Senin, 30 November 2015

Bersyukur untuk Vertigo Bapak, Refleksi Tujuh Tahun

Bapak opname lagi karena vertigo. Sejak Jumat sore, bapak resmi menjadi pasien rawat inap di bangsal saraf. Syukurlah vertigonya terjadi saat bapak tidak sedang menyetir mobil atau sendirian. Bapak waktu itu sedang bekerja di kamar operasi sehingga segera tertolong. Singkat cerita, bapak dipondokkan lagi setelah tujuh tahun berlalu sejak serangan vertigo hebat itu.

Terhitung sudah tiga kali bapak terserang vertigo hebat. Yang pertama saat aku sedang dalam fase depresi yang kelam. Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi. Bapak yang vertigo berat dan harus dibawa ke rumah sakit tidak membuat hatiku tergerak untuk melakukan hal baik. Depresi yang jahat telah melumpuhkan kebaikan hati yang TUHAN tanamkan di dalamku. Bersyukur, ada anggota keluarga besar yang mau menolong dan memperhatikan bapak. Serangan kedua adalah saat aku menjelang masuk masa koasistensi. Waktu itu aku sudah bebas dari cengkeraman depresi, namun masih sedikit apatis dan kurang semanak. Lihat saja postingan-postinganku di sini. Bersyukur, bapak dapat pulih kembali dan melakukan aktivitas seperti biasa.

Kali ini, aku mendapati bahwa diriku telah mengalami pembaharuan. Saat bapak vertigo ini, aku tidak lagi dikuasai depresi. Kebaikan hati--kasih, sukacita, damai sejahtera dan belas kasihan yang murni--kini memenuhi hati dan pikiranku, terutama saat aku menemani bapak yang opname. Aku tidak lagi merasa terbeban amat sangat, bosan tiada terkira, ataupun mengasihani diri sendiri seperti yang sudah-sudah. Sebaliknya, aku merasa sangat bahagia dan bangga karena telah berbuat baik buat bapak. Tidak ada rasa bersalah atau menyesal, yang ada adalah rasa syukur atas berkat dan anugerah TUHAN. Ya, aku bersyukur karena TUHAN telah beracara denganku selama ini. Tujuh tahun berlalu dengan tidak sia-sia rupanya.

Saat aku menjagai bapak yang sedang menderita akibat vertigo, aku beroleh kesempatan untuk mengenal TUHAN lebih lagi. Ada waktu yang cukup untuk membaca-baca bagian dari Injil sehingga pikiranku dipenuhi perkataan kebenaran dan hidup yang kekal dari Tuhan Yesus. Ada waktu untuk berdiam diri dalam keheningan kudus hadirat TUHAN yang membuatku lebih tenang. Ada waktu pula bagiku untuk belajar dan berproses seperti tiga bersaudara Lazarus, Maria, dan Marta itu (bukan kebetulan aku membaca perikop tentang mereka siang tadi). Lazarus mengajariku tentang pengharapan dalam hidup setelah kematian, Maria mengajariku tentang hati seorang penyembah yang menikmati kebersamaan kudus dengan TUHAN, dan Marta mengajariku tentang pelayanan yang sejati melalui hal-hal sederhana. Kesemuanya itu aku praktekkan hari ini saat aku menemani dan menjagai bapak dari pagi sampai sore.

Untuk semua hal yang tersebut di atas, aku hanya bisa mengucap syukur sedalam-dalamnya kepada TUHAN. Segala sesuatu mungkin tetap sama atau sedikit berubah. Tapi, aku tahu satu hal telah berubah dengan nyata, yaitu hati dan pikiranku. Aku yang egois, sombong, dan bodoh ini telah diproses TUHAN sedemikian rupa sehingga menjadi aku yang baru. Semua ini karena anugerah-Nya semata. Haleluya.


Selasa, 24 November 2015

Pemahaman Baru tentang Bipolar: Desain Ulang Pola Pikir

Syukur kepada TUHAN untuk pemahaman baru yang kuperoleh mengenai diagnosis bipolar yang kusandang. Selama ini aku berpikir bahwa diagnosis bipolar ini adalah sebuah stigma yang membedakanku dari orang-orang pada umumnya. Dengan stigma tersebut, aku seperti sudah ditandai untuk menjadi objek tontonan dan pertaruhan antara TUHAN dengan yang bukan TUHAN. Dan aku pun menjalani kehidupanku setiap waktu dengan rasa waspada ekstra, berjaga-jaga penuh supaya tidak kalah dengan pihak yang bukan TUHAN. Pendek kata, bipolar bagiku adalah suatu beban yang harus kupikul sepanjang hayat. Kini, pandangan tersebut diperingan dengan satu pemahaman baru. Bipolar tidak lagi semata-mata menjadi beban bagiku. Bipolar menjadi semacam rahmat dalam penyamaran. Entah bagaimana, pikiranku terbuka untuk menyadari bahwa sebenarnya TUHAN sedang mendesain ulang pola pikirku dengan adanya bipolar itu.

Kesadaran ini berawal dari menyimak baik-baik obrolan para ibu Kalyca melalui fasilitas grup WA. Waktu itu, ibu-ibu Kalyca sedang membahas tentang sistem pendidikan di Indonesia pada umumnya dibandingkan dengan sistem pendidikan yang dianut Kalyca. Intinya adalah sistem pendidikan di Indonesia pada umumnya itu tidak berhasil membangun karakter manusia yang sejati. Sistem tersebut (yang sudah kualami sejak SD, SMP, SMA, dst) hanya mencetak manusia-manusia penghafal yang tidak paham konsep ilmu pengetahuan. Lebih parah lagi, sistem tersebut telah menghasilkan manusia-manusia yang berorientasi pada hasil akhir tanpa menghargai prosesnya. Sebagai contoh, nilai rapor yang bagus, ranking di kelas, nilai-nilai A, IPK tinggi, jabatan/status mentereng, penghasilan selangit tanpa disertai proses pencapaian yang benar. Sudah umum diketahui bahwa siswa mencontek, sekolah membocorkan soal ujian nasional, mahasiswa titip absen, dosen plagiat, pejabat korup, dll itu adalah akibat dari pembiasaan dan pembiaran dalam sistem pendidikan. Sedangkan manusia yang jujur, adil, kritis, dan berani membela kebenaran malah diasingkan, dicibir, dihina, bahkan sampai dihabisi kariernya, reputasinya, nyawanya. (Ibu-ibu Kalyca tidak sampai membicarakan hal-hal yang disebut terakhir, hanya saja pembicaraan mereka membuatku berpikir sampai ke situ).

Aku yang tumbuh dan berkembang di bawah sistem pendidikan konvensional ala Orde Baru ini pun menjadi buktinya. Masa-masa TK tidak begitu kuingat, tapi sepertinya aku tidak mengalami masalah. Masa-masa SD mengenalkanku pada sistem rangking, sepuluh besar, lima besar, juara umum, EBTANAS, NEM. Aku bahkan berkesempatan untuk mengikuti lomba-lomba seperti LCT P4 dan matematika. Sampai SMP, aku pun masih menjalani pola yang sama. Belajar keras untuk menjadi dan mempertahankan gelar juara kelas sudah menjadi makanan sehari-hari. Dengan itu semua, aku merasa layak dipandang sebagai anak pintar. Tapi tetap saja ada satu kekosongan dalam hatiku. 

Masa-masa SMA adalah awal masa pembalikan prioritas. Sejak kelas dua, aku sudah tidak lagi mengejar prestasi akademik semu. Lulus ujian SMA pun aku tidak lagi ada di jajaran sepuluh besar. Rasanya aneh memang, dan aku sempat sedih karena seperti ada yang hilang yaitu penghargaan dari orang-orang. Kemudian masuk kuliah, mulailah benturan itu terjadi. Aku yang masih belum bebas dari pola pikir lama, yaitu harus menjadi nomor satu secara akademis, harus menyerah di bawah tangan TUHAN yang kuat. Aku harus melepaskan keinginan untuk terus menjadi yang terhebat secara akademis. Banyak pergumulan dalam hati dan pikiran yang membuatku lambat menyerap informasi dari para pengajar. Masa-masa itulah aku mengalami goncangan jiwa yang parah. Waktu itu istilah bipolar belum sepopuler sekarang. Jatuh bangun kualami. Pasang surut naik turun suasana hati kulewati. Aku merasa marah pada siapa pun, mungkin juga pada TUHAN. Aku merasa ditinggalkan. TUHAN pun tidak menyatakan apa-apa. Bingung dan hilang arah kualami. Namun entah bagaimana, ini pasti karena anugerah TUHAN, aku bisa juga lulus dan menyandang gelar dokter. Tentu saja dengan tetap menjaga kondisi supaya tidak jatuh lagi dalam ekstrim manik ataupun depresi. 

