Sabtu, 23 November 2013

Budaya Tulis dan Budaya Lisan

Aku masih melanjutkan membaca buku "Healing & Christianity", mungkin bakal aku perpanjang meminjamnya. Banyak hal menarik menarik yang aku dapatkan dari sejarah pelayanan kesembuhan ilahi dalam iman Kristen. Aku heran dan kagum akan ketelimam Pak Kesley, sang penulis buku, dalam menggali informasi dan memaparkannya secara runtut. Aku makin takjub pula dengan budaya tulis yang sudah mengurat akar dalam masyarakat Barat itu, sehingga menghasilkan karya-karya tulis yang membentuk sejarah dunia. Bagi masyarakat Timur, khususnya Indonesia yang lebih banyak bertutur lisan, budaya tulis baru dikembangkan kemudian. Tidak heran jika tidak/belum banyak dijumpai karya-karya tulis dari anak bangsa yang cukup menyejarah. Oleh karena itu, aku harus terus belajar menulis dan menulis lebih sering.

Meskipun karya tulis ilmiah belum terlalu membudaya, bangsa Indonesia aku dapati kaya akan karya sastra. Bangsa Indonesia memang gagap dalam mengumpulkan dan memaparkan data-data secara ilmiah, tetapi jangan salah, mereka sangat piawai dalam menyusun simbol-simbol/perlambang-perlambang dalam bentuk sastra. Lihat saja karya para pujangga pada masa lampau seperti Mpu Tantular, Mpu Prapanca, Ranggawarsita, dll. Karya mereka penuh akan bahasa-bahasa indah yang bernilai filosofis. Pada zaman modern dan postmodern pun banyak penulis Indonesia yang menciptakan karya-karya yang sangat mumpuni. Aku yang awam dalam hal sastra ini cukup menikmati hasil karya mereka yang melukiskan pergumulan dan kegelisahan batin melihat perkembangan zaman. Sebagai seorang anak bangsa, aku bersyukur untuk berkat TUHAN ini.

Hal lain yang aku dapati dari kebiasaan hidup anak bangsaku adalah budaya tutur kata atau mengobrol. Jika bangsa Jepang memiliki pepatah "tiada duduk tanpa membaca", maka mungkin bangsa Indonesia menjalankan prinsip "tiada duduk tanpa mengobrol". Sisi positifnya adalah sisi manusiawi anak bangsaku menjadi lebih terasah. Manusia pada dasarnya memerlukan hubungan yang mendalam dari hati ke hati dengan sesamanya. Hal itu paling mudah diperoleh melalui mengobrol dengan orang di sampingnya. Di mana saja, dengan siapa saja, kapan saja, selalu ada saja obrolan yang terjadi. Dengan mengobrol, terjadi semacam katarsis jiwa sehingga membantu mengurangi/meringankan beban hidup. Sisi negatif dari budaya lisan ini adalah tidak terdokumentasikannya isi obrolan sehingga pemikiran-pemikiran brilian yang muncul pun banyal yang lewat/hilang begitu saja. Sangat disayangkan.

Kamis, 21 November 2013

Tunduk dan Sabar

Sering terpikir olehku, mengapa aku yang cukup percaya akan kesembuhan ilahi ini harus membutuhkan obat rutin untuk menjagaku tetap stabil dari "mood swing" yang ekstrim. Untuk apa? Bukankah cukup hanya dengan percaya dan bergantung pada TUHAN, tanpa harus minum berbiji-biji obat mahal, aku sudah bisa disembuhkan? Mengapa harus repot-repot menunggu dinyatakan sembuh oleh dokter?

Ini jawabanku saat ini. Mungkin aku perlu belajar berjalan dalam otoritas yang benar dengan penuh kesabaran, sebagai pelengkap dari imanku. Dengan hidup dalam otoritas yang benar, aku aman dari segala macam "tuduhan" dari si pendakwa. Dan mungkin dengan sikap tunduk itu, aku dapat menjembatani antara iman dengan pengetahuan. Maka, aku rela mnejadi pion TUHAN dalam rangka dialog iman dan pengetahuan ini. Dengan demikian, aku dapat melanjutkan hidupku dengan bangga dan penuh syukur.

Depresi yang Mengintip

Obat rutin yang kuminum sekarang diselingi absen 2 hari dalam seminggu. Untuk memudahkan, aku libur minum obat tiap hari Senin dan Kamis. Seperti puasa saja ya! Untuk kesekian kalinya, aku menjalani "tappering off" obat rutin. Semoga kali ini bisa sampai lepas obat secara perlahan-lahan. Tantangannya adalah kalau timbul episode mania dan/atau depresi yang hebat. Tapi berdasarkan pengalaman, biasanya ada "warning sign" terlebih dahulu sebelum episode yang nyata itu benar-benar muncul. Kalau mau mania, biasanya yang paling tampak adalah jam tidur yang makin berkurang. Sebaliknya, kalau mau depresi, jam tidurku menjadi bertambah. Dan saat ini aku sepertinya akan "swing" ke episode depresi.

Untuk mengatasinya,  biasanya pada episode mania, aku menciptakan karya-karya yang kreatif entah itu tulisan, gambar, musik. Pada episode depresi, aku akan lebih banyak membaca, menulis, dan berinteraksi dengan sesama. Episode depresi harus kuatasi dengan tetap "terhubung". Aku harus konsentrasi pada rutinitas hidup sehari-hari, semalas apa pun rasanya. Segala rasa enggan, malas, dan hilang minat itu harus kulawan dengan gagah berani. Akan kubangkutkan antusiasme dan semangatku dengan kuasa dan kasih TUHAN.

