Minggu, 29 Agustus 2010

Temani aku Tuhan

Temani aku Tuhan malam ini...
menjelang pagi dini hari...
aku merasa gelisah...
entah kenapa...
ada sesuatu yang ingin kusampaikan secara khusus dan mendalam denganMu...
bolehkan?

Empuk Getuk Bikin Gemes

Empuk Getuk masuk bak sampah ungu... kenapa? Karena Mimi Imut iseng... mungkin saking gemesnya sama Empuk Getuk... Empuk Getuk memang ngegemesin... bulunya makin keriting dan awul-awulan... seperti Lek Sar saja yang rambutnya juga makin lama makin keriting... Bedanya, Lek Sar nggak bikin gemes tapi bikin geregetan... gimana enggak? Tiap hari sekarang kerjaannya ha pe-ha pe nan, dengan suaranya yang lebih kerasa dari siaran berita di radio... untuk Empuk Getuk nggak punya ha pe... Cukup dengan dubbingan Mimi Imut dan Yoyo Imut saja yang terdengar wagu...

"Wagu yo ben!" begitu selalu Mimi Imut katakan untuk menghibur dirinya setiap kali Empuk Getuk dihina dina dan bikin Mimi Imut malu. Tapi sepertinya Mimi Imut nggak pernah malu punya Empuk Getuk. Malah seringnya malu-maluin. Empuk Getuk juga sudah dikenalkan dengan Lek Nono a.k.a. Mz Caca, teman mainnya Mimi Imut. Sepertinya Mz Caca agak ngiri sama Empuk Getuk karena Mimi Imut sayang banget sama Empuk Getuk...

Empuk Getuk sudah tidak merasa rendah diri atau minder lagi akibat pernah dibilang sebagai barang tumpas... kepercayaan diri Empuk Getuk bangkit lagi... Empuk Getuk sempat kuatir kalau-kalau nasibnya bakalan seperti mendiang Badoet yang sudah almarhum dibakar habis oleh Mimi Imut dulu... alasannya supaya tidak menjadi berhala... Yah, semoga saja Empuk Getuk tetap bernasib mujur... jangan sampai semalang Lotso seperti dalam film Toy Story 3D itu...


