Rabu, 27 Juli 2011

Uneg-uneg Malam Ini, Agak Capek, Kangen... ^^

Sepertinya aku mulai agak lelah. Lelah fisik dan lelah nonfisik. Secara fisik jelas lelah karena jadwal kerja yang sibuk dan padat, bahkan nyaris tanpa libur. Setiap hari harus datang jam 7 sampai jam 2 siang. Belum lagi kalau dijadwal jaga siang atau malam. Terus masih ada jadwal jaga di Wonosari yang tidak tentu harinya. Secara nonfisik lelah karena jadwal yang padat itu membuatku menjadi tidak sempat beribadah di gereja dengan leluasa. Bahkan, kemarin aku terpaksa mangkir dari KTB (kelompok tumbuh bersama) dokter-dokter junior. Terus, PA keluarga muda dan PD daniel yang harus kukorbankan karena ada alasan yang lebih urgent, yaitu kerja. Dan besok Sabtu, yang sedianya akan ada acara Ibadah Raya yang seru dan menyegarkan sepertinya harus pula kukorbankan karena aku harus latihan mengiringi paduan suara Sangkakala. Warning sign mulai menyala berkedip-kedip nih di dalam hati, dalam rohku, yang tidak kasat mata ini. Kalau begini terus, aku bisa ambruk lagi nih. Harus bagaimana ya?

Aku tidak mengeluh. Tidak. Dan tidak akan pernah lagi. Karena kalau terus menerus mengeluh, aku malah semakin lemah dan tidak berdaya guna. Daripada mengeluh, lebih baik mulai memuji Tuhan dan menghitung-hitung lagi berkat-berkatNya. Misalnya, aku setiap hari ketemu dengan teman-teman seperjuangan yang luar biasa. Bersama mereka, aku bisa enjoy, santai, dan bersemangat dalam bekerja. Semacam anestesi jiwa. Pekerjaan yang berat dan membosankan dan rawan mematahkan semangat karena penuh tekanan dan beban menjadi mengasyikkan dan bermakna. Thanks to Yohan yang selalu antusias dan semangat dalam bercerita apa saja. Heran, dari mana sih semangatnya yang tidak pernah habis itu? Thanks to Meryl yang baik dan tulus dalam setiap ucapan dan perbuatannya. Sungguh berharga memiliki teman seperti Meryl. Thanks to Yudith yang selalu ada saja kelucuan-kelucuan tak terduga. Selalu menghibur dan menolong di saat yang kritis. Overall, thanks to Jesus Christ yang selalu ada di mana pun aku berada.

Mengingat hal-hal positif dan baik itu sangat membangkitkan semangatku. Mengalihkan perhatianku dari hal-hal negatif yang memadamkan semangat. Aku perlu selalu diingatkan akan hal ini karena aku sangat sering lupa. Apalagi sekarang saat mas Cah pergi mengurus ini itu buat pindahan. Aku ditinggal di rumah Pelem Kecut dengan pertimbangan supaya tidak terlalu capek fisikku karena nanti malam aku jaga lagi di IGD. Tapi jujur aku kangen sekarang sama mas Cah, pingin doa bareng. Pingin ngobrol meskipun ngalor ngidul nggak karuan. Ditinggal mas Cah begini merupakan kesempatan yang baik untuk mendekatkan diri lebih lagi sama Tuhan Yesus. Aku masih punya waktu sekitar satu jam untuk masuk kamar, berdiam diri sejenak, dan mulai menyembah Tuhan secara pribadi. Aku bisa mulai sekarang. Ok deh... Let's go!!! Here I am, Lord... ^^ I am ready to go...

