Selasa, 30 Oktober 2012

Roro Mendut dan Lusi Lindri Versi Romo Mangun


Selesai sudah saya membaca dua novel dari trilogi Roro Mendut karya Y. B. Mangunwijaya alias Romo Mangun. Trilogi Roro Mendut terdiri dari tiga novel yang saling berkaitan yaitu Roro Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri. Yang sudah saya lalap habis adalah Roro Mendut dan Lusi Lindri. Yang Genduk Duku masih menunggu saatnya dipertemukan dengan saya karena di perpustakaan yang sering saya kunjungi, novel tersebut sudah lama raib tidak dikembalikan oleh peminjam teakhir. Meskipun demikian, saya sangat bersyukur dan terberkati dengan kedua novel sejarah tersebut. Berikut ini saya coba untuk menuliskan sedikit kesan yang saya dapatkan.
                Mengapa saya membaca novel Roro Mendut dan Lusi Lindri? Selain karena gratis, saya sangat tertarik karena novel-novel ini adalah karya Romo Mangun. Beberapa karya Romo Mangun telah pula saya baca. Di antaranya adalah Burung-Burung Rantau, Burung-Burung Manyar, dan beberapa karya nonfiksi. Semua karya tulis Romo Mangun selalu berhasil membuat saya merasa terberkati. Terberkati karena terhibur dan tersemangati oleh kecerdasan dan kelucuan-kelucuan khas Romo Mangun. Cara beliau menyentil realita budaya masyarakat yang ada begitu cerdas dan sangat pas rasanya. Tidak terlalu menggurui. Jika toh harus menyampaikan pengajaran, tidak pula terasa seperti sok pintar atau yang paling tahu. Hal ini membuat saya menjadi terdorong untuk menggali dan mengembangkan keingintahuan saya juga.
                Hal yang menarik lagi, setiap karya Romo Mangun khususnya novel sering mengangkat tema kewanitaan yang tangguh. Setiap tokoh wanita atau perempuan yang diciptakan dalam novel-novel Romo Mangun sering digambarkan sebagai pribadi yang cerdas, mempunyai kebebasan berpikir dan berekspresi yang tidak didikte oleh budaya pada umumnya, dan selalu menantang ketidakadilan budaya dalam memperlakukan perempuan. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, tokoh-tokoh perempuan tersebut digambarkan seolah ‘menampar’ kaum pria. Budaya yang lebih mengagung-agungkan kejantanan dan harga diri kaum pria diobrak-abrik oleh Romo Mangun dengan apiknya melalui sepak terjang dan sepak pikir tokoh-tokoh perempuan dalam novel beliau. Saya pun menyimpulkan bahwa Romo Mangun adalah seorang penulis yang cenderung feminis, meskipun beliau adalah seorang laki-laki. Kesimpulan saya ini ternyata diamini pula oleh Dra. Wiyatmi, MHum dalam kajiannya terhadap 22 judul novel yang mengangkat tema-tema feminisme (Kedaulatan Rakyat, 28 Oktober 2012).
