Rabu, 31 Maret 2010

Jangan Bilang Malas

Akhirnya aku memasukkan juga lamaran ke bethesda... gak tahu deh, apa ini langkah yang tepat apa bukan... aku jujur aja nggak punya inisiatif yang kreatif... sebagian besar ini karena dorongan dari ibu... alasanku kenapa aku menyetujui semua saran (baca:perintah) ibu adalah karena aku gak tahu lagi harus ngapain... aku sedang malas untuk berpikir, merenung, dan bergumul... padahal gak boleh kan bilang malas... doh... aku lagi senang2 dalam liburan panjang yang kemungkinan tinggal satu bulan ini... aku harus mengisi sisa waktu liburan ini dengan belajar kembali supaya nggak kaget nantinya... apalagi aku masih harus ujian tanggal 15 Mei karena kemarin masih belum lulus UKDI... wew... kok bisa ya? Ya bisa aja... wong aku belajarnya juga cuma beberapa minggu, dan bahan pelajarannya cuma mengandalkan bank soal dari internet... kurang lengkap, kurang siap...

Aku masih belum begitu yakin dengan masa depanku ini, khususnya berkaitan dengan bethesda... entahlah... aku merasa sangat sangat tidak kompeten sama sekali... aku sangat sangat tidak merasa cocok menjadi klinisi... kesukaanku cuma begini ini... menuliskan hal2 yang nggak penting... doh, apakah ini yang dinamakan dengan sindrom kemalasan? Gak boleh!!! Gak boleh bilang malas!!! Terus apa yang harusnya kulakukan supaya aku nggak terjebak dalam ikatan kemalasan? Aku harus disiplin... ya, harus... aku harus menyalibkan daging, aku harus hidup oleh Roh... Ya Tuhan Yesus, tolong aku... mampukan aku untuk bisa hidup seturut dengan kehendakMu yang mulia itu...


Senin, 29 Maret 2010

Barang Tumpas, Boneka?

Hari ini Empuk Getuk sedih... apa sebab? Begini ceritanya... Waktu Empuk Getuk ikut jalan2 sama Yoyo & Mimi naik Livina, Empuk Getuk ikut dengar siaran radio Sasando yang lagi muter kotbahnya ibu Dorkas Daud... Tahu kan? Yah, dianggap tahu aja ya... Empuk Getuk lagi enak2 mendengarkan, tahu2... Ibu Dorkas Daud bilang bahwa boneka itu termasuk barang tumpas... weleh... Empuk Getuk kaget bukan kepalang... berarti Empuk Getuk harus ditumpas ya? Duh... sedihnya... untung Empuk Getuk tahu kalau Mimi Imut dan Yoyo Imut tidaklah sesaklek itu dalam menerima informasi... Istilahnya, tidak menelan bulat2 perkataan ibu Dorkas Daud... Empuk Getuk tahu kalau Mimi Imut dulu pernah menumpas sampai habis boneka2 bagus kepunyaannya hanya... itu dulu... sekarang Mimi Imut sepertinya lebih fair lagi dalam menyikapi pengajaran2 radikal seperti itu... beruntunglah Empuk Getuk, hehe... ngomong2, di mana ya si Untung sekarang? Lho, kok malah ngomongin si Untung sih? Hehe...

Ngomong2 soal barang tumpas, apa aja sih yang termasuk barang tumpas? Masa boneka termasuk barang tumpas juga? Weleh...

Main Piano Ah... ^^

Aku mau menuliskan tentang piano... lebih tepatnya tentang kemampuanku memainkan piano... memang sejak kecil aku sudah dikenalkan dengan piano oleh ibuku... aku dileskan bertahun-tahun mempelajari piano klasik di sekolah musik Crescendo di Jogja... sampai sekarang aku baru sampai ke grade 7... aku berhenti belajar di kursusan karena kesibukan dalam sekolah... tapi kemampuan bermain piano tidaklah menghilang karena masih terus aku pakai untuk mengiringi... syukur pada Tuhan, aku dipakaiNya untuk mengiringi ibadah persekutuan dengan kemampuan bermain piano yang makin berkembang seiring dengan waktu... dari yang tadinya gak tahu dasar2 bermain musik untuk mengiringi nyanyian, sekarang aku jadi bisa percaya diri mengiringi ibadah dan orang2 yang pingin nyanyi spontan di acara2 keluarga... puji Tuhan!!!

Dengan kemampuanku yang tergolong intermediate ini, aku pingin mengembangkannya sampai ke tingkat advanced bahkan master... aku liat2 website tentang tutorial piano yang gratisan, sepertinya nggak sulit dan nggak mustahil untuk mengembangkan kemampuanku ini... kalau gratisan gak cukup, mungkin aku perlu mengeluarkan sejumlah biaya untuk sungguh2 mengasah kemampuanku bermain piano supaya semakin ciamik... biar nggak stagnan... biar nggak gitu2 aja mainnya... biar makin memberkati Tuhan dan sesama... o yeah!!!

Untuk sementara, aku akan terus setia mengiringi kebaktian Minggu sesuai jadwal... aku akan terus mengupdate pengetahuanku tentang nyanyian2 rohani yang indah dan merdu... salah satunya dengan ikut kebaktian Sabtu sore supaya referensi lagu rohani populer dan kontemporer tetap terupgrade... terus senantiasa bertukar informasi dengan orang2 yang punya kesukaan mendengarkan lagu2 rohani yang bagus tapi jarang didengar, misal seperti lagu Onlu by Grace dan Refiner's Fire yang direkomendasikan oleh mas Cahyo... Sebagai penyemangat, aku akan setia dulu terhadap perkara kecil yang ada di depanku saat ini, yaitu bikin rekaman lagu2 sampai selesai... yosh!!! Aku akan berusaha!!! Aku akan bersemangat!!! Hidup ini indah ya!!! Hehe...

Hari Ini Harinya Tuhan

Hari ini, hari ini, harinya Tuhan... harinya Tuhan...
Mari kita, mari kita bersukaria... bersukaria...

Begitulah sepenggal lagu sekolah minggu yang sangat terkenal... mengingatkanku untuk selalu bersukaria karena hari ini adalah harinya Tuhan... semua hari adalah harinya Tuhan... karena semua hari adalah harinya Tuhan, maka sudah selayaknya aku untuk bersukacita senantiasa... nggak ada alasan untuk murung atau bermuram durja... Apapun yang kuhadapi, apapun yang kualami hari ini, tidak ada yang bisa menyurutkanku dari bersukacita di dalam Tuhan...

Sungguh Tuhan sudah begitu baik padaku... teramat sangat baik... apa yang bisa kulakukan untuk membalas semua kebaikanNya itu selain bersyukur dengan segenap hati kepadaNya? Aku mau mengangkat jiwaku untuk memuji dan menyembahNya selalu... nggak ada tempat untuk kuatir atau takut... karena aku terlalu berharga di mataNya...

Mungkin aku masih kurang sekali dalam hal bersukacita... mungkin aku terlalu larut dalam kesendirianku... aku harus lebih banyak lagi bergaul dengan Tuhan dan sesamaku manusia... oleh karena itu, aku harus lebih banyak mengaktifkan diriku dalam aktivitas sosial... kiranya Tuhan memberkatiku dengan berlimpah-limpah sehingga aku pun dapat menjadi berkat bagi siapa saja... haleluya... amin...

Hari ini harinya Tuhan...
Mari kita bersukaria...
Hari ini... hari ini... harinya Tuhan...

Minggu, 28 Maret 2010

God Bless Us!!!

Hari ini aku merasa terberkati sekali... berkali-kali malah... hehe... apa sebab? Karena akhirnya mimpiku mulai menjadi kenyataan... salah satu mimpi yang sudah sejak lama kuimpikan, yaitu bikin musik yang indah, yang bisa menjadi berkat bagi orang lain... semua berkat anugerah Tuhan Yesus, thanks for mas Cahyo, my partner dalam mewarisi kerajaan Surga... aku yang cuma bisa main musik gundulan, serba sederhana, nggak ngerti tentang teknologi, begitu diberkati dengan adanya mas Cahyo yang ngerti banget tentang teknologi mixing dan rekam-merekam, sederhana juga... masih belum sekaliber para artis dan produser yang sudah pro... baru coba2... hehe... semua memang sudah diatur sama Tuhan, waktunya bener2 pas... hehe lagi...

Rencana dan angan2ku mulai bermunculan dan bertumbuh ke segala arah... puji Tuhan ada mas Cahyo yang bisa menjadi sparing partnerku, jadinya aku nggak kumat lagi maniknya... uneg2ku bisa kusalurkan sedemikian rupa, tentu setelah kusampaikan kepada TUHAN terlebih dahulu... TUHAN memang maha keren deh... ^^ Aku berangan2 bisa melayani TUHAN bersama dengan mas Cahyo sebagai partnerku dalam segala hal... dimulai dengan pilot project rekaman kecil2an dan sederhana ini... Rencananya, kami mau ngerekam musik intrumental worship dari lagu2 KPK dan lagu2 penyembahan kesukaan kami, terus mau kami bagi2kan ke orang2 terdekat kami, secara gratis... pokoknya yang indah2 deh... hehe...

Supaya tidak terlalu banyak spoiler, aku cukupkan sekian dulu aja curhatku tentang rencanaku dengan mas Cahyo... God bless us!!! ^^

Terima Kasih TUHAN

Thank God, You are so good to us...
Thank you for your inspiration...
Thank you for Your wisdom...
Terima kasih, TUHAN, buat kebaikanMu...
Terima kasih buat ide-ide segar yang Engkau alirkan dalam hati dan pikiran kami...
Kami percaya ini semua berasal dariMu...
Kami akan kembangkan lagi talenta-talenta yang Engkau berikan itu...
Terima kasih, TUHAN...
kami lakukan semua ini atas dasar cinta kami padaMu dan pada saudara-saudara kami...
Berkati setiap pekerjaan kami, sesederhana apapun kelihatannya itu...
Kami percaya, dalam persekutuan kami denganMu, jerih payah kami tidak pernah sia-sia...
Dan kami percaya, apa yang kami perbuat itu dapat menjadi berkat buat orang lain...
Pakailah kami, Bapa, untuk menjadi saluran berkatMu...
Kami mau Kau pakai, Bapa...
ya, kami mau...
Ini kami, TUHAN...
jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga...
dalam nama Tuhan Yesus...
haleluya...
amin...


Rabu, 24 Maret 2010

Aku Harus...

Aku harus bertahan hidup...
demi mereka...
yang dikasihi Tuhan...
yang mengasihiku dan yang kukasihi...
Supaya aku bisa melihat perbuatan tangan Tuhan dalam hidup mereka...
supaya aku bisa menyaksikan jawaban2 doa yang luar biasa itu...
supaya ucapan syukur kepada Tuhan semakin melimpah ruah...
dalam hidupku yang cuma sebentar ini...
yang hanya seperti uap air yang sebentar akan hilang...
Ingatkan aku, Tuhan, kalau suatu saa nanti aku lupa akan hal ini...
kalau suatu saat nanti aku tiba2 ingin mengakhiri kehidupanku karena tekanan hidup yang teramat berat...
Ingatkan terus aku akan perkataan dalam hati dan pikiranku ini...
Mampukan aku untuk terus bertahan hidup dan menang dalam hidup ini...
sehingga aku layak beroleh mahkota kehidupanMu itu...
Dan mampukan mereka juga untuk hidup, bertahan, dan menang sebagaimana Engkau mampukan aku...
sehingga kami dapat bersama-sama bersukacita di surga mulia...
bersamaMu, TUHAN, Bapa segala makhluk...
Haleluya...
Haleluya...
Haleluya...
Amin... !!!!!!!

Panggilan TUHAN

Pagi ini aku bangun sedikit lebih pagi dari biasanya... Sedikit, ya sedikit... Nggak terlalu banyak bedanya... tapi lebih mendinglah daripada bangun siang2... Kumulai hari dengan membaca sebentar firman TUHAN dan merenungkannya... Firman yang mengatakan bahwa TUHAN menyapa atau berbicara pada saat kita semua sedang sibuk melakukan pekerjaan rutin sehari-hari... Terus kutuliskan sedikit curahan hatiku sama Bapa di surga... Aku yang sedang menghadapi masa depanku yang penuh harapan ini... Aku nggak mau salah langkah lagi... Aku nggak mau terjebak dalam situasi yang salah lagi... No more... Aku mau berjalan dalam rencana TUHAN yang mulia... Aku mau pikul kuk yang TUHAN pasang di bahuku... kuk yang enak yang bebannya ringan... salib yang memang pas untukku.... bukan beban yang terlalu berat... panggilan TUHAN dan bukan beban... Aku mau berjalan dalam koridor TUHAN... nggak mau jalan sendiri... berjalan dalam pimpinan TUHAN... berserah terus padaNya...

