Senin, 01 Desember 2014

Yadi Si Dokter Galau

Perkenalkan, namaku Yadi. Komplitnya Suyadi. Jadul? Biarlah. Itu nama pemberian orang tuaku. Tidak akan  kurombak-rombak. Aku cukup bangga dengan nama pemberian orang tua karena bagiku, orang tua adalah figur wakil Tuhan di muka bumi, sehingga setiap pemberian mereka akan selalu  kuterima dengan ikhlas hati dan lapang dada. Aku hidup, tinggal, dan bertumbuh di sebuah kota paling nyaman di seluruh dunia—menurutku—yaitu Yogyakarta. Ya, nyaman. Nyaman bagi hatiku yang sedang dirundung galau ini, meminjam istilah populer anak muda zaman sekarang. Galau, sungguh galau memang. Bagaimana tidak? Aku harus merelakan istri terkasih pergi menuntut ilmu selama tiga tahun di negeri orang—bukan negeri binatang, tumbuhan, ataupun makhluk halus—di mana matahari dikatakan terbit di Asia, yaitu Jepang.
                Pasti kalian akan bertanya-tanya, bagaimana ceritanya sehingga makhluk galau seperti diriku  ini bisa menjadi sedemikian galaunya. Bagaimana bisa makhluk galau menjadi dokter, punya istri, lagi? Yah, panjang ceritanya. Tapi tidak terlalu panjang juga sih. Panjang atau pendek kan relatif. Aku kuliah di fakultas kedokteran di sebuah kota di Indonesia, tidak perlu kusebut namanya, malu. Di fakultas tersebut, aku bertemu dengan kekasih hatiku, yang saat ini sudah resmi menjadi isteriku. Kami adalah rekan satu angkatan. Aku lupa siapa yang menembak duluan, gak penting. Yang kuingat, tahu-tahu kami sudah jadian. Simpel, begitu saja. Kami pacaran selama kuliah. Tidak neko-neko memang, lurus-lurus saja. Maklum, aku adalah anak yang cukup alim karena bapakku adalah seorang hamba Tuhan. Iyalah, masa’ hamba setan? Serius, bapakku adalah seorang pendeta jemaat di kota kelahiranku. Mungkin karena pengaruh doa bapak yang mustajab, aku bisa melalui masa-masa perkuliahan disertai pacaran dengan sukses dan selamat. Yah, setidaknya selamat sampai memasuki jenjang pernikahan kudus di gereja. Selamat tanpa harus mengalami kecelakaan seperti yang banyak dialami rekan-rekan segenerasiku, generasi Y ini.
                Aku menikah tepat setelah disumpah menjadi dokter. Rani, isteriku, sangatlah beruntung. Ia lahir dari keluarga pendidik, alias dosen. Itu pulalah yang membentuknya sehingga ia pun berjiwa pendidik. Rani pernah curhat padaku bahwa ia merasa tidak cocok bekerja sebagai dokter klinisi. Ia lebih cocok berkutat dengan jurnal-jurnal dan penelitian. Maka, dengan bulat hati, dipilihlah jalur karier sebagai seorang peneliti. Setelah lulus jadi dokter, ia pun mengambil jenjang pendidikan selanjutnya yaitu setingkat S2 dan S3. Tidak tanggung-tanggung, ia memilih pergi ke Jepang. Konon, di sana ia merasa lebih nyaman dan sejahtera dalam belajar dan meneliti. Tidak seperti di sini, yang katanya sangat tidak nyaman karena banyak hal yang tidak relevan terjadi. Tidak usahlah kusebutkan, kita pasti tahu apa itu.
                Setelah Rani berangkat ke Jepang, aku luntang-lantung di kota kelahiranku ini. Sebuah pengumuman lowongan pekerjaan terpampang di gereja tempatku berjemaat. Bapak menyuruhku menerima lowongan tersebut. Lowongan itu adalah untuk tenaga dokter umum di sebuah rumah sakit swasta yang cukup terkenal di kota Jogja. Karena aku tidak punya rencana lain, maka  kusanggupi permintaan bapak itu. Tanpa ba bi bu, aku mendaftar dan diterima di sana. Maka, perjalananku sebagai seorang dokter galau pun dimulai.

Masa Orientasi
                Setahun pertama adalah masa-masa perkenalanku dengan dunia kerja. Sebagai dokter umum, aku ditugaskan untuk jaga di IGD. Karena baru saja lulus dan minim sekali pengalaman, aku masih harus bekerja di bawah supervisi dokter-dokter senior. Setahun aku menjalani masa-masa orientasi di rumah sakit. Seperti masa-masa menjadi dokter muda (istilah untuk koas saat ini), aku diharuskan menjalani stase-stase di masing-masing bagian. Aku harus mengikuti dokter spesialis yang ditunjuk oleh masing-masing bagian ke manapun mereka pergi selama dinas di rumah sakit. Selama mengikuti dokter spesialis, aku bebas tugas dari IGD. Ini adalah saat-saat yang menyenangkan namun kadang membosankan. Menyenangkan karena aku bisa berleha-leha sementara dari capeknya bertugas di IGD. Membosankan karena aku tidak melakukan apa pun yang cukup menantang secara intektual, hanya mengikuti ritme kerja para spesialis. Tidak banyak yang berkesan selama masa orientasi kerja ini. Paling-paling aku mendapat tambahan ilmu dan keterampilan yang bisa membekaliku untuk tugas jaga di IGD. Masa-masa ini, aku punya waktu yang cukup berkualitas dan berkuantitas dalam komunikasi dengan Rani melalui fasilitas chatting di media sosial dan kadang-kadang melalui Skype. Rani pun sempat cuti selama dua minggu dalam tahun orientasi itu, sehingga aku punya waktu berdua yang sangat spesial dengannya. Tidak perlu  kuceritakan ya detilnya, malu. Tapi aku harus berhati-hati supaya Rani tidak sampai hamil selama dia menjalani masa pendidikannya. Yah, inilah salah satu sumber kegalauanku. Tidak puas memang, tapi mau bagaimana lagi? Hiks hiks...
Jaga... jaga... jaga...
                Tahun kedua adalah masa-masa kawah Candradimuka bagiku. Aku  mulai dijadwal jaga di IGD secara semi mandiri. Pagi, siang, dan malam, tidak tentu setiap hari. Tidak ada hari libur. Tanggal merah pun aku sering tetap dijadwal jaga. Tidak jarang, rekan-rekan sejawatku yang juga sama-sama dokter junior memintaku tukar jaga dengan berbagai macam alasan. Yang mau ikut pelatihanlah, acara keluargalah, atau sekedar ingin istirahat. Karena aku tidak ada tanggungan keluarga, belum, maka aku pun selalu menyanggupi permintaan-permintaan itu. Ada untungnya juga aku dan Rani terpisah oleh samudera. Aku jadi leluasa untuk dijagakan. Ini untung apa rugi ya? Entahlah.
                Karena waktu kerja yang menggila, kesempatan untuk komunikasi dengan Rani menjadi berkurang. Apalagi, ada aturan baru yang melarang kami para karyawan menggunakan multimedia untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan selama jam kerja. Padahal, jam kerjaku bisa sampai 24 jam sehari, itu pun masih ditambah lembur pada hari libur nasional. Karena komunikasi yang kurang intens, aku kurang mendapat informasi tentang Rani dan apa yang sedang dikerjakannya. Setiap kali ada waktu istirahat,  kugunakan untuk tidur. Dan kalau waktu tidur sudah habis, aku pun kembali disibukkan dengan kerja pelayanan. Otomatis, tidak ada lagi waktu untuk chatting sampai puas. Sering, aku lebih memilih untuk tidur daripada chatting dengan Rani. Hal ini menyebabkan hubungan kami agak renggang. Kami mulai jarang berbagi cerita, curhat, ataupun saling menyemangati seperti biasanya. Rani semakin sibuk dengan penelitiannya, aku semakin lelah dengan pekerjaan yang tiada habisnya. Badan remuk, hati pun lelah. Tahun ini Rani tidak pulang selama cutinya. Lengkaplah sudah kegalauanku. Maka, aku pun memilih untuk tidur lebih banyak. Mau bagaimana lagi?
               
Senior oh Senior
                Siang ini, aku mendapat teguran yang cukup keras dari seorang dokter senior supervisiku. Tidak tahu apa sebabnya, tahu-tahu doker tersebut menghardikku. Ia menegur ketika aku hendak pulang. Katanya, aku melakukan kesalahan fatal. Pasien yang kemarin kutangani kondisinya menurun. Kata sang senior, aku kurang melakukan tindakan yang dibutuhkan. Aku juga katanya lalai melaporkan kondisi yang seharusnya diwaspadai. Tanpa tedeng aling-aling, beliau menyebut segala hal yang seharusnya  kulakukan. Aku hanya bisa diam dan diam. Tidak tahu aku harus berkata apa. Untunglah, senior itu tidak menghardikku di depan rekan-rekan sejawat yang lain. Kalau tidak, entah apa jadinya. Pasti aku akan malu dan down berat. Mungkin aku akan depresi.
                Sesampaiku di rumah,  kurenungi apa-apa yang sudah  kulalui. Rasa terkejut dan malu masih menggelayuti hati dan pikiranku. Kesepian dan kesedihan karena jauh dari Rani pun semakin mendera. Aku tidak tahu harus apa lagi. Mau tidur kok rasanya tidak terlalu mengantuk. Mau mengajak Rani chatting kok belum waktunya. Saat itu pastilah Rani sedang sibuk-sibuknya dengan kegiatannya di laboratorium yang sejuk dan nyaman. Sungguh jauh berbeda dengan kondisi mirisku di sini. Kalau boleh memilih, ingin rasanya aku pergi ke Jepang untuk menemani Rani. Mungkin di sana aku bisa beroleh kelegaan sejenak dari penatnya kerja keras tiada henti.

Oase
                Hari-hari berikutnya, aku semakin tidak bersemangat untuk bekerja. Aku semakin sering datang terlambat untuk tugas jaga. Kesibukan di IGD berlalu begitu saja tanpa benar-benar kunikmati. Sejawat senior semakin sering mengomentari kekurangsigapanku. Tidak tahu mereka betapa galaunya diriku. Rekan-rekan sesama dokter junior masing-masing sibuk dengan tugasnya. Tidak ada lagi tempat berlabuh. Aku lelah. Capek. Ingin istirahat.
                Rupanya, dokter kepala IGD melihat kondisiku yang semakin tidak prima itu. Diberikannya izin supaya aku mengambil cuti sementara waktu. Kumanfaatkan saja kesempatan ini untuk berlibur ke Jepang menemani Rani. Di situlah kegalauanku memperoleh penawarnya.
                “Begitulah Dek Rani, yang aku alami selama hampir tiga tahun ini,” aku mengeluhkan semua itu sambil duduk di bangku sebuah taman yang terkenal oleh patung Hachikonya.
                “Wah berat sekali ya bebanmu, Mas. Seandainya aku bisa terus menemanimu di Jogja,” Rani memegang sebelah tanganku dengan lembut. Pandangannya ia arahkan sepenuhnya kepadaku dengan penuh simpati.
                “Yah, mau bagaimana lagi? Inilah risiko menjadi dokter yang melayani orang banyak.”
                “Sabar ya, sebentar lagi penelitianku selesai. Aku akan segera pulang dengan membawa oleh-oleh gelar PhD,” hiburnya dengan senyum termanis.
                “Selamat ya, Dek,” aku tersenyum.
                “Terus? Cuma itu?” alis mata Rani naik. Ia mengharapkanku mengucapkan sesuatu yang lebih.
                “Sementara itu dulu. Aku bingung mau bilang apa lagi. Stres aku, Dek. Pekerjaan gak ada habisnya. Tidur rasanya kurang melulu. Hancur badan ini,” nada bicaraku mulai meninggi.
                “Sabar, Mas. Tenang, sekarang nikmati liburan dulu. Jangan mikir pekerjaan. Santai. Di sini gak ada senior yang menjengkelkan, gak ada pasien yang rewel, gak ada jadwal jaga yang menggila.”
                “Susah, Dek. Di sana gak ada kamu. Aku harus pintar-pintar curi waktu hanya untuk jumpa di dunia maya.”
                “Hei, sekarang kan kita sudah ketemu di dunia nyata. Lihatlah sekitar kita, Jepang yang penuh dengan keramahan. Taman yang sederhana namun indah ini cukup untuk rekreasi dan refleksi, bukan?”
                “Ya, di Jepang sini semuanya serba teratur dan nyaman. Kesederhanaan yang penuh makna  terlihat di mana-mana. Orang-orangnya juga berbudaya. Mereka masih memegang nilai-nilai luhur tradisional di samping mengembangkan teknologi praktis yang sedemikian canggihnya. Tidak seperti di negeri kita, Dek. Di sana untuk antri saja susah, semuanya berebutan. Dunia kerjanya apalagi. Telikung sini telikung sana, senior menindas junior, junor harus pintar-pintar menjilat supaya posisinya aman. Belum budaya korupsinya yang sudah mengurat akar. Doh...”
                “Aduh Mas, jangan terlalu banyak mengumbar keluh kesah seperti itu. Lama-lama nanti jadi mengutuki diri sendiri lho. Cobalah melihat hal-hal baiknya.
                “Misalnya?”
                “Misalnya, kita masih bisa bernafas menghirup oksigen secara gratis. Coba bayangkan pasien-pasien yang harus pakai ventilator di ICU itu. Berapa rupiah mereka harus keluarkan setiap harinya? Belum lagi obat-obatan, jasa medis, dan tetek bengek lainnya. Masih sangat beruntunglah kita yang sehat dan bisa bekerja ini.”
                “Enak sekali kamu Dek bisa ngomong seperti itu. Di sini kamu tidak menjumpai ketegangan dan kelelahan seperti yang kualami. Tidak ada pasien yang tiba-tiba apneu, tidak ada jeritan kesakitan mereka yang cedera karena kecelakaan, tidak ada tekanan dari keluarga pasien yang panik. Sungguh beruntung kamu bisa bekerja dengan tenang.”
                “Di satu sisi bisa dibilang begitu, Mas. Tapi aku selalu ingat akan rekan-rekan sejawat yang lain, yang berjibaku di garis depan seperti di pelosok-pelosok negeri kita. Mereka mengandalkan pengetahuan medis seadanya untuk menolong masyarakat. Perkembangan dan kemajuan dalam dunia medis jarang mereka ketahui  kalau mereka tidak beroleh kesempatan untuk itu. Tugasku di sini adalah menjadi salah satu mata rantai ilmu pengetahuan untuk memberi jawaban atas permasalahan kesehatan yang ada di dunia, termasuk di negeri kita. Aku harus ingat itu semua, kalau tidak, aku bisa terlena dan lupa.”
                Sejenak kami diam merenungi kegelisahan masing-masing. Tidak kusangka ternyata Rani pun mengalami kegalauan yang tidak kalah beratnya dariku. Suasana taman di sekitar kami yang asri tidak berhasil membuat kami cukup berbahagia. Patung Hachiko yang menjadi maskot taman seolah turut merasakan kugundahan kami. Beruntunglah engkau, Hachiko. Engkau hidup dan mati dengan mulia dan terhormat, menjadi teladan kesetiaan yang tulus antara anjing dan tuannya. Engkau tidak dibingungkan dengan ironi dan paradoks tragis seperti yang kami alami. Sederhana sekali hidupmu yang penuh integritas itu.
                “Sudah sore, Mas. Ayo kita pulang,” kata Rani memecah keheningan syahdu itu.