Setelah bekerja dan berkeluarga, pelan-pelan aku mulai belajar dan menikmati proses belajar itu. Aku tidak lagi dihantui keharusan untuk menjadi yang nomor satu. Aku belajar untuk tidak lagi memandang sesama rekan sejawatku sebagai pesaing. Aku belajar untuk berani mengeluarkan pendapat dan berdiskusi alih-alih diam atau pura-pura tahu. Aku belajar bahwa hidup itu adalah proses pembelajaran terus-menerus yang tidak akan pernah berhenti oleh lembar ijazah. Dalam dunia pekerjaan pun, aku menyadari bahwa senantiasa belajar itu sangatlah penting. Jika aku lupa belajar, maka aku akan tergilas dalam arus mengejar uang, status, jabatan, dsb. Maka, kutemukan bahwa passion atau hasrat hidupku sebenarnya adalah belajar, bukan semata-mata mengejar predikat semu. Dan dengan hasrat belajar itu, kutemukan kesadaran bahwa hidupku sungguh berharga. Seluruh aspek hidupku sangat berharga di mata TUHAN, termasuk terdiagnosis bipolar itu. 

Jika kurenungkan baik-baik, maka dengan terdiagnosis bipolar, aku semakin menyadari betapa baiknya TUHAN itu. Mungkin jika aku tidak sampai jatuh bangun dalam bipolar, aku akan menjadi lebih baik lagi. Tapi kenyataan menunjukkan bahwa meskipun harus mengalami bipolar, aku tetap bisa menyatakan bahwa TUHAN baik. Kebaikan-Nya bagiku itu tampak dari cara-Nya menyadarkanku akan kekeliruan pola pikirku. Pola pikir lamaku yang terbentuk oleh sistem pendidikan yang dulu telah, sedang, dan akan terus dirancang ulang menjadi pola pikir yang baru sesuai dengan kehendak-Nya yang mulia. Dengan kesadaran demikian, aku tidak lagi memandang diagnosis bipolar sebagai stigma atau beban hidup yang memalukan. Sebaliknya, aku beroleh pemahaman bahwa semua yang terjadi itu adalah seturut dengan kehendak TUHAN yang mahabaik. Oleh karena itu, sekali lagi aku bersyukur atas segala rahmat dan anugerah-Nya yang tidak terkira. Haleluya. Shalom!


Selasa, 17 November 2015

Ingat Bersyukur

Daya ingatku tidak bagus-bagus amat. Aku sering lupa banyak hal. Tapi satu hal yang selalu kuingat yaitu bersyukur. Dengan bersyukur, aku dapat merasa bahagia lebih lama. Dengan bersyukur, aku merasa dunia tidak jelek-jelek amat. Dengan bersyukur, aku semakin menyadari betapa Tuhan itu sungguh amat baik.

Bersyukur adalah sikap yang bagiku sangatlah vital untuk memiliki kehidupan yang penuh makna. Tanpanya, hidup dapat dengan mudah tergelincir ke sisi kelam. Kita jadi mudah bersikap sinis, apatis, dan nyinyir terhadap segala sesuatu. Hal-hal yang kita lihat dan dengar sehari-hari dapat membuat kita terjebak dalam sikap pesimis berlebihan jika saja bersyukur tidak kita jadikan gaya hidup. Misalnya saja berita-berita seputar dunia, negara, dan profesi yang hari-hari ini dipenuhi oleh teror, kekecewaan, dan kemarahan yang dilampiaskan melalui hiruk pikuk dunia maya (dan nyata). Lihat saja status-status dan komentar-komentar yang saling sindir dan saling hujat setiap saat menanggapi peristiwa yang fenomenal. Belum lagi grup-grup WA maupun BBM yang berisi keluhan dan sikap-sikap pesimis apatis terhadap setiap kebijakan dan pernyataan para pejabat terkait profesi masing-masing. Kita jadi lupa bahwa di samping hal-hal yang tampak buruk itu, ada sisi lain yang luput dari sorotan. Ada sisi kemanusiaan yang butuh didengarkan dan dipahami, bukannya dicela dan dihina dina. Ada jurang perbedaan yang perlu dijembatani, bukannya semakin dilebarkan.

Lalu bagaimana cara sederhana supaya kita tidak mudah lupa untuk bersyukur? Apa sih yang mesti kita syukuri itu? Berikut ini beberapa hal yang mungkin dapat membantu mencerahkan hati dan pikiran kita... semoga... ^^

  • Saat bangun pagi, jangan langsung buru-buru mandi, makan, dst. Ambil waktu sejenak untuk berdiam diri. Saat diam tenang, mari kita arahkan perhatian kita sepenuhnya kepada Sang Khalik Semesta. Mari sapa Dia dengan segenap rindu, cinta, kasih, dan semua perasaan positif. Tekankan dalam hati bahwa Dia telah terlebih dahulu mengenal dan mengasihi kita dengan begitu limpahnya. Maka, kita hanyalah meresponi segala kebaikan-Nya itu denga sepenuh hati. Peluk erat semua yang kita rasakan, alami, dan hayati saat duduk diam di dalam hadirat-Nya. Nikmati terus kebersamaan yang indah dan kudus itu. 
  • Saat hati dan pikiran dipenuhi oleh kasih dan kekaguman kepada-Nya, maka bolehlah kita mengeskpresikannya dengan berkata-kata, atau bersenandung, atau bersujud, atau apa pun yang baik dan patut kita lakukan. Ingatlah selalu bahwa Dia sangat senang menerima segala pemberian kita yang dilandasi dengan hati yang tulus ikhlas.
  • Sebagai 'penutup' atau kesimpulan dari waktu kudus kita bersama-Nya, dapatkan setidaknya satu kata kunci yang menginspirasi, yang lahir dari kedalaman hati kita, yang tidak dibuat-buat. Misalnya: "anugerah"... "grace"... "berkat"... "rahmat"... "karunia"... dsb... Simpan baik-baik kata kunci tersebut sepanjang hari, dan saksikan adanya perbedaan yang nyata dari hidup kita pada hari itu. 
Langkah-langkah di atas bukanlah formula baku atau hafalan mati yang harus dilakukan secara kaku. Bisa ada variasi-variasinya, tergantung situasi, kondisi, latar belakang budaya/keyakinan masing-masing. Yang terpenting di sini adalah tumbuhnya sikap bersyukur atau penuh rasa terima kasih atas segala anugerah TUHAN yang maha sempurna setiap hari. Karena dengan bersyukur, kita dimampukan untuk menikmati segala kelimpahan dalam hidup ini, apa pun itu bentuknya.

Mari besyukur senantiasa! Salam!

Rabu, 04 November 2015

Teguran-Nya Menyadarkanku

TUHAN itu sungguh baik. Dia menegurku dengan lembut sehingga aku disadarkan bahwa aku telah tertipu dan terpikat. Ya, aku telah tertipu dan terpikat oleh ajaran dunia yang menyerupai kebenaran firman TUHAN. Sungguh licin caranya menipu dan memikatku itu, tanpa kentara. Tapi, sungguh lembut pula cara TUHAN menegurku, yaitu dengan melalui firman-Nya. Firman-Nya sungguh nyata lebih tajam dan berkuasa. Dan saat aku tersadar telah tertipu, aku pun hanya bisa bergumam, "Oooo... gitu to..." (jadi ingat pelajaran tentang mengatasi penipuan di School of Healing level dua ^^). Bagaimana aku bisa tertipu? Dan bagaimana cara TUHAN menyadarkanku? Begini ceritanya...

Seminggu ini aku keranjingan dengan yang namanya 'law of attraction' yang gencar dikumandangkan oleh penulis buku RAHASIA (terjemahan). Aku mencoba mempraktekkan prinsip sederhana itu. Rasanya sangat enak dan membuatku ketagihan. Aku mencoba memikirkan hal-hal yang menyenangkan bagiku dan mengimaninya sungguh-sungguh (tanpa perlu menyerukan doa kepada TUHAN secara khusus). Aku pikir ini sepele dan tidak berbahaya. Toh di buku RAHASIA itu dicatut pula satu ayat tentang berdoa dalam iman yang tertulis dalam kitab Markus. Maka, tanpa pikir panjang, aku pun mengadopsi prinsip 'sederhana' yang ditawarkan oleh si penulis RAHASIA itu.