Senin, 18 November 2013

Tentang Kesembuhan Ilahi--Sebuah Pembelajaran

Hari-hari ini aku sedang membaca buku perpus berjudul "Healing and Christianity". Mengapa aku memilih buku ini? Atau, mengapa buku ini memilihku? Mungkin karena TUHAN ingin menyampaikan sesuatu secara khusus perihal kesembuhan ilahi. Mungkin aku memerlukan sepercik hikmat pengetahuan tentang kesembuhan, entah untuk diriku sendiri atau untuk kubagikan. Apapun itu, aku akan baca buku ini dengan hati yang terbuka dan penuh pengharapan. Selain membaca untuk kesenangan, aku membaca ini juga untuk belajar supaya terjadi transformasi hidup.

Mungkin ini alasan aku memilih membaca buku tersebut secara khusus. Dalam hatiku, aku percaya akan "kesembuhan ilahi". Aku percaya bahwa TUHAN masih bekerja mengadakan mujizat kesembuhan sampat saat ini. Meskipun dunia medis klinis telah berkembang sedemikian rupa, aku percaya bahwa Dia masih sanggup dan mau melakukan intervensi kasih dan kuasa ke dalam dunia materi. Aku mendapati bahwa salah satu kendala adalah "bahasa". Ada gap antara "bahasa iman" dengan "bahasa ilmiah". Memang terkadang bahasa iman terdengar bodoh dan tidak masuk akal, sedangkan "bahasa ilmiah" cenderung melemahkan iman pengharapan. Tapi di atas itu semua, "kasih" mempersatukan. Kasih memberi ruang untuk saling pengertian dan memberi kesempatan. Yang satu tidak meniadakan yang lain. Bukan altenatif, melainkan komplementer. Tidak peduli berapa persen masing-masing memberikan kontribusi, kesembuhan yang terjadi bukanlah demi kesembuhan itu sendiri. Kesembuhan adalah salah satu bentuk tanda dari iman keselamatan.

Mungkin aku memiliki iman yang cukup untuk "memindahkan gunung", termasuk untuk adanya kesembuhan ilahi. Aku percaya setiap penyakit dapat Dia sembuhkan melalui aneka sarana. Bahkan, tanpa obat-obatan pun Dia sanggup menyembuhkan setiap penyakit, sesederhana apa pun penyakit itu kelihatannya. Di sinilah diperlukan hikmat marifat untuk memahami dan menyetujui rencana-Nya. Di sinilah diperlukan kepekaan dalam bertindak. Di sinilah pengalaman yang nyata diperlukan untuk mengasah intuisi. (Mari mohon bimbingan Roh Kudus dalam hal ini).