Tuhan, Bapa, terima kasih untuk hari ini... terima kasih untuk berkat dan anugerahMu yang liar biasa... aku mau berserah total padaMu, Bapa... terimalah hidupku sebagai persembahan yang hidup... dalam nama Tuhan Yesus... amin... ^^

Minggu, 21 Maret 2010

Berita Hari Ini ^^

Hiatus sejenak dari tulis menulis cerbung... mau sampai mana itu cerita aku tak tahu... untuk sementara menyibukkan diri dengan hal lain... mungkin nanti setelah ada ide baru aku tuliskan kembali... mohon maaf... aku memang masih belajar... dan belajarku tidak bisa dipaksakan... mungkin aku salah... sekali lagi mohon maaf... hehe...

Seminggu kemarin aku disibukkan dengan urusan lelayu bude Sum yang cukup mengesankan... keluarga besar bisa kumpul... dan nama Tuhan sungguh dimuliakan... aku melayani dengan apa yang ada padaku, sebisaku, semampuku... tapi aku cukup senang dan bahagia karena akhirnya aku melihat jawaban doa dari Tuhan... Pakde Kris akhirnya di depan keluarga menyatakan kembali menginjakkan kakinya ke gereja... aku akan terus berdoa, selama aku ingat, supaya bukan hanya kakinya Pakde Kris saja yang menginjak gereja, tetapi juga hatinya terpaut sama Tuhan Yesus, berakar-bertumbuh-dan berbuah dalam Tuhan Yesus... kenal Tuhan Yesus lebih lagi, dan tidak lagi digoyahkan oleh apapun juga... haleluya... !!!

Kapan ya aku mulai menulis tentang mbah Kasmolo? Hm hm... aku masih perlu belajar juga nih menuliskan riwayat hidup yang runtut... terutama buat kemuliaan Tuhan Yesus... dan akhirnya juga buat kenangan para pewaris kerajaan Tuhan... Berkati kami, Bapa, yang mau menuliskan riwayat hidup Mbah Kasmolo ini dengan hikmatMu... Ajari kami dan mampukan kami untuk menyelesaikan apa yang sudah kami mulai ini... demi nama Tuhan Yesus aku mohon, amin!!!

Akhirnya, setelah lama dinanti dan dirindukan, aku ikut juga sekolah doa di GKI Gejayan... nggak sendirian... bersama dengan teman pewaris kerajaan Tuhan, mas Cahyo... hehe... sebagai permulaan kemarin aku belajar tentang "Apa Itu Doa" dan aku mendapat banyak pengetahuan yang bisa kupraktekkan saat aku bedoa baik sendiri maupun bersama dengan orang lain... tapi ampuni aku Tuhan, kalau aku masih juga jatuh dalam dosa lama, kebiasaan buruk yang nggak layak aku sebut di sini... aku mau janji, lagi, nggak akan melakukannya... demi nama Tuhan Yesus, amin...!!!

Hari ini sebagian urusanku bisa kuselesaikan dengan luar biasa... semua berkat Tuhan... aku bisa mendapat kembali formulir ujian UKDI dan mendapat pinjaman buku latihan soal UKDI dari seorang temanku... timingnya demikian pas dan sempurna... Tuhan benar2 baik dan luar biasa... terus tadi makan berjamaan dengan teman2 Sasando di Amplaz... terus beli dua CD di Pondok Pujian... benar2 hari yang luar biasa... Terima kasih, Tuhan... Terima kasih, mas Cahyo... ^^

Sabtu, 13 Maret 2010

Masalah-4

Malam itu di kamar, Grace gelisah dalam tidurnya. Mimpi-mimpi yang aneh dan absurd kembali menghantui. Sosok yang tampan namun memancarkan aura jahat yang menakutkan. Sosok yang menerornya dengan banyak hal mengerikan yang belum pernah Grace bayangkan. Sosok itu mengancam akan menghabisi nyawa Grace dan menyiksanya di neraka. Selain itu, nasib teman-temannya pun bakalan tidak kalah mengerikannya.
Grace ingin bangun dari mimpinya, namun sepertinya ada kekuatan yang mencegahnya untuk membuka mata.
Seperti mimpi di dalam mimpi.
Membingungkan.
Menakutkan.
“Dalam nama Yesus, enyah kau, roh jahat!!!” seru Grace dengan susah payah. Kemudian bersangsur-angsur mimpi itu memudar dan Grace pun terjaga.
Hari masih terlalu pagi, masih jam dua dini hari.
Dengan berpeluh Grace segera bangun dan duduk di meja belajarnya. Ditulisnya apa yang baru dilihatnya di mimpi itu, dan apa saja yang dirasakannya. Semuanya dilaporkan kepada Bapa di surga.
Semuanya.
Tidak terkecuali.
Grace tidak dapat tidur lagi. Terjaga sampai pagi.
Rasa takut itu datang lagi.

Masalah-3

Siang sehabis kebaktian gereja, Grace dan ketiga temannya pergi bersama-sama ke Puri Nirmala menengok kak Salomo. Mereka membawa oleh-oleh berupa kue-kue kering. Dengan mengendarai Escudo yang dikemudikan oleh Grace, mereka berempat meluncur ke Puri Nirmala di daerah Pakualaman kota Jogja yang teduh oleh rimbunnya pohon-pohon beringin di alun-alun. Puri Nirmala merupakan rumah sakit khusus untuk merawat orang-orang dengan gangguan jiwa. Bangunanya dari luar tampak asri dan nyaman, bercat dan berpagar putih, dengan halaman yang cukup luas untuk parkir mobil. Ada dua unit yang letaknya berdekatan. Kak Salomo dirawat di unit satu. Setelah memarkir mobil Escudonya, Grace dan teman-temannya meminta izin ke penjaga Puri dan mereka pun diperbolehkan masuk menjenguk Kak Salomo.
Di dalam Puri terdapat pelataran yang cukup luas dikelilingi oleh kamar-kamar tempat para pasien dirawat. Ada satu pohon yang cukup rindang di tengah-tengah pelataran. Di bagian barat pelataran adalah ruangan tempat para pegawai Puri Nirmala mengerjakan pekerjaan mereka, menjaga dan mengawasi. Di pelataran dan di kamar-kamar tersebut tampak para pasien sedang duduk-duduk. Ada yang melamun, ada yang ngobrol, ada yang tidur-tiduran. Grace dan teman-temannya mencari di mana kak Salomo berada. Setelah bertanya kepada seorang perawat berseragam kuning, mereka pun segera menuju ke ruangan kak Salomo yang ternyata berada di bagian belakang Puri.
Kak Salomo tampak sedang duduk-duduk di serambi ruangannya. Ruangan kak Salomo tampaknya merupakan ruangan kelas 1 atau VIP, agak berbeda dan sedikit eksklusif jika dibandingkan dengan ruangan-ruangan yang ada di pelataran depan. Kak Salomo sedang membaca-baca majalah, ditemani oleh seorang anggota keluarganya, mungkin kakaknya. Grace dan teman-temannya mendekati kak Salomo.
“Selamat siang, Kak!” sapa mereka. Kak Salomo yang sedang asyik membaca menghentikan kegiatannya dan menoleh pelan ke arah pemanggilnya.
“Eh, kalian…” balas kak Salomo pelan, dengan ekspresi yang tampak sedih.
“Apa kabar, Kak?” tanya Fifi. Kak Salomo tidak segera membalasnya. Ia malah melanjutkan kembali membaca majalah.
“Maaf, adik-adik ini siapa ya?” tanya orang yang duduk di sebelah kak Salomo.
“Kami ini adik angkatan kak Salomo, salam kenal…” kata Yesi dengan ramah. “Maaf kalau kami mengganggu, kami ingin tahu keadaan kak Salomo.”
“Wah, senang sekali Salomo ada yang memperhatikan begini. Saya kakaknya Salomo, kenalkan, Ezra,” kata orang tersebut sambil menjabat tangan Grace dan teman-temannya satu per satu.
Kak Salomo yang sedang membaca tiba-tiba meninggalkan mereka berlima dan masuk ke kamarnya. Tidur. Ezra cuma menggeleng-gelengkan kepalanya, sedih.
“Yah, begitulah keadaan Salomo sekarang,” kata Ezra. “Jarang berbicara, seharian cuma diam dan banyak tidur. Kata dokter yang menangani, Salomo sedang depresi berat.”
“Depresi?” tanya Nita tiba-tiba. “Kalau boleh tahu, kenapa kak Salomo bisa depresi ya? Selama ini kami mengenal kak Salomo selalu ceria dan banyak tertawa.”
“Entahlah…” Ezra mengangkat bahu. “Tiba-tiba kami sekeluarga mendapat kabar bahwa Salomo ditemukan tidak sadar di tempat kostnya. Kami pun segera ke Jogja dan membawa Salomo ke tempat ini untuk mendapatkan perawatan.”
“Tidak sadarkan diri? Maksudnya pingsan atau bagaimana?”tanya Nita.
“Entahlah. Ketika kami tiba di rumah kostnya, yang kami temukan Salomo sedang diam melamun dan mematung, seolah tak menyadari kehadiran siapa pun di dekatnya. Padahal ada dua orang temannya yang juga menemaninya waktu itu. Mereka sama-sama bingung dengan kondisi Samuel.”
“Siapa dua orang teman kak Samuel itu?” tanya Nita lagi.
“Kalau tidak salah namanya Christ dan Robby. Mereka teman-teman seangkatan Salomo,” jawab Ezra. “Kalian kenal?” tanyanya pula.
“Tentu saja kami kenal. Mereka juga anggota PMK, kakak angkatan kami,” jawab Fifi.
“Merekalah yang menganjurkan supaya Salomo dirawat di Puri Nirmala ini sampai kondisinya membaik. Untunglah, Salomo mempunyai teman-teman yang begitu baik dan peduli padanya,” kata Ezra.
“Tentu saja. Kak Salomo kan oraangnya sangat ramah dan pandai,” kata Fifi sambil tersenyum bangga. “Dia pula yang mengajari kami kalau kami ada kesulitan belajar.”
“Wah, aku tidak tahu kalau Salomo sebegitu dicintai oleh orang banyak,” kata Ezra terkagum-kagum.
“O iya, apa saja yang ditemukan bersama kak Salomo waktu itu? Terutama waktu dia ditemukan tidak sadar, entah apa maksudnya dengan tidak sadar…” kata Grace yang sedari tadi diam saja seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Apa ya? Aku kurang tahu tentang itu. Yang aku tahu, Salomo sedang mengerjakan skripsinya. Coba saja tanya ke dua orang temannya, Christ dan Robby,” jawab Ezra sambil melirik ke arah Salomo yang sedang tertidur lelap.
“Apa selama ini kak Salomo pernah bercerita tentang masalah yang dihadapinya, Kak?” tanya Grace lagi.
“Tidak. Salomo tidak pernah menceritakan apa pun masalahnya. Dia terkenal sebagai anak yang cukup kreatif dan cerdas, semua masalah selalu dapat diatasinya sendiri. Akhir-akhir ini dia jarang menghubungi kami keluarganya karena sedang membuat skripsi tugas akhirnya. Padahal dia baru semester lima, tapi sudah mulai mengerjakan skripsinya mendahului rata-rata semua teman seangkatannya. Benar-benar anak yang rajin.”
Semua terdiam untuk beberapa saat. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Terutama Grace. Dia begitu hanyut dalam pikirannya karena terdorong oleh perasaan empati yang sangat dalam. Bagaimanapun juga, Grace pernah mengalami depresi dan dia tahu bagaimana rasanya depresi itu. Grace begitu terdorong untuk menolong kak Salomo, apa pun yang dia bisa lakukan.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Kemudian setelah dilihatnya bahwa kak Salomo tidak bangun-bangun juga dari tidurnya, Grace dan teman-temannya pun pamit mohon diri. Tak lupa oleh-olehnya diserahkan kepada Ezra yang menerimanya dengan senyum hangat.
“Terima kasih, ya, adik-adik. Nanti aku sampaikan ke Salomo oleh-olehnya. Maaf atas sikap Salomo. Yah, kondisinya memang masih belum begitu baik,” kata Ezra sambil menjabat tangan Grace dan teman-temannya sebagai ungkapan perpisahan dan terima kasih.
“Sama-sama., Kak. Kami yang minta maaf kalau mengganggu istirahat Kakak dan Kak Salomo. Kami mohon pamit. Tuhan Yesus memberkati,” kata Fifi mewakili teman-temannya. Ezra agak terkejut dengan ucapan berkat itu dan dengan agak canggung membalasnya dengan anggukan kecil dan senyuman.
Grace dan teman-temannya pun kembali ke rumah masing-masing, satu per satu diantar oleh Grace dengan Escudonya. Ketika sudah sendirian di mobil sambil menyetir, Grace berdoa keras-keras kepada Tuhan. “Bapa, tolong kami untuk bisa menolong kak Salomo, please!” Kemudian Grace pun hanyut dalam pujian dan penyembahan pribadi bersama kaset pujian yang diputarnya. Hari Minggu itu berlalu dengan meninggalkan banyak pertanyaan di hati Grace dan teman-temannya.