Kemudian, karena masih keranjingan dengan konsep RAHASIA, aku pun melanjutkan dengan meminjam buku sekuelnya yang berjudul HERO. Tapi ketika kubaca, entah mengapa tidak begitu mengesankan seperti RAHASIA. Rasanya agak hambar dan kurang greget. Aku pun membacanya sambil lalu saja.

Saat acara pendalaman Alkitab di rumah Cahaya, barulah aku beroleh teguran dari TUHAN melalui firman yang disampaikan. Bukan kebetulan kalau tema firman yang disampaikan saat PA malam ini adalah 'pertobatan'. Ayat-ayat rujukan yang diambil secara perlahan membuka kesadaranku. Berikut ayat-ayat tersebut:
Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yesaya 55: 6-9)
Oleh karena itu katakanlah kepada kaum Israel: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Bertobatlah dan berpalinglah dari berhala-berhalamu dan palingkanlah mukamu dari segala perbuatan-perbuatanmu yang keji. (Yehezkiel 14: 6)
Satu kata yang menyentakku adalah kata berhala. Aku diingatkan bahwa berhala itu dapat berupa diri sendiri yang diposisikan lebih tinggi dari TUHAN. Atau dengan kata lain, berhala itu dapat berupa sikap egosentris atau antroposentris dalam hatiku yang timbul setelah aku membaca RAHASIA itu. Kemudian, aku pun diingatkan kembali akan ayat-ayat berikut ini:
Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di padang angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasillan buah. (Yeremia 17: 5-8)
Memang, di sepanjang tulisan RAHASIA dan sekuelnya, sangat ditekankan sikap percaya pada diri sendiri. Di samping itu, pribadi TUHAN tidak dinyatakan secara gamblang. Sebagai gantinya, dipakailah istilah 'semesta', yaitu pihak yang akan memenuhi semua keinginan pribadi orang yang menerapakan prinsip RAHASIA itu. Nah, di sinilah letak gap antara RAHASIA dengan kebenaran firman TUHAN. Untuk lebih jelasnya, akan kukutip satu lagi ayat dari Alkitab.
Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapa yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya. (Yeremia 17: 9)
Kesimpulan sementara yang bisa kubagikan di sini adalah sebagai berikut:

  • Penulis RAHASIA mengajarkan sebagian kebenaran dan mencampurnya dengan prinsip-prinsip yang tidak sesuai dengan firman TUHAN. Misalnya, prinsip berdoa dengan iman (tertulis di kitab Markus) dicampur dengan sikap egosentris. 
  • RAHASIA menekankan bahwa perasaan itu sangat penting dan sangat dapat dipercaya, padahal firman TUHAN mengatakan sebaliknya.
  • RAHASIA mengajarkan supaya manusia mengandalkan dirinya sendiri dan mengharap mendapat pertolongan dari 'semesta'. Siapakah semesta? Tidak dijelaskan secara gamblang. Padahal, Firman TUHAN berkata bahwa pertolongan kita adalah Dia yang menciptakan langit dan bumi. 
  • RAHASIA seolah mengajarkan bahwa manusia layak dan berhak memperoleh 'hak waris' surgawi tanpa harus melalui pertobatan dan penebusan. Padahal, firman TUHAN dalam Alkitab mengajarkan bahwa yang berhak memperoleh hak waris adalah anak-anak TUHAN. Siapakah anak-anak TUHAN itu? Mereka adalah yang mau bertobat dan menerima karya penebusan dalam Kristus Yesus.
Berdasarkan prinsip dalam Alkitab, yaitu supaya kita menguji segala sesuatu karena tidak semuanya itu berasal dari TUHAN, maka aku pun menarik lagi beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  • TUHAN itu baik. Dia tidak langsung menghukum manakala kita melakukan kesalahan, tetapi Dia menegur atau mengingatkan kita terlebih dahulu supaya kita bertobat, berbalik dari yang jahat. (Ini membuktikan bahwa asumsi seorang bapak yang dengan lantang diutarakan tadi siang di tempat kerja itu tidak benar--> bapak itu berkata bahwa Gusti Allah itu gak pernah ngasih peringatan, Gusti Allah itu langsung ngasih hukuman ^^)
  • TUHAN yang baik itu sanggup menjaga anak-anak-Nya dari penyesatan atau penipuan. Terbukti dengan apa yang kualami malam ini. Syukur kepada TUHAN.
  • TUHAN menjaga kita melalui kuasa-Nya dalam firman dan Roh Kudus yang dianugerahkan secara ajaib. 
Demikianlah yang bisa kusaksikan malam hari ini. Semoga memberkati. Haleluya ^^
 
 
 

Selasa, 27 Oktober 2015

Memetakan Kehidupanku dalam-Nya

Ini bukan tentang aku sebenarnya. Ini adalah tentang Dia dan pekerjaan-Nya dalamku. Apa yang sedang kupersiapkan untuk hari ini adalah langkah kecil bagi keberhasilan rencana-Nya yang mulia. Hidupku adalah proyek-Nya yang sudah sangat cermat dipersiapkan bahkan sebelum dunia dijadikan. Semenjak aku ada dalam hati dan pikiran-Nya, saat-saat ini sudah terancang dengan amat rapi. Jemari tangan-Nya dengan sabar menenun dan merenda setiap detil dalam aspek kehidupanku. Tujuannya adalah hal yang begitu indah dan mulia. Detik ini adalah mata rantai yang terjalin dalam benang merah maksud tujuan itu.

Siapakah yang bisa menceritakan gambaran besar pekerjaan-Nya dari awal sampai akhir? Aku hanyalah satu noktah kecil yang rapuh namun dipakai-Nya untuk melengkapi mahakarya yang abadi itu. Tanpa aku pun sebenarnya Dia tetap bisa berkarya. Tapi entah mengapa Dia tetap memilih untuk menyertakanku dalam keagungan karya tangan-Nya. Yang aku tahu hanyalah bahwa Dia baik dan berbuat baik, maka jiwaku mendapat ketenangan. Hidupku aman dalam genggaman tangan-Nya yang kuat.

Jika ini bukan tentangku, lalu mengapa aku bercerita tentang hidupku? Mengapa tidak kuceritakan tentang sesuatu yang lebih akbar dan universal? Karena aku tidak atau belum memahami semua hal dengan cukup baik. Aku baru bisa meneropong kedalaman jiwaku dengan mikroskop introspektif yang kesahihannya pun masih patut dipertanyakan. Bahkan jiwaku sendiri belum kupahami dengan penuh. Apalagi dengan Dia dan pekerjaan-Nya. Namun ini yang kutahu, yaitu bahwa aku akan merasa penuh saat aku bergerak untuk mengenali Dia dan apa yang dia perbuat dalam hidupku. Dan perjalanan pencarian itu secara ajaib pun turut mempengaruhi kehidupan-kehidupan lain yang juga Dia kerjakan. Kehidupan-kehidupan yang bersentuhan denganku, yang secara sadar maupun tidak sadar kujumpai, entah bagaimana telah Dia atur dan tempatkan di sana untuk menjadi tanda-tanda penunjuk jalanku. Melaluinya, aku belajar memahami dan memetakan jalan hidupku yang penuh keajaiban ini. Tanda tanya pasti ada, tapi tanda tanya itu bukan untuk ditakuti melainkan untuk dicari terus jawabannya. Meskipun kemudian setiap jawaban akan menghasilkan pertanyaan-pertanyaan baru, aku tidak patah semangat karena dalam perjalanan pencarian jawaban itu selalu ada proses yang menumbuhkan.

Sampai di sini, aku baru bisa memetakan sekelumit jalan hidupku yaitu bahwa aku sedang, sudah, dan akan terus berakar, bertumbuh, dan berbuah. Dan yang saat ini ditekankan adalah aspek pertumbuhan tiada akhir, sama seperti pohon kehidupan yang tertanam di tepi aliran sungai kehidupan, yang selaku mengasilkan buah-buah kehidupan yang menyegarkan dan memulihkan. Inilah aku, Tuhan, terus menerus melekat pada-Mu sehingga kehidupan-Mu mengalir dalamku dan terpancar ke luar.

Selasa, 13 Oktober 2015

Sekali Lagi Tentang Belajar

Saat aku sedang menuliskan tulisan ini, aku sedang duduk di kursi belajar. Tepatnya di depan meja belajar hasil rancangan Mas Cah. Meja belajar kali ini sangatlah unik dan spesial. Terbuat dari kayu (tidak tahu namanya) kekuningan, sederhana, namun sangat nyaman. Buku-buku beraneka tema tersusun dengan rapi di rak-rak yang menghiasi meja tersebut. Lampu belajar tergantung di sisi kiriku, menerangi dengan optimal sehingga mataku dapat membaca dengan nyaman. Inilah tempat ternyaman untuk belajar di rumah Cahaya.