                “Mari, Dek. Selamat tinggal, Hachiko. Sampai jumpa lagi,” aku menggandeng Rani dan melangkah dengan lebih santai. Memang tidak semua kerisauan hatiku terhapus, tapi aku cukup lega bisa mencurahkan isi hatiku bersama isteri tercinta ini. Terima kasih, Tuhan, untuk perjalanan yang penuh makna ini. 

Minggu, 16 November 2014

Suasana di Rumah pada Hari Minggu

Selamat pagi
Selamat hari Minggu
Selamat berjumpa kembali

Mari menulis lagi. Ya, aku mau mencoba menulis lagi secara spontan di blog ini. Rasanya kangen setelah sekian lama tidak melakukannya. Seperti ada yang hilang. Otot menulisku perlu dilatih kembali nih, salah satunya dengan menulis secara spontan di blog seperti ini.

Ok, cukup pembukaannya. Sekarang mari menetukan tema. Xixixi... Tema kali ini adalah mengenai suasana di rumah Pelem Kecut saat ini, saat tulisan ini dibuat. Aku sedang duduk di depan monitor Lenovo sambil memijit-mijit papan ketik berhiasakan huruf alfabet (baca: keyboard). Mataku tertuju pada deretan huruf yang membentuk kata, kemudian membentuk kalimat, seterusnya paragraf, dan akhirnya terbentuklah karangan. Telingaku senantiasa terbuka lebar, menyaring desau-desau tak berarti dan hanya fokus pada hal-hal yang relevan dengan hidupku. Hidungku mencium aroma segar pagi hari yang tidak berbau. Lidahku masih merasakan sisa-sisa teh dan balok (singkong goreng) yang barusan kuminum dan kumakan. Hawa sejuk menyelimuti kulit lenganku yang sedikit berbulu.

Di lantai dua, Asa sedang asyik bermain bersama akungnya. Lucu sekali mendengar celotehan mereka yang khas kakek-cucu itu. Suasana hati menjadi cerah ceria karenanya. Di meja makan lantai satu, ibu sedang membaca-baca WA sambil ngemil setelah makan pagi. Tadi ibu habis mengiringi kebaktian di gereja jam setengah tujuh. Di lapangan belakang rumah, Yoyo sedang berlari-lari membakar kalori supaya berat badannya tetap ideal. Yang aku tidak tahu adalah apa yang sedang dilakukan oleh Lek Sar di pawon. O iya, Pak Cahyono sedang sibuk dengan hobby/pekerjaan/passionnya yaitu ngutak atik kabel dan elektronik di radio Sasando. Inilah aktivitas keluargaku yang menyenangkan.

(Ups, Asa mulai turun dari lantai dua. Alamat akan diganggu nih nulis-nulisnya. Fiuh, rupanya Asa lebih tertarik untuk bermain dengan ibu, jadi aku aman untuk sementara waktu.)

Sekarang aku mengamati Asa yang sedang bermain-main ponsel pintar Samsung milik utinya. Asa sudah 'lanyah' membuka-buka aplikasi di ponsel itu. Bahkan, ia sudah hafal video-video yang ada di youtube karena sering diputarnya. Asa cepat sekali memahami ikon atau simbol-simbol di ponsel maupun komputer. Ia sangat suka menyetel lagu-lagu anak. Sudah beberapa lagu dihafalnya dengan nada yang tidak sumbang. Kembali ke pengamatan. Asa saat ini sedang duduk di atas kasur yang tergeletak di lantai ruang keluarga. Berpakaian kaos dan celana kuning bergambar Ratu Elsa, Asa bermanja-manja minta diperhtakan uti dan akungnya. Saat ini dia minta main-main di mobil akungnya. Maka, tenanglah kembali suasana di ruang tengah rumah Pelem Kecut ini. Tinggal aku dan ibu yang sibuk dengan gadgetnya masing-masing.

Hari Minggu memang hari yang indah dan tepat sebagai hari kumpul keluarga. Setelah sibuk di tempat kerja masing-masing, maka hari Minggu ini terasa begitu melegakan karena kita bisa beristirahat sambil bercengkerama bersama. Terima kasih untuk TUHAN yang telah bangkit pada hari Minggu sehingga menjadikan suasana hari Minggu menjadi sangat bermakna. ^^

Selasa, 11 November 2014

Terima Kasih, BPJS... ^^

Senang sekali aku malam ini. Diskusi singkat yang sangat bermakna dengan bapakku baru saja terjadi. Topik yang diangkat adalah tentang kepesertaan BPJS. Meskipun topiknya lumayan tidak populer, aku sangat menikmati jalannya obrolan dengan bapak karena cukup jarang kami bisa ngobrol dari hati ke hati seperti tadi (aku anggap tadi itu sebagai obrolan dari hati ke hati ^^). Makanya, kesempatan langka tadi tidak aku sia-siakan. Dengan pura-pura tidak tahu aturan BPJS, aku sambung percakapan dengan bertanya sana-sini. Yang penting obrolan berbalut diskusi itu terus terjalin. Maklum, gap generasi... ^^

Terima kasih, TUHAN, untuk kesempatan yang indah ini. Terima kasih, BPJS... sweet irony, ^^

Jumat, 31 Oktober 2014

Proyek Selanjutnya: Multitasking

Malam!

Kembali aku bergairah dalam kegelisahan yang kudus. Aku gelisah ingin menghasilkan karya-karya tulis lepas dan bebas lagi. Dimulai dari artikel sederhana tentang kesehatan jiwa yang rencananya akan kukirimkan ke suatu majalah rohani populer. Aku mau menulis di sela-sela kesibukan yang kurang begitu bermakna bagiku di RMIK. Aku akan mengaktifkan kiembali semangat jiwa menulisku.

Multitasking. Ya, itu! Dengan multitasking, aku dapat memecah impresiku sehingga tidak terlalu sepaneng. Aku bisa lebih santai dan nyaman dengan keberadaan diriku. Multitasking menyangga eksistensi dan aktualisasi diriku dengan menyediakan ruang cadangan sehingga aku terhindar dari kesuntukan (baca: ngelangut) akibat ketiadaan fokus.

Bagaimana itu caraku multitasking? Sederhana saja! Aku tetap menyelesaikan tugas remeh di RMIK sambil mengisi waktu-waktu luang dengan menulis artikel dan/atau cerita yang sudah kurencanakan ini. Aku akan membawa buku Kiky besar untuk menjadi alat bantu menulis draft/kerangka karangan. Aku kerjakan proyek pribadi yang penting dan bernilai kekal itu sambil tetap bersiaga jika sewaktu-waktu ada interupsi dari Pak Djati via telepon/WA berkaitan dengan tugas sambilan sebagai JKN keliling. Supaya tenaga fisikku tidak terbuang sia-sia, aku pandang JKN keliling itu sebagai ajang berlatih 'public speaking' sekaligus aktivitas fisik yang menyehatkan.

Jadi,hari-hariku tidak lagi berlalu begitu saja tanpa hal-hal baru yang bermakna. Aku akan terus belajar dengan tekun, bekerja dengan rajin, dan berkativitas dengan semangat.

Bu Menteri yang Wow

Obrolan seru santai hari itu berkisar seputar bu menteri kelautan yang unik dan menarik itu. Saking menariknya, kakakku sampai bela-belain menyapaku dengan mengangkat topik almamater SMA sang ibu menteri yang tidak lain tidak bukan adalah SMAN 1 Yogyakarta. Wow! Wow untuk Teladan Jayamahe! Wow untuk sapaan kakakku yang sekian lama kunanti-nanti. Untuk itu, aku sangat bersyukur! Terima kasih untuk figur-figur inspiratif yang bermunculan menceriakan bangsa ini.

Aku kagum dengan Bu Susi, sang menteri unik, karena meskipun hanya berijazah SMP, beliau mampu menjadi seorang pengusaha yang memimpin banyak orang. Mungkin aku akan menjadikannya salah satu tokoh inspiratif untuk memotivasiku. ^^

Pikiran Positif: TUHAN Punya Rencana

Si pemikir negatif ini sedang berlatih berpikir positif. Yang biasa memunculkan sikap pesimis ini sedang berupaya menjadi optimis. Aku yang pasif apatis ini sedang berusaha lebih aktif proaktif.

Pagi hari itu meskipun bangun teralu siang, aku berjuang untuk bangkit mengatasi kesuraman pikiran. Aku mulai dengan menyentuh air sejuk sambil mencuci peralatan makan. Air jernih nan sejuk itu mampu membangunkan semangatku dan membuatku terjaga dari kantuk yang menggoda. Kusisihkan waktu terbaik 10 menit untuk menyapa TUHAN melalui perenungan singkat atau bahasa kerennya 'devosi'. Kata-kata doaku sangat singkat, cenderung spontan dan tidak tertata. Yang penting hatiku tetap tertuju pada TUHAN.

Sepanjang perjalanan dari rumah sampai ke tempat kerja, aku mengaktifkan pikiran supaya tetap fokus pada karakter TUHAN. Satu hal yang menjadi penekananku pagi itu adalah mengenai maksud rencana TUHAN di ballik setiap peristiwa yang terjadi. Terngiang dalam benakku sepenggal lagu rohani berikut ini,
"dalam segala perkara
Tuhan punya rencana
yang lebih besar dari semua
yang terpikirkan..."

Setiap kali aku sadar pikiranku melenceng, aku segera kembali fokus pada perkara ini: "TUHAN pasti punya rencana di baliknya."

Ya, TUHAN pasti punya rencana di balik hal-hal rutin yang kukerjakan setiap hari. TUHAN pasti punya rencana bagiku yang sedang menjalani aktivitas sehari-hari di tempat kerja ini. Mazeltov!

