Senin, 13 Februari 2017

AADC2: Sekedar Renungan Ringan

Minggu malam, setelah menemani Asa tidur, saya berniat membaca-baca sebentar di ruang keluarga Rumah Cahaya. Tanpa sengaja, papa Asa memencet remote TV dan tertampillah film Ada Apa dengan Cinta 2 di sebuah stasiun TV nasional. Maka, saya pun menonton AADC2 untuk pertama kalinya. Sayang sekali tidak dari awal. Tapi masih lebih lumayanlah, karena rupanya film belum terlalu jauh diputarnya. Saya sangat bersyukur karena sepertinya melalui film ini ada sesuatu yang penting yang hendak disampaikan oleh Tuhan pada saya secara pribadi. Saya anggap ini sebagai hadiah kejutan dari berakhirnya perayaan hari ‘Sabat’ pribadi saya.

Saya menangkap tema besar yang hendak disampaikan melalui film AADC2 ini adalah ‘berdamai dengan masa lalu untuk menyambut hari esok’. Ada banyak pertanyaan menggelitik bagi saya mengenai film AADC2 yang saya tonton malam ini. Mengapa AADC2? Mengapa Jogja? Dan mengapa Rangga dan Cinta harus bertemu kembali? Itulah sebagian pertanyaan besar yang menggelitik hati sanubari saya sembari saya menonton film yang sangat rawan menimbulkan baper bagi para ‘mantan-move-on-er’. Oleh karena itu, saya merekomendasikan bagi para remaja yang sudah bertumbuh menjadi dewasa muda saat ini untuk tidak menonton film ini sendirian.

Bagi saya, judul AADC2 ini lebih tepat jika disebut sebagai AADR (Ada Apa dengan Rangga). Atau lebih pas lagi disebut sebagai AADR&C (Ada Apa dengan Rangga dan Cinta). Mengapa demikian? Karena jika di film AADC seolah kita diajak berkenalan dengan tokoh Cinta (yang kala itu masih remaja banget), maka di film AADC2 ini kita diajak untuk mengenali Rangga yang misterius (dan juga Cinta yang bertumbuh dewasa).

Saya selalu bertanya, mengapa nama tokoh utama film ini dipilih Rangga dan Cinta. Apakah suatu kebetulan jika ada seorang pujangga besar bernama Raden Ranggawarsita? Dan bukankah Rangga juga suka menulis puisi layaknya pujangga? Dan bukankah Rangga dan Cinta pertama kali bertemu (di film AADC) juga karena minat yang sama akan puisi/sastra? Apakah kaitannya antara puisi dengan cinta? Mengapa Rangga dan Cinta harus bertemu, kemudian berpisah sekian lama, berproses masing-masing, untuk kemudian bertemu kembali?

Pertanyaan-pertanyaan berikutnya berkaitan dengan lokasi film AADC2, yaitu Jogja (dan sekitarnya). Mengapa sutradara dan produser film memilih Jogja? Dan bukan sembarang lokasi yang dipilih, melainkan sudut-sudut tertentu yang khas dan seolah hendak menyuarakan pesan-pesan sarat makna. Apakah itu? Untuk menyebutkan satu per satu secara lengkap, saya perlu menonton lagi film ini beberapa kali. Mungkin nanti atau kapan saya akan menulis hal ini, kalau ingat. ^^

Sewaktu Rangga bertemu kembali dengan Cinta, saya menangkap adanya rasa dan karsa dari cinta yang belum kesampaian. Ada rasa terkhianati atas alasan cinta. Ada sesuatu yang harus dijelaskan, dibereskan, dan diselesaikan saat itu supaya hidup bisa terus berjalan. Agar Cinta bisa move on, ada proses berdamai dengan Rangga yang merupakan kenangan masa lalunya. (Dan Rangga pun diperlihatkan pula berdamai dengan ibunya.) Saya, seperti Cinta (dan Rangga), juga belajar move on tanpa menghancurkan sama sekali ‘prasasti’ atau ‘arsip’ lama.

Kembali sebentar ke film AADC2, saya mencatat beberapa hal yang menurut saya penting dan menarik. Hal-hal tersebut adalah:

  • Kalau pada film AADC seolah-olah Cinta yang banyak kesalahan, kali ini dalam AADC2 giliran Rangga yang seolah banyak ‘salah’.  
  • Ditampilkannya sebuah sudut kedai kopi yang menampilkan proses pembuatan kopi yang menitikberatkan pada nilai penting dari lokasi dan waktu (untuk proses cinta bisa bertumbuh).
  • Rangga suka menulis surat. Apakah ini suatu kebetulan jika saya juga sedang mulai mengembangkan kebiasaan menulis surat baru-baru ini? ^^
  • Cinta sempat bingung memilih warna lipstik. Dari yang tadinya merah menjadi pink (atau lebih samar).
  • Rangga menjelaskan kepada Cinta bedanya liburan dengan travelling. Liburan itu mengutamakan kenyamanan, sedangkan travelling itu memerlukan keberanian dalam mengambil risiko dan kesiapan untuk menerima kejutan-kejutan. Ini bisa menjadi analogi yang baik bagi cara saya memandang hidup.


