Selasa, 28 Juni 2011

menjelang siraman

Detik-detik menjelang acara siraman. Belum mandi. Belum siap-siap. Sedang asyik membaca-baca tulisan di blog (blogwalking), di FB, di buku. Sekedar untuk membuat sibuk isi kepala supaya jangan kosong melompong. Belum pula berdoa menenangkan diri, mengambil sikap-waktu-tempat khusus. Padahal sebentar lagi bakalan sibuk, menjadi pusat perhatian. Setelah menuliskan tulisan ini aku berjanji untuk segera mandi dan siap-siap. O iya, ada satu tugas lagi. Aku harus menuliskan tulisan buat Yoyo. Ok deh... sampai di sini dulu ya... ^^

Minggu, 26 Juni 2011

Kegelisahan dalam Obrolan

kegelisahan...
kembali terasa...
dalam hatiku...

Apa yang kamu inginkan?

Yang kuinginkan adalah mengerjakan apa yang sungguh-sungguh kusukai. Kalau toh itu tidak terwujud, maka setidaknya aku bisa menyukai apa yang kukerjakan sekarang. Mustahilkan, Bapa?

Sudahkah?

Belum. Belum terasa... atau aku yang belum menyadarinya. Mungkin aku masih terpaku pada masa lalu dan masa depan, Bapa... penyesalan-penyesalan masa lalu dan ketakutan-ketakutan terhadap masa depan...

Apa yang kamu cari?

Aku sedang mencari kepenuhan hidup seperti yang Engkau pernah katakan berulang kali... hidup yang bebas dan belenggu kekuatiran... hidup yang bebas dari cengkeraman kesia-siaan... Kekuatiran dan kesia-siaan boleh saja masih merongrong/menerorku, Bapa, tapi setidaknya mereka tidak lagi menduduki singgasana hatiku... Perjuangan terus-menerus melawan intimidasi mereka mungkin tidak akan pernah berakhir.

Apa yang kamu kuatirkan?

Aku kuatir... kalau aku kalah... kalau aku berakhir tragis... kalau aku kehilangan harapan... kehilangan pijakan... kehilanga semangat... sekali lagi...

Apa yang membuatmu gelisah saat ini?

Banyak, Bapa... dari dalam diriku: aku masih menyimpan sifat minder, mental kuli pemalas... kecenderungan untuk cuci tangan dan ambil enaknya sendiri... keengganan uuntuk belajar apa-apa saja yang perlu kupelajari. Dari luar diriku: lingkungan kerja yang kurang nyaman, yang masih membuatku jaim, belum bisa menjadi diriku yang sebenarnya... harapan-harapan orang lain yang nampaknya baik tapi rasanya membelengguku... menghambat kreativitas dan ekspresi jiwaku yang lain dari yang lain, tidak dapat disamaratakan...

Apa yang kamu harapkan?

Pembebasan... pembebasan batin dari belenggu keharusan melakukan apa yang bukan merupakan panggilanku... alternatif lain yang lebih baik... yang membuatku benar-benar hidup, Bapa... Dari manakah pembebasan itu? Dari diriku sendiri? Atau aku harus menunggu? Menunggu apa? Menunggu siapa? Sampai kapan?

Apa sebenarnya panggilanmu?

Masih dirumuskan... Yang jelas, aku suka menuliskan rekam jejak pikiran dan perasaanku. Dan aku suka membaca dan mengamati rekam jejak pikiran dan perasaan orang-orang berjiwa besar lainnya. Aku mulai sadar, sedang tumbuh hasrat untuk belajar. Belajar tentang inti sari, makna, dari hidup. Munkin tidak secara teknis yang praktis dan pragmatis, tetaoi secara idealis-reflektif-kontemplatif. Jika batinku penuh terisi dengan itu, maka semangatku untuk bertindak pun menyala-nyala. Itu sebabnya aku suka baca-baca dan belajar hal-hal yang bersifat rohani, sosial, filosofis, yang mungkin jauh hubungannya dengan pekerjaanku secara praktis. Mungkin aku salah. Tapi dalam belajar, selalu ada tempat untuk kesalahan, bukan? Dan belajar itu adalah proses seumur hidup. Bukankah begitu, Bapa?

Bapa, unntuk apa Engkau menciptakan aku dan memproses aku hingga saat ini? Beritahu aku, Bapa, apa tujuanMu... dan terima kasih untuk jawabanMu... apa pun itu... demi nama Tuhan Yesus, aku mohon... amin!!!