Membicarakan meja belajar membuatku ingin berbagi cerita tentang proses belajarku. Aku memahami proses dan kegiatan belajar sebagai duduk di depan meja belajar untuk membaca buku pelajaran dan menulis sesuatu. Bayangan aku yang sedang asyik duduk menulis di meja belajar itu sudah terpatri sejak aku kecil dulu. Bagiku, saat-saat ternyaman dan terasyik itu adalah saat sedang belajar. Di situ aku bisa hanyut larut dalam asyiknya menjelajah dunia ide (meminjam istilah Plato) dan sejenak melupakan realita di sekitarku.

Namun keasyikan sejati dalam belajar itu sempat terdistorsi manakala aku terjebak dalam sistem ranking dan nilai ketika duduk di bangku sekolah formal. Aku melupakan esensi utama dalam belajar karena tergiur iming-iming semu menjadi juara kelas. Aku belajar dengan tujuan semu mengejar prestasi, merebut ranking pertama, dan dengan susah payah mempertahankannya. Aku hidup dalam ilusi seolah aku telah menjadi manusia yang pintar dan bijak, padahal aku hanyalah seorang pengumpul nilai bagus di rapor. Kalau boleh kukatakan, aku sebenarnya nol besar dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi.

Syukur kepada Sang Hikmat, aku dituntun dan disadarkan dengan cara-Nya, baik itu lembut maupun keras. Cara-Nya yang lembut adalah dengan membuatku mengubah prioritas hidupku secara sadar karena aku 'menemukan' dan memilih mengejar hal yang terutama, lebih dari sekedar prestasi akademis. Aku tidak lagi terobsesi untuk menjadi juara satu, dengan konsekuensi logis yaitu aku benar-benar tidak menjadi juara satu. Rasanya ada yang hilang saat aku tidak lagi menerima tepuk tangan riuh atas prestasi akademik.

Cara-Nya yang keras adalah dengan membuatku (nyaris) kehilangan kewarasan karena salah menaruh prioritas hidup. Sudah tidak berprestasi akademik, aku kelewat asyik mengejar hal yang (kuanggap) terutama dalam hidup sehingga tidak menyadari bahwa musim kehidupan telah berganti. Aku menolak perubahan. Akibatnya, aku tergilas olehnya. Syukur kepada TUHAN, aku tidak dibiarkan tertinggal oleh zaman. Melalui orang-orang berhati baik, Ia menyeretku dan mengembalikanku pada posisiku yang seharusnya, meskipun dengan cara yang tidak selalu enak. Dalam keadaan yang sepi karena tidak paham apa pun, aku terus diajar-Nya sampai aku bangkit dan berjalan lagi, meskipun masih belum mengerti.

Proses pencarian jati diri, tujuan, kehendak TUHAN, dan arah hidup yang spesifik telah mengantarku sampai di titik ini. Aku duduk di depan layar laptop ini, menuliskan tulisan ini, dengan hati dan pikiran yang kufokuskan sungguh-sungguh. Entah bagaimana, aku berhasil membangkitkan semangat dan hasrat mula-mulaku untuk belajar. Sambil menunggu proses kehidupan selanjutnya, aku mau berdiam sejenak untuk menghitung-hitung apa saja yang sudah kupelajari sejauh ini.

  • Aku belajar bahwa kepintaran dan kecerdasan itu adalah anugerah TUHAN. Namun anugerah itu haruslah kuterima dengan iman yang disertai perbuatan, yaitu dengan cara belajar sungguh-sungguh dan berserah penuh pada-Nya.
  • Aku belajar bahwa keberhasilan itu adalah suatu proses kehidupan, bukan semata-mata tujuan. Dan aku dapat mencapainya bukan dengan kekuatanku sendiri, melainkan bersama TUHAN. Dialah yang menggerakkanku, dan menggerakkan orang-orang yang turut ambil bagian dalam proses hidupku.
Hidup sejatinya adalah proses belajar. Belajar itu bukan semata-mata untuk memperoleh nilai atau predikat atau status duniawi. Belajar itu adalah untuk hidup itu sendiri. Demikianlah yang bisa kubagikan saat ini. Semoga menumbuhkan semangat yang sama bahkan lebih untuk belajar. Shalom!

Sabtu, 10 Oktober 2015

Refleksi Hasil Belajar Seminggu

Setelah sukses dengan kesibukan seminggu penuh makna, aku mau sedikit merefleksikan apa saja yang kulalui. Bagaimana aku bisa menyelesaikan semua hal tersebut? Sederhana saja, yaitu dengan melakukan perencanaan sebelum bekerja. Aku menuliskan apa saja yang akan kulakukan hari itu dan batas waktu penyelesaiannya. Setelah menuliskannya di secarik kertas, aku mengerjakannya satu per satu dengan penuh perhatian dan semangat. Kemudian, aku membubuhkan tanda centang pada poin atau item yang telah selesai kukerjakan. Rasanya sangat menyegarkan, sangat jauh dari jenuh karena rutinitas. Aku sama sekali tidak merasa sedang melakukan hal-hal rutin yang menjemukan. Sebaliknya, semua hal yang kukerjakan serasa penjelajahan jiwa yang sangatlah menarik. Banyak hal yang singgah dalam benakku yang sedang dalam modus pembelajaran.

Dengan menumbuhkan dan menggelorakan semangat belajar, segala hal yang kukerjakan berubah menjadi bahan pelajaran. Aku yang tidak suka atau alergi dengan istilah 'bekerja' (karena identik dengan perbudakan untuk mengejar uang--menurutku), menjadi sangat menikmati apa pun yang ada di depanku. Kedua tanganku siap mematuhi setiap perintah otak dengan sigap. Kedua kakiku melangkah dengan pasti karena dalam pikiranku telah ada tujuan yang jelas. Aku seakan mempunyai peta jalan yang sangat akurat dengan tambahan aplikasi suara hati yang menyatakan demikian, "Inilah jalannya, berjalanlah!".

Dengan penuh semangat, aku belajar berkomunikasi verbal dengan orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Tidak ada rasa ragu atau minder. Bahkan ketika aku harus menjelaskan rencanaku seminggu ke depan kepada atasan, aku dimampukan untuk menyampaikan jawaban dengan tegas dan asertif. Selamat tinggal kepada rasa rendah diri yang memuakkan. Selamat datang kepada rasa percaya diri yang membanggakan. Kuncinya adalah percaya penuh kepada TUHAN dan lakukan sesuai rencana dengan penuh keberanian. Maka, aku menyaksikan sendiri bagaimana keajaiban itu terjadi dalam hidupku.

Demikianlah hasil pembelajaranku yang bisa kubagikan saat ini. Hari esok yang penuh harapan telah menungguku.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Semangat, Hasrat, dan Minat

Aku harus bersyukur kepada Tuhan, sang sumber ide dan semangat. Berkat anugerah-Nya yang tak terkira dan tak terduga, aku dimampukan untuk mengatasi kecemasanku dengan cara-cara yang kreatif. Berkat anugerah-Nya pula, aku boleh mengalami dan merasakan yang namanya determinasi dan usaha, ketekunan dan daya juang, di samping doa dan keberserahan total pada-Nya. Singkat kata, ora est labora, demikian istilah yang selalu kuingat dari Pendalaman Alkitab para dokter RS Bethesda dulu. Bukan hanya ora et labora, melainkan ora est labora. Artinya kurang lebih begini, doa yang melandasi setiap kerja, atau kerja yang dinafasi oleh doa. Setiap kerja yang kita lakukan dengan sepenuh hati itu adalah wujud nyata dari doa yang sungguh-sungguh.