                Novel Roro Mendut dan Lusi Lindri bercerita tentang pribadi-pribadi perempuan tangguh yang hidup pada zaman kerajaan Mataram Islam, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo dan Amangkurat I. Pribadi-pribadi tangguh tersebut dilukiskan dalam tokoh Roro Mendut, Genduk Duku (abdi Roro Mendut), dan Lusi Lindri (anak Genduk Duku). Diceritakan dengan apik bagaimana perjalanan hidup mereka yang seolah terjebak dalam kekejaman sejarah Mataram yang penuh pertumpahan darah. Roro Mendut yang merdeka, berasal dari pantai utara Pulau Jawa, harus menjadi selir Tumenggung Wiroguno dari kerajaan Mataram, yang juga sudah beristeri banyak sebetulnya. Dikisahkan dalam novel tersebut bagaimana keteguhan hati Roro Mendut untuk merebut kembali kemerdekaannya meskipun harus mengorbankan nyawa. Keteguhan hati dan keberanian Roro Mendut itu menginspirasi Genduk Duku yang kemudian diwariskan pula kepada Lusi Lindri. Berbeda dengan Roro Mendut yang harus mati tragis, Genduk Duku dan Lusi Lindri tetap hidup menyaksikan bagaimana carut marutnya Kerajaan Mataram sepeninggal Sultan Agung. Meskipun mati yang tampak tragis, Roro Mendut tetaplah menang atas kebebasan jiwa dan cinta sejatinya. Genduk Duku dan Lusi Lindri pun demikian. Mereka beroleh cinta sejati masing-masing.
                Kesan yang timbul setelah saya membaca novel Roro Mendut dan Lusi Lindri begitu membekas dalam hati dan pikiran. Selain beroleh tambahan pengetahuan dan pemahaman tentang sejarah Mataram, saya pun beroleh tambahan kekayaan rasa dan olah batin. Saya sangat terkesan dengan pemahaman Romo Mangun akan kehidupan, keharmonisan, kedamaian, kebaikan, dan nilai-nilai berharga lainnya. Dengan bahasa khasnya, Romo Mangun mampu menampilkan hal-hal tersurat dari kenyataan budaya yang ada sepanjang masa. Yang paling menonjol menurut saya adalah bagaimana peran perempuan yang mulia sangat dijunjung tinggi oleh Romo Mangun. Tidak ada kesan vulgar atau saru bahkan ketika Romo Mangun menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas sekalipun. Yang ada adalah perasaan kagum dan paham akan kodrat dan maksud Tuhan semesta alam yang menciptakan manusia laki-laki dan perempuan dengan segala perbedaan dan perannya itu. Kekayaan budaya dan kearifan lokal khas Jawa ditampilkan dengan sangat indah dan manis. Tembang, geguritan, parikan, dan segala macam bentuk kesenian khas Jawa lengkap dengan ungkapan-ungkapannya yang penuh humor banyak mengisi dialog para tokoh.
                Yang menarik adalah bagaimana perpaduan antara fakta dan fiksi yang tidak terlalu kasar atau tampak terlalu dipaksakan. Karena novel Roro Mendut dan Lusi Lindri adalah novel sejarah, maka harus ada riset sejarah terlebih dahulu. Dan luar biasanya, Romo Mangun mampu membangun cerita yang hidup, menarik, dan indah dari fakta-fakta sejarah yang ada. Alur cerita tidak terasa terlalu lambat atau bertele-tele karena ditutup dengan tambahan pengetahuan yang cukup mengenyangkan hati dan pikiran. Latar belakang sejarah terasa cukup menyatu dengan jalannya cerita. Secara keseluruhan, trilogi novel ini sangat bagus dan dapat digolongkan sebagai novel wajib baca. Siapa saja boleh, bahkan haruslah, membacanya supaya dapat mengenal lebih dekat kekayaan budaya dan sejarah bangsa dan negara. Para guru sejarah pun perlu membaca novel-novel seperti ini supaya dalam mengajarkan materi sejarah pun dapat lebih hidup dan mengena di hati para murid.
                