Kamis, 26 Agustus 2010

Boncel dan Sekolah

Boncel sedang bercermin di depan pintu mobil Komodo (Suzuki Escudo hijau tosca) yang kempling karena habis dilap dengan penuh kecermatan oleh bapak. Bapaknya Mimi Imut dan Yoyo Imut tentu saja. Bapaknya Boncel entah siapa dan entah di mana sekarang, nggak penting. Sambil becermin, Boncel kembali berpikir. Akhir-akhir ini Boncel semakin sering berpikir. Berpikir apa, Cel?
“Ah narrator, belum-belum sudah menggangguku…” jawab Boncel kesal karena acara bercerminnya terganggu. “Aku sedang berpikir tentang sekolah.”
Hah? Sekolah?
“Iya, sekolah!!!”
Nggak salah tuh Cel? Boncel mau sekolah?
“Jangan menghina ya… Jelek-jelek begini, aku termasuk ras yang terkenal sebagai ras anjing paling ramah sedunia lho!” kata Boncel dengan bangganya. “Saudara-saudaraku banyak yang jadi juara kontes anjing.”
Ooo begitu…
“Iya, begitu! Bahkan banyak sepupu jauhku yang dilatih khusus sebagai anjing pelacak yang bisa mengendus narkoba. Mereka dikaryakan di bandara-bandara,” lanjut Boncel dengan antusias. “Mimi Imut sama Yoyo Imut pernah lihat ada sepupuku di Jepang yang dilatih untuk menuntun orang buta. Keren kan?”
Wew…
“Jangan cuma wew wew saja, Tor! Narator itu seharusnya pandai berolah kata, gimana sih?!” Boncel sewot bukan kepalang.
Hehe… Kembali ke pikiran Boncel tentang sekolah. Memangnya kenapa sih Boncel kok tiba-tiba kepikiran tentang sekolah? Bukankah umur Boncel sudah terlalu tua untuk disekolahkan? Sudah kasep, kalo Mimi Imut pernah bilang.
“Begini ya, Tor…” Boncel menghentikan sejenak kegiatan bercerminnya dan mulai menampilkan mimic yang lebih serius. “Aku ini lagi prihatin.”
Prihatin? Prihatin kenapa, Boncel?
“Begini… Anjing-anjing yang disekolahkan di sekolah anjing itu rata-rata dilatih kepatuhan. Patuh sama perintah si pelatih. Misalnya, anjing disuruh duduk, berbaring, berdiri, dsb. Kemudian ada yang dilatih ketangkasan dan kekuatan. Misalnya melalui halang rintang seperti militer. Ujung-ujungnya, anjing-anjing itu kemudian dilombakan untuk kemudian mendapat gelar juara.”
Terus masalahnya di mana, Cel?
“Masalahnya, semua pelatihan di sekolah itu mengharuskan anjing-anjing bersikap seragam dan memiliki standar kemampuan yang sama rata. Mereka (para anjing) dilombakan dalam hal-hal yang seragam dan standar seperti itu.”
Terus?
Para majikanlah yang terutama paling bangga kalau anjingnya memperoleh juara atau mendapat predikat anjing juara. Entah juara karena keindahan dan kebersihannya, atau juga karena kepatuhan dan ketangkasannya.”
Terus?
“Yang tidak diketahui oleh para majikan pada umumnya, anjing-anjing itu tidak selamanya sama atau memiliki kemampuan yang sama 100%. Ada anjing-anjing yang lebih suka bermain, ada yang lebih suka berolah raga, ada yang lebih suka menjaga majikannya, ada lagi yang lebih suka berpetualang, dll. Anjing-anjing punya psikologi yang berbeda-beda, tergantung dari ras dan lingkungannya.”
Terus?
“Teruuuus, bagi anjing yang tidak memenuhi criteria sebagai anjing juara karena mungkin minat dan bakatnya tidak dipahami oleh si majikan, bakal mendapat predikat anjing bodoh dan diperlakukan selamanya sebagai anjing yang bodoh. Padahal, dalam kamus psikologi anjing, tidak ada itu yang namanya anjing bodoh. Yang ada hanyalah anjing yang tidak dipahami oleh manusia.”
Terus, masalahnya buat Boncel apa?
“Masalahnya adalah begini… aku ini adalah anjing yang unik, demikian juga anjing-anjing yang lain. Aku tidak sama dan tidak bisa disamaratakan dengan anjing-anjing yang lain. Aku punya minat dan bakat yang unik yang tidak dimiliki oleh anjing lain. Salah besar kalau ada yang bilang aku ini anjing bodoh, karena memang aku tidak suka main basket, tidak suka duduk diam selama beberapa waktu, tidak suka mengambilkan barang jatuh. Aku lebih suka berpetualang sendiri di lingkungan yang belum aku kenal. Aku suka mempelajari hal-hal baru tanpa didikte oleh siapa pun. Kalau aku diharuskan mengikuti standar rata-rata anjing juara, hanya supaya mendapat predikat anjing pintar, aku bakalan stress berat. Aku gak akan bisa merasa bahagia sepenuhnya. Aku akan seperti anjing robot yang dibikin secara massal di pabrik.”
Pelan-pelan, Boncel mengeluarkan uneg-unegnya. Mungkin ini hanya sebagian dari pergumulan batin yang dialami oleh Boncel selama ini. Tidak apa-apa, Boncel… keluarkan saja satu demi satu supaya plong dan tidak membebani pikiran.
“Wah, kali ini aku setuju denganmu, Tor…” kata Boncel sambil meringis dan mengibas-kibaskan ekornya.
“Seharusnya, system pelatihan atau sekolah anjing itu disusun sedemikian rupa sehingga anjing-anjing dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Jadinya bukan proses penyeragaman tingkah laku seperti yang sekarang ini terjadi. Bukankah demikian juga yang terjadi di dunia manusia?” Boncel balik bertanya.
Benar juga apa kata Boncel. Sekolah-sekolah yang ada rata-rata dikelola secara massal dengan system pembelajaran klasik yang membentuk pola pikir yang seragam. Kreativitas dan keunikan individu sepertinya kurang begitu dihargai. Kalau ada yang punya pikiran kreatif di luar kotak atau pola sang guru atau pengajar, dia bakalan dipandang sebagai murid yang susah diatur. Itu sih yang diceritakan oleh temannya Mimi Imut pada suatu ketika, kemudian Mimi Imut menceritakannya kembali kepada Boncel.
“Sebenarnya aku malah lebih kasihan sama teman-teman Mimi Imut,” kata Boncel tiba-tiba.
Mengapa?
“Yah, seperti yang sudah aku katakan dan kamu ketahui, Tor… pada zaman teman-teman Mimi Imut SD, system pembelajarannya masih bersifat klasik… massal dan satu arah… semua dicetak untuk menjadi pengejar nilai rapor yang baik… system ranking menjadi primadona… siswa-siswa yang berhasil meraih dan mempertahankan ranking sepuluh besar mendapat predikat sebagai siswa yang pintar… dan mereka yang di luar itu disebut siswa yang bodoh… padahal kan tidak seperti itu… Itu semua hanya ilusi… system ranking itu bohong semua… siswa-siswa hanya belajar untuk mengejar nilai bagus supaya mendapat ranking dan predikat pintar tanpa mengerti esensi belajar yang sesungguhnya… Yang parahnya lagi, siswa yang telah mendapat gelar siswa yang pintar oleh karena nilai-nilai rapornya yang bagus, ternyata tidaklah cerdas dalam arti yang sesungguhnya… Dia hanya menghafal soal dan jawaban, tanpa tahu isi pengetahuan yang dipelajarinya, sehingga tidak bisa mengembangkan pengetahuannya lebih lagi… Logikanya jadi kacau… Huhu…” Boncel mengeluarkan keluh kesahnya dengan bertubi-tubi.
Wah, ternyata parah juga ya. Itu baru sekelumit kisah yang kita dengar dari Boncel, sang anjing teman bermain Mimi Imut. Entah ada berapa banyak lagi masalah yang masih belum terkuak. Seperti fenomena gunung es saja. Yang disampaikan oleh Boncel itu baru pucuknya. Bagian terbesar dan terberat masih tersembunyi dan tenggelam dalam hiruk pikuk arus dunia yang semakin menggila. Semoga Boncel dan kawan-kawannya tidak ikut gila ya. Bahaya kalau gila, bisa-bisa serumah kena virus rabies. Hiii… Terus apa solusinya, Cel?
“Hah? Solusi? Nggak salah tuh, Tor? Nanya solusi ke Boncel? Boncel kan cuma anjing yang nggak dianggap pintar. Seharusnya minta solusi itu ke teman-teman Mimi Imut dan Yoyo Imut tuh yang pintar-pintar,” jawab Boncel.
Wah, iya juga sih ya… Boncel ternyata cerdas juga ya… Hehe…
“Iya donk! Siapa dulu penciptanya!” jawab Boncel dengan kebanggaan yang besar.
Iya, iya… Yuk Cel, kita sama-sama memikirkan dan mencari solusinya bersama-sama dengan Sang Pencipta.
“Ya ayo… Mari kita ajak teman-teman Mimi Imut dan Yoyo Imut juga!”
Boncel pun kembali bermain-main dengan bayangannya di mobil Komodo hijau tosca. Selamat bermain, Boncel! Sampai ketemu lagi! ^^

