Jumat, 26 Februari 2010

Thank God, You Are so Good!!!

Pagi ini aku bangun pagi2 sekali, sebelum subuhan, karena aku nglilir... hehe... terus aku mulai hari ini dengan membuka laptop dan ngenet, ngeblog, sambil ndengerin instrumental worshipnya jeffry s tjandra... mantab... karena semalam tidur nyenyak sekali, aku nggak bangun2 meskipun sudah ditelpon dan disms sama mas Cahyo... batal deh chattingnya... hehe... sorry mas... soalnya aku lumayan capek sih, kemarin seharian mengeluarkan energi yang cukup banyak untuk ke Majegan dan ke sardjito... tapi aku sangat bersyukur karena energi yang kukeluarkan itu nggak sia2... Aku berhasil menuntaskan urusanku di Majegan sehingga nggak perlu lagi bolak balik ke sana... tinggal numpuk buku portfolio sama surat untuk dekan besok senin... yang masih belum beres adalah berkas pelantikan yang kali ini masih terhenti di diklit... aku sudah bolak balik 2 kali dalam sehari tapi petugas di diklitnya nggak ada terus... ya sudah deh... aku akan terima marah2nya bu petugas KPTU besok kalo aku ngumpulin berkas pelantikan... karena ya memang begitulah keadaannya... aku sudah berusaha semampuku...

Hari ini aku mulai dengan sangat luar biasa... aku mulai dengan saat teduh seperti biasanya... mau telpon dan ditelpon mas Cahyo terhalang pulsa smart yang habis... no problemo... aku merasa sangat bersyukur sekali lagi karena hari ini bapak ngajak aku sepedaan... hehe... mumpung libur... jam setengah enam pun kami berangkat naik sepeda menuju rumah simbah di Kotabaru yang jaraknya sekitar 5 km dari rumah... eh, 5 atau berapa ya? Gak tahulah.... yang jelas, kalau benar 5 km, maka hari ini paling enggak aku sudah naik sepeda sejauh 10 km dunk... Lumayan... berat badanku mulai turun 1 kiloan nih... thank God!!! ^^

Programku akhir minggu ini adalah melahap habis novel Perahu Kertasnya Dee supaya minggu depan aku bisa mulai baca2 bahan ATLS dan belajar apa saja yang perlu kupelajari... betapa menyenangkannya... hehe... sekali lagi thank God!!! God is so good... all the time... Tuhan itu baik ya... hehe... ^^

Dari semula t'lah Kau tetapkan
hidupku dalam tanganMu
dalam rencanaMu, Tuhan

Rencana indah t'lah Kau siapkan
bagi masa depanku
yang penuh harapan

Semua baik, semua baik
apa yang t'lah kau perbuat
di dalam hidupku
Semua baik, semua baik
Kau jadikan hidupku berarti

Ingin Saat Teduh... ^^

Hatiku tidak boleh kosong...
Pikiranku tidak boleh kosong...
harus aku isi...
isi dengan kebenaran firman Tuhan...
firman Tuhan katakan apa ya hari ini?
Harus baca dulu nih...
Harus meluangkan waktu untuk Tuhan...
harus saat teduh...
eh salah, kurang tepat...
bukan harus, melainkan ingin...
ingin aku menyapan Tuhan...
pagi ini...
dengan hati yang penuh rindu...
aku ingin datang kembali ke hadirat Tuhan...
membawa sejuta rindu...
aku ingin mendengarkan suaraNya...
yang lembut menyapa...
yang membangunkan jiwa...
yang membuka pikiran...
membuatku senantiasa terjaga...
awas dan waspada...
dalam menapaki hidup ini...
Oh sungguh indahnya...
saat-saat bersama Tuhan...

Hari ini adalah hari yang baru...
aku tidak takut melangkah...
sebab aku tahu...
dengan Siapa aku melangkah...
menuju ke tujuan yang gilang gemilang...
meskipun aku masih menerka-nerka dan meraba-raba...
tapi aku tahu dengan Siapa aku berjalan...
karena itu aku tidak takut...
karena aku percaya kepadaNya...
dengan segenap hatiku...

Terima kasih, Tuhan Yesus, Sahabatku...
Engkaulah yang terbaik dalam hidupku...
kiranya ini menyenangkan hatiMu...
^^

