Kamis, 24 November 2011

Hillsong - Desert Song - With Subtitles/Lyrics

Verse 1:
This is my prayer in the desert
And all that's within me feels dry
This is my prayer in my hunger and need
My God is the God who provides

Verse 2:
And this is my prayer in the fire
In weakness or trial or pain
There is a faith proved
Of more worth than gold
So refine me Lord through the flames

Chorus:
And I will bring praise
I will bring praise
No weapon formed against me shall remain
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/h/hillsong/the_desert_song.html ]
I will rejoice
I will declare
God is my victory and He is here

Verse 3:
And this is my prayer in the battle
When triumph is still on it's way
I am a conqueror and co-heir with Christ
So firm on His promise I'll stand

Bridge:
All of my life
In every season
You are still God
I have a reason to sing
I have a reason to worship

Verse 4:
This is my prayer in the harvest
When favor and providence flow
I know I'm filled to be emptied again
The seed I've recieved I will sow


More lyrics: http://www.lyricsmode.com/lyrics/h/hillsong/#share

Selasa, 22 November 2011

Melawan Raksasa--Tentang Suku Jawa

Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.(1 Samuel 17:45)

Aku sering sekali menghadapi ‘raksasa’ yang menantangku setiap kali kesempatan itu datang. Raksasa itu ada di dalamku sendiri. Aku harus berperang melawan diriku sendiri. Yang terutama adalah kemalasan dan ketakutan. Mereka mendatangiku dengan rasa ogah-ogahan dan berbagai dalih pembenaran diri sendiri. Tetapi aku melawan mereka dengan namaNya. Barusan tadi aku habis memenangkan pertempuran kecil melawan salah satu dari mereka. Aku tidak mengizinkan rasa malas menghalangi langkahku untuk memeriksa dan berbicara dengan pasien dan keluarganya. Setidaknya aku tadi sudah memperlakukan Ny. S dengan lebih manusiawi. Aku tidak lagi bersikap ketus atau dingin. Aku sedikit bertanya-tanya kepada beliau perihal keluarganya. Mungkin bagi kebudayaan barat, hal ini useless. Tapi aku percaya, apa yang kulakukan ini tidak sia-sia. Inilah salah satu local wisdom dari budaya Indonesia, khususnya Jawa yaitu ramah tamah. Orang Jawa biasa bertanya tanpa maksud untuk sungguh-sungguh mengetahui, hanya sekedar untuk mencairkan suasana dan menjalin keakraban. Ini menurutku bukanlah hal yang memalukan atau pun sia-sia. Sebaliknya, ini merupakan asset berharga dari bangsaku. Aku perlu menggali lebih banyak lagi mutiara-mutiara terpendam yang ada dari kebudayaan Jawa.

Tentang Suku Jawa

Bicara tentang orang Jawa... Stereotipe terhadap orang Jawa, termasuk diriku, adalah mereka malas, lamban, tidak punya etos kerja yang baik, tidak dapat dipercaya, munafik, dan lain sebagainya. Yang namanya stereotype itu cenderung yang negative-negatifnya saja ya. Entah mengapa. Mungkin karena manusia lebih mudah dan lebih suka menilai negative terhadap sesamanya. Itulah sifat dosa. Sekarang, mari kita lakukan pembalikan! Mari kita pandang dari sudut pandang Bapa. MenurutNya, orang Jawa itu tipikalnya seperti apa? Menurutku, orang Jawa itu juga punya kelebihan dan keunikan tersendiri yang berharga di mataNya, tentu saja. Bukan bermaksud menyombongkan atau memuji mengagungkan diri, tetapi aku mau menunjukkan sisi-sisi positif dari orang Jawa. Menurutku, orang Jawa itu sabar, berpikir panjang, lebih bisa menikmati hidup, nrimo, tahan terhadap penderitaan, rendah hati, berusaha untuk membuat orang lain senang dan nyaman, sangat mengabdi kepada Gustinya, nyeni, berperasaan halus, lembut dalam bertutur kata, dan lain sebagainya. Itulah yang kuamati meskipun belum valid-valid benar. Memang sih dalam sejarah, raja-raja Jawa banyak melakukan pertumpahan darah yang tidak kalah kejamnya dengan raja-raja atau orang-orang suku bangsa lainnya. Bahkan mungkin lebih mengerikan dan mengenaskan. Itu adalah sifat nature dosa. Upah dosa adalah maut. Tapi, bukankah ada tertulis bahwa “upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”? syukur kepada Tuhan Yesus! Dia telah menebus bangsa-bangsa, termasuk orang Jawa. Orang Jawa yang telah ditebus itu seperti apa? Tentu saja luar biasa. Dan aku adalah salah satunya! Aku mau dan telah dan akan terus menjadi buktinya. Aku mau mengerjakan keselamatanku dengan takut dan gentar. Biar dunia lihat bahwa karyaNya sungguh nyata di dalamku. Dan biar dunia tahu bahwa Yesus sungguh Tuhan dan Raja atas suku bangsa Jawa ini. Dialah Sang Ratu Adil yang dinanti-nantikan, Tuhan Yesus! Dan aku adalah saksiNya! Yosh! Haleluya!

Jumat, 18 November 2011

Blame Free Culture


Aku mau menuliskan sesuatu saat ini. Tentang “blame free culture”. Sejauh ini aku mendengar dan kadang melihat iklim dan budaya yang tidak sehat yang ada di tempatku bekerja. Kebanyakan orang suka mencari dan menyoroti kesalahan orang lain, kemudian membicarakan di belakangnya. Terus, kalau ada forum-forum atau rapat-rapat, yang ada bukanlah rasa senang, semangat, antusias, atau happy karena dapat berkumpul mempererat tali persaudaraan dan kekompakan melainkan rasa was was dan tidak aman kalau-kalau bakalan “dibantai” atau disalahkan. Kebanyakan orang di sini masih cenderung mencari siapa yang salah jika ada suatu permasalahan yang muncul ke permukaan, bukannya mencari solusi atau jalan keluarnya. Sebagai contoh ya kemarin itu waktu ada rapat SMF umum, di mana aku mendapati mbak Onny merasa fobia karena biasanya rapat-rapat yang dia ikuti isinya ya seperti itu tadi, seperti mencari kambing hitam untuk disalah-salahkan. Mencari titik lemah (berupa pribadi) untuk semakin ditikam dan ditusuk-tusuk sehingga semakin parah kondisinya. Mungkin ada semacam kepuasan tersendiri ya dalam hal seperti itu. Entahlah. Aku pernah baca di bukunya Rick Joyner berjudul “Pencarian Terakhir”, di mana seorang tawanan yang sudah terluka dan jatuh malah akan semakin mendapat pukulan dan tusukan oleh rekan-rekan selama tawanan. Sungguh mengenaskan. Masalahnya adalah karena dalam kondisi tertawan, seseorang tidak dapat melihat dengan jelas dan bertindak hanya berdasarkan rasa sakit (hati) yang dirasakannya. Solusinya, bebaskan tawanan dan sembuhkan luka (hati)nya sehingga dia dapat melihat dengan jelas dan berhenti melakukan “pembunuhan” terhadap sesamanya lagi.

Bagaimana dengan di tempatku bekerja ini? Mungkin masih banyak orang yang dalam kondisi tertawan (hatinya). Tertawan oleh apa? Oleh dosa, kepahitan, sakit hati, dll. Semua itu membuat rasa tidak aman yang juga muncul dalam sikap sehari-hari. Rasa tidak aman  itu pun diproyeksikan ke orang lain sehingga membuat orang lain merasa tidak nyaman juga. Orang yang tidak merasa aman biasanya akan mencari “teman” untuk merasakan “nasib” yang serupa. Hal yang mengerikan seperti itu haruslah dihentikan! Bagaimana? Dengan memutus mata rantai. Sudah bukan lagi saatnya untuk mengutuk kegelapan. Sekarang saatnya untuk menyalakan lilin. Bukan lagi zamannya untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebab kerajaanMu sudah datang. Sekarang waktunya iman, pengharapan, dan kasih untuk mengalir dengan bebas. Sekarang waktunya untuk memberkati siapa pun yang menganiaya dan bukan mengutuk. Minimal lakukan dari diri sendiri. Tidak perlu menunggu orang lain untuk berubah. Perubahan atau transformasi itu terjadi melalui diri sendiri. Saat diri kita berubah, maka sekeliling kita pun akan terkena dampaknya.
Kalau aku, aku menanamkan sungguh-sungguh “blame free culture” dalam pemikiran, perasaan, dan perbuatanku sehari-hari. Aku tidak terlalu peduli dengan sikap orang lain yang masih suka mencari-cari kesalahan orang lain. Kalau sampai aku ditegur atau disalahkan, aku akan mengedepankan sikap mental yang positif. Prinsip yang telah kupelajari: lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi. Dan sikap yang aku kedepankan adalah berterima kasih untuk perhatian yang diberikan (berupa teguran yang nyata tersebut) serta kesediaan yang rendah hati untuk melakukan yang terbaik. Mari kita buktikan bahwa kebaikan dan kebenaran pasti menang melawan kejahatan dan kekejaman. Yosh! 

Senin, 24 Oktober 2011

Eksperimen Pembentukan Karakter ^^

Selama hiatus dari kegiatan tulis menulis blog ini, aku sedang melakukan percobaan terhadap diriku sendiri. Aku bereksperimen membangun kebiasaan baik untuk menggantikan kebiasaan burukku selama ini, yaitu rajin/tekun menggantikan malas. Aku mulai dengan kebiasaan bangun pagi. Aku melakukan percobaan 'bangun tidur kuterus mandi' rata-rata setiap jam lima pagi selama tiga minggu berturut-turut. Seseorang pernah  berkata bahwa untuk membangun suatu kebiasaan yang baru, paling tidak dibutuhkan tiga minggu berturut-turut dengan melakukan satu kebiasaan secara rutin dan teratur. Dan aku berhasil bangun pagi terus tanpa tertidur lagi selama tiga minggu ini. Bahkan lebih dari itu, aku bangun tidur terus langsung mandi. Efeknya sungguh luar biasa! Tidak ada lagi rasa malas atau ogah-ogahan seperti yang selama ini kurasakan setiap pagi. Dengan mandi air biasa tiap pagi itu, badan dan pikiran jadi segar. Rasanya malah jadi seperti 'kecanduan' bangun pagi untuk langsung terus mandi.

Setelah satu kebiasaan terbentuk, aku tidak berhenti sampai di situ saja. Aku perlu membangun kebiasaan baru lagi. Untuk tiga minggu ke depan, aku akan membangun kebiasaan belajar dan persiapan untuk besok sebelum tidur malam. Dimulai dengan hari ini. Kalau sebelumnya aku tidur langsung saja tidur tanpa mengevaluasi dan mempersiapkan diri untuk hari esok, mulai sekarang tidak lagi. Aku mulai mendisiplin diriku untuk menetapkan target sederhana sebelum tertidur. Contohnya hari ini. Ada lima target yang perlu kulakukan sebelum tidur, yaitu:

  1. mempersiapkan bahan untuk berbicara pada persekutuan keluarga Murakabi (hati yang gembira adalah obat)
  2. mempersiapkan bahan untuk presentasi PR di IGD
  3. belajar tentang psikosomatis
  4. belajar ATLS dan visualisasi mental untuk persiapan jaga di IGD maupun BP Wonosari
  5. berdoa syafaat
Mungkin dari kelima target tersebut, baru beberapa yang kukerjakan. Belum bisa dibilang selesai secara sempurna juga. Tapi setidaknya aku sudah melakukan langkah awal. Aku sudah membuat draft awal (cengkorongan) target nomor 1. Aku sudah membuat satu file khusus untuk target nomor 2, meskipun belum ada isinya. Aku sudah baca-baca dua bab dari buku PAPDI untuk target nomor 3. Mungkin target nomor 4 belum bisa kupenuhi mengingat waktu yang tidak banyak tersisa. Dan target nomor 5 akan segera kulaksanakan setelah tulisan ini rampung.