Jumat, 24 Juni 2011

Hikmah dari Turba ^^ Amazing ^^

Selamat pagi, Bapa...

Terima kasih seribu! Terima kasih untuk pengalaman turba ke bantaran kali Code kemarin. Terima kasih untuk acara jalan-jalan ke sana ke mari bareng mas Cah. Terima kasih untuk sentuhanMu melalui karya tulis Romo Mangun yang membuka hati dan pikiranku sehingga tumbuh kasih dan semangat sosial. Horisontal melengkapi vertikal sehingga sempurnalah "salib" kasihMu. Terima kasih untuk revolusi hatiku yang terus Engkau kerjakan, Bapa.

Setelah turba kemarin, aku jadi makin bersemangat menyongsong hidup omah-omah bareng mas Cah. Tidak ada ketakutan atau pun keraguan. Aku akan makin banyak kesempatan untuk turba, mengidentifikasikan diriku dengan mereka yang ada di "bawah", merakyat. Aku ingin menghayati hidup seperti yang pernah dihayati oleh orang-orang berjiwa besar lainnya, yang sebenarnya punya kesempatan untuk "naik terus sampai ke puncak" tapi lebih memilih "turun ke bawah". Di antara orang-orang berjiwa besar tersebut terdapatlah pribadi-pribadi yang aku kagumi, yaitu Engkau sendiri, Romo Mangun, Mother Theresa, dll. Aku mulai menghormati semangat sosial yang dimiliki saudara-saudaraku umat Katholik, Bapa... Sungguh luar biasa mereka! Tidak ada lagi tempat dalam hatiku untuk mendiskreditkan mereka...

Aku akan menikmati kesempatan-kesempatan bersentuhan hati dengan mereka-mereka yang termasuk "wong cilik" di mana pun itu. Pintu rumahku nanti akan senantiasa terbuka untuk mereka yang memerlukan sentuhan kasih. Contohnya, seandainya ada orang yang datang untuk meminta-minta uang, aku tidak akan cuek atau pura-pura sibuk seperti yang selama ini dibiasakan di rumahku. Aku akan menyambutnya masuk, mengajak dia ngobrol, memberi makan minum secukupnya, dan baru memberinya uang sekedarnya begitu dia mau beranjak pergi. Begitulah caraku nanti dalam memerangi kemiskinan akan kasih ^^

Bapa, aku pernah sok rohani. Sekarang aku nggak mau sok sosial. Aku mau sungguh-sungguh digerakkan dan dimotivasi olehMu sendiri. Aku percaya, bukan kebetulan aku "menemukan" mutiasa hikmat dari Romo Mangun (baru sekarang). Luar biasa sekali, Bapa! Meskipun Romo Mangun sudah tidak ada di dunia ini, karya-karyanya masih tetap "berbicara" menyentuh hati. Sungguh dahsyat dampaknya! Aku mau ah jadi seperti itu juga, Bapa. Kiranya karya-karya tulis dan karya-karya hidupku juga dapat menyentuh dan memotivasi banyak orang juga. Haleluya!

Dengan terbukanya mata hatiku, aku tidak lagi merasa beban-beban kerja di RS dan di BP sebagai pengorbanan yang sia-sia. Aku akan memandang dengan perspektif baru. Bukan dengan kasihku yang tidak sempurna, melainkan dengan kasih agapeMu, Bapa, aku akan bertindak menjadi perpanjangan tanganMu. Maranatha!

Kamis, 23 Juni 2011

Turun ke Bawah

Turun ke bawah...
turun...
turun...
lihat dunia sekitar...
betapa indahnya...
betapa hangatnya...
betapa mesranya...
bapak ibu anak-anak...
dalam lingkungan rumah yang hangat...
penuh kasih sayang...
canda tawa...
sungguh tiada terukur dengan harta...
keramahan dan ketulusan ada di sana...
melimpah ruah seperti limpahnya air sungai Code...
meskipun sempat harus mengungsi menyelamatkan diri...
rumah tergenang pasir lumpur air sungai...
harta benda harus ditinggal demi jiwa...
masih tersisa jejak-jejak lahar dingin...
mengubur rumah-rumah sampai setengah...
tapi saat ini keceriaan telah kembali...
ketakutan masih membayangi...
tapi tadi tidak kurasakan sengatnya...
kasih yang sempurna telah mengalir...
mengusir semua bentuk ketakutan...
sungguh pengalaman yang berharga.,,
turun...
turun...
turun ke bawah...
terima kasih Tuhan...


