Jumat, 31 Juli 2009

Haleluya, God is Good Today...

Haleluya... thank God for Your goodness today... Aku merasakan kasih dan perhatian Tuhan yang teramat baik hari ini... dimulai dari acara teguran yang sangat keras tapi mengena dari dokter residen yang terhormat tadi siang... dilanjutkan dengan ujian minicex mewakili teman2 sekelompok dengan hasil yang luar biasa bagus, padahal aku komunikasinya masih sangat kurang... plus lagi aku follow up pasiennya juga gak bener2 kemarin2nya, untung aja hari ini tadi aku sempetin untuk ngisi status dan nanya2 sedikit sama pasiennya... haleluya, stase anak ini aku mendapatkan banyak pelajaran berharga, padahal baru minggu kedua... memang, stase2 terakhir ini aku mendapat banyak pelajaran berharga meskipun banyak yang nonteknis... yang teknis aku malah nggak gitu nangkep karena passionku gak ada di situ... aku lebih fokus pada hal2 nonteknis seperti kedisiplinan, pembentukan karakter, kekudusan, semangat, sukacita, jaga hati, dll dsb... Yang jelas, di stase anak ini, aku sedang belajar untuk menjadi anak Tuhan yang nggak cuma jadi parasit aja tetapi minimal bisa mandiri terus kemudian bisa bersinergi dengan teman2... Sekali lagi thank God... You Are so good...

Jumat, 24 Juli 2009

Maaf dan Syukur

Maafkan saya, Prof... saya tidak mengerjakan tugas sampai tuntas... seharusnya saya melakukan semua yang prof katakan dengan sebaik-baiknya... bukan demi mengejar kompetensi, bukan demi nilai, melainkan demi kebaikan saya sendiri... demi hidup saya sendiri... meskipun nantinya saya nggak akan jadi dokter yang praktek klinis, pastilah semua yang saya pelajari selama koas ini sedikit banyak berguna di kemudian hari... yang jelas, semua ini berguna untuk merendahkan hati saya dan mengasah ketekunan saya... sekali lagi, maafkan saya, Prof...

Itulah sekelumit kata2 permohonan maaf yang seharusnya aku sampaikan buat Yth. Prof Taryo... Tadi gara2 telat waktu ketemu dengan beliau, mungkin beliau jadi nggak berkenan, aku dan teman2 sekelompok (Rasco, Dilla, Dewang) mendapat tugas untuk mengumpulkan darah, urin, dan feses pasien masing2 dan hasil analisisnya disampaikan besok pagi jam tujuh... Karena hari ini ada pedsos dan tutorial, maka waktu efektif yang ada pun jadi banyak berkurang untuk mengejar target dari Prof Taryo tersebut... meskipun sudah dibantu oleh chief residen bangsal yang baik hati, kami tetap saja tidak bisa memenuhi harapan... betapa memalukan dan mengecewakannya kami ini... terutama aku, yang cuma bisa mengekor dan membeo saja... aku yang nggak kreatif dan nggak punya inisiatif ini... betapa menyedihkan dan memalukan kerajaan Surga saja... sudah ah mengeluhnya... aku mau membalik keadaan...

Aku bersyukur aku masih diberi kesempatan untuk mengejar ketertinggalanku yang keterlaluan ini... Aku bersyukur mendapat bimbingan (meskipun minus bombongan) dari dokter residen yang terhormat... Aku bersyukur mendapat teman2 sekelompok yang rajin2 dan pintar2... Aku bersyukur diberi kesempatan untuk mengejar kompetensi meskipun aku banyak gagal dan salahnya... Aku bersyukur, Tuhan masih begitu baik dan sabar padaku meskipun aku sering melalaikan komitmenku... Pokoknya apapun yang terjadi, aku mau terus dan terus bersyukur...

Dan tulisan kali ini akan aku tutup dengan sebuah pujian lama favoritku...

Bersyukur selalu
bagi kasihMu
di dalam hidupku
Takkan kuragu
atas rencanaMu
tuk masa depanku

Sbagai Bapa yang baik
takkan pernah Kau meninggalkanku
Sbagai Bapa yang sangat baik
takkan pernah Kau melupakanku

Kukan menari dan bersuka
karnaMu oh Yesusku
dan kukan minum airMU
bagai rusa rindu selalu
Kuhidup dalamMu
dan hidupMu di dalamku
oh Yesusku....
Kau sangat kucinta...

Rabu, 22 Juli 2009

There Will Be Peace In The Valley Today

There will be peace in the valley today... itulah kata2 yang aku tuliskan di facebook barusan... ya, aku seperti sedang berjalan di lembah kekelaman, lembah bayang2 maut... stase anak yang baru dua hari ini aku rasakan mirip dengan lembah... tapi aku berusaha untuk membuat lembah kekelaman ini menjadi lembah pujian... setiap hari saat aku melalui lorong rumah sakit menuju ke bangsal anak, aku akan mengingat terus penyertaan Tuhan yang ajaib... aku akan ingat bahwa Tuhan sekali-kali tidak pernah meninggalkanku, Dia sekali-kali tidak pernah membiarkanku... Setiap pagi aku akan bangun lebih pagi untuk memulai hari bersamaNya karena hanya Dialah sumber kekuatanku... Setiap malam aku akan manfaatkan untuk belajar dan berdoa lebih banyak lagi meskipun nantinya aku nggak akan jadi klinisi... karena bagaimanapun juga, lubang jarum anak ini tetap harus kulalui dengan segala daya dan upaya... Setiap kali aku berangkat ke rumah sakit untuk belajar problem solving, aku akan memenuhi telingaku dengan perkataan firman Tuhan dan puji2an yang keluar dari siaran Radio yang selalu kudengar selama ini... kalau toh nanti aku tugas di luar kota yang tidak memungkinkanku untuk mendengar radio, aku akan membawa buku yang bagus untuk dibaca dan tidak lupa aku akan setia bersaat teduh setiap pagi dan malam... pendek kata, aku akan komitmen menyediakan waktu yang cukup untuk bersekutu dengan Tuhan Yesus... aku harus selalu direcharge karena aku gampang banget lowbat...