Syukur kepada Tuhan atas proses pendisiplinan dan pembentukan karakter yang kujalani ini. Satu demi satu buah karakter mulai terbentuk. Satu prinsip yang selalu kupegang, bersama Tuhan aku sanggup menanggung segala perkara. Dan tidak ada jerih payahku yang sia-sia selama aku senantiasa ada di dalam Tuhan. Bahkan saat aku menulis ini pun aku menyertakan juga pribadi Tuhan bersamaku. Pokoknya tidak pernah deh aku dibiarkan seorang diri. Sekali lagi aku bersyukur kepada Tuhan. Haleluya!

Jumat, 12 Agustus 2011

Sekelumit Pandanganku tentang Pendidikan

Habis jalan-jalan sama mas Cah di Togamas jalan Gejayan. Tujuan utama adalah memburu buku 'Where There Is No Doctor' sampai ketemu. Dan tidak terlalu susah juga mencarinya. Tinggal memanfaatkan komputer yang tersedia di toko, maka buku yang dicari pun segera ketemu. Yang bikin aku dan mas Cah betah berlama-lama di Togamas sampai jam tutup adalah karena kami menemukan buku-buku yang menarik perhatian masing-masing. Mas Cah segera tenggelam dalam buku-buku praktis tentang elektronik di sudut toko. Sedangkan aku? Setelah menemukan buku target, aku tertarik dengan buku-buku teks psikiatri yang terpajang. Nggak aku beli sih, cuma aku catat saja. Mungkin lain kali belinya. Mau aku baca sampai khatam sebelum masuk sekolah lagi, kalau Tuhan Yesus berkehendak. Joss!

Aku percaya ini bukanlah kebetulan. Tuhan pasti yang mengarahkanku dan menarik perhatianku untuk melirik buku-buku tentang pendidikan di Indonesia. Lihat sana, lihat sini. Baca sekilas. Aku sangat antusias dengan apa yang aku temukan. Aku catat beberapa judul buku yang sangat menarik perhatianku itu, siapa tahu nanti aku akan sempat membeli dan membacanya. Dan karena begitu bersemangatnya, aku beli satu buku kecil tipis tentang Homecshooling: Pendidikan Multikultur untuk Remaja. Cukup menarik perhatianku saat ini. Bukan hanya tertarik, melainkan juga sangat berminat. Aku sangat terkesan dengan wawasan yang dibagikan oleh tiga serangkai penulis buku tersebut.

Dari buku tersebut, aku belajar bahwa pendidikan alternatif seperti homeschooling dapat digunakan untuk mengajarkan kehidupan konkret yang multikultur kepada anak-anak dan remaja. Yang penting, dalam belajar itu (entah di sekolah konvensional maupun di sekolah alternatif), anak tidak merasa terpaksa. Sebaliknya, anak belajar atas kemauannya sendiri. Tugas orang tua dan pendidik bukanlah sebagai guru yang mahatahu melainkan sebagai fasilitator saja. Sistem belajar yang pasif dan hanya sebagai penerima input satu arah seperti yang selama ini terjadi di sekolah-sekolah pada umumnya (entah sekolah sekarang seperti apa, tapi waktu aku sekolah dulu aku merasa seperti itu) ternyata merupakan suatu bentuk dehumanisasi. Tidak memanusiakan manusia. Yang ideal adalah sistem pembelajaran yang dialogis, di mana anak atau remaja dapat aktif mengemukakan pendapatnya dan membagikan wawasan serta pengalamannya.

Mungkin apa yang aku tuliskan di atas cuma dipandang sebagai teori yang sulit untuk diaplikasikan secara nyata sekarang ini. Tapi aku pikir lebih baik menyuarakan isi hati dan pikiran terlebih dahulu (meskipun kemudian dicap tukang gombal kebanyakan teori) daripada stres memendam banyak hal. Dengan demikian, aku bisa lega dan puas karena telah menyalurkan hasrat hati. Semoga apa yang kutulis ini dapat berguna dan membangkitkan minat anda yang membaca untuk berani berpikir lebih dalam lagi. Amin!

Jumat, 05 Agustus 2011

Sekelumit tentang Persekutuan... ^^

Hari ini sungguh terasa kurang bergairah jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Padahal pagi-pagi sudah kumulai dengan berdoa dan membaca renungan harian bersama Mas Cah. Apa mungkin karena aku bangun agak kesiangan ya? Semalam nonton bareng PA dewasa muda sampai lumayan lama. Terus pulang nonton, aku dan mas Cah masih mampir dolan ngobrol-ngobrol di rumah mas Markus dan mbak Betty. Nggak terlalu banyak yang berkesan dari film yang aku tonton semalam. Aku lebih menikmati kebersamaan dengan mas Cah dan teman-teman persekutuan. Baik itu dewasa muda, keluarga muda "Murakabi", maupun keluarga muda "PA Daniel-yang-sebentar-lagi-akan-diganti-namanya.

Bicara tentang persekutuan, aku sungguh bersyukur pada Tuhan. Kalau ingat masa-masa remaja awal dulu sampai sekarang, aku sungguh sangat bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan padaku. Dulu waktu awal-awal SMP, aku begitu minder karena aku merasa tidak punya komunitas. Komunitas rohani alias persekutuan di mana aku bisa eksis sambil dekat dengan Tuhan. Aku begitu iri pada teman-teman sebayaku yang selalu bercerita tentang kegiatan-kegiatan mereka di persekutuan gereja masing-masing. Aku sama sekali buta dan tidak tahu menahu bahwa ternyata persekutuan remaja dan pemuda di gereja itu ada. Aku cuma tahu gereja itu ya kebaktian tiap Minggu dan sekolah minggu. Titik. Dan ketika aku mulai terlibat dalam persekutuan siswa di sekolah, aku semakin merasa minder dan tidak PD karena pengalamanku dalam organisasi dan persekutuan ternyata sangatlah kurang.

Pengalaman minder waktu SMP pun berimbas sampai SMA. Aku berusaha menutupi kekuranganku dengan berusaha tampil serohani mungkin. Akibatnya, aku jadi kaku dan sangat-sangat tidak luwes dalam pergaulan sehari-hari Aku menganggap diriku yang paling kudus dan rohani. Standarku begitu tinggi dan idealis. Tanpa sadar mungkin aku telah menjadi seorang legalis. Aku sering menghakimi teman-temanku yang kuran rohani menurut pandanganku. Akibatnya lagi, suasana persekutuan pun menjadi tidak nyaman. Sungguh masa-masa yang memprihatinkan.

Bersyukur kepada Tuhan, menjelang lulus SMA dan masuk kuliah, aku diizinkan mencicipi kehidupan persekutuan rohani seperti yang ada dalam bayanganku. Sangat menyenangkan dan membuatku semakin bangga akan diriku sendiri. Mungkin karena saking sombongnya aku, Tuhan pun mengizinkan aku mengalami kegoncangan jiwa. Hubungan dengan teman-teman persekutuan yang kurang kuat pun hancur karena aku tidak membangun dengan dasar kasih. Pondasiku masih rapuh. Singkat kata, aku kembali lagi ke titik nol di mana aku hidup tanpa ada kegiatan persekutuan.

Seiring berjalannya waktu, aku belajar banyak hal. Aku belajar bahwa persekutuan dalam Tuhan yang sejati itu bukan melulu hanya terletak pada acara yang meriah saja. Persekutuan itu bukan terletak pada acara menyanyi bersama dan berbagai macam ritual keagamaan. Persekutuan itu pada hakikatnya adalah hubungan yang terjalin antara saudara-saudara seiman dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita saat di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di kampung, di mana saja. Dalam hal-hal yang disebut oleh masyarakat umum sebagai hal sekuler (bukan rohani) itulah letak kesejatian dari persekutuan. Saat sedang ngobrol-ngobrol santai, saat sedang bekerja setiap hari, di situlah persekutuan yang erat dapat terjadi. Dan waktu-waktu yang disebut sebagi jam persekutuan yang meliputi pujian, penyembahan, doa, dan firman Tuhan akan menjadi perayaan yang bermakna atas persekutuan sejati yang telah terjadi dan terbangun sedikit demi sedikit.

Melihat apa yang Tuhan izinkan terjadi pada masa lalu dan apa yang Tuhan berikan pada masa sekarang membuatku semakin bersyukur dan bersyukur. Aku tidak lagi terobsesi dengan yang namanya persekutuan atau komunitas rohani. Aku juga tidak antipati terhadap persekutuan yang ada. Sebaliknya, aku berketetapan hati untuk menjadi berkat di mana pun Tuhan telah menempatkan aku untuk bersekutu. Bersama dengan mas Cah, aku sekarang menikmati hidup persekutuan dengan penuh sukacita. Sekali lagi, syukur kepada Tuhan atas hidup persekutuan yang telah memperlengkapi dan memperkaya batinku sehingga aku dapat bertahan dan menang dalam hidup di dunia ini. Haleluya!!!

Rabu, 03 Agustus 2011

Sore Bersama Meryl dan Harry Potter

Saat ini aku sedang duduk di depan lapto kecil milik ibu di Pelem Kecut. Tidak terlalu capek. Rasanya ingin sekali menulis lagi di sini sekedar untuk berbagi. Berbagi apa saja. Mumpung mas Cah lagi sibuk kerja juga di BI (Bank Indonesia) sampai agak malam. Bukan, mas Cah bukan alih profesi menjadi bankir... mas Cah tetap tekun dan setia pada pekerjaannya yaitu sebagai ahli listrik panggilan... lebih kerennya: konsultan elektronik freelance ^^ . Jadi begitulah... hari ini sungguh berkesan dan membuat hati puas. Setelah selesai menunaikan tugas dan kewajiban di IGD (maaf Tuhan, aku masih belum menghayati pekerjaanku sebagai panggilan yang penuh sukacita), aku ditraktir Meryl nonton film Harry Potter 7.2 di Empire XXI. Bersama-sama dengan Pak Wahyu, Bu Cicik, dan kedua anaknya. Datangnya terlambat beberapa menit karena Pak Wahyu kebingungan cari tempat parkir. Maklum, parkir penuh. Puji Tuhan, syukurlah, kami tidak terlalu lama terlambatnya. Nonton film pun dapat berjalan dengan lancar.

Pulang dari nonton film, sebenarnya aku mau mengikuti saran mas Cah yaitu nebeng Meryl pulang ke Pelem Kecut. Biar nanti nunggu mas Cah njemput di Pelem Kecut. Ternyata Meryl pun tidak dijemput. Karena kami sama-sama mau naik bus, Bu Cicik dan Pak Wahyu bersikeras mengantarkan kami pulang sampai rumah. Karena aku kurang bisa berbasa-basi, maka aku pun mengikuti ajakan Pak Wahyu dan Bu Cicik. Maka, jadilah hari ini aku dan Meryl seperti anak-anak Pak Wahyu dan Bu Cicik. Hehe... Karena masih terpengaruh oleh film yang baru saja aku tonton, maksudnya masih terbengong-bengong sedikit, aku tidak bisa mengobrol sampai puas sama Meryl, Pak Wahyu dan Bu Cicik. Maksud hati pingin membagikan apa yang aku dapatkan dari film Harry Potter, seperti hikmah apa saja yang bisa dipetik, eh... aku sama Meryl malah asyik mengagumi pemeran anaknya Harry Potter yang imut banget. Mungkin lain kali kami bisa mendiskusikan hal-hal berharga tentang cerita Harry Potter dengan lebih leluasa. Semoga.