Senin, 25 Juli 2011

Habis Nonton The King's Speech, Ini Dia Oleh-olehnya... ^^

The-Kings-Speech_featuredHabis nonton film The King's Speech. Minjem di rentalan. Lebih tepatnya: dipinjemkan Mas Cah. Makasih, mas Cah ^^... Karena suasana menonton yang kurang kondusif, di mana fisik yang terlalu lelah sehingga terkantuk-kantuk dan kurang konsentrasi, serta orang-orang satu rumah yang ternyata tidak ada yang kepingin nonton film ini, maka dengan sedih hati aku kurang bisa menghayati film ini dengan baik. Padahal katanya film ini baguuuus sekali. Ya, menurutku juga bagus sekali. Ceritanya sederhana dan menarik. Tentang Duke of York, yang kemudian menjadi King George VI, yang memiliki keterbatasan dalam berbicara di depan umum. Gagap, itulah masalah beliau. Zaman segitu belum ada siaran televisi global, dan sepertinya siaran televisi nasional pun belum ada. Yang ada baru siaran radio. Alkisah, Duke of York diharuskan membacakan pidato di depan publik. Namun sayang, gagapnya itu membuatnya tidak mampu berkata-kata. Sehingga, sang istri dengan tekun dan sabar membantu mencarikan solusinya. Setelah cari sana cari sini, ketemulah seorang ahli terapi wicara yang nyentrik. Metodenya lain dari yang lain. Untuk mengetahui bagaimana cara sang terapis memberikan terapi untuk sang pangeran gagap, silakan menonton sendiri filmnya. Singkat cerita, sang pangeran yang sebenarnya bukan putra mahkota ini, harus menggantikan sang kakak naik tahta karena sang kakak ternyata lebih memilih menikah dengan janda cerai. Mohon dimaklumi, raja Inggris juga adalah kepala gereka Anglikan, sehingga sangatlah wajar jika sang kakak yang adalah raja harus mengundurkan diri sebab tidak sesuai dengan aturan gereja. Maka, jadilah sang pangeran gagap ini naik tahta menjadi King George VI. Adegan klimaks film ini adalah ketika sang raja yang sudah tidak gagap (thanks to sang terapis) harus memberikan pernyataan perang melalui radio di seluruh negeri. (Waktu itu adalah menjelang perang dunia kedua). Dan adegan klimaks inilah yang sepertinya disebut sebagai The King's Speech itu. Untuk lebih jelasnya silakan menonton sendiri filmnya. Maaf, saya tidak pandai bercerita.

Ada beberapa hal menarik yang cukup berkesan dari film ini. Saya menonton film ini karena ingin berefleksi diri, sehingga mungkin apa yang saya dapatkan ini cuma cocok untuk diri saya sendiri. Mohon maaf bagi yang bingung dan bosan. Yang pertama, adalah tentang kegagapan. Saya merasa diri saya senasib dengan Duke of York atau King George VI. Meskipun secara literal saya tidak gagap dalam bicara, saya merasa diri saya gagap dalam berkomunikasi. Kurang luwes, begitu. Dan sama seperti Duke of York membutuhkan ahli terapi wicara, demikian juga saya membutuhkan tidak hanya satu ahli terapi berkomunikasi. Dalam hal ini, yang lebih utama adalah komunikasi nonverbal. Saya pernah ditegur tentang bahasa tubuh saya yang kurang ekspresif. Syok dan agak down juga mendengarnya. Tapi sekarang saya sudah merasa jauh lebih mendingan. Saya masih terus berusaha dan belajar untuk meluweskan bahasa tubuh saya karena bagaimana pun juga bahasa tubuh saya berbicara lebih keras daripada bahasa verbal.

Kedua, tentang sang terapis. Saya sangat terkesan dengan apa yang dilakukan oleh sang terapis. Meskipun bukan dokter ahli jiwa yang sungguhan, sang terapis ini melakukan tugasnya dengan amat baik. Bahkan jauh lebih baik daripada ahli terapi yang resmi. Yang mendorongnya untuk menolong orang lain adalah hatinya yang dipenuhi passion. Pengalaman dalam perang dunia pertamalah yang membuatnya mampu untuk menolong orang-orang yang kesulitan berbicara akibat trauma masa lalu. Dan mungkin bukan kebetulan saya menonton film ini, karena saya pun punya passion juga untuk bisa menjadi seorang ahli terapi jiwa... yah, mirip-miriplah dengan terapi wicara yang ada di film ini. Saya berangan-angan untuk bisa membantu orang-orang yang mengalami guncangan jiwa itu bukan melulu menggunakan obat-obatan kimia ataupun terapi kejang listrik seperti yang dilakukan oleh ahli-ahli jiwa secara konvensional. Saya lebih ingin mengembangkan terapi dalam bentuk "ngobrol". Saya ingin para pasien nanti bisa mencurahkan isi hatinya dengan sebebas-bebasnya tanpa perlu takut dianalisa begini begitu, tanpa perlu takut akan diberi obat-obat penenang yang melumpuhkan kreativitas mereka. Karena menurut saya, obat-obat dan terapi yang ada itu hanya mengatasi gejala fisiknya saja sedangkan masalah sebenarnya, yaitu masalah jiwa dan rohani, masih belum terselesaikan. Mecontoh tokoh sang terapis di film The King's Speech, saya akan mengembangkan sikap hati yang penuh passion dan compassion dalam membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan saya. Biarlah pengetahuan dan pengalaman saya dapat menjadi alat yang tepat untuk membantu mereka menemukan jalan keluar dari masalah yang membelenggu mereka.