Isadora

Bu Isadora hari Minggu setahun yang lalu bangun pagi dengan perasaan kaget dan tidak tenang. Bagaimana tidak, berita hilangnya Grace telah sampai ke telinganya dengan begitu cepat. Om Sammy rupanya telah menghubunginya juga. Berita itu mengatakan bahwa Grace telah kabur dari rumah tanpa membawa apa-apa, hanya membawa baju yang dipakainya saja dan sandal jepit. Tidak tahu ke mana Grace hendak pergi, tak ada yang tahu. Memang hanya Grace dan Tuhan saja yang tahu. Oleh karena hanya Tuhan yang tahu, Ibu Isadora segera memakai cara Tuhan untuk membantu mencari Grace. Yaitu dengan berdoa.
“Allah Bapa kami yang berkuasa di bumi dan di surga, kembali kami datang ke hadiratMu untuk memohonkan sesuatu. Anak kami Grace, hari ini, pergi entah ke mana. Tolong temukan Grace, ya Allah, dan bawa Grace kembali pulang dengan selamat kepada keluarganya di rumah. Dalam nama Yesus, kami berdoa dan mengucap syukur. Amin.” Demikian doa Ibu Isadora yang penuh dengan kasih dan rasa prihatin atas hilangnya salah satu anak murid kesayangannya.
Bu Isadora adalah guru agama Grace waktu SMP. Meskipun Grace waktu itu sudah masuk kuliah semester pertama, hubungannya dengan Bu Isadora tetap terjaga baik. Bu Isadora selalu menganggap semua muridnya seperti anaknya sendiri. Semua itu karena Bu Isadora sangat mengasihi Tuhan dan bertekad untuk menjadi guru yang lebih dari sekedar mengajar. Bu Isadora ingin menjadi seorang guru yang membimbing dan membombong anak muridnya untuk lebih mengenal dan mengasihi Tuhan. Salah satu muridnya yang paling dekat hubungannya dengan Bu Isadora adalah Grace.
Sewaktu SMP, Grace terkenal sebagai seorang murid yang rajin dan pandai. Ia sering mendapatkan gelar juara kelas. Selain pandai, Grace juga sangat senang berdoa kepada Tuhan. Setiap jam pelajaran kosong, jam istirahat, dan jam pulang sekolah, Grace selalu menyempatkan diri untuk datang ke ruang agama Kristen di sekolahnya untuk berdoa kepada Tuhan. Entah apa yang selalu disampaikannya kepada Tuhan. Ibu Isadora senang sekali melihat Grace setiap kali Grace berdoa karena Grace terlihat sangat khusuk dan serius, sangat jauh berbeda dengan rata-rata teman-temannya yang lain. Grace juga sering menulis surat untuk Tuhan dan Bu Isadora tentang banyak hal. Dari hal-hal kecil sampai besar dituliskannya di surat yang kadang pendek kadang panjang. Namun hanya satu masalah yang tidak pernah diungkit Grace kepada Bu Isadora. Dan Bu Isadora tahu itu. Setiap kali berdoa, Bu Isadora selalu ingat akan masalah ini dan membawanya dalam pokok-pokok doa hariannya. Masalah yang sangat pelik untuk anak remaja seusia Grace. Tidak heran Grace terlihat lebih banyak berdoa dan sering sekali terlihat menangis dalam doa-doanya. Tapi Ibu Isadora tahu bahwa nanti akan ada saatnya pemulihan datang dan benarlah itu. Tiga tahun kemudian, saat Grace kelas tiga, Tuhan menjawab masalahnya dengan cara yang ajaib. Benar-benar indah cara kerja Tuhan, pikir Bu Isadora. Masalah itu jugalah yang mendekatkan Grace dengan Bu Isadora. Hubungan mereka lebih dari sekedar guru dan murid. Grace telah menganggap Bu Isadora seperti ibunya sendiri dan demikian juga dengan Bu Isadora.
Setelah berdoa dan bersaat teduh sejenak, tiba-tiba pintu rumah Bu Isadora diketuk. Segera Bu Isadora membuka pintu rumahnya, dan tampaklah di depan rumahnya, Grace yang baru saja didoakannya. Grace tampak mengenakan pakaian rumah dan tanpa membawa apa-apa.
“Astaga, Grace… Puji Tuhan!!! Ayo, masuk…” sambut Ibu Isadora sambil memeluk Grace dengan erat.
Tanpa mengucapkan kata-kata, Grace pun masuk. Dia disambut dengan hangat oleh Bu Isadora dan keluarganya yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri. Tanpa basa-basi Grace langsung duduk di ruang tamu. Mulutnya sedikit komat-kamit seperti orang yang sedang berbicara sendiri. Bu Isadora menyajikan teh hangat dan sedikit makanan ringan kesukaan Grace. Grace masih belum bisa diajak komunikasi. Masih sibuk dengan angan-angannya sendiri. Sementara itu, Bu Isadora segera menelepon rumah Grace dan berbicara dengan orang tua Grace serta Om Sammy yang segera mengabarkan kepada Martin dan Melody perihal keberadaan Grace, sahabat mereka.
“Grace, apapun yang terjadi, kamu tetaplah anakku yang kusayangi,” batin Bu Isadora sambil memandang Grace dengan perasaan yang penuh belas kasihan.
“Grace, mau mandi?” tanya Bu Isadora dengan lembut. Grace hanya menganggukkan kepala saja dan Bu Isadora segera menyiapkan handuk dan pakaian ganti yang cocok untuk Grace. Grace pun mandi. Sementara itu, Bu Isadora menanti-nanti kedatangan keluarga Grace yang baru saja diteleponnya tadi.