Selasa, 14 Oktober 2014

Masalah di Pintu Gerbang Kota

Selamat sore, TUHAN. Aku baru saja membaca habis buku Nick Vujicic ‘Unstoppable’. Ada satu pelajaran penting yang cukup berkesan, yaitu mengenai mewartakan kebenaran tanpa menyerang keyakinan orang lain meskipun tahu bahwa yang mereka percayai itu salah. Semua orang perlu mendengar kabar baik yang disampaikan dengan bahasa kasih yang kuat. Membaca kisah-kisah perjalanan dan perjumpaan Nick, aku jadi tertantang melakukan hal-hal yang serupa di mana aku Engkau tempatkan. Jargonnya, kalau Nick bisa, mengapa aku tidak?
                Jadi, ada di mana kita sekarang? Mari kita ‘berperkara’. Saat ini aku ‘ada’ di RS Ladang Anggur-Mu yang merupakan salah satu ‘pintu gerbang’ kota di mana banyak orang datang dari berbagai tempat dengan berbagai kebutuhan di bidang kesehatan. Apapun agama/keyakinan, suku bangsa, bahasa, jenis kelamin, usia, pangkat, jabatan, dan pekerjaannya, semua orang disambut dan dilayani sesuai kebutuhan kesehatannya masing-masing. Di sini, berhimpun pula para pekerja lading anggur-Mu dengan berbagai talenta dan kemampuan masing-masing, bahu-membahu mengurus ladang anggur-Mu. Ada berbagai macam sikap dan motivasi yang mewarnai tiap pelayanan dan pekerjaan. Ada yang sungguh-sungguh menghayati pekerjaan rutinnya sebagai panggilan-Mu yang kudus. Ada yang baru sekedar mencari uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ada pula yang sekedar mengisi watu-waktu yang ada dengan melakukan apapun sekedarnya saja.
                Pertanyaannya, aku tergolong yang mana? Secara jujur, aku memiliki semangat untuk sungguh-sungguh menjadi saksi-Mu di sini. Masalah yang sedang kugumulkan saat ini adalah mengenai posisi atau tempatku berpelayanan, bukan sekedar bekerja rutin. Aku sedang ‘mencari’ tempatku di dalam-Mu dengan berfokus pada hadir-Mu di dalamku. Aku berpengharapan bahwa melalui hidup dan apa yang kulakukan, pribadi-Mu yang mulia dan penuh kasih itu dapat dikenal dan dinyatakan.
                Setiap masalah yang kulihat dan kudengar di sini cukup membuatku terdorong berpikir keras mencari jalan keluarnya. Aku terdorong mencari solusi dari hulu ke hilir untuk setiap puncak gunung es permasalahan yang timbul. Misalnya, mengenai kebijakan PONEK yang bertabrakan dengan kebijakan JKN di lapangan RS. Secara prinsip, aku tahu bahwa program PONEK itu sangat penting karena prioritasnya adalah keselamatan ibu dan anak. Namun, kebijakan JKN membuat langkah pelayanan RS seakan terpasung oleh besaran plafon yang sangat minimalis, sehingga para pekerja di lapangan memilih untuk bersikap pragmatis praktis yaitu lebih mengutamakan masalah finansial RS daripada masalah kemanusiaan. Aku tidak bisa begitu saja menyalahkan mereka karena mereka pun kurang mendapat petunjuk atau arahan dari pimpinan RS perihal masalah ini. Pimpinan RS pun sepertinya kurang bisa memahami kondisi lapangan sehingga kurang bersikap tegas dan kebijakannya dirasa kurang mantap.
                Aku yang masih belum fasih berbicara ini pun dengan tergagap-gagap mencoba menyampaikan pandangan dan pikiran semampuku, seberapa pun yang bisa kusampaikan dan diterima oleh para pekerja itu. Meskipun yang kusampaikan bukanlah hal yang popular lagi praktis, aku cukup lega karena setidaknya aku menyampaikan hal yang sesuai dengan hati nuraniku.
                Aku mendangar dan menangkap banyak hal namun belum mampu menyampaikan buah pikiranku dengan runtut dan sistematis di forum-forum rapat. Oleh karena itu, aku mengambil waktu untuk belajar ‘public speaking’ sederhana secara khusus mulai minggu ini bersama Bu Betty. Harapanku adalah supaya aku bisa berbicara dengan lebih mantap, percaya diri, dan runtut sehingga menjadi bagian dari solusi yang efektif.
                Inilah yang sedang menjadi kerinduan hatiku saat ini, Bapa. Terima kasih untuk berkat-Mu. Barukh Hashem. 


Rabu, 03 September 2014

Doa: Ujian JKN

TUHAN, Bapaku yang penuh hikmat dan pengetahuan, di sini aku hendak mengutarakan kegelisahanku mengenai sistem JKN di Ladang Anggur-Mu ini. Begini. Sepengetahuanku, Ladang Anggur-Mu ini terkenal dengan  jiwa kasihnya sehingga dijuluki sebagai RS Toeloeng pada zaman dulu. Sampai sekarang, motto ‘Tolong dulu, urusan belakang’ masih terpampang jelas di tembok IGD. Memang, RS ini cukup dikenal karena cepat, sigap, dan tanggap dalam melayani pasien. Dan itu menjadi kebanggan kami para civitas hospitalia-Mu di sini.
        Namun, dengan adanya sistem JKN yang dicanangkan oleh pemerintah RI, kami mendapat tantangan yang cukup berat. Sistem JKN ini berorientasi pada azas pemerataan finansial, dan sepertinya bukan ada azas kesembuhan secara maksimal. Indikasinya adalah besarnya plafon yang ‘memaksa’ pihak RS khususnya swasta untuk meminimalkan standar pelayanan kesehatan. Selama ini, RS Ladang Anggur-Mu ini cukup nyaman dan tenang dengan standar pelayanannya yang dipandang cukup baik, manusiawi, dan relatif terjangkau. JKN membuat kami harus memutar otak lebih lagi supaya standar pelayanan tetap terjaga kualitasnya dengan pembiayaan yang mepet. Dalam hal jungkir baliknya civitias hospitalia, pasien dikondisikan (oleh aturan) untuk tidak mau tahu dengan apa yang kami alami. Seolah-olah, kami digencet dan dipasung oleh aturan BPJS yang terkesan tidak adil terhadap RS swasta.
        Di Ladang Anggur-Mu ini, aku mendengar dan melihat bagaimana kami para pekerja RS ini berjibaku sedemikian rupa supaya ekonomi RS tidak kolaps. Para dokter spesialis dipaksa untuk menurunkan standar pelayanan yang selama ini dilakukan. Para perawat dipaksa untuk mengawasi supaya jatah plafon tidak kebobolan. Para pekerja administrasi dipaksa untuk menjaga agar proses administrasi dan keuangan pasien JKN tidak semakin besar selisih negatifnya. Kelelahan itu semakin ditambah lagi dengan proses akreditasi RS yang memakan waktu, tenaga, dan biaya yang sangat besar. Aku mengamati bagaimana kondisi mental, spiritual, dan fisik pekerja-pekerja-Mu ini sedang direntangkan sampai batas-batas kemampuan.
        Sungguh, tanpa-Mu kami tidak tahu bagaimana solusi untuk setiap masalah yang kami hadapi karena sistem JKN ini. Kami memerlukan-Mu, TUHAN, untuk membimbing kami, untuk membuka pikiran kami, sehingga kami dapat melihat jalan keluar dari-Mu. Mohon ajari kami apa yang harus dan perlu kami lakukan saat ini, hari lepas hari, selangkah demi selangkah. Beri kami kesatuan hati, kerendahan hati, dan kemauan untuk belajar makin mengerti jalan-jalan-Mu. Mohon berikan roh hikmat dan kepandaian kepada kami masing-masing sehingga kami dapat bersama-sama memikul  beban tanggung jawab ini sehingga masalah-masalah yang timbul karena sistem JKN dapat kami hadapi dan selesaikan dengan baik seturut kehendak-Mu.
              
  Kami percaya, sistem JKN ini adalah satu batu ujian yang harus kami lalui bersama-Mu saat ini. Kami percaya, bahwa selama kami mencari wajah-Mu, mencari kehendak-Mu dalam setiap kebijakan dan keputusan yang kami ambil, penyertaan-Mu dan berkat-Mu berlimpah dan membuat semua orang yang melihatnya takjub sehingga menerbitkan rasa kagum, hormat, dan syukur kepada-Mu. Mari, TUHAN, ajar kami untuk tekun memikul kuk-Mu dan dengan sabar dan rendah hati terus melakukan bagian kami dengan setia. Terima kasih untuk ujian iman ini. Dalam nama-Mu, Yesus Kristus, kami berserah. Amin. 

Sabtu, 30 Agustus 2014

Merinding Saat Main Piano

Dengan dipenuhi semangat kasih, pada hari Minggu tanggal 11 Mei 2014, aku mengiringi jemaat Brayat Kinasih memuji TUHAN di kebaktian bahasa Jawa. Sudah kesekian kalinya aku mengiringi pujian jemaat di sana. Brayat Kinasih adalah keluarga besar rohani yang kupilih bersama Mas Cah sejak akhir tahun lalu (2013). Tidak salah kami memilih jemaat ini sebagai tempat kami berakar, bertumbuh, dan berbuah menjadi berkat. Kembali ke topik mengiringi pujian. Aku sedang belajar mengembangkan sikap yang benar saat bertugas melayani TUHAN. Aku belajar untuk tidak bergantung pada rasa merinding yang kerap terjadi saat aku main piano/kibor. Rasa merinding itu aku asosiasikan dengan urapan TUHAN yang mengalir menjamah setiap hati jemaat yang memuji-Nya. Namun, rasa merinding itu terjadi di luar diriku. Bisa saja aku tidak ikut terjamah oleh-Nya meskipun semua jemaat mungkin telah merasakan hadirat-Nya. Aku tidak mau begitu. Jauh lebih indah jika aku pun terhanyut dalam aliran kasih TUHAN meskipun ada rasa merinding itu atau tidak.

Pagi itu, aku tidak terlalu memperhatikan apakah rasa merinding itu ada atau tidak. Aku sangat fokus pada ibadah dan bagian yang kumainkan. Yang kurasakan dalam hatiku adalah rasa damai dan puas, serta kasih yang lembut. Aku sangat menikmati kebersamaan dan persekutuan dalam pelayanan bersama dengan bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain. Aku pikir ini adalah sisi 'manis dan lembut' dari hadirat-Nya yang berlimpah kasih. Bahkan, kotbah Pak D yang biasanya 'lewat' begitu saja terasa menyenangkan dan tidak terlalu membosankan. Semua ini karena anugerah-Nya, hadirat-Nya, yang begitu indah memenuhi sidang jemaat di Brayat Kinasih. Aku sangat menikmati berkat yang mengalir karena roh kesatuan yang luar biasa itu.

Masih banyak yang perlu kuselami dan kupelajari ke depannya. Satu hal yang menjadi komitmenku adalah tetap setia pada bagianku yaitu: 1) yang tidak kasat mata yaitu berdoa terus; 2) yang kasat mata yaitu setia bermain piano sebagai janji iman persembahan yang hidup. Aku ingat dulu pernah memasukkan ke kantong persembahan sebuah kertas kecil bertuliskan 'main piano'. Tantanganku adalah rasa malas, sombong, minder, dan cepat puas dalam berdoa dan bermain piano. Untuk itu, aku akan terus berdisiplin mengembangkan dan mengobarkan karunia-Nya sampai maranatha. Amin ^^

Jumat, 29 Agustus 2014

Perenungan tentang Hari Buruh

Pada hari Kamis tanggal 1 Mei 2014, bertepatan dengan Hari Buruh sedunia, aku menuliskan sedikit perenungan ini.

Atmosfer kegeraman dan kemarahan begitu terasa hari itu. Ya, hari itu adalah hari buruh internasional. Kegeraman akan ketidakadilan ekonomi, kemarahan atas kesewenang-wenangan nasib, semua membundet dalam lingkaran sebab akibat yang begitu sulit diurai. Belum lagi ditambah dengan mental dan budaya korupsi bangsa ini yang sudah mengurat akar di semua lini kehidupan. Lengkap sudah daftar dosa yang dikeluhkan oleh bangsa ini.

Kemarahan ini tidak kudus menurutku. Kemarahan ini dipicu oleh iri, dendam, dan mengasihani diri sendiri. Iri akan mereka yang linuwih dan terberkati, dendam oleh karena perlakuan orang lain yang menyakiti hati, dan mengasihani diri sendiri karena lupa akan siapa dirinya di dalam TUHAN.

Mungkin penyebabnya multifaktorial dan tidak bisa digebyah uyah begitu saja. Tapi menurutku, reaksi para buruh yang mengumbar kemarahan itu juga dilandasi oleh motif yang kurang murni. Kekuatiran, putus harapan, dan cinta uang mungkin adalah akar dari apa yang nampak di permukaan. Mereka kuatir akan makana, pakaian, dan hari esok. Mereka putus harapan karena menempatkan iman pada manusia dan hal-hal yang fana. Mereka cinta uang karena tertipu oleh janji kebahagiaan yang ditawarkan Dewa Mamon dan materialismenya.

Jika aku menjadi kaum buruh marginal, aku tidak akan menggadaikan jiwaku kepada kekuatan massal yang meniadakan originalitas. Sebisa mungkin aku akan berpikir untuk diriku sendiri dan tidak begitu saja termakan propaganda. Jika masalahnya adalah ketiadaan akses, maka menjadi tanggung jawabkulah untuk membuka wawasan dan memperluas cakrawala. Aku akan memilih untuk mengembangkan kreativitas dan meningkatkan kompetensi ketimbang menuntut orang lain untuk berbaik hati dan berbelas kasihan padaku. Aku akan menjauhkan diri dari semangat kolektif yang salah arah dan salah kaprah.