There will be peace in the valley today... ya, kata2 ini menyemangatiku saat ini... aku memang lagi perlu tambahan kata2 semangat dan kata2 inilah yang muncul selalu hari ini... aku percaya kata2 ini berasal dari pribadi Roh Kudus yang diberikan Bapa untuk membimbingku, memimpinku, menemaniku, menghiburku dalam segala keadaan.... thanks, Roh Kudus... maafkan aku kalau aku jarang menyapaMu dan lebih sering mendukakanMu... Roh Kudus yang sama yang menggerakkan Petrus untuk berkotbah sehingga 3000 orang bertobat adalah Roh Kudus yang sama pula yang ada di dalamku saat ini... dan Roh yang ada di dalamku ini jauh lebih besar daripada roh yang ada di dunia... jadi, untuk apa aku harus takut dan gentar? Kalau ada Allah di pihakku, siapakah lawanku? Yosh!!! Aku akan bersemangat!!! Aku akan berusaha!!! FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Amin!!!!!!!

Selasa, 21 Juli 2009


CIBFest 2008 Banner A

Stase Anak yang Prognosisnya Bakalan Berat

Hari ini hari pertama aku masuk stase anak yang "cuma" sembilan minggu... aku diserang kantuk berat hari ini... rasanya cuma pingin tidur aja seharian... padahal sepertinya aku sudah cukup tidur lho malamnya... entah kenapa, rasa kantuk yang hebat menyerangku denga tanpa ampun... ada untungnya juga sih, aku jadi agak lebih rileks dalam menerima materi "indoktrinasi" dari para staf anak yang terhormat... cuma nggak enaknya, aku takut kalo tiba2 jatuh tertidur dengan tidak sopannya di depan staf... bisa2 mencoreng nama baikku, nilai konditeku jadi jelek, dan yang terutama membuat Tuhan jadi malu... hehe...

Tentang stase anak ini, aku memprognosiskan bakalan menghadapi hari2 yang relatif berat... maka dari itu aku perlu lebih banyak direcharge... aku perlu lebih banyak berdoa dan belajar... masalahnya, bisa nggak ya aku komitmen dengan Tuhan dan diriku sendiri untuk bangun lebih pagi setiap hari dan rajin belajar dengan setia? Meskipun kemungkinan besar aku nggak bakalan jadi doketr klinis, aku perlu belajar dengan sungguh2 supaya lubang jarum anak ini pun dapat terlalui dengan sukses seperti stase2 yang sudah2...

God, help me please...

Minggu, 19 Juli 2009

Ganti Stase dan Sukacita yang Menghilang

Stase anestesi yang cuma 2 minggu ini akhirnya terlalui juga... Stase yang penuh dengan keseruan dan kesibukan di OK tiap hari... perasaan nggak terlalu melelahkan tuh seperti yang selama ini kubayangkan... aku bersyukur mendapat dosen pembimbing yang baik hati dan menyemangati seperti dr. Djayanti Sari, SpAn... malah kemarin waktu refleksi terakhir, kami sekelompok ditraktir oleh beliau di FoodFest jalan Kaliurang... dunia jadi terasa indah ya... hehe...Cuma sayang keindahan itu nggak berlanjut waktu aku ke gereja sorenya... entah kenapa aku nggak merasa getaran2 sorgawi seperti yang biasanya kurasakan... mungkin aku terlalu capek atau kurang persiapan waktu ke gereja, jadi waktu puji2an yang seharusnya bikin aku merinding, aku malah gak dapet banget soulnya.... padahal waktu lihat mas Prambanan yang jadi singer, aku bisa melihat bagaimana mas Prambanan begitu menikmati hadirat Tuhan... dan waktu doa syafaat juga, kedengaran banget kalo mas Prambanan begitu dekat dengan Tuhan... Sepertinya memang benar bahwa semuanya itu tergantung orangnya masing2, bukan lingkungan sekitarnya... kalau kita mau terus menerus melekat pada Tuhan, maka nggak peduli situasi apa pun yang terjadi di sekitar kita, kita akan terus menerus menikmati hadirat Tuhan.... dan semuanya itu akan dapat terpancar keluar sehingga dapat terlihat oleh orang lain... wow... pelajaran yang berharga sekali...

Kenapa ya aku kok bisa kehilangan moment yang berharga waktu di gereja kemarin sore? Apa benar cuma karena kecapekan? Atau ada dosa yang terselip dan bikin aku nggak bisa melihat Tuhan yang kudus? Memang sempat sih terlintas di pikiranku hal2 yang nggak kudus yang nggak layak untuk diceritakan... tapi aku segera mengcounter pikiran tersebut kok... terus kenapa ya? Apa karena pengaruh pengalaman waktu jaga terakhir yang bikin aku merasa seperti orang paling bodoh sedunia? Entahlah... yang jelas, perasaan sukacita kemarin sepertinya telah tercuri dari dalam hatiku.... aku merasa datar2 aja... benar2 boring...

Bicara soal perasaan, seorang hamba Tuhan bernama Bu Ninin (kenalannya Tante Ika di Samarinda) mengatakan bahwa hubungan kita dengan Tuhan tidak ditentukan oleh perasaan kita saja... Jadi, apapun yang kita rasakan, baik itu sukacita maupun tidak, kita tetap dapat menyembah dan memuji Tuhan.... Hmmm... sepertinya dulu Mbak Nina juga pernah mengatakan hal yang sama... kita memuji Tuhan itu tidak tergantung pada perasaan... tapi iman... Dan kita mendekati Tuhan dalam penyembahan itu bukanlah mengejar perasaan melainkan mengejar hadiratNya... yang terpenting adalah menyenangkan hati Tuhan terlebih dahulu... Sepertinya aku masih perlu lebih banyak belajar lagi akan hal ini...