Masalah-2

Grace masih penasaran dengan nasib kak Salomo. Seingatnya, kak Salomo adalah orang yang ramah dan pintar. Waktu Grace masuk kuliah pertama kali dulu, dan ikut acara orientasi kampus, kak Salomolah orang yang pertama kali menyapanya dengan hangat. Perkenalan yang cukup seru. Kak Salomo banyak sekali bercanda dan melontarkan humor-humor garing yang membuat Grace dan teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal. Apalagi waktu acara PMK. Kak Salomo suka sekali memeriahkan suasana dengan gayanya yang lucu dalam memuji Tuhan. Rasanya tidak mungkin kak Salomo bisa mengalami stress sampai harus dirawat di Puri Nirmala. Grace begitu simpati dan merasa empati yang amat dalam dengan nasib kak Salomo. Apalagi Grace juga pernah mengalami stress berat, meskipun tidak sampai harus dirawat di rumah sakit, sehingga setidaknya dia merasa senasib dan sepenanggungan dengan kak Salomo.
“Aku ingin menjenguk kak Salomo, setidaknya untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengannya,” kata Grace setelah kuliah selesai.
“Aku juga, Grace,” timpal Yesi. “Tapi kapan ya? Kuliah padat, praktikum tiap sore, belum lagi mau ujian. Duh, bingung deh.”
“Bagaimana kalau besok Minggu? Nggak ada acara kan?” usul Grace.
“Sepertinya nggak ada. Mungkin habis dari kebaktian di gereja, siang-siang kalau begitu,” kata Nita.
“Okelah… berarti besok Minggu kita jenguk kak Salomo di Puri Nirmala bareng-bareng, ya,” kata Grace yang diiyakan oleh semuanya.
“Grace, kamu tadi menyimak kuliah nggak?” tanya Fifi tiba-tiba saat mereka berempat sudah duduk di bangku taman, di bawah pohon jambu monyet yang sedang berbuah lebat.
“Pertanyaan apa itu? Menyindir ya?” balas Grace dengan pura-pura tersinggung. Semua yang mendengarnya tertawa geli.
“Bukan, Grace,” kata Fifi dengan masih tertawa. “Aku cuma mau tanya dan sedikit minta pendapatmu.”
“Tentang apa?”
“Ya tentang apa yang disampaikan oleh dosen kita yang terhormat itu tadi. Tentang gangguan jiwa,” jawab Fifi dengan lebih serius. “Menurutmu, apa yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan jiwa?”
“Wah, ada banyak hal yang bisa bikin seseorang mengalami gangguan jiwa. Bisa karena masalah fisik, misalnya ada gangguan di otaknya. Bisa juga karena masalah psikologis, misalnya karena kepribadian seseorang yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya,” kata Grace mengingat-ingat apa yang tadi didengarnya waktu kuliah.
“Cuma itu saja?” tanya Fifi.
“Maksudmu?” Grace balik bertanya.
“Bagaimana dengan adanya gangguan roh jahat?”
“Ooo, itu…” Grace diam sejenak. “Dosen kita tadi menyangkal dengan tegas adanya fenomena roh jahat.”
“Iya, beliau tidak percaya bahwa roh jahat itu benar-benar ada,” timpal Yesi yang disetujui pula oleh Nita.
“Dosen kita yakin seyakin-yakinnya bahwa yang namanya dirasuk roh jahat itu nggak ada, yang ada hanya gangguan mental,” terang Fifi dengan berapi-api. “Sehingga konsekuensinya, semua yang dianggapnya sebagai gangguan mental itu akan ditanganinya dengan terapi medis seperti yang selama ini dipelajarinya, yaitu dengan obat-obatan atau dengan terapi-terapi yang lain.” Semua mengangguk-angguk mendengarkan Fifi dengan seksama.
“Masalahnya, bagaimana kalau seseorang itu benar-benar kerasukan roh jahat, lepas dari kita mau percaya apa nggak percaya dengan adanya realitas tersebut?” Fifi mengajukan pertanyaan yang lebih terdengar sebagai retorika.
“Memangnya roh jahat benar-benar ada ya?” tanya Nita tiba-tiba.
“Tentu saja ada,” balas Grace dengan mantap. “Di Alkitab kita menjumpai bagaimana Tuhan Yesus sering sekali berkonfrontasi dengan roh-roh jahat.”
“Itu kan di zaman Alkitab, Grace,” kata Nita. “Memangnya zaman sekarang masih ada ya?”
“Tentu saja! Apa yang terjadi di zaman Alkitab itu masih berlaku sampai dengan masa sekarang, bahkan sampai kapan pun!” Grace berseru dengan lantang. Untuk urusan yang satu ini, Grace memang sangat radikal. Radikal dalam iman.
“Berarti mukjizat-mukjizat kesembuhah itu juga masih bisa terjadi sekarang ini, Grace?” tanya Nita. “Kok rasanya mustahil, ya…”
“Nggak ada yang mustahil bagi Tuhan, Nit,” jawab Grace. “Semuanya tergantung bagaimana iman kita, mau mempercayainya atau tidak.” Nita yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala.
“Kembali ke topik roh jahat,” kata Fifi kemudian. “Menurut kalian, apakah semua gangguan jiwa itu disebabkan oleh roh jahat?”
“Hmmm… sepengetahuanku, ada gangguan jiwa yang murni gangguan jiwa, ada juga yang karena dirasuk atau diganggu roh jahat, tapi ada juga yang kombinasi dari gangguan jiwa dan gangguan roh jahat,” kata Grace.
“Wow… lalu bagaimana kita bisa membedakannya?” tanya Nita ingin tahu. Topik ini rupanya telah menarik perhatiannya sedemikian rupa.
Susah sih untuk yang belum berpengalaman,” kata Grace. “Tapi sebagai orang Kristen, kita bisa minta pertolongan Roh Kudus.”
“Wah Grace, kita ini kan sekolah kedokteran, bagaiman kita bisa mengaplikasikan ilmu kita? Kalau masalah Roh Kudus, itu kan jatahnya para pendeta dan hamba Tuhan,” kata Fifi.
“Lho, kita kan bukan sekedar dokter, Kita kan dokter yang Kristen. Jadi, dalam mengaplikasikan ilmu kedokteran yang kita punyai, kita tetap harus berserah pada Roh Kudus,” jawab Grace dengan sabar.
“Ok deh, aku memang belum begitu berpengalaman dalam berhubungan dengan Roh Kudus,” kata Fifi. “Sekarang dari sisi medis aja dulu, apa yang kita lakukan kalau tiba-tiba diperhadapkan dengan seseorang dengan gangguan jiwa yang kita nggak tahu apakah itu murni gangguan jiwa atau karena kerasukan roh jahat?”
“Hmmm…” Grace sibuk berpikir,”Hei, Yesi, sedari tadi kok kamu diam saja? Bagaimana menurut pendapatmu?”
“Aku… aku agak ngeri kalau berbicara tentang roh jahat,” kata Yesi dengan malu-malu. Rupanya Yesi sedang merinding.
“Kenapa ngeri? Inikan realitas yang ada,” kata Grace.
“Yah, takut aja…”
“Yesi, Yesi… bukankah kita semua anak-anak Tuhan? Dan bukankah Roh yang ada pada kita itu lebih besar daripada roh yang ada di dunia ini? Lagipula Tuhan Yesus kan jauh lebih berkuasa daripada roh-roh jahat. Iblis aja takut sama Tuhan Yesus. Jadi, untuk apa kita takut terhadap roh jahat?” kata Grace lagi.
“Kamu nggak takut, Grace?” tanya Yesi.
“Yah, aku pernah takut. Tapi setelah aku mengenal kebenaran firman Tuhan dan percaya kepadaNya dengan sepenuh hati, entah bagaimana ketakutan itu menyingkir,” kata Grace.
“Wah, Grace… seharusnya kamu nggak masuk jurusan kedokteran ini. Seharusnya kamu masuk theologia atau sekolah pelayanan aja,” kata Yesi dengan terkagum-kagum.
“Aku juga sempat berpikiran begitu, tapi sepertinya Tuhan ingin aku di sini untuk rencanaNya yang mulia, entah apa itu,” jawab Grace dengan bijak.
“Terus, bagaimana dengan pertanyaanku yang belum terjawab tadi?” tanya Fifi kembali mengarahkan teman-temannya. “Apa yang dapat kita lakukan untuk menolong orang yang entah dia gangguan jiwa atau dirasuk roh jahat?”
“Menurutku…” kata Yesi mencoba menjawab,”Ada baiknya kita gunakan cara-cara medis seperti yang kita ketahui terlebih dahulu. Misalnya, kalau orang itu gaduh gelisah, kita beri obat penenang sesuai dosis yang diperlukan. Kalau ternyata tidak mempan juga, dan ternyata orang itu malah menunjukkan keganjilan-keganjilan yang tida mungkin terjadi pada orang normal, maka dapat dipastikan bahwa roh jahat terlibat di sana. Saat itulah kita baru menggunakan cara-cara yang dipimpin oleh Roh Kudus, maksudku cara-cara di luar medis… Misalnya dengan doa atau minta bantuan ke hamba Tuhan yang khusus melayani yang seperti itu…”
“Seperti pelayanan pelepasan, begitu kan?” sahut Grace.
“Iya, seperti itu…” lanjut Yesi. “Aku memang masih buta soal pelayanan pelepasan. Tapi sepertinya di masa mendatang kita perlu membuka diri terhadap hal-hal rohani lebih lagi, karena seperti kata Grace, kita ini bukan hanya dokter melainkan dokter Kriten. Mau tidak mau kita bakal berhadapan dengan hal-hal yang tidak dapat dijelaskan oleh nalar manusia. Kita perlu bergantung terus pada Roh Kudus dan firman Tuhan. Begitu kan, Grace?”
“Iya, betul…” kata Grace terkagu-kagum oleh hikmat yang dimiliki Yesi.
“Jadi kesimpulannya, roh jahat itu benar-benar ada dan kita tidak boleh takut dalam menghadapinya. Jangan sampai kita salah mengobati orang yang gangguan jiwa atau dirasuk roh jahat,” kata Fifi mengakhiri diskusinya. Mereka berempat kemudian melanjutkan dengan makan-makan di kantin sambil merencanakan acara kunjungan ke Puri Nirmala menengok kak Salomo.