Tapi aku bukan kaum marginal. Dan aku belum bisa mengidentifikasikan diriku dengan mereka. Mungkin aku masuk dalam kriteria buruh juga karena aku bukan pemilik tempat usaha. Tapi, aku lebih memaknai diriku sebagai seorang pekerja yang puas. Aku bekerja dengan puas karena cukup dan bersyukur atas apa yang kuterima. Bagiku, bekerja bukanlah perbudakan terselubung melainkan ajang bermain dan belajar. Menurutku, itu jauh lebih baik dan memotivasi, lebih dari sekedar mencari uang ataupun mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Meskipun aku bukan pengusaha atau bos, aku merasa kesal juga terhadap sesama pekerja yang hobi banget bersungut-sungut tidak pernah puas itu. Aku perlu menjaga hati dan pikiranku supaya tidak terus-menerus kesal karenanya. Lalu apa yang bisa kulakukan? Aku akan bertekad hati, berjiwa teguh, melakukan tugas dan tanggung jawabku seperti untuk TUHAN dan bukan untuk manusia. Tidak peduli ada yang melihat atau tidak, aku akan lakukan bagianku dengan setia. Urusan mereka mau protes-protes terus, itu terserah saja. Aku tidak mau ikut-ikutan. Inilah jalan yang kupilih.

Kamis, 28 Agustus 2014

Sikapku: Menjawab Pertanyaan 'Sejauh Mana'

Pada hari Rabu tanggal 23 April 2014, aku mengobrol lagi dengan Pak Ias. Obrolan itu sungguh sarat makna dan perenungan. Kata kuncinya adalah 'sejauh mana'. Sejauh manakah kita harus berdoa ngotot mempertahankan hidup seseorang yang sakit parah dan lanjut usia? Sejauh manakah kita bersikap profesional sekaligus personal dalam melakukan tugas dan tanggung jawab di tempat kerja? Atas kedua pertanyaan tersebut, jawabannya tidak bisa digebyah uyah alias digeneralisasi. Tiap kasus punya keunikannya sendiri-sendiri. Beda kasus beda masalah. Beda masalah beda jawaban. Yang diperlukan di sini adalah sikap mau belajar dan terbuka atas apa pun jawaban TUHAN. Itulah hikmat yang sejati.

Misalnya, sampai sejauh manakah kita berdoa ngotot untuk kesembuhan seseorang yang sakit terminal sekaligus lanjut usia? Apakah ngotot itu timbul dari sikap mengasihi (TUHAN dan sesama) atau hanya untuk unjuk/pamer iman? Ah, siapakah yang berhak menilai dan menghakimi sikap, motivasi, dan iman seseorang? Yang penting di sini adalah sikapku. Bagaimana aku harus bersikap? Sesuai firman-Nya, aku akan:

  • menerima orang lain tanpa mempercakapkan imannya 
  • tidak memadamkan Roh dan pekerjaan Tuhan
  • belajar mengerti kehendak Tuhan dalam setiap situasi sehingga dapat berdoa dengan kesepakatan yang tepat dan benar
  • apapun yang terjadi, tetap berpikiran dan beriman positif terhadap TUHAN, bahwa TUHAN itu baik 

Rabu, 27 Agustus 2014

Harta Berharga: Pengharapan

Pada hari Sabtu tanggal 19 April 2014, aku bercakap-cakap dengan rekanku yang bernama Pak Ias. Kami bercakap-cakap perihal kesusahan-kesusahan di dunia, perihal kerusakan lingkungan, kebobrokan manusia dan masyarakat, perihal Indonesia. Banyak hal yang memprihatinkan dan membuat susah hati dan pikiran. Dalam mendengarkan, aku memahami dan turut merasakan keprihatinan yang mendalam. Dalam diam, aku bertanya-tanya dan mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Aku tahu jawabannya ada di dalam TUHAN dan diperlukan hikmat serta wahyu untuk menyampaikannya secara tepat.

Di dalamku ada iman dan pengharapan yang tidak berkesudahan akan penyelamatan TUHAN atas dunia ini. Dibutuhkan kasih yang besar untuk bisa mengkomunikasikan apa yang kupercayai dan kuharapkan itu supaya jawaban yang kuberikan tidak hambar. Aku pun membaca kitab Wahyu. Setidaknya, aku mendapat penghiburan akan apa yang bakal terjadi dari sudut pandang surga. Sebuah skenario ilahi yang jauh lebih spektakuler dan dahsyat daripada utopia manusia mana pun sedang terjadi. Di sana, kejahatan akan menerima hukumannya yang setimpal. Di sana, kebenaran dan keadilan akan menang mutlak. TUHAN-lah sang benar dan sang adil yang dirindukan manusia dengan segenap hidup dan mati.

Beberapa waktu kemudian, pikiranku masih bertanya-tanya, dengan cara apa TUHAN memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kehidupan yang semakin suram ini. Dengan jalan bagaimanakah penyelesaian dari TUHAN itu terjadi atas karut-marutnya dunia ini? Meskipun demikian, hati dan jiwaku merasa tenang, aman, damai--ayem tentrem rahayu. Aku telah menerima dengan iman segala janji TUHAN yang indah dan penuh pengharapan itu. Sehingga, meskipun belum menemukan kata-kata yang tepat, aku cukup berbahagia karena telah memiliki harta karun paling berharga yang dicari oleh semua orang. Harta itu berupa hikmat dan wahyu yang TUHAN karuniakan dan akan dinyatakan pada waktunya. Bagianku adalah menjaga hati senantiasa supaya pelita iman dan pengharapan tetap menyala dalam jiwa. Dan bagi mereka yang ditentukan TUHAN, harta berharga itu dapat kubagikan sesuai dengan porsi masing-masing.

Terpujilah nama TUHAN yang telah menjagai hati dan pikiranku dengan anugerah-Nya yang memagariku seperti perisai! Maranatha! ^^

Senin, 26 Mei 2014

Wajah Bangsa: "Syukur dan Terima Kasih"

Siang tadi, Pak Ias melontarkan bahan perbincangan menarik. Berdasarkan apa yang disampaikan pengkotbah dari Korea yang mengisi firman di gereja tempat Pak Ias berjemaat, ada fakta menarik yang membedakan bangsa Korea dengan bangsa Indonesia. Dikatakan bahwa bangsa Korea adalah bangsa yang sangat berterima kasih atas pengaruh misionari Injil yang masuk selama seratusan tahun di Korea. Hal ini tampak dari begitu banyaknya misi penginjilan modern Korea dari berbagai profesi ke seluruh dunia. Bandingkan dengan Indonesia. Indonesia dapat dikatakan lebih lama 'dipengaruhi' oleh misionari Injil, namun apa yang dihasilkan? Adakah Indonesia pun mempunyai wujud 'rasa terima kasih' atau syukur yang nyata atas pengaruh Injil tersebut? Jika ada, apakah itu? Jika tidak, mengapa bisa demikian?

Dari sekilas obrolan yang tiba-tiba kuingat itu, aku jadi mikir. Apakah bangsaku ini sedemikian parah mentalnya sehingga tidak punya rasa terima kasih? Apakah sedemikian sukarnya bangsa Indonesia ini untuk bersyukur? Ah, apa iya? Mau buktinya? Coba perhatikan sehari-hari di sekitar kita. Dalam setiap obrolan yang terjadi, adakah celetukan bernada miris, menghujat, dan menyesali nasib bangsa ini? Entah karena pemimpinnya, korupsinya, keamanannya, kesemrawutannya, dan berbagai hal negatif lainnya? Dan, adakah seruan bernada optimis dan positif bagi bangsa ini? Kalau ada, berapa banyak perbandingannya dengan yang pesimis dan negatif? Nah, setelah menghitung dengan jujur, bagaimana kesimpulannya? Sederhana saja. Semakin besar kadar positif dan optimis dalam seruan yang kita dengar sehari-hari, semakin besarlah rasa syukur dan terima kasih kita sebagai bangsa Indonesia. Sebaliknya, semakin besar kadar negatif dan pesimis dalam seruan dan ucapan sehari-hari, semakin kecillah rasa syukur dan terima kasih yang ditunjukkan oleh bangsa ini.

Mari kita asumsikan kondisi di atas sebagai kondisi di luar kita, di mana kita belumlah terlibat. Selanjutnya, mari kita mawas diri terlebih dahulu. Apakah kita adalah orang yang tahu bersyukur dan berterima kasih? Apakah kita mau menjadi orang yang tahu bersyukur dan berterima kasih? Mari kita pilih yang benar dan terbaik, yang sudah cetha wela-wela itu!

Bagaimana? Sudah memilih? Kalau sudah, mari kita warnai keseharian kita dengan ucapan dan seruan yang lahir dari kemantapan hati yang sudah memilih itu. Maka, (mungkin) wajah bangsa kita akan lain dari sebelumnya. Setuju?!?

Rabu, 21 Mei 2014

Komodo Hijau Tosca

Komodo adalah julukan yang kuberikan bagi mobil Escudo dengan cat hijau tosca metalic atas nama ibuku yang diwariskannya kepadaku. Saat ini si Komodo ini menjadi pusaka keluarga di Rumah Cahaya, alias tidak pernah dioperasikan sebagaimana tugas panggilannya, sebagai kendaraan keluarga. Dulu, ketika masih jaya-jayanya, si Komodo pernah dikendarai kami sekeluarga sampai ke Bali, bahkan sampai mendaki ke Bromo. Bannya yang kuat dan kokoh mampu memanjat trotoar, meskipun itu bukanlah bagian dari tugas wajibnya. Bodinya yang imut dan lucu itu sering terbentur-bentur entah itu pagar, tembok, maupun kendaraan lain. Dengan Komodo inilah aku pertama kali belajar mengendarai mobil. Komodo ini pulalah yang setia kuajak ke sekolah dan kuliah. Hiasannya yang awet dan paling khas adalah gantungan berbentuk tulang paha mini di spion tengah depan. Di kaca belakang, tertempel stiker-stiker lucu dengan satu yang paling keren yaitu tulisan “Holy Spirit Team”. Yang paling penting dari si Komodo ini adalah pemutar kaset musik dan radio yang selalu setia mengisi udara dengan nyanyian-nyanyian surgawi. Maka, bolehlah dikatakan bahwa Komodo hijau tosca ini adalah kendaraan jurusan surga. Aku dulu pernah mendedikasikan si Komodo ini untuk melayani TUHAN, apapun itu bentuknya. Dulu, sering aku melakukan doa keliling kota dengan mengendarai Komodo ini, entah sendiri ataupun bersama-sama teman. Rasanya seru dan menyenangkan sekali bertualang bersama Komodo!
                Naik mobil seperti Komodo hijau tosca itu ada keuntungannya. Selain nyaman dan relatif lebih aman jika dibandingkan dengan naik sepeda motor, dengan naik Komodo aku bisa menikmati keliling-keliling kota bahkan luar kota jarak jauh sambil mendengarkan musik sesuka hati. Selain itu, kalau tidak mengemudi, aku bisa duduk sampai jatuh tertidur selama perjalanan. Hal seperti ini tidak bisa kulakukan jika aku membonceng sepeda motor. Namun di samping keuntungan, ada pula kerugian dari naik Komodo atau mobil pada umunya. Aku jadi tidak bisa menikimati semilir angin dan suasana riuh rendah lalu lintas di sekitarku karena terhalang bodi mobil yang rapat. Kesannya jadi seperti menonton film di layar lebar tiga dimensi saja. Sedangkan jika naik sepeda atau sepeda motor itu bagaikan bertualang dalam kondisi alam yang sesugguhnya. Yang paling tidak menyenangkan, dengan naik Komodo, aku turut menyumbang kemacetan dan polusi di jalan raya. Mungkin aku merasa nyaman-nyaman saja, tapi bagaimana dengan lingkungan dan orang-orang yang tidak seberuntung aku? Hal inilah yang patut kupikirkan.
                Dari uraian di atas, aku berkesimpulan bahwa memiliki mobil semacam Komodo hijau tosca ada nilai plus maupun minusnya. Nilai plusnya mungkin hanya sebatas meningkatkan gengsi dan demi kepraktisan perjalanan. Nilai minusnya adalah dampak jangka panjang bagi lingkungan dan budaya. Bagi lingkungan, terlalu banyak orang yang menggunakan mobil pribadi di jalan raya dapat menambah kemacetan, aneka polusi, dan meningkatkan stres. Bagi budaya, dalam jangka panjang, orang semakin malas menggerakkan otot-otot kaki mereka untuk berjalan meskipun jarak tempuh hanya pendek. Orang hanya mengejar segi kepraktisannya saja tanpa memikirkan dampaknya bagi diri dan lingkungan. Dari segi kesehatan, tubuh manusia semakin lama semakin penuh dengan faktor risiko akibat kurang bergerak. Oleh karena itu, aku berketetapan dalam hati untuk membatasi diri tidak naik Komodo hijau tosca itu kalau tidak terlalu kepepet. Selama masih bisa berjalan, bersepeda, atau membonceng sepeda motor, aku akan mengisitirahatan si Komodo di rumah Cahaya. Mungkin yang kupilih ini terbilang bodoh menurut anggapan umum, tapi aku tahu bahwa aku telah berkontribusi untuk kebaikan diri, sesama, dan lingkungan dalam jangka panjang. Maka, biarlah Komodo hijau tosca itu berdiri tenang sebagai pusaka yang agung di tempatnya, tak perlu mengejar gengsi atau hormat dari orang lain.