Kamis, 11 Oktober 2012

Mengampuni dan Memberkati


Mengampuni dan Memberkati
Oleh: dr. Yohana Puji Dyah Utami

                Ah, ini dia topik hangat kita kali ini. Perihal Tante Menik dan sikapnya yang ‘aduhai’ itu. Bikin orang banyak bilang “aduh” dan malas menyapa “hai” padanya. Apa pasal? Entah mengapa dan entah bagaimana sikap Tante Menik bisa sedemikian negatifnya terhadap keluargaku dan keluarga besarku. Akarnya apa? Bagaimana cara mencabutnya? Aku harus sangat berhati-hati menjaga perasaan dan pikiranku terlebih dahulu. Setiap kali muncul gambaran sikap Tante Menik yang negatif itu, aku segera mengucapkan kalimat doa singkat nan ampuh ini, “Tuhan, ampuni Tante Menik. Berkati Tante Menik.” Kemudian, aku lanjukan dengan deklarasi ini, “Aku mengampuni Tante Menik. Aku memberkati Tante Menik”. Berkali-kali, mengikuti perintah Tuhan Yesus Kristus, tujuh puluh kali tujuh kali.
                Itu adalah “perisai iman” yang kupakai untuk bertahan terhadap serangan Iblis yang memakai Tante Menik dengan sikapnya itu. Lalu, “pedang roh”nya adalah doa-doa syafaat atau permohonan yang keluar dari hatiku yang terdalam. Tentu saja sesuai dengan prinsip kebenaran firman Tuhan! Supaya lebih josss, aku rahasiakan baik-baik semua kalimat doaku itu. Tidak sampai kutuliskan di sini. Tunggu nanti kalau sudah dijawab Tuhan, baru aku buka ‘blak’. Luar biasa, bukan?
                Cara yang kupakai ini aku tiru atau terinspirasi dari Alkitab. Di kitab Daniel ada diperintahkan TUHAN supaya memeteraikan semua perkataan TUHAN. Dirahasiakan! Jangan diungkap dulu! Tujuannya supaya rencana TUHAN itu dapat terlaksana dengan sukses sesuai waktu-Nya yang presisi. Juga, supaya pihak musuh bingung dan bertanya-tanya akan strategi TUHAN itu. Perlu dicatat, Iblis itu tidak maha tahu. Hanya TUHAN-lah yang maha tahu!
                Di pihak lain, di kitab Wahyu, rasul Yohanes diperintahkan untuk menulis dan tidak memeteraikan apa yang ditulisnya itu. Ini juga strategi jitu TUHAN supaya membuat musuh kelabakan sendiri. Jadi, ada waktunya untuk berdiam diri menyimpan rahasia dan ada waktu untuk ‘membuka kartu’. Rahasianya adalah ‘TIMING’ atau ‘KAIROS’. Jika waktunya sudah tiba, dan kemenangan sudah 100% di tangan TUHAN dan sekutu-Nya, maka barulah kita boleh buka kartu. Jreng jreng!!! Seru sekali melihat reaksi kaget musuh dan antek-anteknya.
                Satu lagi! Ini adalah peperangan rohani. Musuh kita bukanlah melawan darah dan daging, melainkan dedengkot Iblis dan kroco-kroconya di udara. Kalau ada manusia yang secara sadar atau tidak sadar telah menjadi boneka Iblis, ya kasihan sekali! Tugas kita adalah berdoa, mengampuni, dan bersyafaat seperti Tuhan Yesus. Biar TUHAN dan malaikat-malaikat-Nya yang berperang menggantikan kita. Tugas kita adalah ‘duduk diam’, berdoa, dan mengamati jalannya peperangan. Jika disuruh ‘bangkit berdiri’ untuk bersorak, ya bersoraklah! TUHAN sudah pasti menang!
                Kembali ke masalah konkret kita kali ini: Tante Menik. Sudah jelas, kan? Musuh kita bukanlah Tante Menik, melainkan si Iblis yang telah membutakan dan membisiki Tante Menik dengan hal-hal yang bukan-bukan. Gambarannya sama seperti Yudas Iskariot yang pikirannya dirasuk Iblis itu sehinngga akhirnya mengkhianati Tuhan Yesus. Tidak sampai seperti orang kesurupan macam jathilan itu, kan?
                Tugas kita adalah tetap berdoa, tetap mengampuni, dan tetap memberkati siapapun yang menyakiti hati kita. Perkara dia dongkol atau benci sama kita, itu urusan dia dengan Tuhan. Yang penting kita tidak ikut membenci. Serahkan saja perkara “nyebelin” ini pada yang Mahaadil dan Mahabijaksana. Dan jangan lupa serukan “mantra” dahsyat ini manakala hati kita tertusuk oleh perkataan-perkataan negatifnya: “Kami mengampunimi, kami memberkatimu, Tante Menik!” Salam damai! Peace!