Sore ini senang sekali bisa menemani Meryl nonton bareng. Sayang sekali mas Cah, Yudith, Mbak Ony, Yohan nggak bisa ikut. Maka, sebagai gantinya, Meryl mengajak Pak Wahyu, Bu Cicik, dan kedua anaknya untuk nonton bareng. Bulan ini bulan terakhir Meryl bertugas jaga di Bethesda. Makanya, saat-saat farewell harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sudah hampir setahun Meryl magang di Bethesda Yogyakarta. Dan nonton bareng film Harry Potter 7.2 ini merupakan 'farewell party' ronde pertama Meryl. Besok-besok masih ada lagi acara-acara yanbg bakalan digelar. Kita tunggu saja! O iya... Meryl tadi secara sambil lalu mengajak aku jalan-jalan ke jalan Gejayan besok sore sesudah kerja. Katanya sih lagi suntuk di rumah sendirian. Maklum, orang tua Meryl sudah ada di Medan. Sebentar lagi Meryl juga akan menyusul ke Medan. Semoga kalau Tuhan mengizinkan, aku besok bisa nemenin lagi Meryl jalan-jalan. Kalau nggak terlalu capek dan kalau nggak ada sesuatu yang lebih mendesak. Penting ini. Mumpung besok mas Cah rencananya mau ke Solo dari jam 11 sampai jam 5 sore, mau layat ibunya Pak Bagus. Siapakah Pak Bagus? Lain kali mungkin aku akan ceritakan di sini. Kalau ingat... hehe... ^^

Rabu, 27 Juli 2011

Uneg-uneg Malam Ini, Agak Capek, Kangen... ^^

Sepertinya aku mulai agak lelah. Lelah fisik dan lelah nonfisik. Secara fisik jelas lelah karena jadwal kerja yang sibuk dan padat, bahkan nyaris tanpa libur. Setiap hari harus datang jam 7 sampai jam 2 siang. Belum lagi kalau dijadwal jaga siang atau malam. Terus masih ada jadwal jaga di Wonosari yang tidak tentu harinya. Secara nonfisik lelah karena jadwal yang padat itu membuatku menjadi tidak sempat beribadah di gereja dengan leluasa. Bahkan, kemarin aku terpaksa mangkir dari KTB (kelompok tumbuh bersama) dokter-dokter junior. Terus, PA keluarga muda dan PD daniel yang harus kukorbankan karena ada alasan yang lebih urgent, yaitu kerja. Dan besok Sabtu, yang sedianya akan ada acara Ibadah Raya yang seru dan menyegarkan sepertinya harus pula kukorbankan karena aku harus latihan mengiringi paduan suara Sangkakala. Warning sign mulai menyala berkedip-kedip nih di dalam hati, dalam rohku, yang tidak kasat mata ini. Kalau begini terus, aku bisa ambruk lagi nih. Harus bagaimana ya?

Aku tidak mengeluh. Tidak. Dan tidak akan pernah lagi. Karena kalau terus menerus mengeluh, aku malah semakin lemah dan tidak berdaya guna. Daripada mengeluh, lebih baik mulai memuji Tuhan dan menghitung-hitung lagi berkat-berkatNya. Misalnya, aku setiap hari ketemu dengan teman-teman seperjuangan yang luar biasa. Bersama mereka, aku bisa enjoy, santai, dan bersemangat dalam bekerja. Semacam anestesi jiwa. Pekerjaan yang berat dan membosankan dan rawan mematahkan semangat karena penuh tekanan dan beban menjadi mengasyikkan dan bermakna. Thanks to Yohan yang selalu antusias dan semangat dalam bercerita apa saja. Heran, dari mana sih semangatnya yang tidak pernah habis itu? Thanks to Meryl yang baik dan tulus dalam setiap ucapan dan perbuatannya. Sungguh berharga memiliki teman seperti Meryl. Thanks to Yudith yang selalu ada saja kelucuan-kelucuan tak terduga. Selalu menghibur dan menolong di saat yang kritis. Overall, thanks to Jesus Christ yang selalu ada di mana pun aku berada.

Mengingat hal-hal positif dan baik itu sangat membangkitkan semangatku. Mengalihkan perhatianku dari hal-hal negatif yang memadamkan semangat. Aku perlu selalu diingatkan akan hal ini karena aku sangat sering lupa. Apalagi sekarang saat mas Cah pergi mengurus ini itu buat pindahan. Aku ditinggal di rumah Pelem Kecut dengan pertimbangan supaya tidak terlalu capek fisikku karena nanti malam aku jaga lagi di IGD. Tapi jujur aku kangen sekarang sama mas Cah, pingin doa bareng. Pingin ngobrol meskipun ngalor ngidul nggak karuan. Ditinggal mas Cah begini merupakan kesempatan yang baik untuk mendekatkan diri lebih lagi sama Tuhan Yesus. Aku masih punya waktu sekitar satu jam untuk masuk kamar, berdiam diri sejenak, dan mulai menyembah Tuhan secara pribadi. Aku bisa mulai sekarang. Ok deh... Let's go!!! Here I am, Lord... ^^ I am ready to go...

Senin, 25 Juli 2011

Habis Nonton The King's Speech, Ini Dia Oleh-olehnya... ^^

The-Kings-Speech_featuredHabis nonton film The King's Speech. Minjem di rentalan. Lebih tepatnya: dipinjemkan Mas Cah. Makasih, mas Cah ^^... Karena suasana menonton yang kurang kondusif, di mana fisik yang terlalu lelah sehingga terkantuk-kantuk dan kurang konsentrasi, serta orang-orang satu rumah yang ternyata tidak ada yang kepingin nonton film ini, maka dengan sedih hati aku kurang bisa menghayati film ini dengan baik. Padahal katanya film ini baguuuus sekali. Ya, menurutku juga bagus sekali. Ceritanya sederhana dan menarik. Tentang Duke of York, yang kemudian menjadi King George VI, yang memiliki keterbatasan dalam berbicara di depan umum. Gagap, itulah masalah beliau. Zaman segitu belum ada siaran televisi global, dan sepertinya siaran televisi nasional pun belum ada. Yang ada baru siaran radio. Alkisah, Duke of York diharuskan membacakan pidato di depan publik. Namun sayang, gagapnya itu membuatnya tidak mampu berkata-kata. Sehingga, sang istri dengan tekun dan sabar membantu mencarikan solusinya. Setelah cari sana cari sini, ketemulah seorang ahli terapi wicara yang nyentrik. Metodenya lain dari yang lain. Untuk mengetahui bagaimana cara sang terapis memberikan terapi untuk sang pangeran gagap, silakan menonton sendiri filmnya. Singkat cerita, sang pangeran yang sebenarnya bukan putra mahkota ini, harus menggantikan sang kakak naik tahta karena sang kakak ternyata lebih memilih menikah dengan janda cerai. Mohon dimaklumi, raja Inggris juga adalah kepala gereka Anglikan, sehingga sangatlah wajar jika sang kakak yang adalah raja harus mengundurkan diri sebab tidak sesuai dengan aturan gereja. Maka, jadilah sang pangeran gagap ini naik tahta menjadi King George VI. Adegan klimaks film ini adalah ketika sang raja yang sudah tidak gagap (thanks to sang terapis) harus memberikan pernyataan perang melalui radio di seluruh negeri. (Waktu itu adalah menjelang perang dunia kedua). Dan adegan klimaks inilah yang sepertinya disebut sebagai The King's Speech itu. Untuk lebih jelasnya silakan menonton sendiri filmnya. Maaf, saya tidak pandai bercerita.

Ada beberapa hal menarik yang cukup berkesan dari film ini. Saya menonton film ini karena ingin berefleksi diri, sehingga mungkin apa yang saya dapatkan ini cuma cocok untuk diri saya sendiri. Mohon maaf bagi yang bingung dan bosan. Yang pertama, adalah tentang kegagapan. Saya merasa diri saya senasib dengan Duke of York atau King George VI. Meskipun secara literal saya tidak gagap dalam bicara, saya merasa diri saya gagap dalam berkomunikasi. Kurang luwes, begitu. Dan sama seperti Duke of York membutuhkan ahli terapi wicara, demikian juga saya membutuhkan tidak hanya satu ahli terapi berkomunikasi. Dalam hal ini, yang lebih utama adalah komunikasi nonverbal. Saya pernah ditegur tentang bahasa tubuh saya yang kurang ekspresif. Syok dan agak down juga mendengarnya. Tapi sekarang saya sudah merasa jauh lebih mendingan. Saya masih terus berusaha dan belajar untuk meluweskan bahasa tubuh saya karena bagaimana pun juga bahasa tubuh saya berbicara lebih keras daripada bahasa verbal.

Kedua, tentang sang terapis. Saya sangat terkesan dengan apa yang dilakukan oleh sang terapis. Meskipun bukan dokter ahli jiwa yang sungguhan, sang terapis ini melakukan tugasnya dengan amat baik. Bahkan jauh lebih baik daripada ahli terapi yang resmi. Yang mendorongnya untuk menolong orang lain adalah hatinya yang dipenuhi passion. Pengalaman dalam perang dunia pertamalah yang membuatnya mampu untuk menolong orang-orang yang kesulitan berbicara akibat trauma masa lalu. Dan mungkin bukan kebetulan saya menonton film ini, karena saya pun punya passion juga untuk bisa menjadi seorang ahli terapi jiwa... yah, mirip-miriplah dengan terapi wicara yang ada di film ini. Saya berangan-angan untuk bisa membantu orang-orang yang mengalami guncangan jiwa itu bukan melulu menggunakan obat-obatan kimia ataupun terapi kejang listrik seperti yang dilakukan oleh ahli-ahli jiwa secara konvensional. Saya lebih ingin mengembangkan terapi dalam bentuk "ngobrol". Saya ingin para pasien nanti bisa mencurahkan isi hatinya dengan sebebas-bebasnya tanpa perlu takut dianalisa begini begitu, tanpa perlu takut akan diberi obat-obat penenang yang melumpuhkan kreativitas mereka. Karena menurut saya, obat-obat dan terapi yang ada itu hanya mengatasi gejala fisiknya saja sedangkan masalah sebenarnya, yaitu masalah jiwa dan rohani, masih belum terselesaikan. Mecontoh tokoh sang terapis di film The King's Speech, saya akan mengembangkan sikap hati yang penuh passion dan compassion dalam membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan saya. Biarlah pengetahuan dan pengalaman saya dapat menjadi alat yang tepat untuk membantu mereka menemukan jalan keluar dari masalah yang membelenggu mereka.

