Jumat, 31 Oktober 2014

Proyek Selanjutnya: Multitasking

Malam!

Kembali aku bergairah dalam kegelisahan yang kudus. Aku gelisah ingin menghasilkan karya-karya tulis lepas dan bebas lagi. Dimulai dari artikel sederhana tentang kesehatan jiwa yang rencananya akan kukirimkan ke suatu majalah rohani populer. Aku mau menulis di sela-sela kesibukan yang kurang begitu bermakna bagiku di RMIK. Aku akan mengaktifkan kiembali semangat jiwa menulisku.

Multitasking. Ya, itu! Dengan multitasking, aku dapat memecah impresiku sehingga tidak terlalu sepaneng. Aku bisa lebih santai dan nyaman dengan keberadaan diriku. Multitasking menyangga eksistensi dan aktualisasi diriku dengan menyediakan ruang cadangan sehingga aku terhindar dari kesuntukan (baca: ngelangut) akibat ketiadaan fokus.

Bagaimana itu caraku multitasking? Sederhana saja! Aku tetap menyelesaikan tugas remeh di RMIK sambil mengisi waktu-waktu luang dengan menulis artikel dan/atau cerita yang sudah kurencanakan ini. Aku akan membawa buku Kiky besar untuk menjadi alat bantu menulis draft/kerangka karangan. Aku kerjakan proyek pribadi yang penting dan bernilai kekal itu sambil tetap bersiaga jika sewaktu-waktu ada interupsi dari Pak Djati via telepon/WA berkaitan dengan tugas sambilan sebagai JKN keliling. Supaya tenaga fisikku tidak terbuang sia-sia, aku pandang JKN keliling itu sebagai ajang berlatih 'public speaking' sekaligus aktivitas fisik yang menyehatkan.

Jadi,hari-hariku tidak lagi berlalu begitu saja tanpa hal-hal baru yang bermakna. Aku akan terus belajar dengan tekun, bekerja dengan rajin, dan berkativitas dengan semangat.

Bu Menteri yang Wow

Obrolan seru santai hari itu berkisar seputar bu menteri kelautan yang unik dan menarik itu. Saking menariknya, kakakku sampai bela-belain menyapaku dengan mengangkat topik almamater SMA sang ibu menteri yang tidak lain tidak bukan adalah SMAN 1 Yogyakarta. Wow! Wow untuk Teladan Jayamahe! Wow untuk sapaan kakakku yang sekian lama kunanti-nanti. Untuk itu, aku sangat bersyukur! Terima kasih untuk figur-figur inspiratif yang bermunculan menceriakan bangsa ini.

Aku kagum dengan Bu Susi, sang menteri unik, karena meskipun hanya berijazah SMP, beliau mampu menjadi seorang pengusaha yang memimpin banyak orang. Mungkin aku akan menjadikannya salah satu tokoh inspiratif untuk memotivasiku. ^^

Pikiran Positif: TUHAN Punya Rencana

Si pemikir negatif ini sedang berlatih berpikir positif. Yang biasa memunculkan sikap pesimis ini sedang berupaya menjadi optimis. Aku yang pasif apatis ini sedang berusaha lebih aktif proaktif.

Pagi hari itu meskipun bangun teralu siang, aku berjuang untuk bangkit mengatasi kesuraman pikiran. Aku mulai dengan menyentuh air sejuk sambil mencuci peralatan makan. Air jernih nan sejuk itu mampu membangunkan semangatku dan membuatku terjaga dari kantuk yang menggoda. Kusisihkan waktu terbaik 10 menit untuk menyapa TUHAN melalui perenungan singkat atau bahasa kerennya 'devosi'. Kata-kata doaku sangat singkat, cenderung spontan dan tidak tertata. Yang penting hatiku tetap tertuju pada TUHAN.

Sepanjang perjalanan dari rumah sampai ke tempat kerja, aku mengaktifkan pikiran supaya tetap fokus pada karakter TUHAN. Satu hal yang menjadi penekananku pagi itu adalah mengenai maksud rencana TUHAN di ballik setiap peristiwa yang terjadi. Terngiang dalam benakku sepenggal lagu rohani berikut ini,
"dalam segala perkara
Tuhan punya rencana
yang lebih besar dari semua
yang terpikirkan..."

Setiap kali aku sadar pikiranku melenceng, aku segera kembali fokus pada perkara ini: "TUHAN pasti punya rencana di baliknya."

Ya, TUHAN pasti punya rencana di balik hal-hal rutin yang kukerjakan setiap hari. TUHAN pasti punya rencana bagiku yang sedang menjalani aktivitas sehari-hari di tempat kerja ini. Mazeltov!

