima orang dokter junior yang lagi berstatus magang dan kontrak... empat cewek satu cowok... kebalikan dari Power Rangers ^^... tidak ada yang superior maupun inferior di sini... semua sama derajatnya, meskipun Mimi Imut terhitung yang paling tua usianya... masing2 punya ciri dan keunikan tersendiri... yang jelas, genk baru ini bakalan mewarnai hari2 Mimi Imut di IGD... IGD yang adem jadi terasa hangat deh... ^^

Siapa sajakah mereka? Ini dia profilnya...
  1. dr. Marlentine a.k.a. ranger Meril
  2. dr. Dian Puspita Dewi a.k.a. ranger Dede
  3. dr. Yohana Puji Dyah Utami a.k.a. ranger Mimi Imut
  4. dr. Yohan Cahyo Wibowo a.k.a. ranger Yohan
  5. dr. Gracia Yudo a.k.a. ranger Grace
Meril yang cantik dan malu2 tapi ramah, Dede yang rajin dan murah senyum, Mimi Imut yang cool dan misterius, Yohan yang semangat dan optimis, dan Grace yang rame dan suka keramaian.... ^^ Itulah kira2 profil mereka... Diharapkan, mereka berlima dapat kompak selalu dan semakin memeriahkan suasana di mana pun mereka berada...

Hari Rabu ini, empat anggota genk minus Mimi Imut, berencana mau nonton bareng di Empire XXI... semua ini atas ide dan prakarsa dari Grace... Sayang sekali Mimi imut gak bisa ikut karena sedang bersemedi lagi di Selang Wonosari... tapi Mimi Imut tidak patah hati... Mimi Imut bersyukur karena masih ada lain waktu... ya, semoga saja lima sekawan anak baru IGD ini dapat having fun together, hanging out bareng2, ke mana aja terserah... hehe...

Ini baru awalnya... mungkin nanti bakalan ada episode2 terbaru dari lima sekawan ini... mari kita tunggu saja cerita dari mereka... yukz!!! ^^

Sabtu, 09 Oktober 2010

Yoanito, Dokter yang Lucu ^^

dr. Stephanus Yoanito... Itulah nama sahabatku yang satu ini. Orangnya lucu, ceriwis, blak2an. Teman seangkatan yang terkenal sekali akan kevokalannya. Dulu sempat di Bethesda juga selama kurang lebih dua tahun. Sekarang, Yoanito atau lebih sering dipanggil Yoyo, bekerja sebagai PNS (atau masih CPNS ya?) di Dinkes Propinsi atau di BP4 paru yang katanya mau jadi RS khusus paru. Masih dengan ciri yang melekat padanya itu, yaitu ceriwis dan vokal, Yoanito menjadi orang yang semakin diperhitungkan di tempat kerjanya. Kompetensinya? Jangan tanya! Kecil-kecil begini, Yoanito itu tergolong pandai lho. Otaknya tergolong tok cer. Yang lebih mengagumkan lagi, Yoanito sepertinya tidak menyombongkan kepandaiannya. Selalu saja dia mengakuinya sebagai berkat Tuhan. Begitu yang sering disampaikannya padaku.

Tanggal 17 Oktober 2010, Yoanito akan melangsungkan pernikahannya dengan Esther di daerah Semin sana. Jauh ya. Sayang sekali sepertinya aku nggak bisa menghadiri acaranya karena pas tanggal 17 itu aku dijadwal di BP Wonosari. Yah, aku cuma bisa titip doa aja deh buat Yoanito. Kemarin beberapa hari yang lalu Yoanito mengantarkan undangan pernikahannya ke rumah. Sekalian nitip buat Yiska dan BP Maranatha. Semuanya sudah kusampaikan dengan sukses.

Yang berkesan dari Yoanito adalah... kemampuannya untuk "merakyat". Dengan siapa saja Yoanito selalu ramah dan banyak ngobrol. Ciri-ciri orang yang bakalan jadi orang besar. Aku perlu belajar banyak dari Yoanito nih. Selain itu, Yoanito terkenal dengan tubuhnya yang kurus meskipun makannya banyak. Kenapa ya? Apa mungkin Yoanito terlalu banyak beraktivitas fisik? Hmmm... Semoga saja tidak apa-apa.

Maju terus Yoanito!!! Tuhan selalu bersertamu. Cayooo!!!