Ketiga, saya sangat terkesan dengan persahabatan antara King George VI dengan sang terapis. Yang namanya persahabatan, pastilah indah (jika Tuhan Yesus beserta). Dan dalam film ini, sungguh tampak begitu indahnya persahabatan yang terjalin. Ada canda, tawa, humor-humor segar, dan ada juga kesal dan marah-marah. Hubungan yang tanpa ada tendensi macam-macam, hanya mengharapkan yang terbaik bagi yang lain. Persahabatan seperti inilah yang patut dicontoh. Meskipun Duke of York sudah menjadi King George VI, sikapnya tidak berubah terhadaap sang terapis. Tetap menghormati dan tahu berterima kasih. Sang terapis pun tidak memanfaatkan hubungan persahabatnnya dengan raja untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Baru tiga hal itulah yang bisa saya bagikan di sini. Tidak rugi saya menonton film ini. Apalagi gambar dan suaranya pun sangat-sangat cantik. Back sound piano klasik yang lembut dan sederhana mengalun mengiringi jalannya cerita, membuat suasana menjadi tambah syahdu. Memang film ini tidak berhiaskan gebyar-gebyar special effect ala film-film hollywood kebanyakan. Tetapi bagi saya, film ini sungguh punya nilai lebih. Mungkin saya akan menonton lagi film ini lain waktu. Dan saya akan menggali lebih lagi tentang latar belakang cerita film ini. Sehingga, ke depannya saya dapat mengambil pelajaran berharga lebih banyak sehingga saya dapat berbagi lebih banyak pula.

Sabtu, 23 Juli 2011

We Are Different, but We Are One... ^^

Capek dan agak pusing dikit. Itu yang aku rasakan saat ini. Seharian ini dan kemarin aku lumayan sibuk. Sibuk yang produktif. Sibuk di IGD dan sibuk di jalan bersama mas Cah. Untuk kesibukan di IGD sepertinya lain kali saja ya aku ceritakan. Sekarang aku mau sedikit berbagi tentang kesibukanku kemarin bersama mas Cah. Are you ready? Here we go!!! ^^

Biar aku ingat-ingat dulu. Kemarin aku ngapain aja ya...? Hmmm... Ok, kemarin sehabis sibuk di IGD, aku pulang ke rumah Pelem Kecut dijemput mas Cah. Sorenya, aku dan mas Cah jalan-jalan. Tujuan pertama adalah Toko Buku TogaMas di jalan Gejayan. Target operasi adalah mencari majalah Ethical Digest, majalah semijurnal farmasi dan kedokteran. Aku lagi pingin baca-baca sekaligus mengkoleksi majalah tersebut karena sepertinya menarik juga dan aku rasa perlu untuk memperluas pengetahuanku sebagai klinisi. Sayang sekali, setelah putar sana putar sini (dan menahan godaan nafsu membeli buku-buku nontarget ^^) di Togamas, aku tidak menemukan satu pun edisi Ethical Digest. Mas Cah juga sepertinya kurang sabar menungguku yang terpesona oleh buku-buku yang terpajang menggoda iman. Maka dari itu, dengan berat hati, kutahan hasrat hatiku untuk membeli satu dua buku yang menarik... bye bye novel Andrea Hirata yang baru... hiks...

Perjalanan berlanjut. Mas Cah mengajakku ke Amplaz. Tujuannya adalah untuk melihat-lihat harga mebel yang ditawarkan di Carrefour. Sekalian mampir di Gramedia, kalau-kalau ada dijual di sana apa yang kucari itu. Capek juga ngikuti mas Cah, dan agak bosan pula. Mas Cah begitu asyik melihat, memilih, menimbang, memutuskan, dan me- me- yang lainnya. Seperti mas Cah ketika ada di toko buku, demikianlah aku kalau ada di toko-toko mebel, elektronik, dan alat-alat rumah tangga. Bosan... Bosan... Bosan... untunglah, ada beberapa hiburan kecil seperti gambar bergerak, alias film gratisan, yang diputar di TV-TV yang dijual di bagian penjualan TV.

Akhirnya, 'penyiksaan' pun berakhir. Kami ke Toko Buku Gramedia. Dengan perhatian tetap fokus, aku mencari apa yang menjadi target semula. Godaan untuk menjamah dan membeli buku-buku menarik semakin besar saja. Tapi, dengan gagah berani kutangkis semua itu. Dan dengan sedih pula harus kuterima nasib, targetku tidak berhasil kutemukan. Setelah beli dan minum Milo dingin seharga satu CD obralan di Pondok Pujian, kami pun pulang. Sempat mampir di rumah kontrakan di Muja Muju. Tapi rasanya kurang puas. Rasanya capek sekali. Mungkin karena tidak berhasil mendapatkan apa yang kuinginkan.

Sia-siakah semuanya? O rupanya tidak begitu, saudara-saudara. Meskipun aku tidak berhasil mendapatkan barang yang kucari, aku tetap menemukan mutiara yang indah. Dari pengalaman jalan-jalan yang melelahkan tubuh kemarin, aku memperoleh pengalaman dan pembelajaran yang berharga. Aku mulai mengenal lebih lagi akan diriku dan mas Cah. Aku kembali diingatkan bahwa kami memang berbeda. Kalau mas Cah suka barang-barang yang berwujud nyata dan fungsinya jelas kelihatan saat itu juga, aku lebih suka hal-hal yang bersifat rohani dan jiwani. Misalnya, mas Cah suka barang-barang elektronik dan perkakas-perkakas yang praktis sedangkan aku suka merenungkan hal-hal idealis yang tidak kasat mata seperti konsep pendidikan yang ideal, karakter pribadi yang kuat, hubungan yang harmonis dengan Tuhan-manusia-lingkungan, dsb. Mas Cah suka sesuatu yang dapat dirasakan dampaknya saat itu juga sedangkan aku lebih suka menanam sesuatu yang masih berupa konsep abstrak untuk kemudian dituai dalam waktu yang tidak bisa ditentukan di masa yang akan datang. Mas Cah suka hal-hal jasmaniah/material sedangkan aku suka hal-hal rohaniah/spiritual. Pendeknya, inilah bedanya aku dan mas Cah.

Apakah ini merupakan awal dari suatu tragedi atau perpecahan? Tidak. Sama sekali tidak. Aku memandang hal ini sebagai konsep saling melengkapi. Mas Cah yang begini dan aku yang begitu. Tanpa mas Cah, aku tidak bisa apa-apa. Dan tanpa aku, mas Cah pun bukan apa-apa. Kami saling mengisi. Kelebihan kami menutupi kekurangan masing-masing. Biarlah mas Cah asyik dengan kesenangannya terhadap barang-barang elektronik sementara aku asyik dengan bacaan-bacaan yang menguatkan spiritual dan memperkaya batiniahku. Aku percaya, ke depannya kami dapat menjadi team work yang solid. Semuanya karena kami selalu melibatkan pribadi Tuhan dalam setiap keseharian hidup kami. Oleh karena itu, dalam rasa lelah dan capek ini aku mau kembali bersyukur telah diingatkan dan disadarkan akan hal penting ini. Kami memang berbeda, tetapi Tuhanlah yang menyatukan kami. Haleluya. ^^

Rabu, 20 Juli 2011

Senangnya Hari Ini ^^

Hari ini sungguh luar biasa.
Rasanya sungguh senang dan bersemangat.
Inikah yang dinamakan sukacita?
Inikah yang dinamakan penuh dengan Roh?
Sungguh tidak terlukiskan dengan kata-kata.
Tapi cukup terkendali,
tidak sampai meledak dan membeber ke mana-mana.
Inikah yang dinamakan dengan penguasaan diri?
Hmmm... puji Tuhan!!!
Apa ya rahasianya?
Apakah karena aku dan mas Cah selalu membangun hubungan intim dengan Tuhan setiap pagi dengan berdoa dan saat teduh bareng?
Ataukah karena aku sedang berada dalam tangan kasih Tuhan?
Yang mana pun itu, aku mau bersyukur senantiasa.
Syukur pada Tuhan atas berkat dan anugerahNya yang sungguh teramat sangat luar biasa.
Dahsyat!!!

Sabtu, 16 Juli 2011

God is Good, Rumah Kontrakan Muja Muju ^^

Puji Tuhan! Setelah beberapa waktu lamanya aku dan mas Cah menanti, mencari, dan meminta dalam doa, akhirnya kami mendapat juga jawabannya. Apakah itu? Tidak lain tidak bukan adalah rumah kontrakan. Ya, rumah kontrakan! Lokasinya di daerah Muja Muju. Kesan awal yang kami tangkap adalah: nyaman dan menyenangkan. Yang mengontrakkan pun ramah. Suasana rumah begitu bersih. Kecil, mungil, cuma satu kamar tidur, berlantai teraso yang digosok licin, cat dinding masih bagus, dan tampak terawat dengan baik. Maka, tanpa banyak ba bi bu, aku pun mengiyakan ajakan mas Cah untuk mengambil rumah ini sebagai tempat tinggal sementara pertama kami.

Malam ini, sepulang dari njagong mas Hansen dan mbak Novi di Graha Sarina Vidhi, aku dan mas Cah mengunjungi lagi Pak Suyarto (pemilik kontrakan) untuk memberikan uang muka dan beramah tamah. Meskipun sederhana dan tanpa suguhan (hehe), aku sangat menikmati suasana percakapan antara mas Cah dan Pak Suyarto yang sangat cair. Mas Cah memang sangat supel dan luwes dalam pergaulan. Didikan dan bentukan keluarga Solo memang luar biasa! Nggak salah aku memilih dan dipilih mas Cah untuk jadi pendampingnya ^^. Tanpa rasa curiga, tanpa embel-embel nggak penting, dan tanpa bertele-tele, Pak Suyarto pun menyerahkan kunci rumah kontrakannya kepada mas Cah setelah mas Cah menyerahkan uang muka yang dibawanya. Dengan demikian, kami bisa leluasa mengatur dan mengisi rumah kontrakan kapan saja. Bahkan, kami sudah boleh tidur atau menginap di sana. Katanya, para tetangga sekitar pun sudah diberi tahu akan keberadaan kami sebagai calon tetangga mereka. Praktis, kami akan mulai tinggal di Muja Muju secara resmi per tanggal 1 Agustus 2011 mendatang. Dalam waktu 2 minggu ini kami punya waktu yang cukup untuk angkut-angkut dan menata rumah Muja Muju. How amazing!

Sepulang di rumah Pelem Kecut, aku mulai menginventarisir apa-apa saja yang kami perlukan untuk mengisi rumah Muja Muju. Mas Cah pun membantu meskipun mulai terkantuk-kantuk. Senangnya... rasanya begitu puas bisa melakukan sesuatu yang berguna. Meskipun cuma mengetik sedikit, aku setidaknya cukup menunjukkan action dalam rangka membangun hubungan kerja sama yang efektif dengan mas Cah, semahku. Tugasku ke depan adalah mengatur waktu luangku untuk bekerja sama dengan mas Cah mengurus angkut-angkut barang pindahan ke rumah Muja Muju. Sungguh menyengangkan!

Pelajaran berharga hari ini yang kudapatkan: Tuhan itu baik. Segala sesuatu yang berjalan lancar dan nampak sempurna sering kali membuat kita tidak menyadari bahwa Tuhan senantiasa bekerja di balik itu semua. Contohnya ya proses menemukan rumah kontrakan Muja Muju ini. Aku dan mas Cah sudah mencari dan mencari, berdoa dan berdoa, sejak sebelum menikah sampai saat ini. Dan jika kami akhirnya mendapatkan apa yang kami perlukan sekaligus yang kami inginkan, itu semuanya karena campur tangan Tuhan yang kami sembah dan kami puja. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau penghargaan terbesar aku persembahkan kepada Tuhan Yesus, yang telah mendengar dan menjawab doa kami dengan cara yang luar biasa meskipun tampaknya biasa-biasa saja. Dan tidak lupa, thanks to mas Cah yang telah all out, sepenuh hati, mengerjakan bagiannya dengan tekun dan setia. Sekali lagi, terima kasih Tuhan, terima kasih mas Cah. Aku baru bisa membalas kebaikan kalian dengan menuliskan sedikit penghargaan dan kesanku di blog ini. Kiranya aku dapat membalas semua kebaikan itu. Haleluya!!!