Selasa, 24 Agustus 2010

Boncel Ketemu Bapa

Boncel sepertinya sedang stres. Tidak seperti biasanya. Atau malah ini keadaan yang seperti biasanya. Boncel sudah terbiasa hidup dengan stres. Masalah kecil jadi besar, bahkan yang bukan masalah pun menjadi masalah bagi Boncel. Boncel bingung. Sudah sejak kapan dia memelihara kebiasaan buruknya ini, berpikiran negatif. Pikiran negatif yang menghasilkan perasaan-perasaan negatif, yang kemudian menimbulkan proses penyalahan diri sendiri, sehingga memunculkan rasa rendah diri yang kronis eksaserbasi akut, yang pada akhirnya membuat Boncel makin stres saja. Bagai lingkaran setan. Boncel terjebak dalam lingkaran setan stres. Pikirannya makin kalut. Pola pikirnya kacau. Emosinya labil. Hidupnya jadi hambar cenderung pahit. Padahal kondisi lingkungan sekitar Boncel begitu indah, nyaman, dan dipenuhi oleh kasih sayang baik itu antara sesama anjing maupun dengan manusia-manusia. Sepertinya ada api dalam sekam. Boncel dapat merasakannya. Begitu menyeramkan. Bisa menjadi bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu.
Tenangkan hatimu, Boncel… seru suara lembut dalam pikirannya. Boncel pun berusaha menenangkan hatinya. Tapi tetap saja perasaan tidak enak itu terus mengganggunya.
Apa yang menggelisahkanmu, Boncel? Tanya suara itu lagi. Boncel hanya diam. Bukan diam yang menyenangkan. Lebih karena Boncel tidak tahu harus menjawab apa.
Ceritakan satu per satu, Boncel… pinta suara itu dengan lembut. Boncel sebenarnya ingin menceritakan semuanya, tapi tidak tahu dari mana harus memulai. Bingung. Sumpek. Terlalu blur.
Ayolah, Boncel...
“Hmmm…” pikir Boncel, “Baiklah, akan aku coba menguraikan benang kusut dalam otakku yang segedhe bakpao ini.”
Nah, begitu dong. Itu baru namanya Boncel… ^^
“Jadi begini… hei, bagaimana aku harus memanggilmu?”
Panggil saja aku: Bapa…
“Ok, Bapa…” Boncel pun mulai bercerita. “Pagi tadi, aku bangunnya kesiangan. Seharusnya aku bisa bangun lebih pagi lagi. Karena aku bangun kesiangan, aku jadi kekurangan waktu buat berdiam diri di depan tembok kesayanganku.”
Berdiam diri? Untuk apa, Boncel?
“Aku punya kebiasaan untuk mematung di depan tembok garasi. Nggak melakukan apa-apa. Hanya diam. Terkadang terbayang hal-hal yang sudah dan akan kulakukan. Saat-saat seperti itu adalah saat-saat ternyaman bagiku. Aku bisa menjadi diri sendiri tanpa ada keharusan untuk bersikap manis dan sopan selalu seperti halnya kalau aku ada di tengah-tengah keramaian.”
Ok, lanjutkan, Boncel!
“Karena aku bangun kesiangan, waktu-waktu khususku itu terganggu oleh kehadiran manusia bernama Lek Sar yang selalu menyiapkan makanan dan minumanku. Aku jadi nggak bisa enjoy. Seperti hp yang belum penuh discharge tapi sudah harus dipakai lagi dalam waktu yang lama. Otomatis batereku cepat habis.”
Wah, canggih juga kamu, Boncel. Anjing mana yang bisa melek teknologi kalau bukan Boncel ^^ Lanjut!!!
“Aku jadi sebel banget sama Lek Sar. Aku gonggongin dia tiba-tiba sampai kaget.”
Terus? Lek Sar bagaimana?
“Ya dia kaget dan bikin aku tambah geregetan!”
Wah seperti Sherina saja kamu, Cel… pakai geregetan segala ^^
“Itu belum seberapa… gara-gara itu, seharian ini moodku jadi jelek. Aku nggak bisa merasakan sukacita penuh seperti yang sudah-sudah. Bahkan ketika Jabrik dan Geol sedang asyik bercanda tawa, aku nggak bisa ikut tertawa lepas. Seperti ada yang mengganjal.”
I see… Terus?
“Aku jadi merasa marah dan kasihan sama diriku sendiri. Sepertinya aku ini adalah anjing yang paling bodoh, kaku, kikuk, dan susah bergaul. Padahal aku kan Golden Retriever, yang seharusnya jadi anjing yang paling ramah. Aku jadi merasa sangat sangat tidak berguna. Hik hik…”
Boncel menangis dalam diam. Separuhnya dia merasa marah tapi tidak tahu mau ditujukan kepada siapa. Kepada Lek Sar? Bukan salah Lek Sar kalau waktu pribadi Boncel terganggu, itu karena Boncel tidak segera bangun lebih pagi. Kepada Mimi Imut? Tidak juga. Jabrik dan Geol? Apalagi mereka. Mereka sama sekali tidak salah. Kepada Boncel sendiri? Katanya tidak boleh menyalahkan diri sendiri terlalu banyak supaya tidak mengalami distorsi gambar diri. Kalau begitu kepada siapa? Kepada suara lembut yang dipanggilnya Bapa? Mungkin. Mungkin saja Boncel marah kepada Bapa. Tapi apa salah Bapa? Layakkah Boncel marah pada Bapa? Bukankah kata Mimi Imut, Bapa itu selalu benar dan tidak mungkin salah? Duh, Boncel makin bingung… pening kepala Boncel…
Boncel…
“Huhu…” Boncel masih sibuk menangis dalam hati. Menangisi dirinya sendiri. Untunglah tangisannya tidak berubah menjadi lolongan yang menyayat hati. Bisa merinding para manusia kalau mendengarnya.
Boncel…
“Huhu…” Boncel mulai mendengar suara lembut Bapa tapi hatinya masih sibuk menangis.
Boncel…
“Iya, iya… ada apa, Bapa?” dengan agak berat, Boncel menghentikan tangisannya dan mulai berkonsentrasi mendengarkan suara Bapa.
Jangan sedih, ya… kalau Boncel sedih, Bapa juga ikut sedih… Bergembiralah, Boncel…
“Mengapa Boncel nggak boleh sedih?” tanya Boncel.
Boncel kan masih punya Bapa… meskipun nggak ada satu pun yang bisa mengerti Boncel, Bapa selalu mengerti siapa Boncel… Bapa nggak pernah mengejek Boncel… Bapa sayang Boncel…
“Wew…” hati Boncel terenyuh mendengar perkataan Bapa.
Ingat satu lagu ini, Boncel… Ini lagu kesayangan Mimi Imut, lho… Ssst, jangan bilang-bilang Mimi Imut, ya… ^^
Lebih dari bapa di dunia, Kau menjaga hidupku ya Allah
Bahkan lebih dari kasih seorang ibu, Engkau selalu menyambutku
Lebih dari yang dunia tawarkan, Kau b’rikan yang terbaik oh Tuhan
Sekalipun tak seorang mengindahkanku, Engkau tak pernah membuangku
Kau mengasihiku lebih dari yang kuduga
Bahkan di saatku tiada menyadarinya
Kau sentuh hatiku dengan kasih yang sempurna
Kau menyayangiku lebih dari yang kurasa…
“Wew… bagus banget!!!” seru Boncel.
Bagus kan? Kalau hati sedang sedih karena merasa ditinggal sendiri atau tidak ada yang memahami, nyanyikan saja lagu itu, Boncel. Aku pasti senang mendengarkannya.
“Wah, ide yang bagus, Bapa…” kata Boncel. Hati Boncel kini menjadi sumringah. Kesedihan yang tidak jelas juntrungnya itu kini menguap entah ke mana. Boncel mulai bersenandung merdu dari dalam hatinya. Terima kasih, Bapa… dunia ini indah ya…