Ketiga, saya sangat terkesan dengan persahabatan antara King George VI dengan sang terapis. Yang namanya persahabatan, pastilah indah (jika Tuhan Yesus beserta). Dan dalam film ini, sungguh tampak begitu indahnya persahabatan yang terjalin. Ada canda, tawa, humor-humor segar, dan ada juga kesal dan marah-marah. Hubungan yang tanpa ada tendensi macam-macam, hanya mengharapkan yang terbaik bagi yang lain. Persahabatan seperti inilah yang patut dicontoh. Meskipun Duke of York sudah menjadi King George VI, sikapnya tidak berubah terhadaap sang terapis. Tetap menghormati dan tahu berterima kasih. Sang terapis pun tidak memanfaatkan hubungan persahabatnnya dengan raja untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Baru tiga hal itulah yang bisa saya bagikan di sini. Tidak rugi saya menonton film ini. Apalagi gambar dan suaranya pun sangat-sangat cantik. Back sound piano klasik yang lembut dan sederhana mengalun mengiringi jalannya cerita, membuat suasana menjadi tambah syahdu. Memang film ini tidak berhiaskan gebyar-gebyar special effect ala film-film hollywood kebanyakan. Tetapi bagi saya, film ini sungguh punya nilai lebih. Mungkin saya akan menonton lagi film ini lain waktu. Dan saya akan menggali lebih lagi tentang latar belakang cerita film ini. Sehingga, ke depannya saya dapat mengambil pelajaran berharga lebih banyak sehingga saya dapat berbagi lebih banyak pula.

Sabtu, 23 Juli 2011

We Are Different, but We Are One... ^^

Capek dan agak pusing dikit. Itu yang aku rasakan saat ini. Seharian ini dan kemarin aku lumayan sibuk. Sibuk yang produktif. Sibuk di IGD dan sibuk di jalan bersama mas Cah. Untuk kesibukan di IGD sepertinya lain kali saja ya aku ceritakan. Sekarang aku mau sedikit berbagi tentang kesibukanku kemarin bersama mas Cah. Are you ready? Here we go!!! ^^

Biar aku ingat-ingat dulu. Kemarin aku ngapain aja ya...? Hmmm... Ok, kemarin sehabis sibuk di IGD, aku pulang ke rumah Pelem Kecut dijemput mas Cah. Sorenya, aku dan mas Cah jalan-jalan. Tujuan pertama adalah Toko Buku TogaMas di jalan Gejayan. Target operasi adalah mencari majalah Ethical Digest, majalah semijurnal farmasi dan kedokteran. Aku lagi pingin baca-baca sekaligus mengkoleksi majalah tersebut karena sepertinya menarik juga dan aku rasa perlu untuk memperluas pengetahuanku sebagai klinisi. Sayang sekali, setelah putar sana putar sini (dan menahan godaan nafsu membeli buku-buku nontarget ^^) di Togamas, aku tidak menemukan satu pun edisi Ethical Digest. Mas Cah juga sepertinya kurang sabar menungguku yang terpesona oleh buku-buku yang terpajang menggoda iman. Maka dari itu, dengan berat hati, kutahan hasrat hatiku untuk membeli satu dua buku yang menarik... bye bye novel Andrea Hirata yang baru... hiks...

Perjalanan berlanjut. Mas Cah mengajakku ke Amplaz. Tujuannya adalah untuk melihat-lihat harga mebel yang ditawarkan di Carrefour. Sekalian mampir di Gramedia, kalau-kalau ada dijual di sana apa yang kucari itu. Capek juga ngikuti mas Cah, dan agak bosan pula. Mas Cah begitu asyik melihat, memilih, menimbang, memutuskan, dan me- me- yang lainnya. Seperti mas Cah ketika ada di toko buku, demikianlah aku kalau ada di toko-toko mebel, elektronik, dan alat-alat rumah tangga. Bosan... Bosan... Bosan... untunglah, ada beberapa hiburan kecil seperti gambar bergerak, alias film gratisan, yang diputar di TV-TV yang dijual di bagian penjualan TV.