Jumat, 15 Juli 2011

Dua Hal Berkesan Hari Ini... ^^

Malam pun tiba. Seharian ini aku mendapat banyak hal mengesankan. Hatiku sangat sangat terinspirasi oleh banyak hal. Dua hal saja yang ingin kubagikan di sini. Yang pertama adalah satu poin yang kucatat baik-baik dari Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di RS Bethesda Yogyakarta. Poin tersebut adalah "Blame-free culture". Disampaikan dengan sangat apik dan menarik oleh Pak Heri Widiarso, SKep, Ns, MNur dalam materi Patient Safety. Maksud dari poin tersebut adalah sebagai berikut: sekarang bukan lagi waktunya untuk mencari siapa yang salah manakala terjadi suatu temuan dalam patient safety, melainkan mencari di bagian mana yang tidak sesuai. Jadi, jika ada laporan masuk mengenai kejadian tidak diharapkan, misalnya pasien jatuh dari bed, maka tidak lagi dicari-cari siapa yang salah (untuk dihakimi) tetapi dicari mengapa bisa terjadi demikian. Dalam hal ini, sistemnyalah yang dinilai, mengapa bisa sampai terjadi, di bagian mana dalam sistem itu yang memungkinkan kejadian-kejadian tidak diharapkan terjadi. Ke depannya, sistem yang kurang sempurna itu dapat diperbaiki sehingga masalah pun terselesaikan tanpa harus membunuh karakter dan semangat pribadi-pribadi yang melakukan kesalahan. Karena bagaimana pun juga, manusia pembelajar yang sejati adalah mereka yang mau belajar dari kesalahannya.

Hal kedua yang mau aku bagikan adalah kesan yang aku dapatkan setelah mengikuti Seminar Kompos di Gloria Graha. Seminar Kompos yang diselenggarakan oleh Kingdom of God ini begitu menarik perhatianku dan mas Cah sehingga kami pun berbulat hati untuk menghadirinya. Meskipun mas Cah ngantuk2, aku sangat antusias dan terinspirasi dengan materi yang disampaikan oleh kedua pembicara. Pembicara pertama menyampaikan dari sisi teologisnya, sedangkan pembicara kedua menyampaikan dari sisi teknologinya. Yang membuatku terkesan adalah pembicara kedua yang begitu down to earth, membumi, dan menyampaikan apa yang sudah dijalaninya selama ini sebagai petani. Selain itu, beliau sangat memancarkan spirit yang luar biasa. Dalam kesederhanaannya, terpancar suatu ketulusan, harapan, semangat, optimisme, dan visi yang kuat untuk kemuliaan Tuhan. Sungguh luar biasa! Aku jadi terinspirasi dan tersemangati untuk menggeluti pekerjaanku sekali lagi dengan semangat yang baru. Ternyata apabila kita bekerja dengan filosofi yang benar dan dengan hati, maka hal itu akan terpancar dan dapat dirasakan juga dampaknya oleh orang lain. Tujuan utama bukan mencari uang sebanyak-banyaknya melainkan bagaimana memuliakan Tuhan dalam pekerjaan dan menjadi berkat bagi sesama dan lingkungan sekitar. ^^

Itulah dua hal yang kuperoleh setelah aku merenungresapi kebaikan Tuhan hari ini. Sungguh Tuhan itu amat sangat baik. Tidak rugi aku mengikuti pelatihan dan tidak salah pilih acara aku memilih Seminar Kompos. Sekali lagi, thank God... ^^

Sejenak Duduk di Perpus

Duduk duduk di perpus Bethesda siang hari, sembari menunggu waktu jumatan. Hari ketiga pelatihan pengendalian infeksi. Cukup menyenangkan dan memberi kesegaran bagi tubuh dan jiwa. Banyak tersedia makanan enak dan mengenyangkan. Banyak hiburan. Banyak tambahan pengetahuan. Dan yang paling penting, gratis! Lima belas menit lagi acara kuliah akan dimulai lagi. Oleh karena itu, aku hanya akan menuliskan sedikit saja di sini.

Perpus. Aku suka perpus. Banyak buku berjejer rapi di rak dan lemari, menunggu untuk dibaca. Bukan aku yang memilih buku, melainkan buku itulah yang memilihku untuk membacanya. Begitu kata-kata dalam sebuah film inspirasional. Dan saat aku duduk-duduk ndomblong begini, aku melayangkan pandanganku ke sekeliling, dari manakah datang panggilanku... ^^ Judul-judul menarik mulai melambai-lambai di depan mataku... ada yang tentang sejarah, kesenian, agama, pastoral, kerohanian... yang manakah yang akan kubaca nantinya, aku belum tahu... kapan dan di mana juga, masih misteri saat ini... Tapi nanti pastilah ada waktu untuk membaca semua mua yang ada...

Sepuluh menit lagi... saatnya untuk pergi... sampai ketemu lagi, perpusku sayang... hehe... ^^

Selasa, 28 Juni 2011

menjelang siraman

Detik-detik menjelang acara siraman. Belum mandi. Belum siap-siap. Sedang asyik membaca-baca tulisan di blog (blogwalking), di FB, di buku. Sekedar untuk membuat sibuk isi kepala supaya jangan kosong melompong. Belum pula berdoa menenangkan diri, mengambil sikap-waktu-tempat khusus. Padahal sebentar lagi bakalan sibuk, menjadi pusat perhatian. Setelah menuliskan tulisan ini aku berjanji untuk segera mandi dan siap-siap. O iya, ada satu tugas lagi. Aku harus menuliskan tulisan buat Yoyo. Ok deh... sampai di sini dulu ya... ^^

Minggu, 26 Juni 2011

Kegelisahan dalam Obrolan

kegelisahan...
kembali terasa...
dalam hatiku...

Apa yang kamu inginkan?

Yang kuinginkan adalah mengerjakan apa yang sungguh-sungguh kusukai. Kalau toh itu tidak terwujud, maka setidaknya aku bisa menyukai apa yang kukerjakan sekarang. Mustahilkan, Bapa?

Sudahkah?

Belum. Belum terasa... atau aku yang belum menyadarinya. Mungkin aku masih terpaku pada masa lalu dan masa depan, Bapa... penyesalan-penyesalan masa lalu dan ketakutan-ketakutan terhadap masa depan...

Apa yang kamu cari?

Aku sedang mencari kepenuhan hidup seperti yang Engkau pernah katakan berulang kali... hidup yang bebas dan belenggu kekuatiran... hidup yang bebas dari cengkeraman kesia-siaan... Kekuatiran dan kesia-siaan boleh saja masih merongrong/menerorku, Bapa, tapi setidaknya mereka tidak lagi menduduki singgasana hatiku... Perjuangan terus-menerus melawan intimidasi mereka mungkin tidak akan pernah berakhir.

Apa yang kamu kuatirkan?

Aku kuatir... kalau aku kalah... kalau aku berakhir tragis... kalau aku kehilangan harapan... kehilangan pijakan... kehilanga semangat... sekali lagi...

Apa yang membuatmu gelisah saat ini?

Banyak, Bapa... dari dalam diriku: aku masih menyimpan sifat minder, mental kuli pemalas... kecenderungan untuk cuci tangan dan ambil enaknya sendiri... keengganan uuntuk belajar apa-apa saja yang perlu kupelajari. Dari luar diriku: lingkungan kerja yang kurang nyaman, yang masih membuatku jaim, belum bisa menjadi diriku yang sebenarnya... harapan-harapan orang lain yang nampaknya baik tapi rasanya membelengguku... menghambat kreativitas dan ekspresi jiwaku yang lain dari yang lain, tidak dapat disamaratakan...

Apa yang kamu harapkan?

Pembebasan... pembebasan batin dari belenggu keharusan melakukan apa yang bukan merupakan panggilanku... alternatif lain yang lebih baik... yang membuatku benar-benar hidup, Bapa... Dari manakah pembebasan itu? Dari diriku sendiri? Atau aku harus menunggu? Menunggu apa? Menunggu siapa? Sampai kapan?

Apa sebenarnya panggilanmu?

Masih dirumuskan... Yang jelas, aku suka menuliskan rekam jejak pikiran dan perasaanku. Dan aku suka membaca dan mengamati rekam jejak pikiran dan perasaan orang-orang berjiwa besar lainnya. Aku mulai sadar, sedang tumbuh hasrat untuk belajar. Belajar tentang inti sari, makna, dari hidup. Munkin tidak secara teknis yang praktis dan pragmatis, tetaoi secara idealis-reflektif-kontemplatif. Jika batinku penuh terisi dengan itu, maka semangatku untuk bertindak pun menyala-nyala. Itu sebabnya aku suka baca-baca dan belajar hal-hal yang bersifat rohani, sosial, filosofis, yang mungkin jauh hubungannya dengan pekerjaanku secara praktis. Mungkin aku salah. Tapi dalam belajar, selalu ada tempat untuk kesalahan, bukan? Dan belajar itu adalah proses seumur hidup. Bukankah begitu, Bapa?

Bapa, unntuk apa Engkau menciptakan aku dan memproses aku hingga saat ini? Beritahu aku, Bapa, apa tujuanMu... dan terima kasih untuk jawabanMu... apa pun itu... demi nama Tuhan Yesus, aku mohon... amin!!!

Jumat, 24 Juni 2011

Hikmah dari Turba ^^ Amazing ^^

Selamat pagi, Bapa...

Terima kasih seribu! Terima kasih untuk pengalaman turba ke bantaran kali Code kemarin. Terima kasih untuk acara jalan-jalan ke sana ke mari bareng mas Cah. Terima kasih untuk sentuhanMu melalui karya tulis Romo Mangun yang membuka hati dan pikiranku sehingga tumbuh kasih dan semangat sosial. Horisontal melengkapi vertikal sehingga sempurnalah "salib" kasihMu. Terima kasih untuk revolusi hatiku yang terus Engkau kerjakan, Bapa.

Setelah turba kemarin, aku jadi makin bersemangat menyongsong hidup omah-omah bareng mas Cah. Tidak ada ketakutan atau pun keraguan. Aku akan makin banyak kesempatan untuk turba, mengidentifikasikan diriku dengan mereka yang ada di "bawah", merakyat. Aku ingin menghayati hidup seperti yang pernah dihayati oleh orang-orang berjiwa besar lainnya, yang sebenarnya punya kesempatan untuk "naik terus sampai ke puncak" tapi lebih memilih "turun ke bawah". Di antara orang-orang berjiwa besar tersebut terdapatlah pribadi-pribadi yang aku kagumi, yaitu Engkau sendiri, Romo Mangun, Mother Theresa, dll. Aku mulai menghormati semangat sosial yang dimiliki saudara-saudaraku umat Katholik, Bapa... Sungguh luar biasa mereka! Tidak ada lagi tempat dalam hatiku untuk mendiskreditkan mereka...