Puisi ini terinspirasi oleh pengalamanku sore malam ini saat pergi ke bantaran kali Code untuk mengurus administrasi buat nikah besok. Maklum, KTP ku KTP Kotabaru, meskipun domisiliku di Sleman. Aku harus mendapat surat pengantar dari RT dan RW setempat sesuai KTP. Maka, aku dan mas Cah pun berpetualang asyik ke tepi kali Code. Turun ke bawah. Jalan Kaki. Senang sekali. ^^

Selasa, 21 Juni 2011

Kegelisahanku Kemarin, Jujur tapi Sakit... T_T

Selamat sore, Bapa...

Aku harus menuliskan ini sebelum aku curhat-curhat sama orang lain, Bapa. Meskipun berat rasanya, aku harus menyampaikan terlebih dahulu isi hatiku kepadaMu. Urgent banget. Ya, ini penting sekali. Begini... Tadi waktu "nggak sengaja" baca-baca jadwal jaga di BP Wonosari, aku menemukan hal yang menggelitik hatiku. Di lembaran kosong, tertulis namaku (dr Yohana) dan angka-angka 7 deret dimulai dari angka 5, 8, 13, dst. Di atasnya tertulis "Juli 2011". Cukup mencurigakan, bukan? Aku pikir apa mungkin ini jadwal jagaku? Kok cum aku sendiri yang ditulis? Aneh, bukan? Kemudian, aku tanya ke Pak Budi dengan sopan dan ramah. Kata Pak Budi, itu memang benar jadwalku di bulan Juli. Aku tanya, kenapa cuma aku sendiri yang ditulis? Kata Pak Budi lagi, untuk mengatur jadwal perawat yang jaga malam. Khusus yang jaga aku, perawat yang jaga malam harus 2 orang. Kalau yang lain nggak perlu. Dah, aku nggak bertanya-tanya lagi. Langsung diem dan berpura-pura santai. Padahal dalam hati aku merasa sangat terpukul meskipun aku secara objektif memahami keadaannya. Kalau aku yang jaga, maka perawat-perawat mungkin menilai banyak kurangnya. Kurang tegas, kurang tanggap, kurang semuanya deh. Memang betul, tidak salah. Dan aku sendiri pun mengakuinya. Kalau datang pasien yang gawat, aku lebih banyak diam. Parah bukan, Bapa? Mungkin para perawat sudah pada tahu, diam-diam ngomong di belakangku, tapi belum ada yang dengan berani dan bijak ngomong di depanku. Tanpa diomongi pun aku sudah tahu dan sudah bisa merasa, kok, Bapa. Masalahnya memang ada di aku.

Bapa, ampuni aku kalau aku kurang hati-hati menjaga hati dan pikiranku. Mungkin tadi sebaiknya aku tidak mengorek-ngorek keterangan kalau akhirnya malah membuatku berkecil hati. Mungkin sebaiknya aku tetap tidak tahu menahu apa-apa. Itu lebih aman dan nyaman. Tapi kok sepertinya nggak bener juga ya...

Bapa, memang enak mendengar pujian daripada kritikan, meskipun kristik itu jujur apa adanya. Karena dengan pujian, aku lebih bersemangat dan entah bagaimana bisa bertindak sesuai dengan pujian-pujian tersebut. Misalnya tadi, Meryl memujiku tampak lebih "charming" hari-hari ini. Dan aku merasa tambah PD. Sikap dan pikiranku pun mengarah ke arti kata "charming" itu. Sebaliknya, ketika Pak Budi menjawab pertanyaanku apa adanya tanpa memperhalus atau mengurangi bahasanya, meskipun sesuai dengan kenyataan, rasanya sangat menghancurkan hati. Mana yang lebih baik, Bapa, mengatakan sesuatu yang sesuai kenyataan atau memberi pujian positif sehingga kenyataan yang negatif itu dapat berubah seperti pujian yang positif? Hmmm...