Kamis, 16 Juli 2009

Dokter Residen Cewek Ada Juga Yang Baik Hatit

Setelah kemarin aku ngrasani residen anestesi cewek, sekarang aku mendapat jawaban dari pertanyaan yang tak sempat kulontarkan, yaitu "Ada gak sih residen anestesi cewek yang baik, ramah, care, dan gak judes atau jutek?" Dan ternyata jawabannya: ADA!!! Hari ini aku seperti mendapat teguran manis dari Tuhan Yesus. Teguran berupa nasihat yang tok cer dari seorang residen anestesi cewek bernama dokter RAH (inisialnya). Dokternya kecil, berjilbab, berkaca mata, nggak sok pinter, tapi mau ngajari. Yang bikin aku tambah salut sama dokter RAH adalah ini... beliau nggak menjatuhkan mentalku ataupun mempermalukanku di depan banyak orang... sebaliknya, dokter RAH malah diam2 membantuku untuk berani melakukan sesuatu yang benar... Contohnya tadi waktu aku dan teman2 sekelompokku lagi kebingungan waktu preskas, dokter RAH mendorongku dengan lembut dari belakang dan bukannya memarahiku karena aku nggak bisa apa2... Terus waktu keadaan pasien sudah stabil (o iya, ini settingnya di kamar operasi), dengan lembut dokter RAH membisiki aku tentang hal2 nonteknis yang sangat membesarkan hatiku... Beliau menasihatiku untuk lebih berani lagi dan untuk lebih banyak lagi belajar supaya lebih PD lagi... Mungkin karena beliaunya juga pernah seperti aku ya, sehingga mungkin ada rasa empati terhadap kondisiku yang masih cacat karakter ini... Thank God deh, akhirnya aku ketemu juga seorang lagi residen yang berhati malaikat di tempat yang awalnya suram tapi makin lama makin kelihatan terangnya seperti rembang tengah hari... Itulah jalan hidup orang benar... hehe...

Orang-orang seperti dokter RAH ini adalah orang-orang baik, jenis makhluk langka dewasa ini, yang harus dilestarikan. Maksudnya, orang baik yang senantiasa membawa aura damai dan kasih di mana pun mereka berada sehingga secara nggak sadar mereka telah menularkan kedamaian dan kasih kepada orang lain melalui tingkah laku mereka yang positif. Duh... panjang bener ya penjelasannya? Maksudku lagi, perbuatan baik mereka itulah yang dapat menginspirasi orang lain untuk ikut juga berbuat baik setelah tersentuh oleh kebaikan yang luar biasa itu. Sehingga, sedikit demi sedikit, dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang berbuat baik dan menularkan kebiasaan berbuat baik itu sampai kebaikan (dan kebenaran) memenuhi seluruh bumi. Wah, muluk banget ya kedengarannya? Rasanya mustahil untuk diwujudnyatakan... Tapi hey, dalam kamus Tuhan tidak ada tuh kata mustahil... kalau toh dunia terlalu luas untuk disebari benih kebaikan, maka kita bisa mulai dari diri kita dan dunia yang kita hadapi sehari-hari, seperti keluarga, sekolah, tempat kerja, gereja, masyarakat sekitar, dll dsb. Jauh lebih baik bagi kita dan semuanya untuk berbuat dan menunjukkan kebaikan sekecil apa pun itu daripada tidak berbuat apa2 sama sekali atau membiarkan kejahatan yang suram merajalela. Apa bentuk kejahatan? Macam2, tapi yang sederhana saja seperti jutek sama orang lain, sebel tanpa sebab sama orang lain, dendam dan menggosipkan yang tidak baik terhadap orang lain, itu sudah merupakan kejahatan yang berdampak negatif. Intinya, janganlah kita kalah terhadap kejahatan tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan. Contoh sederhananya, kalau kita dijutekin sama residen yang belum kenal baik sama kita, janganlah kita para koas ini membalas menjutekinya atau bahkan menggosipkan residen tersebut, tetapi cobalah untuk memahami mengapa mereka sampai jutek seperti itu terus kemudian bersikaplah baik dan wajar tanpa ada unsur penjilatan yang tidak sehat.

Wah, dari ngomongin tentang residen akhirnya malah jadi tulisan yang panjang seperti ini ya? Hehe... gak pa2 deh... itung2 sekalian refleksi diri dan memotivasi diri supaya bisa menjadi lebih baik lagi... setuju?

Selasa, 14 Juli 2009

Mimi Imut: Tentang Lik Sar

Mimi Imut: Tentang Lik Sar

Residen Anestesi

Bicara tentang residen anestesi... hmmm... sebenarnya mereka rata2 baik sih... terutama yang cowok... tapi yang cewek... hmmm... kok pada jutek ya? Apa karena kecapekan? Memang sih, stase anestesi itu capek banget secara fisik (dan mental juga). Tiap hari kerjanya main di OK bergelut dengan obat bius dan berkecimpung dengan nyawa pasien yang berada di tangannya. Benar2 beban yang berat. Apalagi bagi cewek yang terkenal suka memadukan antara hati dan pikiran sehingga menjadi relatif lebih rumit jika dibandingkan dengan cowok yang katanya bisa memilah-milah mana urusan hati dan mana urusan pikiran. Rata2 para residen sudah pada berkeluarga sehingga ada kemungkinan perhatian mereka terpecah antara kerja dan keluarga. Maka wajar saja jika sikap mereka kadang terlihat kurang menyenangkan. Mungkin waktu itu mereka sedang be te karena masalah pasien dan keluarga campur aduk jadi satu dan aku serta teman2ku berada pada tempat dan waktu yang tidak tepat. Nasib, nasib... memang inilah risikonya masuk di dunia anestesi yang penuh dengan kejutan. Apakah melulu suram dan mengerikan seperti itu sih di anestesi? Tentu saja tidak!