Senin, 11 November 2013

In Memoriam Boncel

Alkisah, hiduplah seekor anjing besar berbulu emas bernama Boncel. Sifatnya yang ceria dan suka tertawa membuat banyak orang yang melihatnya ikut senang dan gembira hati. Boncel terkenal dengan sifat ramah dan suka bersahabat, khas dimiliki oleh anjing serasnya, golden retriever. Tingkah polahnya yang suka pecicilan kerap menimbulkan gelak tawa orang-orang di sekitarnya. Keluargaku mengadopsi Boncel sejak ia berusia empat bulan. Waktu itu badannya masih kecil dan sifatnya masih malu-malu anjing. Pertama kali masuk ke rumah Pelem Kecut, anjing kecil berbulu emas itu belumlah bernama. Maka, kami sekeluarga mencari-cari nama yang tepat untuknya. Bapak sempat mengusulkan nama “Ribut” karena si kecil itu suka menggonggong keras-keras tidak tahu waktu. Ibu mengusulkan nama “Roy”, mungkin karena terdengar keren. Setelah berdiskusi dengan kakak yang waktu itu masih kuliah di Jepang, aku mengusulkan nama “Boncel” yang diterima secara aklamasi sebagai nama sah si anjing kecil berbulu emas. Belakangan, baru kami ketahui bahwa nama aslinya adalah Carlos berdasarkan akta yang ada. Maka, supaya tidak menghilangkan jati diri si anjing, kami ciptakanlah nama panjangnya menjadi Carlos Boncelos Domestos Sunomos. Keren tidak?
                Tujuan awal pengadopsian Boncel adalah untuk memberikanku teman bermain yang tidak sepadan. Waktu itu aku sedang dalam episode depresi yang berkepanjangan. Menurut informasi yang diperoleh, orang tuaku membeli Boncel dari teman keluarga yang ada di Salatiga. Mereka sempat ditawari mau beli anjing keturunan juara atau yang biasa-biasa saja. Ibuku bertanya apa bedanya antara yang juara dengan yang tidak. Apakah anjing juara dapat disuruh berbelanja? Tentu saja tidak. Maka dari itu, dibelilah anjing yang biasa-biasa saja karena sama-sama tidak bisa disuruh berbelanja. Harga yang dibayarkan terbilang lebih murah jika dibandingkan dengan anjing keturunan juara, apalagi usia waktu dibeli itu masih sekitar dua bulan. Dengan tidak begitu antusias dan semangat, karena masih diliputi depresi, aku menerima pemberian orang tuaku itu.
                Kuperhatikan perilaku Boncel waktu awal-awal menjadi penghuni rumah Pelem Kecut. Boncel suka sekali wira-wiri di dalam rumah, mungkin mencari-cari tempat yang nyaman untuk pup atau buang air. Setelah ketemu, dia akan seterusnya buang air di situ. Maka, jadilah tempat itu bau pesing. Setiap malam, Boncel selalu menemani ibu yang sering lembur mengetik sampai larut pagi dini hari. Jika ditinggalkan tidur sendirian di ruang tengah, Boncel selalu menggaruk-garuk pintu kamar minta ditemani. Boncel akan bangun sekitar jam lima pagi untuk buang air di tempat favoritnya. Saat bangun, dia selalu menjilat-jilat kakiku. Geli dan risi, aku pun terbangun dan membukakan pintu kamar mempersilahkan Boncel untuk pergi buang air. Semestinya, Boncel sering diajak berjalan-jalan keluar untuk buang air di luar rumah. Pada awalnya memang aku dan para asisten rumah tangga sering membawa Boncel jalan-jalan keliling kampung. Tapi, lama-kelamaan kami malas berjalan-jalan sehingga Boncel hanya berjalan-jalan di lapangan basket di belakang rumah. Alhasil, kotoran Boncel pun sering berserakan di sana dan harus diambil supaya tidak menambah masalah.
                Ketika episode depresiku beralih menjadi mania, aku sering mengajak Boncel berjalan jauh melintasi jalan raya menuju rumah temanku. Di tengah jalan, Boncel sering kelelahan dan kehausan. Maka, aku selalu membawa bekal air mineral khusus untuk Boncel. Pernah suatu ketika aku harus memanggil becak untuk mengangkut Boncel karena dia amat sangat kelelahan dan tidak mau berjalan. Begitu banyak tempat-tempat yang kukunjungi bersama Boncel waktu itu. Selelah apapun, Boncel tetap setia dan wajahnya selalu tertawa.
                Sekarang, Boncel sudah almarhum. Dia meninggal dengan tenang di rumah Pelem Kecut pada suatu ketika setelah sakit yang tidak terdeteksi. Kakinya bengkak entah kenapa. Aku tidak ikut menyaksikan penguburannya karena waktu itu aku sudah pindah rumah bersama Mas Cah. Kuburan Boncel ada di sebelah barat rumah Pelem Kecut. Sekarang, kuburan itu pun sudah dibangun menjadi rumah kost eksklusif. Boncel meninggalkan dua ekor teman setianya, si Geol dan si Jabrik. Bersama-sama mereka telah menjadi trio penjaga rumah yang setia. Dari si Jabrik, Boncel telah belajar menggonggong keras dan bergema, jauh melebih rekan-rekan satu rasnya. Dari si Geol, Boncel belajar bermain dengan lehih cerdik. Tidak disangka, Boncellah yang pertama kali meninggalkan trio anjing Pelem Kecut itu. Kenangan akan Boncel meskipu hanya sebentar akan selalu membekas dalam memoriku.
                Meskipun Boncel hanyalah anjing peliharaan, banyak hal yang bisa kupelajari darinya. Aku belajar tentang kesetiaan, persahabatan, dan hidup yang penuh dengan keceriaan bersama Boncel. Aku belajar bahwa keberadaan seseorang atau seseekor, setidakbermanfaat apapun, akan lebih bermakna dibanding ketiadaan. Meskipun hanya bisa duduk diam menemani, itu jauh lebih berguna dan bermanfaat daripada tidak ada sama sekali. Meskipun tidak bisa menyumbang sesuatu yang bernilai, kehadiran seseorang atau sesuatu itu mampu mengubah suasana murung tanpa harapan menjadi ceria dan bertujuan. Akhirnya, aku hanya bisa bersyukur pada TUHAN dan berterima kasih atas kehadiran Boncel yang telah menambah makna dalam hidupku. Terima kasih, Boncel! ^^


(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, 11 November 2013)

Minggu, 03 November 2013

Perjalanan Menyembah Tuhan bersama Don Moen dkk

Sabtu sore tanggal 2 November 2013 kemarin, kami (saya, Mas Cah, Naomi dan suaminya, serta Stevany) melakukan perjalanan ke Solo untuk menikmati konser musik pujian penyembahan bersama Don Moen dan Lenny Le Blanc. Perjalanan yang ditempuh dengan mobil sewaan terbilang cukup menegangkan sehingga mampu membuat saya merapal kalimat doa mohon keselamatan sampai di tujuan berulang-ulang. Jalanan cukup padat merayap sehingga waktu tempuh yang kami butuhkan menjadi panjang. Belum cukup dengan itu, tiket gratisan yang kami punya mewajibkan kami untuk masuk pintu benteng Vas Ten Burg di seberang sana. Walhasil, jadilah perjalanan malam kami bertambah menu dengan lintas alam benteng cagar budaya yang menjadi landmark kota Solo itu. Tidak apa-apa, cukup menyehatkan jiwa dan raga kok. Beruntung, MaS Cah membawa lampu senter kecilnya yang amat sangat bermanfaat itu.

Kami memasuki lokasi konser sudah terlambat lebih dari satu jam dari jadwal. Baru sekitar jam tujuh konser dibuka dengan menampilkan sambutan dari walikota. Setelah prosesi menyanyikan lagu Indonesia Raya, barulah konser dimulai dengan lagu pembukaan Think About His Love, yang sudah akrab dinyanyikan oleh kami semua yang menonton. Lagu demi lagu yang agak rancak dan masih cukup familier di telinga silih berganti kami nikmati bersama. Setiap kata pengantar lagu yang disampaikan oleh Don Moen membuat kami (saya dan MAs Cah) asyik menebak-nebak lagu apa yang hendak dibawakan, jadi mirip acara tebak lagu. Musik yang apik dan penghayatan yang ciamik membuat kami pun larut ikut memuji dan menyembah Tuhan.