Akhirnya, 'penyiksaan' pun berakhir. Kami ke Toko Buku Gramedia. Dengan perhatian tetap fokus, aku mencari apa yang menjadi target semula. Godaan untuk menjamah dan membeli buku-buku menarik semakin besar saja. Tapi, dengan gagah berani kutangkis semua itu. Dan dengan sedih pula harus kuterima nasib, targetku tidak berhasil kutemukan. Setelah beli dan minum Milo dingin seharga satu CD obralan di Pondok Pujian, kami pun pulang. Sempat mampir di rumah kontrakan di Muja Muju. Tapi rasanya kurang puas. Rasanya capek sekali. Mungkin karena tidak berhasil mendapatkan apa yang kuinginkan.

Sia-siakah semuanya? O rupanya tidak begitu, saudara-saudara. Meskipun aku tidak berhasil mendapatkan barang yang kucari, aku tetap menemukan mutiara yang indah. Dari pengalaman jalan-jalan yang melelahkan tubuh kemarin, aku memperoleh pengalaman dan pembelajaran yang berharga. Aku mulai mengenal lebih lagi akan diriku dan mas Cah. Aku kembali diingatkan bahwa kami memang berbeda. Kalau mas Cah suka barang-barang yang berwujud nyata dan fungsinya jelas kelihatan saat itu juga, aku lebih suka hal-hal yang bersifat rohani dan jiwani. Misalnya, mas Cah suka barang-barang elektronik dan perkakas-perkakas yang praktis sedangkan aku suka merenungkan hal-hal idealis yang tidak kasat mata seperti konsep pendidikan yang ideal, karakter pribadi yang kuat, hubungan yang harmonis dengan Tuhan-manusia-lingkungan, dsb. Mas Cah suka sesuatu yang dapat dirasakan dampaknya saat itu juga sedangkan aku lebih suka menanam sesuatu yang masih berupa konsep abstrak untuk kemudian dituai dalam waktu yang tidak bisa ditentukan di masa yang akan datang. Mas Cah suka hal-hal jasmaniah/material sedangkan aku suka hal-hal rohaniah/spiritual. Pendeknya, inilah bedanya aku dan mas Cah.

Apakah ini merupakan awal dari suatu tragedi atau perpecahan? Tidak. Sama sekali tidak. Aku memandang hal ini sebagai konsep saling melengkapi. Mas Cah yang begini dan aku yang begitu. Tanpa mas Cah, aku tidak bisa apa-apa. Dan tanpa aku, mas Cah pun bukan apa-apa. Kami saling mengisi. Kelebihan kami menutupi kekurangan masing-masing. Biarlah mas Cah asyik dengan kesenangannya terhadap barang-barang elektronik sementara aku asyik dengan bacaan-bacaan yang menguatkan spiritual dan memperkaya batiniahku. Aku percaya, ke depannya kami dapat menjadi team work yang solid. Semuanya karena kami selalu melibatkan pribadi Tuhan dalam setiap keseharian hidup kami. Oleh karena itu, dalam rasa lelah dan capek ini aku mau kembali bersyukur telah diingatkan dan disadarkan akan hal penting ini. Kami memang berbeda, tetapi Tuhanlah yang menyatukan kami. Haleluya. ^^

Rabu, 20 Juli 2011

Senangnya Hari Ini ^^

Hari ini sungguh luar biasa.
Rasanya sungguh senang dan bersemangat.
Inikah yang dinamakan sukacita?
Inikah yang dinamakan penuh dengan Roh?
Sungguh tidak terlukiskan dengan kata-kata.
Tapi cukup terkendali,
tidak sampai meledak dan membeber ke mana-mana.
Inikah yang dinamakan dengan penguasaan diri?
Hmmm... puji Tuhan!!!
Apa ya rahasianya?
Apakah karena aku dan mas Cah selalu membangun hubungan intim dengan Tuhan setiap pagi dengan berdoa dan saat teduh bareng?
Ataukah karena aku sedang berada dalam tangan kasih Tuhan?
Yang mana pun itu, aku mau bersyukur senantiasa.
Syukur pada Tuhan atas berkat dan anugerahNya yang sungguh teramat sangat luar biasa.
Dahsyat!!!