(Tulisan ini sebagai tanggapan atas tulisan-tulisan Tante Menik di Facebook yang pedas dan menyesatkan)

Jumat, 05 Oktober 2012

Saat Menunggu


Tuhan, Bapa…
Saat ini, di tempat ini
Aku duduk tenang
Menunggu
Menunggu-Mu
Dan menikmati
Menikmati-Mu
Sungguh indah, sungguh nyaman
Waktu ini
Tidak ada yang sia-sia
Semuanya bermakna
Tuhan Yesus…
Aku tahu Engkau hadir
Saat ini, di tempat ini
Lebih dari kata dan bahasa
Aku sungguh menikmati
Saat-saat menunggu ini
Haleluya…

(saat duduk-duduk menunggu perpus dibuka)

Syukur, Puji Tuhan


Syukur
Puji Tuhan
Ternyata tidak sia-sia
Kemarin itu
Ternyata ada yang kena
Kupikir kacau
Kupikir wagu
Ternyata tidak juga
Satu orang mengatakan
Bagus dan tepat kena
Ia pun curhat
Sungguh senang
Begini to rasanya
Kalau kita dihargai
Sekali lagi kukatakan
Syukur
Puji Tuhan

(setelah mendapat tanggapan positif atas renungan di Rawat Jalan)

Kamis, 04 Oktober 2012

Siang Hari Kebingungan


Tadi siang aku
Sempat bingung
Tidak tahu mau ke mana
Tidak tahu mau apa
Hanya karena
Ketidakjelasan
Tidak apa-apa
Untung cuma sehari
Tapi ada satu
Kesalahan
Aku sungguh malu
Tidak kuulang lagi
Maaf
Ampun
Terima kasih
Amin

(saat siang hari kebingungan tidak tahu harus ke mana)

Pagi Ini


Pagi ini
Aku berjalan
Bersiap untuk berbagi
Kupikir aku mampu
Kupikir aku siap
Karena TUHAN bersamaku
Kulakukan panggilanku
Berbagi bersama mereka
Tapi anehnya
Seperti ada yang kurang
Apa ya…
Mungkin kurang kusuk
Mungkin kurang doa
Mungkin kurang hening
Kulihat pada TUHAN
Dia masih ada
Lalu apa…
Mungkin aku yang kurang
Kurang sabar
Kurang tenang
Terlalu sombong
Terlalu sembrono
Ampun, TUHAN
Tidak kuulang lagi
Lain kali lebih baik
Terima kasih
Sudah memberkatiku
Tadi
Amin
Amin
Amin

(sesudah berbagi renungan dengan teman-teman di Rawat Jalan)

Rabu, 03 Oktober 2012

Tolong Ya, TUHAN


TUHAN…
Aku butuh api-Mu
Yang membakar
Bangkitkan semangat
Saat ini
Energiku habis tersedot
Entah ke mana
Entah karena apa
Buatlah aku
Bangkit kembali
Perjalanan masih panjang
Aku perlu kekuatan
Tenaga ekstra
Energi lebih
Dari-Mu saja
Tolong ya, TUHAN
Amin

(saat merasa kelelahan dan kengantukan yang amat sangat)

Sabtu, 29 September 2012

Ini Aku


TUHAN
Kupanggil Engkau Bapa
Karena Engkau sendiri yang menyatakan demikian
Aku ikuti saja saran-Mu
Beres, kan!
Bapa, aku sedang lapar
Lapar dan haus akan sesuatu
Seperti kata Anak-Mu, Yesus
Dulu ketika di bukit itu
Yesus, ini aku yang sedang lapar dan haus
Akan kebenaran, itu kata-Mu
Dan Engkau berkata bahwa aku akan dipuaskan
Oleh karena itu aku berbahagia
Itu kata-Mu
Dan aku percaya
Sungguh
Tuhan, ini aku yang sedang lapar dan haus
Terima kasih untuk penghiburan-Mu
Kata-kata-Mu adalah hidup
Itu kata Petrus, murid-Mu
Aku merindukan perkataan-perkataan-Mu
Yang sungguh menghidupkanku
Tuhan, Ini aku yang sedang lapar dan haus
Ajarilah aku berdoa
Mengikuti kerinduan murid-murid-Mu
Karena aku tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa itu
Tapi Roh Kudus yang menolongku
Menyampaikan keluhan-keluhan yang tak terucapkan
Itu kata Paulus, rasul-Mu itu
Dan Engkau sudah mengaruniakan Roh Kudus
Itu kata Alkitab
Yang setiap hari kubaca-baca
Sekedar menyambung rindu
Akan kekekalan
Roh Kudus, ini aku
Aku mau sekedar menikmati
Persekutuan dengan-Mu
Itu kosakata Alkitab yang kupinjam
Untuk menggambarkan isi hati
Maaf, TUHAN, kalau membosankan-Mu
Tapi terima kasih
Sudah mendengarkanku
Sekali lagi, ini aku, TUHAN
J