Seminggu ke depan sudah kuatur jadwal kegiatanku dengan penuh pertimbangan. Ada tenggat waktu dan target yang mesti kupenuhi. Aku mesti mengatur waktu dan energi dengan pas untuk dapat mengerjakan hal-hal berikut ini secara sangkil dan mangkus:

  • melakukan audit klinis dan evaluasi clinical pathway appendektomi pada appendisitis akut simpel untuk kemudian menyusun laporan pencapaian indikator kunci dan indikator mutunya,
  • mempersiapkan proses audit rekam medis tertutup untuk pasien rawat inap yang pulang bulan September 2015,
  • mampir ke Instalasi Bedah Sentral untuk meminta data operasi tonsilektomi dan SC pada abortus inkompletus hari Senin sekitar jam 11-12 siang,
  • ekspedisi ke instalasi laboratorium RS di atas jam 12 siang,
  • mengerjakan audit klinis hernia dengan atau tanpa melibatkan rekan.
Dengan adanya tenggat waktu dan target itu, aku jadi merasa termotivasi secara ekstrinsik. Sedangkan motivasi intrinsikku adalah hasrat untuk belajar sebanyak-banyaknya, sepuasnya, sampai kapan pun aku ada. Hasrat dan minat belajar itulah yang menjadi bahan bakar semangatku. Apa saja bisa kupelajari sepanjang aku menetapkan hati untuk berada dalam modus pembelajar. Hal-hal tersebut di atas merupakan bahan-bahan yang bisa kupelajari. Aku bisa belajar berbagai hal dari situ. Aku bisa belajar mengatur waktu, mengatur energi, memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada untuk tujuan yang baik dan benar. Di situlah aku beroleh nilai tambah. Di situlah karakterku terbentuk. Di situlah jiwaku bertumbuh. 

Untuk menyemangatiku lagi, aku akan mencuplik tulisan pemazmur Ibrani yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Lembaga Alkitab Indonesia ini:
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil (Mazmur 1: 1-3, TB)
 Inilah iman dan pegharapanku. Shalom!

Jumat, 02 Oktober 2015

Ngobrol dengan Bu Yohana

Hari-hari ini aku merasa hidupku berjalan dengan penuh makna. Maksudnya adalah tidak ada waktu yang berlalu dengan sia-sia. Setiap tindakan dan pekerjaan yang kulakukan terasa penuh semangat dan energi. Mungkin ini efek dari membaca habis dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya buku Myelin karya Rhenald Kasali. Lebih dari itu, aku pun menjadi lebih kreatif dalam berkata-kata. Hal ini diaminkan oleh bu Yohana Martini, perawat senior di RS Bethesda, pagi menjelang siang hari ini.

Pagi tadi, saat aku sedang asyik membaca-baca E-book, Bu Yohana menyela. Ia mengajakku ke ruang pertemuan F untuk membantu menyusun Root Cause Analysis (RCA) temuan Tim PKRS berkaitan dengan pengisian form edukasi dan informasi.  Dua masalah temuan Tim PKRS dicari akar masalahnya kemudian dicari langkah koreksi dan pencegahannya. Di situlah ide-ide kreatifku muncul. Bahasa dan kosakata yang kupakai terasa sangat berenergi. Aku cenderung mengusulkan hal-hal sederhana yang memotivasi dan menginspirasi. Setelah Bu Yohana selesai mencatat semua hasil diskusi, aku menceritakan tentang buku Myelin yang telah selesai kubaca. Bu Yohana pun tertarik untuk membacanya. Maka, kujanjikan untuk meminjamkan buku tersebut setelah dibaca habis pula oleh Pak Cahyono. Kemudian kami pun larut dalam obrolan penuh makna.

Yang jadi perhatianku adalah dari mana energi dan kreativitas itu berasal? Apakah itu murni dari hasil membaca buku Myelin? Ataukah kombinasi dengan efek jadwal minum obat rutin yang diturunkan dosisnya, yang secara tidak disengaja bertepatan waktunya dengan saat aku membaca buku Myelin? Dengan kata lain, apakah ini adalah suatu periode hipomanik? Atau ini hanya semangat dan gairah yang wajar?

Sambil terus mengamati perkembangan dalam jiwaku, aku akan terus berjalan menyongsong tingkat kehidupan lebih lanjut. Ya, aku sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti tes seleksi masuk pendidikan spesialis. Itu sebabnya aku baca-baca Ebook. Strategi dan kesiapan roh jiwa tubuhku sangat penting untuk bisa lolos seleksi. Yang terutama adalah adanya determinasi yang kuat di samping usaha yang sungguh-sungguh. Obrolanku dengan Bu Yohana pagi ini sedikit banyak telah menyuntikkan tambahan semangat dan motivasiku. Dengan demikian, aku semakin yakin bahwa Tuhan sendirilah yang mengatur semua ini. Pengaturan waktu dan lain sebagainya begitu pas, tidak terlalu lambat dan tidak pula terlalu cepat. Sudah sepatutnya aku bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih kepada Bu Yohana yang telah menjadi saluran berkat dan anugerah yang tiada taranya.


Rabu, 30 September 2015

Sedikit Cemas

Sedikit cemas, itu yang kurasakan saat ini. Seorang temanku mengatakan bahwa akan ada semacam acara orientasi (yang dinilai) besok, semacam magang. Yang membuatku sedikit cemas adalah ketidakbiasaanku menggerakkan otot dalam bekerja. Aspek psikomotorikku kurang terlatih karena selama ini aku keasyikan di zona nyaman. Aku perlu mempersiapkan diri secara khusus untuk mengaktifkan psikomotorikku. Cara termudah adalah dengan rajin melakukan pekerjaan rumah tangga, mulai dari hal-hal sederhana terlebih dahulu.

Dengan melakukan pekerjaan rumah tangga, aku melatih kepekaanku terhadap lingkungan sekitar. Pekerjaan rumah tangga membuatku bergerak dengan lebih sigap, gesit, dan disiplin. Apalagi, dalam rumah tangga, aku juga berinteraksi dengan orang terdekat. Di situ aku bisa berlatih aspek sosial. Dua hal yang kudapati semakin menyenangkan karena makin terbiasa adalah mencuci piring dan menyeterika. Aku menemukan keasyikan tersendiri dari melakukan dua hal itu. Memang sih pada awalnya terasa membosankan dan melelahkan. Mungkin hal ini (rasa asyik setelah menikmati proses kerja) dapat pula terjadi saat aku sudah nyemplung di sana besok.

Mengenai proses orientasi atau magang itu, aku perlu mempersiapkan segenap roh jiwa dan tubuhku sedemikian rupa supaya aku bisa sukses melewatinya. Aku masih menunggu pemberitaan resminya. Yang baru kudengar adalah sekilas info, namun cukup membuatku siaga. Aku perlu mengatur waktu dan strategi untuk bisa melalui semua tes seleksi besok. Dan tidak kalah penting, aku perlu lebih mendekat dan melekat pada Tuhan melalui saat teduh setiap hari. Dengan persiapan yang cukup, dan dengan penyertaan Tuhan, aku pasti dimampukan melewati semua tantangan.

Kecemasan kecil yang kurasakan ini bisa dikatakan sebagai eustres, atau stres yang 'baik'. Stres yang 'baik' itu akan membuatku menjadi pribadi yang lebih baik lagi jika kusikapi dengan tepat. Aku jadi ingat satu ayat dari Mazmur yang menyebutkan tentang hal ini.
Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu. (Mazmur 119:71)
Ya, aku merasa sedikit cemas seperti tertindas. Tapi aku tahu dan percaya bahwa itu semua baik bagiku karena dengan demikian aku belajar jalan dan cara Tuhan membentukku. Untuk itu, aku bersyukur atas semua perasaan tidak nyaman ini karena dengan demikian, aku keluar dari zona nyaman. Dengan keluar dari zona nyaman, aku mulai kembali proses bertumbuh itu. Dan hanya dengan bertumbuh terus itulah aku dapat terus hidup dengan penuh makna.

Mari menyambut proses selanjutnya dengan hati yang gembira. Shalom!

Senin, 28 September 2015

Semangat untuk Kembali Menulis

Dari perayaan kecil dengan belanja buku murah di Gramedia Warehouse hari Sabtu kemarin, aku beroleh berkat tak terhingga. Berkat itu berupa semangat yang menyala-nyala (kembali). Aku disemangati oleh Tuhan melalui buku yang kubaca. Terima kasih untuk penulis buku yang sedang kubaca, Prof Rhenald Kasali. Buku yang sedang kubaca saat aku menulis ini adalah 'Myelin'--Mobilisasi Intangibles menjadi Kekuatan Perubahan. Entah mengapa setiap kali aku membaca tulisan sang Prof, aku selalu merasa tersemangati oleh optimismenya yang begitu tinggi. Sekali lagi terima kasih kepada Tuhan untuk pribadi luar biasa ini.