Yohan, Dokter yang Penuh Semangat ^^

Sekarang aku mau cerita dikit tentang seorang rekan sejawat dan temanku, yaitu dr. Yohan Cahyo Wibowo. Dimulai dari mana ya? Bingung. Aku pingin cerita tentang semangatnya yang selalu positif dan menular. Apa ya rahasianya? Dan siapakah Yohan ini? Ok... Kencangkan sabut pengaman anda, dan here we go...

Yohan Cahyo Wibowo. Putra pertama dari pasangan dokter Sugiyanto dan drg. Jendwasti. Ketiganya membaktikan diri mereka di RS Bethesda Yogyakarta. Yohan ini baru masuk sebagai pegawak kontrak tahun 2010 ini. Berbekal ilmu kedokteran yang sudah ditimbanya di FK UGM sejak tahun 2004, Yohan melangkah dengan penuh percaya diri, semangat, dan optimisme tinggi di RS Bethesda. Terhitung sebagai adik angkatanku (aku angkatan 2002), Yohan malah lebih dulu masuk Bethesda kurang lebih 2 bulan dibandingkan aku dan Dede.

Yohan terkenal dengan gayanya yang easy going, banyak omong positif, dan penuh dengan rasa humor. Kemampuannya berkomunikasi membuatnya makin mantap dan percaya diri saat menghadapi semua orang, baik itu dokter, perawat, pasien. Orang-orang dari berbagai level dilayaninya dengan semangat. Kemampuan komunikasi yang luar biasa inilah yang menjadi andalan Yohan dalam menekuni pekerjaannya setiap hari baik itu di IGD maupun BP Wonosari. Meskipun ada yang mencibir atau berkomentar yang gimana2, Yohan sepertinya tidak terlalu memusingkan hal itu. Yohan senantiasa berpikiran positif dan selalu belajar mengambil hikmahnya. Itu sih yang kutangkap dari status2 FBnya.

Yohan termasuk bilangan orang yang langka. Maksudnya, jarang lho ada orang yang seperti Yohan. Ibarat Kaleb dan Yosua yang selalu berpikiran positif sehingga mereka layak masuk ke tanah perjanjian, demikian pula Yohan. Yohan seolah tidak termakan pikiran2 negatif yang sering meracuni pikiran manusia modern dewasa ini. Hal-hal yang menurutku bisa menjatuhkan mental, bagi Yohan dapat diatasi dengan tawa dan canda. Benar-benar luar biasa. "Luar biasa" merupakan kata-kata yang sering terucap dari mulutnya. Memang benar bahwa orang akan memetik buah perkataannya. Maka, Yohan pun menjadi luar biasa sama seperti perkataan positif yang sering diucapkannya.

Ke depannya, Yohan mau menjadi pegawai tetap di RS Bethesda setelah 3 tahun kontrak. Kemudian, dia mau ambil spesialis. Harapan yang tinggi ada di pundak Yohan. Mari kita doakan supaya Yohan dapat senantiasa optimis dan semangat dan dapat memajukan RS Bethesda sesuai dengan kapasitas yang telah diberikan Tuhan padanya. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Hehe... ^^

Semangat Pagi dan Sukacita ^^

Kembali lagi ke BP Maranatha yang adem ayem... apalagi cuaca hari ini mendung, nyaman untuk santai, kondusif untuk menulis... Prestasi hari ini, aku gak ketiduran selama perjalanan dari Bethesda ke Nanggulan ini... hehe... biasanya aku jatuh tertidur di mobil, padahal sudah kupaksakan untuk melek semelek-meleknya... tapi tadi, aku bisa tetap terjaga sambil mendengarkan radio Sasando sepanjang perjalanan... apalagi sopirnya (gak tahu namanya, doh) enak ngobrolnya... mungkin golongan darahnya B ya... hehe... Sepanjang perjalanan, aku menikmati sajian musik rohani kontemporer yang rancak... sangat sangat membangkitkan semangat... thanks to Sasando and Stevany yang telah dengan setia menyapa semua pendengar di Jogja dan sekitarnya... memang cocok pagi2 diisi dengan lagu-lagu pujian yang rame sehingga semangat pagi menjadi berkobar dan kerja menjadi menyenangkan...