(saat sedang sangat merindukan bersekutu dengan TUHAN)

Maju


Saat ini
Saat untuk menarik napas
Untuk melanjutkan lari
Bukan pelarian lagi
Bukan
Ini adalah lari marathon
Tujuannya pasti
Visinya jelas
Meneruskan hasrat dan semangat
Menjaga api terus menyala
Terus dan terus
Sampai kedatangan-Nya
Tidak hiraukan lagi
Halangan dan hambatan
Semuanya adalah tantangan
Yang menunggu ditaklukkan
Tiada lagi galau dan ragu
Atau tangis manja
Menangisi diri
Sekarang saatnya maju
Tanpa menoleh ke belakang
Biarlah mereka bersungut-sungut
Tapi aku dan keluargaku
Kami akan terus maju
Mengejar TUHAN
Mengejar hadirat-Nya
Tidak peduli apa kata mereka
Yang terjatuh dan tertawan
Yang dijadikan tawanan perang
Yang menyerang membabi buta
Menjadi budak musuh
Aku tidak takut
Aku peduli
Aku kasihan
Aku mengasihi mereka
Aku ingin mereka bebas
Tapi bukan dengan caraku
Dengan cara-Nya saja
Aku tahu
Ini belum berakhir
Peperangan sedang berlangsung
Dialah panglimaku
Aku ikuti aba-aba-Nya
Aku ikuti gerak hati-Nya
Kuikuti terus
Tanpa pernah ragu
Tanpa takut mati
Karena Dia percaya aku bisa
Dia percaya aku mampu
Karena itu aku mau
Terus maju
Maju terus
Sampai Dia sendiri yang berkata
“Sudah cukup”
Maka aku tidak kuatir
Aku tidak ragu
Aku tidak takut
Tidak akan pernah lagi
Mari, TUHAN
Aku siap
Ya
Siap
.

(saat sedang tenang menghadapi musuh yang sedang mbingungi sendiri)

Jumat, 28 September 2012

Ampun


Kalau membenci
Aku kalah
Kalau membenci
Aku salah
Maka
Aku diam
Sambil mengingat
Hal-hal baik
Yang pernah ada
Yang dia lakukan
Dulu
Aku padamkan
Api marah
Api geram
Api panas hati
Kugantikan
Dengan sejuk indah
Air kehidupan
Dari sungai-Mu
Yang mengalir terus
Terus
Dan terus
Bersihkan hati
Bersihkan pikir
Gantikan duka
Dengan suka
Hmmm

TUHAN
Aku ampuni
Sungguh
Aku ampuni
Dia yang menyebalkan
Yang sedang galau
Yang sedang lupa
Siapa dirinya
Di hadapan-Mu
Ampuni aku juga
Yang sering lupa
Akan siapa diriku
Di hadapan-Mu
Ampuni kami
Yang lupa
Akan siapa kami
Satu sama lain
Di hadapan-Mu
Kiranya kasih
Sukacita
Dan damai sejahtera
Terus mengalir
Amin
Amin
Amin

(sekedar doa untuk mencegah proses pembusukan karakter)