Minggu, 22 Agustus 2010

Boncel Bersyukur

Boncel mau ngapain lagi sekarang ya? Entahlah… sudah lama Boncel tidak diajak main apalagi jalan-jalan oleh Mimi Imut dan Yoyo Imut. Padahal Boncel butuh refreshing. Boncel pingin lihat dunia luar. Selama ini Boncel terkurung di garasi yang pengap dan bau bersama Geol dan Jabrik. Makin gendut dan berisiko terkena stroke atau serangan jantung saja karena hanya diberi makan banyak tanpa ada exercise seperti lari-lari atau jalan-jalan. Padahal dulu Mimi Imut dan Yoyo Imut sering mengajak Boncel jalan-jalan keliling kampung. Sekarang? Mimi Imut dan Yoyo Imut semakin asyik dengan mainan baru mereka yaitu FB dan YM, entah makanan dari mana itu. Boncel nggak mau tahu. Boncel pingin bebas!!! Sudah saatnya untuk melakukan aksi!!!
“Pingin bebas ke mana Cel?” tanya Geol sambil menguap malas. Perut Geol pun ikut-ikutan membuncit. Padahal, dulu Geol termasuk pelari tercepat di antara mereka bertiga.
“Ah, mau tahu saja kamu, Ol,” jawab Boncel aras-arasen. “Mengganggu kenikmatan saja.”
“Lho, kamus sedang apa, Cel?” tanya Geol lagi.
Ternyata, sambil melamunkan kebebasannya, Boncel sedang asyik devekasi alias pup atau BAB. Tempatnya? Di mana lagi kalau bukan di dekat sumur.
“Ah, leganya…” seru Boncel senang. Memang aktivitas BAB itu kalau dinikmati dan dihayati akan menghasilkan inspirasi yang inovatif. Contohnya adalah pemikiran tentang kebebasan yang dialami oleh Boncel.
“Astaga, Boncel… bukannya kamu setengah jam yang lalu sudah BAB?” tanya Geol.
“Sssst… jangan bilang-bilang,” sergah Boncel. :”Kalau ketahuan, aku bisa kena marah sama ibu. Kita kan tahu ibu paling nggak suka mencium bau pesing dan prengus yang kita produksi.”
“Hahaha… bukan kena marah Cel, tapi kena malu!!! Kamu malu kalau ketahuan semua orang kebiasaanmu BAB di dekat sumur yang keseringan itu!!!” seru Geol kegirangan.
“Weee… ngawur!!!”
“Omong-omong, apa sih yang kamu pikirkan tadi sembari BAB?” tanya Geol.
“Mau tahu aja…”
“Ayolah, Cel… kita kan teman…”
“Teman apaan? Kita cuma dua ekor anjing malang yang terkurung di balik tembok penjara yang semakin lama semakin gendut dan tua. Nobody wants us anymore,” keluh Boncel.
“Wew, sejak kapan kamu bisa bahasa Inggris, Cel?”
“Jangan salah ya, jelek-jelek begini nenek moyangku dari Skotlandia, tahu?!”
“Iya, iya…” kata Boncel dengan agak sedih. “Dibandingkan denganmu yang punya garis keturunan murni, aku ini cuma ras campuran yang nggak jelas, Cel. Nggak bakalan laku dijual.”
“Lho, kok gantian kamu yang ikut-ikutan sedih?”
“Habis kamu mengingatkanku akan asal-usulku sih…” Geol semakin sedih saja.
“Sudah, nggak usah sedih…” hibur Boncel.
“Nggak sedih gimana? Kamu sendiri juga lagi sedih begitu… siapa lagi nih yang bakalan menghibur kita?”
Sunyi. Tidak ada jawaban. Hanya suara angina semilir dan kicauan burung yang nggak diketahui jenisnya apa. Maklum, Boncel dan Geol tidak pernah lagi bergaul dengan spesies lain semenjak mereka terkurung di dalam rumah berbulan-bulan.
“Kenapa kalian murung dan diam begitu, anak-anak?” tiba-tiba Jabrik memecahkan kesunyian yang menyiksa itu.
“Hm hm…” jawab keduanya.
“Ayolah, ceritakan sama aku, siapa tahu aku bisa bantu,” kata Jabrik lagi.
“Jabrik, kenapa kamu kelihatan biasa-biasa saja, bahkan cenderung menikmati kondisi yang kita alami saat ini?” tanya Boncel.
“Hah? Apa maksudmu? Kondisi yang bagaimana?” tanya Jabrik kebingungan.
“Yah, kamu bisa lihat sendiri… kita sudah lama terkurung di sini, nggak pernah lagi diajak keluar untuk sekedar jalan-jalan, jarang dimandikan, terlalu banyak dikasih makan, bisa-bisa kita obesitas dan berisiko terkena penyakit pembuluh darah…” keluh Boncel yang diiyakan oleh Geol.
“Astaga, separah itukah?” tanya Jabrik tidak percaya.
“Lihat saja kondisi kita sekarang ini… Beberapa tahun yang lalu kita masih langsing dan tidak seperti sekarang,” jawab Boncel.
“Hmmm…” Jabrik manggut-manggut.
Boncel melanjutkan keluh kesahnya dan begitu juga dengna Geol. Jabrik hanya manggut-manggut saja, mendengarkan dengan seksama kedua juniornya itu. Tiba-tiba, mereka bertiga merasakan tanah di bawah kaki mereka bergoyang-goyang semakin lama semakin kencang.
“Gempaaa!!!” seru mereka bertiga berbarengan.
Untunglah gempa cuma sebentar. Nggak seperti tahun 2006 dulu.
“Wew, untung kita nggak kejatuhan pohon di jalan,” seru Jabrik.
“Iya, untung kita nggak tertabrak motor yang oleng,” timpal Geol.
“Hm hm…” Boncel hanya berdehem.
“Untung ya, rumah ini masih kokoh berdiri dan penghuninya gak panikan,” lanjut Jabrik.
“Untung juga mereka bukanlah pemakan anjing,” kata Geol, (Geol tidak tahu kalau pada saat-saat tertentu, para penghuni rumah pun memakan anjing untuk merayakan tahun baru).
“Untung bla bla bla…” Jabrik dan Geol sibuk mensyukuri betapa mujurnya nasib mereka. Boncel mendengarkan mereka tanpa berkata apa-apa. Kemudian Boncel meninggalkam Jabrik dan Geol dan mengambil tempat di pojok garasi untuk merenung kembali.
Memang beruntung nasibnya jika dibandingkan dengan anjing-anjing lain yang berkeliaran bebas di kampung-kampung namun akhirnya mati diracun atau hilang diculik. Memang beruntung nasibnya jika dibandingkan anjing-anjing yang mati kelaparan atau mati disembelih. Bahkan jika dibandingkan dengan Mimi Imut dan Yoyo Imut yang tampaknya semakin sibuk dengan urusan masing-masing, Boncel masih merasa lebih beruntung karena dia tidak perlu bekerja untuk mendapatkan makanan. Meskipun semakin bau dan gendut, Boncel merasa bahwa dia masih disayangi oleh para penghuni rumah Pelem Kecut. Sungguh beruntung.
Dan saking lelahnya merenung, Boncel pun ketiduran. Tidur dalam damai. Boncel akhirnya sedikit bisa mensyukuri keadaannya.