Semangat pagi yang sudah kucanangkan dalam hatiku beberapa waktu yang lalu cukup manjur membuatku senantiasa bersemangat dan menepis semua kekuatiran yang sering sekali menggangguku... Sekarang, aku menambahkan "roh sukacita" dalam hari-hariku... aku mau belajar untuk bersukacita senantiasa, memperbanyak kuantitas dan kualitas tertawa, supaya aku dapat merayakan hidup yang lebih hidup... hidup yang berkemenangan dan berkelimpahan... hidup dalam Tuhan yang telah menang... betapa luar biasanya... ^^ Memang rasanya agak kagok dan asing bagiku untuk mengaktifkan sukacita mode mengingat aku ini cenderung melankolis dan flegmatik... tahu kan apa itu melankolis dan flegmatik? Itu tuh, jenis kepribadian yang cenderung murung (melakolis) dan tanpa ekspresi (flegmatik). Tapi aku nggak mau menyesali maupun mengasihani diri lagi... aku mau belajar untuk menertawakan hidup, menertawakan diri sendiri, dan berserah sama Tuhan... hehe, habis baca buku yang bagus tentang sukacita soalnya... maka, biarlah tema kehidupanku ke depannya aku warnai dengan sukacita dan semangat pagi... ^^

Ok deh... selamat menjalani hari yang penuh semangat dan selamat bersukacita bersama Tuhan.... Tuhan Yesus memberkati!!! ^^

Kamis, 07 Oktober 2010

Sukacita yang Hilang, Mari Nyalakan Kembali ^^

Sukacita... emosi positif... optimisme... itulah yang jarang sekali, atau bahkan tidak pernah ditampilkan dalam sinetron-sinetron striping di TV... yang ada hanyalah kesedihan, ratap tangis, dan kemarahan yang meledak-ledak... betapa mengerikannya... betapa suramnya... apakah hidup hanya seperti itu? Tanpa canda tawa? Hanya ada duka lara? Sungguh mengerikan kalau memang demikian halnya... Kata orang, apa yang tampil di TV itu merupakan gambaran atau cerminan kehidupan nyata sehari-hari... Kalau benar demikian, maka betapa kasihannya negeri ini... Tidak ada sukacita, keceriaan, kebahagiaan, dan damai sejahtera... yang ada hanya kesedihan, kemuramdurjaan, kesuraman, kengerian, dan seabreg hal-hal negatif lainnya... Kegelapan seolah senantiasa menyelimuti di mana bumi dipijak... Seolah-olah tidak ada lagi harapan akan hari depan... jangankan hari depan, hari ini saja sepertinya berlalu dengan begitu mengenaskan... malam terasa amat panjang... Di manakah terang? Di manakah harapan? Di manakah sukacita itu berada?

Kabar baiknya, terang itu masih ada... terang itu masih bersinar... sukacita pengharapan masih terdengar... mungkin masih lamat-lamat berupa senandung rindu, namun lama-lama berkembang menjadi senandung doa yang akan melahirkan sorak sorai kegirangan... Tuhan masih bekerja... Dia mengirimkan RohNya ke dalam hati kita masing-masing... Roh yang menghibur kita... Roh yang menolong kita dalam segala sesuatu... Roh yang menghidupkan tulang-tulang yang sudah kering... betapa luar biasanya... Sukacita yang abadi itu ada di sini, saat ini, asal kita mengizinkannya bekerja...

Sukacita adalah kunci dari hidup yang berkemenangan... Dengan sukacita surga, kita akan mampu menanggung segala perkara di dunia ini... Sukacita dari Tuhan itulah kekuatan kita... Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh dengan sukacita... Maka, kita anak-anakNya sudah selayaknya untuk ambil bagian dalam sukacita itu... Identitas kita sebagai pengikut Kristus nampak dari sukacita ilahi yang terpancar tanpa dibuat-buat... semuanya mengalir begitu rupa karena kita memiliki sumber sukacita itu... Sukacita itu akan berlipat ganda saat kita dengan penuh kasih membagikannya kepada orang lain di sekitar kita... Bagaimana caranya? Tuhan yang begitu kreatif tentu akan menggerakkan setiap kita untuk menyalakan api sukacita itu dengan cara kita masing-masing yang unik... Bersyukurlah untuk hal itu!