Stop


Stop
Berhenti
Jangan ikut
Biarkan saja mereka
Hanyut larut
Dalam pikiran sesat mereka sendiri
Biarkan saja
Nanti capek sendiri
Nanti juga bosan
Lalu berhenti
Jangan ikut marah
Jangan ikut hanyut
Jangan ikut larut
Sebaliknya
Tebarkan kasih
Mungkin basi
Tapi tidak
Kasih itu nyata
Dan lebih kuat
Daripada kebencian
Dan kemarahan sesat
Yang sesaat
Tapi dampaknya
Sungguh luar biasa
Balas saja mereka
Dengan kasih sejati
Meskipun susah
Tapi harus
Sebab ini perintah
Dari TUHAN Raja
Maka dunia berubah
Surga pun datang
Tanpa ragu lagi
Mari
Mari
Mari

(bagi saudara, keluarga, dan teman-teman seperjuanganku yang sedang diserang secara bertubi-tubi oleh musuh melalui perkataan, sikap, dan kejadian dari yang terkasih dan terdekat)

Untuk Dirimu


Meradang
Marah
Lelah
Mungkin itu yang kau rasakan
Sungguh kasihan
Menyebalkan memang
Apa yang kaurasakan itu
Tapi tahukah dirimu
Pikiran itu tidak benar
Tidak selalu benar
Coba cek baik-baik
Hatimukah yang sakit
Atau itu cuma karena egomu
Diamlah dahulu
Heninglah sejenak
Jangan marah dulu
Perhatikan baik-baik
Diamlah
Tenanglah
Biarkan Dia menyapamu
Dengarkan suara-Nya
Jangan suaramu terus
Jangan suara yang lain
Biarlah perkatan negative itu
Lenyap
Digantikan perkataan positif
Bukan hanya itu
Digantikan dengan kasih
Pengertian
Kesabaran
Dan akhirnya…
Pengampunan
Yang sejati
Ampuni mereka
Ampuni dirimu
Ampuni siapa pun
Ampuni apa pun
Maka kedamaian
Dan saudaranya
Kelegaan
Akan menjumpaimu
Dan memeluk erat dirimu
Takkan terlepas
Marilah
Datanglah
Dia menunggumu
Di sini
Saat ini
Ya
Saat ini

(untuk mereka yang sedang galau dan sedang marah-marah tak tentu arah)

Kamis, 27 September 2012

Lapar dan Rindu


Lapar dan rindu bertemu
Mereka berjabat tangan
Bersepakat menanti kedatangan
Menanti jemputan pulang
Sebentar lagi
Beberapa menit lagi
Lapar dan rindu mengujiku
Menguji kesabaran penuh cinta
Kesabaran penuh harap
Akan kedatangan yang terkasih
Sebentar lagi
Beberapa menit lagi
Lapar dan rindu mengajakku
Senantiasa bersyukur selalu
Saat aku merasakan mereka
Syukur selalu diperlukan
Untuk menyambut sukacita
Sebentar lagi, beberapa menit lagi

(saat menunggu jam pulang waktu dispensasi)

Hari Ini


Wah, TUHAN
Hari ini begitu indah
Penuh tantangan menanti
Apa saja itu
Aku siap

Selamat Pagi


Selamat pagi, TUHAN
Selamat pagi, Bapa
Selamat pagi, Yesus
Selamat pagi Roh Kudus
Terima kasih
Terima kasih
Terima kasih

Aku Penulis


Belajar lagi, lagi belajar
Memulai lagi, bukan sesuatu yang baru
Ini lagi musimnya, ini lagi waktunya
Kembali ke kebiasaan lama
Menulis
Dan membaca
Tidak ada yang menyuruh
Tidak ada yang meminta
Ini aku lakukan sendiri
Ini inisiatifku sendiri
Ingin menulis ini
Ingin menulis itu
Bukan untuk siapa-siapa
Bukan untuk apa-apa
Hanya bersenang-senang saja
Hanya bergembira
Inilah aku, inilah kegemaranku
Aku penulis