Jumat, 12 Maret 2010

Masalah

Ada yang bilang bahwa masalah itu mendewasakan seseorang. Semakin banyak masalah yang dihadapi, maka orang tersebut akan semakin terampil dan kuat dalam menjalani hidup. Kuat tidaknya seseorang ditentukan oleh kemampuannya dalam mengatasi masalah. Masalah. Ya, masalah. Ada apa dengan masalah? Mengapa banyak orang menghindarinya padahal justru dengan masalahlah seseorang dapat teruji dan menjadi semakin bertumbuh dewasa? Itulah yang sedang dipikirkan Grace akhir-akhir ini. Kecenderungan Grace untuk berpikir dan merenung merupakan ciri khas Grace selama ini. Apa saja dia pikirkan. Mulai dari hal sederhana sampai hal rumit. Namun jarang sekali pemikirannya itu membuahkan hasil yang membangun dirinya sendiri maupun orang lain. Yang ada malah Grace menjadi mudah stress dan murung berkepanjangan.
“Ayo Grace, jangan melamun terus,” seru Yesi menasihati Grace suatu ketika saat mereka sedang menunggu jam kuliah berikutnya di lobby kampus.
“Ah, siapa yang melamun?” bantah Grace kesal karena pikirannya diinterupsi dengan tidak sopan.
“Lha itu tadi apa? Bengong terus, padahal kita-kita lagi asyik ngerumpi,” kata Yesi diikuti cekikian dan derai tawa teman-teman yang lain.
“Iya, Grace… nggak baik lho melamun sendirian. Mending juga ngobrol-ngobrol sama kita. Atau paling enggak, bagiin dikit kek apa yang sedang kamu pikirkan itu. Siapa tahu berguna buat kita-kita ini,” kata Nita sambil menepuk-nepuk bahu Grace.
“Sudah kubilang aku nggak melamun. Aku cuma lagi mikir…”
“Mikirin apa sih, Grace?” tanya Fifi, seorang teman PMK Grace yang juga sedang menunggu jam kuliah.
“Mau tahu aja… aku jadi lupa nih tadi mikir apa aja, gara-gara kalian sih yang memutus pikiranku…” kata Grace dengan nada agak menyesal.
“Aduh, Grace… paling juga lagi mikirin praktikum atau ujian sebentar lagi,” sahut Yesi. “Sudahlah, nggak usah dipikirin sampai pusing begitu. Kita-kita juga sama-sama belum belajar kok,” sambungnya.
“Siapa yang mikir ujian? Terus apanya yang belum belajar? Nggak usah belajar juga kalian pasti bisa menghadapi ujian dengan sukses, kalian kan pintar,” kata Grace dengan nada merendah karena sadar bahwa prestasi akademisnyalah yang paling kacau di antara semuanya.
“Ah nggak juga Grace, kita-kita nih biasa-biasa aja… Kalau nggak belajar juga nilainya pasti jelek… Kamu itu yang pintar, jarang belajar tapi bisa lulus terus ujiannya,” kara Nita membesarkan hati Grace.
“Apanya yang pintar? Nilaiku pas-pasan aja, nggak seperti nilai kalian yang selalu cum laude,” bantah Grace masih saja merendah.
“Grace, Grace… apalah artinya nilai dibanding dengan proses yang sudah kita lalui selama kuliah? Yang penting itu bukan nilainya Grace, tapi apakah kita memahami apa yang kita pelajari,” kata Fifi dengan bijaknya. Semua pun mengamininya.
“Ya sudah, aku menyerah deh…” kata Grace dengan tersenyum simpul. “Kalian lagi ngerumpiin apa sih?”
“Ah ini Grace, kita lagi ngomongin kak Salomo, tahu kan?” kata Yesi.
“Kak Salomo?” tanya Grace penasaran.
“Iya, kakak angkatan kita itu, anak PMK juga,” kata Nita. “Dengar-dengar katanya dia ditemukan nggak sadarkan diri di kamar kostnya.”
“Hah? Kok bisa?” tanya Grace kaget.
“Gak tahu, tapi kata kak Christ, teman dekatnya, kak Salomo akhir-akhir ini sedang mengalami stress berat,” sambung Fifi.
“Stres berat?”
“Iya, katanya sih begitu. Nggak tahu sebabnya apa,” jawab Yesi.
“Terus sekarang gimana keadaannya kak Salomo?”
“Yah, sekarang sih katanya dia dirawat di Puri Nirmala,” jawab Nita dengan nada prihatin.
“Puri Nirmala? Separah itukah?” tanya Grace. “Terus gimana tanggapan teman-teman PMK?” lanjutnya.
“Wah kita masih belum tahu, Grace. Lagipula, sepertinya ini masih dirahasiakan, belum banyak yang tahu,” jawab Nita.
“Nggak ada yang pernah nyoba nengok kak Salomo?”
Semuanya menggelengkan kepala.
Pembicaraan itu terhenti karena dosen mata kuliah selanjutnya telah memasuki ruang kuliah. Mereka pun segera memasuki ruang kuliah dan untuk sesaat persoalah itu terlupakan.

Semangat Baru-4

Grace pulang dengan hati yang gembira namun ada sedikit ganjalan. Grace masih belum bisa mengingat apa yang menjadi masalahnya sebulan yang lalu. Apalagi kalau masalah itu berupa mimpi yang mengganggunya. Mimpi apa itu, Grace sudah lupa sama sekali. Kegiatan persekutuan dan kuliah yang begitu padat begitu membuatnya sibuk sehingga cukup untuk membuatnya lupa akan mimpi-mimpinya.
“Perlukah aku mengingat-ingat kembali mimpiku?” pikir Grace.
Sebelum tidur, disempatkannya untuk berdoa terlebih dahulu kepada Tuhan. “Bapa, terima kasih ya. Hari ini sungguh luar biasa. Aku sangat menikmati semua berkat dan anugerahMu. Cuma masih ada satu ganjalan, yaitu mengenai masalah yang aku lupakan. Apa itu, Bapa? Aku benar-benar lupa. Kalau memang penting sekali, tolong ingatkan aku. Tapi kalau tidak penting, biarlah semuanya berlalu. Terima kasih, Bapa. Sekarang aku mau tidur. Aku serahkan semuanya ke dalam tanganMu. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.”
Grace pun tertidur.
Tidur yang nyenyak.
Tanpa mimpi.
Setidaknya belum.

Semangat Baru-3

Sore yang dinantikan pun tiba. Grace kembali menghadiri persekutuan GA di Iromejan. Sore itu giliran Grace yang menceritakan kesaksian hidupnya, apa saja yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidupnya selama ini. Grace pun mulai bercerita. Ia menceritakan sebagian kisah hidupnya, khususnya bagaimana ia mengalami stress berat, sejauh yang bisa diingatnya. Bagaimana awal mulanya Grace bisa jatuh sakit setahun yang lalu, Grace sendiri tidak begitu mengetahui sebabnya. Ia hanya tahu bahwa tiba-tiba saja ia mempunyai berbagai macam pikiran aneh yang mendorongnya dengan begitu kuat untuk melakukan hal-hal di luar batas kewajaran. Dengan tulus Grace meminta maaf kepada teman-teman GA, terutama kepada Bang Immanuel, karena ia telah melakukan hal-hal yang membuat mereka malu dan dituduh macam-macam oleh keluarga Grace.
“Tuhan telah begitu baik padaku dan telah membuktikan kasih setiaNya dengan memulihkanku dan mengembalikanku seperti sedia kala. Aku minta maaf telah merepotkan teman-teman semua dan membuat nama GA menjadi tercoreng. Semoga kesaksianku ini dapat menjadi berkat buat kita semua,” Grace mengakhiri kesaksiannya dengan diikuti oleh teput tangan dari semua anggota GA. Semua telah menyimak baik-baik kesaksian Grace tanpa ada yang menyela. Dan semua telah mendapat berkat dari kesaksian itu.
“Ya itu tadi kesaksian dari Grace,” kata Bang Immanuel kemudian. “Memang betul bahwa Tuhan itu begitu baik dan setia kepada kita, meskipun kita tidak setia Dia tetap setia. Salut buat Grace yang berani terbuka dan menceritakan pengalaman yang bisa dibilang menjadi aib dalam kehidupannya. Tapi bersama Tuhan, apa yang tadinya dianggap sebagai aib itu dapat menjadi indah pada waktuNya.”
Setelah Grace, beberapa orang bergantian menceritakan pengalamannya dengan diakhiri oleh komentar dan kesimpulan dari Bang Immanuel. Kemudian acara persekutuan dilanjutkan dengan pujian dan penyembahan seperti biasanya , firman Tuhan yang disampaikan oleh Bang Immanuel, dan diakhiri dengan doa-doa syafaat. Semua berjalan dengan lancer dan semarak.
“Grace, bisa ngobrol-ngobrol sebentar nggak?” tanya Bang Immanuel saat acara sudah selesai dan Grace sudah bersiap-siap hendak pulang.
“Yah, asal nggak terlalu lama, Bang,” jawab Grace.
“Nggak lama kok, paling cuma 15 menit,” kata Bang Immanuel.
“Ok. Mau ngobrol apa Bang?”
“Mulai dari mana ya?”
“Nggak usah bingung, Bang,” kata Grace dengan tertawa kecil.
“Hehe, gini Grace… Kira-kira sebulan yang lalu, abang ngobrol sama Melody. Melody sebenarnya yang ngajak.”
“Terus?”
“Terus intinya, Melody ngasih tahu abang kalau waktu itu Grace sedang ada masalah. Berhubungan dengan mimpi yang mengganggu. Melody menunjukkan SMS yang Grace kirim pagi-pagi.” Grace mendengarkan tanpa menyela. “Memangnya ada masalah apa, Grace?”
“Wah, aku sudah agak lupa, Bang,” jawab Grace jujur.
“Coba diingat-ingat lagi,” bujuk Bang Immanuel.
“Apa ya? Sudah sebulan yang lalu sih, aku sudah agak lupa karena sibuk kuliah juga.”
“Ya sudah kalau begitu,” kata Bang Immanuel. “Tapi kalau tiba-tiba ada masalah atau kamu ingat akan masalah itu, jangan ragu-ragu untuk cerita, ya. Bisa ke Melody, Martin, abang, atau siapa saja yang Grace percaya. Pokoknya jangan dipendam sendiri, biar nggak stress lagi. Ok?”
“Ok, Bang,” jawab Grace.
“Sudah, itu saja yang abang ingin sampaikan. Kalau mau pulang sekarang, silakan aja. Hati-hati di jalan ya…” kata Bang Immanuel.
“Baik, Bang. Aku pulang dulu ya. Shallom!”
“Shallom!”

Kamis, 11 Maret 2010

Semangat Baru-2

Hari yang indah, hari yang cerah, secerah suasana hati Grace. Kuliah hari itu terasa sangat menyenangkan. Hari Senin yang biasanya membuat sebagian besar orang merasa malas dan berat untuk melangkah, menjadi hari yang begitu istimewa bagi Grace.
“I love Monday!” seru Grace kepada dirinya sendiri sambil menyetir Escudo ke kampus. Sambil mendengarkan siaran lagu-lagu rohani di radio Sasando fm, Grace bersiap melalui hari itu dengan penuh semangat.
“Allah sumber kuatku… Allah sumber kuatku… dan bagianku selamanya…” begitu bunyi pujian yang sedang didengarkan dan disenandungkan Grace. Wajahnya begitu sumringah. Disapanya bapak satpam yang menjaga pintu masuk ke kampus, “Selamat pagi, Pak!” Bapak satpam sampai bingung karena tidak biasanya Grace menyapa begitu ramahnya. Biasanya Grace tampak murung dan lesu, tapi kali ini dilihatnya Grace tampak begitu bersinar dan berseri-seri.
Grace melangkahkan kakinya dengan mantap menuju ruang kuliah setelah memarkirkan Escudonya. Tanpa terasa senyum manis tersungging di mulutnya. Beberapa teman kuliah Grace memperhatikan perubahan pada diri Grace dan terheran-heran. Grace yang biasanya nampak tidak bersemangat itu sekarang nampak begitu percaya diri.
“Pagi, Grace!” sapa Nita, salah satu teman Grace yang juga anak PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen).”Wah, kamu tampak ceria sekali hari ini,” sambungnya dengan tulus.
“Halo, Nita!” balas Grace dengan tak kalah ramahnya. “Iya nih, aku senang sekali.”
“Wah, boleh dong dibagi senangnya. Ada apa nih, baru dapat hadiah ya? Hehe…” tanya Nita lagi.
“Boleh aja… Aku merasakan betapa Tuhan begitu baik padaku, itu aja… hehe.,.” jawab Grace.
“Wah, aku turut senang. Akhirnya Grace bisa ceria juga, selama ini kan kamu kelihatan suntuk terus…”
“O ya? Wah, aku memang sedang ada masalah yang berat akhir-akhir ini, tapi puji Tuhan semuanya sudah selesai…” kata Grace dengan percaya diri.
“Puji Tuhan, aku senang mendengarnya. Yuk Grace, kita duduk sebelahan. Sudah lama kan nggak duduk dan ngobrol bareng,” ajak Nita.
“Yuk,” Grace pun menyambut ajakan Nita.
Bukan Hanya Nita saja yang senang melihat Grace. Teman-teman yang lain, terutama yang tergabung dalam PMK ikut senang melihat apa yang telah Tuhan kerjakan dalam diri Grace. Mereka turut merasakan semangat yang Grace rasakan.
“Hai, Grace!!!” seru Yesi, teman dekat Grace sejak dari SMA.
“Hai, Yesi!!! Lama nggak ketemu!” balas Grace.
“Apanya yang lama nggak ketemu? Kamunya aja yang selalu menyendiri dan nggak pernah ikut gabung dengan kita-kita,” kata Yesi sambil menonjok lengan Grace.
“Aduh! Sakit, tahu!” teriak Grace. Mereka pun tertawa-tawa gembira bersama menyambut hari yang baru di mana Grace telah kembali menjadi Grace yang penuh semangat.
“Ke mana aja kamu, Grace?” tanya Yesi.
“Ke Mesir,” jawab Grace asal.
“Dasar, bercanda terus deh kamu sekarang. Serius nih,” kata Yesi pura-pura kesal.
“Iya, ke Mesir secara rohani. Aku lagi jadi budak yang nggak tahu arah tujuan, lagi stress berat,” jawab Grace.
“Kok bisa sih? Kok nggak cerita-cerita? Kita kan teman,” kata Yesi lagi.
“Ya maaf deh… Aku terlalu stress sehingga melupakan banyak hal berharga yang ada di sekitarku…”
“Hehe… Grace, Grace… Ya sudah, yang penting sekarang kamu sudah nggak stress lagi.”
“Iya, makasih ya, Yes.”
Grace pun duduk di antara Yesi dan Nita dan mereka mengikuti kuliah dari pagi sampai siang dengan penuh perhatian. Benar-benar hari yang menyenangkan. Grace sungguh bersyukur.
“Terima kasih, Tuhan,” batin Grace.