Martin

Hari itu Martin merasa tidak tenang. Pagi dini hari itu, ia menerima SMS penting dari Melody. SMS yang bunyinya mengingatkannya akan kejadian yang hampir mirip setahun yang lalu. Kejadian yang mebuat hidupnya dan Melody menjadi tidak tenang dan was-was karena khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk pada Grace, sahabatnya.
SMS itu berbunyi demikian, “Martin, tolong doakan Grace. Sepertinya ia kambuh lagi. Aku tidak tahu apa sebabnya tapi Grace sepertinya butuh pertolongan. Miss u. GBU.”
Pesan singkat yang membuat Martin bertanya-tanya, separah apakah kondisi Grace saat ini. Setahun yang lalu, saat Martin dan Melody sedang asyik makan-makan di sebuah warung tenda, tiba-tiba saja mereka mendapat kabar bahwa Grace kabur dari rumahnya tanpa alasan yang jelas. Hari itu masih pagi. Hari Minggu di mana sebagian besar orang masih beristirahat. Martin dan Melody baru saja pulang dari gereja pagi jam enam, karena mereka terbiasa untuk menghadiri kebaktian Minggu jam lima pagi untuk kemudian dilanjutkan dengan berjalan-jalan dan jajan makanan di warung tenda sepanjang jalan menuju gereja. Pagi yang cerah dan indah berubah menjadi mimpi buruk karena Grace, teman dan sahabat mereka yang sangat mereka kasihi, tiba-tiba bertingkah aneh dan tidak seperti biasanya.
Grace yang biasanya ceria dan terbuka, menjadi tampak sedih dan berbeban berat hari-hari itu setahun yang lalu. Entah apa masalahnya. Grace tidak pernah cerita. Begitulah Grace, kalau ada masalah ia jarang menceritakannya kepada siapa pun, bahkan kepada sahabat-sahabat terdekatnya termasuk Martin dan Melody.
Kembali ke hari Minggu setahun yang lalu, Martin dan Melody sangat terkejut saat mendengar kabar dari Om Sammy yang mengatakan bahwa Grace telah pergi meninggalkan rumahnya pagi-pagi sekali entah ke mana. Om Sammy adalah adik dari ibu Grace yang paling dekat dengan Grace dan teman-temannya. Om Sammy dan keluarga Grace sedang mencari Grace waktu itu dan meminta Martin dan Melody untuk turut serta mencarinya karena hanya merekalah teman-teman terdekat Grace waktu itu yang mungkin tahu di mana Grace berada.
Martin dan Melody mulai mencari di lingkungan gereja dekat dengan kampung tempat tinggal Grace. Grace memang sangat relijius. Ia sering sekali pergi ke gereja sendirian hanya untuk berdoa atau menyendiri bersama Tuhan. Berbeda dengan Martin dan Melody yang lebih sering menghabiskan waktu berdua dengan mengobrol atau sekedar jalan-jalan, Grace lebih sering menghabiskan waktu dengan sendirian. Entah apa yang dilakukannya saat sendirian. Ada yang bilang Grace berdoa syafaat untuk banyak hal besar yang menentukan jalannya negeri, gereja, bangsa, dan hal-hal besar lainnya. Konon, waktu zamannya kerusuhan dan banyak gereja dibakar, Grace waktu itu membayar harga dengan mendoakan secara sungguh-sungguh sehingga kota Yogyakarta tidak menjadi rusak separah kota-kota yang lainnya. Saat orang-orang lainnya sedang tidur nyenyak atau ketakutan mendengar isu bom di mana-mana, Grace lebih banyak bertekun dalam doa di kamarnya sampai berjam-jam. Entah bagaimana Grace bisa tahan berdoa selama itu. Kata kakak rohani Martin, Bang Immanuel, itu karena Grace mendapat urapan khusus untuk berdoa syafaat dari Tuhan. Martin masih bingung apa itu urapan dan seperti apa bentuknya, tapi ia percaya saja bahwa Grace ada dalam lindungan tangan Tuhan dan sedang dipakai Tuhan untuk kemuliaanNya.
Mereka tidak menemukan Grace di mana pun mereka mencari. Di gereja, sekolah, halte-halte bus, dan di berbagai tempat seperti pasar, kantor pos, dan kantor polisi. Untuk lapor polisi pun masih kurang dari dua puluh empat jam dan Grace bukan diculik melainkan pergi karena keinginannya sediri. Tiga jam mereka mencari dan mencari, namun Grace belum ditemukan juga. Martin dan Melody sangat kelelahan dan kebingungan. Di tengah-tengah kebingungan, Melody mengusulkan sesuatu kepada Martin.
“ Martin, ayo kita berdoa!” seru Melody tiba-tiba.
“Berdoa? Untuk apa?” tahya Martin tambah bingung.
“Yah, kau tahu kan… aku dan Grace terbiasa berdoa dalam berbagai keadaan…”
“Yeah, kalian memang maniak berdoa,” seloroh Martin.
“Jangan bilang begitu! Kami memang hobby berdoa dan apa yang kami doakan itu mulai dari hal-hal sederhana sampai hal-hal yang rumit. Sekaranglah waktu yang tepat untuk berdoa meminta bantuan Tuhan untuk menemukan Grace. Saat kita angkat tangan, maka…”
“Tuhan yang turun tangan,” potong Martin sebelum Melody sempat menyelesaikan kata-katanya. “Okelah kalau begitu… Mari kita berdoa.”
“Ya Bapa…” kata Melody,”Kami saat ini sedang kehilangan Grace…”
“Benar-benar kehilangan, Bapa…” sahut Martin tiba-tiba.
“Tolong kami untuk menemukannya, Bapa, karena kami sangat khawatir akan Grace. Kami semua menyayanginya, Bapa… Kami tidak tahu apa masalah yang sedang dihadapi oleh Grace. Tapi Engkau Allah yang maha tahu, Engkau pasti tahu apa yang sedang dialami oleh Grace. Oleh karena itu, kami mau menyerahkan Grace ke dalam tanganMu, Bapa…”
“Benar, Bapa…”
“Saat ini, tolong lindungi Grace karena kami tidak yakin Grace ada di mana dan sedang melakukan apa…”
“Yes, Lord… Please, Jesus…”
“Demi nama Yesus, kami berdoa dan memohon…”
“Amin!” bersama-sama Martin dan Melody mengucapkan kata ‘amin’ dengan mantap.
Setelah berdoa secara singkat kepada Tuhan, Martin dan Melody merasakan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Entah bagaimana mereka yakin Grace tidak apa-apa. Sebentar lagi pasti mereka akan menemukannya dalam kondisi yang selamat.
Tiba-tiba ponsel Melody berbunyi. Rupanya ada SMS penting. “PUJI TUHAN!!! GRACE SUDAH KETEMU!!! SEKARANG ADA DI RUMAH IBU ISADORA!!!” Rupanya dari Om Sammy. Benar kan, setelah berdoa, Grace pasti ketemu… begitu kata Melody dengan penuh sukacita dalam hatinya. Dengan bergegas, Martin dan Melody segera pergi ke rumah Ibu Isadora untuk bertemu dengan Grace.