Aku akan menikmati kesempatan-kesempatan bersentuhan hati dengan mereka-mereka yang termasuk "wong cilik" di mana pun itu. Pintu rumahku nanti akan senantiasa terbuka untuk mereka yang memerlukan sentuhan kasih. Contohnya, seandainya ada orang yang datang untuk meminta-minta uang, aku tidak akan cuek atau pura-pura sibuk seperti yang selama ini dibiasakan di rumahku. Aku akan menyambutnya masuk, mengajak dia ngobrol, memberi makan minum secukupnya, dan baru memberinya uang sekedarnya begitu dia mau beranjak pergi. Begitulah caraku nanti dalam memerangi kemiskinan akan kasih ^^

Bapa, aku pernah sok rohani. Sekarang aku nggak mau sok sosial. Aku mau sungguh-sungguh digerakkan dan dimotivasi olehMu sendiri. Aku percaya, bukan kebetulan aku "menemukan" mutiasa hikmat dari Romo Mangun (baru sekarang). Luar biasa sekali, Bapa! Meskipun Romo Mangun sudah tidak ada di dunia ini, karya-karyanya masih tetap "berbicara" menyentuh hati. Sungguh dahsyat dampaknya! Aku mau ah jadi seperti itu juga, Bapa. Kiranya karya-karya tulis dan karya-karya hidupku juga dapat menyentuh dan memotivasi banyak orang juga. Haleluya!

Dengan terbukanya mata hatiku, aku tidak lagi merasa beban-beban kerja di RS dan di BP sebagai pengorbanan yang sia-sia. Aku akan memandang dengan perspektif baru. Bukan dengan kasihku yang tidak sempurna, melainkan dengan kasih agapeMu, Bapa, aku akan bertindak menjadi perpanjangan tanganMu. Maranatha!

Kamis, 23 Juni 2011

Turun ke Bawah

Turun ke bawah...
turun...
turun...
lihat dunia sekitar...
betapa indahnya...
betapa hangatnya...
betapa mesranya...
bapak ibu anak-anak...
dalam lingkungan rumah yang hangat...
penuh kasih sayang...
canda tawa...
sungguh tiada terukur dengan harta...
keramahan dan ketulusan ada di sana...
melimpah ruah seperti limpahnya air sungai Code...
meskipun sempat harus mengungsi menyelamatkan diri...
rumah tergenang pasir lumpur air sungai...
harta benda harus ditinggal demi jiwa...
masih tersisa jejak-jejak lahar dingin...
mengubur rumah-rumah sampai setengah...
tapi saat ini keceriaan telah kembali...
ketakutan masih membayangi...
tapi tadi tidak kurasakan sengatnya...
kasih yang sempurna telah mengalir...
mengusir semua bentuk ketakutan...
sungguh pengalaman yang berharga.,,
turun...
turun...
turun ke bawah...
terima kasih Tuhan...


Puisi ini terinspirasi oleh pengalamanku sore malam ini saat pergi ke bantaran kali Code untuk mengurus administrasi buat nikah besok. Maklum, KTP ku KTP Kotabaru, meskipun domisiliku di Sleman. Aku harus mendapat surat pengantar dari RT dan RW setempat sesuai KTP. Maka, aku dan mas Cah pun berpetualang asyik ke tepi kali Code. Turun ke bawah. Jalan Kaki. Senang sekali. ^^

Selasa, 21 Juni 2011

Kegelisahanku Kemarin, Jujur tapi Sakit... T_T

Selamat sore, Bapa...

Aku harus menuliskan ini sebelum aku curhat-curhat sama orang lain, Bapa. Meskipun berat rasanya, aku harus menyampaikan terlebih dahulu isi hatiku kepadaMu. Urgent banget. Ya, ini penting sekali. Begini... Tadi waktu "nggak sengaja" baca-baca jadwal jaga di BP Wonosari, aku menemukan hal yang menggelitik hatiku. Di lembaran kosong, tertulis namaku (dr Yohana) dan angka-angka 7 deret dimulai dari angka 5, 8, 13, dst. Di atasnya tertulis "Juli 2011". Cukup mencurigakan, bukan? Aku pikir apa mungkin ini jadwal jagaku? Kok cum aku sendiri yang ditulis? Aneh, bukan? Kemudian, aku tanya ke Pak Budi dengan sopan dan ramah. Kata Pak Budi, itu memang benar jadwalku di bulan Juli. Aku tanya, kenapa cuma aku sendiri yang ditulis? Kata Pak Budi lagi, untuk mengatur jadwal perawat yang jaga malam. Khusus yang jaga aku, perawat yang jaga malam harus 2 orang. Kalau yang lain nggak perlu. Dah, aku nggak bertanya-tanya lagi. Langsung diem dan berpura-pura santai. Padahal dalam hati aku merasa sangat terpukul meskipun aku secara objektif memahami keadaannya. Kalau aku yang jaga, maka perawat-perawat mungkin menilai banyak kurangnya. Kurang tegas, kurang tanggap, kurang semuanya deh. Memang betul, tidak salah. Dan aku sendiri pun mengakuinya. Kalau datang pasien yang gawat, aku lebih banyak diam. Parah bukan, Bapa? Mungkin para perawat sudah pada tahu, diam-diam ngomong di belakangku, tapi belum ada yang dengan berani dan bijak ngomong di depanku. Tanpa diomongi pun aku sudah tahu dan sudah bisa merasa, kok, Bapa. Masalahnya memang ada di aku.

Bapa, ampuni aku kalau aku kurang hati-hati menjaga hati dan pikiranku. Mungkin tadi sebaiknya aku tidak mengorek-ngorek keterangan kalau akhirnya malah membuatku berkecil hati. Mungkin sebaiknya aku tetap tidak tahu menahu apa-apa. Itu lebih aman dan nyaman. Tapi kok sepertinya nggak bener juga ya...

Bapa, memang enak mendengar pujian daripada kritikan, meskipun kristik itu jujur apa adanya. Karena dengan pujian, aku lebih bersemangat dan entah bagaimana bisa bertindak sesuai dengan pujian-pujian tersebut. Misalnya tadi, Meryl memujiku tampak lebih "charming" hari-hari ini. Dan aku merasa tambah PD. Sikap dan pikiranku pun mengarah ke arti kata "charming" itu. Sebaliknya, ketika Pak Budi menjawab pertanyaanku apa adanya tanpa memperhalus atau mengurangi bahasanya, meskipun sesuai dengan kenyataan, rasanya sangat menghancurkan hati. Mana yang lebih baik, Bapa, mengatakan sesuatu yang sesuai kenyataan atau memberi pujian positif sehingga kenyataan yang negatif itu dapat berubah seperti pujian yang positif? Hmmm...

Bapa, mungkin aku bukan orang yang suka mendengar hal-hal yang tidak enak meskipun sesuai kenyataan. Aku lebih suka tidak difokuskan melulu pada kekuranganku, tetapi diberkan semangat dan pengharapan yang meskipun belum terjadi saat ini, mampu mendorongku untuk maju sehingga melampaui kenyataan yang pahit itu. Hmmm...

Satu lagi, Bapa, kegelisahanku. Ibuku begitu mengkuatirkan apa kata orang di belakang, alias "rasan-rasan" orang lain. Sehingga, ibuku selalu mendorongku untuk bersikap baik dan perfect dengan alasan supaya tidak dirasani. Terus terang, Bapa, aku nggak suka dinasihati seperti itu. Bolehlah disuruh bersikap baik, tapi kalau alasannya supaya nggak dirasani orang lain kok kedengarannya wagu ya? Tidak, Bapa, aku tidak menyalahkan ibuku. Aku cuma ingin tidak dididik terus dalam iklim takut akan manusia melebihi takut akanMu. Itu saja sih yang ingin kusampaikan saat ini. It's hurt, Father God, Lord Jesus, Holy Spirit...


Dan Tuhan pun menjawab:
Jangan tawar hati, jangan sedih...
Jangan pikirkan apa yang orang lain pikirkan tentangmu...
Bersemangatlah... bersukacitalah!!!

Minggu, 19 Juni 2011

Sekelumit Kesan Tentang Burung Burung Manyar ^^


Akhirnya roman "Burung-Burung Manyar" sudah selesai aku baca dengan seksama. Kesan yang kudapat? Awal-awalnya sih dimulai dengan keriangan dan kegembiraan yang penuh romantika. Kemudian di pertengahan cerita berjalan dengan penuh makna. Tidak terasa kalau perjalanannya panjang dan berliku karena Romo Mangun menuliskan alur ceritanya diselingi wawasan-wawasannya yang sangat dalam tentang kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat. Yang bikin cerita roman ini makin terasa dalam mengiris adalah akhir cerita yang menurut psikologi populer tidaklah happy ending, karena kedua tokoh utama (Teto dan Atik) tidak bersatu sebagai suami istri. Malah, salah satu di antara mereka "dimatikan" oleh Romo Mangun dengan indahnya.

Setelah membaca habis roman tersebut, aku cukup merasa kesepian. Jadi bertanya-tanya apakah itu juga yang dirasakan oleh Romo Mangun? Kesepian di tengah-tengah indahnya karya ciptanya. Memang indah dan manis kisah Teto dan Atik dalam roman ini, tapi sangat terasa sekali aura kesepian meskipun tidak diwarnai oleh nuansa kesedihan yang mengerikan. Semacam perasaan mendambakan sesuatu yang sangat dicintai tapi mustahil dimiliki. Yang sedih adalah orang lain yang melihat, bukan si pelakon itu sendiri. Ini apa ya namanya? Ironi? Bukan. Tragedi? Juga bukan. Memang betul tulis Romo Mangun, yaitu bahwa kisah-kisah cinta romantis yang happy ending hanya ada di roman-roman picisan. Dan terbukti bahwa "Burung-Burung Manyar" bukanlah roman picisan karena sang penulis "tega" tidak menyatukan cinta Teto dan Atik dalam ikatan pernikahan. Yah, mungkin memang seperti itulah kehidupan yang sebenarnya.

Kisah cinta memang menjadi daya tarik tersendiri bagi manusia. Itu sebabnya begitu banyak cerita tentang kisah cinta yang laris manis. Dan meskipun Burung-Burung Manyar banyak bercerita tentang kehidupan pada zaman revolusi dulu, tetap saja yang menjadi perhatianku sebagai pembaca "awam" adalah bagaimana jalan cerita kisah cinta antara Teto dan Atik. Mungkin memang cinta adalah bahasa universal yang paling mudah dipahami oleh siapa pun juga. Sehingga, sangatlah brilian cara Romo Mangun memasukkan unsur vital tersebut dalam cerita romannya yang sarat akan pembelajaran dan perenungan yang dalam. Semacam coklat manis yang disisipkan untuk meredam rasa pahit obat yang harus diminum.


Sabtu, 18 Juni 2011

Where Is My Sweet Spot?

Bapa, kembali aku mempertanyakan lagi akan visi hidup, arah tujuan, my SHAPE, my sweet spot, my passion. Sungguhkah menjadi SpKJ kelak merupakan panggilanMu atasku? Atau itu cuma kamuflase semu untuk memberikan ketenteraman palsu saat ini? Apakah aku sedang pergi menjauh dari rancanganMu? Bagaimana caranya supaya aku menemukan tujuan spesifik hidupku?