Semangat Baru

Sebulan telah berlalu sejak Grace kembali bergabung dengan God’s Army. Grace tidak lagi hanya berkutat dengan kuliah yang penat dan membosankan. Kali ini Grace punya hal lain yang menyenangkan hatinya yang bisa menjadi tempat pelariannya sekaligus penawar kerinduan hatinya yang paling dalam. Semacam pengalih perhatian dari kenyataan yang tidak terlalu menyenangkan. Sejujurnya, Grace merasa kemungkinan dia telah salah memilih jurusan kuliah karena Grace merasa kewalahan dengan beban mata kuliah yang harus diambilnya. Tidak seperti ketika saat di bangku sekolah dulu di mana Grace masih bisa mengikuti dinamika yang ada. Kali ini Grace harus memeras otaknya sedemikian rupa hanya untuk memahami apa yang dia pelajari. Benar-benar pekerjaan yang menyiksanya. Tidak menyenangkan. Maka dari itu, hari Senin sore merupakan saat-saat yang paling ditunggunya di mana Grace bisa melepaskan segala kepenatannya dalam penyembahan yang begitu ekspresif di persekutuan GA.
Semangat Grace terpompa seiring semakin intensnya ia larut dalam kegiatan-kegiatan God’s Army. Rasa lelah dan penat sehabis kuliah dan praktikum tergantikan dengan sukacita dan euphoria yang dirasakannya saat mengikuti persekutuan GA. Prioritas hidupnya tersusun kembali dengan persekutuan GA berada di tempat teratas. Bagi Grace, persekutuan itu lebih penting nilainya daripada kuliah. Bahkan Grace merasakan hubungan dengan teman-teman persekutuan itu lebih erat dan dalam daripada hubungan dengan keluarganya sendiri di rumah. Entah ini benar atau tidak, pikir Grace. Untuk sementara ini Grace tidak mau membebani pikirannya yang masih agak labil itu dengan hal-hal yang memusingkan dan membingungkannya.
Yang paling melihat perubahan yang terjadi dalam diri Grace adalah kedua orang tua Grace, Putri dan Gunawan, terutama Putri. Dalam hat, Putri merasa bersyukur sekaligus kuatir. Bersyukur karena kini Grace kembali bersemangat dan ceria, tidak lagi loyo dan tanpa tenaga. Meskipun komunikasi yang terbuka masih belum ada antara dirinya dengan Grace, Putri amat bersyukur pada Tuhan atas perubahan ini. Namun Putri juga sedikit kuatir akan prioritas hidup Grace yang nampaknya agak menyepelekan kuliahnya. Kuliah Grace yang membutuhkan konsentrasi dan ketekunan serta kedisiplinan tinggi dalam belajar itu mana boleh ditinggalkan atau diabaikan. Padahal selama sebulan ini Putri melihat Grace terlalu asyik mengikuti kegiatan persekutuan GA sampai malam dan kalau sudah pulang biasanya Grace langsung tertidur tanpa sempat belajar apa-apa lagi. Putri prihatin dan kuatir Grace akan ketinggalan dalam studinya.
Suatu pagi, ketika Putri punya kesempatan untuk ngobrol berdua saja dengan Grace, Putri menyampaikan kegelisahannya itu. “Grace, ibu cuma ingin menasihati…” kata Putri yang dibalas dengan tatapan Grace yang tanpa menunjukkan emosi apa-apa, datar. “Kalau ikut persekutuan sih boleh-boleh saja, tapi jangan terlalu larut atau asyik sehingga melupakan tugas belajarmu yang utama. Boleh kamu punya hobby atau kesenangan, tapi kamu juga harus ingat bahwa kamu masih hidup dalam dunia nyata.”
“Iya, iya…” dengus Grace agak kesal. Dalam hati Grace ingin berkata kepada ibunya bahwa persekutuan itu merupakan pilar yang menjaganya untuk tetap hidup dan bersemangat. Tanpa persekutuan, maka hidup akan terasa hampa. Apa gunanya kuliah sukses tapi dirinya tidak merasa sukacita? Tapi semua itu tidak disampaikan oleh Grace karena selama ini memang ada semacam tembok tidak kelihatan yang memisahkan antara Grace dengan Putri. Grace dapat merasakan hal itu, demikian juga Putri, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang berinisiatif untuk menembus atau menghancurkan tembok yang ada tersebut.
“Pak, sepertinya kita perlu membatasi kegiatan Grace di luar kuliahnya,” kata Putri kepada Gunawan ketika Grace sedang tidak ada di rumah.
“Maksudmu kegiatan persekutuannya di Iromejan itu?” tanya Gunawan.
“Yang mana lagi?” Putri balik bertanya. “Aku kuatir kuliah Grace bakalan keteteran.”
“Yah, selama Grace masih bisa menikmati hidupnya dan tidak terjadi apa-apa, aku sih tidak keberatan Grace ikut kegiatan apa pun.”
“Tapi aku lihat sepertinya Grace mulai salah menaruh prioritas,” kata Putri dengan nada tidak sabar melihat reaksi suaminya yang terlalu santai itu.
“Grace kan sudah besar, sudah bukan hak kita lagi untuk ikut campur dengan urusan-urusannya,” balas Gunawan masih dengan nada santai seolah tidak terlalu peduli akan kegusaran Putri.
“Tapi Pak…”
“Sudah… percayakan saja pada Grace… katanya kita orang Kristen harus percaya dan berserah pada Tuhan… buktikan dong…” kata Gunawan dengan nada yang agak menyindir. Selama ini memang Gunawan sering disindir oleh Putri karena kurang menunjukkan keimanannya, maka kali ini Gunawan balik menyindir Putri.
Putri tidak lagi menjawab. Hanya mendengus kesal dengan sindiran Gunawan. Huh, memangnya siapa yang tidak beriman, batin Putri. Ingin rasanya membalas Gunawan dengan sindiran yang lebih tajam lagi, tapi Putri menahan diri untuk tidak memperkeruh suasana. Masih bagus mereka masih bisa berkomunikasi meskipun dingin dan tidak ada kemesraan di dalamnya, daripada harus bercerai seperti apa yang hampir saja terjadi beberpaa tahun yang lalu, saat Grace masuk SMP.
“Ya Tuhan, tolong ampuni aku dan suamiku…” batin Putri. Putri masih merasa bersalah karena hampir retaknya hubungan antara dia dengan Gunawan itu mungkin menyebabkan luka hati yang permanen pada diri Grace sehingga memutuskan hubungan komunikasi yang mesra dalam keluarganya. Seandainya James, anak sulungnya di sini, tentu suasana akan menjadi lebih hangat dan menyenangkan, pikir Putri.

Rabu, 10 Maret 2010

Gunawan

Malam itu Gunawan tidak bisa tenang memikirkan Grace, putrinya, yang entah kenapa rela diizinkannya untuk kembali mengikuti kegiatan persekutuan God’s Army. Persekutuan atau kegiatan keagamaan memang sengaja Gunawan hindarkan selama ini dari Grace karena Gunawan yakin kegiatan-kegiatan semacam itulah yang menyebabkan Grace stress berat setahun yang lalu. Gunawan memang bukan orang yang terlalu mementingkan hal-hal yang berbau rohani dalam hidupnya. Bahkan ia cenderung skeptis terhadap hal-hal rohani itu. Baginya, yang penting ia bekerja dan berusaha untuk kebaikan dan kelanggengan keluarganya, itu sudah cukup. Urusan doa dan ibadah cukup dilakukan setiap kali makan dan menghadiri kebaktian hari Minggu. Rasa-rasanya tidaklah terlalu perlu bagi Gunawan untuk menambah aktivitas kerohanian selain itu. Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana hidup berdampingan dengan tetangga yang berlainan keyakinan tanpa harus terlalu fanatik terhadap keyaninan pribadinya. Karena itu Gunawan lebih banyak terlibat dalam aktivitas ronda dan tenis bersama tetangganya daripada bersekutu dengan jemaat di gereja atau persekutuan.
Gunawan yang sekuler dan Grace yang sangat rohani. Benar-benar dua kutub yang berlainan. Tapi biar bagaimana pun juga, Gunawan tetaplah ayah Grace yang sangat bertanggung jawab. Dia tidak akan pernah membiarkan Grace mengalami hal-hal yang membahayakan dirinya maupun orang lain. Karena itu, ketika Grace pertama kali stres berat setahun yang lalu dan kabur dari rumah, Gunawan dengan panik menghubungi semua keluarga dan kenalannya dan mencari Grace ke sana ke mari sampai ditemukannya Grace sedang duduk terpekur di rumah Ibu Isadora, guru sekolah Grace. Itu sudah setahun berlalu, tapi Gunawan merasa masih seperti kemarin saja. Dia tidak rela kehilangan Grace lagi. Karena itu, Gunawan tidak dapat tidur sebelum Grace pulang dari acara persekutuan malam itu.
“Aku pulang,” terdengar suara Grace yang masuk ke rumah setelah memarkirkan mobil Escudo yang biasa dikendarainya ke mana-mana.
Gunawan hanya berdeham tanpa berkata apa-apa untuk membalasnya. Memang dia tidak terbiasa untuk berkomunikasi verbal dengan anggota keluarganya. Gunawan cenderung dingin dan kaku dalam berkomunikasi, tapi dalam hatinya ia sebetulnya adalah ayah yang baik dan penyayang. Dilihatnya Grace tampak lebih cerah dan ceria. Mungkin acara persekutuan malam itu telah membangkitkan semangat Grace. Mungkin perkiraannya selama ini salah. Mungkin bukan persekutuan itu yang membuat Grace menjadi stress berat. Yah, kita lihat saja nanti, pikir Gunawan.
“Sudah makan belum?” tanya Gunawan kepada Grace yang sedang melepas sandalnya.
“Belum. Nggak lapar,” jawab Grace singkat kemudian langsung naik ke atas ke kamar tidurnya. Sepertinya Grace bakal langsung tertidur.
Gunawan kembali tenggelam dalam membaca koran hari itu. Pikirannya yang tadinya begitu mengkhawatirkan Grace lambat laun berangsur tenang. Sebenarnya Gunawan ingin sekali ngobrol-ngobrol dengan Grace, tetapi ia tidak tahu bagaimana memulainya. Gunawan ingin tahu apa saja yang dilakukan Grace, bagaimana kuliahnya, dan apa sih sebenarnya yang disukainya dari kegiatan persekutuan. Ingin rasanya Gunawan kembali ke masa ketika Grace masih anak-anak, masih sekolah dasar. Dulu, Grace begitu dekat dan terbuka dengannya. Apa pun Grace ceritakan kepada Gunawan. Tentang sekolah, tentang teman-teman, tentang guru, dan tentang cita-citanya. Gunawan begitu bangga karena Grace sangat mengidolakannya. Tapi ketika Grace beranjak SMP, semua itu seolah berubah dengan drastis. Gunawan tahu betul apa sebabnya. Kenangan pahit. Gunawan tidak ingin mengingatnya. Cukup semuanya terkubur di masa lalu. Semuanya sudah berlalu. Yang penting sekarang keluarganya masih utuh.
Hari sudah larut malam ketika Gunawan selesai membaca koran. Waktunya untuk tidur. Gunawan pun naik ke lantai atas dan masuk ke kamar tidurnya yang terpisah dari kamar tidur Putri, istrinya. Sudah beberapa tahun ini mereka tidur terpisah meskipun masih satu rumah. Tidak ada yang tahu apa sebabnya. Hanya Gunawan dan Putri saja yang tahu. Dan Grace pun tidak pernah bertanya atau protes. Yah, inilah keluargaku, pikir Gunawan. Baik atau buruk, tetaplah keluargaku.