Melody

Hari masih gelap. Jam empat pagi. Tapi ada satu suara nyaring berbunyi dari balik bantal. Melody yang masih tertidur lelap terpaksa bangun dengan setengah hati karena tidak tahan dengan suara bising dan getaran ponsel yang dirasanya sangat mengganggu. Siapa ya pagi2 begini kirim SMS, tanya Melody dalam hati. Semoga jangan dia lagi. Melody tahu pasti siapa yang biasanya kirim SMS di waktu2 yang menurut kebanyakan orang “tidak tepat”. Siapa lagi kalau bukan Grace. Hhh, Grace… anak itu lagi… Akhir2 ini Grace sering mengiriminya SMS yang tidak jelas apa maksudnya. Tapi mau bagaimana lagi, Melody sudah menganggap Grace seperti saudaranya sendiri. Suka tidak suka, Melody tetap harus menerima Grace apa adanya dan siap membantunya kapan saja. Bukankah demikian yang dinamakan sahabat?
Dibukanya SMS dari Grace. Hmmm… pesan yang lagi2 tidak jelas maksudnya apa, batin Melody. Sepagi ini Grace sudah bangun. Apakah dia tidak bisa tidur lagi? Mungkinkah Grace kambuh lagi insomnianya dan mulai berkelakuan yang tidak wajar seperti yang dulu pernah terjadi? Melody merinding mengingatnya. Grace, Grace… Apapun yang terjadi, aku tetap peduli padamu, kata Melody dalam hati. Melody pun bangun, duduk bersila di atas tempat tidurnya, dan mulai berdoa seperti yang biasa ia lakukan sejak dulu. Doa yang tulus dari seorang sahabat yang terpisah oleh kesibukan masing-masing.
“Bapa…” kata Melody memulai doanya, “Aku nggak tahu apa yang terjadi dengan Grace kali ini. Tapi aku mohon, jaga dan lindungilah dia, Bapa, jangan sampai dia terkena hal-hal yang mengancam jiwanya. Ampuni aku, Bapa, karena aku terlalu sibuk bekerja sehingga aku tidak bisa menemani Grace sepanjang waktu. Tapi di hatiku, dia tetaplah sahabatku. Aku tidak mau kehilangan Grace, Bapa… karena itu, aku mohon, jagalah Grace setiap waktu. Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa… amin.”
Doa yang singkat tapi tulus. Itulah Melody. Setiap kali ada masalah dengan seseorang yang dikenalnya dengan baik, ia selalu membawanya ke dalam doa syafaat. Melody memang seorang pendoa syafaat, terutama bagi teman-teman terdekatnya termasuk Grace. Sering sekali ia terlibat apa yang dinamakan peperangan rohani demi menolong teman-temannya keluar dari masalah mereka masing-masing. Satu per satu didoakannya mereka dengan penuh kasih dan empati. Sampai berjam-jam pun Melody rela berlutut berdoa sampai sesuatu yang supra alami terjadi. Melody punya kelebihan berupa kemampuan untuk melihat dan mendengar apa yang tidak semua orang bisa lihat dan dengar. Dulu ia sering melihat bagaimana pertempuran yang sengit terjadi antara bala tentara Tuhan dengan setan-setan. Bahkan, Melody dapat merasakan apa yang orang lain rasakan meskipun orang itu belum menceritakan persoalannya pada Melody. Hal inilah yang mungkin membuat Grace merasa minder dan kehilangan kepercayaan dirinya sehingga membuat jiwanya labil. Tapi Melody tidak ambil pusing. Ia tetap menghibur Grace dengan mengatakan bahwa ia sendiri sebenarnya tidak menginginkan mempunyai karunia khusus tersebut karena beban yang ditanggungnya sangatlah berat. Melody pernah berdoa supaya Tuhan Yesus mengambil kembali karunia khusus tersebut. Sungguh kebalikan dari Grace yang selalu meminta supaya Tuhan Yesus mengizinkannya untuk melihat dan mendengar apa yang terjadi di surga ataupun di neraka.
Selesai mengatakan apa yang ingin dikatakannya di hadapan Tuhan, Melody berdiam diri sejenak. Ia teringat akan masa-masa lalu ketika ia baru mengenal Grace. Ia teringat bagaimana dulu mereka berkenalan, menjadi sahabat sepenanggungan, menjadi partner dalam doa syafaat, menjadi saudara dalam kesusahan, bahkan sampai perpisahan yang menyedihkan sebelum akhirnya bertemu kembali setelah beberapa waktu. Ah, kalau saja waktu itu ia tidak bertemu dengan Grace, pastilah hidupnya akan tenang dan damai. Tapi entah mengapa, Tuhan Yesus sepertinya sengaja mempertemukannya dengan pribadi bernama Grace yang sangat unik yang membuat hidupnya menjadi tidak tenang namun penuh warna. Grace benar-benar telah dipakai Tuhan untuk membuat hidupnya penuh dengan gejolak-gejolak emosi yang tidak terduga. Hubungan persahabatan yang unik yang terjalin di antara keduanya ini sepertinya memang bukan hubungan persahabatan yang biasa. Seperti ada semacam tali tidak kelihatan yang telah mengikat hati keduanya. Tali yang bukan sembarang tali melainkan tali yang terjalin oleh kasih sejati yang tidak berasal dari dunia ini. Kasih sejati yang hanya ada dalam Tuhan saja. Dan sepertinya memang hanya Tuhan sendirilah yang dapat memutuskan tali itu.
Melody menghela napas. “Yah, Tuhan, kalau memang ini kehendakMu, biarlah kehendakMu saja yang terjadi. Aku siap melakukan apa saja yang Engkau mau supaya kulakukan. Aku akan menjaga Grace sekali lagi, bahkan berkali-kali sampai kapan pun karena aku mengasihinya. Grace adalah sahabat yang Engkau berikan kepadaku untuk membantuku belajar bagaimana mengasihi dengan tulus dan senantiasa ada untuk memberi pertolongan, seberat apa pun itu. Ini aku, Tuhan, pakailah aku…aku siap…” Melody pun membuka matanya dan beranjak dari tempat tidurnya. Jam dinding di kamarnya menunjukkan waktu sudah jam setengah lima pagi. Sudah hampir fajar. Dihidupkannya radio kesayangan pemberian Martin, kekasih hati yang merupakan calon pasangan hidupnya. Didengarnya suara penyiar radio dari stasiun Petra FM yang lembut. Acara saat teduh pun dimulai. Suara lantang pendeta Gilbert Lumoindong, S.Th terdengar dengan mantap dan menguatkan hati. Melody pun terhanyut dalam hadirat Tuhan sembari mendengarkan acara-acara yang silih berganti dengan nyanyian rohani yang diputarkan oleh si penyiar. Hari yang indah bagi Melody untuk mulai mempersiapkan dirinya untuk bekerja memberikan yang terbaik bagi Tuhan.
“Selamat pagi, Bapa… selamat pagi, Yesus…selamat pagi, Roh Kudus…” gumam Melody menyapa Tuhan, Allah Tritunggal. Dan hari pun dimulai bagi Melody.

