Kamis, 24 November 2011

Hillsong - Desert Song - With Subtitles/Lyrics

Verse 1:
This is my prayer in the desert
And all that's within me feels dry
This is my prayer in my hunger and need
My God is the God who provides

Verse 2:
And this is my prayer in the fire
In weakness or trial or pain
There is a faith proved
Of more worth than gold
So refine me Lord through the flames

Chorus:
And I will bring praise
I will bring praise
No weapon formed against me shall remain
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/h/hillsong/the_desert_song.html ]
I will rejoice
I will declare
God is my victory and He is here

Verse 3:
And this is my prayer in the battle
When triumph is still on it's way
I am a conqueror and co-heir with Christ
So firm on His promise I'll stand

Bridge:
All of my life
In every season
You are still God
I have a reason to sing
I have a reason to worship

Verse 4:
This is my prayer in the harvest
When favor and providence flow
I know I'm filled to be emptied again
The seed I've recieved I will sow


More lyrics: http://www.lyricsmode.com/lyrics/h/hillsong/#share

Selasa, 22 November 2011

Melawan Raksasa--Tentang Suku Jawa

Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.(1 Samuel 17:45)

Aku sering sekali menghadapi ‘raksasa’ yang menantangku setiap kali kesempatan itu datang. Raksasa itu ada di dalamku sendiri. Aku harus berperang melawan diriku sendiri. Yang terutama adalah kemalasan dan ketakutan. Mereka mendatangiku dengan rasa ogah-ogahan dan berbagai dalih pembenaran diri sendiri. Tetapi aku melawan mereka dengan namaNya. Barusan tadi aku habis memenangkan pertempuran kecil melawan salah satu dari mereka. Aku tidak mengizinkan rasa malas menghalangi langkahku untuk memeriksa dan berbicara dengan pasien dan keluarganya. Setidaknya aku tadi sudah memperlakukan Ny. S dengan lebih manusiawi. Aku tidak lagi bersikap ketus atau dingin. Aku sedikit bertanya-tanya kepada beliau perihal keluarganya. Mungkin bagi kebudayaan barat, hal ini useless. Tapi aku percaya, apa yang kulakukan ini tidak sia-sia. Inilah salah satu local wisdom dari budaya Indonesia, khususnya Jawa yaitu ramah tamah. Orang Jawa biasa bertanya tanpa maksud untuk sungguh-sungguh mengetahui, hanya sekedar untuk mencairkan suasana dan menjalin keakraban. Ini menurutku bukanlah hal yang memalukan atau pun sia-sia. Sebaliknya, ini merupakan asset berharga dari bangsaku. Aku perlu menggali lebih banyak lagi mutiara-mutiara terpendam yang ada dari kebudayaan Jawa.

Tentang Suku Jawa

Bicara tentang orang Jawa... Stereotipe terhadap orang Jawa, termasuk diriku, adalah mereka malas, lamban, tidak punya etos kerja yang baik, tidak dapat dipercaya, munafik, dan lain sebagainya. Yang namanya stereotype itu cenderung yang negative-negatifnya saja ya. Entah mengapa. Mungkin karena manusia lebih mudah dan lebih suka menilai negative terhadap sesamanya. Itulah sifat dosa. Sekarang, mari kita lakukan pembalikan! Mari kita pandang dari sudut pandang Bapa. MenurutNya, orang Jawa itu tipikalnya seperti apa? Menurutku, orang Jawa itu juga punya kelebihan dan keunikan tersendiri yang berharga di mataNya, tentu saja. Bukan bermaksud menyombongkan atau memuji mengagungkan diri, tetapi aku mau menunjukkan sisi-sisi positif dari orang Jawa. Menurutku, orang Jawa itu sabar, berpikir panjang, lebih bisa menikmati hidup, nrimo, tahan terhadap penderitaan, rendah hati, berusaha untuk membuat orang lain senang dan nyaman, sangat mengabdi kepada Gustinya, nyeni, berperasaan halus, lembut dalam bertutur kata, dan lain sebagainya. Itulah yang kuamati meskipun belum valid-valid benar. Memang sih dalam sejarah, raja-raja Jawa banyak melakukan pertumpahan darah yang tidak kalah kejamnya dengan raja-raja atau orang-orang suku bangsa lainnya. Bahkan mungkin lebih mengerikan dan mengenaskan. Itu adalah sifat nature dosa. Upah dosa adalah maut. Tapi, bukankah ada tertulis bahwa “upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”? syukur kepada Tuhan Yesus! Dia telah menebus bangsa-bangsa, termasuk orang Jawa. Orang Jawa yang telah ditebus itu seperti apa? Tentu saja luar biasa. Dan aku adalah salah satunya! Aku mau dan telah dan akan terus menjadi buktinya. Aku mau mengerjakan keselamatanku dengan takut dan gentar. Biar dunia lihat bahwa karyaNya sungguh nyata di dalamku. Dan biar dunia tahu bahwa Yesus sungguh Tuhan dan Raja atas suku bangsa Jawa ini. Dialah Sang Ratu Adil yang dinanti-nantikan, Tuhan Yesus! Dan aku adalah saksiNya! Yosh! Haleluya!