Selasa, 09 Maret 2010

God's Army

Kerinduan yang mendalam. Rindu akan suasana dan saat-saat seperti ini. Sore ini. Di ruangan yang sama. Berada bersama dengan teman-teman yang luar biasa. Grace merasakan dirinya hanyut dalam euphoria dan ekstase hadirat Tuhan yang begitu nyata saat ia melantunkan pujian dan penyembahan dengan berekspresi sebebas-bebasnya. Tidak ada rasa canggung. Tidak ada rasa sungkan. Tidak ada lagi keharusan untuk membatasi ekspresinya. Semuanya mengalir. Semua tercurah. Tangisan. Tawa. Sukacita. Haru. Semua mengalir begitu indah, menjadi harmoni dalam hati yang terpancar keluar melalui penyembahan yang kudus. Grace kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan. Betapa Tuhan telah begitu baik padanya. Betapa Tuhan telah menjawab seru doanya. Betapa selama ini Grace begitu merindukan saat-saat seperti ini, bersama dengan Tuhan, selamanya. Dan tibalah saat-saat yang mendebarkan itu. Ketika suasana hadirat Tuhan semakin memuncak, dan Grace kehabisan kata-kata untuk mengekspresikan betapa ia mencintai Tuhan, keluarlah dia. Kata-kata yang mengalir melalui lidahnya, yang pada mulanya pelan, lama kelamaan mengeras seperti dengungan lebah. Kata-kata yang tidak ada yang dapat memahaminya. Pertama-tama satu dua suku kata, kemudian bermunculan berbagai macam suku kata sehingga seperti membentuk kalimat dalam bahasa asing yang tidak dikenalnya. Bahasa Roh, itulah yang dikenal oleh Grace dan teman-temannya. Bukan hanya Grace yang mengeluarkan kata-kata asing dengan lidahnya. Melody, Bang Immanuel, dan beberapa orang turut mengeluarkan kata-kata asing itu. Suasana penyembahan menjadi riuh rendah oleh bunyi genjrengan gitar, senandung nada, dan bahasa Roh yang makin lama makin keras intensitasnya. Semua hanyut dalam penyembahan, tidak ada yang terkecuali. Entah mereka diam, menyanyi, berdiri, sujud, duduk, berbahasa Roh maupun bermazmur. Ruangan yang kecil itu menjadi penuh dengan hadirat kemuliaan Tuhan. Seperti kebut tebal yang menyelimuti seluruh ruangan. Begitu dahsyat dan luar biasa.
Tangisan dan tawa yang kudus memenuhi ruangan. Grace menangis dan sekaligus tertawa dalam hadirat Tuhan. Semua beban hatinya terangkat.
“Oh, terima kasih Tuhan… Terima kasih Bapa… Terima kasih Roh Kudus…” seru Grace. “Engkau baik…Engkau sungguh baik… Haleluya,” diserukannya berulang-ulang ungkapan terima kasih, pengagungan, dan penghormatan kepada TUHAN semesta alam, Yesus Kristus yang hidup.
Tangan Grace tiba-tiba bergetar tanpa dapat dikendalikannya. Getaran yang menggoncang badannya. Goncangan yang mengingatkan Grace akan kebesaran Tuhan. Grace ingat akan peristiwa Paulus dan Silas yang menyanyikan puji-pujian di penjara hingga terjadi persitiwa gempa bumi yang menggoncangkan sehingga pintu penjara terbuka. Grace yakin ini goncangan yang serupa dengan itu. Goncangan yang membebaskannya dari belenggu depresi yang selama ini mengikatnya. Grace merasakan kelepasan dan sukacita yang luar biasa.
Grace merasakan tangan Bang Immanuel menyentuh puncak kepalanya. Dan didengarnya Bang Immanuel berdoa dengan suara keras, “Ya Tuhan, Bapa kami, berkatilah anakMu Grace ini. Kiranya Engkau berikan kesembuhan dan pemulihan yang sempurna bagi jiwanya. Tidak ada lagi yang dapat mengikatnya dan menghalanginya untuk menyembahMu karena Engkaulah yang telah membebaskannya. Kami minta perlindungan darahMu, Tuhan Yesus, yang menyucikan dan mentahirkan Grace. Mulai saat ini Grace tidak lagi berada dalam baying-bayang depresi maupun sakit penyakit apa pun. Dalam nama Tuhan Yesus, amin!!!”
Betapa Grace merasa sangat dikuatkan oleh doa yang dinaikkan dan diimani bersama-sama itu. Malam itu menjadi malam milik Grace dan Tuhan. Seolah-olah persekutuan itu ada hanya untuk Grace. Semuanya seperti sudah diatur sedemikian rupa untuk membuktikan kepada Grace bahwa Tuhan masih sayang kepadanya.
“Tuhan Yesus, terima kasih… terima kasih...,” batin Grace penuh dengan ucapan syukur.
Melody kembali merangkul Grace dan memeluknya dengan erat. Grace merasakan hangatnya kasih yang terpancar dari Melody, mengisi relung hatinya. Dan kemudian Melody pun membisikkan kata-kata hikmat,” Tuhan berkata bahwa apa yang membuatmu takut itu telah disingkirkan oleh Tuhan. Jangan lagi merasa takut. Sebab engkau adalah anakNya yang amat sangat berharga. Mimpi-mimpi yang menakutkan itu tidak mengganggumu lagi sebab Tuhan melindungimu…” Grace takjub dengan ketepatan kata-kata yang disampaikan oleh Melody. Sekali lagi, Grace kagum akan karunia yang diberikan Tuhan kepada Melody. Karunia rohani yang sangat berguna pada saat yang tepat. Grace merasa sangat dikuatkan dan diteguhkan.
“Terima kasih, Tuhan… terima kasih, Melody,” kata Grace.
Dan penyembahan itu pun berlangsung dengan sempurna, menjadi dupa yang harum bagi kemuliaan Tuhan. Semua yang hadir mendapatkan menyegaran dan pembaharuan dalam hati mereka. Hari mereka kini telah siap untuk diisi dengan firman Tuhan. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Bang Immanuel begitu sederhana tapi sangat menguatkan iman dan menantang siapa pun juga untuk lebih lagi mengasihi dan melayani Tuhan dengan sepenuh hati. Doa-doa dipanjatkan dengan penuh kuasa. Doa syafaat untuk kebutuhan-kebutuhan khusus dinaikkan bersama-sama. Grace begitu bersemangat mendoakan bangsa dan negara, gereja, dan pergumulan hidup anak-anak muda di kota Yogyakarta tercinta. Semuanya seperti telah kembali seperti sediakala. Malah lebih baik lagi. Grace merasa telah kembali ke tempat di mana dia seharusnya berada. Sungguh suatu persekutuan yang indah dan dahsyat luar biasa. Grace tidak menyesal telah memenuhi undangan Bang Immanuel.
Inilah God’s Army yang Grace banggakan. Sepasukan tentara Tuhan yang siap sedia selalu setiap waktu. Berperang bukan dengan senjata buatan manusia karena lawannya bukanlah darah dan daging, melainkan roh-roh jahat di udara. Senjata yang digunakan adalah selengkap senjata Tuhan. Puji-pujian dan doa syafaat merupakan spesialisasi pelayanan God’s Army. Puji-pujian yang sering dipandang remeh oleh jemaat Tuhan di gereja pada umumnya, ternyata di tangan anak-anak Tuhan yang tergabung dalam God’s Army dapat dipakai untuk memuliakan nama Tuhan dan menjadi senjata yang ampuh dalam peperangan rohani. Grace begitu menikmati semua yang dialaminya bersama God’s Army dulu. Dan sekarang dia telah kembali mengenakan kembali senjatanya, siap untuk peperangan rohani berikutnya. Ya, apa pun yang akan dihadapinya. Grace telah siap.

Grace III

Datang. Tidak. Datang. Tidak. Grace bingung. Bimbang. Perlukah dia datang ke persekutuan God’s Army sore itu, setelah setahun tidak pernah terlibat dalam aktivitas apa pun selain kuliah, setelah apa yang dialaminya setahun yang lalu. Grace merasa malu dan tidak layak. Beberapa kenangan yang membuatnya malu terlintas kembali dalam benaknya. Bagaimana di gereja dia seperti orang yang hilang kendali, berlari ke sana ke mari dan melompat-lompat di tengah-tengah kebaktian Sabtu sore. Rasanya begitu penuh dengan energi yang harus disalurkan dan diluapkan. Euforia yang amat sangat dahsyat. Benar-benar membuat Grace tak habis pikir. Grace yang biasanya kalem dan cenderung pendiam itu bisa menjadi begitu terbuka dan sangat lincah. Dari introvert menjadi sangat ekstrovert. Itu semua terjadi sebelum kejadian Grace kabur dari rumah. Begitu rumit dan membingungkan. Grace tidak mau mengingatnya lagi. Sudah cukup.
“Bu, aku mau ke persekutuan GA di Iromejan sore ini…” kata Grace meminta izin kepada Putri, ibunya.
Putri diam sejenak, berpikir. Kemudian berkata, “Coba tanya ke bapak ya, boleh apa enggak…”
Grace pun dengan enggan bertanya kepada Gunawan, ayahnya, “Pak, aku mau ke persekutuan GA di Iromejan…”
Diam. Kemudian, “Jam berapa?”
“Jam lima sore ini…”
“Tapi langsung pulang ya, setelah selesai acaranya,” kata Gunawan sambil membaca koran.
Grace masih terheran-heran dengan izin yang diberikan oleh orang tuanya. Selama setahun ini Grace tidak pernah diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan persekutuan apa pun di luar kegiatan yang berhubungan dengan kuliah. Grace hanya diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan persekutuan di PMK saja. Itu pun hanya mengikuti acara Persekutuan Umum tiap Jumat. Sangat jauh berbeda suasananya dengan persekutuan GA sehingga membuat Grace agak canggung dan kurang nyaman. Di persekutuan GA, Grace bisa bebas berekspresi dalam memuji dan menyembah Tuhan. Sedangkan di persekutuan umum PMK, Grace harus sedikit menahan diri untuk tidak terlalu berekspresi karena mengingat latar belakang denominasi gereja yang bermacam-macam dari teman-teman kuliahnya. Benar-benar membuat Grace kurang nyaman dan kurang bebas. Tapi semua itu dijalaninya demi mendapatkan secercah penghiburan dan penyegaran rohani.
Sesampai di Iromejan, di rumah kontrakan Bang Imanuel, Grace takjub dengan banyaknya anak muda yang telah berkumpul di ruangan yang agak sempit. Ada banyak orang yang belum pernah dikenalnya selama ini, tapi ada beberapa orang yang dikenalnya, termasuk di antaranya adalah Bang Immanuel, Martin, dan Melody. Dilihatnya mereka sedang asyik ngobrol dan bercanda. Grace merasa canggung untuk masuk ke dalam ruangan itu.
“Haloooo, Grace…!!!” suara Bang Immanuel tiba-tiba memecahkan suasana. “Ayo masuk! Kita sudah lama nih nungguin…”
Dengan malu-malu dan agak kikuk Grace pun masuk. Grace menebar senyum yang agak dipaksakan ke seluruh penjuru ruangan yang dipenuhi oleh wajah-wajah asing.
“Kenalkan, ini semua anak-anak yang baru gabung setelah Grace lama pergi dan gak ada kabarnya,” kata Bang Immanuel dengan penuh semangat. Satu per satu dikenalkannya mereka kepada Grace.
“Ini George... Donny… Maria… “ masing-masing mengulurkan tangannya menjabat tangan Grace sambil tersenyum hangat, Grace kesulitan mengingat nama-nama mereka satu per satu.
“Ok, Grace, selamat datang kembali,” kata Bang Immanel. “Semua, ini Grace kakak kalian yang telah hilang dan sekarang telah kembali,” terdengar suara tepukan tangan meriah dan sambutan yang begitu hangat. Grace merasa agak terharu.
Diliriknya Martin dan Melody yang juga sedang memandanginya dengan pandangan yang agak kikuk. Sudah lama sekali mereka tidak pernah bertemu. Dan sekarang mereka bertemu kembali dalam suasana persekutuan seperti yang dulu sering mereka alami bersama. Grace tersenyum pada Martin dan Melody, Martin dan Melody pun membalas senyum Grace. Tiba-tiba Melody memeluk Grace. Tanpa kata mereka saling berpelukan. Semua yang melihat adegan itu tak dapat menahan rasa haru.
“Grace, maaf ya, aku nggak pernah menghubungimu selama ini…” bisik Melody. Grace hanya mengangguk tak mampu berkata-kata karena begitu besar rasa haru dan rindunya pada sahabatnya itu.
“Grace, maafkan kami ya, kalau selama ini kami nggak bisa memahamimu…” kata Martin yang ikut mendakti Grace dan Melody yang masih berpelukan.
Pertemuan kembali ketiga sahabat karib itu telah membuat suasana di rumah kontrakan Bang Immanuel menjadi amat indah. Sesuatu telah bangkit kembali, semangat yang baru, hati yang telah diperbarui, pemulihan, dan rekonsiliasi yang manis. Grace ingin sekali membuat saat-saat seperti itu menjadi abadi dan tidak akan pernah berlalu.