Grace

Grace terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak. Jam 2 pagi. Hari masih gelap, tentu saja. Grace baru saja bermimpi seram dan menakutkan. Begitu menakutkannya sehingga Grace terbangun dengan keringat yang mengucur deras dan jantung yang berdegup kencang. Mimpi yang aneh… Mimpi yang luar biasa aneh… Grace hanya bisa mengingat wajah mengerikan yang menerornya… Wajah yang tampan tapi memancarkan aura yang amat sangat jahat seolah-olah ingin mengambil hidup Grace… Kalau saja tidak ada kejahatan yang terpancar dengan begitu kuatnya, mungkin Grace akan merasa lain karena sosok dalam mimpinya begitu mempesona… ketampanan gaib yang melampaui apa yang bisa Grace bayangkan… Siapakah dia, yang berambut hitam dan berbola mata hitam namun sangat mengerikan dan menakutkan itu, batin Grace. Perasaan takut masih terbawa meskipun Grace sudah bangun. Grace tidak dapat tidur lagi karena masih sangat ketakutan… seolah-olah ada tangan jahat yang menghilangkan ketenangan batinnya… Huff, setidaknya aku masih bisa bangun dan hidup, pikir Grace… diambilnya buku catatan harian yang berisi kisah hidupnya kemudian dituliskannya mimpi anehnya barusan… Kebiasaan yang sudah lama dilakukan oleh Grace yaitu menulis di buku harian tentang kehidupannya sehari-hari, semakin sering dilakukannya akhir-akhir ini apalagi semenjak ia mendapatkan mimpi-mimpi aneh yang sebagian besar menerornya tanpa ampun.
Grace melangkah keluar kamarnya menuju meja makan di ruang makan rumahnya. Dibukanya tutup toples tempat penyimpanan obat dan diambilnya sebutir kapsul obat berwarna kuning. Diminumnya obat itu dengan bantuan segelas air putih segar. Grace duduk di depan meja makan sambil merenungkan kehidupannya akhir-akhir ini. Sudah dua bulan Grace tidak dapat tidur nyenyak dan hampir selalu terbangun di malam hari dengan perasaan gelisah. Mimpi buruk selalu dialaminya sepanjang malam tanpa henti, padahal Grace tidak pernah menonton film-film horor atau membaca cerita-cerita menyeramkan. Tapi mimpi-mimpi yang menakutkan itu tiba-tiba saja datang menghantuinya sehingga Grace mengalami apa yang dinamakan insomnia selama dua bulan kurang lebihnya.
Insomnia yang menyebalkan! Grace tidak dapat menikmati hidup yang “normal” lagi sejak insomnia menyerangnya. Ini semua gara-gara mimpi-mimpi sialan itu! Tubuh Grace menjadi tidak fit untuk melakukan aktivitas-aktivitasnya karena kurang tidur. Sialnya lagi, setiap tidur, mimpi buruk menyerangnya. Perubahan dalam kepribadian Grace pun mulai terlihat oleh orang-orang terdekatnya, terutama oleh keluarganya. Grace menjadi lekas marah dan matanya tidak lagi memancarkan kehidupan seperti Grace yang biasanya dulu. Sekarang Grace menjadi pribadi yang agak paranoid dan pemarah. Lagi-lagi semua ini gara-gara mimpi buruk dan insomnia yang dialaminya. Diteguknya air putih di gelas sampai habis untuk mengusir kekesalan hatinya, tapi tetap saja Grace tidak dapat menemukan kedamaian yang didambakannya. Sudah waktunya untuk menulis kemudian mencoba untuk tidur lagi. Grace segera beranjak ke kamar tidurnya yang terletak di lantai dua rumahnya.
Grace mengambil pensil dan buku catatan hariannya kembali dan mulai menulis, “ Bapa…” tulisnya, “Hari ini lagi-lagi aku mimpi aneh. Aku nggak tahu siapa itu yang bertampang cakep tapi menakutkan dan sangat jahat. Sungguh aneh, benar-benar aneh sehingga aku jadi insomnia begini dan harus mengkonsumsi obat untuk seterusnya karena kondisiku yang memprihatinkan menurut penilaian medis… Berkati dokter yang merawatku, Bapa, supaya dia nggak salah diagnosa dan dapat memberi terapi yang tepat sasaran. Terus, untuk masalah siapakah orang yang menerorku lewat mimpi, aku serahkan sepenuhnya ke dalam tanganMu, Bapa… Demi nama Yesus aku berdoa, amin!!!!!!!” Begitulah kebiasaan Grace saat menuliskan pengalaman hidup dan isi hatinya di buku catatan hariannya itu. Selalu saja Grace mengajak pribadi Tuhan bercakap-cakap seperti layaknya sahabat karena Grace percaya bahwa Tuhan itu ada dan Tuhan telah menebusnya melalui pengorbanan Yesus di kayu salib dua ribun tahun yang lalu. Grace sedang bertumbuh dalam iman kepada Tuhan Yesus, Allah yang disembahnya dan menjadi Tuhannya secara pribadi. Hanya saja, dalam pertumbuhan ini, Grace tidak mempunyai komunitas yang tepat untuknya bisa bertumbuh dengan optimal. Dulu pernah Grace punya komunitas, tapi sayang, Grace memutuskan untuk keluar dari komunitas tersebut karena masalah komunikasi yang tidak terselesaikan dengan baik. Ditambah lagi, Grace mulai bertumbuh dalam karunia-karunia ilahi yang belum sepenuhnya dipahami sehingga banyak orang yang salah paham terhadap Grace, menyangka bahwa Grace sedang mempunyai masalah kepribadian atau kepribadian ganda atau apalah yang membuat Grace muak dan ingin marah-marah kalau mengingatnya. Bagi Grace, kehidupan komunitas adalah masa lalu yang harus dikubur atau disimpan dengan rapi dan harus berhati-hati untuk tidak lagi terikat pada satu komunitas tertentu yang terlalu eksklusif. Sepertinya sakit hati yang tidak disadarinya masih dirasakan oleh Grace sampai saat ini. Semua ini akibat dari perseteruannya dengan salah satu anggota komunitasnya dulu, tidak usahlah disebut namanya sekarang. Nanti akan diceritakan dengan lebih mendetil siapa dan bagaimana orang yang telah membuat Grace merasa pahit dan sakit hati.
Kembali ke kamar Grace… setelah puas menuliskan semua uneg-uneg dan kegelisahan hatinya, Grace merebahkan dirinya di atas kasur spring bed besarnya. Hmmm… Grace sedang menikmati suasana dini hari yang dipenuhi dengan suara-suara jangkrik dan kodok, yang secara ajaib membuat irama-irama ritmis yang enak didengar. Pastilah ini semua karena ada satu atau dua malaikat yang memberi aba-aba sedemikan rupa sehingga terciptalah orkestra binatang malam yang riuh rendah, batin Grace. Ini adalah sisi lain dari Grace yang paranoid, yaitu ia selalu membayangkan bahwa di sekelilingnya selalu terdapat malaikat-malaikat pelindung yang diutus Tuhan untuk menjaganya. Benar-benar imajinasi yang hebat. Grace memang jagonya berimajinasi. Bahkan, imajinasinya itu sampai pernah dipakai Tuhan untuk menguatkan Grace dan orang-orang yang bertemu atau berhubungan dengan Grace. Sayang sekali sampai saat ini Grace masih merasa belum puas dengan karunia Tuhan tersebut. Ia masih mengharapkan sesuatu yang lebih, yaitu karunia untuk dapat melihat dan mendengar hal-hal gaib yang tidak semua orang bisa mendapatkannya sementara Grace kurang berterima kasih dan bersyukur akan karunia-karunia yang sudah ada padanya yaitu karunia berimajinasi, menulis, mimpi, dan bermain musik.
Merasa belum tenang juga, Grace mencari-cari ponselnya. Dikirimnya pesan singkat melalui SMS ke nomor yang sudah tidak asing lagi. Pesannya berbunyi demikian: “Melody, aku habis mimpi aneh lagi. Aku susah tidur terus. Tolong doain aku ya. Thx. Gbu.” Kemudian, dikirimkannya pesan itu ke nomor Melody yang sudah dihafalnya di luar kepala. Pesan pun terkirim.