(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, 8 November 2013)

Petualangan Naik Bus

Naik bus keliling kota. Siapa yang pernah melakukannya? Saya pernah, entah sendiri entah bersama-sama. Pengalaman naik bus kota satu putaran sendirian pernah saya lakoni sekali dua kali dulu ketika masih bujangan. Motivasinya hanya sekedar melepas kejenuhan dan melihat-lihat suasana kota sepintas lalu. Sedangkan naik bus bersama Mas Cah pernah saya lakukan satu dua tahun yang lalu. Waktu itu kami naik bus Trans Jogja jurusan RS Bethesda-Prambanan-RS Bethesda. Waktu itu bus Trans Jogja masih adem dan nyaman sekali. Waktu itu pula saya pertama kali naik bus Trans Jogja. Beberapa menit perjalanan saya sempat jatuh tertidur karena begitu nyamannya. Mas Cah berhasil mengambil gambar saya sewaktu tertidur dengan kamera ponselnya. Sungguh bukan hasil yang fotogenik tentunya. Pengalaman kedua kali naik bus Trans Jogja jurusan yang sama, RS Bethesda-Prambanan-RS Bethesda, mempunyai kenangan tersendiri. Kenyamanan sudah agak berkurang, penumpang pun banyak yang tidak kebagian tempat duduk. Selama perjalanan itu, saya mengajak ngobrol seorang bapak yang lanjut usia namun masih tampak segar bugar. Saya ngobrol ngalor ngidul dan iseng-iseng menanyakan kepadanya perbedaan situasi sewaktu G 30 S dengan sewaktu awal-awal reformasi dulu. Menurut penuturan beliau, suasana waktu G 30 S jauh lebih mencekam. Saya pun hanya manggut-manggut sambil membayangkan.
                Perjalanan naik bus itu menurut saya sangatlah menyenangkan. Banyak hal yang bisa saya dapatkan selama duduk diam menikmati perjalanan. Saya bisa memperhatikan aneka rupa penumpang yang sama-sama duduk atau berdiri selama perjalanan. Ada yang sendiri, berdua-dua, sampai berombongan. Ada yang diam, tidur, membaca, mendengarkan musik, dan ada pula yang mengobrol. Dari obrolan yang secara otomatis saya dengar, saya menebak-nebak berbagai macam hal seperti latar belakang, pekerjaan, kesibukan, keluarga, dsb dari para penumpang tersebut. Diam-diam saya mencoba menempatkan diri pada posisi mereka. Melatih empati, mungkin itulah yang sedang saya lakukan. Ada kalanya, saya terdorong untuk berdoa dalam hati bagi penumpang, sopir, atau kota yang sedang saya jelajahi. Dalam berdoa itu, saya melatih kepedulian dan kepekaan akan kebutuhan mereka yang sedang saya doakan. Namun, lebih sering saya hanya duduk diam dan beristirahat tanpa ada keinginan untuk mendengarkan ataupun berdoa macam-macam. Saya mengistirahatkan badan dan pikiran sejenak sebelum kemudian aktif lagi setelah sampai di tempat tujuan. Dalam beristirahat itu, saya tetap waspada dan berjaga-jaga terhadap berbagai kemungkinan. Saya selalu awas terhadap posisi pintu atau jendela darurat dan siap kalau-kalau terjadi peristiwa yang tidak diinginkan semisal kecelakaan. Saya juga selalu siaga kalau-kalau ada tangan usil atau jahil yang berniat mengganggu keamanan dan kenyamanan. Di atas semua itu, saya selalu berserah kepada TUHAN sepanjang perjalanan.
                Dari pengalaman naik bus yang belumlah seberapa itu, saya memperoleh beberapa manfaat bagi diri saya maupun bagi orang lain. Bagi diri saya, saya memperoleh kepuasan dari kegiatan duduk diam, mendengarkan, kadang berdoa, dan beristirahat sambil melihat-lihat dan menikmati pemandangan kota sepintas lalu. Saya puas melihat situasi dunia sekeliling saya pada saat itu untuk kemudian melanjutkan kembali perjalanan hidup saya yang entah sampai kapan. Selain itu, saya juga menambah pengetahuan dan pengalaman dari apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan selama perjalanan naik bus. Pengetahuan itu bisa menjadi bekal saya dalam melanjutkan petualangan kehidupan bersama TUHAN. bagi orang lain, saya menganggap bahwa orang yang naik bus itu termasuk pahlawan lingkungan. Mereka membantu mengurangi kepadatan lalu lintas dan polusi. Dengan semakin banyak orang yang naik bus atau kendaraan umum massal lainnya, semakin sedikitlah jumlah pengendara kendaraan pribadi sehingga berkuranglah kemacetan. Di samping itu, kita dapat belajar untuk sungguh-sungguh hidup merakyat, berdampingan dengan sesama, dan tidak mengagung-agungkan ego berkedok privasi.
                Semoga ke depannya pelayanan bus kota dan angkutan umum dapat semakin baik lagi sehingga kesempatan untuk mengalami perjumpaan yang bermakna dengan sesama dapat semakin sering terjadi. Dan, dari perjumpaan dengan sesama itu, kita dapat belajar mengenali perjumpaan dengan TUHAN yang kadang menyamar di keseharian kita.

(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, 7 November 2013)

Ritual Jalan-Jalan

Sebelum membangun keluarga sendiri, aku dan keluarga intiku (bapak, ibu, dan kakak) punya ritual untuk melepas penat dan sekaligus mempererat hubungan antaranggota keluarga. Ritual itu adalah ‘berjalan-jalan’ naik mobil. Biasanya kami melakukan ritual itu setelah menghadiri kebaktian hari Minggu, entah siang atau sore. Rute yang ditempuh bervariasi, tergantung selera sang pengemudi, yaitu bapak. Jarak yang ditempuh bisa mencapai berpuluh-puluh kilo meter. Perjalanan pergi pulang dari Jogja dapat memakan waktu sampai larut malam. Capek atau lelah tidak terasa karena tertutup oleh kepuasan batin yang diperoleh. Masing-masing kami mempunyai kesenangan sendiri-sendiri. Bapak senang mengemudi dengan penuh konsentrasi, tanpa banyak omong, mungkin sambil mendengarkan obrolan atau celetukan para penumpang dengan latar belakang musik dari audio mobil. Ibu lebih senang tertidur menjelang pertengahan perjalanan sampai ke tujuan perjalanan. Aku dan kakakku cenderung suka mengamati sekeliling, mendengarkan musik, atau membaca, sebelum pada akhirnya pun tidur juga karena getaran mobil yang monoton.
                Setelah berkeluarga, aku seperti ‘kehilangan’ ritual jalan-jalan naik mobil sampai tertidur itu. Maklum, sampai tulisan ini dibuat, Mas Cah belum punya SIM A sehingga belum berani membawa mobil ke mana-mana. Walhasil, aku pun menjadi terbiasa melek atau terjaga terus sepanjang perjalanan membonceng sepeda motor. Jarak tempuh ‘berjalan-jalan’ dengan sepeda motor tidak sejauh dengan mobil. Sehingga, aku belajar untuk mencukupkan diriku dengan apa yang ada. Tidak ada lagi mendengarkan musik sepanjang perjalanan apalagi sampai tertidur. Namun akhir-akhir ini, muncullah kebiasaan baru yang terbilang cukup menyenangkan. Ini semua berkat Asa, sang putri kerajaan surga. Setelah mandi sore dan makan, biasanya Asa rewel karena menjelang waktu tidur. Untuk mengatasi rewelnya, aku dan Mas Cah mengajak Asa ‘berjalan-jalan’ naik motor menjelajah kampung sekitar rumah. Biasanya kami pergi sekitar jam lima sampai jam enam sore. Asa yang digendong dengan ransel itu pun terlihat sangat menikmati waktu-waktu kebersamaan ini. Biasanya dia akan tertidur menjelang berakhirnya ‘jalan-jalan’. Sepanjang perjalanan naik motor itu, aku menikmati pemandangan kanan kiri jalan sambil mengajak ngobrol Mas Cah. Aku jadi terbiasa dengan perjalanan tanpa mendengarkan musik di tape. Aku bisa menikmati musik jalan raya berupa deru kendaraan bermotor dan bunyi klakson yang bertalu-talu. Rasanya begitu kaya dan merakyat sekali.
                Ada beberapa manfaat yang bisa diambil dari ritual ‘berjalan-jalan’ naik motor atau mobil itu. Yang pertama adalah melepas penat terutama akibat kebosanan atau lelah berpikir. Pikiran yang jenuh akibat rutinitas baik itu di rumah maupun di kantor dapat terjernihkan dengan selingan berupa menikmati ritual jalan-jalan. Kedua, dapat mempererat tali kasih. Dengan mengobrol sepanjang perjalanan, entah topik apa yang diangkat, pikiran menjadi santai dan hati menjadi lebih hangat. Ketiga, dan ini yang paling penting, adalah adanya kesempatan untuk mengadakan kontemplasi terselubung. Pikiran yang mengembara ke mana-mana dapat tersalurkan pengembaraannya sepanjang perjalanan. Tubuh yang tidak banyak bergerak namun sudah mengalami perpindahan ruang dan waktu berkat kendaraan yang dinaiki itu cukup membantu menyantaikan arus pikiran sehingga sering muncul gagasan-gagasan yang inspiratif dari hasil kontemplasi terselubung. Sering pula waktu-waktu itu aku manfaatkan untuk berseru atau ngobrol dalam hati dengan TUHAN. Mungkin di perjalanan aku melihat suatu pemandangan menarik kemudian aku serukan gagasan yang timbul darinya kepada Tuhan. Waktu yang kumanfaatkan dengan ‘jalan-jalan’ naik motor itu sungguh tidaklah sia-sia karena selain berhasil menidurkan Asa, aku memperoleh penyegaran roh dan jiwa yang murah dan meriah.
(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, 25 Oktober 2013)


Menjadi Juru Semangat

Kegiatanku sehari-hari diwarnai dengan banyak mendengarkan celotehan menarik dari sesamaku manusia. Baik itu di lingkungan keluarga, tempat kerja, dan persekutuan, aku sering mendengarkan mereka bercerita tentang kehidupannya masing-masing. Ada yang menceritakan tentang kegelisahan, kegaduhan, kegalauan, kesedihan, dan penderitaan yang dialaminya. Ada pula yang menceritakan tentang pergumulan iman dan bagaimana solusi atau jawaban Tuhan yang diperolehnya. Begitu penuh variasi isi pembicaraan yang berseliweran di sekitarku membentuk mozaik kehidupan yang penuh dinamika.
                Kecenderungan alami manusia adalah membicarakan keburukan situasi atau sesamanya dalam percakapan ringan di mana pun mereka berada. Tidak terasa sudah sedemikian banyak energi negatif yang dihasilkan akibat pembicaraan yang juga bernada negatif itu. Tanpa terasa pula, semangat hidup yang ada menjadi negatif dipenuhi kemarahan, pesimisme, dan apatisme. Di situlah diperlukan peran ‘juru semangat’. Apa itu juru semangat? Ia adalah orang yang senantiasa mengobarkan semangat positif dan optimisime di manapun dia berada, kapan pun, dan dengan siapa pun. Di lingkungan keluarga, ia dapat berupa seorang ayah, ibu, anak, atau kerabat yang lebih banyak mendengar tanpa ikut nimbrung membunuh karakter anggota keluarga yang lain dalam perbincangan ringan manakala sedang ada perkumpulan. Di tempat kerja, ia dapat berupa seorang pemimpin, manajer, atau karyawan yang fokus pada pekerjaan sembari terbuka terhadap berbagai informasi yang ada tanpa harus hanyut larut dalam berbagai isu yang menggembosi semangat kerja. Di persekutuan, ia dapat berupa seorang gembala, guru, pemimpin kelompok, atau anggota yang ikut senang ketika saudaranya senang dan ikut sedih ketika saudaranya sedih. Pendek kata, juru semangat adalah seorang yang sungguh-sungguh hadir dan ada, di mana kehadirannya itu berdampak positif sehingga mempengaruhi atmosfer lingkungan sekitarnya yang cenderung negatif.
                Menjadi juru semangat dapat dilakukan oleh siapapun juga tanpa mengenal pangkat dan kedudukan. Yang dibutuhkan adalah hati yang mau memberi dan berbagi dengan tujuan menjadikan dunia menjadi lebih baik lagi. Dibutuhkan konsistensi dan disiplin yang terus-menerus untuk menjadi seorang juru semangat yang benar-benar berdampak. Syarat utamanya adalah menjadi pribadi yang bisa dipercaya. Pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatannya tidak boleh ada yang saling bertentangan. Tidak perlu muluk-muluk, cukup dengan melakukan hal-hal kecil dan sederhana setiap hari secara konsisten dan sepenuh hati. Misalnya, datang dan pergi sesuai jam kerja. Kemudian, bekerja dengan sepenuh hati, segenap pikiran, dan sekuat tenaga tanpa terjebak pada rutinitas. Selanjutnya, bersikap ramah, sopan, dan hormat dengan kadang disertai humor sehat terhadap sesama manusia di sekeliling kita. Jika ada masalah, jadilah bagian dari solusi, jangan menambah masalah.
                Jika ada satu atau dua saja juru semangat di suatu tempat, maka atmosfer tempat tersebut akan terpengaruh oleh keberadaan mereka. Sikap mereka yang positif sedikit banyak akan menular kepada sekelilingnya. Dengan semakin banyak orang yang tertular sikap positif, lahirlah juru semangat-juru semangat yang baru. Mereka pun semakin banyak menularkan energi positif. Ada di manakah mereka? Mereka bukanlah siapa-siapa. Mereka adalah kita yang mau dan bersedia menjadi juru semangat itu. Mari!