Di balik semua kejutekan residen anestesi khususnya yang cewek, aku percaya pasti ada jiwa manusia yang hangat penuh kasih sayang dan senyuman manis tersembunyi yang belum ditampakkan karena terbentur kesibukan melayani pasien yang harus dinomorsatukan. Aku percaya bahwa mereka itu pada dasarnya baik. Pasti nanti ada waktunya di mana mereka dapat menunjukkan sisi protagonis yang manis. Ya, ini keyakinan dan harapanku. Karena aku yakin nggak ada manusia yang jahat 100%, pasti ada sisi baik di balik wajah sangar yang mengecilkan hati itu.

Kenapa aku tiba2 ingin menuliskan tentang residen anestesi yang jutek ini? Karena kemarin waktu jaga UGD, aku mengalami sendiri dijutekin tanpa alasan yang jelas oleh seorang residen cewek, sudah tentu residen anestesi. Rasanya kaget campur sedih. Memangnya apa sih salahku sehingga aku layak diperlakukan sedemikian rupa? Aku memang nggak suka diperlakukan kasar baik secara fisik maupun psikologis. Meskipun mungkin ada yang bilang bahwa perlakuan kasar atau bullying itu dapat mendewasakan dan membuat kita lebih tangguh, aku tetap tidak setuju dengan berbagai bentuk sikap kasar tidak bersahabat itu. Apa tidak bisa mereka bersikap sedikit lebih halus, lembut, dan ramah? Kalau memang demikian adatnya anestesi itu, pantas saja bapakku jadi seperti punya kepribadian ganda, di rumah jutek tapi di kantor bisa ramah.

Daripada menyalahkan orang lain, lebih baik aku introspeksi diri.. Kalau aku merasa nggak terima diperlakukan kasar oleh residen, bagaimana dengan Lik Sar yang sering aku perlakukan sedemikian rupa juga? Meskipun Lik Sar nggak melakukan kesalahan apa pun, dalam hati aku sering melontarkan kebencian tanpa alasan yang jelas. Aku ternyata nggak jauh beda dengan residen anestesi yang jutek itu, bahkan aku jauh lebih parah karena aku melakukan kebencian itu setiap hari, nggak cuma sekali. Padahal Tuhan Yesus sendiri yang bilang bahwa membenci orang lain itu sudah sama dengan membunuh. Berarti sudah berapa kali aku membunuh Lik Sar ya? Berkali-kali donk... hiii... seram... Aku bertobat deh... aku nggak akan lagi membenci Lik Sar dalam hati, pikiran, perkataan, dan perbuatanku... Aku memohon pertolongan Roh Kudus untuk memampukanku mengasihi Lik Sar dengan kasih agape sama seperti Tuhan Yesus sudah mengasihi aku. Ya, ini komitmenku. So, no more bullying. Stop hating. Start to love. Make a new day. Amin. Haleluya!!!!!!!

Minggu, 12 Juli 2009

Tentang Lik Sar

Aku sampai sekarang masih belum bisa mengasihi pekerja rumah tangga (PRT) di rumahku, Lik Sar dengan sepenuh hati... Entah kenapa sulit sekali untuk menghargai dan menyukainya... yang ada hanya rasa sebel dan gemes yang selalu muncul saat melihat sosoknya dan mendengar suaranya yang cempreng... Padahal Lik Sar nggak salah apa2 sama aku... penyakit lamaku ini memang sedang kumat.... apa itu? Yaitu penyakit membenci orang lain yang lebih rendah kedudukannya daripada aku tanpa sebab yang jelas... aku selalu "niteni" bahwa di antara orang2 sekitarku, pasti ada satu orang yang paling kubenci... pasti ada satu orang yang jadi objek kebencianku... sudah dari dulu penyakit ini ada dalamku dan aku sulit untuk mengenyahkannya...

Dari sejak kecil, keluargaku selalu mempunyai PRT (supaya lebih sopan daripada menyebutnya pembantu). Keberadaan mereka banyak sekali membantu keluargaku karena bapak ibuku orang yang sangat sibuk sehingga urusan tetek bengek rumah tangga sering terabaikan... Mempunyai PRT memang sangat menguntungkan, karena dengan begitu aku bisa leluasa belajar dan bermain tanpa harus direpotkan dengan urusan rumah tangga... Tapi kerugiannya pun juga ada... aku jadi tidak terbiasa hidup mandiri dan melayani orang lain... Sense of servingku jadi tidak terasah dan aku jadi nggak punya sense of belonging yang cukup... Akibatnya, aku jadi kaku dan nggak luwes di manapun, kapan pun, dan dengan siapa pun aku berada...

Kembali ke Lik Sar... berbeda denganku yang tampak dingin dan nggak grapyak, LIk Sar ini orangnya rame, ramah, dan supel... Meskipun dia orang desa yang nggak bertitel, aku menyadari bahwa dia jauh lebih kaya daripada keluargaku dalam hal keramahan dan sense of humanity... Dari kebiasaan sehari-harinya aja sudah kelihatan... LIk Sar selalu menyapa ramah tetangga2 sekitar rumahku, menyapa terlebih dahulu sebelum mereka menyapa... Beda dengan ibuku yang meskipun bertitel dokter bedah terkenal, ibuku jarang bahkan nggak pernah menyapa orang lain terlebih dahulu... Beda pula dengan bapakku yang kalo di rumah entah kenapa auranya bete terus, Lik Sar selalu tampak ceria meskipun kena marah atau omel dari seisi rumah... Mungkin ini yang dimaksudkan oleh firman Tuhan di mana "yang bodoh dari Allah dipakai untuk memalukan yang berhikmat dari dunia".

