Rabu, 20 Februari 2013

Doa bagi Kota Tercinta


Saya masih ingat, waktu itu saya masih kelas satu SMP. Suasana negeri terasa sedemikian mencekam. Isu-isu akan adanya pembakaran atau perusakan rumah-rumah ibadah menghantui kota-kota di Indonesia, termasuk kota di mana saya tinggal, Yogyakarta. Kerusuhan-kerusuhan dimulai dengan peristiwa penyerbuan markas sebuah partai politik pada tanggal 27 Juli 1996, menyebar ke Situbondo (meskipun mungkin tidak berhubungan secara langsung), Surabaya, Kerawang, Rengasdengklok, Pekalongan, Tasikmalaya, dan Kalimantan Barat. Suasana sungguh kelam dan mencekam.
                Yang masih menjadi ingatan yang sangat membekas adalah waktu itu, ketika masih pelajaran agama, seorang kakak kelas dengan gaduh menangis mengabarkan berita buruk. Waktu itu internet belum seperti sekarang, baru beberapa orang saja yang bisa mengaksesnya. Ia, sang kakak kelas (mbak Tina), dengan sesenggukan melapor ke Bu Indarti (guru agama SMP 5) tentang isu bahwa Yogyakarta akan segera bernasib sama seperti Situbondo dll. Kami yang masih dalam suasana belajar tentu saja kalang kabut. Dengan sigap, Bu Indarti menenangkan kami. Dengan tenang meskipun bercampur emosi juga, beliau segera mengajak kami semua berdoa. Doa yang diucapkan dengan sungguh-sungguh itu diiringi ratap tangis karena ketakutan. Kami semua sepakat memohon supaya Tuhan melindungi kota Yogyakarta tercinta.
                Tidak berselang lama kemudian, saya diajak kakak sepupu saya (mbak Etta—sekarang Bu Siswadi ^^), untuk menghadiri suatu acara semacam persekutuan doa. Lokasinya saya ingat betul, di gedung pertemuan GKJ Gondokusuman Sawokembar. Ternyata di sana sudah banyak berkumpul kakak-kakak kelas saya. Dalam acara tersebut, kami bersatu hati berdoa memohon belas kasihan TUHAN bagi kota tercinta, Yogyakarta. Lagu yang menjadi theme song adalah lagu berjudul “Doa bagi Kota Tercinta”. Begini syairnya:
Kami sujud di kaki-Mu, merendahkan diri
Bersatu dengan tangis-Mu, bagi kota tercinta
Biar belas kasih-Mu, Bapa, kian  bertambah nyata
Dicurahkan atas kami, lawatlah umat-MU
Ampunilah, s’lamatkanlah, pulihakanlah kota tercinta
Sinari dengan terang kasih-Mu, dengar doa kami
               
Sungguh ajaib dan luar biasa. Yogyakarta sampai hari ini tidak pernah diberitakan mengalami kerusuhan berskala besar seperti halnya Jakarta (Mei 1998) ataupun kota-kota lainnya. Dengan tidak bermaksud menyombongkan diri, Yogyakarta memang istimewa. Istimewa dalam hal apa? Istimewa dalam hal anugerah TUHAN atas kota Yogyakarta berupa keamanan dan kenyamanan. Saya percaya ini semua salah satunya karena kesungguhan dan kesatuan hati umat TUHAN yang bersatu padu bergotong royong menyengkuyung acara doa bersama demi keamanan kota ini. Saya percaya kegerakan doa ini bukan hasil pemikiran atau kecakapan manusia, melainkan murni dari hati dan pikiran TUHAN melalui anak-anak-Nya yang rindu. Rindu kepada apa? Rindu kehendak TUHAN jadi di bumi seperti di surga, di Yogyakarta dan di Indonesia seperti di surga. Dan sejarah telah membuktikan bahwa hal ini tidak mustahil terjadi. Yogyakarta dikenal sebagai city of tolerance, kota yang penuh toleransi, sampai saat ini. Jika Yogyakarta aman, maka Indonesia pun boleh bernafas lega. Tidak heran jika Yogyakarta disebut pula sebagai barometernya keamanan Indonesia. Oleh karena itu, kita patut bersyukur.
                Satu hal lagi yang kita rindukan yaitu supaya Yogyakarta menjadi city of God, kotanya Tuhan. Bagaimana supaya hal ini terwujud? Tidak lain dan tidak bukan yaitu dengan sekali lagi nyengkuyung doa yang sungguh-sungguh bagi kesejahteraan kota kita. Tidak harus dengan skala massal, karena kemungkinan akan digerebek polisi ^^, cukup dengan masuk ke kamar (atau ke tempat khusus, yang penting tidak pamer, dan cukup diketahui TUHAN), kunci pintu, dan berdoa syafaat. Apa yang perlu didoakan? Nah, semoga formulir kecil ini dapat membantu kita. ^^