Yeremia 17:5-10

Beginilah firman TUHAN:
"Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakahy yang dapat mengetahuinya?
Aku, TUHAN, yang menyelediki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."

Terima Kasih Buat Manusia sebagai Mitra

Sehebat apapun kelihatannya manusia, tetaplah dia manusia biasa yang tidak dapat menggantikan posisi Tuhan sejengkal pun...
karena itu, aku perlu terus mengingatkan diriku untuk tidak terlalu mudah terpesona dan menggantungkan segala-galanya pada figur manusia...
tapi seperti yang Tuhan telah ajarkan, pandanglah orang lain itu sebagaimana Tuhan memandangnya...
jadikan mereka mitra kita, kawan sekerja, sahabat sejati...
dalam persahabatan yang sejati, akan terjadi proses penajaman satu sama lain yang sedemikian rupa luar biasanya...
apalagi jika dalam persahabatan itu, pribadi Tuhan senantiasa dilibatkan...
sungguh alangkah baiknya, sungguh alangkah indahnya, haleluya...
Semoga api yang membakar hati dan membangkitkan semangatku ini bukanlah api asing yang akan padam selamanya melainkan api Tuhan yang murni yang menyambar habis korban persembahan di atas mezbah...
Untuk sementara ini aku akan memakan habis semua hidangan yang tersedia di depanku supaya puaslah jiwaku dan kuatlah spiritku...
Tuhan, berkati aku ya...
aku lakukan ini demi kemuliaan namaMu...
terima kasih untuk makananku yang secukupnya... ^^

Bermain untuk Hidup Kekal

Kembali merenungkan apa, siapa, mengapa, dari mana, dan hendak ke mana...
sesuatu dalam hati kembali tergerak oleh api yang membakar...
semoga api itu berasal dariMu...
kembali tersadar, atau malah terbuai, setelah membaca pesan dari seseorang...
apa yang menjadi tujuanku...
apa yang menjadi pembakar semangatku...
pasti bukan kebetulan...
kalau aku diizinkan Tuhan untuk memperoleh bahan bacaan dan makanan jiwa yang sedemikian rupa...
terima kasih Tuhan untuk jawabanMu yang mungkin nggak secara langsung menjawab pertanyaan2ku...
ketika aku mulai menulis di blog ini, tujuanku semata-mata hanya untuk menuangkan kegelisahanku...
dan rupanya kegemaran menulis itu masih terpelihara sampai sekarang, meskipun masih belum juga menghasilkan mahakarya yang mumpuni...
aku ingat kembali tulisan yang aku buat mengenai diriku, yaitu bahwa aku adalah seorang yang suka bermain dan bermain adalah panggilan hidupku...
jadi, bukan suatu kerja paksa atau kerja sia2 yang hanyut dalam rutinitas semu...
dengan mentalitas bermain itulah aku bisa belajar dan eksis dalam sukacita Tuhan yang abadi...
dalam bermain itulah aku bisa menikmati fajar hidup kemudaan yang penuh energi...
tidak pernah mengalami degenerasi ketuaan mental dan spiritual...
meskipun fisik mungkin bisa merosot, semangat tetaplah menyala dan akan terus berkobar selamanya...
aku bilang selamanya, bukan sampai akhir hayat, karena seperti apa yang selama ini aku ketahui, hidup ini kekal...
kekal bersama Tuhan Yesus tentu saja...
karena tujuanku adalah hidup kekal bersama Tuhan Yesus, maka kesusahan yang kurasakan selama hidup yang singkat di dunia ini tidaklah layak membuatku patah semangat dan menyerah...
sebaliknya, aku akan gunakan semua yang terjadi di dalam hidupku sehari hari ini sebagai bekal dan pembelajaran untuk menikmati hidup kekal itu...
Yah, semoga renungan singkat yang tidak jelas juntrungnya ini dapat membuat kita semua terberkati... ^^

Kamis, 19 Agustus 2010

To My Little Sister...

Hati ini merasa terhibur...
terhibur amat sangat...
dengan kehadiran seorang sahabat yang lama tapi baru...
lama kenalnya tapi baru-baru ini saja mendekat...
begitu dalam hikmat dan kekayaan batinnya...
ketemu secara 'tidak sengaja'...
tapi pasti bukan suatu kebetulan...
Tuhan pasti yang mengaturnya...
karena Tuhan punya rencana...
rencana indah bagi kami masing-masing...
entah apa itu wujudnya...
tapi hatiku percaya...
hatiku penuh sukacita...
sukacita yang menyembuhkan...
terima kasih, Tuhan...

bless her, Lord, bless my little sister in You...

in the name of Jesus...

haleluya...

amen...

