Kamis, 23 Mei 2013

Avatar


Saya senang mengikuti cerita Avatar-The Legend Of Aang maupun Avatar-The Legend of Korra. Cerita yang dikemas dalam serial animasi dua dimensi yang sangat sarat akan hikmat dan pengetahuan. Di situ diceritakan tentang adanya manusia-manusia tertentu yang memiliki kemampuan mengendalikan empat unsur alam, yaitu air, udara, api, dan bumi/tanah. Biasanya satu orang hanya mampu menguasai salah satu unsur. Sedangkan yang dinamakan dengan “avatar” adalah orang yang menguasai keempat unsur tersebut. Avatar akan terus muncul dalam setiap generasi manusia. Meskipun pribadi-pribadi avatar itu berbeda-beda, mereka punya keterhubungan dengan avatar-avatar di masa lalu. Tugas utama avatar adalah menjaga keharmonisan dunia (nyata dan roh).
                Dalam kepercayaan tertentu, avatar diartikan sebagai orang yang menjadi titisan dari pribadi yang lebih unggul seperti dewa-dewi. Avatar menjadi penghubung antara manusia dengan roh yang dihormati. Berbagai macam manusia muncul dan dianggap sebagai avatar atau jelmaan dewa. Bahkan, Yesus sendiri, oleh beberapa aliran kepercayaan, dianggap pula sebagai salah satu avatar yang pernah ada di muka bumi ini.
                Lepas dari unsur kepercayaan yang berseberangan dengan iman Kristen, saya ingin menyampaikan sedikit perenungan yang timbul dari hasil menonton film seri Avatar tersebut di atas. Sebagai orang yang percaya kepada TUHAN, saya memandang bahwa orang-orang yang dimiliki dan memiliki Tuhan Yesus itu adalah avatar hidupnya Tuhan Yesus. Maksudnya, setiap kita yang telah tinggal di dalam Tuhan Yesus merupakan perwakilan atau perwujudan dari tubuh Kristus di tengah dunia yang mendambakan keharmonisan hidup. Dengan Roh Kudus yang ada dalam diri kita masing-masing, kita dituntun untuk mewujudkan keharmonisan tersebut. Harmonis ini berarti damai dengan TUHAN, damai dengan diri sendiri, damai dengan sesama, dan damai dengan lingkungan (alam) sekitar kita. Jika dalam film sang avatar itu menguasai empat elemen, maka kita pun dapat dikatakan memiliki sifat seperti keempat elemen tersebut. Api yang melambangkan semangat yang berkobat-kobar untuk melayani TUHAN, air yang bersifat lembut dan memiliki daya untuk menyembuhkan, angin yang lincah dan dinamis, serta bumi atau tanah yang teguh dan kokoh berdiri.
                Dalam syair pujian di Kidung Jemaat 60 bait 2, 3, dan 4, dijelaskan dengan indah bagaimana keempat unsur alam tersebut dapat memuliakan TUHAN. Di sana dikatakan bagaimana angin hebat menderu, membawa awan-awan yang berarak. Sebagai avatar Tuhan Yesus, kita memiliki sifat seperti angin yang tidak kelihatan namun dapat dirasakan secara nyata dampak perbuatannya. Diceritakan pula tentang air murni dan jernih yang berguna untuk menawarkan rasa haus dan dapat membersihkan (hati/jiwa). Kita sebagai avatar Tuhan Yesus pun dapat memberi kelegaan kepada jiwa-jiwa yang begitu haus akan TUHAN. Dikatakan bahwa api bersifat menghangatkan, menyenangkan, gagah, periang, dan tenang. Begitu pula kita sebagai avatar Tuhan Yesus, semestinya kita bisa menghangatkan suasana yang dingin di mana pun TUHAN menempatkan kita. Dan terakhir, sifat bumi yang digambarkan bagaikan ibu pertiwi yang melimpah dengan anugerah, menjadi tempat tumbuhan untuk hidup, berbunga dan berbuah lebat. Kita sebagai avatar Tuhan Yesus juga bersifat dapat menumbuhkan kehidupan yang semarak di samping sifat kokoh dan teguh seperti gunung batu.
                Tugas menjadi avatar seperti yang digambarkan dalam tokoh Aang maupun Korra memang tidak mudah. Avatar menjadi tumpuan dan harapan manusia-manusia, baik itu yang mempunyai kemampuan mengendalikan unsur alam maupun yang tidak. Avatar dituntut untuk bersikap adil dan membawa kedamaian di mana pun dunia membutuhkannya. Tokoh Aang pernah melarikan diri dari tugas dan panggilannya sebagai avatar sehingga untuk beberapa waktu dunia kehilangan kedamaian dan keharmonisan yang didambakannya. Dan ketika Aang kembali, dia harus membayar mahal untuk mengembalikan keseimbangan dan keharmonisan hidup dunia. Tokoh Korra pun juga menghadapi masalah yang tidak kalah peliknya. Dia harus menjaga kedamaian antara manusia-manusia pengendali unsur dengan manusia-manusia non pengendali.
                Sebagai manusia milik TUHAN, kita diperlengkapi dengan kasih dan kuasa Roh Kudus untuk bisa menjalankan tugas dan kewajiban kita layaknya tokoh avatar di mana pun TUHAN menempatkan kita. Sebagai apapun kita, sudah selayaknya kita menjadi pendamai dan penjaga kedamaian. Perkataan Tuhan Yesus pun menjadi dasar dan panduan kita sebagai juru damai, yaitu berbahagialah mereka yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Oleh karena itu, janganlah kita berkecil hati atau bersikap pesimistik menghadapi kondisi dunia yang gelap dan carut marut ini. Justru di tengah kegelapan itulah sinar terang TUHAN yang ada pada kita sangat dibutuhkan. Janganlah kita lari dari tugas dan tanggung jawab kita sebagai “avatar”. Karena jika kita sembunyi, dunia akan semakin kacau dan gelap. Mari kita bersama-sama maju sebagai “avatar”. Bukan dengan kuat dan gagah kita, melainkan dengan kuat kuasa Roh Kudus yang telah dicurahkan dalam diri kita masing-masing.

(Dipublikasikan di majalah Bahana bulan Mei 2013)