Kamis, 25 Februari 2010

Win The Battle Today, Yippi... ^^

Ternyata berbicara di depan umum itu enak juga ya... bisa ngomong apa aja sesuka hati, apalagi kalau didengarkan dengan antusias... bisa ngelantur ke mana aja... hehe... Hari ini aku ke Majegan untuk menghadiri acara peprisahan dengan para punggawanya... Dan aku mendapat kesempatan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata perpisahan mewakili Fina juga... mendadak sih tapi aku sudah siap sedikit dari sejak kemarin... Aku ngomong aja apa yang ada dalam hati dan pikiranku, meskipun sedikit bertele-tele dan mencoba untuk berbasa-basi yang ternyata wagu dan kagok... hehe... Padahal Tuhan Yesus waktu mengajarkan murid2Nya berdoa pernah berpesan untuk nggak usah bertele-tele atau memanjangkan kalimat2 biar kedengaran indah, langsung saja ke pokok permasalahannya... Dan nggak perlu berusaha melucu kalau memang tidak lucu, tapi juga jangan menyembunyikan bakat lucu yang ada pada kita... Yang alami aja, ngalir tapi jelas tujuannya... Yah, suatu awal yang bagus untuk belajar ngomong dan menjadi seseorang yang berdiri di depan umum... Thank God... ^^

Hari ini aku mengembangkan kebiasaan baru yaitu berbicara kepada diri sendiri dan bukannya mendengarkan diri sendiri secara pasif... istilah ini aku dapatkan dari buku yang baru saja selesai aku baca, Out of The Blues... maksudnya, aku harus secara aktif memasukkan pikiran2 yang sesuai dengan kebenaran Tuhan dalam alkitab daripada menyerah kalah terus-menerus pada perasaan2 negatif atau pikiran2 negatif yang nggak jelas dari mana asalnya itu... Dan setelah aku praktekkan berbicara pada diri sendiri secara aktif, rasanya luar biasa seger lho... rasanya aku seperti senantiasa disegarkan dari dalam... bukan manik yang meluap-luap tanpa dapat dikontrol lho... ini lebih ke sukacita dan semangat positif yang senantiasa memancar dan meluap dari hati... so great is the Lord!!!

Memang benar bahwa pikiran kita adalah medan perang... (pingin baca bukunya nih ^^). Kalau ingin menang, kita harus senantiasa sadar akan keberadaan Tuhan di dalam kita setiap waktu... kalau Tuhan di pihak kita, siapa lawan kita... haleluya... amin!!!!!!!

Rabu, 24 Februari 2010

Jangan Malas, Jangan Takut, Jangan Kuatir...!!!

Sambil mendengarkan Sari Simorangkir, aku mencoba untuk menuliskan sesuatu yang semoga nggak sia2... Hari ini adalah hari kedua aku ngurus2 berkas pelantikan... Dari pagi aku sudah siap untuk mengurus ini itu di sardjito... begitu sampai di bagian rekam medis, aku diminta untuk menyerahkan kertas sama buku rapor untuk kemudian ditinggal dan baru bisa diambil nanti jam 1 siang... wew... padahal jam waktu itu masih menunjukkan pukul 10an, betapa pemborosoan waktu yang amat besar... Karena aku pikir aku nggak bakalan dapat apa2 dengan menunggu tengil2 di sardjito atau di kampus selama itu, aku putuskan untuk pulang lagi... sampai di rumah, aku malah tidur karena gak ada kerjaan... Benar2 sia2... Mengapa aku banyak tidur ya?

Kalau nggak ada kesibukan atau sesuatu yang mendorongku dari luar, aku biasanya menghabiskan waktu dengan tidur bermalas-malasan... benar2 tidak disiplin... bagaimana bangsa ini bisa maju kalau salah seorang anak bangsanya begini malas dan tidak disiplin? Hu uh... aku tahu, aku bertobat dan nggak mau mengulanginya lagi... Lain kali kalau rasa kantuk yang luar biasa menyerangku pada waktu seharusnya aku melek, aku akan lawan dengan sekuat hati... Aku mau menumbuhkan kedisiplinan pribadi dari dalam, nggak lagi tergantung dari kondisi di luar... kalau sejak sekarang aku sudah malas2an, bagaimana nanti kalau sudah memasuki usia pensiun? Bisa2 jadi manusia invalid...

Rencana2 ke depanku bagaimana ya? Aku sedang mengarahkan diriku untuk terjun dalam dinamika RS Bethesda... tapi setelah itu, aku harus ke mana ya? Kuliah lagi? ke IKM? Terus mau jadi apa? Bagaimana dengan visi dan misi pribadi yang spesifik yang berasal dari Tuhan? Aku harus mulai dari mana? Semalam aku mulai diserbu dengan kekuatiran dan pikiran2 negatif tentang masa depanku kalau aku benar2 jadi membangun keluarga dengan mas Cahyo... aku mengkuatirkan mau punya rumah di mana, bagaimana nanti transportasinya, dll... Aku kuatir kalau jauh2 dari kenyamanan dan fasilitas yang selama ini aku nikmati... Mampukah aku hidup senantiasa bersukacita dengan apa yang ada padaku meskipun nggak seperti sekarang ini? Mungkin masih ada tiga atau empat tahun lagi, atau tidak sama sekali, sebelum aku benar2 mengalaminya... Tapi puji Tuhan, aku entah bagaimana tidak lagi terlalu kuatir akan hal itu... mungkin karena efek dari tidur sebentar tadi sambil ndengerin kaset Herlin Pirena yang menguatkan iman... Mungkin alam bawah sadarku menangkap pesan2 damai sejahtera yang bernada positif yang menyingkirkan segenap pikiran negatif yang menggangguku.... haleluya...

Ok deh, karena waktu sudah semakin mendekati jam 1 siang, aku perlu menyudahi tulisan ini dan bersiap-siap untuk berangkat kembali ke sardjito... Semoga urusanku cepat selesai, gak berlarut-larut... amin... ^^

Selasa, 23 Februari 2010

Nggak Tahu Mau Ngasih Judul Apa... ^^

Hari ini sudah kulalui dengan sukses... target hari ini tercapai yaitu mengurus berkas pelantikan... tinggal sedikit lagi maka semuanya beres... gak terasa, kaki yang pegel dan badan yang keringetan berbuahkan tubuh yang segar dan fit, tepat sekali sebagai pasangan ideal diet ketatku... hehe... sepertinya berat badanku mulai agak bekurang nih... haleluya!!! ^^ Rasa puas campur senang ini mengenyahkan rasa nggonduk karena dimarahin ibu2 yang biasanya baik yang jaga di bagian akademik KPTU... mungkin lagi datang bulan kali ya, hehe... positive thinking aja... ^^ Aku sebenarnya agak2 gak terima dimarahin sedemikian rupa gara2 telat ngambil berkas pelantikan karena kan emang waktu magangku baru selesai kemarin senin... si ibu enggak mau tahu... tetep aja aku kena semprot... ya sudah deh bu, hari ini berkat Tuhan melimpah atasmu... sehabis kena marah itu aku berusaha untuk nggak larut carut marut sama perasaanku sendiri... aku coba untuk fokus pada apa yang ada di depanku, yaitu mengurus ATLS dan tetek bengek surat2 bebas pustaka...