Beberapa menit sebelum film berakhir, saya sempat berpikir alangkah lebih indah dan lebih menggores jika kisah AADC2 ini berakhir dengan tidak bersatunya Rangga dan Cinta. Mengapa demikian? Karena saya lebih suka akan nilai-nilai kesetiaan dan move on yang benar-benar. Maksudnya, saya lebih suka melihat Cinta benar-benar selesai terhadap Rangga yang merupakan simbol dari masa lalu, seberapa manis ataupun menyakitkannya itu. Dengan demikian, Cinta benar-benar siap melangkah maju menyambut hari depannya bersama tunangannya. Tapi apa daya. Saya boleh berandai-andai, namun sutradara dan produser yang menentukan.

Bagaimanapun juga, Cinta telah memilih dan setiap pilihan tentu ada konsekuensinya. Seandainya Cinta memilih untuk terus maju bersama tunangannya, tentu kita akan melihat akhir kisah yang berbeda. Tapi saya turut legowo dengan pilihan Cinta (sesuai skenario sutradara film) itu. Meskipun, bagi saya akhir cerita menjadi kurang menggigit. Ini menurut saya, lho.

Akhir kata, saya sangat beryukur dan terberkati bisa menonton film AADC2 ini. Bisa dibilang ini adalah kado Valentine (dari Tuhan) yang cukup menggetarkan kalbu dan mendorong saya untuk mikir. Sehingga, tersusunlah tulisan ini. Mohon maaf jika kurang padat isinya. Mungkin lain kali akan saya sambung lagi. Dan terima kasih telah berlelah-lelah membaca. Shalom!

Jumat, 10 Februari 2017

Surat untuk Ibu (7): Tips untuk Luka Hati

Ytk
Ibuku yang dikasihi Tuhan
Yang kukasihi
Dan yang mengasihiku

Shalom! Apa kabar, Ibu? Kiranya Ibu, bapak, dan Yoyo baik-baik saja dan tansah binerkahan di Rumah Pelem Kecut, rumah kemuliaan Tuhan. Kiranya roh, jiwa, dan tubuh Ibu dan seisi rumah Ibu terpelihara aman sentosa di dalam Tuhan Yesus Kristus yang mahamulia. Segala puji, hormat, syukur hanya bagi Tuhan kita, Yesus Kristus, amin!

Di penghujung hari ini, aku ingin menyampaikan ungkapan kasih dan kepedulianku kepada Ibu. Khususnya mengenai apa yang kusaksikan hari ini di "Gua Adulam". Aku menyaksikan betapa Ibu berusaha keras untuk tidak berlarut-larut sakit hati dan kepahitan karena perkataan orang lain. Dengan jujur Ibu mengakui bahwa Ibu sering terngiang-ngiang oleh ungkapan-ungkapan orang lain yang begitu tajam dan dalam melukai hati Ibu. Dan dengan jujur pula Ibu mengakui betapa lama dan sukarnya sembuh dari hal tersebut. Untuk kejujuran Ibu itu, aku sangat menghargai dan salut. Karena tidak mudah untuk berkata jujur tentang hati kita di hadapan orang lain.

Karena aku peduli pada Ibu, khususnya masalah kesejahteraan batin Ibu, maka perkenankanlah aku mengusulkan satu tips atau cara untuk Ibu bisa lebih mudah pulih dan sembuh dari luka hati tersebut. Cara ini sederhana saja, Ibu. Aku sudah sering melakukannya. Mudah saja, hanya perlu kemauan dan kesungguhan hati Ibu. Jadi, setiap kali ada orang yang melukai hati Ibu, cobalah untuk mengatakan ini (bisa dibatin atau diucapkan), "Aku memberkati ... (sebut nama orang itu)". Saat mengucapkannya, lepaskanlah segenap emosi Ibu yang penuh kesakitan dan kepahitan itu. Ucapkan saja kalimat tersebut tanpa ditambahi embel embel yang tidak perlu. Ucapkan sampai tidak ada lagi emosi negatif terhadap orang yang bersangkutan. Ini berlaku bagi siapa pun tanpa terkecuali. Silakan mencoba, Ibu, dan rasakan perbedaannya.

Usulku, lakukan hal ini sebelum Ibu menyuarakan isi hati Ibu yang terluka kepada orang-orang lain yang Ibu percayai. Dan, mari kita lihat adakah perbedaan yang nyata.

Ibu, perkara mengampuni orang lain itu adalah perkara yang sangat penting. Karena jika kita tidak mengampuni orang lain, maka Bapa di sorga pun tidak mengampuni kita juga. Bukankah demikian bunyi sebagian kalimat dalam Doa Bapa Kami?