Kutunggu Kau di Perpustakaan


Ruangan itu cukup besar dan lega
Sejuk dingin meskipun tidak alami
Banyak cerita di sana
Tersusun rapi berderet-deret
Kupilih satu, dua, tiga, empat
Kubaca seperti melahap panganan
Tidak membosankan
Sangat mengasyikkan
Tak terasa waktu berlalu
Tenggelam ku dalam cerita
Tanpa sadar Engkau pun di sini
Duduk saling mendengarkan
Isi hati dan isi pikiran
Sungguh senang
Jiwaku pun segar
Bugar
Tajam pikiranku
Peka perasaanku
Makin mengerti aku
Makin bijak aku
Tempat ini tempat kita
Sungguh nyaman

Sendiri


Duduk diam sendiri
Tapi tidak benar-benar sendiri
Membaca, mendengarkan, menikmati
Tidak ada yang menandingi
Keindahan dan kedamaian hati
Saat hanya duduk diam sendiri
Tapi tidak benar-benar sendiri

Sahabat sejati selalu menemani

Mari Bertualang


Mari, TUHAN…
Kita berjalan bersama
Nikmati suasana hari ini
Bertualang bersama

Hmmm…
Indahnya…
Begini to rasanya

Haleluya
haleluya

TUHAN, Temani Aku di Perpustakaan


TUHAN…
Hatiku masih belum sembuh
Sedih dan sakit rasanya
Entah kenapa
Bagaimana perkataan jujur seorang teman
Bisa sedemikian menusuk
Membuatku tidak nyaman
Tidak enak hati
Bapa…
Heran aku rasanya
Ini sebenarnya karena apa
Apa salahku ya
Apa salahnya ya
Kok rasanya (masih) mengganjal
Bagaimana ya caranya
Untuk menjelaskannya
Tuhan Yesus…
Bagaimana menurut-Mu
Apa yang harus kulakukan
Sebaiknya bagaimana
Posisiku salahkah
Kalau iya, tolong kasih tahu
Sebab aku tidak mau
Kalau aku jatuh lagi
Roh Kudus…
Tolong aku
Aku tidak bisa sendirian
Aku perlu teman
Engkau teman terbaikku
Tolong aku yang sedang gundah ini
Aku berserah kepada-Mu
Terima kasih, amin

(di perpustakaan, sedang menimba kekuatan dari surga, setelah sempat sedih)

Senin, 24 September 2012

Syukuran Baptisan dan Ulang Tahun


Pada suatu malam yang indah dan sejuk, di sebuah kamar yang hangat dan nyaman, penuh kasih mesra dalam keluarga kecil bahagia sejahtera…
(diiringi music lembut mengalun meneduhkan hati dan pikiran)
Sista Mimi           : selamat malam, Mas Bro! ^^
Bro JC                    : Hai, hai, adike… ^^ malam… apa kabar? ^^ sae sae?
Sista Mimi           : tansah binerkahan, Mas Bro… matur nuwun… matur sembah nuwun…
Bro JC                   : matur nuwun buat apa, adike? ^^
Sista Mimi           : buat semuanya lah… ^^
Bro JC                   : diperjelas dunk, dikhususkan, gitu… ^^
Sista Mimi           : ok ok, nek itu kekarepan-Mu ^^. Matur nuwun buat keluargaku, kecil maupun besar, semuanya bahagia dan sejahtera. ^^
Bro JC                   : how come?
Sista Mimi           : by bus! ^^
Bro JC                   : wkwkwk… sing tenan to, adike… Aku kepingin tahu ki… ^^
Sista Mimi           : ^^ okelah kalau begitu ^^
Bro JC                   : ^^
Sista Mimi           : pertama, terima kasih buat hadiah ulang tahunku kemarin ^^
Bro JC                   : hadiah apa to? ^^
Sista Mimi           : ah, Mas Bro ini, selalu begitu… kura-kura tidak tahu… ^^
Bro JC                   : hihi…
Sista Mimi           : terima kasih telah membuatku merasakan bahagia yang penuh, sukacita yang sejati, Mas Bro… aku melihat dan merasakan kedahsyatan kuasa kasih-Mu dalam keluargaku, kecil maupun besar. Karya-Mu yang sungguh di luar kreativitasku itu, lho… sungguh awesome! Pemulihan demi pemulihan yang terjadi, berkat-berkat jasmani dan rohani yang mengalir, semuanya rasanya sangat luar biasa! Matur nuwun sanget, Mas Bro! ^^