Ada satu pemandangan yang cukup menakjubkan terjadi saat awal konser itu berlangsung. Secara iseng, saya menengadah ke langit di sebelah kiri atas saya (waktu itu posisi kami ada di atas benteng). Saya melihat segumpal besar awan putih yang berbentuk seperti tangan besar yang seolah-olah sedang memberkati ke arah panggung dan penonton. Saya konfirmasikan ke teman-teman seperjalanan, dan mereka pun mengiyakan bahwa awan tersebut berbentuk seperti tangan lengkap dengan kelima jarinya. Saya berpikir bahwa ini adalah suatu bentuk tanda yang luar biasa dari Tuhan. Saya berpikir betapa Tuhan berkuasa memberikan cuaca yang sangat cerah dan indah saat konser berlangsung, padahal beberapa hari sebelumnya hujan sering mengguyur dengan amat lebat. Kemudian, sungguh suatu berkat yang luar biasa bagi saya bisa menyaksikan perkenanan Tuhan melalui 'tanda' tangan Tuhan di langit itu.

Acara berlangsung dengan khidmat, syahdu, lembut, manis, dan sangat indah. Di pertengahan acara, kami turun ke lapangan dan duduk di deretan kursi belakang. Tidak dinyana, kembali Tuhan dengan lembut menyentuh hati saya. Kali ini saya terharu dan timbul berbelas kasihan ketika melihat seorang bapak menjajakan minuman buat para penonton. Saya perhatikan bagaimana bapak itu dengan tabah berjalan mondar-mandir dari deretan depan ke belakang. Mungkin bapak itu sama sekali tidak bisa menikmati indahnya konser karena kendala iman dan bahasa yang berbeda. Mungkin dalam pikirannya hanya ada tujuan untuk memperoleh penghasilan demi keluarganya yang di rumah. Air mata tak bisa dibendung meleleh dari mata saya. Kemudian hati saya pun tertuju kepada sesama warga bangsa dan negara yang kembali saya ingat untuk saya bawa dalam doa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang tiba-tiba terlintas dalam benak saya adalah yang mengatakan bahwa apabila umat Tuhan yang atasnya nama-Nya disebut mau bertobat dan menyesali dosanya, maka Tuhan akan mendengar dan memulihkan tanah mereka. Kembali saya menangis dengan air mata mengucur deras. Karena malu jika ketahuan menangis, segera saja air mata itu saya hapus. Lagu-lagu dan narasi yang disampaikan oleh Don Moen sungguh pas menjadi latar belakang proses Tuhan mengetuk hati saya. Di konser itu, bukan lagi Don Moen dkk yang jadi fokus melainkan Tuhan sendirilah yang merebut perhatian saya.

Konser yang indah itu diakhiri dengan pujian riang nan semangat berjudul God is Good dengan Don Moen sesekali memainkan gesekan biolanya. Air mata yang tertumpah dan tawa yang timbul mengingatkan saya akan peristiwa di perjanjian lama tentang pembangunan kembali Bait Allah yang telah runtuh. Angkatan lama menangis mengingat kemegahan bait suci yang lampau sedangkan angkatan muda bersorak-sorai menyaksikan sesuatu yang baru di mata mereka. Saya mendapati bahwa saya seperti angkatan lama yang bernostalgia dengan kegerakan Tuhan selama satu dekade yang lalu sementara Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang baru, yang belum pernah saya saksikan. Tuhan seolah menyampaikan bahwa Ia sedang menjawab doa-doa saya dan generasi saya selama dekade yang lalu itu. Dan dengan penuh sukacita saya menyambut jawaban Tuhan tersebut, kembali rasa haru memenuhi hati saya sehingga mau tidak mau air mata kembali meleleh. Saya cukup malu jika ketahuan Mas Cah, suami saya, manakala saya menangis lebay.

Saya berpikir konser Don Moen ini sepertinya secara pas memang dimaksudkan untuk saya ikuti. Pengaturan waktu dan jadwal kegiatan saya bisa pas sedemikian rupa sehingga saya bisa menikmati konser tanpa beban. Selain itu, saya memang seperti membutuhkan penyegaran roh jiwa dan tubuh yang sepertinya bisa saya peroleh dari konser itu. Terlalu banyak berkat dan anugerah Tuhan yang tercurah bagi saya pada khususnya dan bagi semua yang menonton pada umumnya yang tidak bisa saya uraikan satu per satu. Kiranya cerita yang saya bagikan ini dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi kita semua. Haleluya!

Kamis, 03 Oktober 2013

Atmosfer Surga

Atmosfer kemenangan yang ada pada gereja yang sudah menang itu kubawa dalam hidupku di dunia dalam gereja yang berjuang. Atmosfer kemenangan itu kualami dan kurasakan manakala kurenungkan janji kehidupan kekal bersama TUHAN. Hati dan pikiranku dipenuhi bayangan dan suasana yang terasa saat aku benar-benar hidup kekal bersama TUHAN. Contoh bayangan indah dan "nengsemake" itu adalah bagaimana orang-orang yang mengasihiku dan mengenalku memberiku semangat untuk terus berjuang dalam atmosfer kemenangan. Aku membayangkan misalnya bagaimana mbah Kasmolo dan mbah Giyono menyemangatiku dari surga sana. Aku membayangkan TUHAN berkata, "Lihat itu, Kasmolo, Giyono, cucumu yang sedang berjuang itu! Beri semangatlah dan banggalah..." dst dst. Membayangkan itu membuat hatiku penuh rasa haru karena bahagia yang amat sangat. Semangat hidupku terpompa. Dan aku biarkan suasana surga itu melingkupi hati dan pikiranku. Demikianlah yang kudapatkan sewaktu aku lari-lari pagi ini. Barukh hashem!