Ngurus ATLS pun terbilang amat sangat mudah, ini juga karena pengaruh nama besar kedua orang tuaku... doh, harus bangga atau malu ya? Ini namanya KKN dunk ya... atau keberuntunganku? Atau berkat Tuhan? Atau kasih karunia? Lalu di mana keadilan? Bagaimana dengan orang2 yang nggak seberuntung aku? Hmmm... Kalau begitu, aku harus memanfaatkan waktu dan semua yang ada ini dengan sebaik-baiknya supaya tidak menyia-nyiakan berkat Tuhan yang amat sangat besar ini... aku yang nggak niat dan nggak ada kemauan yang kuat untuk jadi klinisi kok akhirnya tercebur juga dalam kolam ATLS yang sebenarnya aku hindari dari dulu? Weh... apa ini namanya? Aku nggak bisa lari dari hadapan Tuhan... hehe...

Maka kloplah apa yang aku alami ini dengan pujian berikut...

Ke manakah aku dapat pergi
menjauhi RohMu Tuhan
Kuberlari mendaki ke langit
Namun Engkau ada di sana

Aku terbang dengan sayap fajar
diam di ujung bumi
Namun tanganMu menuntunku s'lalu
bawaku mendekat padaMu

Engkau Tuhan, Allah, maha tahu
betapa dahsyatnya kuasaMu
HadiratMu kini penuhiku
bawaku mendekat padaMu

Kiranya Tuhan berkenan atas renungan dan pujian hatiku ini... amin!!!!!!!

Hari Ini

Hari ini oh hari ini... selesai sudah magangku sejak kemarin... Hari ini adalah episode baru dalam hidupku... judulnya persiapan menyongsong masa depan yang penuh harapan... masa depan yang gilang gemilang... harus menyiapkan kaca mata hitam nih... saking gemilangnya... hehe... optimis dikit boleh donk... ^^

Rencana hari ini adalah sebagai berikut:
  1. ke kampus ngurus berkas pelantikan
  2. ke perpus2 ngurus surat2 bebas pinjam
  3. ke sardjito ngurus ATLS dan ngurus rapor di diklat
  4. ke ATM ambil sedikit uang
  5. afdruk foto
  6. beli satu set bolpoin
  7. dll
Wah, sepertinya bakalan sibuk nih... ayo semangat semangat... jangan nglokro... no more depression... no more bad mood... kalo toh ada fluktuasi perasaan atau mood swing, jangan menyerah dengan itu semua... tetaplah berharap pada Tuhan... karena hari esok itu ada dan harapanmu tidak akan pernah hilang... hehe...


Senin, 15 Februari 2010

Kekacauan di Mataku, Fraktal di MataNya

Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Tidak ada kata sia2 untuk melakukan perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Dan tidak ada kata menyesal untuk masa lalu yang telah lewat. Pendek kata, hidup ini indah, kawan... Indah jika kita tahu bagaimana memandang dan menikmati semua karya Tuhan yang sudah, sedang, dan akan dibuatNya... Mungkin pada saat proses itu berlangsung, rasanya hanya kekacauan dan kebingungan saja yang kita rasakan.. tapi percayalah, Tuhan kita tahu apa yang Dia lakukan... kekacauan yang tampak di mata kita itu sebenarnya adalah fraktal di mata Tuhan (pinjam istilah yang kudapat dari buku The Shack ^^).

Hidupku yang sebelumnya nampak sebagai kekacauan dan kegagalan produksi, kini mulai nampak keindahannya. Aku sungguh bersyukur dengan apa yang telah Dia perbuat dalam hidup ini. Nampaknya Tuhan tidak berbuat banyak untuk mengubah dunia di sekelilingku, tetapi yang luar biasa adalah Dia melakukan banyak hal untuk mengubahku dari dalam ke luar... Perubahan yang laten, yang tidak nampak namun dapat dirasakan... seperti panas yang tidak dapat dilihat tapi dapat dirasakan... Suatu saat nanti akan keluar sinar dari api kemuliaanNya sehingga nggak cuma dapat dirasakan tapi dapat juga dilihat... amin...

Dan sepertinya inilah lagu pujian yang tepat untuk menggambarkan jalan hidupku saat ini...

Hidupmu berharga bagi Allah
Tiada yang tak berkenan di hadapanNya
Dia ciptakan kau sturut gambarNya
sungguh terlalu indah kau bagi Dia
Dia berikan kasihNya bagi kita
Dia tlah relakan segala-galanya
Dia disalib tuk tebus dosa kita
Karena hidupmu sangatlah berharga

Buluh yang terkulai takkan dipatahkanNya
Dia kan jadikan indah sungguh lebih berharga
Sumbu yang tlah pudar takkan dipadamkanNya
Dia kan jadikan terang untuk kemuliaanNya

Minggu, 14 Februari 2010

Only by Grace


Only by grace can we enter
Only by grace can we stand
Not by our human endeavour
But by the blood of the Lamb

Into Your presence You call us
You call us to come
Into Your presence You draw us
And now by Your grace we come
Now by Your grace we come

Lord, if You marked our transgressions
Who would stand
Thanks to Your grace we are clensed
by the blood of the Lamb
Lord, if You marked our transgressions
Your grace we are Who would stand
Thanks to clensed
by the blood of the Lamb

Jumat, 12 Februari 2010

Hari Jumat di Jogja

Hari ini aku izin gak ke puskesmas karena mau ambil nomor peserta UKDI. Sudah datang pagi2 sekitar jam 8 ke KPTU, eh kata ibu2 baik yang jaga bagian akademik (satunya ibu2 judes ^^), nomornya baru akan dibagi siang ini setelah jam 1. Berarti habis jumatan. Ya sudah... aku pun kembali lagi ke rumah, mbuka2 gudang soal UKDI sebentar, terus pergi lagi ambil KTP baru di Kecamatan Gondokusuman bareng sama Yoyo yang sudah mandi. Lucu... foto di KTP baru keliatan lebih gendut dan bunder daripada aslinya... wew... beres sudah urusan sebagai warga negara yang baik dan budiman ini... ^^ Terus, karena jam 1 masih lama nian, maka aku dan Yoyo jalan2 ke Toga Mas di jalan Gejayan, borong buku... aku yang mulai lagi ritual borong buku kedokteran dan Yoyo dengan buku2 komputernya yang aku nggak dhong apa maksudnya... Mahal euy, sampai 499.300an, untung sudah didiskon, jadi hemat 100 ribuan... lumayan...

Buku2 yang aku beli menurut pertimbanganku cukuplah untuk menambah bekal, kapasitas, dan pengetahuan praktis untuk meningkatkan kadar PDku yang mediocre ini... aku jujur saja masih sangat tidak PD menyandang gelar dokter... apalagi kalo nanti harus ikut gabung di RS Bethesda sebagai dokter magang... aku kudu menyiapkan diri nih, semedi (baca2 buku lagi), dan buka mata buka telinga... Buka wawasan... dan berdoa supaya mendapat tambahan bahan bakar sukacita dan semangat supaya nggak nglokro...