Kota di mana saya tinggal: ____________________________________________________
Nama walikota/bupati saya: ___________________________________________________
Hal yang tidak saya sukai mengenai kota ini (kemacetan, dll): ________________________
                ___________________________________________________________________________
Bagaimana saya melihat hal ini sebagai kesempatan untuk melayani kota saya:
                ___________________________________________________________________________
                ___________________________________________________________________________
DOAKAN!
·         Pemerintah dan para pimpinan kota lainnya (Gubernur, Walikota, Camat, Lurah, RT/RW dll) agar hikmat dan takut akan TUHAN ada dalam kehidupan mereka.
·         Keamanannya (angka kriminalitas menurun, tidak ada perpecahan dan kerusuhan), kestabilan ekonomi, dan kesejahteraan kota secara umum.
·         Gereja dan para pemimpin Kristen di kota kita, agar mereka mempunyai hikmat dan kesempatan untuk mengabarkan kabar baik dan menegakkan kerajaan TUHAN di kota kita.

Daftar Kepustakaan:
·          Jimmy B. Oentoro, City of Praise/Kota Pujian, Harvest Publication House, Jakarta, 2003

(ditulis oleh dr. Mimi sebagai bahan pelayanan literatur dalam Persekutuan Keluarga Murakabi GKJ Gondokusuman Sawokembar Yogyakarta di Ladang Anggur TUHAN, hari Rabu tanggal 20 Februari 2013)

Sabar


Kasih itu sabar (1 Korintus 13:4a)

                Bahasa Inggris dari kata sabar kita kenal sebagai patient. Bukan kebetulan bahwa kata ini, patient, berkorelasi atau berhubungan dengan kata “pasien” dalam konteks rumah sakit. Kita mengenal kata “pasien” sebagai orang yang mempercayakan dirinya untuk diperiksa oleh dokter, untuk mengetahui apakah dirinya sehat atau sakit. Kegiatan yang paling jamak kita jumpai diakukan oleh pasien adalah menunggu. Entah itu menunggu waktu untuk diperiksa, menunggu dipanggil perawat, menunggu hasil pemeriksaan, menunggu waktu rawat inap, menunggu kapan diperbolehkan pulang oleh dokter, dan lain sebagainya. Dalam kegiatan menunggu itulah diperlukan apa yang dinamakan sebagai ‘sabar’. Sabar menunggu. Sabar menanti kepastian.
                Bukan hanya pasien yang memerlukan kata ‘sabar’ dalam keseharian mereka. Para perawat pun sangat akrab dengan kata ini. Mereka harus sabar saat dikomplain atau digerutui pasien yang sudah kehilangan kesabaran dalam menunggu. Mereka harus pula sabar saat berhadapan dengan dokter yang tidak simpatik manakala disapa atau dikonsuli (dimintai pertimbangan mengenai masalah medis). Dokter pun tidak luput. Dokter harus sabar menghadapi para pasien yang lambat mengerti keterangan yang mereka sampaikan. Belum lagi jika dikejar ketakutan manakala terjadi kesalahan tindakan, karena zaman sekarang masyarakat sudah pintar dan cerdas sehingga para dokter dituntut untuk lebih bijaksana dalam bersikap.
                Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan? Mari kita berkaca pada teladan Tuhan kita Yesus Kristus. Ketika Ia disiksa dan disalibkan, pernahkah kita dapati—baik di dalam Alkitab maupun dalam film seperti The Passion of The Christ—Tuhan Yesus mengeluh atau berteriak kesakitan? Tidak, bukan? Sebaliknya, Ia selalu bersikap sabar. Segala kesakitan dan kepedihan ditanggung-Nya sendiri dengan sabar. Ya, sabar. Bagaimana dengan keseharian kita? Setiap kali ada orang—entah itu dokter, perawat, pasien, atau pekarya lainnya—yang bersikap kurang simpatik kepada kita, marilah kita bersikap sabar seperti Tuhan Yesus telah memberi teladan luar biasa itu. Ya, sabar...