Selasa, 03 September 2013

Dunia Menanti Jawaban

Dunia ini penuh dengan misteri di balik berbagai masalah yang belum terpecahkan. Kebencian mewarnai sikap hidup manusia yang dicengkeram ketakutan akan hal yang tidak diketahuinya. Jawaban yang klise dan dangkal dari para manusia yang dipandang ahli dan "linuwih" itu membuat muak, bosan, dan menyuburkan apatisme. Kehausan dan kelaparan akan kebenaran yang sejati dan hakiki sedang melanda generasi manusia yang hidup di zaman akhir ini. Kegelapan semakin kelam, masa depan semakin suram. Dalam lembah bayang-bayang maut ini, terserulah jeritan minta tolong dari jiwa-jiwa yang sengsara, "Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung, dari manakah datangnya pertolonganku?" Jawaban yang sudah akrab itu bisa datang segera, tapi bisa juga lama setelah jiwa-jiwa itu kembali ke kekekalan.

Jeda waktu menunggu jawaban kadang dimanfaatkan oleh mereka-mereka yang sudah hilang akal, kesabaran, dan pengharapan. Maka, muncullah ide-ide dan cita-cita yang meniadakan keabsolutan yang merupakan ciri dan hak TUHAN. Muncullah paham-paham, ideologi-ideologi, dan isme-isme yang mengenyahkan pengenalan akan TUHAN. Mereka menjanjikan jawaban semu yang kedengarannya manis bak madu tapi sesungguhnya penuh racun mematikan. Dibangkitkannya kebencian dan dendam kesumat menggantikan kasih dan keadilan. Cita-cita mereka adalah mendirikan kerajaan manusia yang bersimaharaja atas dunia dan segala isinya. Maka, sepanjang sejarah, muncullah kerajaan-kerajaan, kekaisaran-kekaisaran, negara-negara, ideologi-ideologi yang diwarnai dengan pertumpahan darah yang kejam. Bumi penuh oleh darah, kekerasan, dan kematian.

Sampai kapan? Sampai jawaban yang sejati itu tiba, terwujud dengan indahnya. Jawaban itu berkata, "Pertolonganku ialah dari TUHAN yang menciptakan langit, bumi, dan segala isinya." Jawaban itu meneguhkan bahwa hanya pribadi TUHAN-lah sang pencipta yang mahakuasa, yang sanggup memberikan pertolongan itu. Dialah yang sanggup menjawab kebutuhan mendasar manusia akan eksistensi dan tujuan hidupnya di dunia ini. Dan, jawaban-Nya tentu lebih dari klise atau dangkal. Ia akan mengenyangkan dan memuaskan lapar dan dahaga manusia yang paling dalam. Kasih dan keadilan menjadi ciri utama kehadiran-Nya. Tidaklah sia-sia menantikan jawaban TUHAN itu. Pertolongan-Nya tidaklah terlambat tapi juga tidak terlalu cepat. Yang dibutuhkan di sini adalah kesabaran (baca: ketahanan) dalam berharap.

Dunia dan TUHAN

Ternyata tidak sesederhana yang kubayangkan dunia ini, jalannya sejarah manusia ini. Semakin kupelajari, semakin membuatku pusing. Rumit dan penuh liku-liku, itulah manusia dengan berbagai atributnya. Namun, semakin aku sadar betapa maha dahsyatnya TUHAN itu, sang pencipta manusia. Jika melihat hasil ciptaan-Nya yang super duper canggih dalam hal berpikir abstrak hingga mewujudkan ide-ide tersebut di dunia nyata, betapa lebih super super canggihnya pikiran TUHAN! TUHAN pasti tidak sampai pusing tujuh hingga dua belas keliling dalam mengatur dunia dan segala isinya ini. Dalam menanamkan program kecerdasan dalam diri manusia pun TUHAN pasti sudah memperhitungkan semuanya. Pribadi TUHAN pun pasti tidak sedingin Sang Arsitek dalam trilogi film "The Matrix" itu.

Mau tahu seperti apa TUHAN itu? Sederhananya, lihat saja pada Yesus Kristus dari Nazaret itu! Lalu? Mulailah segala pencarian akan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu dari pribadi Yesus Kristus. Dengan demikian, kita akan terselamatkan dari sikap hati yang penuh dendam kesumat terhadap siapa dan apa pun. Kenali Yesus Kristus, selami pikiran-Nya, maka hati dan pikiran kita akan beroleh pijakan yang kuat dalam penelusuran hakikat dan makna hidup manusia. Dengan hati dan pikiran yang terpaut pada Yesus Kristus sebagai titik nol kilometer kita, maka kita pun akan beroleh bimbingan yang intens dari Roh Yesus Kristus, yaitu Roh Kudus, Sang Pribadi yang bekerja membentuk sejarah dunia dari awal hingga kekekalan. Semakin mengenal-Nya, semakin tidak takut kita memancang hiruk pikuk dunia ini.