Senin, 08 Maret 2010

Haleluya, Thank God... ^^

Wuaaa... Haleluya... Thank God... akhirnya 10 bab cerita sudah aku tulis... hehe... nggak tahu nanti mau seperti apa jalan cerita dan endingnya... yang jelas peribahasa "alon alon waton kelakon" sedang berlaku dalam proses penulisan ini... apakah akan berakhir dalam sebuah buku? Atau cuma jadi sampah yang menuh2in file flashdisk dan entry blog saja? Hmmm... optimis dikit ya, aku berharap semoga bisa jadi semacam novel pendek yang berupa buku yang bakalan dipajang manis di outlet toko buku, rohani yang pasti... hehe... Nggak tahu ini ceritanya bagus apa enggak, wagu kayaknya... Tapi... Hmmm... God, bless me please...

Sambil mendengarkan musik-musik surgawi, aku mau nulis apa ya? Hehe... jadi bingung... sepertinya aku kehilangan gaya menulisku yang dulu sempat keren... amat sangat keren... sekarang cuma bisa nyampah... hehe... biarin ah, lebih baik nyampah di sini daripada nyampah di tempat lain... karena sebenarnya hidupku itu seperti sampah saja, kalau bukan karena Tuhan yang memulungku dari tempat sampah dan menjadikanku indah dan berharga... terima kasih, Tuhan... Hehe...

Kesederhanaan... kebersahajaan... ah aku ingin menjadi sederhana tapi dalam daripada rumit tapi dangkal... Sekali lagi, God help me please... tanpa Engkau aku nggak bisa apa-apa, aku bukan siapa-siapa... tapi denganMu yang adalah segalanya, aku bisa menjadi seseorang yang berarti di dunia yang penuh warna ini... Hehe... Sudah dulu ya, Han... aku mau melanjutkan kerjaanku di tempat lain, bersamaMu tentu saja... let's do it!!!

Immanuel

Ponsel Grace berbunyi. Ada panggilan masuk. Dengan malas Grace memencet tombol dan mendengarkan siapa yang menelponnya sore-sore begini.
“Haloooo…. Shaloooom… !!!” seru suara di seberang sana.
Grace sangat mengenali suara itu. “Halo juga, Bang… Shallom…” jawab Grace tanpa semangat. Mau apa tiba-tiba Bang Immanuel meneleponnya.
“Apa kabar, Dek? Lama nggak ketemu… We miss you!!!” seru Bang Immanuel dengan nada yang teramat ramah seperi yang Grace kenal.
“Yah, biasa aja…” jawab Grace sambil mendengus kesal. Huh, apa pedulimu aku baik atau nggak, batin Grace.
“Maaf ya Dek, abang lama nggak pernah menghubungi. Gimana sekarang kuliahnya? Bapak sama ibu baik-baik aja kan?”
“Baik…” Grace menjawab singkat dan dibiarkannya kalimatnya menggantung.
Jeda sejenak.
“O iya Grace, kita-kita mau ada persekutuan lagi lho, seperti biasa, hari Senin jam lima sore… Datang ya, kalau bisa… We miss you so much!!!” kata Bang Immanuel tiba-tiba, mengejutkan Grace yang sedang diam melamun entah melamunkan apa.
“Hmmmm…” Grace tidak mengiyakan tidak juga menolak.
“Gimana, Grace? Bisa kan? Ya tentu saja minta izin dulu sama bapak ibu,” pinta Bang Immanuel.
“Mmmm… iya deh,” jawab Grace. Dalam hatinya terbit secercah api pengharapan. Kecil. Tapi cukup untuk menerangi hati Grace yang gelap.
“Ok, abang tunggu ya… Salam buat bapak sama ibu, ya Dek!”
“Ok Bang…”
“Daah… Shallom…”
“Shallom…”
Begitulah akhirnya. Immanuel berhasil menghubungi Grace dan menawarkan kembali untuk bergabung dengan persekutuan God’s Army (GA). Persekutuan GA adalah persekutuan anak muda yang dirintis oleh Immanuel dengan teman-temannya. Persekutuan tersebut untuk mewadahi anak-anak muda yang memiliki talenta musik dan kerinduan untuk melayani Tuhan dengan talentanya tersebut. Sudah banyak sekali event pelayanan yang dilakukan oleh GA. Di antaranya dalah pelayanan musik pujian dan penyembahan di gereja-gereja interdenominasi, termasuk Gereja Kristen Jawa di mana Grace dan Melody berjemaat. Kebaktian Sabtu sore tepatnya. Immanuel kembali mengingat bagaimana pertemuannya dengan Grace dulu di kebaktian itu. Pertama kali dilihatnya Grace yang penuh semangat memuji dan menyembah Tuhan, duduk di deretan terdepan kursi jemaat, sendirian tapi begitu asyik menikmati hadirat Tuhan, tidak peduli akan sekitarnya yang berisik atau tidak terlalu antusias. Dari semua jemaat, Grace dilihatnya yang paling antusias sejak pertama kali datang menghadiri kebaktian Sabtu sore. Dan setelah beberapa bulan, Immanuel pun mengajak Grace untuk bergabung dengan persekutuan GA yang dipimpinnya. Bukan main senangnya hati Immanuel ketika Grace dengan antusias dan semangat datang sendiri ke persekutuan GA di Iromejan. Bertambahlah sumber daya yang menggerakkan persekutuan GA, apalagi setelah Grace semakin menunjukkan talenta dan kapasitasnya sebagai seorang yang suka berdoa syafaat dengan penuh kuasa.
Kenangan demi kenangan berkelebat memenuhi benak Immanuel. Bagaimana dulu Grace selalu menjadi pendoa syafaat yang mendoakan kebaktian, teman-teman, dan semua yang melintas yang menjadi pergumulan. Immanuel selalu terkesan akan kesederhanaan iman yang dimiliki oleh Grace. Bersama-sama dengan Melody dan Martin, mereka telah menjadi tim pendoa yang solid dan membuat persekutuan GA menjadi penuh gairah dan warna. Benar-benar saat yang menyenangkan. Kalau saja peristiwa setahun yang lalu tidak pernah terjadi. Kalau saja Grace tidak mengalami goncangan jiwa. Yah… semuanya telah terjadi… Immanuel berusaha untuk tetap optimis dan tidak menyesali apa saja yang sudah terjadi. Yang penting sekarang Grace mau bergabung kembali dengan GA dan mau mulai bangkit lagi.

Melody II

Melody tengah asyik membolak-balik halaman buku catatan kuliahnya. Sudah setahun ini ia menjalani kuliah yang terasa agak berat tapi sangat menyenangkan baginya. Banyak teman baru. Mata kuliah baru. Suasana baru. Pengalaman yang sungguh menggugah semangat akademisnya. Di sela-sela kesibukannya kuliah, Melody masih menyempatkan dirinya untuk mengajar anak-anak sekolah bahan pelajaran matematika, sesuai dengan jurusan kuliahnya, sekedar sebagai penambah pengalaman kerja dan menambah pemasukan. Melody sangat menikmati pekerjaannya itu. Begitu sibuknya Melody sehingga hampir saja ia melupakan Martin dan teman-teman dekatnya. Dan terutama Grace.
Melody hampir saja lupa akan Grace yang tadi pagi telah mengirimkan SMS anehnya kalau saja ia tidak hendak menghapus SMS-SMS yang memenuhi inboxnya. Dibacanya kembali pesan Grace tadi pagi. Pesan yang menyiratkan permohonan yang amat sangat dari seseorang yang sedang kalut dan bingung. Takut mungkin lebih tepatnya. Entah bagaimana Melody seperti merasakan ketakutan yang amat sangat saat membaca SMS dan memikirkan Grace. Grace. Teman, sahabat, dan saudara seperjuangannya. Dulu. Ya, dulu. Sekarang Melody sudah tidak pernah lagi menghubungi Grace. Entah apa sebabnya. Mungkin karena terlalu sibuk.
Sepertinya aku perlu menghubungi seseorang, pikir Melody. Bukan Martin. Tapi seseorang yang lebih dewasa dan lebih bijaksana yang dikenalnya. Mungkin Bang Immanuel bisa membantunya. Ya, Bang Immanuel pasti bisa membantu. Melody pun segera mengirim SMS ke Bang Immanuel.
“Bang, ada waktu gak? Aku mau bicara, penting, tentang Grace. Bls.”
Warung burjo di depan rumah kontrakan Bang Immanuel dipenuhi oleh anak-nak kost yang kelaparan. Melody sedang menunggu Bang Immanuel sambil mengemil gorengan dan minum segelas es teh. Ah segarnya. Tak lama kemudian, yang ditunggunya pun datang.
“Halo, Melody! Maaf ya, lama menunggu. Abang lagi mandi tadi,” seru Bang Immanuel yang baru saja keluar dari rumahnya dan segera duduk di samping Melody. “Es teh satu, Mas!” seru Bang Immanuel kepada Mas Eko sang pemilik warung.
“Ok, ada apa? Apa kabarnya Grace?” tanya Bang Immanuel sambil mengambil satu tempe goreng.
“Gak tahu Bang, aku sudah setahun ini nggak pernah lagi main sama Grace,” jawab Melody dengan sedikit rasa bersalah.
“Bukannya kalian dekat sekali? Seperti saudara kembar saja…” Bang Immanuel berkata sambil mengunyah tempe goreng. “Terus ada apa dengan Grace sekarang, kok tiba-tiba kamu ingin ngobrol tentang dia?” lanjutanya.
“Tadi pagi Grace tiba-tiba mengirimkan SMS ini, Bang,” Melody menunjukkan SMS Grace tadi pagi. Bang Immanuel membacanya sambil lalu.
“Hmmm, sepertinya Grace sedang ada masalah serius lagi,” kata Bang Immanuel setelah menelan tempe gorengnya.
“Ya, sepertinya memang begitu, Bang. Aku merasakan ada sesuatu yang mengganggunya, entah apa itu. Aku sudah mendoakannya tadi pagi, tapi sepertinya masalahnya sangatlah berat sehingga perlu pendekatan yang lebih dari sekedar mendoakannya dari jauh,” kata Melody.
Diam sejenak.
“Jadi, apa yang bisa abang lakukan?” tanya Bang Immanuel.
“Yah, mungkin Abang bisa menghubungi Grace dan bertanya kepadanya apa saja, setidaknya untuk mengetahui kabarnya saat ini.”
“Hmmm, kenapa bukan kamu saja yang menghubungi Grace?”
“Aku sudah lama nggak kontak-kontak sama Grace, Bang… Aku takut Grace nggak mau menerimaku setelah setahun ini aku nggak pernah lagi menghubunginya,” kata Melody. “Sahabat macam apa aku ini?” sambungnya lirih lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.
“Baiklah, nanti abang akan coba hubungi Grace. Tapi abang nggak janji ya, apa Grace mau merespon apa enggak. Berdoa aja semoga Grace mau menerima telepon dari abang. Abang juga sudah nggak pernah kontak Grace lagi selama setahun ini, sejak… yah, kita semua tahu apa yang terjadi,” bang Immanuel merenung mengingat apa yang terjadi setahun yang lalu.
“Makasih, Bang…”
“Sama-sama. Makasih juga mau melibatkan abang, dek…”
Sepulang dari warung burjo, Melody masuk ke kamarnya dan mulai berdoa. “Ya Bapa, aku mohon supaya kali ini Engkau membuka hati Grace dan memulihkan hubungan persahabatan di antara kami. Dan apa pun yang sedang dialami oleh Grace, aku mohon kiranya Engkau yang menguatkan Grace dan membantunya keluar dari masalahnya itu. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.”