Berkaca dari kehidupan Lik Sar yang sederhana dan apa adanya itu, seharusnya aku introspeksi diri dan bukannya menumpuk kebencian tanpa alasan terhadap Lik Sar... Aku perlu berdoa lebih banyak meminta Tuhan untuk memampukanku mengasihi Lik Sar dengan segenap hati... Dan aku perlu memacu diriku sendiri untuk mulai bersikap baik sejak dari pikiran terhadap Lik Sar supaya aku nggak selamanya jadi orang yang munafik... Malu kan, anak Tuhan kok seperti ini? Hehe... Yosh!!! God help me!!!

Kelompok Kecilku

Ternyata seminggu di anestesi tidak sebegitu mengerikan seperti yang kubayangkan sebelumnya... seperti kata Eka, seru... ya, seru... tapi juga saru, khususnya joke2 yang sering dilontarkan oleh para residen untuk mencairkan suasana... tapi tidak mengapa, yang penting aku masih bisa menikmati dinamika yang ada di stase anestesi ini... Ribet memang, tapi sejauh ini fine2 and fun2 aja kok... aku bersyukur mendapat pembimbing dokter Djayanti yang gaul dan asyik, bersemangat dan care sama koas... aku bersyukur ditempatkan di kelompok yang "memaksaku" untuk bertumbuh dalam kondisi yang tidak sepenuhnya nyaman... aku bersyukur menjadi anak bapakku yang adalah dokter anestesi lulusan tempat yang sama di mana aku menuntut ilmu ini...

Bicara soal kelompokku, sepertinya ada beberapa hal yang ingin kubagikan di sini... Kelompokku terdiri atas empat orang termasuk aku sendiri... Keempat orang itu adalah:
1. Dewang
Temanku yang satu ini sungguh unik, aneh bin ajaib. Kadang baik dan ramah, tapi lebih sering terlihat jutek dan menyebalkan, entah kenapa. Orangnya independen dan agak sukar untuk bekerja sama dengan smooth. Tipe orang yang suka melakukan semuanya sendiri tanpa mengajak-ajak orang lain. Sering menghilang tanpa bilang-bilang. Muslim yang taat dan sepertinya jenis yang radikal. Sempat mengajakku untuk menjadi mualaf tapi aku tanggapi dengan nyantai, aku masih belum punya jurus andalan untuk menangkis dan membalik ajakannya. Mungkin untuk beberapa waktu ke depan, Dewang ini akan masuk dalam list orang yang harus didoakan dengan sungguh2... hehe... supaya apa? Supaya dia juga dapat kesempatan untuk mendengarkan tentang kebenaran iman yang sejati dalam Kristus Yesus... kristenisasi? May be yes, may be no... tapi bukan aku yang mulai lho... Dewang dulu yang mulai... aku cuma bersiap-siap untuk berdiskusi secara terbuka dan fair aja tentang iman, kalo saatnya tiba... God, give me wisdom and courage please... amen...

2. Hafizz
Berbeda dengan Dewang, Hafizz lumayan menyenangkan sebagai teman tetapi tidak sebagai rekan kerja... Hafizz ini juga sering pergi atau menghilang saat harus kerja, istilahnya "pato"... Alasannya pun cukup kuat meskipun kadang keblinger juga... sering merepotkan teman2 sekelompoknya, termasuk aku... tapi sejauh ini aku nggak terlalu bermasalah dengan Hafizz... Kadang suka juga mendiskusikan masalah agama tapi nggak seradikal Dewang, Hafizz lebih moderat... diskusi pun lebih di permukaan atau sebatas kulitnya saja...

3. Dalila
Tipe perempuan yang berhati keras... kadang marah2 dengan alasan yang (nggak terlalu) jelas... ibu satu anak yang sangat care pada keluarganya... Muslim yang taat pula, cenderung radikal, tapi tidak sevulgar Dewang... Masih belum terlalu dekat dan mengenal pribadinya... Rekan kerja yang baik tapi entah kalau sebagai teman... Jarang main sama Dalila soalnya...

4. Mimi imut
Tokoh sentral yang sering minder dan pemalu, tidak tahan jika berada di spot light atau jadi pusat perhatian... Mempunyai kesulitan dalam berkomunikasi secara verbal... pendengar yang pasif... banyak diam dan sering melamunkan hal2 di luar kompetensi... punya mimpi yang belum kesampaian... sering terlihat mengantuk... diam2 menghanyutkan... kadang tidak percaya terhadap kemampuan sendiri... perlu dukungan yang intens dari orang2 terdekatnya... masih dalam pencarian akan tujuan hidup dalam Tuhan...

Yak, itu tadi sekelumit profil kelompok super kecil koas stase anestesiku kali ini... Cukup menantang, bukan? Dari kelompok yang nampaknya nggak solid ini, aku cuma bisa berharap pada Tuhan yang ahli dalam bidang menjadikan seseorang dari zero to hero... dari nothing menjadi something... dari nobody menjadi somebody... Bagiku, itulah mukjizat yang saat ini kuperlukan... I believe...

Sabtu, 04 Juli 2009

Keluargaku Komunitasku

Tuhan Yesus sungguh baik. Hari ini aku sungguh merasakan kasih dan kebaikanNya yang tiada taranya itu. How come? Begini ceritanya... Waktu aku sama Yoyo mau njagong ke sebelahnya Among Rogo di mana resepsi pernikahannya mbak Dina, anaknya BU In, digelar, tiba2 HPku berbunyi nyaring "tut tut tut tuuuut...". Kukira siapa, ternyata Om Ganis yang woro2 mengabarkan kabar penting dari Kotabaru.

Begini bunyi SMSnya:
"Yoyo en mimi adi2mu soko jakarta magelang solotigo do teko neng kotabaru kok ratok tiliki... ayo tok jak dolan wae saiki" (Yoyo & Mimi, adik2mu dari Jakarta, Magelang, Salatiga, pada datang di Kotabaru, kok nggak ditengok? ayo diajak main saja sekarang)
Dengan sigap, aku jawab SMS tersebut demikian:
"Sik bar njagong manten" (Sebentar, habis njagong manten).