Aku percaya, Bapa, bahwa Engkau saat ini bersamaku, dan aku bersamaMu. Engkau tidak pernah dan tidak akan pernah meninggalkanku kebingungan seorang diri seperti anak hilang di keramaian. Karena Engkau besertaku, maka aku pun tenang. Aku tidak panik atau gelisah. Cukupkah aku percaya saja, pasrah bongkokan, kepadaMu tanpa tahu hendak ke mana Engkau membawaku? Perlukah aku mengetahui tujuan hidupku secara spesifik itu atau tidak? Apakah aku hanya perlu berjalan selangkah demi selangkah meraba-raba dalam pencarian akan visi dan tujuanku?

Hmmm... cukup berat dan sulit juga merumuskan kegelisahan hatiku dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan di atas. Tapi aku lega, Bapa, syukur kepadaMu karena aku tahu dan percaya bahwa aku akan beroleh jawabanMu yang memuaskanku. That's Your promise!

Satu kekuatiranku, Bapa... Aku tidak mau terjebak dalam pekerjaan yang tidak kusukai. Aku tidak mau terbelenggu dalam pekerjaan yang tidak benar-benar kuminati. Bayanganku, keadaan itu sama saja seperti budak yang terpennjara dan hanya bisa menggiling berputar-putar. Sungguh melelahkan, sia-sia, dan mematahkan semangat. Contoh konkretnya, aku tidak mau stuck menjadi dokter IGD yang tanpa passion. Aku tidak mau selamanya "terjebak" menjadi dokter IGD yang "membahayakan". Lebih tidak mau lagi, aku nggak mau berhenti di tengah jalan, membuat blunder, mengacaukan semuanya karena ada situasi dan kondisi yang di luar kuasa/kendaliku. Misalnya, kondisi bapak dan ibuku yang tidak lagi fit atau bahkan meninggal yang bisa menyebabkan langkahku menuju "negeri perjanjianMu" terhenti. Yang aku inginkan adalah aku terbebas dari kuk bekerja rodi dengan hati terpaksa. Aku ingin sungguh-sungguh menikmati pekerjaan yang benar-benar sesuai untukku, entah itu di IGD (kalau mukjizat terjadi yaitu aku pada akhirnya menikmati pekerjaan di IGD) atau tidk di IGD. Keinginanku cuma supaya hidupku berarti, tidak sia-sia. Sebab Engkau menciptakanku pasti ada tujuan yang khusus, Bapa. Engkau menjadikanku unik supaya aku menggenapi rencanaMu yang unik pula bagiku. Ini yang aku percaya, yaitu bahwa Engkau tidak akan membuat hidupku sia-sia. Yang kuperlukan adalah iman dan pengharapan yang teguh di dalamMu, Bapa.

Kamis, 16 Juni 2011

Disturb Your Friends ^^

Kakakku pernah menulis status di FB yang mengatakan bahwa "peraturan dalam pertemanan: ganggulah temanmu sebanyak mungkin", kurang lebihnya begitu. Pernyataan itu senada dengan pesan yang pernah disampaikan oleh Mbah Edy waktu PA dewasa muda. Pesannya adalah: jangan punya prinsip "tidak mau mengganggu karena tidak ingin diganggu". Maksudnya, sebagai manusia yang adalah makhluk sosial, seharusnya kita hidup srawung dengan orang lain. Salah satu bentuk srawung adalah dengan "mengganggu" orang lain, jangan pasif. Salah besar jika kita bersikap acuh tak acuh terhadap orang lain di sekitar kita dengan alasan "tidak mau mengganggu dan diganggu".

Wew, Bapa... prinsip yang sangat jauh dari kebiasaanku selama ini. (Mungkin) aku terlalu asyik dengan diriku sendiri sehingga lupa akan orang-orang lain di sekitarku. Aku tidak menegur/"mengganggu" mereka, mereka pun tidak menegur/"mengganggu"ku. Lama kelamaan aku terbiasa hidup solitaire dan lupa bagaimana caranya srawung. Aku tidak tahu bagaimana bersikap terbuka kepadaku. Parahnya, Bapa, aku telah terbiasa hidup demikian selama ini. Aku (mungkin) tidak sadar betapa sepi dan membosankannya hidup yang kujalani ini.

Syukur kepadaMu, Bapa, Engau mengirimkan seorang mas Cah. Melalui obrolan-obrolan sederhana dengan mas Cah, aku mulai belajar kembali bagaimana bersikap terbuka dan tidak egois. Melalui hal-hal sederhana dan kegiatan-kegiatan di luar rumah bersama mas Cah, aku belajar memahami dan menghayati hidup bersama orang lain dalam suatu komunitas. Tidak terlalu idealis muluk-muluk seperti yang selama ini ada di konsep pikiranku, tetapi cukup sederhana dan sangat membumi. Sungguh suatu anugerah yang patut disyukuri, Bapa. Sekali lagi terima kasih untuk mas Cah... haleluya ^^!

Suatu Siang di BP Wonosari ^^

Selamat pagi jelang siang, Bapa...

Kembali aku jaga di BP Wonosari. Tidak bisa lepas bebas nih perasaanku. Meskipun lagi sepi nggak ada pasien, aku tetap merasa tegang dan waspada, siap-siap kalau-kalau ada pasien yang gawat datang. Membaca dan menulis pun tidak bisa lepas dan lega. Yah, inilah konsekuensi dari pilihan-pilihanku. Konsekuensi dan pilihan mengapa aku mengambil profesi ini dan terjun dalam lapangan pekerjaan ini. Aku patut bersyukur, Bapa, karena sebenarnya pekerjaan apa pun itu pasti ada beban-beban tersendiri yang menyertainya. Kalau aku merasa berat seorang diri di sini, itu karena aku masih belum memperluas wawasanku. Sebenarnya aku maish bisa membuka cakrawala hati dan pikiran dengan salah satunya mengajak ngobrol orang-orang yang ada di dekatku saat ini. Misalnya, perawat. Aku bisa berbagi beban dan sukaccita kerja dengan mereka. Atau pasien dan keluarganya. Aku bisa membuka mata bahwa ternyata ada orang-orang lain yang jauh lebih terbeban dan tegang daripada aku sendiri saat ini. Hmmm... tapi untuk saat ini, izinkanlah aku untuk sekedar memuaskan hasrat hatiku menulis-nulis di sini.

Komitmen dan Tekad Hati ^^

Bapa, aku berkomitmen untuk tidak ikut-ikut menghujat ataupun mengkritik siapa pun dengan tidak adil. Aku bertekad untuk belajar dari siapa pun juga. Aku berketetapan hati untuk menarik saripati hikmat dari hidup orang lain, siapa pun itu. Roh Kudus, Engkaulah guruku, Engkaulah pembimbingku, Engkaulah penyelamatku! Ajarlah aku seluruh kebenaranMu. Berikanlah padaku sudut pandangMu. Biarlah aku bertumbuh di dalam pengenalan yang benar akanMu. Aku mau hidup sesuai janjiMu, Matius 6:33.

Bapa, segala tulisan, kata-kata, ucapan, dan doaku tidak mampu merangkum seluruh gejolak hatiku yang dipenuhi kerinduan akanMu dan seluruh kebenaranMu. Terima kasih, Bapa, buat apa yang kurasakan saat ini. Hasrat yang terdalam hanyalah semakin dalam menyelamiMu. Aku tik akan pernah bosan minum dari air sungai kehidupanMu. Perkataan-perkataanMu sungguh hidup di dalamku. Hebat sekali, Engkau sungguh hebat, Bapa!

Senang sening! Kenyang kenying! Aku masih ingin "bercakap-cakap" denganMu, Bapa! Aku masih ketagihan menuliskan isi hatiku kepadaMu saat ini. Mumpung masih ada waktu. Mumpung tidak ada yang mengganggu. Sungguh, aku rindu padaMu, Bapa.... What can I say?

Awesome...!!!

Terinspirasi oleh Karya Romo Mangun ^^

Selamat pagi dini hari, Bapa...

^^ Ada begitu banyak yang ingin kusampaikan kepadaMu, Bapa... Beribu kesan yang timbul dalam hatiku hari ini setelah aku mengkhatamkan membaca tulisan-tulisan Romo Mangun dalam buku "Esei-Esei Orang Republik" itu. Sungguh luar biasa! Romo Mangun sungguh cerdas, bernas, otentik, dan inspiratif, Bapa! Sungguh sulit dipercaya bangsa Indonesia ternyata mempunyai seorang pribadi pemikir dan aktivis yang sekaliber Romo Mangun! Aku perlu lebih banyak lagi melahap karya-karya tulis beliau, Bapa! Bertambah satu lagi bacaan-bacaan wajibku. Orang-orang yang begitu luar biasa, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, telah memperkaya batin dan wawasanku melalui tulisan-tulisan mereka. Syukur kepadaMu, Bapa! Sungguh luar biasa Engkau!

Ada begitu banyak harta rohani yang terpendam di buku-buku karya orang-orang besar (jiwanya), yang menunggu untuk kugali. Syukur kepadaMu, aku menemukan beberapa sumber yang sarat akan hikmat dan pengetahuan. Tujuanku mengejar dan melahap hikmat-hikmat tersebut bukanlah demi gagah-gagahan atau sanjungan dari orang lain melainkan karena aku sangat lapar dan haus. Lapar dan haus akan kebenaran, akan pengetahuan... Syukur kepadaMu karena firmanMu telah menduduki tempat pertama dalam prioritasku. Syukur kepadaMu karena sejak kecil Engkau telah menumbuhkan benih-benih kebenaran dan cinta akan kebenaran di dalamku. Syukur kepadaMu karena telah mengaruniakan kepadaku hobby/kegemaran membaca dan menulis. Sekali lagi, syukur kepadaMu, Bapa...

Haleluya...!!!

Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu: Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang.
Amsal 24:14

Kamis, 02 Juni 2011

Chatting dengan Yayan ^^

Penyertaanmu Sungguh Agung

Tuhan…
Keagungan-Mu pelita bagi jalanku
Kebesaran-Mu …, membuat aku takjub
Walaupun terdengar derapan kuda
Aku tidak takut karena engkau ada
Saat-saat yang menakutkan
Engkau hadir menggendongku
Walaupun gelap menghalangiku
Engkau melindungiku
Tuhan…
Engkau mengulurkan tangan dengan kasih
Engkau s’lamatkan aku dari bahaya maut
Sungguh, penyertaan-Mu, luar biasa
Aku hanya dapat mengucapkan terima Kasih Bapa
Ku berjalan sejauh apa pun …. Tuhan.
Engkau tetap tersenyum dan menyertaiku…
Walaupun aku sesat, Engkau membimbingku
Ya….. benar . Engkaulah Bapaku, Tuhan

Karya Yayan
amin
bguz gak mbak????????????
sip sip, bagus...
:D
tugas sekolah?
hehehhe
iya
wew
seperti tulisan2 mazmur
yg buat aku sendiri lho...
:D
sip sip
kembangkan terus
hehehehehe
1:45pm
latar belakang atau cerita di balik tulisannya... adakah? (send as a message)
Your chat message wasn't sent because Yayan Red Devi's is offline.
Yayan is offline.