KASIH ITU SABAR
IA SABAR MENANGGUNG SEGALA SESUATU

(disampaikan oleh dr. Mimi ketika membawakan renungan pagi di poliklinik rawat jalan Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta hari Rabu, 20 Februari 2013)

Senin, 18 Februari 2013

Sangkakala Berkumandang di Solo

Hari Minggu yang cerah. Rombongan paduan suara Sangkakala telah tiba di gedung Gereja Kristen Jawa Manahan Surakarta (Solo). Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi. Rasa kantuk masih menggelayuti sebagian anggota Sangkakala. Maklumlah. Mereka harus bangun pagi-pagi sekali sebelum jam empat pagi untuk kemudian melakukan perjalanan sekitar 60 km. Dari Yogyakarta alias Jogja ke Surakarta alias Solo. Dari GKJ Gondokusuman ke GKJ Manahan. Rasa lapar diobati dengan sebekal arem-arem. Cukup mengenyangkan, memberi energi cukup untuk bernyanyi. Ada apa gerangan sehingga Sangakakala yang terbilang sudah adiyuswa ini harus bersusah-payah sedemikian rupa?


                Rupanya, ini adalah perwujudan dari hasil musyawarah Sangkakala beberapa waktu yang lalu di mana akhirnya sebagian anggota memutuskan untuk pergi melawat ke GKJ Manahan dan pepathannya (Blulukan), mengikuti tugas sinodal tukar mimbar Pdt. Siswadi. Dalam lawatan ini, sedianya Sangkakala akan membawakan dua lagu yang sudah dipersiapkan, yaitu Psalm of Praise  dan Without Love. Dua lagu baru yang cukup indah dan merdu untuk dinyanyikan. Aku yang bertugas sebagai pengiring atau pianis Sangkakala telah siap di kota Solo sejak hari Sabtu sebelumnya. Bersama dengan bapak, ibu, Mas Cah, Asa, dan mbak Ami (pengasuh Asa), kami berangkat hari Sabtu sore. Dengan disertai insiden mabuk kendaraannya Mbak Ami, kami sampai di Solo dengan selamat dan disambut oleh bapak dan ibu mertua dengan sangat hangat. Puji Tuhan! Bapak dan ibu menginap di hotel Sunan, sedangkan sisanya menginap di rumah bapak ibu mertua di bilangan Gremet.
                Persiapan yang cukup matang membuat penampilan Sangkakala cukup mengesankan. Meskipun belum terlalu sempurna, aku cukup bersyukur karena telah memberikan persembahan yang cukup layak untuk memuliakan TUHAN dan memberkati jemaat di GKJ Manahan. Yang sangat berkesan adalah ketika Pak Siswadi meminta Sangkakala untuk menyanyikan lagu ketiga sementara setahuku lagu yang disiapkan hanyalah dua seperti tersebut di atas. Seperti kebiasaan, Sangkakala selalu menyanyikan marsnya manakala melawat ke gereja-gereja lain. Mars yang dinyanyikan dengan gegap gempita itu berjudul Bunyi Sangkakala. Berikut ini adalah bagian refrainnya yang terkenal.
Kala bunyi sangkakala, kala bunyi sangkakala
Kala bunyi sangkakala, kala bunyi sangkakala ku ada
 Jika dinyanyikan dengan segenap hati dan jiwa, maka konon yang mendengar seluruh lagu mars Sangkakala ini akan merasa tergetar pula jiwanya. Meminjam istilah pak Tito (pendiri Sangkakala), orang yang mendengar bakalan merinding.

                Suasana cukup cair karena Pak Siswadi cukup kontekstual dalam membawakan kotbahnya, baik di Manahan maupun di Blulukan. Sedikit menyentil di sana-sini juga namun tetap dalam koridor kesantunan khas Jawa. Sempat diwarnai insiden bus rombongan yang keblasuk karena sang sopir yang kurang sip, semua acara berjalan dengan cukup baik. Tidak ada yang sia-sia dalam perjalanan lawatan kali ini. Meskipun terkantuk-kantuk, Sangkakala tetap semangat memberikan pujian terbaik di Manahan dan Blulukan. Sesuai dengan tema kotbah yang disampaikan,  yaitu “Melawan Cobaan, Mengupayakan Keadilan dan Perdamaian”, Sangkakala bisa dikatakan telah “menang” melawan cobaan untuk mundur dari panggilan melayani yang jika dihitung-hitung secara manusia, banyak ruginya itu.