(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, 24 Oktober 2013)

Mengiringi dan Ngesound

Dalam ibadah atau kebaktian di gereja, selain kotbah dan doa, pelayanan musik memegang peranan yang tidak kalah penting. Rasanya ada yang kurang jika ibadah tanpa ada nyanyian atau musiknya. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa gereja itu adalah jemaat yang bernyanyi. Kualitas musik dan nyanyian jemaat sangat menentukan kualitas ibadah atau kebaktian yang diselenggarakan. Jika jemaat menyanyikan dengan baik dan sesuai dengan tujuan, maka sebenarnya kotbah dan doa sudah termasuk di dalamnya. Unsur yang membuat kualitas musik dan nyanyian jemaat menjadi baik adalah pelayanan musik yang ditunjang oleh pelayanan sound system. Kedua hal ini saling menopang dan melengkapi. Tanpa musik, jemaat kadang kurang semangat untuk menyanyikan lagu-lagu pujian. Tempo kadang melambat, jemaat pun takut salah. Tanpa sound system, musik yang dimainkan pun tidak maksimal karena jemaat kadang terganggu oleh volume suara yang mungkin terlalu keras atau lemah. Di sinilah diperlukan kerja sama antara pemain musik dan petugas sound system.
                Setiap Minggu, aku dan Mas Cah biasanya dijadwalkan melayani di kebaktian. Aku dijadwalkan memainkan musik di GKJ Gondokusuman, sedangkan Mas Cah dijadwalkan mengatur sound system di GKJ Ambarrukmo. Kami memang belum mengurus untuk bisa tercatat di satu administrasi gereja pada saat tulisan ini dibuat. Aku bersyukur karena proses belajar musik dari sejak kecil sampai sekarang, meskipun sempat berhenti karena fokus sekolah, dapat berguna untuk memuliakan Tuhan di gereja. Mas Cah pun demikian. Hasil belajar formalnya di bidang elektronika sekaligus merupakan hobbynya itu sungguh berguna juga bagi pelayanan ibadah di gereja. Aku dan Mas Cah sama-sama menerapkan prinsip totalitas setiap kali melayani kebaktian. Aku minimal harus latihan terlebih dahulu satu hari sebelum kebaktian. Kemudian, aku harus sudah siap paling tidak setengah jam sebelum kebaktian dimulai. Yang kulakukan adalah memainkan lagu-lagu pujian secara lembut untuk menciptakan suasana hening sebelum kebaktian dimulai. Biasanya ada jemaat yang datang awal untuk berdoa sebelum kebaktian. Di sinilah aku berperan membantu mereka memasuki suasana hening dan syahdu dalam menikmati hadirat Tuhan melalui doa-doa pribadi mereka. Untuk bisa mengiringi dengan baik dan penuh penghayatan, selain teknis latihan, aku perlu mempersiapkan juga hati dan jiwaku. Aku perlu berdoa dan menenangkan hatiku supaya aku bisa konsentrasi dan fokus pada saat bertugas mengiringi. Kadang saat bermain musik, Tuhan mengalirkan ide-ide kreatif sehingga aku bisa memainkan improvisasi cantik yang menambah meriah ataupun syahdu lagu pujian yang dinyanyikan.
                Dalam bertugas mengatur sound system pun, Mas Cah juga bersikap profesional. Mas Cah selalu datang awal jauh sebelum kebaktian dimulai. Ia selalu mengecek semua mikrofon yang akan digunakan beserta spiker-spiker alat musiknya. Setelah semua beres, diputarnya lagu-lagu instrumentalia lembut untuk menciptakan suasana indah dalam gedung gereja. Sama seperti yang kulakukan dengan alat musik, demikian juga yang dilakukan Mas Cah dengan peralatan sound systemnya. Ketika kebaktian berlangsung, Mas Cah selalu siaga di tempatnya, mengatur volume di sana sini dan sigap manakala ada feedback yang mengganggu. Pekerjaan pelayanan Mas Cah selalu beres dan tidak pernah setengah-setengah. Aku sungguh kagum dan bangga akan sikap Mas Cah itu.
                Kami sering mendiskusikan kebaktian yang kami layani masing-masing. Kami saling mencurahkan gagasan mengenai musik dan sound system. Harapan kami, gereja di mana kami berjemaat pun dapat bertumbuh dan berkembang dalam hal pelayanan musik dan sound system di setiap kebaktiannya. Kami masih belum puas dengan kondisi yang ada saat ini. Karena itu, kami senantiasa setia mengerjakan tugas panggilan kami sebagai pemusik dan petugas sound system meskipun tidak banyak diperhatikan orang.


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Kamis 16 Mei 2013)

Mbak Ami Sang Pekerja

PRT atau pekerja rumah tangga menjadi fenomena tersendiri bagi masyarakat Indonesia khususnya dalam lingkup keluarga. Karena pada zaman sekarang, di Indonesia, sudah umum jika laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja di luar rumah, kebutuhan akan PRT menjadi tak terelakkan. Memang ada juga keluarga yang mandiri dan modern yang tidak mempekerjakan PRT dalam rumah tangga mereka. Tapi, bagi sebagian besar keluarga yang mampu secara ekonomi, sepertinya sudah menjadi hal wajib untuk mempekerjakan PRT. Bermula atas dasar kebutuhan itulah, maka beberapa waktu yang lalu, kami mepekerjakan seorang PRT yang tugas utamanya adalah membantu menjaga Asa yang masih bayi sementara aku dan Mas Cah bekerja di luar rumah.
                Namanya Aminah. Aku memanggilnya Mbak Ami. Mbak Ami adalah PRT yang direkrut bekerja di rumah tangga kami di Rumah Cahaya selama beberapa waktu yang lalu. Pekerjaan utamanya adalah membantuku menjaga Asa terutama saat aku harus pergi bekerja di ladang TUHAN di Yogyakarta. Mbak Ami berasal dari Wonosari, sebuah kota kecil di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Memang, banyak sekali perempuan-perempuan muda dari Gunung Kidul yang merantau ke kota menjadi PRT dengan berbagai motivasi. Mbak Ami sendiri ketika kami tanya-tanyai mengatakan bahwa motivasinya adalah untuk belajar menjadi ibu rumah tangga kelak saat sudah menikah, di samping tentu saja mencari penghasilan yang halal. Pendidikan terakhirnya SMP. Mbak Ami tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena alasan biaya dan memang sudah umum bagi perempuan muda di daerahnya untuk tidak melanjutkan pendidikan lebih tinggi.
                Sejak awal kerja sampai keluarnya Mbak Ami, aku belajar banyak hal berharga. Aku belajar bagaimana menilai seseorang dari kinerjanya. Selama ini, aku menganggap Mbak Ami sebagai bagian dari keluarga sendiri tanpa perlu menilai apakah pekerjaannya beres atau tidak. Ternyata, sebagai ibu rumah tangga, sangatlah perlu bagiku untuk mengecek dan mengevaluasi kinerja PRT dengan objektif. Aku yang cenderung cuek ini belajar dari Mas Cah dan keluarganya bagaimana bersikap tegas sekaligus lemah lembut dalam mengarahkan PRT. Dari ibu mertua, aku belajar bagaimana bersikap benar dan pada tempatnya jika berhubungan dengan PRT. Ibu mertua banyak sekali memberikan wejangan untuk Mbak Ami yang intinya mengajari Mbak Ami bagaimana bersikap yang baik dan benar. Mbak Ami pun aku beri dorongan untuk terus belajar. Karena keluarga dari Solo sudah biasa melakukan segala sesuatu secara mandiri, maka mereka bisa menilai dengan lebih cermat kinerja Mbak Ami. Ternyata, apa yang kuanggap wajar dan bukan masalah merupakan hal yang kurang baik dan menjadi ganjalan bagi ayah ibu mertua dan Mas Cah. Memang kesan yang kudapat dari sikap ayah ibu mertua terhadap Mbak Ami pada awalnya terlalu keras dan kaku. Tapi setelah dipikir dan direnungkan, aku mendapati ada benarnya juga pendapat mereka. Bahkan, aku merasa TUHAN menegurku melalui nasihat ibu mertua perihal kedekatan Asa yang lebih lengket kepada Mbak Ami daripada kepadaku. Aku mengambil hikmah pada saat yang tepat. Aku sadar sebelum semuanya terlambat. Aku mengambil kembali tugas, tanggung jawab, dan posisiku sebagai ibu yang baik tepat sebelum Mbak Ami berpamitan untuk berhenti bekerja. Rasanya semuanya begitu tepat waktu. TUHAN terasa betul sudah mengatur semuanya sehingga aku secara pribadi sudah siap dengan berbagai bentuk perubahan dalam kehidupan keluargaku.
                Setelah Mbak Ami berhenti, aku dan Mas Cah bersama-sama bekerja mengatur kembali kebiasaan rutin dalam keluarga. Aku harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan, memandikan Asa, bersiap-siap untuk kerja, dan lain sebagainya. Aku juga harus belajar kembali untuk menata prioritas kegiatan-kegiatan dalam rumah tangga supaya tidak ada yang terabaikan. Prioritas utama adalah kesejahteraan seluruh anggota keluarga. Aku perlu belajar untuk mengatur makanan, pakaian, dan tetek bengek rumah secara mandiri. Apa yang selama ini menjadi tugas rutin Mbak Ami kini menjadi tugas rutin aku dan Mas Cah. Aku tidak menyesalkan Mbak Ami berhenti jadi PRT di rumah kami. Aku berharap Mbak Ami dapat memetik pelajaran yang berharga dari pengalamannya bekerja di keluarga kami meskipun cuma sebentar. Lebih dari itu, aku berdoa supaya dalam perjalanan hidupnya kemudian, Mbak Ami pun beroleh pengenalan yang benar akan Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juru selamatnya pribadi. Aku bersyukur karena setidaknya aku pernah sekali dua kali menyampaikan kabar baik keselamatan secara halus kepada Mbak Ami. Kiranya apa yang aku sampaikan itu menjadi benih yang tumbuh dalam hati Mbak Ami sehingga saatnya nanti dapat dituai. Selamat tinggal, Mbak Ami! Sampai ketemu lagi!


(Rumah Cahaya, Rabu 15 Mei 2013)