Hikmah dari Gondongen... Thank God... ^^


Ternyata sakit itu nggak enak. Iya, nggak enak. Pikiran jadi mudah konslet. Hati jadi gampang panas. Emosi jadi labil. Belum lagi adanya masalah-masalah psikis yang mewujud dalam keluhan-keluhan fisik, alias psikosomatis. Padahal ini sakitnya tergolong "ringan", yaitu gondongen... atau istilah kerennya: parotitis. Bukan sakit berat atau parah semacam kanker. Masih taraf ringan yang dapat disembuhkan dengan obat dan cukup istirahat, apalagi jika ditambah dengan doa dan kasih. Tapi justru karena dianggap remeh itulah bahayanya. Kita jadi kurang waspada. Kurang sigap menjaga hati dan pikiran sehingga mudah jatuh dalam kemarahan yang tidak pada tempatnya. Kemarahan yang terpendam dan tidak disadari itu biasanya mewujud dalam bentuk sakit kepala, nggliyer, perasaan tidak enak badan seperti mau muntah. Pokoknya serba tidak nyaman deh.

Ini yang kualami hari-hari ini. Beberapa hari terakhir ini aku mengalami sakit gondongen. Nggak terlalu parah sih. Paling parah juga cuma panas dua kali, itu pun waktu dini hari. Cuma mungkin karena jadwal jaga yang relatif lebih padat dibanding dengan sebelum-sebelumnya yang membuatku tidak dapat istirahat secara optimal sehingga sakitnya pun semakin terasa memberatkan fisik dan mental. Belum lagi dengan semakin tidak disiplinnya aku dalam berdoa dan mencari wajah Tuhan. Jadwal jaga di wonosari dan di IGD jadi terasa seperti "serambi neraka kecil", bukan lagi sebagai "taman surga". Aku yang sudah berpembawaan tenang dari sononya semakin banyak lagi diemnya, bisa dibayangkan? Dan dalam diam itu, aku senantiasa bergelut dengan hati dan pikiran yang mudah emosi. Pusing dan mual pun menyerang dengan bergerilya waktu jaga siang IGD kemarin. Akibatnya, waktu yang ada pun jadi seperti terbuang percuma.

Aku lupa... aku masih punya Tuhan. Masih ada Roh Kudus di dalamku. Aku lupa menghubungiNya. Aku lupa berseru ketika sedang membutuhkanNya. Aku yang notabene jurusan surga ini, untuk sesaat lamanya melupakan sumber kekuatanku. Disorientasi, amnesia. Sungguh menyedihkan. Jadi lone ranger, desertir. Puji Tuhan, ada hari libur satu hari. Aku jadi punya waktu untuk berhenti sejenak dari kepenatan dan kejenuhan pekerjaan. Ternyata setelah setahun, aku mulai merasakan stres okupasional. Puji Tuhan aku nggak sendirian. Selalu saja ada malaikan-malaikat Tuhan yang ditempatkan tepat di tikungan-tikungan jalan yang kulalui. Jalan kehidupan yang memasuki rembang tengah hari. Semakin terang. Juga semakin menyengat panasnya. Itu karena lapisan ozon di atmosfer mulai menipis. Terlalu banyak polusi pula sehingga bumi makin panas. Sehingga, sinar matahari yang seharusnya bersahabat dan layak disyukuri pun terpaksa dihindari. Hmmm... (ngelantur ^^)

Back to topic... akhirnya aku sedikit memahami mengapa banyak pasien yang bersikap negatif dan kurang kooperatif selama proses terapetik. Mereka bersikap demikian karena salah satunya adalah tidak tahan dengan nyeri atau ketidaknyamanan fisik dan mental yang dirasakan. Ditambah lagi ada stres kehidupan yang mewarnai hari-hari mereka. Setiap orang pasti punya masalah-masalah yang ingin dihindarinya atau diselesaikan. Stesor tersebut dapat menurunkan ambang batas nyeri sehingga seorang pasien dapat sedemikian mudahnya megeluh sakit. Memang jengah dan sebal juga mendengarkan keluhan-keluhan pasien yang tidak ada habisnya. Sebelum menyebut dan memarahi mereka dengan sebutan "manja", maka aku perlu lebih meregangkan lagi saraf kesabaranku. Orang yang sabar akan memiliki pengertian yang lebih luas dan baik. Ingat bahwa bukan pasien itu yang meminta untuk sakit. Ingat bahwa kalau tidak sakit, mereka tidak akan mau datang ke rumah sakit atau BP. Bukan keinginan siapa pun untuk menderita sakit. Dan karena aku setidaknya sudah "kena batunya", yaitu merasakan sendiri bagaimana gak enaknya sakit seringan apa pun itu bentuknya, tidak selayaknya lagi aku untuk bersikap nggresula atau bersungut-sungut dalam hati setiap kali ada orang yang tiba-tiba datang di counter dengan menyerukan kalimat keramat: "mau periksa". Sekali lagi, aku perlu mengembangkan sikap eling... ingat, aku juga bisa sakit... aku juga bisa berada di posisi mereka... dan apa yang akan kurasakan kalau dokternya pun bersikap seperti aku selama ini: nggak ramah, nggak responsif, malas, dsb...?

Terima kasih, Bapa, buat sakit gondongen ini... Aku jadi bisa belajar merefleksikan sikapku selama ini. Dan saat sembuh nanti, kiranya aku telah sungguh-sungguh belajar dengan baik. Tidak lagi bersikap jahat, kejam, dan malas. Kiranya aku semakin banyak berbuat kasih karena aku telah menerima kasih yang begitu besar dariMu. Demi nama Tuhan Yesus, haleluya... maranatha... amin!!!!!!!


Minggu, 29 Mei 2011

Pembelajaran

Selamat pagi, Bapa...

Terima kasih sudah membangunkanku pagi-pagi sekali sehingga aku beroleh waktu yang cukup banyak untuk mencari wajahMu, bersekutu denganMu, sekedar duduk diam di hadiratMu. Terima kasih, Bapa, buat kesehatan yang berangsur-angsur mulai pulih. Terima kasih buat semangat dan pikiran positif yang senantiasa memenuhi hati dan pikiranku sehingga aku dimampukan melalui hari demi hari bersamaMu. Di dalamMu aku aman... BersamaMu aku sanggup gambaru... Haleluya!!!

Masih panjang perjalanan hidupku, Bapa... Perjalanan menuju rumahMu... menuju tempat perhentian yang kekal... Di sanalah aku bisa benar-benar "beristirahat", menikmati segalanya tanpa tekanan... Sungguh mulia hari itu, Bapa... Aku menanti-nantikanMu... dan selama menunggu, aku mengisi hidupku dengan berbagai hal pembelajaran... here we go!!!

Aku belajar untuk menikmati hidup yang berkemenangan dan penuh makna bersamaMu... Proses-proses kehidupan yang pahit dan manis seperti coklat terus-menerus kulalui... Asal aku terus berpegang pada firmanMu dan tinggal terus dalam hadiratMu, pastilah aku beroleh kemenangan... semakin indah dibentuk dan semakin dimurnikan seperti emas... semakin menyerupaiMu, Yesus... Itulah tujuan hidupku.

Aku belajar untuk kembali dan terus-menerus berserah kepadaMu, Bapa... belajar mendengar suaraMu dan mengikuti pimpinanMu, Roh Kudus, itu yang kumau... Tidak pernah Engkau menyesatkan atau menjerumuskanku... Engkau yang bekerja di dalam dan melaluiku... Oleh karena itu aku tidak kuatir karena kekuatiran sangatlah tidak relevan...

Aku belajar untuk senantiasa bersyukur dalam segala keadaan... dengan bersyukur, aku terhindar dari keluh kesah dan sungut-sungut. Dengan bersyukur, hatiku dipenuhi oleh luapan sukacita ilahi yang menjadi kekuatanku... Dengan bersyukur, aku menjadi mudah melihat dan merasakan berkatMu yang melimpah setiap hari...

Aku belajar untuk bersukacita di dalamMu... Hati yang gembira adalah obat yang manjur... Oleh karena itu, aku mau terus-menerus mengaktifkan roh sukacitaMu di dalamku... Apalagi saat-saat sekarang di mana aku lagi sakit gondongen... Ini pengalaman pertamaku sakit gondongen... Puji namaMu, Bapa, aku sakit sebelum hari H pernikahan... puji namaMu, Yesus, aku sakit nggak pas lagi hamil...

Masih banyak pembelajaran-pembelajaran hidup yang kualami. Jika dituliskan pasti akan menghabiskan berlembar-lembar. Yang utama adalah dalam belajar itu aku tidak pernah ditinggal seorang diri. Roh Kudus, Engkaulah pengajar dan pembimbingku. Terima kasih banyak untuk hikmat dan wahyu yang Kaubukakan sehingga aku maiin mengenal dan mengasihi kebenaran. Terima kasih buat karyaMu yang luar biasa, Bapa.

Haleluya...

Maranatha!!!

Amin!!!!!!!

Kamis, 26 Mei 2011

Fajar Pengaharapan Kemenangan ^^

Selamat pagi dini hari, Bapa...

Terima kasih untuk apiMu yang kembali membakar hatiku... Di tengah kondisi hati yang bimbang, aku memilih untuk meneguhkan hatiku... Aku menolak untuk hanyut larut dalam belas kasihan yang tidak sehat terhadap diri sendiri. Dan akhirnya, Engkau beri aku kemenangan! Haleluya!!! Aku menang atas pencobaan... Aku menang atas sikap mental yang lembek... Aku menang atas sikap mellow yang selama ini kubenci... (Puji Tuhan, aku nggak jadi seperti tokoh-tokoh sinetron yang lebay alay jablay melownya ^^)

Terima kasih, Roh Kudus... berkatMu, aku sanggup mengalami terobosan pribadi... Sungguh kemenangan yang patut dirayakan! Pasti bukan manik, apalagi depresi! Amin! Kita lebih dari pemenang! Sebab janjuMu ya dan amin, Bapa. Sungguh terbukti! Haleluya! Segala kemuliaan hanya bagiMu!!!

Terima kasih, Tuhan Yesus... Sahabat sejatiku dan gembalaku yang agung! Without You, I am nothing Lord! Dunia boleh berkata macam-macam dan meremehkanku... tapi bersamaMu, aku pasti bisa sebab Engkau yang hidup dan bekerja di dalamku. Melaluiku, kuasaMu menjadi nyata. Kain kabungku Kau ganti dengan tarian! Haleluya!!! ^^

Gambaru... Gambaru...

Selamat malam, Bapa...

Gambaru... gambaru... itu yang terngiang-ngiang di kepalaku saat ini... aku nggak boleh melow, minder, down, dan patah semangat! Pengalaman malam ini menunjukkan betapa aku masih harus banyak sekali belajar! Aku harus belajar bersikap tegas, berkomunikasi dengan mantap, sehingga kerja tim bisa efektif dan efisien. Nggak boleh ada akar pahit yang tumbuh di hati! Sucikan dan murnikan hatiku, Roh Kudus... Tambahkanlah kapasitas otakku yang segedhe bakpao ini...

Gambaru... gambaru... ingat Yusuf PL dan Daniel! Mereka tetap bertekun dan mengusahakan yang terbaik meskipun tidak berada di tanah perjanjian. Yusuf menjadi berkat di Mesir dan Daniel menjadi berkat di Babel. Apa pun yang terjadi, mereka tetap menjaga hati dan pikiran fokus padaMu, Bapa...

Gambaru... gambaru... tidak ada waktu untuk mengasihani dan menangisi diri sendiri... mari tunjukkan bahwa kita bisa! kita lebih dari pemenang! Bukankah ada Roh Kudus di dalamku? Awan para saksi pasti sedang bertempik sorak saat ini mendukungku untuk bangkit mengejar ketertinggalanku. Yosh!!!

Gambaru... gambaru...

Haleluya!!!

Maranatha!!!!!!!