(Ladang anggur TUHAN, 18 Februari 2013)


Minggu, 17 Februari 2013

Presentasi Bak Tahta Pengadilan TUHAN


Siang ini, teman sekerjaku, dr. Yohan, mendapat tugas mempresentasikan kasus menarik dalam setting pelayanan gawat darurat. Dr. Yohan harus mempresentasikan kasusnya di depan Komite Medik, yaitu semacam dewan perkumpulan dokter-dokter dalam rumah sakit. Tujuan dari presentasi ini adalah terutama untuk menilai dan menguji apakah sang presentator sudah cukup menguasai permasalahan dan apakah ia layak untuk ditempatkan di IGD. Sudah dua setengah tahun dr. Yohan, begitu juga aku, berstatus sebagai pegawai kontrak di Rumah Sakit Bethesda. Dalam waktu dua setengah tahun itu, kami para dokter kontrak ini diwajibkan mengikuti rotasi di berbagai bagian dan jaga di IGD maupun Balai Pengobatan satelit untuk belajar mengenal tugas-tugas sebagai dokter umum dan mengetahui kompetensi apa saja yang harus kami miliki. Waktu dua setengah tahun pun berlalu dengan suka dukanya. Dan, inilah saat salah satu dari kami dinilai melalui presentasi kasus. Giliran dr. Yohan kali ini, yang pertama dari angkatanku.
                Dr. Yohan membawakan presentasi kasus berjudul “Perdarahan Cerebellum” (perdarahan otak kecil). Suatu kasus dari bidang saraf, sejenis serangan stroke. Dengan mantap, dr. Yohan memaparkan presentasinya. Persiapannya yang matang tidak mengecewakan. Ia berhasil menjelaskan kronologi pasien yang terkena serangan stroke itu dengan cukup jelas. Diceritakan bagaimana ia ketika berjaga di Balai Pengobatan (BP) Bethesda Wonosari harus menolong sang pasien tersebut. Dengan menilai cepat gejala dan tanda yang diderita pasien, dan dengan kepekaan intuitifnya, dr. Yohan dengan sigap segera memutuskan untuk merujuk sang pasien ke Rumah Sakit (RS) Bethesda Yogyakarta yang peralatan dan sistem pelayanannya lebih lengkap. Berkat keputusan cepat dan tepat itu, dapat dengan segera diketahui adanya perdarahan di otak kecil pasien sehingga pertolongan yang tepat pun dapat segera diberikan. Setelah mondok beberapa hari, sang pasien pun kondisinya membaik dan dapat dipulangkan.
                Bagaimana proses pemeriksaan dan penanganan pasien stroke itu dipaparkan dengan cukup lengkap oleh dr. Yohan. Dan akhirnya, tibalah saat yang mendebarkan itu. Yaitu, saat memberi masukan dan komentar oleh para dokter senior. Ada yang mengomentari sistematika penulisan pemeriksaan fisiknya, ada pula yang mengomentari kekurangan-kekurangan yang ada, dan tidak ketinggalan pula pertanyaan-pertanyaan untuk menguji sejauh mana wawasan dan pengetahuan dr. Yohan. Puji Tuhan, dr. Yohan dapat menjawab dan menganggapi semua komentar dan pertanyaan itu dengan baik. Sungguh luar biasa persiapan dan perjuangan dr. Yohan!