Bapa, mungkin aku bukan orang yang suka mendengar hal-hal yang tidak enak meskipun sesuai kenyataan. Aku lebih suka tidak difokuskan melulu pada kekuranganku, tetapi diberkan semangat dan pengharapan yang meskipun belum terjadi saat ini, mampu mendorongku untuk maju sehingga melampaui kenyataan yang pahit itu. Hmmm...

Satu lagi, Bapa, kegelisahanku. Ibuku begitu mengkuatirkan apa kata orang di belakang, alias "rasan-rasan" orang lain. Sehingga, ibuku selalu mendorongku untuk bersikap baik dan perfect dengan alasan supaya tidak dirasani. Terus terang, Bapa, aku nggak suka dinasihati seperti itu. Bolehlah disuruh bersikap baik, tapi kalau alasannya supaya nggak dirasani orang lain kok kedengarannya wagu ya? Tidak, Bapa, aku tidak menyalahkan ibuku. Aku cuma ingin tidak dididik terus dalam iklim takut akan manusia melebihi takut akanMu. Itu saja sih yang ingin kusampaikan saat ini. It's hurt, Father God, Lord Jesus, Holy Spirit...


Dan Tuhan pun menjawab:
Jangan tawar hati, jangan sedih...
Jangan pikirkan apa yang orang lain pikirkan tentangmu...
Bersemangatlah... bersukacitalah!!!

Minggu, 19 Juni 2011

Sekelumit Kesan Tentang Burung Burung Manyar ^^


Akhirnya roman "Burung-Burung Manyar" sudah selesai aku baca dengan seksama. Kesan yang kudapat? Awal-awalnya sih dimulai dengan keriangan dan kegembiraan yang penuh romantika. Kemudian di pertengahan cerita berjalan dengan penuh makna. Tidak terasa kalau perjalanannya panjang dan berliku karena Romo Mangun menuliskan alur ceritanya diselingi wawasan-wawasannya yang sangat dalam tentang kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat. Yang bikin cerita roman ini makin terasa dalam mengiris adalah akhir cerita yang menurut psikologi populer tidaklah happy ending, karena kedua tokoh utama (Teto dan Atik) tidak bersatu sebagai suami istri. Malah, salah satu di antara mereka "dimatikan" oleh Romo Mangun dengan indahnya.

Setelah membaca habis roman tersebut, aku cukup merasa kesepian. Jadi bertanya-tanya apakah itu juga yang dirasakan oleh Romo Mangun? Kesepian di tengah-tengah indahnya karya ciptanya. Memang indah dan manis kisah Teto dan Atik dalam roman ini, tapi sangat terasa sekali aura kesepian meskipun tidak diwarnai oleh nuansa kesedihan yang mengerikan. Semacam perasaan mendambakan sesuatu yang sangat dicintai tapi mustahil dimiliki. Yang sedih adalah orang lain yang melihat, bukan si pelakon itu sendiri. Ini apa ya namanya? Ironi? Bukan. Tragedi? Juga bukan. Memang betul tulis Romo Mangun, yaitu bahwa kisah-kisah cinta romantis yang happy ending hanya ada di roman-roman picisan. Dan terbukti bahwa "Burung-Burung Manyar" bukanlah roman picisan karena sang penulis "tega" tidak menyatukan cinta Teto dan Atik dalam ikatan pernikahan. Yah, mungkin memang seperti itulah kehidupan yang sebenarnya.

Kisah cinta memang menjadi daya tarik tersendiri bagi manusia. Itu sebabnya begitu banyak cerita tentang kisah cinta yang laris manis. Dan meskipun Burung-Burung Manyar banyak bercerita tentang kehidupan pada zaman revolusi dulu, tetap saja yang menjadi perhatianku sebagai pembaca "awam" adalah bagaimana jalan cerita kisah cinta antara Teto dan Atik. Mungkin memang cinta adalah bahasa universal yang paling mudah dipahami oleh siapa pun juga. Sehingga, sangatlah brilian cara Romo Mangun memasukkan unsur vital tersebut dalam cerita romannya yang sarat akan pembelajaran dan perenungan yang dalam. Semacam coklat manis yang disisipkan untuk meredam rasa pahit obat yang harus diminum.


Sabtu, 18 Juni 2011

Where Is My Sweet Spot?