Jika Ibu merasa begitu berat dan sukar untuk melepaskan pengampunan, berserulah pada TUHAN, Ibu. Atau, Ibu bisa meminta dukungan doa dari orang-orang yang Ibu percayai supaya Ibu dimampukan untuk mengampuni. Hal ini menurutku sangatlah penting, Ibu. Karena jika kita terluka, kita pun berpotensi melukai pula orang-orang lain tanpa kita sadari. Itulah mengapa penting sekali untuk segera membereskan luka-luka jiwa dan hati kita di hadapan Tuhan. Karena, seperti luka yang tidak tertangani bakalan terinfeksi dan menginfeksi bagian tubuh yang lain, demikian juga analoginya dengan luka hati seseorang. Satu orang terluka dapat mengobarkan luka tersebut kepada orang-orang lain. Apalagi jika orang tersebut punya kuasa, wewenang, dan otoritas yang besar.

Ibu, aku menyampaikan ini karena aku peduli pada Ibu dan orang-orang yang kita kasihi. Mohon maaf jika aku menyinggung perasaan Ibu. Tolong pertimbangkan usul yang kusampaikan di atas. Dan terima kasih atas respon dan usaha Ibu untuk mengampuni orang lain sampai terjadi pemulihan. Kiranya TUHAN memampukan Ibu untuk mengampuni dan memberkati orang-orang yang melukai hati Ibu. Shalom!

Dari anakmu yang peduli,
Yohana Mimi

Surat untuk Ibu (6): Introvert

Ytk
Ibu di tempat

Shalom! Selamat sore, Ibu! Apa kabar? Hari ini bagiku sangat luar biasa, Bu! Bagaimana tidak? Semalam aku membuat target pencapaian kerjaku selama seminggu ini, meliputi PPK CP terintegrasi, rencana audit rekam medis tertutup, dan audit klinis evaluasi CP lama. Aku pikir cukup padat daftar pekerjaanku itu. Aku belajar untuk fokus pada satu hal demi satu hal. Pikiranku kuatur sedemikian rupa supaya berkonsentrasi pada hal yang sedang kulakukan saat itu, tidak memusingkan hal-hal lain sebelum dan sesudahnya. Entah bagaimana, satu per satu target (bahkan lebih) bisa kulakukan. Dan aku bisa enjoy dan santai. Rasanya puas sekali, Bu! Apakah Ibu juga demikian hari ini?

Terima kasih, Ibu, telah memberiku ruang dan kesempatan untuk bisa fokus pada hal-hal yang sedang kukerjakan hari ini tadi, sehingga satu demi satu bisa kutuntaskan. Terima kasih, Ibu, telah dan selalu berusaha memahami kecenderunganku dalam bekerja. Secara umum, aku cenderung lebih ke arah introvert. Bagiku hal ini bukanlah masalah besar, Bu, karena aku belajar bahwa seseorang yang introvert itu memperoleh energi dari waktu-waktu sendirian. Berbeda dengan orang extrovert, yang memperoleh energi (energize) dari waktu-waktu bersama orang-orang lain.

Jangan salah, Ibu, aku cukup bangga dan bahagia dengan kecenderunganku ini. Introvert tidaklah identik dengan pemalu, Ibu. Itu! Ibu, tidak ada yang perlu disesali tentang pembawaanku yang cenderung introvert dan lebih banyak diam. Karena, aku mendapati bahwa dengan diam lebih banyak, aku bisa mendengarkan lebih banyak juga. Dan, aku sangat menikmati menjadi pendengar yang baik, Ibu! Aku suka sekali mendengarkan orang lain berbicara. Dan, aku juga suka menyelami apa yang orang lain rasakan saat berbicara itu. Inikah yang dinamakan empati, Bu?

Ibu, mungkin di masa-masa lalu aku sering mengeluh dan kurang puas dengan kecenderunganku ini. Tapi sekarang, aku sangat bersyukur, Bu! Sungguh! Aku telah belajar menerima diriku apa adanya. Aku belajar memandang dengan cara Tuhan, yaitu bahwa aku berharga di mata-Nya. Aku belajar betapa Tuhan sangat mengasihiku. Tuhan yang menyatakan kasih-Nya kepadaku mengajariku bahwa Ia pun mengasihi orang-orang lain, termasuk Ibu. Maka, aku pun belajar mengasihi Ibu sebagaimana Tuhan mengasihiku. Maka, inilah yang kulakukan, Ibu. Semoga Ibu dapat merasakan sungguh betapa besar kasih Tuhan dan kasihku pada Ibu.

Terima kasih, Ibu, telah membuatku belajar dan bertumbuh dalam kasih Tuhan. Mari kita rayakan semua ini dengan hal-hal yang menyukakan hati.

O iya, besok rencananya Asa akan dititipkan ke Rumah Pelem Kecut. Mohon perkenanan Ibu dan semoga Ibu bergembira karena Asa. Terima kasih sekali lagi, Bu. Selamat bersukacita! Shalom!

Dari anakmu yang bertumbuh,
Yohana Mimi