                Meskipun bukan aku yang presentasi, aku merasakan tegang dan sedikit gugup. Bagaimana jika tiba giliranku nanti? Apakah aku juga bisa menjawab setiap komentar dan pertanyaan dengan baik dan lancar? Apakah aku bisa menguasai materi presentasi dengan baik? Kapankah waktuku tiba untuk presentasi? Berbagai pertanyaan yang tidak terucapkan sempat memenuhi hati dan pikiranku. Melihat jalannya presentasi dr. Yohan menimbulkan kesan yang mendalam dalam benakku. Gambarannya kok cukup mirip dengan proses penghakiman atau pengadilan Tuhan pada akhir zaman ya? Maksudnya? Ya, pengadilan Tuhan yang maha adil itu sepertinya bakalan terasa seperti tadi ketika dr. Yohan presentasi. Dalam pengadilan Tuhan, masing-masing kita akan dituntut untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatan dan alasan kita melakukannya. Sama seperti dr. Yohan yang dicecar dengan berbagai komentar dan pertanyaan perihal kasus yang dipresentasikannya, demikian juga kita akan dicecar dengan berbagai standar kebenaran atas perbuatan dan alasan kita ketika pengadilan Tuhan itu tiba. Memang benar, kita yang sudah percaya, mengaku, dan hidup di dalam Kristus Yesus sudah mendapat jaminan keselamatan. Hidup kekal, dibenarkan oleh pengorbanan Tuhan Yesus. Tetapi tetap saja kita akan merasa seperti ditelanjangi dan malu manakala setiap dosa dan kesalahan kita dipaparkan di depan pengadilan Tuhan itu. Yang lebih mendahsyatkan lagi, yang menghakimi kita adalah Pribadi yang sangat mengenal kita dan kita pun mengenal-Nya, meskipun belum sempurna. Tidak ada satupun yang tersembunyi di hadapan-Nya. Apa yang kita pikirkan dan rasakan pun diketahui-Nya. Ya, kita memang sudah dijamin selamat, hidup kekal di surga, karena Tuhan Yesus. Tapi, tetap saja kita akan merasa tegang di hadapan tahta pengadilan-Nya yang kudus. Sama seperti yang kurasakan ketika melihat dr. Yohan ketika presentasi itu. Bahkan, jauh lebih dahsyat lagi, sebab yang ‘mencecar’ kita nanti adalah TUHAN, Sang pencipta langit dan bumi.
                Sama seperti dr. Yohan yang harus mempersiapkan sungguh-sungguh presentasinya, meskipun tetap saja belum sempurna 100%, demikian juga kita hendaknya mempersiapkan hidup kita untuk menghadapi tahta pengadilan Tuhan. Kita harus siap mempertanggungjawabkan setiap pilihan hidup yang kita ambil. Kita harus siap memperlihatkan hasil pekerjaan kita masing-masing. Kita harus siap untuk dinilai dan dihakimi TUHAN yang maha adil. Rasa malu karena kesalahan yang tampak itu wajar. Namun, jika kita mau mengakui kekurangan dan kelemahan kita, serta dosa-dosa kita, maka kita akan beroleh pengampunan. Itulah anugerah TUHAN. Bagian kita adalah menerimanya dengan iman.
                Aku sangat bersyukur melihat proses presentasi dr. Yohan hari ini. Aku jadi terdorong untuk mempersiapkan diriku kelak jika tiba waktuku untuk presentasi kasusku sendiri. Bersiap untuk menampilkan pengetahuan, wawasan, dan kompetensiku di hadapan rekan-rekan sejawat senior. Dan perenungan tentang tahta pengadilan TUHAN itu pun cukup menyadarkanku untuk tidak main-main lagi dengan hidupku. Aku pun harus mempersiapkan diriku untuk berdiri mempertanggungjawabkan setiap aspek kehidupanku di hadapan-Nya kelak. Maranatha!
               