Bro JC                   : ^^
Sista Mimi           : kedua, terima kasih buat Hadasa yang dibaptis pada hari yang sama dengan ulang tahunku yang ke-28 kemarin. Kebahagiaan dan sukacita ganda! ^^ baptis Hadasa aku hayati sebagai wujud penyerahan Hadasa ke dalam tangan-Mu yang selalu membawa kepada kemenangan. Silakan Mas Bro proses Hadasa menjadi indah dan selalu menerbitkan sukacita tersendiri di manapun dia berada. Kiranya kemuliaan dan keagungan-Mu selalu melingkupi Hadasa sehingga setiap orang yang melihat dan mendengarnya dapat mengetahui dan merasakan bahwa Mas Bro itu sungguh nyata ada. ^^
Bro JC                   : ^^ (terharu) ^^
Sista Mimi           : ketiga, terima kasih buat benih-benih ilahi yang mulai bertumbuh dan berbuah di dalam keluarga besarku, Mas Bro! Aku seneng banget liat adik-adik sepupuku yang bertumbuh dan berkembang, seperti Veno, Yaya, Asty, Arin, Suryo, Anggit, Dea, Aldo kemarin. Mereka sungguh luar biasa! Aku pingin Mas Bro juga memproses mereka satu per satu secara khusus sehingga mereka dapat menjadi seperti yang Mas Bro mau. ^^
Bro JC                   : ^^
Sista Mimi           : untuk ekses-ekses negative yang terjadi seperti sikap beberapa anggota keluarga besarku, itu aku gak ambil pusing, Mas Bro! Aku serahkan saja sama diri-Mu. Itu urusan mereka dengan-Mu secara pribadi. Aku Cuma mengampuni dan memberkati saja. Hehe… ^^
Bro JC                   : ^^ sip sip ^^
Sista Mimi           : apa lagi ya?
Bro JC                   : hayo… apa?
Sista Mimi           : mmm… sepertinya itu dulu sih yang ingin kusampaikan, Mas Bro! ^^
Bro JC                   : bagaimana dengan kegiatan tulis menulismu, adike? ^^
Sista Mimi           : wah, iya… makasih juga, Mas Bro, aku dapat juara 2 nulis artikel di Bahana. Senangnya! Dapat hadiah lumayan buat ditabung… hehe…
Bro JC                   : ^^
Sista Mimi           : semakin menambah motivasiku untuk menulis lebih produktif lagi, Mas Bro! Aku pingin menulis secara khusus artikel-artikel perilaku kedokteran… yah, hal-hal nonteknis yang harus dimiliki oleh seorang dokter Indonesia. Sepertinya itu yang cocok dengan posisiku, Mas Bro… mohon berkat-Mu, ya, supaya aku tekun di dalamnya. ^^
Bro JC                   : Aku memberkatimu selalu, adike ^^
Sista Mimi           : aku ingin terus mengembangkan talenta tulis menulis ini, Mas Bro… mohon bimbingannya, ya… ^^
Bro JC                   : (jempol)
Sista Mimi           : terima kasih, Mas Bro… ^^
Bro JC                   : sama-sama, adike… ^^
Sista Mimi           : cukupkah sekian, Mas Bro?
Bro JC                   : mangga kersa, adike… ^^
Sista Mimi           : ok deh… gandheng sampun tuwuk, keparenga kula tutup sampai sekian dulu… tulisan ini mungkin berhenti sampai di sini, tapi koneksi kita akan terus berlangsung sampai selama-lamanya… ^^
Bro JC                   : berkat dan anugerah-Ku atasmu, adike
Sista Mimi           : matur sembah nuwun, Mas Bro…
Bro JC                   : sami-sami, adike… ^^
(dan cerita pun terus berlanjut sampai kepada kekekalan… Maranatha ^^)

Ditulis di rumah kemuliaan di Pelem Kecut pada malam Selasa tanggal 24 September 2012, sehari setelah hari ulang tahun Sista Mimi dan baptis anaknya, Hadasa. ^^