Minggu, 07 Maret 2010

Grace II

Batin Grace berkecamuk. Antara rasa marah, benci, dongkol, dan berjuta perasaan negatif lainnya. Grace benci sekali dikasihani oleh orang lain. Grace sudah merasa kehilangan segala hal yang berharga dalam hidupnya. Cita-cita, pengharapan, masa depan, teman-teman, dan dirinya sendiri. Hilang sudah semua minat dan semangat hidupnya. Rasanya hidupnya hampa. Tidak ada lagi canda tawa. Tidak ada lagi sukacita. Semuanya muram. Masa depannya suram. Rasanya hidupnya sudah tidak ada artinya lagi. Hanya Tuhan yang tahu dan hanya Tuhan yang bisa menolongnya. Tapi bagaimana? Tanya Grace dalam hati. Semuanya tampak sia-sia.
Teman-teman yang dulu begitu dekat dengannya kini tidak ada lagi yang menyapanya atau sekedar menanyakan kabarnya. Komunikasi dengan mereka, dengan Melody, Martin, Bang Imanuel, dan teman-teman persekutuan telah terputus. Sepertinya keluarga Grace sengaja menjauhkan Grace dari mereka-mereka yang selama ini dianggapnya sebagai keluarga rohaninya. Dengan Bu Isadora pun hanya kadang-kadang saja Grace berhubungan, tapi Grace sedang tidak ingin bertemu dengannya. Yang paling dirindukannya hanyalah saat-saat tenteram di rumah sendirian. Ya, sendirian. Grace sedang tidak ingin diganggu dalam kesendiriannya itu.
Yang bikin Grace kesal dan marah adalah tidak adanya tanggapan dari orang yang selama itu dianggap sebagai sahabat, saudara sehatinya, Melody. Pagi itu dini hari Grace sudah mengirimkan SMS berisi permintaan tolong dan dukungan doa. Tapi sepertinya Melody diam saja, tidak ada balasan SMS atau telepon, apalagi kunjungan kasih. Grace benci mengakuinya, ia sebenarnya kesepian. Kesepian yang teramat sangat. Tidak ada teman yang dekat dengan Grace selama kurun waktu setahun sejak kejadian Grace kabur dari rumah. Ke kampus pun Grace hanya sekedar datang kuliah dan tidak menyapa teman-temannya. Grace benar-benar telah menjadi anak yang hilang. Namun Grace benci mengakuinya.
Kesibukan sehari-hari Grace hanyalah pergi kuliah, pulang, makan, mandi, dan tidur sepanjang hari. Begitu terus. Lambat laun badan Grace pun menunjukkan perubahan yang drastis. Grace menjadi kelebihan berat badan karena kurang aktivitas fisik. Seperti masuk ke lingkaran setan saja. Saat Grace merasa suasana hatinya memburuk, Grace lari ke makanan. Dan saat Grace menyadari bahwa berat badannya semakin bertambah, suasana hatinya pun semakin memburuk. Begitu seterusnya. Ditambah lagi Grace harus minum obat-obatan psikotropika yang Grace tidak tahu apa namanya, yang menyebabkan Grace jadi mudah mengantuk dan sulit berkonsentrasi seperti dulu. Kuliah Grace pun seperti tidak ada artinya lagi. Grace memang masih belajar dan membaca beberapa buku teks, tetapi tanpa semangat dan tujuan. Sehingga, tidak heran jika prestasi Grace tidak lagi menonjol seperti sebelum sakit. Indeks prestasinya pun pas-pasan saja. Semua itu membuat Grace jemu dan ingin mengakhiri semuanya. Tapi Grace tidak tahu bagaimana caranya.
“Tuhan, ambil saja nyawaku ini,” begitu doa Grace setiap hari bahkan setiap waktu. Mirip sekali dengan doa nabi Elia ketika beliau sedang depresi berat. Bedanya, Grace bukan nabi dan Grace tidak bertemu dengan malaikat Tuhan apalagi diberi penglihatan atau mendengar suara Tuhan secara audibel.
“Tuhan, di mana teman-temanku? Di mana saudara-saudaraku seiman? Di mana mereka saat aku membutuhkan?” jerit Grace dalam hati. Dan sepertinya Tuhan diam saja tidak langsung menjawab Grace seperti yang Grace mau. Sebaliknya, Grace malah sering sekali dikunjungi oleh Om Sammy dan keluarganya. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, Grace tidak peduli.
“Ibu dan bapakku tidak ada yang mengetahui apa yang kurasakan,” batin Grace, “Dan aku nggak mau repot-repot menceritakan apa yang kurasakan.Biarlah mereka sendiri yang mencari tahu dan kalau mereka berdoa pasti Tuhan menjawab mereka secara langsung,” begitu pikir Grace. Masih tersisa sedikit harga diri, atau mungkin kesombongan, yang membuat hati Grace keras bagai batu karang.
“Grace, ibu bukan Tuhan. Karena itu kalau Grace tidak menceritakan apa yang Grace rasakan, ibu juga tidak tahu,” begitu ibu Grace, Putri, pernah berkata kepada Grace saat Grace berdiam diri sepanjang hari. Namun karena Grace masih dipenuhi amarah dan kebencian yang amat sangat, Grace tidak menggubrisnya dan tetap melakukan aksi diamnya. Grace berpikir, biar saja mereka berdoa dan mencari tahu dari Tuhan secara langsung karena selama ini Grace masih tetap berkomunikasi dengan Tuhan dalam hati. Yang Grace lupa barangkali adalah adanya kebenaran firman Tuhan yang mengatakan bahwa tidak mungkin mengasihi Tuhan yang tidak dilihatnya kalau dia tidak bisa mengasihi orang lain yang bisa dilihatnya.
Grace semakin tenggelam dalam pikirannya yang suram. Apalagi dengan mimpinya semalam.
Sosok misterius.
Sosok yang mengancam.
Grace takut. Amat takut.

Putri

Hari ini begitu melelahkan bagi Putri. Banyak pasien dan operasi besar yang harus ia lakukan. Belum lagi rapat-rapat dengan komite medik di rumah sakit. Sudah sejak pagi Putri berangkat ke tempat kerjanya di Rumah Sakit Bethesda dan baru pulang sore hari menjelang malam. Kebiasaannya untuk berangkat pagi-pagi sebelum jam tujuh dilakoninya demi menyandang gelar pimpinan di tempatnya bekerja. Seorang pemimpin harus memberi contoh yang baik bagi anak buahnya, demikianlah prinsip yang dipegangnya. Berbeda dengan suaminya, Gunawan, yang meskipun sama-sama bekerja sebagai dokter di rumah sakit yang sama, tidaklah terlalu memegang prinsip itu. Gunawan biasanya berangkat ke tempat kerja lebih siang daripada Putri karena ia lebih memilih untuk membersihkan rumah terlebih dahulu. Prinsip yang dipegang Gunawan memang sulit sekali dipahami oleh Putri yang sangat disiplin dalah hal waktu.
Putri dan Gunawan adalah pasangan dokter bedah dan dokter anestesi yang begitu dihormati. Terutama Putri, yang merupakan satu dari segelintir perempuan yang berprofesi sebagai dokter bedah yang begitu mendedikasikan hidupnya dalam pekerjaannya. Begitu besarnya usaha dan pengorbanan Putri untuk menunjukkan bahwa dia mampu menjadi dokter bedah sehebat ayahnya, dokter Paulus, yang amat dikenal dan dihormati oleh masyarakat Yogyakarta. Tanpa disadari mungkin Putri telah menjadi sedemikian rupa terobsesi dengan pekerjaannya sehingga harus mengorbankan harta paling berharga yang dimilikinya yaitu keluarganya. Dan puncak dari semua pengorbanannya adalah Grace yang kini tengah dalam proses penyembuhan, kalau kesembuhan yang sempurna itu memang ada dalam ilmu kesehatan jiwa.
Sore itu, Putri pulang dengan segudang rasa lelah dan penat. Kepenatannya semakin bertambah saat dia melihat kondisi Grace yang masih begitu-begitu saja, tanpa ada perkembangan yang berarti. Sebagai ibu, Putri merasa telah gagal karena telah mengabaikan Grace, putri bungsunya demi mengejar ambisi pribadinya. Putri berpikir Grace sudah cukup dewasa waktu itu tanpa harus ditemani oleh dirinya dalam menjalani masa-masa transisi sehingga tanpa ada perasaan apa-apa Putri meninggalkan Grace dan Gunawan untuk pergi kursus selama tiga bulan di Belanda. Anaknya yang sulung, James, waktu itu dan sampai hari ini masih mengenyam kuliah di Jepang. Otomatis Grace yang dipikirnya sudah matang itu tidak punya teman untuk berbagi di rumah, entah bagaimana di luar rumah. Putri jarang sekali meluangkan waktu untuk sekedar mengobrol dari hati ke hati dengan Grace. Dan begitu terkejutnya Putri sewaktu mengetahui kabar mengejutkan dari keluarganya sewaktu ia masih di Belanda, yaitu bahwa Grace mengalami goncangan jiwa dan sampai kabur dari rumah. Dengan perasaan yang campur aduk, Putri pun tidak menyelesaikan kursusnya di Belanda kemudian segera pulang ke Yogyakarta demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Singkat cerita, Putri mendapati Grace seperti orang linglung yang kehilangan orientasi tempat dan waktu. Semua ucapan Grace tidak nyambung. Putri begitu frustrasi dan sangat sedih melihat kondisi putrinya itu. Grace sudah dibawa untuk berobat ke dokter spesialis jiwa kenalannya dan Gunawan untuk diberi terapi obat-obatan. Putri juga sudah membawa Grace ke tempat dokter Ferry beserta istrinya, ibu Nuri, yang berpengalaman dalam melayani doa dan pelepasan. Tapi sepertinya tidak ada perkembangan yang cukup berarti. Grace waktu itu begitu meledak-ledak dalam emosi yang tidak dapat dikendalikan. Kadang-kadang begitu bersemangat tapi begitu mudah marah. Itu dulu. Sekarang, setahun sudah berlalu, Grace menjadi pemurung dan apatis. Tidak mau melakukan apa-apa. Seperti kehilangan energi untuk sekedar hidup. Menurut ilmu kesehatan jiwa, Putri mendapati bahwa Grace didiagnosa menderita gangguan manik depresif. Dan sekarang ini Grace sedang dalam episode depresi. Depresi berat yang patologis.
“Grace, ibu pulang…,” seru Putri begitu masuk ke rumah setelah memarkirkan kendaraannya di garasi. “Eh, ada Sammy dan Marry toh? Mana Ann dan Joni?”
“Mereka lagi main bola di belakang, Mbak,” jawab Marry. “Baru pulang? Ini aku bawakan tahu bakso. Sekalian nengok kondisi Grace.”
“Wah, makasih ya…” jawab Putri dengan perasaan sedikit lega karena ternyata Grace tidak sendirian. “Jadi merepotkan. Ini uang buat bayar tahu baksonya,” kata Putri sambil menyelipkan lembaran uang ke tangan Marry yang menyambutnya dengan hangat.
“Gimana Grace? Seharian ini dia ngapain aja?” tanya Putri hati-hati supaya jangan sampai menyinggung perasaan Grace yang menjadi teramat peka meskipun tampak apatis.
“Yah, tiduran aja, Mbak. Mungkin kecapekan setelah seharian kuliah,” jawab Sammy yang sudah selesai membaca koran.
“Nggak main-main sama Ann dan Joni, Grace?” tanya Putri dengan lembut sambil mendekati Grace yang masih tiduran. Grace diam saja tidak menjawab. Mungkin sedang lelap dalam tidurnya. Putri hanya menghela napas melihatnya. Sammy dan Marry pun ikut merasaka kepedihan Putri.
“Mas Gunawan belum pulang, Mbak?” tanya Marry membuka percakapan.
“Belum. Tadi ada operasi, masih belum selesai,” jawab Putri.
Putri dan Marry kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan lauk makan malam. Sammy ke luar ke halaman belakang untuk melihat Ann dan Joni yang lagi asyik bermain. Tinggallah Grace sendirian.