Bapa, kembali aku mempertanyakan lagi akan visi hidup, arah tujuan, my SHAPE, my sweet spot, my passion. Sungguhkah menjadi SpKJ kelak merupakan panggilanMu atasku? Atau itu cuma kamuflase semu untuk memberikan ketenteraman palsu saat ini? Apakah aku sedang pergi menjauh dari rancanganMu? Bagaimana caranya supaya aku menemukan tujuan spesifik hidupku?

Aku percaya, Bapa, bahwa Engkau saat ini bersamaku, dan aku bersamaMu. Engkau tidak pernah dan tidak akan pernah meninggalkanku kebingungan seorang diri seperti anak hilang di keramaian. Karena Engkau besertaku, maka aku pun tenang. Aku tidak panik atau gelisah. Cukupkah aku percaya saja, pasrah bongkokan, kepadaMu tanpa tahu hendak ke mana Engkau membawaku? Perlukah aku mengetahui tujuan hidupku secara spesifik itu atau tidak? Apakah aku hanya perlu berjalan selangkah demi selangkah meraba-raba dalam pencarian akan visi dan tujuanku?

Hmmm... cukup berat dan sulit juga merumuskan kegelisahan hatiku dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan di atas. Tapi aku lega, Bapa, syukur kepadaMu karena aku tahu dan percaya bahwa aku akan beroleh jawabanMu yang memuaskanku. That's Your promise!

Satu kekuatiranku, Bapa... Aku tidak mau terjebak dalam pekerjaan yang tidak kusukai. Aku tidak mau terbelenggu dalam pekerjaan yang tidak benar-benar kuminati. Bayanganku, keadaan itu sama saja seperti budak yang terpennjara dan hanya bisa menggiling berputar-putar. Sungguh melelahkan, sia-sia, dan mematahkan semangat. Contoh konkretnya, aku tidak mau stuck menjadi dokter IGD yang tanpa passion. Aku tidak mau selamanya "terjebak" menjadi dokter IGD yang "membahayakan". Lebih tidak mau lagi, aku nggak mau berhenti di tengah jalan, membuat blunder, mengacaukan semuanya karena ada situasi dan kondisi yang di luar kuasa/kendaliku. Misalnya, kondisi bapak dan ibuku yang tidak lagi fit atau bahkan meninggal yang bisa menyebabkan langkahku menuju "negeri perjanjianMu" terhenti. Yang aku inginkan adalah aku terbebas dari kuk bekerja rodi dengan hati terpaksa. Aku ingin sungguh-sungguh menikmati pekerjaan yang benar-benar sesuai untukku, entah itu di IGD (kalau mukjizat terjadi yaitu aku pada akhirnya menikmati pekerjaan di IGD) atau tidk di IGD. Keinginanku cuma supaya hidupku berarti, tidak sia-sia. Sebab Engkau menciptakanku pasti ada tujuan yang khusus, Bapa. Engkau menjadikanku unik supaya aku menggenapi rencanaMu yang unik pula bagiku. Ini yang aku percaya, yaitu bahwa Engkau tidak akan membuat hidupku sia-sia. Yang kuperlukan adalah iman dan pengharapan yang teguh di dalamMu, Bapa.

Kamis, 16 Juni 2011

Disturb Your Friends ^^

Kakakku pernah menulis status di FB yang mengatakan bahwa "peraturan dalam pertemanan: ganggulah temanmu sebanyak mungkin", kurang lebihnya begitu. Pernyataan itu senada dengan pesan yang pernah disampaikan oleh Mbah Edy waktu PA dewasa muda. Pesannya adalah: jangan punya prinsip "tidak mau mengganggu karena tidak ingin diganggu". Maksudnya, sebagai manusia yang adalah makhluk sosial, seharusnya kita hidup srawung dengan orang lain. Salah satu bentuk srawung adalah dengan "mengganggu" orang lain, jangan pasif. Salah besar jika kita bersikap acuh tak acuh terhadap orang lain di sekitar kita dengan alasan "tidak mau mengganggu dan diganggu".

Wew, Bapa... prinsip yang sangat jauh dari kebiasaanku selama ini. (Mungkin) aku terlalu asyik dengan diriku sendiri sehingga lupa akan orang-orang lain di sekitarku. Aku tidak menegur/"mengganggu" mereka, mereka pun tidak menegur/"mengganggu"ku. Lama kelamaan aku terbiasa hidup solitaire dan lupa bagaimana caranya srawung. Aku tidak tahu bagaimana bersikap terbuka kepadaku. Parahnya, Bapa, aku telah terbiasa hidup demikian selama ini. Aku (mungkin) tidak sadar betapa sepi dan membosankannya hidup yang kujalani ini.