Jumat, 18 November 2011

Blame Free Culture


Aku mau menuliskan sesuatu saat ini. Tentang “blame free culture”. Sejauh ini aku mendengar dan kadang melihat iklim dan budaya yang tidak sehat yang ada di tempatku bekerja. Kebanyakan orang suka mencari dan menyoroti kesalahan orang lain, kemudian membicarakan di belakangnya. Terus, kalau ada forum-forum atau rapat-rapat, yang ada bukanlah rasa senang, semangat, antusias, atau happy karena dapat berkumpul mempererat tali persaudaraan dan kekompakan melainkan rasa was was dan tidak aman kalau-kalau bakalan “dibantai” atau disalahkan. Kebanyakan orang di sini masih cenderung mencari siapa yang salah jika ada suatu permasalahan yang muncul ke permukaan, bukannya mencari solusi atau jalan keluarnya. Sebagai contoh ya kemarin itu waktu ada rapat SMF umum, di mana aku mendapati mbak Onny merasa fobia karena biasanya rapat-rapat yang dia ikuti isinya ya seperti itu tadi, seperti mencari kambing hitam untuk disalah-salahkan. Mencari titik lemah (berupa pribadi) untuk semakin ditikam dan ditusuk-tusuk sehingga semakin parah kondisinya. Mungkin ada semacam kepuasan tersendiri ya dalam hal seperti itu. Entahlah. Aku pernah baca di bukunya Rick Joyner berjudul “Pencarian Terakhir”, di mana seorang tawanan yang sudah terluka dan jatuh malah akan semakin mendapat pukulan dan tusukan oleh rekan-rekan selama tawanan. Sungguh mengenaskan. Masalahnya adalah karena dalam kondisi tertawan, seseorang tidak dapat melihat dengan jelas dan bertindak hanya berdasarkan rasa sakit (hati) yang dirasakannya. Solusinya, bebaskan tawanan dan sembuhkan luka (hati)nya sehingga dia dapat melihat dengan jelas dan berhenti melakukan “pembunuhan” terhadap sesamanya lagi.

Bagaimana dengan di tempatku bekerja ini? Mungkin masih banyak orang yang dalam kondisi tertawan (hatinya). Tertawan oleh apa? Oleh dosa, kepahitan, sakit hati, dll. Semua itu membuat rasa tidak aman yang juga muncul dalam sikap sehari-hari. Rasa tidak aman  itu pun diproyeksikan ke orang lain sehingga membuat orang lain merasa tidak nyaman juga. Orang yang tidak merasa aman biasanya akan mencari “teman” untuk merasakan “nasib” yang serupa. Hal yang mengerikan seperti itu haruslah dihentikan! Bagaimana? Dengan memutus mata rantai. Sudah bukan lagi saatnya untuk mengutuk kegelapan. Sekarang saatnya untuk menyalakan lilin. Bukan lagi zamannya untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebab kerajaanMu sudah datang. Sekarang waktunya iman, pengharapan, dan kasih untuk mengalir dengan bebas. Sekarang waktunya untuk memberkati siapa pun yang menganiaya dan bukan mengutuk. Minimal lakukan dari diri sendiri. Tidak perlu menunggu orang lain untuk berubah. Perubahan atau transformasi itu terjadi melalui diri sendiri. Saat diri kita berubah, maka sekeliling kita pun akan terkena dampaknya.
Kalau aku, aku menanamkan sungguh-sungguh “blame free culture” dalam pemikiran, perasaan, dan perbuatanku sehari-hari. Aku tidak terlalu peduli dengan sikap orang lain yang masih suka mencari-cari kesalahan orang lain. Kalau sampai aku ditegur atau disalahkan, aku akan mengedepankan sikap mental yang positif. Prinsip yang telah kupelajari: lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi. Dan sikap yang aku kedepankan adalah berterima kasih untuk perhatian yang diberikan (berupa teguran yang nyata tersebut) serta kesediaan yang rendah hati untuk melakukan yang terbaik. Mari kita buktikan bahwa kebaikan dan kebenaran pasti menang melawan kejahatan dan kekejaman. Yosh!