Bapa, terima kasih untuk pelajaran yang bisa kupetik hari ini dari apa yang kulihat dan kuarasakan. Kiranya Roh Kudus menolongku mempersiapkan diri menjelang hari akhir di mana aku akan berdiri di hadapan tahta pengadilan-Mu yang kudus itu, untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatanku dan setiap motivasiku. Haleluya. Amin.

(Rumah Kemuliaan TUHAN di Pelem Kecut, Jumat 14 Desember 2013)

Kamis, 14 Februari 2013

Sopir Taksi yang Ramah


TUHAN…
Tolong ya, supaya aku dapat sopir taksi yang baik dan ramah. Amin.

                Waktu menunjukkan jam dua siang. Waktu pulang kerja. Hujan turun dengan derasnya. Untung tidak disertai angin kencang. Aku dan Mas Cah, pasangan hidupku alias suamiku, menjemput Asa di Tempat Penitipan Anak (TPA) seperti biasanya. Asa adalah anak anugerah TUHAN yang Dia percayakan untuk kami rawat. Baru berumur lima bulan dia, tapi polah tingkahnya sungguh luar biasa. Aktif dan terkenal ramah. Puji Tuhan! Kembali ke setting TPA… Hujan masih belum  berhenti, tapi sudah tidak sederas sebelumnya. Kami memutuskan untuk membawa pulang Asa dengan taksi saja. Yang naik taksi adalah aku dan Asa, sedangkan Mas Cah naik motor sambil membawa tas-tas.
                Sambil menunggu Mas Cah memanggil taksi, aku berdoa dalam hati supaya mendapat sopir taksi yang ramah dan baik hati, tidak judes atau dingin. Sudah dua kali aku naik taksi sambil menggendong Asa sebelum ini. Dua kali pula aku mendapat sopir yang kurang semanak. Mungkin karena waktu itu lagi hujan deras, jalanan sedikit banjir, lalu lintas padat, dan sopirnya agak sepaneng. Tapi kali ini aku mencoba sesuatu yang baru. Aku berdoa dengan sederhana namun lebih sungguh-sungguh. Sebelumnya aku memang tidak berdoa secara khusus memohon kepada TUHAN tentang sopir taksinya. Maka, aku melakukan semacam eksperimen doa.
                Taksi pun berhasil dipanggil. Saatnya membuktikan, apakah doaku terkabul. Waktu aku mau masuk dari pintu kanan kursi belakang, pak sopir membantu membukakannya dari dalam. Lumayan, pikirku. Kemudian, aku menyampaikan tujuanku kepada beliau.
                “Ke Pelem Kecut, Jalan Gejayan, ya, Pak!” seruku
                Jawaban Pak Sopir agak kurang jelas kudengar. Tak mengapa. Yang penting aku dan Asa sudah aman duduk di taksi dengan inisial V. Mas Cah seperti biasa sudah naik sepeda motor. Kesan pertama, jalannya tidak terburu-buru. Puji Tuhan. Kemudian aku lihat di dashboard depan, identitas Pak Sopir terpampang dengan jelas. Namanya adalah Pak Darmanto. Oke, aku catat baik-baik dalam hati. Kemudian, ketika sudah melaju di jalan Cik Ditiro, aku mulai obrolan basa-basi untuk mengetes temperamen Pak Darmanto.
                “Hujan ya, Pak.”
                “Iya,” agak lama Pak Darmanto menjawab. Tidak ada tanda-tanda tidak ramah. Lumayan.
                “Pakai angin gak, Pak, tadi?”
                “Tidak pakai angin,” jawab Pak Darmanto dengan sedikit lebih cair suasananya. “Kalau kemarin-kemarin pakai angin, terutama di daerah Sleman, Purwomartani.”
                “Iya, banyak yang rusak ya, Pak.”
                “Iya, banyak,” kebekuan mulai mencair. Puji TUHAN!
                “Kemarin di berita anginnya seperti tornado ya, Pak. Gambarnya dari atas sampai ke bawah.”
                “Iya…” dan Pak Darmanto pun berkomentar yang lumayan agak banyak, sehingga dialog pun mengalir dengan tidak terlalu kaku.
                Obrolan pendek-pendek pun terus berlangsung. Aku jadi tahu kalau Pak Darmanto itu asli Yogyakarta, tinggal di Minomartani. Sehari-hari bekerja membawa taksi dari pagi sampai malam. Target setoran sehari sekitar 180.000 rupiah. Jika kurang dari itu, maka harus berhutang dulu. Taksinya boleh dibawa pulang. Dalam hati, aku berdoa supaya TUHAN memberkati Pak Darmanto.
                Sampailah aku dan Asa dengan selamat di rumah Pelem Kecut. Taksi kubayar dan ketika keluar dari pintu sebelah kiri, kuucapkan terima kasih kepada Pak Darmanto. Mas Cah sudah menyambut di pintu pagar.
                “Matur nuwun, Pak Darmanto!” seruku. Kulihat beliau pun menjawab dengan lebih ramah lagi. Mungkin karena kusebut namanya.
                Akhirnya, terbuktilah sudah. Doaku yang sederhana dijawab TUHAN dengan sederhana pula, namun luar biasa. Aku minta diberi sopir taksi yang ramah, dan TUHAN memberikan apa yang kuminta. Puji Tuhan! Tentu saja dalam proses menerima jawaban doa tersebut, aku pun harus melangkah dengan iman. Aku mulai terlebih dahulu dengan menyapa pak sopir dengan namanya. Dan gayung pun bersambut. Meskipun hanya sebentar mengobrol, aku bisa merasakan bahwa atmosfer di dalam perjalanan itu terasa menyenangkan. Dan apa yang kulakukan ini pun aku percaya tidaklah sia-sia. Tuhan pun memberkati Pak Darmanto, aku yakin itu. Terpujilah nama TUHAN! Haleluya!

(Rumah kemuliaan TUHAN di Pelem Kecut, Kamis 13 Desember 2012)