Sabtu, 24 Agustus 2013

Hidup Penuh Makna

Keberadaanku di perpus yang bak kemewahan surgaawi ini bukanlah suatu hal yang harus membuatku merasa bersalah. Aku tidak harus merasa bersalah karena bisa menikmati kemewahan ini sementara di bawah sana rekan-rekan kolegaku berjibaku dengan sibuknya jadwal jaga. Aku mencoba bepikir demikian. Mereka yang berjuang setengah mati menolong pasien memperoleh derajat kesehatan yang lebih baik itu tentu berharap supaya dengan derajat kesehatan yang lebih baik, pasien dapat menjalani kehidupan yang penuh makna. Nah, apakah yang sedang kulakukan di perpus ini? Bukankah itu merupakan kehidupan yang penuh makna juga, setidaknya bagiku? Dengan demikian, bukankah aku sudah menikmati apa yang diperjuangkan oleh rekan-rekanku di garis depan? Untuk inilah--kehidupan yang penuh makna--perjuangan mempertahankan hidup di tengah gempuran maut itu berlangsung. Maka, tidak semestinyalah aku merasa bersalah atas anugerah yang kuterima ini. Sebaliknya, aku harus senantiasa bersyukur dengan mengingat bahwa segala hal baik yang kudapatkan ini adalah berkat perjuangan dan pengorbanan rekan-rekanku di sana. Sehingga, saat-saat istimewa di perpus ini harus kugunakan sebaik-baiknya untuk menimba kekayaan hikmat yang kuperlukan untuk memperlengkapi pula rekan-rekanku yang ada di garis depan itu. Di sinilah aku perlu pimpinan Roh Kudus untuk memilah dan memilih sumber informasi berdasarkan kepentingan dan keterdesakan kebutuhan. Jadi, selamat tinggal 'rasa bersalah'! Selamat datang 'hidup penuh makna'

Sabtu, 20 Juli 2013

Bermain Bersama Bayi

Aku dan Asa habis bermain bersama. Asa bermain dan bereksplorasi. Aku menjaga dan menyemangati. Kami sama-sama belajar dan berproses sampai terobosan demi terobosan terjadi. Aku belum tahu apa yang Asa pikir dan rasakan karena dia belum bisa ngomong seperti orang dewasa. Maka, aku pun belajar menjalin komunikasi dengan cara-cara yang sederhana. Dengan bahasa tubuh dan ilmu kira-kira, aku berusaha memahami dan dipahami Asa. Prinsipku dalam belajar ini adalah tidak terlalu ngoyo tapi juga tidak malas atau asal-asalan. "Samadyane" saja. Aku kerjakan apapun yang aku bisa. Urusan selanjutnya, aku serahkan kepada Tuhan. Segala kekuatiran dan kebingungan tidak kuadopsi dalam pikiran dan perasaanku.

Aku dan Asa bermain di ruang keluarga, ruang tamu, dan kamar tidur utama. Segala macam benda dapat menjadi bahan permainan dan penjelajahan Asa. Aku dan Tuhan memastikan bahwa Asa bermain dengan aman. Aku berusaha menghindari kata-kata larangan yang berlebihan. Aku gantikan dengan kata-kata positif seperti "awas", "hati-hati", "perhatikan sekitar", dsb. Aku ucapkan dengan kata-kata verbal meskipun Asa belum memahaminya. Tidak apa-apa, setidaknya aku belajr berkomunikasi dengan tegas dan penuh kasih.

Setelah dirasa cukup puas bermain, Asa kukembalikan ke dalam boxnya. Kemudian, kubereskan barang-barang yang disebar-sebar Asa. Rasanya puas dan lega karena aku telah melakukan hal yang bermakna dan berguna. Terobosan apapun yang kucapai, aku bersyukur untuk itu. Aku bersyukur untuk waktu bermain yang bermakna ini.

Minggu, 30 Juni 2013

Percikan Inspirasi: Dua Meskipun

Ada dua percikan inspirasi yang aku dapatkan hari ini sembari mencuci perkakas di dapur. Pertama, meskipun aku belum atau bahkan tidak pernah bisa merumuskan tujuan hidupku dengan tepat dan terperinci, aku akan tetap terus melakukan apa saja di hadapanku dengan hati yang antusias dan gembira. Itu berarti meskipun sampai akhir hayat aku akan terus meraba-raba, aku akan tetap menikmati rutinitas hidup sehari-hari karena itulah yang dikehendaki TUHAN. Aku tetap bersyukur karena meskipun mungkin aku tidak akan tahu persis apakah panggilan hidupku itu, aku tidak terjebak dalam ketidaksadaran massal dalam pekerjaan sehari-hari. Setidaknya, aku masih sempat 'eling lan waspada' akan siapa diriku dan ke mana seharusnya aku berada. Setidaknya, naluri elangku tidak terninabobokan oleh atmosfer lingkungan ayam.

Kedua, walau aku mendapat perlakuan kurang menyenangkan dan sering terkecewakan, aku akan tetap memandang bahwa TUHAN itu baik. Aku tidak akan latah dalam merenungkn kebaikan TUHAN. Aku akan memikirkan sungguh-sungguh dalam hal apa saja kebaikan TUHAN dinyatakan secara spesifik. Misalnya, meskipun di rumah dan di tempat kerja aku merasa kurang cakap dan menjadi ganjalan hati bagi sekelilingku, aku akan tetap optimis karena TUHAN masih memberiku kesempatan untuk belajar, bertumbuh, berubah, dan berbuah. Mungkin ini  bakalan tidak mudah dan sering muncul pada saat yang tidak tepat menurutku. Tapi, aku akan berusaha untuk disiplin meskipun harus menerjang rasa tidak nyaman. Akan tiba saatnya TUHAN mengujiku. Jika saat itu tiba, aku sudah siap.

Rabu, 19 Juni 2013

Iman bagi Pertanyaan Eksistensial

Ibrani 11: 8 (BIS)
Karena beriman, maka Abraham mentaati Allah ketika Allah memanggilnya dan menyuruhnya pergi ke negeri yang Allah janjikan kepadanya. Lalu Abraham berangkat dengan tidak tahu ke mana akan pergi.

Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Bapa orang beriman itu hanya pergi begitu saja tanpa tahu arah tujuannya, tanpa bisa merumuskan dengan jelas 'destiny'nya. Bagi TUHAN, itulah hakikat karunia iman yang sejati. Beriman berarti pasrah bongkokan pada sang pemberi iman itu sendiri. Ke mana Ia mengutus, ke situlah kita pergi. Tidak perlu kita tanya sampai memperoleh jawaban yang detil. Cukuplah kita tahu garis besarnya saja. Pegangannya adalah janji TUHAN atas hidup kita yang tidak pernah gagal. Bagian kita hanya percaya saja dan melangkah terus.

Kita akan tahu dan mengerti setelah kita melangkah dalam iman dan ketaatan. Kita akan memahami saat kita sudah sampai ke tujuan. Selama perjalanan, kita munbgkin masih meraba-raba dan mengira-ira. Tidak apa-apa, yang penting kita terus melangkah  di jalan-Nya. Meskipun belum mempunyai rumusan yang lengkap dan tepat mengenai tujuan hidup, kita beroleh penghiburan yaitu bahwa kita tidak sendirian dalam perjalanan ini. Kita bersama sang Imanuel, TUHAN sendiri, yang diam di dalam kita dan kita di dalam Dia. Ada tertulis bahwa penyertaan-Nya itu sempurna. Sempurna berarti tidak perlu diragukan, tidak perlu dipertanyakan, tidak perlu didebat. Dalam kesempurnaan penyertaan TUHAN itulah kita beroleh hikmat, wahyu, dan pengertian. Nikmati saja proses perjalanan panjang bersama TUHAN ini karena itulah bagian terbaik bagi kita.

Begitu juga dengan diriku. Begitu sering pertanyaan-pertanyaan eksistensial muncul yang membuatku menghentikan langkah. Bukannya salah atau tidak boleh bertanya-tanya, melainkan jangan sampai aku frustrasi jika jawaban yang jelas dan rinci belum juga kuperoleh. Semestinya aku bersandar terus pada Sumber Damai dalam hatiku bahkan juga sewaktu bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu. JIka aku mencoba sok kuat dan sok bijak dalam bertanya-tanya, entah apa jadinya. Syukur atas anugerah TUHAN yang menjagaiku seperti perisai! Dalam pergumulan pencarian jawaban itu, aku tahu bahwa perjalanan batinku tidak sia-sia karena adanya persekutuan yang erat dengan TUHAN. Sama seperti Yakub yang akhirnya diberkati menjadi Israel setelah pergumulan panjangnya dengan TUHAN, aku percaya demikian juga nanti aku akan beroleh 'sesuatu' yang membuatku terberkati.

Bagaimana dengan dirimu, kisanak sesama musafir? Adakah dirimu digelisahkan pula oleh pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti "siapakah aku", "dari mana aku", dan "hendak ke mana"? Jangan frustrasi! Kamu tidak sendirian! Aku di sini menemanimu. Mari kita jalani rute kita masing-masing dengan iman yang teguh kepada Sang Pembimbing Agung. Mari izinkan Dia menyatakan diri-Nya yang sejati kepadamu secara pribadi. "Jangan takut", itu kalimat favorit-Nya. Bersedialah dan belajarlah untuk mengenali pribadi-Nya. Izinkanlah Dia menjadi bagian dalam dirimu. Dan, saksikanlah bagaimana Dia menolongmu menjawab pertanyaan-pertanyaan dan pergumulan-pergumulanmu itu.

Mari... ^^

Pilihan Menjadi Dokter

Mengapa begitu banyak orang yang ingin menjadi dokter? Demi apa? Status? Kekayaan? Atau panggilan? Kepuasan? Di Indonesia, dan seluruh dunia pada umumnya, anak-anak kecil bercita-cita ingin menjadi dokter. Dalam benak mereka, dokter adalah pribadi yang luhur mulia. Jas putih yang disandang melambangkan kesucian dan kemurnian hati yang sigap menolong. Ketenangan hati dan ketajaman pikiran seorang dokter menjadi syarat utama kesembuhan. Obat-obatan dan tindakan medis menjadi sarana efektif di tangan dokter yang cakap. Berurusan dengan penyakit dan kondisi kritis merupakan makanan sehari-hari seorang dokter. Karena kemampuannya dalam mendiagnosa dan memberi terapi itulah banyak orang mempercayakan proses kesembuhan di tangan dokter. Tidak heran, profesi dokter masih dihormati dalam masyarakat sampai sekarang.

Ketika aku memilih profesi dokter sebagai bagian dari identitasku, aku melakukannya bukan tanpa sadar. Aku memilih dengan kesadaran bahwa profesi dokter dapat menjadi sarana efektif untuk pekabaran Injil. Pertimbangannya adalah bahwa masyarakat Indonesia masih sangat menghormati profesi ini. Apa yang dikatakan dokter akan lebih didengarkan daripada apa yang dikatakan pendeta. Apalagi jika yang disampaikan berkaitan dengan hidup mati seseorang secara harafiah. Dan dalam kondisi kritis seorang pasien, dokterlah yang memiliki akses paling dekat untuk mengabarkan Injil keselamatan. Masalahnya adalah ketika idealisme itu bertabrakan dengan pragmatisme dalam dunia kerja sehari-hari. Ketika diperhadapkan dengan kondisi 'suam-suam kuku', aku ditantang untuk ikut lebur atau bertahan dengan visi misi yang mendasari pilihanku atas profesi ini.