Sabtu, 16 Juli 2011

God is Good, Rumah Kontrakan Muja Muju ^^

Puji Tuhan! Setelah beberapa waktu lamanya aku dan mas Cah menanti, mencari, dan meminta dalam doa, akhirnya kami mendapat juga jawabannya. Apakah itu? Tidak lain tidak bukan adalah rumah kontrakan. Ya, rumah kontrakan! Lokasinya di daerah Muja Muju. Kesan awal yang kami tangkap adalah: nyaman dan menyenangkan. Yang mengontrakkan pun ramah. Suasana rumah begitu bersih. Kecil, mungil, cuma satu kamar tidur, berlantai teraso yang digosok licin, cat dinding masih bagus, dan tampak terawat dengan baik. Maka, tanpa banyak ba bi bu, aku pun mengiyakan ajakan mas Cah untuk mengambil rumah ini sebagai tempat tinggal sementara pertama kami.

Malam ini, sepulang dari njagong mas Hansen dan mbak Novi di Graha Sarina Vidhi, aku dan mas Cah mengunjungi lagi Pak Suyarto (pemilik kontrakan) untuk memberikan uang muka dan beramah tamah. Meskipun sederhana dan tanpa suguhan (hehe), aku sangat menikmati suasana percakapan antara mas Cah dan Pak Suyarto yang sangat cair. Mas Cah memang sangat supel dan luwes dalam pergaulan. Didikan dan bentukan keluarga Solo memang luar biasa! Nggak salah aku memilih dan dipilih mas Cah untuk jadi pendampingnya ^^. Tanpa rasa curiga, tanpa embel-embel nggak penting, dan tanpa bertele-tele, Pak Suyarto pun menyerahkan kunci rumah kontrakannya kepada mas Cah setelah mas Cah menyerahkan uang muka yang dibawanya. Dengan demikian, kami bisa leluasa mengatur dan mengisi rumah kontrakan kapan saja. Bahkan, kami sudah boleh tidur atau menginap di sana. Katanya, para tetangga sekitar pun sudah diberi tahu akan keberadaan kami sebagai calon tetangga mereka. Praktis, kami akan mulai tinggal di Muja Muju secara resmi per tanggal 1 Agustus 2011 mendatang. Dalam waktu 2 minggu ini kami punya waktu yang cukup untuk angkut-angkut dan menata rumah Muja Muju. How amazing!

Sepulang di rumah Pelem Kecut, aku mulai menginventarisir apa-apa saja yang kami perlukan untuk mengisi rumah Muja Muju. Mas Cah pun membantu meskipun mulai terkantuk-kantuk. Senangnya... rasanya begitu puas bisa melakukan sesuatu yang berguna. Meskipun cuma mengetik sedikit, aku setidaknya cukup menunjukkan action dalam rangka membangun hubungan kerja sama yang efektif dengan mas Cah, semahku. Tugasku ke depan adalah mengatur waktu luangku untuk bekerja sama dengan mas Cah mengurus angkut-angkut barang pindahan ke rumah Muja Muju. Sungguh menyengangkan!

Pelajaran berharga hari ini yang kudapatkan: Tuhan itu baik. Segala sesuatu yang berjalan lancar dan nampak sempurna sering kali membuat kita tidak menyadari bahwa Tuhan senantiasa bekerja di balik itu semua. Contohnya ya proses menemukan rumah kontrakan Muja Muju ini. Aku dan mas Cah sudah mencari dan mencari, berdoa dan berdoa, sejak sebelum menikah sampai saat ini. Dan jika kami akhirnya mendapatkan apa yang kami perlukan sekaligus yang kami inginkan, itu semuanya karena campur tangan Tuhan yang kami sembah dan kami puja. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau penghargaan terbesar aku persembahkan kepada Tuhan Yesus, yang telah mendengar dan menjawab doa kami dengan cara yang luar biasa meskipun tampaknya biasa-biasa saja. Dan tidak lupa, thanks to mas Cah yang telah all out, sepenuh hati, mengerjakan bagiannya dengan tekun dan setia. Sekali lagi, terima kasih Tuhan, terima kasih mas Cah. Aku baru bisa membalas kebaikan kalian dengan menuliskan sedikit penghargaan dan kesanku di blog ini. Kiranya aku dapat membalas semua kebaikan itu. Haleluya!!!