Syukur kepadaMu, Bapa, Engau mengirimkan seorang mas Cah. Melalui obrolan-obrolan sederhana dengan mas Cah, aku mulai belajar kembali bagaimana bersikap terbuka dan tidak egois. Melalui hal-hal sederhana dan kegiatan-kegiatan di luar rumah bersama mas Cah, aku belajar memahami dan menghayati hidup bersama orang lain dalam suatu komunitas. Tidak terlalu idealis muluk-muluk seperti yang selama ini ada di konsep pikiranku, tetapi cukup sederhana dan sangat membumi. Sungguh suatu anugerah yang patut disyukuri, Bapa. Sekali lagi terima kasih untuk mas Cah... haleluya ^^!

Suatu Siang di BP Wonosari ^^

Selamat pagi jelang siang, Bapa...

Kembali aku jaga di BP Wonosari. Tidak bisa lepas bebas nih perasaanku. Meskipun lagi sepi nggak ada pasien, aku tetap merasa tegang dan waspada, siap-siap kalau-kalau ada pasien yang gawat datang. Membaca dan menulis pun tidak bisa lepas dan lega. Yah, inilah konsekuensi dari pilihan-pilihanku. Konsekuensi dan pilihan mengapa aku mengambil profesi ini dan terjun dalam lapangan pekerjaan ini. Aku patut bersyukur, Bapa, karena sebenarnya pekerjaan apa pun itu pasti ada beban-beban tersendiri yang menyertainya. Kalau aku merasa berat seorang diri di sini, itu karena aku masih belum memperluas wawasanku. Sebenarnya aku maish bisa membuka cakrawala hati dan pikiran dengan salah satunya mengajak ngobrol orang-orang yang ada di dekatku saat ini. Misalnya, perawat. Aku bisa berbagi beban dan sukaccita kerja dengan mereka. Atau pasien dan keluarganya. Aku bisa membuka mata bahwa ternyata ada orang-orang lain yang jauh lebih terbeban dan tegang daripada aku sendiri saat ini. Hmmm... tapi untuk saat ini, izinkanlah aku untuk sekedar memuaskan hasrat hatiku menulis-nulis di sini.

Komitmen dan Tekad Hati ^^

Bapa, aku berkomitmen untuk tidak ikut-ikut menghujat ataupun mengkritik siapa pun dengan tidak adil. Aku bertekad untuk belajar dari siapa pun juga. Aku berketetapan hati untuk menarik saripati hikmat dari hidup orang lain, siapa pun itu. Roh Kudus, Engkaulah guruku, Engkaulah pembimbingku, Engkaulah penyelamatku! Ajarlah aku seluruh kebenaranMu. Berikanlah padaku sudut pandangMu. Biarlah aku bertumbuh di dalam pengenalan yang benar akanMu. Aku mau hidup sesuai janjiMu, Matius 6:33.

Bapa, segala tulisan, kata-kata, ucapan, dan doaku tidak mampu merangkum seluruh gejolak hatiku yang dipenuhi kerinduan akanMu dan seluruh kebenaranMu. Terima kasih, Bapa, buat apa yang kurasakan saat ini. Hasrat yang terdalam hanyalah semakin dalam menyelamiMu. Aku tik akan pernah bosan minum dari air sungai kehidupanMu. Perkataan-perkataanMu sungguh hidup di dalamku. Hebat sekali, Engkau sungguh hebat, Bapa!

Senang sening! Kenyang kenying! Aku masih ingin "bercakap-cakap" denganMu, Bapa! Aku masih ketagihan menuliskan isi hatiku kepadaMu saat ini. Mumpung masih ada waktu. Mumpung tidak ada yang mengganggu. Sungguh, aku rindu padaMu, Bapa.... What can I say?

Awesome...!!!

Terinspirasi oleh Karya Romo Mangun ^^

Selamat pagi dini hari, Bapa...