Bermain dengan Asa

Asa suka sekali bermain dan bereksplorasi. Dalam usianya yang masih terhitung bayi saat tulisan ini dibuat, tampak bahwa pertumbuhan dan perkembangan Asa begitu luar biasa. Bisa dikatakan bahwa Asa adalah bayi yang sempurna. Pertumbuhan fisiknya di atas rata-rata anak bayi pada umumnya. Perkembangannya juga aku lihat cukup optimal. Setiap hari, Asa selalu bermain. Dalam bermain itu terlihat betul bagaimana jiwa petualangannya. Tidak terlihat rasa takut atau ragu dalam setiap gerak-geriknya. Seperti layaknya bayi yang sedang dalam masa emas pertumbuhannya, Asa pun sangat peka terhadap berbagai stimulasi. Terhadap bunyi-bunyian, Asa sangatlah responsif. Apalagi jika diperdengarkan bunyi musik dan nyanyian. Kecerdasan musikal Asa tampaknya cukup tinggi. Ini mungkin karena sejak dalam kandungan, aku suka memainkan musik-musik piano baik itu klasik maupun pop rohani.
                Asa tampak memiliki beberapa mainan favorit. Yang paling sering disentuhnya adalah boneka-boneka beruang mungil berwarna putih. Ada tiga buah boneka beruang. Masing-masing kami beri nama unik dan lucu. Yang pertama kami namai Kumbro, kependekan dari Kumbokarno. Asa paling sering memasukkan hidung Kumbro ke dalam mulutnya. Mungkin enak rasanya. Yang kedua kami beri nama Sisri, kependekan dari Srimanganti. Asa kurang begitu suka bermain dengan Sisri, mungkin karena bulunya yang lebat atau dhiwut-dhiwut kalau orang Jawa bilang. Maka, kami gantung Sisri ini di atas box tempat tidur Asa bersama dengan alat yang bisa mengeluarkan bunyi musik pengantar tidur. Yang ketiga kami namai sebagai Juno, kependekan dari Arjuno. Asa suka sekali mengenyot telinga Juno yang berwarna merah biru.
                Benda favorit lain yang melebihi boneka bagi Asa adalah buku atau literatur. Asa suka sekali melihat dan memegang buku atau majalah atau apapun yang ada tulisannya. Pernah aku melakukan percobaan kecil. Aku tempatkan boneka di sisi yang satu dan sebuah buku di sisi yang lain. Ternyata, Asa lebih memilih buku daripada boneka. Berkali-kali aku ubah posisinya, tetap saja Asa memilih buku. Meskipun belum bisa membaca, Asa suka sekali melihat tulisan-tulisan yang ada. Asa suka pura-pura membaca dengan bersuara. Suaranya hanya berupa gumaman tidak jelas dan terdengar sangat lucu. Kemungkinan besar Asa mempunyai kecerdasan verbal di atas rata-rata.
                Untuk psikomotoriknya, Asa juga tidak mau ketinggalan. Saat tulisan ini dibuat, Asa sudah bisa berdiri sendiri di boxnya meskipun susah untuk balik kembali. Jika merangkak di lantai, cepatnya bukan main. Kami harus mengawasinya dengan penuh perhatian supaya Asa tidak terbentur-bentur ataupun jatuh terjelungup. Satu kebiasaan lucu Asa adalah “linjo-linjo”, demikian kami istilahkan. Linjo-linjo ini adalah gerakan menyendal-nyendal seluruh tubuh naik turun. Jika Asa sedang sangat euforia atau bersemangat, ia suka sekali linjo-linjo, apalagi jika sedang digendong. Sehingga, semakin beratlah beban si penggendong Asa. Berat badan Asa saat tulisan ini dibuat kemungkinan sudah sekitar sebelas kilogram, padahal usianya masih sepuluh bulan. Tidak heran jika teman TPA-nya ada yang menjuluki Asa sebagai bayi jumbo. Untuk ukuran bayi Indonesia memang besarnya Asa tidak umum. Tapi mungkin ini umum bagi bayi bule. Mungkinkah ada gen bule dalam diri Asa?
                Sebagai seseorang yang sedang belajar menjadi ibu yang baik, aku berusaha hadir 100% bagi Asa. Ketika Asa sedang terjaga atau asyik bermain, maka aku singkirkan semua buku maupun catatanku untuk sementara waktu. Aku berketetapan untuk tidak meninggalkan Asa dengan membaca buku atau majalah apalagi menulis-nulis. Karena, waktu untuk bermain bersama bayi itu terhitung cukup singkat. Tidak dapat diulang kembali. Aku bisa membaca atau menulis kapan saja tetapi waktu bermain bersama Asa tidak dapat digantikan dengan apa pun juga. Jika aku kehiangan waktu yang sangat berharga ini, tidak ada gunanya segala macam buku dan tulisan yang aku buat itu. Mario Teguh pernah mengatakan bahwa dalam cinta, tidak ada yang namanya pengorbanan. Yang ada hanyalah kebahagiaan. Maka, kuatur pola pikirku untuk memandang waktu bermain bersama Asa ini sebagai bentuk kebahagiaan, bukan pengorbanan, karena aku mengasihi Asa. Tulisan ini sendiri pun aku tulis setelah Asa tidur dengan nyenyaknya. Maka, ayo kita bermain, Asa! Nanti, kalau kamu sudah bangun!


(Rumah Cahaya, Rabu 15 Mei 2013)

Belajar dalam Bekerja

Dulu aku cenderung lebih banyak berdiam diri sehingga aku dikenal sebagai Mimi si pendiam. Bukan karena aku tidak bisa bicara, melainkan karena aku tidak ada bahan untuk dibicarakan. Selain itu, lingkunganku masih kurang kondusif bagiku untuk mengaktualisasikan diri melalui berbicara. Aku masih belum terlalu mengenal orang-orang di sekitarku. Memang bukan kebiasaanku untuk langsung bersikap sok kenal sok dekat dengan siapapun yang baru saja kutemui. Sehingga, kesan pertama orang-orang yang bertemu denganku adalah aku ini pendiam, cuek, dan dingin. Tapi begitu sudah kenal akrab, aku lebih banyak terbuka dan lebih banyak bicara. Di bagian di mana aku ditempatkan pertama kali, aku seperti kecemplung di kawah candradimuka. Banyak hal baru yang harus kupelajari dalam waktu yang singkat sementara aku belum menemukan orang-orang yang bisa kuajak berbincang-bincang dengan lebih akrab. Walhasil, aku kelabakan dan lebih banyak terlihat kikuk bin kaku. Tidak masalah bagiku sekarang, karena saat aku menuliskan tulisan ini, aku sudah ditempatkan di tempat yang lebih nyaman dan kondusif untuk belajar.
                Di tempat ini, di mana aku membuat tulisan ini, aku merasakan atmosfer yang lebih nyaman dan tidak terlalu menekan. Maklum, di sini bukan di garis depan yang berhadpan langsung dengan pasien gawat darurat. Aku lebih banyak berkutat dengan hal-hal administratif yang melibatkan banyak kertas dan tulisan. Waktuku untuk berpikir, berdiam diri, dan menulis tentu saja lebih banyak. Aku bisa leluasa belajar apa pun yang kusukai, tentu saja sepanjang tidak mengganggu jalannya kerja rumah sakit. Yang sangat membuatku bersemangat di sini adalah kesempatan untuk mengembangkan sisi sosialku dalam hal berbicara atau berbincang-bincang. Aku mendapati di tempat ini aku bisa mengobrol masalah apa pun sesukaku sepanjang tidak memancing keributan. Dengan Pak Ias, sang analisator data, aku bisa mengobrol tentang hal-hal rohani apa pun. Dengan Pak Harto, sang pemasuk data, aku bisa mengobrol tentang hal-hal sosial kemasyarakatan. Dari obrolan-obrolan itu, aku bisa belajar dan menyerap banyak hal. Jendela wawasanku bertambah luas melaluinya. Yang lebih mengasyikkan lagi, aku bisa belajar berbicara dengan orang lain dalam suasana yang menyenangkan. Tidak terlalu menekan dan tidak tergesa-gesa. Memang, belajar itu paling pas jika suasana hati senang dan tenang, tidak dalam kondisi terintimidasi apalagi termanipulasi.
                Jika nanti aku ditempatkan di tempat lain yang mungkin tidak senyaman saat ini, aku sudah siap. Aku siap untuk berinteraksi dengan orang-orang baru berbekal apa yang sudah kupelajari. Tidak ada lagi yang namanya minder, takut, atau ragu. Setidaknya, di tempat sekarang aku sudah belajar untuk berbicara dengan santai tanpa takut menyakiti maupun disakiti. Aku belajar untuk mendahulukan hal-hal penting daripada hal-hal yang genting. Hal-hal penting bagiku belum tentu genting atau penting bagi orang lain. Aku belajar untuk mengenali kecenderungan hatiku dan kesukaanku yang terbesar. Ternyata aku cenderung untuk lebih banyak mendengar dan mengamati situasi terlebih dahulu sebelum menceburkan diri ke dalam hiruk-pikuknya. Jika sudah terlalu kewalahan dengan hiruk-pikuk itu, aku biasanya menarik diri sebentar. Aku mencari tempat yang tenang untuk menemukan kembali orientasiku berada di tempat di mana aku ditempatkan. Setelah tenang, aku beroleh energi baru untuk menghadapi segala sesuatunya.
                Belajar memang tidak ada matinya! Sementara waktu ini, aku sedang belajar untuk berkomunikasi efektif dengan sesama rekan kerjaku. Tidak kusia-siakan waktu dan kesempatan yang ada ini. Kunikmati proses belajar ini dengan antusias dan semangat. Aku percaya semua ini tidak sia-sia, pasti berguna untuk diriku dan orang lain.


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Rabu 15 Mei 2013)

Sepanjang Lorong Rumah Sakit

Rumah sakit ladang anggur TUHAN di Yogyakarta ini sungguh menarik dan mengesankan. Bangunannya kuno, termasuk cagar budaya. Di situ banyak peninggalan sejarah dan kenangan-kenangan yang bernilai tinggi. Yang paling menunjukkan ciri khas adalah lorong-lorongnya yang panjang itu. Katanya, tidak boleh diubah bentuknya. Itu adalah penanda bahwa rumah sakit ini berdiri di atas tanah milik Kesultanan Yogyakarta. Lihat saja tiang-tiangnya yang bercat hijau tua khas keraton itu! Lorong rumah sakit ini panjangnya terhitung cukup lumayan untuk meningkatikan aktivitas fisik berjalan kaki kita. Dari kelurahan Klitren sampai Kotabaru ia membentang, sekitar setengah kilometer panjangnya. Jika kita kekurangan tempat untuk berjalan kaki, maka manfaatkanlah lorong rumah sakit ini dari ujung timur ke ujung barat. Cukup dua puluh menit sehari berjalan kaki untuk menambah kualitas dan kuantitas aktivitas fisik kita.
                Selain lorongnya yang bersejarah, tentu saja di rumah sakit ini terdapat banyak ruangan atau bangsal. Ada yang sudah kuno sekali, setengah kuno, dan baru. Yang kuno sekali tidak boleh dirombak karena merupakan cagar budaya juga. Kalau toh mau merombak, tidak boleh mengubah bentuk aslinya. Itu sudah ketentuan undang-undang. Konon, di bagian bangsal yang kuno itu terdapat banyak kejadian irasional yang melibatkan makhluk-makhluk gaib alias hantu. Sudah banyak orang yang mengalami sendiri interaksi dengan para hantu, baik itu yang bersifat sekedar gangguan iseng sampai gangguan yang mengerikan. Tapi sejauh ini, tidak sampai terjadi gangguan yang mengancam nyawa.
                Sebagai seorang karyawannya, aku juga suka berjalan-jalan menjelajah lorong-lorong rumah sakit ini. Biasanya aku ambil waktu pagi hari sekitar jam sembilan untuk melakukan ekspedisiku. Sambil melakukan tugasku, aku berjalan dari ujung timur sampai ke ujung barat mengunjungi bangsal-bangsal. Sambil berjalan, aku menyapa dan menebar senyum kepada sesama karyawan rumah sakit. Kalau ada yang kenal, aku sempatkan untuk berhenti sebentar sekedar berbasa-basi dengannya. Sungguh menyenangkan berbagi senyum, sapa, dan salam itu. Aku jadi ingat cerita yang berjudul “pay it forward”, yaitu tentang berbuat kebaikan kepada orang lain yang berefek berantai menimbulkan mata rantai kebaikan lainnya. Aku percaya secercah senyumku dapat mencerahkan hari orang-orang yang kusapa itu. Dan mereka yang terkena efek senyum dan sapa itu pun akan melanjutkan energi positif yang mereka terima ke siapa pun yang mereka jumpai berikutnya. Luar biasa!
                Banyak hal yang kuperoleh dari kegemaranku berjalan-jalan di lorong rumah sakit ini. Yang pertama adalah badan menjadi segar dan bugar. Tidak terasa aku sudah berjalan sekitar satu kilometer setiap harinya. Aku tidak merasa capek atau bosan karena ada interaksi yang hangat dan menyenangkan dengan sesama yang kutemui sepanjang perjalanan. Tugas-tugas pun dapat kulakukan tanpa rasa terbebani yang amat sangat. Selain itu, banyak hal inspiratif yang kudapatkan. Salah satu hak inspiratif itu adalah merasakan kasih, sukacita, dan kebaikan dari orang-orang yang kutemui di sana. Tidak peduli masalah apa yang sedang menggelayuti hati mereka, saat mereka tersenyum itu seolah-olah ada beban yang terangkat yang membuat mereka beroleh tambahan kekuatan untuk melanjutkan hidup. Sukacita dan pengharapan seperti inilah yang kurasakan menjadi jiwa dan semangat segenap civitas hospitalia rumah sakit ini. Kiranya dengan blusukan dan penjelajahanku ini aku pun dapat menebarkan atmosfer pengharapan bagi setiap orang yang melihatku. Shalom alaehim!