Mengenai buku Myelin, aku sangat tertarik dengan bagian 'knowledge management'. Di situ dijelaskan betapa pentingnya kegiatan dan proses menulis pengalaman dan pembelajaran. Suatu pengalaman yang berharga akan sangat sayang jika hilang tanpa jejak. Pengalaman itu akan semakin memberi dampak jika ditulis sehingga banyak orang yang beroleh transfer pengetahuan. Menurutku, bukan hanya pengetahuan saja yang ditransfer melalui tulisan itu melainkan juga semangat si penulis (dan/atau si pelaku). Semangat itulah yang dibutuhkan oleh semua orang untuk menang dalam hidup, bukan hanya sekedar bertahan hidup.

Bicara tentang menuliskan pengalaman atau pembelajaran, aku jadi terdorong kembali untuk rajin menulis seperti yang biasanya kulakukan dulu. Blog mimiimut ini adalah buktinya. Sejelek apapun mutu tulisan itu, tetap saja tulisan itu bernilai abadi. Apalagi jika tulisan itu benar-benar disusun dengan serius dan penuh semangat. Semangat itu akan terasa benar oleh para pembaca. Contohnya tulisan Prof Rhenald Kasali selama ini.

Aku jadi teringat ketika koas di stase kulit dulu (wah sudah lama juga ya ^^). Seorang dokter senior menceritakan tentang seorang mahasiswa kedokteran yang sukses menjalani stase kulit. Perlu diketahui, di stase kulit, kami dididik untuk bisa menggambarkan kelainan atau penyakit kulit dengan bahasa tulisan. Bisa dibayangkan? Gambarannya seperti melukiskan gambar pemandangan dengan deskripsi tertulis. Nah, si mahasiswa tadi bisa sukses karena konon dia suka menulis di buku harian. Tahu kan buku harian? Ya, dengan rajin menulis apa pun di buku harian, seseorang tentu akan lebih mudah untuk mendeskripsikan sesuatu secara tertulis. Sayang sekali, meskipun aku pun suka menulis di buku harian, aku kurang mampu mendeskripsikan kelainan atau penyakit kulit secara tertulis. Hehe...

Aku jadi dapat ide untuk tahap kehidupanku selanjutnya. Aku akan lebih rajin lagi menuliskan proses belajar dan bekerjaku di lingkungan yang baru besok (kalau keterima). Mungkin blog ini akan semakin aktif dan atraktif. Atau mungkin buku harianku akan semakin banyak terkoleksi. Entah yang mana itu, aku bertekad untuk mendokumentasikan perjalanan hidupku, khususnya dalam proses belajar, bermain, dan bekerja. (Sebenarnya aku kurang suka dengan istilah bekerja... maunya belajar dan bermain saja).

Aku akan mengakhiri tulisan ini dengan mencuplik tulisan Prof Rhenald Kasali di buku Myelin yang kupikir sangat relevan denganku.
Sama seperti seorang dokter hebat. Sehebat apa pun atau sedingin apa pun tangannya dalam menyembuhkan pasien, ia butuh rekam medik, yaitu catatan tertulis menyangkut rekaman historis penanganan medis yang dialami masing-masing pasiennya, obat yang telah ia berikan, pemeriksaan yang dilakukan kolega-koleganya pada spesialisasi yang berbeda-beda, serta hasil pemeriksaan lab dari waktu ke waltu. Yang jelas seseorang tidak dapat menjadi efektif dengan mengandalkan brain memory-nya saja. Ia membutuhkan memori eksternal, yaitu dokuman tertulis.
Selamat berproses. Selamat belajar. Selamat memaknai hidup. God bless us.
 

Sabtu, 26 September 2015

Buku, Buku, dan Buku

Hari ini aku merayakan keberhasilan kecilku dalam seminggu. Keberhasilan-keberhasilan kecil memang perlu dirayakan secara pribadi untuk menyemangati diri sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi? Setelah berhasil mencapai target, aku merayakannya dengan hal sederhana yaitu pergi ke perpustakaan dan membaca. Aku memilih empat buku yang hanya kubaca bagian-bagian awalnya saja. Cukup menyegarkan pikiran dan mengenyangkan hasratku untuk mereguk berbagai macam informasi dan pengetahuan. Waktu satu jam di perpustakaan cukup membuatku santai sekaligus memperoleh kembali energi. Memang betul, aku ini orang introvert sejati yang memerlukan waktu menyendiri untuk mengembalikan energiku.

Kemudian, perayaan berlanjut dengan memborong buku di warehouse Gramedia di daerah Tajem. Aku, mas Cah, dan Asa menyusuri lorong-lorong penuh buku bagus, diskon besar-besaran. Kami memilih-milih buku untuk Asa. Untuk diriku sendiri, aku memilih tujuh buku yang menarik perhatianku dan kurasa cukup relevan dengan kebutuhanku saat ini. Rasanya sungguh menyenangkan, seperti layaknya ibu-ibu yang shopping baju di mal.

Di rumah Cahaya, buku-buku itu aku inventarisir supaya bisa kuatur kapan membaca apa. Setelah kubuka masing-masing plastik pembungkusnya, aku membaca-baca bagian prakata dan pendahuluan masing-masing buku yang kubeli. Tepatnya, dibelikan oleh mas Cah, karena aku tidak pegang uang. Aku sangat bersemangat saat melayangkan pandanganku pada baris-baris kalimat dan kumpulan informasi yang ada. Seperti makan vitamin dosis tinggi yang menyegarkan saja. Ya, ini adalah vitamin bagi pikiranku.

Tidak lupa kupotret buku-buku itu dan kubagikan lewat WA kepada teman dan ibuku, supaya mereka teriming-iming. Aku merasa berhutang cerita kepada mereka tentang isi buku-buku yang kubeli itu. Maka dari itu, mumpung semangat membacaku masih menyala-nyala, aku akan lahap dengan cepat dan tandas buku itu satu per satu. Mungkin malah akan aku baca semua sekaligus. Jadi ingat masa-masa sekolah dulu, membaca aneka macam buku pelajaran dalam suatu waktu.

Inilah caraku merayakan hidup supaya bahagia melalui hal-hal yang sederhana. Bagaimana denganmu? ^^

Jumat, 25 September 2015

Meditasi untuk Memenuhkan Pikiran

Setelah tulisan tentang kebuntuan yang ringkas, saat ini aku mau menuliskan lagi sesuatu sebelum beristirahat. Ini tentang penyebab kebuntuan itu. Kemungkinan besar salah satu penyebabnya adalah pikiran yang tidak fokus, alias mengembara ke mana-mana. Menurut artikel dari Lumosity yang kubaca, pikiran yang mengembara itu selain menyebabkan tidak fokus ternyata juga mengurangi kebahagiaan seseorang. Aku akui bahwa aku kurang fokus dalam banyak hal. Pikiranku terisi oleh berbagi macam pernak-pernik yang menurutku penting tapi kurang tertata dengan sistematis sehingga nampak berupa potongan puzzle yang belum tersusun. Amburadul, mawut, kalau orang Jogja bilang. Mungkin ini sebangun dengan status Jogja yang kabarnya sedang istimawut ya ^^ just kidding ^^

Kebalikan dari pikiran yang mengembara adalah pikiran yang fokus atau penuh pada saat 'ini'. Apa pula itu pikiran yang fokus dan penuh? Bahasa Inggris mengistilahkannya sebagai 'mindfulness', yang sampai saat aku menulis ini belum kujumpai padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Yang aku ingat dari artikel pendek Lumosity, cara untuk menkondisikan pikiran supaya dapat fokus dan penuh itu adalah dengan cara meditasi. Meditasi? Seperti apa itu ya?

Menurut pemahaman umum, meditasi adalah mengosongkan pikiran. Pikiran dikosongkan untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi, kurang lebihnya begitu. Bingung? Sama, aku juga tidak tahu bagaimana cara mengosongkan pikiran itu. Menurutku, pikiran itu tidak mungkin bisa kosong. Pasti selalu saja ada isinya. Kalau pikiran benar-benar kosong, berarti jiwa seseorang juga ikut kosong alias hilang. Jika jiwa hilang, mau jadi apa orang itu? Sudah pasti jadi orang yang terhilang, tidak waras, abnormal. Lebih parahnya lagi, kalau jiwa orang itu digantikan oleh sesuatu yang lain yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa matematika, fisika, kimia, biologi.