Mari kita warnai dunia sekeliling kita dengan sukacita surgawi sehingga nantinya kita dapat melihat di layar TV bahwa tidak ada lagi kesedihan yang berlarut-larut, tidak ada lagi mentalitas korban, tidak ada lagi ratap tangis atas nasib tragis... yang ada adalah sukacita dalam penderitaan, mentalitas pemenang, dan sorak sorai atas kemenangan hidup dalam Tuhan...

Ada amin? ^^


Rabu, 06 Oktober 2010

Hikmah Perjalanan... Kok malah Kotbah ya? ^^

Hari ini sungguh luar biasa... aku menikmati semuanya... sejak dari bangun pagi sampai saat aku menulis sekarang, tak ada satupun yang kusesali... bagaimana bisa menyesal kalau aku begitu diberkati luar biasa... mulai dari bangun pagi setelah tidur yang cukup pulas, ke Bethesda dijemput mas Cah naik motor, di Bethesda duduk manis sambil fb an di ruang pertemuan B lantai 3, pulang dijemput mas Cah lagi, di rumah melanjutkan fb an dan chatting, terus makan indomie goreng ala lek sar, doa bareng mas Cah, terus jalan2 motoran menyusuri jalanan jogja sejauh kurang lebih 20 km, dan kemudian menulis di blog ini... Wew... sibuk tapi menyenangkan... o iya, tadi sore jam 18.00 Yoanito datang ke rumah nganterin undangannya... semoga aku bisa datang... ya, semoga...

Waktu hampir sampai rumah setelah motoran, ada yang melintas di pikiranku... apakah itu? Ini dia... aku ini sangat menikmati perjalanan... rasanya saat2 terindah dan ternikmat itu adalah saat masih di jalan, bukan saat sudah sampai ke tempat tujuan... ke mana saja... nggak peduli mau naik apa, atau malah jalan kaki sekalipun... ada semacam efek terapi di situ mungkin... saking menikmatinya, aku sering berharap perjalanan itu nggak akan pernah sampai ke tujuan... entah kenapa... rasanya pingin terus berada dalam suasana perjalanan yang panjang... padahal nggak mungkin ya... perjalanan pasti akan berakhir di tempat tujuan... tanpa adanya tujuan, perjalanan akan menjadi sia-sia dan kehilangan maknanya...

Mungkin begitu pula dengan hidup manusia... hidup manusia di dunia ini ibarat perjalanan panang menuju tujuan akhir yaitu surga atau neraka... berbahagialah mereka yang takut akan neraka dan merindukan surga... lebih berbahagia lagi mereka yang mengenal pemilik surga... ^^ saking asyiknya di perjalanan alias menikmati hidup di dunia, manusia sering punya keinginan untuk tidak akan pernah sampai ke tujuan akhir... atau paling tidak, semakin berlama-lama dalam perjalanan di dunia...

Padahal, setiap perjalanan pasti akan berhenti... setiap permainan pasti akan berakhir... setiap pesta pasti akan usai... demikian juga dengan perjalanan hidup di dunia... pasti akan berakhir.... tapi, tunggu dulu... berakhirnya perjalanan, bukan berarti berakhir semuanya... bayangkan saja setelah kita menempuh perjalanan jauh... setelah kita sampai ke tempat tujuan, memang kita akan berhenti menikmati kenyamanan getaran kendaraan, memang kita akan berhenti menikmati keindahan pemandangan... akan tetapi, kita akan mulai menyadari keasyikan baru dari tempat tujuan itu... kita akan bertemu dengan orang2 yang sudah menunggu, berbagi cerita dan ceria dengan mereka, menikmati sukacita bersama-sama... ibaratnya, kebahagiaan yang digantikan dengn kebahagiaan yang lain yang lebih besar... demikian juga dengan hidup kita... memang kita akan berpisah sementara dengan orang2 yang kita kasihi, kita akan berhenti melakukan kegiatan yang biasa kita lakukan di dunia... tetapi, ada sukacita yang lebih besar yang menanti kita di surga (kalau kita sudah mengenal pemilik surga ^^)... kita akan bertemu muka dengan muka denganNya, kita akan mengalami reuni super duper akbar dengan orang2 yang kita kasihi dan mengasihi kita... di surga, tidak ada kebahagiaan yang akan berakhir... semuanya berlangsung selama-lamanya... bisa bayangkan itu? Selamanya!!! Wew... Dahsyat!!!