Selasa, 17 Agustus 2010

Keluh Kesah Yeremia Akibat Tekanan Jabatannya (Yeremia 20:7-13)

Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk;
Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku.
Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku.
Sebab setiap kali aku berbicara, terpaksa aku berteriak, terpaksa aku berseru: "Kelaliman! Aniaya!" Sebab firman TUHAN telah menjadi cela dan cemooh bagiku, sepanjang hari.
Tetapi apabila aku berpikir: "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi namaNya", maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah uuntuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.
Aku telah mendengar bisikan banyak orang: "Kegentaran datang dari segala jurusan! Adukanlah dia! Kita mau mengadukan dia!"
Semua orang sahabat karibku mengintai apakah aku tersandung jatuh: "Barangkali ia membiarkan dirinya dibujuk, sehingga kita dapat mengalahkan dia dan dapat melakukan pembalasan kita terhadap dia!"
Tetapi TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
Mereka akan menjadi malu sekali, sebab mereka tidak berhasil, suatu noda yang selama-lamanya tidak terlupakan!
Ya TUHAN semesta alam, yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasanMu terhadap mereka, sebab kepadaMulah kuserahkan perkaraku.
Menyanyilah untuk TUHAN, pujilah TUHAN!
Sebab ia telah melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat.

Kamis, 12 Agustus 2010

Tuhan, Tolonglah Aku... Sebuah Renungan...

>> "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepadaMu berjalan di atas air."

>> "Datanglah!"

--> Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak:

>> "Tuhan, tolonglah aku!"

--> Segera Yesus mengulurkan tanganNya, memegang dia dan berkata:

>> Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

--> Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.

Sebagai manusia biasa, kita pasti pernah mengalami situasi yang mirip seperti yang dialami oleh Petrus dan murid2 Tuhan Yesus pada waktu itu. Kejadiannya adalah ketika Yesus berjalan di atas air. Seperti Petrus, kita mungkin sering mengajukan permohonan atau tantangan kepada Tuhan supaya Tuhan menunjukkan pula kuasanya kepada kita secara pribadi. Mungkin permohonan itu bisa berupa pekerjaan, pasangan hidup, prestasi, kesuksesan, dll. Dan perjalanan kita menuju ke terkabulnya permohonan atau tantangan itu mirip sekali dengan pengalaman Petrus berjalan di atas air. Yang mengherankan adalah bahwa Tuhan Yesus sama sekali tidak menolak permohonan atau tantangan yang diajukan oleh muridNya yang masih kurang pengalaman itu. Malah sepertinya Tuhan Yesus sendiri yang balik menantang dengan mengajak Petrus, dan juga kita semua, untuk berjalan di atas air menuju kepada sesuatu yang kita anggap mustahil terjadi. Ternyata, Petrus pun bisa berjalan di atas air. Dan kita pun bisa melalui semua hal yang kita anggap mustahil. Hal yang kita anggap mustahil itu dapat berupa menjalani ujian, wawancara kerja, masa-masa orientasi yang menegangkan, saat-saat menyatakan perasaan dan isi hati kepada sang calon pasangan hidup, mengerjakan tugas akhir, maju ujian skripsi, dll. Dan seperti Petrus yang tiba-tiba merasa takut saat dirasakannya tiupan angin sehingga ia tenggelam, kita pun sering juga demikian. Di tengah2 hal yang sedang kita lakukan, kita mungkin mendengar komentar2 atau kabar2 sumir dan miring yang menciutkan nyali kita sehingga hati kita menjadi bimbang. Kita seolah-olah mulai tenggelam. Kemudian sama seperti Petrus, kita segera berseru meminta pertolongan pada Tuhan Yesus. Dan sesegera Tuhan Yesus menolong Petrus, seperti itu jugalah Dia mengulurkan tanganNya dan memegang kita sehingga kita tidak mati tenggelam. Mungkin kita dapat tenggelam ke dalam rutinitas yang membosankan, melelahkan, dsb dalam pekerjaan, kuliah, sekolah, pacaran, berkeluarga. Tapi kabar baiknya, kita dapat beroleh inspirasi, kekuatan, dan kelegaan saat kita berseru kepada Tuhan di dalam kebimbangan dan keraguan kita. Dan happy endingnya seperti cerita Petrus dan Tuhan Yesus yang naik ke perahu bersama dan anginpun reda. Begitu juga dengan kita, hidup kita akan semakin indah karena bersama Yesus kita ada dalam perahu yang sama sehingga angin yang membuat kita stag itu pun reda.

Saat ini saya juga sedang mengalami pergumulan yang lumayan berat menurut ukuran manusia. Mungkin nggak seberat pergumulan orang lain. Tapi saya percaya bahwa Tuhan itu jauh lebih besar daripada pergumulan saya. Saya dikuatkan oleh janji dan kebenaran firman Tuhan bahwa Dia selalu mendengar dan menjawab doa-doa saya bahkan yang sulit terucapkan seturut dengan waktu dan kehendakNya yang sempurna. Pergumulan saya telah saya ceritakan, gembar-gemborkan setiap hari kepada Tuhan dan sesama yang selalu bertanya hendak ke mana saya. Hendak melanjutkan spesialis apa nantinya. Dan selalu jawaban yang sama saya sampaikan, bahwa saya nggak punya keinginan ambil spesialis. Saya ingin lanjut ke s2 IKM, tapi saya masih belum tahu bagaimana prospek ke depannya, sementara saat ini saya sudah berstatus sebagai pegawai kontrak RS Bethesda. Kalau ditanya bagaimana perasaan saya bekerja di IGD, jujur saya masih belum dapat menikmatinya. Masih setengah hati. Masih bimbang dan mendua hati. Siang ini saya sudah berdoa dengan sungguh2 meskipun tanpa keluar air mata dan bahasa doa yang dahsyat. Tapi ada suatu kelegaan dan damai sejahtera yang membuat saya bisa yakin dan tenang dalam menantikan jawaban Tuhan. Puji Tuhan. Thank God. Saya percaya, Tuhan telah mendengar dan menjawab doa saya. Tinggal bagaimana saya menyiapkan hati untuk menerima apapun jawaban itu dengan penuh rasa syukur. Untuk sementara ini saya akan senantiasa bersyukur dan bersukacita meskipun merasa berada di tempat yang tidak pas menurut saya.

