Sabtu, 30 Agustus 2014

Merinding Saat Main Piano

Dengan dipenuhi semangat kasih, pada hari Minggu tanggal 11 Mei 2014, aku mengiringi jemaat Brayat Kinasih memuji TUHAN di kebaktian bahasa Jawa. Sudah kesekian kalinya aku mengiringi pujian jemaat di sana. Brayat Kinasih adalah keluarga besar rohani yang kupilih bersama Mas Cah sejak akhir tahun lalu (2013). Tidak salah kami memilih jemaat ini sebagai tempat kami berakar, bertumbuh, dan berbuah menjadi berkat. Kembali ke topik mengiringi pujian. Aku sedang belajar mengembangkan sikap yang benar saat bertugas melayani TUHAN. Aku belajar untuk tidak bergantung pada rasa merinding yang kerap terjadi saat aku main piano/kibor. Rasa merinding itu aku asosiasikan dengan urapan TUHAN yang mengalir menjamah setiap hati jemaat yang memuji-Nya. Namun, rasa merinding itu terjadi di luar diriku. Bisa saja aku tidak ikut terjamah oleh-Nya meskipun semua jemaat mungkin telah merasakan hadirat-Nya. Aku tidak mau begitu. Jauh lebih indah jika aku pun terhanyut dalam aliran kasih TUHAN meskipun ada rasa merinding itu atau tidak.

Pagi itu, aku tidak terlalu memperhatikan apakah rasa merinding itu ada atau tidak. Aku sangat fokus pada ibadah dan bagian yang kumainkan. Yang kurasakan dalam hatiku adalah rasa damai dan puas, serta kasih yang lembut. Aku sangat menikmati kebersamaan dan persekutuan dalam pelayanan bersama dengan bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain. Aku pikir ini adalah sisi 'manis dan lembut' dari hadirat-Nya yang berlimpah kasih. Bahkan, kotbah Pak D yang biasanya 'lewat' begitu saja terasa menyenangkan dan tidak terlalu membosankan. Semua ini karena anugerah-Nya, hadirat-Nya, yang begitu indah memenuhi sidang jemaat di Brayat Kinasih. Aku sangat menikmati berkat yang mengalir karena roh kesatuan yang luar biasa itu.

Masih banyak yang perlu kuselami dan kupelajari ke depannya. Satu hal yang menjadi komitmenku adalah tetap setia pada bagianku yaitu: 1) yang tidak kasat mata yaitu berdoa terus; 2) yang kasat mata yaitu setia bermain piano sebagai janji iman persembahan yang hidup. Aku ingat dulu pernah memasukkan ke kantong persembahan sebuah kertas kecil bertuliskan 'main piano'. Tantanganku adalah rasa malas, sombong, minder, dan cepat puas dalam berdoa dan bermain piano. Untuk itu, aku akan terus berdisiplin mengembangkan dan mengobarkan karunia-Nya sampai maranatha. Amin ^^

Jumat, 29 Agustus 2014

Perenungan tentang Hari Buruh

Pada hari Kamis tanggal 1 Mei 2014, bertepatan dengan Hari Buruh sedunia, aku menuliskan sedikit perenungan ini.

Atmosfer kegeraman dan kemarahan begitu terasa hari itu. Ya, hari itu adalah hari buruh internasional. Kegeraman akan ketidakadilan ekonomi, kemarahan atas kesewenang-wenangan nasib, semua membundet dalam lingkaran sebab akibat yang begitu sulit diurai. Belum lagi ditambah dengan mental dan budaya korupsi bangsa ini yang sudah mengurat akar di semua lini kehidupan. Lengkap sudah daftar dosa yang dikeluhkan oleh bangsa ini.

Kemarahan ini tidak kudus menurutku. Kemarahan ini dipicu oleh iri, dendam, dan mengasihani diri sendiri. Iri akan mereka yang linuwih dan terberkati, dendam oleh karena perlakuan orang lain yang menyakiti hati, dan mengasihani diri sendiri karena lupa akan siapa dirinya di dalam TUHAN.

Mungkin penyebabnya multifaktorial dan tidak bisa digebyah uyah begitu saja. Tapi menurutku, reaksi para buruh yang mengumbar kemarahan itu juga dilandasi oleh motif yang kurang murni. Kekuatiran, putus harapan, dan cinta uang mungkin adalah akar dari apa yang nampak di permukaan. Mereka kuatir akan makana, pakaian, dan hari esok. Mereka putus harapan karena menempatkan iman pada manusia dan hal-hal yang fana. Mereka cinta uang karena tertipu oleh janji kebahagiaan yang ditawarkan Dewa Mamon dan materialismenya.

Jika aku menjadi kaum buruh marginal, aku tidak akan menggadaikan jiwaku kepada kekuatan massal yang meniadakan originalitas. Sebisa mungkin aku akan berpikir untuk diriku sendiri dan tidak begitu saja termakan propaganda. Jika masalahnya adalah ketiadaan akses, maka menjadi tanggung jawabkulah untuk membuka wawasan dan memperluas cakrawala. Aku akan memilih untuk mengembangkan kreativitas dan meningkatkan kompetensi ketimbang menuntut orang lain untuk berbaik hati dan berbelas kasihan padaku. Aku akan menjauhkan diri dari semangat kolektif yang salah arah dan salah kaprah.

