Selasa, 29 April 2014

Mendengarkan Sekitarku Sehari-hari

Setiap hari dari pagi sampai siang, aku berada di tempat yang riuh rendah dengan celoteh orang-orang yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Ada yang sibuk dengan kertas, alat tulis, komputer, telepon, radio, dan ada pula yang sibuk bercakap-cakap secara sambil lalu. Suasana yang terbangun dari semua kegiatan itu begitu beragam, tidak selalu sama setiap hari, tapi rata-rata cukup 'normal' untuk ukuran kantor. Terkadang, suasana dapat pecah menjadi penuh canda tawa yang menyegarkan berkat celoteh cerdas tapi wagu dari seseorang yang ditanggapi pula secara 'bodoh' oleh orang lain. Namun, tidak jarang suasana terasa membosankan karena masing-masing tenggelam dalam kesibukannya dan praktis memutuskan tali kasih antar manusia yang berdampingan secara fisik.

Aku mendapati ada berbagai jenis manusia yang bekerja di sekelilingku. Ada yang sungguh-sungguh bekerja dengan dedikasi tinggi apapun motivasinya, ada yang melalaikan tugas pokok fungsionalnya dengan melakukan kesenangan pribadinya, ada pula yang hanya ingin terlihat sibuk karena tidak ingin makan gaji buta. Masing-masing orang punya kepribadian dan karakter yang unik pula. Ada yang terbuka dan mampu berkomunikasi efektif dengan siapa pun juga, ada yang tekun tapi kaku dalam pergaulan, ada yang kapasitasnya biasa-biasa saja tapi punya kecerdasan emosi tingkat tinggi, ada pula yang tidak pernah puas dengan apa pun yang terjadi. Yang manakah diriku? Hehe, rahasia.

Dari berbagai obrolan yang kudengar, (maklum--pendengar lihai), aku sering sekali mendengarkan percakapan sambil lalu para amatir yang mencoba berdiskusi panas mengenai masalah-masalah bangsa negara, sistem dunia, dan tidak lupa: gosip. Karena masing-masing hanya memaparkan apa yang sudah terwartakan di media, aku hanya diam saja tanpa perlu banyak menimpali setiap lontaran pernyataan itu. Diskusi itu lebih sering bernada minor pesimis mengenai kondisi terkini tanpa ada cetusan brilian dan optimis menganai solusinya. Seolah, semua berlomba terlihat yang paling mengetahui masalah dengan memaparkan hal-hal negatif yang mereka ketahui. Padahal, semakin banyak perkataan sia-sia itu malah semakin menunjukkan kualitas pribadi masing-masing. Dengan mendengarkan secara seksama, sedikit banyak aku jadi tahu seperti apa kepribadian orang-orang di sekitarku.

Pada awalnya, aku agak terganggu dengan komentar-komentar negatif yang begitu masif bertubi-tubi menyambangi telingaku  yang sangat sensitif ini. Namun seiring berjalannya waktu, aku belajar untuk bersikap lebih cuek. Aku belajar menikmati setiap percakapan yang terjadi meskipun mungkin aku tidak setuju dengan sikap dan pernyataan yang dilontarkan. Bagaimanapun juga, aku ingat bahwa nguda rasa itu adalah salah satu cara katarsis jiwa yang cukup efektif bagi orang-orang yang letih lesu dan berbeban berat. Karena suasana kantor cenderung monoton dan membosankan, maka dapatlah ditolerir apabila para pekerjanya mengumbar perkataan untuk mengusir kejenuhan itu. Di samping itu, aku yang membanggakan kemampuan mendengar yang menurutku di atas rata-rata ini (cieee cieeee ^^), justru semakin  terasah dalam mendengar dan mengontrol emosi manakala mendengarkan curhat publik yang penuh dengan amanat penderitaan itu. Syukur-syukur, jika tabungan emosi dan kognisiku sudah cukup, aku akan ikut urun rembug dalam perbincangan seru sehari-hari itu untuk menciptakan atmosfer kreatif yang optimis.

Mungkin apa yang kulakukan ini masih sangat kecil nilainya. Ya, hanya mendengarkan tanpa banyak komentar, apa sih istimewanya? Di mata manusia, mungkin hal itu hanyalah satu iota makna dari berjuta-juta potongan puzzle kehidupan yang tersusun bak mozaik. Tapi, aku percaya dan optimis, bahwa iota kecil ini pun menyumbangkan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan. Bukankah hal-hal  besar itu berawal dari hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari? Dan, bukankah Dia selalu memperhatikan sekecil apapun yang kita lakukan? Maka, aku pun berbesar hati bahwa yang kulakukan ini tidaklah sia-sia, pasti ada manfaatnya, entah apa itu. Sekian tulisanku kali ini... ^^

Menjadi Pendengar yang Lihai

Saat ini aku sedang mencoba menulis secara spontan. Maksudnya, kali ini aku menulis langsung di blog ini tanpa perlu menulis terlebih dahulu di buku harian. Biasanya, aku menulis di buku harian terlebih dahulu, baru aku salin beberapa bagian yang menurutku layak untuk dibagikan. Tapi kali ini, aku mau mencoba kembali kemampuanku untuk menulis lepas dan bebas tanpa tendensi 'harus bagus'. Sudah siap? Yuk!