Menurutku pribadi, berdasarkan referensi yang kudapat dan kupercaya sampai saat ini, meditasi yang benar itu adalah meditasi firman Tuhan. Nah, apa pula itu? Bukannya mengosongkan pikiran, meditasi firman Tuhan adalah mengisi pikiran penuh-penuh dengan kebenaran yang berlandaskan firman. Bagaimana itu caranya? Sederhana saja. Dimulai dari berdoa dan membaca Alkitab. Berdoa adalah untuk memohon bimbingan dari Roh Kudus, Roh TUHAN sendiri yang diam di dalam diri orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juru selamatnya. Kemudian, membaca Alkitab dengan sikap hati yang percaya penuh akan kebenarannya. Setelah itu, ambil waktu untuk berdiam diri di dalam suasana doa. Seringkali, ada sesuatu yang digemakan di dalam hati manakala seseorang sedang berdiam diri setelah membaca dan merenungkan sungguh-sungguh bagian firman Tuhan dalam Alkitab itu. Saat gema atau impresi itu muncul, segera saja tangkap dengan seluruh keberadaan diri kita. Seluruh imajinasi, perasaan, gerak-gerik, dan ucapan/nyanyian/doa merupakan respon positif yang dapat memenuhkan pikiran. Bahkan, saking penuhnya, tidak jarang seseorang dapat sampai ke tahap ekstase yang tak terjelaskan.

Menilik kehidupan doaku yang kadang mbleret seperti bohlam yang hampir putus ini, bisa disimpulkan bahwa kebuntuanku dalam menulis itu diakibatkan oleh karena pikiran yang tidak fokus. Pikiran yang tidak fokus itu disebabkan karena kurang disiplinnya diriku dalam berdoa, membaca, dan menulis. Jadi, untuk mengembalikan kemahiranku dalam menulis, aku perlu menekuni kembali kebiasaan baik itu yaitu berdoa, membaca, dan menulis dalam suasana hati yang melekat pada Tuhan. Tentu saja semua itu dilakukan sesuai dengan prinsip kebenaran firman Tuhan.

Maka, kucukupkan saja sekian tulisan yang tidak dinyana menjadi cukup panjang ini. Aku mau mempraktekkan kembali doa baca dan tulis itu. Setelah itu, mari kita lihat hasilnya dalam tulisan-tulisan yang akan datang.

Buntu...

Saat ini aku sungguh-sungguh ingin menulis tetapi tidak ada ide yang bisa kutuliskan. Ibarat mau menulis dengan bolpoin yang sudah siap di tangan, tapi tintanya tidak bisa keluar atau habis. Beberapa cara sudah kulakukan untuk mendobrak kebuntuan ini. Aku sudah membaca-baca beberapa artikel yang kuharap mampu memancing ide-ide untuk keluar. Aku juga sudah mencoba melatar-belakangi suasana dengan memutar musik-musik untuk membantu konsentrasi. Tidak lupa, aku berdoa singkat dalam hati kepada Tuhan sang sumber ide supaya aku bisa menulis kembali. Karena menurut nasihat para pakar penulisan tidak baik untuk menanti inspirasi jika ingin produktif dalam menulis, maka kucoba untuk menulis saja apa adanya di sini kali ini.

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa dituliskan. Dan ada berbagai macam bentuk tulisan. Bisa berupa artikel, cerpen, surat, atau bentuk yang lain. Bisa berisi curhat, kesan batin, pengetahuan baru, hal-hal yang menarik yang dijumpai hari ini, dsb. Hanya saja sering aku tidak tahu harus menulis yang mana dan harus mulai dari mana. Untuk itu, dibutuhkan disiplin pribadi memang.

Harus kuakui, aku kurang disiplin. Aku kurang tekun dalam mengembangkan talenta menulis ini. Sudah lama sekali aku tidak pernah menulis secara bebas dan lepas di media blog ini. Akibatnya, secara berangsur-angsur kemampuan menulisku menumpul. Aku jadi kurang peka terhadap hal-hal baik yang layak untuk dituliskan. Sehingga, aku tidak punya ide yang cukup menarik untuk kubagikan. Menyesal memang.

Maka dari itu, aku menuliskan tulisan ini di sini saat ini untuk 'mengaku dosa' dan melakukan 'pertobatan'. Aku akan menekuni kembali kebiasaan menulis itu. Entah hasilnya bagus atau tidak, yang penting aku menulis sesuatu. Tujuannya sederhana, hanya ingin eksis saja. Begitu.

Rabu, 26 Agustus 2015

Fase dalam Kerja

Aku mendapati bahwa sibuk begerak dalam kerja itu ternyata lebih menyenangkan daripada bermalas-malasan. Melakukan pekerjaan sekecil apa pun itu ternyata jauh lebih memuaskan daripada tertidur tanpa tujuan. Aku mendapati kemerdekaan yang sejati dalam bekerja penuh arti. Kemerdekaan semu nan palsu adalah saat aku membiarkan kemalasan yang jahat menjerat. Tanpa terasa, kemalasan itu dapat membelenggu jiwa sehingga tahu-tahu sudah berada dalam penjara depresi yang melumpuhkan. Sebaliknya, aku akan beroleh kebahagiaan yang sejati jika kugerakkan seluruh keberadaanku untuk mengerjakan hal-hal kecil sederhana yang kujumpai di depan mata.
            Dalam proses bekerja nikmat itu, aku mendapati ada semacam fase ‘engaged’/melekat dan fase ‘withdraw’/surut yang merupakan tapal batas dari fase tenggelam dalam keasyikan kerja yang saleh. Fase ‘engaged’/pelekatan adalah saat aku hendak mulai mengerjakan sesuatu. Rasanya seperti agak berat di awal. Rasa berat itu ada dalam pikiran. Rasa berat itu harus dilawan dengan ketekunan dan kegigihan. Setelah rasa berat itu berlalu, akan diperoleh rasa nikmat cenderung ekstase dalam melakukan aktivitas yang dipilih secara sadar. Itulah yang kunamakan proses pelekatan pada awal kerja.
            Fase surut/’withdraw’ adalah saat pekerjnaan akan berakhir sampai benar-benar selesai. Ada semacam rasa cemas atau khawatir karena akan kehilangan rasa ekstase yang nyaman dari kerja yang telah lekat di hati. Dalam fase surut ini, perlu dipikirkan apa yang hendak dilakukan selanjutnya supaya tidak jatuh dalam kondisi bingung.

            Demikianlah hasil pemancingan ide kali ini. Semoga bermanfaat. Salam damai sejahtera selalu sampai selamanya. Barukh Hashem.

Senin, 10 Agustus 2015

Di Mana Engkau?

Yesus, di mana Engkau saat ini? 
aku baru saja melahap kekelaman 
cerita-cerita sedih nan miris 
di sudut ruang dan waktu 
kemudian aku teringat akan Engkau 
Kristus yang menerobos sejarah 
sebagai titik terang di tengah gelap 
sejarah yang berulang dan berulang 
dalam kisah pilu manusiawi 
Kristus, Engkau hadir dan mengintervensi 
begitu lembut hampir tak kentara 
tampak jauh namun dekat 
Immanuel 
Yesus, Engkaulah Kristus itu 
saat kemuraman menggelayuti hati 
kutujukan pikiranku akan Engkau 
yang saat ini baru berupa bayangan 
namun akan segera nyata


            “Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” (Yesaya 60:2)

Senin, 20 April 2015

Pujian Kemenangan

Saat aku di kamar mandi sore ini, aku nyaris jatuh dalam pikiran-pikiran negative nan suram. Begini ceritanya. Kilasan-kilasan bayangan tentang ketidakmampuan dan ketidakberdayaanku jika tanpa Mas Cah menyerangku dengan diam-diam, terslamur di antara ‘suara’ pikiranku. Maka, kuambil cara seorang konvergen untuk menangkalnya. Aku ucapkan kebenaran firman-Mu dengan bersuara sampai telingaku mendengar. Aku ucapkan firman-firman-Mu yang menyatakan bahwa Engkau selalu besertaku, bahwa dalam-Mu aku cakap menanggung segala perkara, bahwa Engkaulah gembalaku. Kemudian pujian iman dan pengagungan kunaikan dengan teguh dan mantap sehingga bayangan-bayangan negative itu tidak merasuki pikiranku. Sambil mandi keramas, sambil memuji dan menyembah-Mu dengan bahasa manusia. Aku merasa sedang memenangkan pertempuranku karena kukenakan selengkap senjata-Mu berjubahkan pujian. Dahsyat! Terima kasih, Bapa. Haleluya!!!

            Kesimpulanku hari ini:

·         Ada waktu untuk berpikir secara konvergen, ada waktu untuk bepikir secara divergen.
·         Ada waktu untuk mendengar, ada waktu untuk berbicara.