Dan setelah negosiasi yang cukup alot, kami pun sepakat untuk njagong manten sampai semua urusan selesai baru kemudian mampir ke Kotabaru. Singkat cerita, kami selesai njagong manten dan segeralah pergi ke Kotabaru untuk bertemu dengan sanak keluarga yang sudah menanti-nanti. Ternyata memang benar sudah berkumpul adik2 sepupu dari seluruh penjuru pulau Jawa. Mereka sudah lapar dan nggak sabar untuk menikmati jajan malam bersama-sama. Tanpa banyak ba bi bu, kami semua berangkat dengan mengendarai dua mobil, innova dan grand livina menuju tempat jajan favorit Suryo dan Anggit, bakmie Pak Kumis yang jaraknya cuma saknyukan dari rumah simbah di Kotabaru. Dan di sinilah aku merasa Tuhan menyapaku dengan hangat dan ramah.

Aku sudah lama tidak merasakan kebersamaan dengan keluargaku khususnya dengan keluarga dari pihak bapak, entah karena kesibukan yang menggila atau karena alasan yang cukup bodoh, malas. Ternyata, aku merasakan hal yang selama ini terlewatkan dari mata hatiku yang sedang rabun. Apa itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah kasih, hal yang sangat sederhana. Aku merasakan penerimaan tanpa syarat dan kehangatan cinta kasih dalam keluarga yang sanggup menyembuhkanku dari penyakit lamaku yaitu kesepian dan cemburu buta. Aku seperti dibukakan oleh Tuhan akan indahnya hubungan yang mesra antara bapak-anak, ibu-anak, suami-istri, kakak-adik, dsb melalui makan2 bersama ini. Aku merasakan indahnya kehidupan surgawi melalui kegiatan sederhana yang kami lalui bersama malam ini. Tidak ada kata-kata yang bisa melukiskan apa yang aku rasakan selain kata: dahsyat, luar biasa, manis, lembut, dan kekekalan.

Aku sungguh bersyukur untuk malam ini. Sungguh. Sayang sekali aku tidak mampu melukiskan semuanya secara rinci dan detil melalui tulisan ini. TApi tidak mengapa. Setidaknya aku telah mencoba yang terbaik yang aku bisa.

Besok rencananya kami mau main lagi bersama-sama setelah latihan koor Sangkakala. Mungkin kami mau ke Salatiga mengunjungi Om Yoyok dan keluarga. Entahlah. YAng penting suasana kebersamaan dan kasih yang sejati dalam keluarga masih terasa. Thank God for Your blessing to my family.

Liburan Segera Berakhir

Liburan seminggu hampir berakhir. LIburan yang menyenangkan. Liburan yang bermakna. Liburan yang sungguh membuatku disegarkan kembali. Refresh. Liburan ini telah aku isi dengan hal2 menyenangkan dan tidak membosankan. Waktunya bisa pas sama liburan anak2 sekolah. Tante Ika dan anak2nya pada main ke rumah. JAdinya bisa ikut jalan2 nganter Tante Ika ke mana2. Coba kalo nggak libur. Bisa repot setengah mati ngaturnya. Yoyo yang nyupir kan cuma satu. KAlau aku harus terpaksa nyupir sendiri, wah bisa tambah repot aku. Hehe... untunglah, aku sudah ujian minggu sebelumnya dengan lumayan sukses sehingga liburan seminggu bener2 dapat dinikmati sebagai libur yang sebenar-benarnya. CUma hari ini, aku sepertinya bikin satu blunder yang mungkin bakalan berdampak cukup parah di masa depan. Aku membatalkan keikutsertaanku dalam ujian perbaikan radiologi karena alasan yang sepertinya kurang cerdas. Aku belum mandi dan belum belajar. Sangat nggak siap untuk maju ujian. LAgipula, jam 2 nanti aku harus sudah stand by njemput Dewi dan keluarganya untuk acara pemberkatan nikahnya Mbak Dina di GKJ Ambarukmo. Wah, pokoknya hari ini aku bisa dibilang bakalan sibuk. Pagi hari aku habiskan dengan main Facebook dan latihan sedikit. Siangnya tidur sebentar terus mandi. Dan sekarang aku lagi nunggu Yoyo njemput sambil nulis2 di sini. Yah, semoga saja Yoyo nggak telat njemputnya. Bisa berabe deh kalo telat.

Apa yang bisa kubagikan sekarang ya? Sepertinya belum ada... belum ada hal2 inspiratif yang bisa kubagikan sepertinya... mungkin nanti malam, mungkin besok, atau mungkin besoknya lagi... entahlah... yang jelas, aku menunggu-nunggu saatNya menyatakan isi hatiNya padaku sehingga aku pun dapat bahan untuk menulis sesuatu yang luar biasa lagi... Hehe...

Pasto Sahabatku

Kumainkan musik yang indah melalui tarian jari jemariku di atas tuts hitam dan putih. Kutumpahkan semua perasaan yang ada. Tidak kupedulikan lagi kiri kananku. Yang ada hanyalah antara aku dan Dia. Aku tidak tahu sejak kapan kumulai rutinitas ini. Setiap pagi kubuka hariku dengan memainkan musik yang indah untukNya. Aku tidak tahu lagu apa yang sedang kumainkan, hanya mengalir begitu saja dari hatiku. Mumpung tidak ada orang lain di sekitarku, sehingga aku benar2 leluasa bermain hanya untukNya.