Oleh karena itu, jangan menyesali perjalanan yang akan segera berakhir... jangan berkecil hati kalau sesuatu yang nyaman dan menyenangkan itu akan segera berhenti... arahkanlah hati dan pikiran kita ke sukacita surgawi yang lebih besar di depan... tetaplah optimis dan berpengharapan... Tuhan telah menunggu kita dengan kejutan2 super manis yang telah disiapkannya bagi kita... benarlah apa yang dikatakan firman Tuhan:

Apa yang tak pernah dilihat dan tak pernah didengar, yang tak pernah timbul dalam hati kita, semua disediakanNya bagi mereka yang mengasihi Dia...

Haleluya... Amin!!!!!!!

Selasa, 05 Oktober 2010

Miskomunikasi Hari Ini

Menjadi autis sejenak di tengah-tengah keramaian pelatihan EKG perawat di ruang pertemuan B RS Bethesda Yogyakarta. Karena aku nggak tahu apa yang seharusnya kulakukan, dan aku tidak berusaha mencari tahu, maka aku memutuskan untuk mengautiskan diri sendiri. Mungkin apa yang kupilih dan kulakukan ini salah atau belum benar. Mohon maaf. Mungkin hanya Tuhan yang tahu kondisi hati dan pikiranku yang sebenarnya saat ini. Didominasi oleh rasa capek dan kesal. Capek karena merasa belum melakuakan sesuatu yang berguna. Kesal karena masih tersisa perasaan dongkol akibat miskomunikasi dengan mas Cah.

Kok bisa miskomunikasi? Begini ceritanya. Sehabis kembali dari BP Wonosari, aku diajak Yiska dan Bude Titin ke lantai 3 untuk menunggui acara pelatihan EKG. Aku sama sekali lupa bahwa sejak kemarin sampai besok Jumat ada acara ini. Bahkan aku lupa kalau aku juga menjadi anggota panitianya. Dengan motivasi yang nggak lurus karena ingin mangkir dari tugas dan tanggung jawab di IGD, aku pun naik ke lantai 3. Jas kutanggalkan, stetoskop kumasukkan ke tas, dan the show pun go on. Karena keasyikan ngenet, aku lupa ngasih tahu mas Cah. Jadilah sekitar jam 2 kurang, mas Cah sms tanya minta dijemput jam berapa. Aku pun bilang apa adanya. Ternyata mas Cah mau ke pameran komputer. Aku pun kaget. SMS saling berbalasan. Dan mas Cah bilang supaya lain kali ngasih tahu lebih dulu supaya bisa ngatur jadwal dengan lebih efektif. Sebenarnya gak ada emosi negatif yang berlebihan di situ. Cuma, aku merasa kesal dan dongkol karena akulah pihak yang harus bertanggung jawab atas kemiskomunikasian ini.

Iya deh. Aku yang salah. Aku akan lebih bertanggung jawab lagi. Maaf ya mas Cah... hui hui... T_T

Sampai tulisan ini dibuat, acara pelatihan masih berlangsung.


Senin, 04 Oktober 2010

Ngalor Ngidul Sejenak, about Passion

Saat aku berpikir hendak menulis apa, aku malah jadi bingung mau nulis apa. Saat aku berpikir untuk menuliskan sesuatu yang lebih berbobot, nggak sekedar nyampah, aku jadi blank dan semakin bingung. Daripada membuang-buang energi percuma untuk memikirkan sesuatu yang nggak juga muncul, lebih baik aku memulai menulis sesuatu. Ya seperti inilah jadinya. Dan hujan pun kembali turun. Tanda bahwa surga menyetujui apa yang sedang kupikirkan dan kulakukan? ^^ Ok deh... mari kita ngobrol ngalor ngidul. Maaf kalau obrolannya untuk sementara satu arah dulu.

Ok. Mulai. Setelah jeda sejenak, aku mendapatkan satu pertanyaan penting ini. "Apa sih sebenarnya passionmu?" Pertanyaan yang dulu sempat kugembar-gemborkan dengan penuh semangat. Kupikir aku akan tahu dengan pasti. Kupikir aku akan segera tahu. Kupikir aku akan segera melakukannya. Eh ternyata... sampai detik ini aku masih belum juga menemukannya. Apa aku terlalu malas ya? Apa aku kurang mencari? Apa aku kurang serius dalam bergumul?