·         TUHAN membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Konvergen dan Divergen

Selamat petang, Bapa—Yesus—Roh Kudus! Wow, dahsyat hari ini! Sore ini aku WA-nan sama Pak Ias, masih membahas tentang cara berpikir convergen dan divergen. Aku tertarik untuk meneliti (iseng) tentang cara berpikir konvergen dan divergen dalam masyarakat pada umumnya. Apa pula itu konvergen dan divergen? Ini penjelasan singkatnya, terinspirasi dari film Divergent banget ceritanya:

1.      Cara berpikir konvergen adalah cara berpikir dengan berbicara kepada diri sendiri sehingga lebih focus dan terarah. Orang itu sendirilah yang mengarahkan pikirannya hendak ke mana.
2.      Cara berpikir divergen adalah cara berpikir dengan mendengar diri sendiri sehingga lebih acak dan sporadic. Arah pikirannya sukar ditebak dan sering dianggap sebagai ide yang melompat-lompat (padahal sebenarnya tidak).

Mengapa aku tertarik? Karena, aku mendapati diriku cenderung berpikir secara divergen, alias lebih banyak ‘mendengar’ suara hati (dan suara-Mu). Sedangkan dua orang yang kutanyai yaitu Pak Ias dan Mas Cah mengatakan mereka cenderung lebih banyak ‘bicara’ kepada diri sendiri. Aku penasaran, apakah orang lain mempunyai cara berpikir konvergen atau divergen. Yang manakah yang lebih dominan dalam masyarakat pada umumnya? Apakah tiap daerah dan kebudayaan berbeda kecenderungannya? Aku berasumsi bahwa yang dominan akan ‘menindas’ atau minimal salah paham terhadap yang lain (yang minoritas). Orang dengan cara berpikir lain akan dipandang aneh, abnormal, bermasalah sehingga harus ‘diluruskan’. Padahal, bisa jadi orang yang dipandang sebagai masalah itu sebenarnya adalah (bagian dari) solusinya.

            Kemudian, aku tertarik untuk melakukan penelitian iseng-iseng dengan menyebar angket dan wawancara mendalam untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi sehingga muncullah kedua cara berpikir tersebut. Apakah factor gender, usia, pola asuh, pendidikan, dll itu ada pengaruhnya? Ataukah itu sudah bawaan dari lahir?
            Lalu, apa kata Alkitab mengenai hal ini? Adakah cara berpikir konvergen dan divergen dalam Alkitab? Adakah contoh-contohnya? Jika ada, lalu apa implikasinya?
         Terakhir, apa tujuan dan manfaat dari mengetahui hal ini? Apa kontribusinya bagi kemanusiaan?


            Hmm, konvergen, divergen. Is it worthy enough, God? Apalah akan jadi beneran ya? Hehe, let’s find out in the future!!!

Berpikir secara Divergen

Kupikir-pikir dan kurasa-rasakan, cara berpikir demikian (aktif berbicara kepada diri sendiri) itu seperti memfokuskan diri pada satu hal atau konvergen. Itu baik untuk forum diskusi yang sedang berusaha mencari solusi. Tapi untuk keseharian, sepertinya kurang pas bagiku. Selama ini aku terbiasa berpikir secara divergen, ala cewek yang seperti bakmi, dan aku tidak mengalami masalah yang berarti dengan itu. Aku bukannya ‘pasif’ dalam arti negative, melainkan ‘aktif’ menyeleksi apa pun yang ‘kudengar’ dalam pikiran. Mungkin ini cara berpikir yang kurang dipahami oleh para ahli intelektual ya. Tapi, bukankah Einstein pun juga demikian? Bukankah para pemikir ‘out of the box’ itu juga berpikir secara divergen? Dan, menurutku, sepanjang tidak merusak diri sendiri maupun orang lain, bukankah cara berpikir divergen itu adalah cara jitu untuk menemukan solusi? Ah, jadi ingat film Divergent, hehe.

Eksperimen Pikiran

Selamat pagi menjelang siang. TUHAN, kali ini aku sedang bereskperimen dengan pikiranku. Aku mencoba untuk lebih aktif dalam berpikir dengan cara berbicara kepada diri sendiri alih-alih mendengarkan diri sendiri. Ini aku praktekkan sesuai dengan apa kata buku ‘Out of The Blues’ karya Dr. Wayne Mack yang sedang kubaca kembali. Aku membaca kembali buku ini karena aku merasa depresi sedang berusaha menaklukkanku hari-hari ini. Dr. Mack menulis di bukunya ini supaya kita jangan pasif tetapi aktif dalam pikiran. Aku sedang mencobanya. Rasanya sedikit menakutkan, Bapa, karena aku seperti rawan terserang kebingungan. Waktu kucoba untuk membaca artikel di kopibrik, agak susah untuk konsentrasi karena aku terlalu sibuk dengan pikiranku yang aktif. Jika ini tidak berhasil, aku tetap bersyukur karena setidaknya aku sudah mencoba. Tidak ada sesuatu yang sia-sia. Amen.

Senin, 09 Maret 2015

Jogja Istimewa


Selamat pagi! TUHAN… Jogja asat, Jogja ora didol. Apa kabar kota Jogja? Meskipun terlambat, aku mau menyumbangkan sesuatu untuk kota ini. Aku mau berdoa kembali lebih sungguh. Kali ini aku memohon hikmat-Mu supaya aku diberi ide atau sesuatu yang bisa kulakukan untuk kesejahteraan kota ini, itu. Aku rindu Jogja tetap nyaman dan makin nyaman. Aku rindu para pemimpin kota dan provinsinya benar-benar mengayomi dan merakyat. Aku rindu melihat rakyat berdaya yang manunggal dengan para abdinya. Aku rindu melihar dan mendengar kabar baik dari kota Jogja. Bukan hanya kabar tentang hotel dan mal yang berdiri menggusur semesta Jogja. Bukan hanya terpisahnya para abdi dari rakyatnya. Bukan hanya tercerabutnya spirit kota Jogja yang ramah dan hangat. Tolong, TUHAN, berikanku wawasan dan hikmat yang kuperlukan untuk kota Jogja ini. Karena Jogja begitu istimewa di hati-Mu.

Hikmat dari Nonton RED



Sugeng dalu, Gusti Rama Prabu. Aku tadi sore lihat film RED bersama Mas Cah di Rumah Cahaya. Film yang dibintangi Bruce Willis ini bercerita tentang seorang pensiunan CIA yang masih sangat handal. Ia berjuang mempertahankan hidupnya, cintanya, dan menegakkan kebenaran serta keadilan dengan caranya. Ada banyak hal menarik yang menjadi bahan refleksiku secara pribadi. Beberapa di antaranya adalah ini:


1.       Tokoh utama film RED ini sedang jatuh cinta dengan seorang perempuan muda yang tidak tahu apa-apa. Karena diincar oleh pihak yang berkepentingan, maka si perempuan pun ikut-ikut menjadi target untuk dihabisi. Hal ini mirip dengan TUHAN yang jatuh cinta pada mempelai-Nya yang sering tidak tahu apa-apa. Tahu-tahu si mempelai berada dalam kondisi di tengah-tengah pertempuran dahsyat sehingga mau tidak mau ia pun harus ekstra waspada jika ingin selamat. Satu-satunya cara untuk tetap aman adalah selalu berada di dekat si RED. Demikian juga dengan kita mempelai-Nya. Kita harus senantiasa dekat dengan TUHAN, jangan sampai menjauh karena kita pun menjadi target incaran Musuh. Mengapa? Karena Musuh sangat ingin melukai hati TUHAN dengan cara mencelakakan kekasih hati-Nya.

2.       Di tengah hiruk pikuknya pertempuran dan konspirasi yang super canggih, ada satu hal yang Nampak sebagai kebodohan tapi sangatlah besar kuasanya. Hal itu adalah KASIH. Saat RED tengah sibuk dengan baku tembak dan pemecahan misteri konspirasi, ia diingatkan oleh sekutu-sekutunya untuk mempertahankan cintanya terhadap Sarah karena itulah hidupnya sebenarnya. Dan ternyata, memang betul bahwa senjata yang kita gunakan untuk melawan segala karut marut kejahatan bukanlah strategi yang rumit bin njelimet melainkan ‘hanyalah’ bahasa KASIH yang sederhana, tampak sepele, dan seperti bodoh itu.

Demikianlah yang bisa kubagikan dari film laga komedi RED ini. Dalam film lanjutannya, RED 2, tema di atas diulang lagi. Intinya adalah kasih kepada TUHAN merupakan senjata yang ampuh dalam peperangan rohani. Haleluya.