Jumat, 15 Juli 2011

Dua Hal Berkesan Hari Ini... ^^

Malam pun tiba. Seharian ini aku mendapat banyak hal mengesankan. Hatiku sangat sangat terinspirasi oleh banyak hal. Dua hal saja yang ingin kubagikan di sini. Yang pertama adalah satu poin yang kucatat baik-baik dari Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di RS Bethesda Yogyakarta. Poin tersebut adalah "Blame-free culture". Disampaikan dengan sangat apik dan menarik oleh Pak Heri Widiarso, SKep, Ns, MNur dalam materi Patient Safety. Maksud dari poin tersebut adalah sebagai berikut: sekarang bukan lagi waktunya untuk mencari siapa yang salah manakala terjadi suatu temuan dalam patient safety, melainkan mencari di bagian mana yang tidak sesuai. Jadi, jika ada laporan masuk mengenai kejadian tidak diharapkan, misalnya pasien jatuh dari bed, maka tidak lagi dicari-cari siapa yang salah (untuk dihakimi) tetapi dicari mengapa bisa terjadi demikian. Dalam hal ini, sistemnyalah yang dinilai, mengapa bisa sampai terjadi, di bagian mana dalam sistem itu yang memungkinkan kejadian-kejadian tidak diharapkan terjadi. Ke depannya, sistem yang kurang sempurna itu dapat diperbaiki sehingga masalah pun terselesaikan tanpa harus membunuh karakter dan semangat pribadi-pribadi yang melakukan kesalahan. Karena bagaimana pun juga, manusia pembelajar yang sejati adalah mereka yang mau belajar dari kesalahannya.

Hal kedua yang mau aku bagikan adalah kesan yang aku dapatkan setelah mengikuti Seminar Kompos di Gloria Graha. Seminar Kompos yang diselenggarakan oleh Kingdom of God ini begitu menarik perhatianku dan mas Cah sehingga kami pun berbulat hati untuk menghadirinya. Meskipun mas Cah ngantuk2, aku sangat antusias dan terinspirasi dengan materi yang disampaikan oleh kedua pembicara. Pembicara pertama menyampaikan dari sisi teologisnya, sedangkan pembicara kedua menyampaikan dari sisi teknologinya. Yang membuatku terkesan adalah pembicara kedua yang begitu down to earth, membumi, dan menyampaikan apa yang sudah dijalaninya selama ini sebagai petani. Selain itu, beliau sangat memancarkan spirit yang luar biasa. Dalam kesederhanaannya, terpancar suatu ketulusan, harapan, semangat, optimisme, dan visi yang kuat untuk kemuliaan Tuhan. Sungguh luar biasa! Aku jadi terinspirasi dan tersemangati untuk menggeluti pekerjaanku sekali lagi dengan semangat yang baru. Ternyata apabila kita bekerja dengan filosofi yang benar dan dengan hati, maka hal itu akan terpancar dan dapat dirasakan juga dampaknya oleh orang lain. Tujuan utama bukan mencari uang sebanyak-banyaknya melainkan bagaimana memuliakan Tuhan dalam pekerjaan dan menjadi berkat bagi sesama dan lingkungan sekitar. ^^

Itulah dua hal yang kuperoleh setelah aku merenungresapi kebaikan Tuhan hari ini. Sungguh Tuhan itu amat sangat baik. Tidak rugi aku mengikuti pelatihan dan tidak salah pilih acara aku memilih Seminar Kompos. Sekali lagi, thank God... ^^

Sejenak Duduk di Perpus

Duduk duduk di perpus Bethesda siang hari, sembari menunggu waktu jumatan. Hari ketiga pelatihan pengendalian infeksi. Cukup menyenangkan dan memberi kesegaran bagi tubuh dan jiwa. Banyak tersedia makanan enak dan mengenyangkan. Banyak hiburan. Banyak tambahan pengetahuan. Dan yang paling penting, gratis! Lima belas menit lagi acara kuliah akan dimulai lagi. Oleh karena itu, aku hanya akan menuliskan sedikit saja di sini.

Perpus. Aku suka perpus. Banyak buku berjejer rapi di rak dan lemari, menunggu untuk dibaca. Bukan aku yang memilih buku, melainkan buku itulah yang memilihku untuk membacanya. Begitu kata-kata dalam sebuah film inspirasional. Dan saat aku duduk-duduk ndomblong begini, aku melayangkan pandanganku ke sekeliling, dari manakah datang panggilanku... ^^ Judul-judul menarik mulai melambai-lambai di depan mataku... ada yang tentang sejarah, kesenian, agama, pastoral, kerohanian... yang manakah yang akan kubaca nantinya, aku belum tahu... kapan dan di mana juga, masih misteri saat ini... Tapi nanti pastilah ada waktu untuk membaca semua mua yang ada...

Sepuluh menit lagi... saatnya untuk pergi... sampai ketemu lagi, perpusku sayang... hehe... ^^