Tuhan, tolonglah aku... ^^

Rabu, 11 Agustus 2010

Ketika Hati Terasa Berat...

hati ini terasa berat merasakan...
kaki ini terasa berat melangkah...
tangan ini terasa berat bekerja...
kepala ini terasa berat memikirkan...
sudah berusaha untuk bersyukur dan bersukacita senantiasa...
di tempat yang salah sekalipun...
hati ini harus tetap benar...
supaya nanti jika tiba saatnya...
sudah siap untuk menyambut dengan sikap yang benar...
cuma masalahnya...
yang manakah yang benar itu...
jangan-jangan aku yang salah berharap...
jangan-jangan aku yang salah bermimpi...
jangan-jangan...
jangan-jangan...
sudahlah...
stop it...
stop kuatir dan menggerutu dalam hati...
ingat satu pujian ini...

bila hati terasa berat...
tak seorangpun mengerti bebanku...
kutanya Yesus...
apa yang harus kubuat...
Dia berfirman mari datanglah...
Dia selalu pedulikan aku...
kudatang Yesus...
Dia pikul segala bebanku...
Sujud di altarNya...
kubawa hidupku...
kutrima anugerahNya...
Dia ampuniku dan bebaskanku...
Dia ubah hidupku...
baharui hatiku...
sesuatu terjadi saat datang di altarNya...

menuliskan kembali syair lagu itu membuatku sedikit merasa tenang...
mengingatkanku bahwa aku tidak sendirian dalam pergumulan ini...
terima kasih Tuhan untuk beban hati ini...
setidaknya aku punya alasan untuk lebih lagi mendekat kepadaMu...
^^

Selasa, 10 Agustus 2010

Bahagia Orang Saleh (Mazmur 16)

Miktam. Dari Daud.

Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.
Aku berkata kepadan TUHAN: "Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!"
Orang-orang kudus yang ada di tanah ini, merekalah orang mulia yang selalu menjadi kesukaanku.
Bertambah besar kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan korban curahan mereka yang dari darah, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka di bibirku.
Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.
Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku.

Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.
Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.
Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Sore Hari di Halaman Belakang Rumah

Sore ini aku berjalan-jalan di halaman belakang rumah sambil menikmati langit sore yang cerah dan indah... cuaca begitu sejuk... aku memutuskan untuk mengambil waktu bersama Tuhan di luar rumah karena aku merasa sumpek... sekalian untuk refreshing... boleh kan? Aku membawa alkitab dan buku catatanku untuk "berjaga-jaga" kalau-kalau Tuhan tiba-tiba memberikan inspirasi atau wahyu yang harus kucatat... hehe, sok sokan dikit boleh lah... nggak, nggak, aku nggak bermaksud sok rohani... aku cuma lagi pingin ganti suasana aja, karena biasanya aku menghabiskan banyak waktu di kamar... terlalu banyak waktu di kamar malah... ok ok, kembali ke topik... aku mengarahkan pandangku ke awan-awan... langit biru bercampur dengan awan jingga... matahari hampir terbenam... lamat-lamat kusenandungkan lagu-lagu pujian untuk Tuhan yang aku tahu...

Ku mengangkat wajahku, memandang keindahanMu Yesus, syukur bagi kesetiaanMu di sepanjang hidupku, dan kuangkat tanganku, ke tahta kasih dan karuniaMu, tak sekalipun Kau tinggalkanku, Yesus sahabatku...

aku berseru dan mengeluh kepada Tuhan dalam hati dengan kata-kata yang tak terucapkan... sambil terus menikmati keindahan sore yang sepertinya kontras dengan kondisi hatiku yang lagi sumpek itu... aku berseru, Tuhan tunjukkan jalanMu... nyatakan kehendakMu... kemudian aku diam dalam kesunyian yang tidak sia-sia karena aku percaya bahwa dalam kesunyian itu aku tidaklah sendirian... Tuhan sedang menemaniku dan hendak menyatakan sesuatu... sesuatu yang aku butuhkan, lebih dari yang dapat kupikirkan... kubuka akhirnya alkitabku yang telah kubawa sedari tadi... dan kudapati perkataan pemazmur yang menggambarkan isi hatiku saat itu...

TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang. Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan. Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya.

Begitulah... aku merenung resapi firman Tuhan itu... dan ketika aku sedang asyik dengan meditasi firman, Tuhan mengirimkan seorang malaikat kecilnya untuk menghibur dan menemaniku... adik sepupuku, Yayan, datang sambil membawa oleh-oleh tiwul... kemudian kami pun main basket kecil-kecilan... cuma sekedar mendribel dan memasukkan bola ke dalam keranjang sampai hari menjelang gelap... aku cukup terhibur dan lumayan terbebas dari kesumpekanku... thank God... terima kasih buat Tuhan... hari ini sungguh indah luar biasa...

^^

Tuhan, Ngobrol Yuk...

Tuhan, temani aku ngobrol please...
I need You more and more...
ada beberapa hal yang membuatku pingin berbagi rasa denganMu...
aku tahu aku sering mengecewakanMu...
aku sering bertindak sembrono dan tidak setia...
aku sering ketakutan akan hal2 yang nggak layak kutakuti...
seharusnya aku hanya boleh takut akan Engkau...
tapi semua hal itu nggak menghalangiku untuk datang kepadaMu lagi dan lagi...
aku mengakui semua dosa dan kelemahanku, Tuhan...
Bapa, aku mau datang kepadaMu karena aku rindu padaMu...
aku sangat memerlukan pertolonganMu, petunjukMu, dan hikmatMu...
aku nggak tahu harus ke mana dan bagaimana...
aku sumpek, Bapa...
pingin mendapat kelegaan...
meskipun aku tahu nggak dengan cara instan supaya kelegaan itu terjadi...
mungkin aku perlu merentangkan kembali otot2 iman dan pengharapanku kepadaMu...
aku percaya kasihMu lebih dari cukup...
aku nggak akan berhenti dan menyerah begitu saja...
sebaliknya, aku akan berserah total kepadaMu dalam pencarian akan kebenaran dan makna hidup yang panjang ini...
aku percaya apa yang aku lakukan ini nggak sia2...
karena aku senantiasa bersekutu denganMu...
Bapa, ini aku...
tolong aku...
demi nama Tuhan Yesus...
amin...