Sebenarnya kalau dibilang kurang serius sih juga tidak... mungkin kurang sparing partner yang bener2 berhikmat aja... selama ini aku juga jarang sih membicarakannya... soalnya aku sering lupa... aku keasyikan dengan apa yang ada di depan mata... dan mumpung sekarang ingat, ya aku tulis saja...

Passion... what is passion? Apa sih passion itu sebenarnya? Kok sampai digembar-gemborkan sedemikian rupa luar biasanya... Terjemahan bebasnya sih "hasrat" atau sesuatu yang menggerakkan seseorang dengan amat sangat sehingga orang itu terdorong untuk melakukan suatu hal dengan sepenuh hati... hehe... tiap orang mestinya punya passion... kalau enggak, ya berarti orang itu hanya setengah hidup... hidupnya bakalan asal2an kalau nggak punya passion. Terus, bagaimana seseorang bisa tahu apa yang menjadi passionnya? Pertanyaan yang sama dengan pertanyaanku... bagaimana? How?

Sampai sekarang aku masih belum bisa menemukan dengan tepat apa sih sebenarnya passionku... untuk saat ini mungkin menulis... Menulis sesuatu yang bisa membuat yang membaca terhibur, tergerak hatinya, dan terinspirasi... entah menulis apa... tapi ya nggak bisa berhenti sampai di situ saja... Aku harus melangkah lebih jauh lagi. Aku harus menemukan minat sejatiku. Tujuannya apa? Ya supaya tulisanku bisa menjadi lebih tajam dan terarah... Hehe... doakan ya, aku akan berusaha... ^^

Once Upon A Time in Wonosari ^^

Kembali aku ada di BP Bethesda, Selang, Wonosari... semangat? masih... mungkin tidak semenggebu waktu pertama kali ke sini... tapi setidaknya masih optimis... optimis bahwa aku akan bisa memberikan yang terbaik dan mendapatkan pelajaran yang berharga... sedikit merasa kesepian... tapi aku nggak mau larut dalam kesepian... kan aku nggak sendiri di sini... ada Tuhan Yesus, ada malaikat2Nya, ada para perawat dan pegawai yang lain, ada pasien dan keluarganya... aku pingin belajar ngobrol dengan para pasien dan keluarganya... ngobrol apa aja... setidaknya belajar mendengarkan dan berempati terhadap keluhan2 mereka tanpa ada tendensi apa pun... motivasinya untuk menjadi teman yang baik... sukur2 bisa membantu meringankan beban penderitaan yang dialami... dan kalau ada kesempatan, bisa mendoakan dan berbagi kasih Tuhan Yesus sama mereka... sampai saat ini aku baru sekali mendoakan pasien yang kutangani... pengalaman yang mengesankan... aku masih perlu belajar lebih banyak lagi nih... bukan cuma fisik diagnostik, melainkan juga belajar komunikasi terapetik dan pastoral...

Bicara tentang pastoral... kurang lebih sudah tiga kali aku mendapatkan masukan tentang pastoral... tiga2nya dari orang yang berbeda... seolah-olah mereka mengarahkanku untuk menjadi dokter yang juga melayani pastoral, hubungan vertikal dengan Tuhan... dulu memang pernah aku berpikiran tentang hal ini... dan memang pernah ada terbersit keinginan untuk terjun di bidang ini... tapi sekarang aku masih belum tahu bagaimana bentuknya... apalagi saat ini aku juga sedang mempertimbangkan untuk menuju ke jenjang S2 IKM... itu pun masih belum tahu arahnya ke mana... apakah ke admisintrasi atau ke SIMKES... nah, antara IKM dan pastoral... mana yang harus kupilih? Atau malah dua2nya? Hmmm...

Saat aku menuliskan hal ini, di sini mulai turun hujan yang cukup lebat... seolah-olah surga menjawabku... setiap kali hujan turun, aku selalu berasumsi bahwa Tuhan setuju dengan apa yang sedang kupikirkan atau kugumulkan... ^^ Berarti, Tuhan sedang mengarahkanku untuk mempertimbangkan dan menggumulkan lebih sungguh2 lagi tentang hal ini, yaitu tentang pastoral dan/atau IKM... Hmmm... boleh juga... wah, hujannya deras banget, disertai angin pula... puji Tuhan, haleluya... nggak jadi kekurangan air deh... ^^