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Rabu 15 Mei 2013)

Jiwa Korsa

Beberapa waktu yang lalu, kota Yogyakarta dikejutkan oleh peristiwa berdarah yang melibatkan aksi premanisme. Dimulai dari peristiwa tewasnya seorang anggota Kopasus di tangan empat preman yang katanya adalah mantan anggota kepolisian, dilanjutkan dengan drama aksi penembakan para tersangka di LP Cebongan oleh para anggota Kopasus. Ternyata, masyarakat Yogya lebih banyak bersimpati kepada tindakan Kopasus itu karena selama ini sudah merasa sangat dirugikan oleh premanisme. Maka, menjadi sangat populerlah istilah jiwa korsa. Jiwa korsa adalah semangat solidaritas yang ditumbuhkan dalam diri para prajurit TNI. Dengan jiwa korsa ini, para prajurit TNI menjadi sangat kuat dalam kesatuan. Jika ada satu yang dilukai, yang lain turut merasakan.
                Semangat jiwa korsa yang ditunjukkan oleh oknum Kopasus itu telah memberikan inspirasi yang luar biasa. Kopasus adalah pasukan elit TNI Angkatan Darat yang dilatih secara khusus untuk melindungi negara. Dalam latihan yang berat, mereka dikondisikan untuk senantiasa siaga karena taruhannya adalah nyawa. Mereka terlatih untuk melakukan suatu misi sampai berhasil. Keluarga mereka pun harus siap sewaktu-waktu terhadap kemungkinan terburuk yaitu berpisah selamanya dengan anggota keluarga yang menjadi Kopasus. Maka, dapatlah dimaklumi apabila dalam keseharian mereka dipandang sebagai orang-orang yang melebihi masyarakat sipil. Itu sebabnya pula orang-orang tidak boleh bersikap sembarangan terhadap tentara.
                Belajar dari semangat kesetiakawanan ala jiwa korsa itu, kita dapat sedikit meniru dan menerapkannya di keluarga, tempat kerja, dan persekutuan gereja. Manakala satu anggota tersakiti atau menderita, anggota-anggota lain pun turut merasakannya. Ada rasa kepedulian yang tulus dan murni. Rasa kepedulian itu dapat diekspresikan dengan bermacam-macam cara. Tidak cukup hanya dengan berdoa atau mendukung secara tidak langsung. Diperlukan sumbangan daya dan kalau perlu dana juga. Misalnya, ketika salah seorang anggota keluarga atau rekan kerja dan persekutuan sedang sakit atau tertimpa musibah, sudah selayaknyalah kita sebagai bagian dari orang-orang terdekatnya untuk berbela rasa dengan cara menjenguk, mendoakan, dan kalau perlu membantu biaya sekedarnya. Semua itu akan menambahkan daya juang dan semangat hidup dari si sakit atau orang yang menderita. Misalnya lagi, ketika ada yang kesusahan dalam hal keuangan dan dalam kondisi terjepit, maka sudah selayaknya bagi kita sebagai orang terdekat untuk membantu semampu kita. Semua ini semata-mata karena rasa solidaritas antar teman dan saudara yang murni seperti jiwa korsa para tentara.
                Sebaliknya, ketika seseorang sedang mujur atau mendapat kelimpahan berkat berupa harta yang bertambah, kenaikan pangkat, atau bertambahnya jumlah anggota keluarga, maka kita sebagai orang-orang terdekat hendaknya ikut pula merasa senang dan bangga. Jika yang satu dimuliakan, semua anggota pun ikut merasa senang, bukannya iri hati dan dengki. Memang lebih mudah untuk ikut merasakan penderitaan orang lain dibandingkan dengan ikut merasakan kesenangannya. Kita pada umumnya lebih suka melihat wajah yang memelas dan menderita daripada wajah yang senang atas keberhasilan. Tapi Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk bisa bersikap benar, yaitu menangis bersama dengan orang yang menangis dan tertawa bersama dengan orang yang tertawa. Selain itu, kita sebagai anggota persekutuan orang percaya digambarkan juga sebagai satu anggota tubuh Kristus. Meskipun berbeda-beda bentuk dan fungsinya, kita diikat dan disatukan oleh kepala yaitu Yesus Kristus sendiri. Seperti layaknya satu tubuh, maka kesatuan tujuan dan kebersamaan itu penting. Pertanyaannya, sudahkan semangat kesatuan itu ada terwujud?
                Marilah kita kobarkan semangat kesatuan hati layaknya jiwa korsa itu di manapun TUHAN telah menempatkan kita. Di keluarga, di tempat kerja, di persekutuan, di mana pun. Salam komando!


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Rabu 15 Mei 2013)

Persahabatan yang Membangun

Salah satu hal yang termanis dan terindah dalam hidup ini adalah persahabatan. Persahabatan adalah hubungan yang terjadi antara dua atau lebih pribadi di mana terjadi saling memberi dan menerima yang dilandasi kasih yang tulus dan sejati. Persahabatan tidak terbatas pada usia, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial, agama, suku, bangsa, bahkan spesies. Banyak kisah atau cerita yang telah dibukukan dan difilmkan yang terinspirasi dari hubungan perahabatan yang sejati. Bahkan, kisah penebusan dan karya keselamatan manusia oleh Tuhan Yesus Kristus itu adalah wujud dari persahabatan yang sejati dan abadi antara Tuhan dan manusia. Tuhan yang baik telah menawarkan hubungan persahabatan dengan umat ciptaan-Nya yang dinyatakan dengan amat dramatisnya di peristiwa salib itu.
                Bagiku, persahabatan adalah hal yang sangat penting. Aku bertekad menjadi seorang sahabat yang sejati bagi mereka-mereka yang memang telah ditentukan untuk menjadi sahabatku. Di rumah, aku mengembangkan hubungan persahabatan dengan suami dan anakku. Maksudnya, aku tidak melulu berkutat pada tugas dan kewajibanku saja sebagai istri dan ibu yang baik tetapi bagaimana aku bisa membangun hubungan persekutuan yang akrab dan karib dengan mereka. Bukan hanya melayani saja melainkan juga bermain dan bercanda tawa dengan suami dan anak. Di tempat kerja pun juga demikian adanya. Bukan hanya berkutat pada urusan pekerjaan yang kadang terasa menjemukan dan meletihkan melainkan juga berinteraksi dengan hangat seperti layaknya teman dengan mereka-mereka yang kutemui di tempat kerja. Sekedar menyapa, mengobrol, atau bersenda gurau itu penting untuk mencairkan suasana dan membangun suasana tempat kerja menjadi nyaman.
                Dalam persahabatan itu, kita dapat saling membangun karakter satu sama lain. Dengan berbicara dan mendengarkan, kita dapat saling memahami dan dipahami. Komunikasi yang baik terjadi manakala dua orang yang sudah berada pada frekuensi persahabatan tengah berinteraksi dengan baik entah itu untuk urusan kerja ataupun urusan di luar kerja. Banyak pengalaman yang berkesan selama aku bekerja di ladang TUHAN di Yogyakarta ini. Suatu ketika, seorang rekan kerjaku memintaku untuk mendukungnya dalam doa perihal masalah yang dihadapi keluarga besarnya. Dengan sigap aku pun mendengarkannya. Dalam hati kudoakan supaya masalahnya terselesaikan dengan cara TUHAN. Tanpa menunggu berlama-lama, keesokan harinya, jawaban TUHAN sudah terjadi. Rekan kerjaku menceritakan bagaimana sedikit demi sedikit, masalah itu terselesaikan meskipun harus menembakkan banyak amunisi yang  makan hati. Sebagai teman dan rekan yang baik, aku ikut bersyukur. Lain waktu, seorang rekan kerja yang lain bertanya padaku perihal obat yang penting pada saat darurat. Aku pun dengan santai memberikan nama obat itu dan dia pun mencatatnya. Tidak disangka, besoknya dia bercerita bahwa apa yang kusampaikan itu telah menolong dia menyelamatkan ibunya yang terkena serangan jantung. Sebelum dibawa ke IGD rumah sakit, temanku berinisiatif membeli dan memberikan jenis obat itu sehingga pertolongan pertama dapat dilakukan dengan tepat. Aku terheran-heran. Ternyarta, hal kecil yang aku lakukan sangat besar dampaknya.
                Nyata benarlah apa yang tertulis dalam Alkitab yaitu bahwa seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran (Amsal 17:17). Seorang sahabat sejati bukan hanya hadir saat senang melainkan juga saat susah. Kualitas seorang sahabat akan teruji saat sahabatnya sedang jatuh. Sahabat yang baik akan tetap berada di sisi sahabatnya yang sedang jatuh, tidak ikut menimpakan tangga ataupun menusuknya, apalagi menusuk dari belakang.


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Selasa 14 Mei 2013)

Obrolan yang Menyembuhkan

Aku mendapati bahwa di lingkungan keluarga, persekutuan, dan tempat kerja selalu ada kecenderungan yang satu ini. Itu adalah kesukaan orang-orang untuk mengobrol atau berbagi cerita. Cerita yang dibagikan bisa macam-macam. Ada yang menceritakan pergumulan pribadi, ada yang menceritakan kondisi bangsa dan negara, ada pula yang menceritakan tentang pergumulan orang lain. Tidak salah memang, karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial di samping sebagai makhluk pribadi. Sebagai makhluk sosial, maka kebutuhan dasarnya adalah membangun hubungan dengan orang lain. Dan salah satu cara terampuh untuk membangun hubungan itu adalah dengan mengobrol atau bebicara satu sama lain. Semakin dekat dan dalam hubungan, bahan obrolan pun bisa semakin banyak dan beragam. Hal-hal kecil pun dapat menjadi bahan obrolan yang menarik dan tidak berkesudahan.
                Obrolan itu dapat kukelompokkan menjadi dua. Yang pertama adalah obrolan yang mematikan. Mematikan di sini dapat berupa mematikan semangat maupun karakter orang. Bentuk yang paling jamak dijumpai adalah gosip. Gosip adalah kegiatan membicarakan atau menggunjingkan orang lain di belakangnya. Asyik dan seru karena kita jadi lupa diri dan menganggap diri lebih baik dan lebih benar jika dibandingkan dengan orang yang kita gosipkan. Tanpa kita sadari, kita ternyata telah membunuh karakter orang itu dengan menjelek-jelekkannya di hadapan orang lain. Sungguh mematikan! Selain gosip tentang sesama, obrolan yang tidak kalah mematikan itu dapat berupa obrolan negatif dan pesimistik. Hal ini terutama nyata saat kita mengobrolkan kondisi bangsa, negara, dan masyarakat yang jauh dari kondisi ideal. Pemerintah yang korupsi, bangsa yang kehilangan identitas, masyarakat yang semakin ngawur, tentu membuat kita frustrasi. Rasa frustrasi itu kemudian kita katarsiskan dengan membicarakannya secara membabi buta dan tidak bijak dengan siapa saja yang kita anggap punya pemikiran yang sama dengan kita. Selain itu, di tempat kerja pun tidak jarang kita suka mengkritik sana sini tanpa mampu memberikan solusi nyata. Kita sebar desas-desus yang belum tentu kebenarannya sehingga membuat keruh suasana. Atmosfer tempat kerja pun menjadi tidak nyaman dan kinerja pun menjadi buruk. Semua hanya gara-gara obrolan yang mematikan, yang sayangnya sering tidak kita sadari.
                Obrolan yang kedua adalah obrolan yang menyembuhkan. Daripada sibuk dengan obrolan yang menyakiti orang lain, adalah lebih baik untuk membudayakan obrolan yang menyembuhkan. Menyembuhkan karena isinya menyejukkan dan meneduhkan hati. Pemandangan yang indah ini mungkin bagi sebagian orang sangat jarang ditemui. Aku mau menjadi bagian obrolan yang kedua ini. Aku membiasakan diriku untuk membicarakan hal-hal yang baik dan sedap didengar di manapun dan dengan siapa pun aku berada. Di rumah, aku membiasakan diri untuk tidak menggosipkan anggota keluarga yang lain. Aku mengekang diriku manakala ada hasrat untuk menjelek-jelekkan anggota keluarga yang lain. Demikian juga di tempat kerja. Aku berusaha untuk tidak menyulut api permusuhan. Sebaliknya, aku menyiramkan air kedamaian hati. Jika ada rekan kerja yang memancingku untuk berkomentar negatif pesimistik, aku akan belokkan dengan memunculkan sisi positif optimistik dari hal yang dibicarakan.
                Selama ini aku lebih banyak mendengarkan orang lain berbicara. Dengan banyak mendengarkan itu, aku jadi lebih banyak mengerti dan memahami situasi. Aku lebih bisa memahami cara berpikir orang lain tanpa menghakiminya. Jika ada sesama rekan kerja yang kurang atau tidak akur satu sama lain, sebisa mungkin aku tidak mengadu domba mereka. Aku memilih bersikap bijak yaitu dengan menjadi juru penengah yang adil. Tidak memihak salah satu. Pernah aku mendengar dari salah seorang rekanku, sebut saja A, yang dengan jujur mengatakan bahwa ia kurang atau tidak terlalu akur dengan rekan yang lain, sebut saja B. Demikian juga sebaliknya, B pun mengatakan ketidakcocokannya dengan A pada suatu ketika. Sikapku sebagai rekan kerja dan penengah yang baik adalah tidak mengompori mereka. Aku memilih untuk lebih banyak diam saat mereka masing-masing bercerita. Dalam hati aku baru bisa berdoa supaya mereka dapat bekerja tanpa harus mengganggu satu sama lain. Jika mereka bisa saling cocok dan akur, maka aku bisa mengatakan bahwa Tuhan telah mengerjakan mukjizat-Nya di tempat kerjaku. Dengan A dan B secara terpisah, aku bisa ngobrol atau berbincang-bincang tentang apa pun dengan suasana yang menyenangkan. Obrolan kami dapat dikatakan merupakan obrolan yang sarat akan makna, positif, optimitik, dan membangun. Memang ada kalanya kami membicarakan juga orang lain dengan nada sinis karena tidak setuju dengan sikap mereka. Tapi, secara keseluruhan, aku menilai obrolan-obrolan yang terjadi itu lebih banyak positifnya.
                Demikianlah sedikit uneg-unegku seputar obrolan yang menyembuhkan. Kiranya kita semua dapat membudayakan obrolan semacam itu dalam keseharian masing-masing sehingga berubahlah atmosfer di sekeliling kita menjadi lebih baik. Haleluya!


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Senin 13 Mei 2013)