Kamis, 05 Agustus 2010

Nama Yang Bertuah, Ortu dan Yesus Kristus... ^^

Aku belajar akan satu hal... ketika orang lain tidak tahu siapa aku, dari mana asalku, dan siapa orang tuaku, sikap mereka biasa2 saja dan cenderung menyepelekan... mungkin karena aku tampak culun dan kurang cakap... tapi begitu mereka tahu siapa orang tuaku, sikap mereka seperti berubah drastis... yang tadinya cuek2 bebek, menyepelekan, tiba2 berubah jadi ramah, hangat, dan bersahabat... aku tidak menyesali itu semua, sebaliknya, aku mensyukurinya... hanya memang rasanya seperti memikul beban yang berat karena menyandang nama orang tua... ekspektasi orang lain pun menjadi tantangan tersendiri... sebegitu besarnya pengaruh nama orang tuaku, sehingga banyak orang yang nggak berani macam2 denganku karena takut aku laporkan ke bapak ibuku... padahal aku sih biasa2 aja... ^^ blessing in disguise I guess...

Hal ini pun berlaku dalam alam rohani... hukum rohani mengatakan bahwa nama Yesus adalah perlindungan terkuat bagi anak2 Tuhan di tengah peperangan rohani yang tak kasat mata yang berlangsung tanpa kita sadari... setan2 dan malaikat2 semuanya takut dan menghormati nama Yesus Kristus... dan karena kita adalah anak2 Tuhan, maka nama Yesus Kristus itu pun melekat erat pada panji2 atau baju yang kita pakai... mungkin kita bukan siapa2, nggak bisa apa2, culun dan wagu di mata dunia dan roh2 jahat yang ada... tapi begitu mereka tahu siapa yang ada di belakang kita (Yesus Kristus ^^), mereka nggak berani macam2 dengan kita... bukan kita yang mereka takuti, melainkan Yesus Kristus itulah yang sangat mereka takuti... memang risiko menjadi anak Tuhan adalah banyak orang yang mengharapkan kita bisa mencerminkan karakter Bapa kita di surga... dan ketika kita gagal melakukannya, roh2 jahat dan bala kurawanya itu bersorak sorai kegirangan mengejek kita habis2an... tapi jangan takut, jangan kuatir... dengan bermodalkan dan mengandalkan namaNya saja, kita cukup dapat berbesar hati dan menenangkan diri dari kancah pertempuran yang sengit menggila itu... percaya saja, bahwa Bapa kita tidak akan tinggal diam melihat anak2Nya yang sedang dihina dina oleh dunia fana... Tuhan pasti punya cara untuk menolong kita... setuju??? ^^

Beryukurlah dengan "beban" nama Yesus Kristus yang kita sandang ini... jangan minder atau malah berkecil hati karenanya... Tuhan pasti memberikan kekuatan dan hikmat tersendiri bagi masing2 kita sehingga kita cakap menanggung segala perkara... amin!!!!!!!

Empat Hari Ngadem di OK

Ternyata menjadi orang yang baik itu menyenangkan... kalau kita puas sama diri kita, maka kita akan puas di mana pun kita berada, dengan siapa pun kita, kapan pun itu... benar kata pepatah yang mengatakan bahwa "tak kenal maka tak sayang"... selama empat hari ini aku ngadem di Ruang Operasi karena lagi stase anestesi seminggu, aku mendapatkan banyak pelajaran berharga... aku belajar untuk bersikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain... dimulai dengan bangun tidur pagi2 untuk mencari wajah Tuhan dan mendapatkan kekuatan baru melalui doa dan meditasi firman Tuhan... kemudian waktu mandi dan siap2 berangkat ke tempat aktivitas diisi dengan puji2an dan penyembahan (rengeng2) dari hati yang tulus... yang paling seru adalah waktu perjalanan di mobil pulang pergi... karena nyetir sendirian tanpa ada teman berwujud manusia, aku banyak ngobrol dengan Tuhan... apa aja aku obrolkan... nggak lupa aku doakan apa saja yang melintas di pikiranku waktu nyetir, tentu saja dengan mata terbuka dan mulut komat kamit seperi merapal mantra... sepertinya kebiasaan itu berefek luar biasa... selama empat hari ini aku merasa tansah binerkahan luar biasa... selalu full of joy, penuh sukacita... mungkin karena aku nggak menghadapi suasana gawat darurat sendiri seperti di IGD... aku jadi punya banyak kesempatan untuk mbatin (berdoa dalam hati) sama Tuhan... aku memberkati semua civitas hospitalia RS Bethesda dan semua gugus tugas yang ada, khususnya IGD dan IBS...

Selain penuh sukacita, aku mendapatkan pelajaran berharga... yaitu bagaimana bersikap positif terhadap orang lain... meskipun dr D menceritakan hal2 yang kurang menyenangkan dari dr G, di mana aku diharapkan bersikap hati2, aku mendapati bahwa dr G tidak semengerikan itu... malah sebaliknya... semua dokter anestesi yang menjadi supervisorku baik2 semua... nggak ada yang bersikap negatif atau antipati terhadapku... semuanya mau ngajarin aku meskipun aku banyak diam dan nggak pahamnya... memang sih awal2 ketemu dr P rasanya agak2 terintimidasi karena mungkin belum kenal, tapi setelah siang beliau bersikap lebih ramah dan open... mungkin karena faktor siapa orang tuaku sehingga sikap mereka padaku begitu baik... apakah yang terjadi jika aku bukan anak siapa2? Hmmm... nggak boleh berpikiran negatif, ya... yang jelas, aku bersyukur aja dengan apa yang aku punyai... Tuhan menganugerahiku dengan orang tua yang terkenal hebat... aku jadi merasa sangat terberkati karenanya...

Apa yang sudah kurasakan dan kualami selama empat hari ini kiranya dapat menjadi tonggak sejarah pelajaranku berjalan bersama Tuhan... kiranya Tuhan berkenan dengan renungan hatiku ini... dan kiranya bukan hanya aku saja yang merasa sangat terberkati... terpujilah nama Tuhan Yesus... haleluya!!!