^^ Ada begitu banyak yang ingin kusampaikan kepadaMu, Bapa... Beribu kesan yang timbul dalam hatiku hari ini setelah aku mengkhatamkan membaca tulisan-tulisan Romo Mangun dalam buku "Esei-Esei Orang Republik" itu. Sungguh luar biasa! Romo Mangun sungguh cerdas, bernas, otentik, dan inspiratif, Bapa! Sungguh sulit dipercaya bangsa Indonesia ternyata mempunyai seorang pribadi pemikir dan aktivis yang sekaliber Romo Mangun! Aku perlu lebih banyak lagi melahap karya-karya tulis beliau, Bapa! Bertambah satu lagi bacaan-bacaan wajibku. Orang-orang yang begitu luar biasa, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, telah memperkaya batin dan wawasanku melalui tulisan-tulisan mereka. Syukur kepadaMu, Bapa! Sungguh luar biasa Engkau!

Ada begitu banyak harta rohani yang terpendam di buku-buku karya orang-orang besar (jiwanya), yang menunggu untuk kugali. Syukur kepadaMu, aku menemukan beberapa sumber yang sarat akan hikmat dan pengetahuan. Tujuanku mengejar dan melahap hikmat-hikmat tersebut bukanlah demi gagah-gagahan atau sanjungan dari orang lain melainkan karena aku sangat lapar dan haus. Lapar dan haus akan kebenaran, akan pengetahuan... Syukur kepadaMu karena firmanMu telah menduduki tempat pertama dalam prioritasku. Syukur kepadaMu karena sejak kecil Engkau telah menumbuhkan benih-benih kebenaran dan cinta akan kebenaran di dalamku. Syukur kepadaMu karena telah mengaruniakan kepadaku hobby/kegemaran membaca dan menulis. Sekali lagi, syukur kepadaMu, Bapa...

Haleluya...!!!

Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu: Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang.
Amsal 24:14

Kamis, 02 Juni 2011

Chatting dengan Yayan ^^

Penyertaanmu Sungguh Agung

Tuhan…
Keagungan-Mu pelita bagi jalanku
Kebesaran-Mu …, membuat aku takjub
Walaupun terdengar derapan kuda
Aku tidak takut karena engkau ada
Saat-saat yang menakutkan
Engkau hadir menggendongku
Walaupun gelap menghalangiku
Engkau melindungiku
Tuhan…
Engkau mengulurkan tangan dengan kasih
Engkau s’lamatkan aku dari bahaya maut
Sungguh, penyertaan-Mu, luar biasa
Aku hanya dapat mengucapkan terima Kasih Bapa
Ku berjalan sejauh apa pun …. Tuhan.
Engkau tetap tersenyum dan menyertaiku…
Walaupun aku sesat, Engkau membimbingku
Ya….. benar . Engkaulah Bapaku, Tuhan

Karya Yayan
amin
bguz gak mbak????????????
sip sip, bagus...
:D
tugas sekolah?
hehehhe
iya
wew
seperti tulisan2 mazmur
yg buat aku sendiri lho...
:D
sip sip
kembangkan terus
hehehehehe
1:45pm
latar belakang atau cerita di balik tulisannya... adakah? (send as a message)
Your chat message wasn't sent because Yayan Red Devi's is offline.
Yayan is offline.

Hikmah dari Gondongen... Thank God... ^^


Ternyata sakit itu nggak enak. Iya, nggak enak. Pikiran jadi mudah konslet. Hati jadi gampang panas. Emosi jadi labil. Belum lagi adanya masalah-masalah psikis yang mewujud dalam keluhan-keluhan fisik, alias psikosomatis. Padahal ini sakitnya tergolong "ringan", yaitu gondongen... atau istilah kerennya: parotitis. Bukan sakit berat atau parah semacam kanker. Masih taraf ringan yang dapat disembuhkan dengan obat dan cukup istirahat, apalagi jika ditambah dengan doa dan kasih. Tapi justru karena dianggap remeh itulah bahayanya. Kita jadi kurang waspada. Kurang sigap menjaga hati dan pikiran sehingga mudah jatuh dalam kemarahan yang tidak pada tempatnya. Kemarahan yang terpendam dan tidak disadari itu biasanya mewujud dalam bentuk sakit kepala, nggliyer, perasaan tidak enak badan seperti mau muntah. Pokoknya serba tidak nyaman deh.