*******
Hari itu sungguh istimewa bagiku. Seorang sahabatku akan main ke rumahku. Sahabatku itu seorang cowok yang tampan dan baik. Baru setahun kami kenal karena kami sama-sama masuk dalam kelompok belajar yang sama. O iya, aku lupa memberi tahu, aku ini seorang koas atau calon dokter. Dan aku baru setahun mengikuti kesibukan menjadi koasisten di Rumah Sakit besar di kotaku. Benar-benar sibuk sehingga aku kekurangan waktu untuk bermain dan menikmati waktu-waktu santai. Untunglah Tuhan baik padaku sehingga di tengah-tengah kesibukan itu, aku berkenalan dengan seorang teman cowok yang sangat baik. Tampan pula. Dan baiknya lagi Tuhan, kami pun resmi menjadi sahabat. Hehe, seperti apa saja ya, pakai resmi2an segala. Anyway, aku sungguh bersyukur dengan hubungan persahabatan itu karena dapat menjadi oase di tengah padang gurung yang gersang. Kehidupan koas memang seperti padang gurun yang tandus, tiada berair...

Sahabatku itu bernama Pasto. Lengkapnya Akhmad Pastori. Nama yang unik ya... Seperti campuran antara dua kebudayaan, dua keyakinan yang berbeda. Maklum saja, ayah Pasto seorang Muslim dan ibunya seorang Katholik. Pasto sendiri sebenarnya masih belum menentukan pilihan, mau memeluk keyakinan yang mana. Meskipun demikian, demi kelancaran administrasi, Pasto selalu menuliskan "Islam" di kolom "agama". Tidak mengapa. Yang penting adalah Pasto itu seorang yang baik dan ramah, rajin, dan sangat menghormati orang tuanya. Aku sangat kagum dengan Pasto.

Hari itu Pasto datang ke rumahku dengan membawa laptop dan setumpuk buku referensi. Kami memang sudah berencana untuk mengerjakan suatu tugas bersama. Tugas presentasi yang harus kami selesaikan hari itu juga. Aku yang hanya memahami materi presentasi setengahnya saja dengan senang hati membantu Pasto menyusun slide-slide dan menggali materi dari referensi yang dibawanya. Pasto memang orang yang rajin dan bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas. Beda denganku yang sering hanya mengandalkan teman yang lain.

"Jadi, kesimpulannya begini... bla bla bla bla..." kata Pasto panjang lebar menjelaskan slide yang sedang disusunnya. Aku cuma mengangguk mengiyakan karena sejujurnya aku hanya memahami sebagian kecil yang Pasto katakan.
"Oke, aku setuju saja," kataku.
"Tidak ada tambahan atau sanggahan?" tanya Pasto sambil mengangkat alisnya.
"Ngggg... nggak deh... hehe...," duh, mulai ketahuan nih kalau aku sebenarnya tidak tahu apa-apa.
"Baiklah. Dengan demikian, tugas kita selesai!!!" seru Pasto dengan senyum kepuasan.
"Horeeee!!!" seruku menimpalinya.
"Wah, sudah jam berapa ini? Sepertinya sudah siang..."
"Mau ke mana, Pasto?"
"Belum tahu juga, aku masih punya banyak waktu luang."
"Mau makan?"
"Boleh juga"
"Tuh di atas meja ada makanan, ambil aja sendiri ya. Swalayan, hehe..."
"Oke"
Pasto pun menuju meja makan dan mengambil nasi serta lauk pauk untuk makan siang. Sudah jadi kebiasaan di rumahku, jika melewati jam makan siang, maka tamu yang ada harus diajak makan. Itu untuk menunjukkan penghormatan.

Sembari Pasto makan, aku menyalakan piano elektrikku dan mulai memainkan musik seperti yang biasa kumainkan setiap pagi. AKu mulai memainkan lagu pujian untuk Tuhan dan menyanyikan liriknya dalam hati. Tanpa sadar aku terhanyut di dalam suasana penyembahan sehinggaa sejenak melupakan Pasto yang masih makan di dekatku. Dan tanpa sadar pula, lirik pujian yang kunyanyikan dalam hati pun terucapkan melalui mulutku.

"Ku mau spertiMu Yesus... disempurnakan slalu... dalam segnap jalanku... memuliakan namaMu..."

"Jesus I belive in You... Jesus I belong to You... You're the reason that I live, the reason that I sing, with all I am..."

Tanpa terasa, aku sudah menyanyikan beberapa buah lagu pujian untuk Tuhan. Dan ketika aku sadar bahwa aku tidak sendirian di ruangan itu, aku pun menghentikan sejenak permainan musikku. Aku menoleh ke arah Pasto. Dan apa yang kulihat sungguh mengejutkanku. Pasto tidak lagi makan. Rupanya dia sudah selesai makan. Yang bikin aku terkejut, Pasto seperti habis menangis. Ada bekas air mata yang meleleh di pipinya.

"Pasto, kamu menangis ya?" tanyaku.
Pasto hanya mengangguk. Aku pun beranjak mendekatinya dan memberikan tisu.
"Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa kok," Pasto menggeleng," Aku hanya terharu saja"
"Terharu? Kenapa bisa?"
"Aku tidak tahu... waktu aku mendengar kamu main piano, apalagi waktu mendengar kamu menyanyi, aku seperti merasa ingin menangis... "
Aku pun terdiam. Tersadar. Mungkin ini saatnya Roh Kudus bekerja. Ya Tuhan, apa yang bisa kukatakan pada Pasto? Apa yang ingin Engkau sampaikan secara pribadi pada sahabatku ini?

Kami pun terdiam dalam keheningan yang kudus. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.

"Jeane..." Pasto tiba-tiba memanggilku.
"Ya?"
"Emmm... bisakah kau ceritakan padaku... mengenai Tuhan YEsus?"
"Apa?"
"Ya, aku rasanya ingin sekali mengenalNya... sudah lama aku mendengar ibuku berdoa sendiri di kamarnya, kadang hanya berbisik, kadang agak keras, beliau selalu menyebut nama Yesus... "
"Oh.... baiklah... tunggu sebentar ya..." aku segera berlari ke kamarku mengambil alkitab dan satu traktat kecil. Kemudian aku kembali dengan hati yang masih berdebar-debar. Ini pengalaman pertamaku memberitakan Tuhan Yesus pada seseorang, bukan sembarang ornag, melainkan sahabatku yang sangat kukasihi.