Ibuku pesan juga supaya aku minta ke KPTU untuk memberikan legalisir fotokopian ijazah sama transkirp nilai untuk keperluan magang di Bethesda itu... Wew... sudah mantapkah aku? Hmmm... belum yakin bener nih, takutnya aku malah membuat nama Bethesda tercemar karena kekurangkompetenanku...

Sambil menunggu jam 1 datang, aku habiskan waktu yang ada ini dengan membaca2 soal2 UKDI yang aku dapatkan di internet... thank God... gak sia2... aku percaya pasti ada manfaat dan hikmahnya di balik semua ini... hehe... ^^

Rabu, 10 Februari 2010

Pelajaran dari Majegan, Sebuah Pil Pahit

Akhirnya setelah hampir dua bulan aku menyelami dunia kerja di Puskesmas Majegan meskipun nggak dalam2 amat, aku mendapatkan hal2 yang membuatku sedikit (atau banyak) merasa tidak nyaman... Apakah itu? Itu adalah kecenderungan manusia untuk membicarakan kekurangan dan kejelekan orang lain di belakangnya. Aku mendapati dalam usia hidupku yang baru seperempat abad ini, nggak peduli di mana, kapan, dan dengan siapa saja, pasti ada aja yang namanya biang gosip. Makin digosok makin sip. Sepertinya telinga ini suka sekali mendengarkan hal2 tidak sedap yang digosok sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang mengasyikkan untuk ditelan. Misalkan saja, jika pak A sedang tidak ada, maka sekumpulan orang akan beramai-ramai membicarakan perihal kebiasaan pak A yang buruk atau kekurangan pak A. Tapi nggak pernah aku mendapati ada yang dengan ksatria menyampaikannya kepada pak A setidaknya supaya pak A berubah. Pak A bisa siapa saja dan sekelompok orang itu juga bisa siapa saja.

Selain itu, ini juga yang mengusik ketenangan dan kedamaian hati nuraniku. Aku sepertinya adalah tipe orang yang asosial atau kurang pergaulan. Tapi begitu aku mencoba membuka diri untuk bergaul atau sekedar mengajak atau diajak ngobrol dengan temanku, aku mendapati bahwa sangat rawan dan rentan sekali aku terjatuh dalam sikap yang aku benci itu, yaitu menggosip. Maka, aku pilih untuk lebih banyak diam dan mendengarkan terlebih dahulu daripada mencari-cari dan menambah masalah. Dalam hal ini, pepatah diam adalah emas itu sangatlah tepat untuk diberlakukan.

Hal berikutnya yang sangat kubenci adalah adanya gap atau jurang pemisah atau jarak antara sekelompok orang dengan kelompok yang lain. Kelompok yang kumaksud adalah kelompok pelayanan kesehatan di bagian depan dan bagian perawatan (belakang) Puskesmas Majegan. Sepertinya ada tembok tidak kelihatan yang memisahkan mereka yang membuat hubungan menjadi agak tidak harmonis. Aku menangkap nada sumbang hari ini... seorang ibu drg (pelayanan depan) kudapati membicarakan sesuatu yang tidak menyenangkan berkenaan dengan seorang perawat (pelayanan belakang)... Padahal aku pikir semuanya baik2 saja, nggak ada masalah sama sekali... tapi ternyata, gesekan itu tetap juga ada... di manapun aku berada, ke mana pun aku pergi, selalu saja kujumpai... masalah yang sama, gak di keluarga, gak di koas, gak di puskesmas... Dan pastilah masalah seperti ini bakalan aku temui kembali besok di RS Bethesda, kalau aku jadi gabung ke sana...

Apa aku akan diam saja? Apa aku akan ikut hanyut dalam arus menggosipkan orang lain di belakang? Atau aku berani bersikap beda dengan menyatakan kebenaran yang sederhana, yaitu membalik prosesnya... aku tidak membicarakan kekurangan atau kelemahan orang lain tetapi sebaliknya, mengangkat kebaikan dan kelebihan mereka di depan dan di tengah2 kerumunan orang yang gila gosip? Hmmm... butuh kasih karunia dan keberanian yang berasal dari Atas untuk melakukannya... dan dibutuhkan doa, daya, dan dana untuk mewujudkan kondisi ideal kerajaan Surga itu... Wew... mampukah aku? Tentu saja aku hanya mampu apabila bersama-sama dengan Tuhan... maukah aku? Well... siapa yang nggak mau?

God, help me please... Tolong aku untuk berdiri tegak di tengah angkatan yang bengkok ini... Amin!!!!!!!

From Majegan With Love ^^

Majegan oh Majegan... desa kecil yang penuh dengan kenangan... di situlah aku dibuang fakultas untuk magang di puskesmasnya selama 2 bulan dari tanggal 29 Desember 2009 sampai 22 Februari 2010... 2 bulan adalah waktu yang relatif singkat untuk belajar menyelami dunia kerja yang sesungguhnya... Suasana kerja di puskesmas ini sebenarnya cocok untuk jiwaku yang mendambakan kesantaian dan waktu yang cukup luang untuk membaca dan menulis... tapi aku gak suka tergabung dalam sistem hirarki pegawai negeri yang bagiku seperti gurita raksasa yang menjerat sehingga berpotensi menumpulkan kreativitas... sekarang aja aku gak begitu bisa mengeksplor kreativitasku kok, apalagi kalau nanti tergabung dalam korps pegawai negeri yang terkenal dengan budaya korup dan ketidakdisiplinannya itu...

Di Majegan ini pula terjalin kisah cinta yang indah bersemi antara aku dengan mas Cahyo yang seminggu sekali datang untuk sekedar menemani, ngajak jalan2 dan nraktir makan... detilnya gak akan aku ceritakan di sini karena terlalu bersifat pribadi, bukan untuk konsumsi publik... hehe... yang paling indah adalah waktu kami melakukan doa syafaat untuk orang2 yang kami kenal dan kami kasihi... so beautiful, so wonderful, so sweet... thank God...

Dari Majegan ini, aku mendapat banyak masukan berharga yang kuperlukan untuk menyongsong masa depan gilang-gemilang yang akan segera datang dengan kecepatan penuh dan dengan sarat pengharapan... kemungkinan besar setelah lulus dari Majegan ini, setelah pelantikan, aku akan menggabungkan diriku dengan korps RS Bethesda yang sudah seperti rumah saja bagiku dan keluargaku... kiranya Tuhan Yesus memberkatiku... amin...