Ini yang kualami hari-hari ini. Beberapa hari terakhir ini aku mengalami sakit gondongen. Nggak terlalu parah sih. Paling parah juga cuma panas dua kali, itu pun waktu dini hari. Cuma mungkin karena jadwal jaga yang relatif lebih padat dibanding dengan sebelum-sebelumnya yang membuatku tidak dapat istirahat secara optimal sehingga sakitnya pun semakin terasa memberatkan fisik dan mental. Belum lagi dengan semakin tidak disiplinnya aku dalam berdoa dan mencari wajah Tuhan. Jadwal jaga di wonosari dan di IGD jadi terasa seperti "serambi neraka kecil", bukan lagi sebagai "taman surga". Aku yang sudah berpembawaan tenang dari sononya semakin banyak lagi diemnya, bisa dibayangkan? Dan dalam diam itu, aku senantiasa bergelut dengan hati dan pikiran yang mudah emosi. Pusing dan mual pun menyerang dengan bergerilya waktu jaga siang IGD kemarin. Akibatnya, waktu yang ada pun jadi seperti terbuang percuma.

Aku lupa... aku masih punya Tuhan. Masih ada Roh Kudus di dalamku. Aku lupa menghubungiNya. Aku lupa berseru ketika sedang membutuhkanNya. Aku yang notabene jurusan surga ini, untuk sesaat lamanya melupakan sumber kekuatanku. Disorientasi, amnesia. Sungguh menyedihkan. Jadi lone ranger, desertir. Puji Tuhan, ada hari libur satu hari. Aku jadi punya waktu untuk berhenti sejenak dari kepenatan dan kejenuhan pekerjaan. Ternyata setelah setahun, aku mulai merasakan stres okupasional. Puji Tuhan aku nggak sendirian. Selalu saja ada malaikan-malaikat Tuhan yang ditempatkan tepat di tikungan-tikungan jalan yang kulalui. Jalan kehidupan yang memasuki rembang tengah hari. Semakin terang. Juga semakin menyengat panasnya. Itu karena lapisan ozon di atmosfer mulai menipis. Terlalu banyak polusi pula sehingga bumi makin panas. Sehingga, sinar matahari yang seharusnya bersahabat dan layak disyukuri pun terpaksa dihindari. Hmmm... (ngelantur ^^)

Back to topic... akhirnya aku sedikit memahami mengapa banyak pasien yang bersikap negatif dan kurang kooperatif selama proses terapetik. Mereka bersikap demikian karena salah satunya adalah tidak tahan dengan nyeri atau ketidaknyamanan fisik dan mental yang dirasakan. Ditambah lagi ada stres kehidupan yang mewarnai hari-hari mereka. Setiap orang pasti punya masalah-masalah yang ingin dihindarinya atau diselesaikan. Stesor tersebut dapat menurunkan ambang batas nyeri sehingga seorang pasien dapat sedemikian mudahnya megeluh sakit. Memang jengah dan sebal juga mendengarkan keluhan-keluhan pasien yang tidak ada habisnya. Sebelum menyebut dan memarahi mereka dengan sebutan "manja", maka aku perlu lebih meregangkan lagi saraf kesabaranku. Orang yang sabar akan memiliki pengertian yang lebih luas dan baik. Ingat bahwa bukan pasien itu yang meminta untuk sakit. Ingat bahwa kalau tidak sakit, mereka tidak akan mau datang ke rumah sakit atau BP. Bukan keinginan siapa pun untuk menderita sakit. Dan karena aku setidaknya sudah "kena batunya", yaitu merasakan sendiri bagaimana gak enaknya sakit seringan apa pun itu bentuknya, tidak selayaknya lagi aku untuk bersikap nggresula atau bersungut-sungut dalam hati setiap kali ada orang yang tiba-tiba datang di counter dengan menyerukan kalimat keramat: "mau periksa". Sekali lagi, aku perlu mengembangkan sikap eling... ingat, aku juga bisa sakit... aku juga bisa berada di posisi mereka... dan apa yang akan kurasakan kalau dokternya pun bersikap seperti aku selama ini: nggak ramah, nggak responsif, malas, dsb...?

Terima kasih, Bapa, buat sakit gondongen ini... Aku jadi bisa belajar merefleksikan sikapku selama ini. Dan saat sembuh nanti, kiranya aku telah sungguh-sungguh belajar dengan baik. Tidak lagi bersikap jahat, kejam, dan malas. Kiranya aku semakin banyak berbuat kasih karena aku telah menerima kasih yang begitu besar dariMu. Demi nama Tuhan Yesus, haleluya... maranatha... amin!!!!!!!