Selasa, 14 Oktober 2014

Masalah di Pintu Gerbang Kota

Selamat sore, TUHAN. Aku baru saja membaca habis buku Nick Vujicic ‘Unstoppable’. Ada satu pelajaran penting yang cukup berkesan, yaitu mengenai mewartakan kebenaran tanpa menyerang keyakinan orang lain meskipun tahu bahwa yang mereka percayai itu salah. Semua orang perlu mendengar kabar baik yang disampaikan dengan bahasa kasih yang kuat. Membaca kisah-kisah perjalanan dan perjumpaan Nick, aku jadi tertantang melakukan hal-hal yang serupa di mana aku Engkau tempatkan. Jargonnya, kalau Nick bisa, mengapa aku tidak?
                Jadi, ada di mana kita sekarang? Mari kita ‘berperkara’. Saat ini aku ‘ada’ di RS Ladang Anggur-Mu yang merupakan salah satu ‘pintu gerbang’ kota di mana banyak orang datang dari berbagai tempat dengan berbagai kebutuhan di bidang kesehatan. Apapun agama/keyakinan, suku bangsa, bahasa, jenis kelamin, usia, pangkat, jabatan, dan pekerjaannya, semua orang disambut dan dilayani sesuai kebutuhan kesehatannya masing-masing. Di sini, berhimpun pula para pekerja lading anggur-Mu dengan berbagai talenta dan kemampuan masing-masing, bahu-membahu mengurus ladang anggur-Mu. Ada berbagai macam sikap dan motivasi yang mewarnai tiap pelayanan dan pekerjaan. Ada yang sungguh-sungguh menghayati pekerjaan rutinnya sebagai panggilan-Mu yang kudus. Ada yang baru sekedar mencari uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ada pula yang sekedar mengisi watu-waktu yang ada dengan melakukan apapun sekedarnya saja.
                Pertanyaannya, aku tergolong yang mana? Secara jujur, aku memiliki semangat untuk sungguh-sungguh menjadi saksi-Mu di sini. Masalah yang sedang kugumulkan saat ini adalah mengenai posisi atau tempatku berpelayanan, bukan sekedar bekerja rutin. Aku sedang ‘mencari’ tempatku di dalam-Mu dengan berfokus pada hadir-Mu di dalamku. Aku berpengharapan bahwa melalui hidup dan apa yang kulakukan, pribadi-Mu yang mulia dan penuh kasih itu dapat dikenal dan dinyatakan.
                Setiap masalah yang kulihat dan kudengar di sini cukup membuatku terdorong berpikir keras mencari jalan keluarnya. Aku terdorong mencari solusi dari hulu ke hilir untuk setiap puncak gunung es permasalahan yang timbul. Misalnya, mengenai kebijakan PONEK yang bertabrakan dengan kebijakan JKN di lapangan RS. Secara prinsip, aku tahu bahwa program PONEK itu sangat penting karena prioritasnya adalah keselamatan ibu dan anak. Namun, kebijakan JKN membuat langkah pelayanan RS seakan terpasung oleh besaran plafon yang sangat minimalis, sehingga para pekerja di lapangan memilih untuk bersikap pragmatis praktis yaitu lebih mengutamakan masalah finansial RS daripada masalah kemanusiaan. Aku tidak bisa begitu saja menyalahkan mereka karena mereka pun kurang mendapat petunjuk atau arahan dari pimpinan RS perihal masalah ini. Pimpinan RS pun sepertinya kurang bisa memahami kondisi lapangan sehingga kurang bersikap tegas dan kebijakannya dirasa kurang mantap.
                Aku yang masih belum fasih berbicara ini pun dengan tergagap-gagap mencoba menyampaikan pandangan dan pikiran semampuku, seberapa pun yang bisa kusampaikan dan diterima oleh para pekerja itu. Meskipun yang kusampaikan bukanlah hal yang popular lagi praktis, aku cukup lega karena setidaknya aku menyampaikan hal yang sesuai dengan hati nuraniku.
                Aku mendangar dan menangkap banyak hal namun belum mampu menyampaikan buah pikiranku dengan runtut dan sistematis di forum-forum rapat. Oleh karena itu, aku mengambil waktu untuk belajar ‘public speaking’ sederhana secara khusus mulai minggu ini bersama Bu Betty. Harapanku adalah supaya aku bisa berbicara dengan lebih mantap, percaya diri, dan runtut sehingga menjadi bagian dari solusi yang efektif.
                Inilah yang sedang menjadi kerinduan hatiku saat ini, Bapa. Terima kasih untuk berkat-Mu. Barukh Hashem.