Tapi aku bukan kaum marginal. Dan aku belum bisa mengidentifikasikan diriku dengan mereka. Mungkin aku masuk dalam kriteria buruh juga karena aku bukan pemilik tempat usaha. Tapi, aku lebih memaknai diriku sebagai seorang pekerja yang puas. Aku bekerja dengan puas karena cukup dan bersyukur atas apa yang kuterima. Bagiku, bekerja bukanlah perbudakan terselubung melainkan ajang bermain dan belajar. Menurutku, itu jauh lebih baik dan memotivasi, lebih dari sekedar mencari uang ataupun mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Meskipun aku bukan pengusaha atau bos, aku merasa kesal juga terhadap sesama pekerja yang hobi banget bersungut-sungut tidak pernah puas itu. Aku perlu menjaga hati dan pikiranku supaya tidak terus-menerus kesal karenanya. Lalu apa yang bisa kulakukan? Aku akan bertekad hati, berjiwa teguh, melakukan tugas dan tanggung jawabku seperti untuk TUHAN dan bukan untuk manusia. Tidak peduli ada yang melihat atau tidak, aku akan lakukan bagianku dengan setia. Urusan mereka mau protes-protes terus, itu terserah saja. Aku tidak mau ikut-ikutan. Inilah jalan yang kupilih.

Kamis, 28 Agustus 2014

Sikapku: Menjawab Pertanyaan 'Sejauh Mana'

Pada hari Rabu tanggal 23 April 2014, aku mengobrol lagi dengan Pak Ias. Obrolan itu sungguh sarat makna dan perenungan. Kata kuncinya adalah 'sejauh mana'. Sejauh manakah kita harus berdoa ngotot mempertahankan hidup seseorang yang sakit parah dan lanjut usia? Sejauh manakah kita bersikap profesional sekaligus personal dalam melakukan tugas dan tanggung jawab di tempat kerja? Atas kedua pertanyaan tersebut, jawabannya tidak bisa digebyah uyah alias digeneralisasi. Tiap kasus punya keunikannya sendiri-sendiri. Beda kasus beda masalah. Beda masalah beda jawaban. Yang diperlukan di sini adalah sikap mau belajar dan terbuka atas apa pun jawaban TUHAN. Itulah hikmat yang sejati.

Misalnya, sampai sejauh manakah kita berdoa ngotot untuk kesembuhan seseorang yang sakit terminal sekaligus lanjut usia? Apakah ngotot itu timbul dari sikap mengasihi (TUHAN dan sesama) atau hanya untuk unjuk/pamer iman? Ah, siapakah yang berhak menilai dan menghakimi sikap, motivasi, dan iman seseorang? Yang penting di sini adalah sikapku. Bagaimana aku harus bersikap? Sesuai firman-Nya, aku akan:

  • menerima orang lain tanpa mempercakapkan imannya 
  • tidak memadamkan Roh dan pekerjaan Tuhan
  • belajar mengerti kehendak Tuhan dalam setiap situasi sehingga dapat berdoa dengan kesepakatan yang tepat dan benar
  • apapun yang terjadi, tetap berpikiran dan beriman positif terhadap TUHAN, bahwa TUHAN itu baik 

Rabu, 27 Agustus 2014

Harta Berharga: Pengharapan

Pada hari Sabtu tanggal 19 April 2014, aku bercakap-cakap dengan rekanku yang bernama Pak Ias. Kami bercakap-cakap perihal kesusahan-kesusahan di dunia, perihal kerusakan lingkungan, kebobrokan manusia dan masyarakat, perihal Indonesia. Banyak hal yang memprihatinkan dan membuat susah hati dan pikiran. Dalam mendengarkan, aku memahami dan turut merasakan keprihatinan yang mendalam. Dalam diam, aku bertanya-tanya dan mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Aku tahu jawabannya ada di dalam TUHAN dan diperlukan hikmat serta wahyu untuk menyampaikannya secara tepat.

Di dalamku ada iman dan pengharapan yang tidak berkesudahan akan penyelamatan TUHAN atas dunia ini. Dibutuhkan kasih yang besar untuk bisa mengkomunikasikan apa yang kupercayai dan kuharapkan itu supaya jawaban yang kuberikan tidak hambar. Aku pun membaca kitab Wahyu. Setidaknya, aku mendapat penghiburan akan apa yang bakal terjadi dari sudut pandang surga. Sebuah skenario ilahi yang jauh lebih spektakuler dan dahsyat daripada utopia manusia mana pun sedang terjadi. Di sana, kejahatan akan menerima hukumannya yang setimpal. Di sana, kebenaran dan keadilan akan menang mutlak. TUHAN-lah sang benar dan sang adil yang dirindukan manusia dengan segenap hidup dan mati.

Beberapa waktu kemudian, pikiranku masih bertanya-tanya, dengan cara apa TUHAN memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kehidupan yang semakin suram ini. Dengan jalan bagaimanakah penyelesaian dari TUHAN itu terjadi atas karut-marutnya dunia ini? Meskipun demikian, hati dan jiwaku merasa tenang, aman, damai--ayem tentrem rahayu. Aku telah menerima dengan iman segala janji TUHAN yang indah dan penuh pengharapan itu. Sehingga, meskipun belum menemukan kata-kata yang tepat, aku cukup berbahagia karena telah memiliki harta karun paling berharga yang dicari oleh semua orang. Harta itu berupa hikmat dan wahyu yang TUHAN karuniakan dan akan dinyatakan pada waktunya. Bagianku adalah menjaga hati senantiasa supaya pelita iman dan pengharapan tetap menyala dalam jiwa. Dan bagi mereka yang ditentukan TUHAN, harta berharga itu dapat kubagikan sesuai dengan porsi masing-masing.

Terpujilah nama TUHAN yang telah menjagai hati dan pikiranku dengan anugerah-Nya yang memagariku seperti perisai! Maranatha! ^^