Kesenanganku untuk mendengarkan cerita orang lain mungkin adalah hal yang tidak biasa bagi kebanyakan orang. Saking sukanya mendengarkan cerita orang lain, aku harus melontarkan pertanyaan-pertanyaan pemancing untuk memperoleh jawaban yang ingin kudengarkan. Misalnya, aku bertanya kepada temanku, "Bagaiamana kabarmu? Ada kabar baik apa hari ini? Sedang sibuk apa?" dengan harapan ia akan menjawab dengan jawaban yang tidak standar. Jika ia pelit menjawab, maka aku harus lihai mengorek jawaban lebih lanjut. Mungkin ini terkesan garing dan tidak ada gunanya ya. Tapi entah mengapa, aku sangat menikmatinya.

Aku sangat menikmati kegiatan bertukar pikiran melalui percakapan sehari-hari dengan siapa saja. Entah itu di dunia nyata maupun di duna maya. Maka, jangan heran kalau aku tiba-tiba mengajak seseorang chatting di jejaring sosial. Tujuanku sederhana saja, hanya ingin mengobrol, sambung rasa, berbagi cerita. Bagian atau peran yang paling kusukai adalah menjadi 'pendengar' atau pembaca yang baik. Akan lebih indah dan mengasyikkan apabila kawan bicaraku itu berjiwa positif dan bersemangat tinggi dalam menjalani kehidupan. Apalagi kalau ada 'klik' dalam semangat yang sama. Rasanya semua hal bisa diobrolkan, tidak ada matinya.

Aku mendapati bahwa dengan mengobrol itu, ada sesuatu yang berubah, sekecil apapun itu. Aku bisa memilih dipengaruhi atau mempengaruhi. Jika orang yang kuajak ngobrol tidak seirama denganku, maka aku mengambil jarak sedikit supaya tidak mengacaukan langkah jiwaku sendiri. Sering, orang yang kuajak atau mengajakku ngobrol itu hanya ingin pendapatnya saja yang disetujui padahal belum tentu benar. Dan sering pula, ia tidak mau menerima pendapat dari sisi yang berlainan. Untuk orang semacam itu, aku tidak akan terlalu ambil pusing. Cukup aku dengarkan saja, tanpa perlu menyetujui ataupun membantahnya saat itu juga.

Inilah yang bisa kubagikan sebagai seorang pendengar. Entah baik atau tidak, yang penting adalah kemauan untuk mendengarkan terlebih dahulu. Menurutku, itulah yang bisa menciptakan suasana yang menyenangkan di mana pun aku berada. Bagaimana denganmu? ^^

Sabtu, 12 April 2014

Sinetron dan Harapanku

Sinetron masih menyuguhkan cerita-cerita cinta yang kelam, tragis, dan penuh air mata derita. Jarang sekali yang menceritakan tokohnya berkemenangan dalam perjalanan cintanya. Sungguh miris. Inikah potret masyarakat Indonesia yang ditangkap oleh para sineas televisi itu? Tidak adakah yang mampu memotret keindahan dan keagungan cinta kasih yang berkemenangan? Di manakah terang dan garam dunia itu?

Herannya, banyak juga orang yang rela perasaannya dipermainkan oleh cerita sinetron yang berlarut-larut itu. Apa yang sebenarnya mereka saksikan? Berkaca diri? Dengan cermin yang suram? Betapa malangnya! Seandainya saja mereka pernah mengecap kasih surgawi yang agung dan mulia, tentu mereka tidak akan tertarik dengan gambaran palsu cinta sinetron-sinetron itu.

Herannya lagi, aku sudah tidak merasa benar sendiri terhadap mereka yang masih mau dikadalin sinetron. Aku tidak marah-marah atau gemas lagi. Toleransi sudah berkembang menjadi pengertian dan simpati terhadap sesamaku yang terpikat oleh sinetron. Bahkan, terhadap man behind the scene sinetron itu sendiri pun aku mungkin akan mengembangkan sikap peduli yang tulus. Mungkin ini bisa menjadi salah satu pokok doaku. Mungkin pula, ini kesempatanku untuk menulis cerita yang indah dan lebih layak tonton di TV.

Hei, apakah 'Hikayat Putri Asa" bisa dibuat sinetron ya? Apakah ceritanya cukup kuat dan menarik? Kira-kira, siapa yang mau memproduserinya? Siapa sutradaranya, ya? Hehe, mimpi, mimpi. Boleh, kan? ^^