Dan hari itu pun aku menceritakan segala hal tentang Tuhan Yesus kepada Pasto. Aku buka kembali alkitabku dan kuberikan traktat kecil untuk Pasto sambil berdoa dalam hati supaya Roh Kudus bekerja membuka hati Pasto. Hari itu juga Pasto menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juru selamatnya pribadi dengan berdoa mengikuti doa yang aku ucapkan. Ya, hari itu menjadi hari yang istimewa bagiku dan bagi Pasto. Kami bukan hanya menjadi sahabat sekarang, tetapi lebih lagi, kami telah menjadi saudara dalam Tuhan Yesus. Dan entah apa lagi yang akan kami lalui bersama nantinya. Sekali lagi, Tuhan Yesus telah memberikan hadiah yang teramat indah dalam perjalananku melaui lembah kekelaman, yaitu kehidupan koas yang penuh liku-liku.

Rabu, 01 Juli 2009

Suasana Pagi yang Rusak

Suasana pagi ini pun sedikit rusak oleh sikap bapakku yang terlalu galak sama Yayan. Gak tahu kenapa, bapakku sepertinya tidak terlalu welcome sama sepupuku yang satu itu. Mungkin karena Yayan terlalu hiperaktif menurut bapakku kali ya. Atau mungkin karena ada semacam disfungsi dalam keluarga masing-masing. Coba aku analisis. Bapakku yang lahir dalam keluarga tentara di mana beliau harus kehilangan figur seorang ayah pada usia yang masih sangat muda (kelas 5 sd, kakekku mati dibunuh oleh what so called G30S/PKI), dan beliau harus mengasuh adik2nya yang waktu itu masih kecil2. Gak terbayang deh bagaimana repot dan susahnya... aku seharusnya kagum dan salut sama beliau. Tapi mungkin ada sesuatu yang bapakku belum pelajari yaitu tentang kelembutan hati seorang bapak yang meskipun dari luar kelihatan sangar. Kelembutan hati yang seharusnya gak salah jika diperlihatkan. Seorang pria sejati tidaklah salah menunjukkan sisi lembutnya apalagi di hadapan anak2nya sendiri. Mungkin itu yang belum diperoleh bapakku dari kakekku.

Kemudian di sisi lain, Yayan yang lahir dalam keluarga yang bisa dikatakan disfungsional juga (maaf, istilahnya terlalu kasar). Setiap hari mendapat kata-kata yang keras dan cenderung meredahkan harkat dan martabatnya sebagai seorang anak yang seharusnya layak untuk dikasihi, dibimbing, dan dibombong dengan kata2 yang lembut. Sudah mulai terlihat efek perlakuan negatif terhadap Yayan yaitu dengan adanya rasa minder dan rendah diri yang kronis. Ini menurut pengamatanku sih, gak terlalu valid.

Yang bikin aku malu terhadap diriku sendiri adalah waktu tadi Yayan dihardik sama bapakku secara tiba-tiba tanpa ada angin maupun hujan. Aku sendiri sampai kaget. Padahal masalahnya cuma sepele, hanya karena bola kaki yang ada di rumahku hilang entah ke mana. Kebetulan yang sering makai itu bola adalah Yayan (dan Veno, kakak Yayan). Tapi yang kena semprot secara tidak hormat adalah Yayan. Dan parahnya, aku cuma diam saja dan tidak membantu apa2, karena aku juga kaget, kok tiba2 bapakku membentak Yayan tanpa tedeng aling-aling. Sebenarnya ini ada apa?

Masalahnya sebenarnya sepele, tapi yang bikin tampak parah adalah sikap bapakku itu. Sepertinya ada sesuatu yang menyebabkannya jadi seperti itu. Mungkin nanti aku bisa ngomong ke bapakku secara empat mata, dari hati ke hati. Supaya tidak menimbulkan gosip atau fitnah yang keji (pinjam istilah tetangga). Aku mau coba ah menyelesaikan masalah tanpa masalah. Aku mau menjadi jawaban dan nggak hanya diam. Ya, aku mau.

God, help me please...

Bingung Mau Tulis Apa

Hari ini mau nulis apa lagi ya? Dibilang nggak ada ide, sebenarnya ada banyak hal yang bisa aku tuliskan... Dibilang banyak ide, jadi bingung mau nulis yang mana... Jadi, aku cuma mau cerita kegiatanu hari ini aja sebagai pemanasan... Here we go...

Hari ini aku mulai dengan bangun terlambat seperti layaknya hari-hari libur... terus yang tidak biasa adalah aku mulai kembali kebiasaan bersaat teduh meskipun sepertinya masih kurang puas, karena aku cuma membaca dan menulis, gak pake nyanyi2 dan meditasi... rasanya kangen dan pingin deh sekali lagi merasakan dan menimati hadirat Tuhan dalam pujian dan penyembahan yang bener2 serius... Hmmm, kapan ya? Mungkin nanti, tapi nggak janji... sorry lho, Tuhan... hiks...

Terus aku latihan sebentar lagu The Prayer untuk persiapan ngiringi wedding singer besok Sabtu... sempat aku rekam juga di HP meskipun mainnya salah2 dan kualitas rekamannya jelek... tapi lumayanlah... Heh, spirit "lumayan" ini kadang jadi bumerang bagiku....

Doh, saat aku menulis ini, bapakku lagi muter lagu2 lawas favoritnya.... bagiku, lagu2 lawas itu bikin moodku turun, gak tahu kenapa... auranya bikin depresi... beda dengan lagu2 rohani selawas apapun... dah ah...