Ternyata, tantangan yang kuhadapi bukan hanya kondisi eksternal 'suam-suam kuku' saja. Faktor internal pun turut berperan. Rasa lelah, bosan, disorientasi, dan kemalasan sering menggodaku. Jika aku tidak waspada, aku bisa jatuh dalam 'padang gurun' pekerjaan rutin yang menjemukan. Saat berjumpa dengan pasien, keluarganya, dan rekan-rekan di tempat kerja bisa menjadi hambar dan mekanistik. Kemanusiaan memudar digantikan profesionalisme yang dingin. Pasien tidak lagi dipandang sebagai manusia seutuhnya, hanya merupakan seonggok diagnosa yang tercatat rapi dalam rekam medis. Motivasi semula menjadi agen kerajaan Surga terdistorsi secara perlahan-lahan. Api yang menyala-nyala meredup secara laten. Jika tidak ada sesuatu yang mengejutkan, mungkin aku tidak akan bisa bangun lagi.

(Disalin dari coretan buku Kiky hari Rabu, 19 Juni 2013, di belakang meja ladang anggur TUHAN di Yogyakarta)

Sekali Lagi Tentang Kegelisahan Kudus

TUHAN Yesus,
(Terima kasih untuk harta karun rohani yang kita temukan dan nikmati bersama melalui buah pikiran manusia dalam bentuk tulisan yang dibukukan)

Proses, perjalanan, pencarian kita masih berlangsung. Mengutip Paulus sang rasul, bukan seolah-olah aku sudah memperolehnya. Aku rindu dan ingin betul menemukan harta rohani yang Engkau taruh supaya kutemukan. Setelah ketemu, akan kuamati, kugosok-gosok, kupoles, kuasah, kubentuk hingga menjadi sebongkah berlian rohani yang cantik dan mahal. Apapun itu, akan kucari dan kukejar sampai ketemu.
Aku mencari hikmat terdalam, pengetahuan tertinggi, kesadaran diri yang sejati yang sudah kudapatkan dalam-Mu, Yesus. Aku sedang berproses membuka bungkus kado selapis demi selapis. Aku akan buka terus bungkusan itu sampai kudapatkan intisari anugerah-Mu. Akan kutuliskan perjalanan ini, entah panjang entah pendek, entah sampai kapan, entah sampai menemukan atau tidak. (Karena aku tahu apa yang kulakukan ini tidaklah sia-sia).
Dan, perjalanan itu dimulai sekarang. (Terima kasih, TUHAN Yesus, atas bimbingan dan penyertaan-Mu selalu). Sambil mengintip jendela perjalanan orang lain, aku akan melakukan cek dan ricek, menginventarisasi, perjalananku sendiri (bersama-Mu).

Terkadang aku begitu menggebu-gebu mencari "sweet spot" dengan segenap "passion", tapi sering pula aku hanya menikmati apa yang ada. Aku paling tidak nyaman dengan kehilangan orientasi manakala mengerjakan tugas-tugas rutin hampa tujuan (metawork). Jiwaku senantiasa gelisah dengan "sense of destiny". Hal itu diterjemahkan dengan pertanyaan-pertanyaan "siapakah aku?", "dari mana aku datang?", dan "hendak ke manakah aku?" dengan berbagai macam variasinya sesuai konteks. Apakah aku sudah menemukan jawabnya? Kadang sudah, kadang muncul lagi pertanyaan itu sebagai perjalanan yang harus kulanjutkan lagi. Hal itu semacam perhentian-perhentian atau pos-pos kehidupan yang hanya untuk sementara saja kusinggahi. Itulah mengapa aku kadang gelisah dan hilang kemapanan.

(Ditulis pada hari Selasa, 18 Juni 2013 di gudang buku Ladang Anggur TUHAN di Yogyakarta)

Minggu, 16 Juni 2013

Asa Sakit

Asa sakit. Aku malah tertidur lama. Syukurlah ada ibu yang masih sigap menolong. Tapi, tetap saja ini tidak baik. Secara wang sinawang pun tidak. Bukankah aku adalah ibunya Asa? Seharusnya, akulah yang ambil tanggung jawab terbesar untuk menolong dan menghibur Asa, bukannya melimpahkannya pada ibu dan Lek Sar. Meskipun, aku menginap di Pelem Kecut dan di sini adalah kesempatanku untuk beristirahat dari capeknya mengasuh bayi. Aku kudu mengingat kembali janji dan komitmen yang pernah kubuat perihal tugas dan tanggung jawabku sebagai ibu. Aku pernah berjanji pada TUHAN untuk menjadi ibu bagi Asa dengan segala hak dan kewajiban istimewanya. Itu berarti, aku harus siap kehilangan jam-jam tidurku yang nyaman itu. Aku harus rela mengantuk ria manakala Asa rewel minta digendong saat hari sudah larut malam atau masih dini hari. Selama ini, aku masih terlalu mengandalkan kehadiran dan kesediaan mereka-mereka yang ada di dekatku untuk menolong Asa. Syukur masih ada, kalau sudah tidak ada bagaiamana? Sebelum kena batunya, aku mau bertobat terlebih dahulu. Ya, aku bertobat dari kemalasan dan keenggananku untuk menolong Asa. Aku akan kerahkan segenap kekuatan dan kemampuanku, sebisa mungkin, untuk menjadi ibu yang dapat dibanggakan oleh Asa. Kapan? Sekarang! Bukan besok, bukan nanti.

Sekarang Asa lagi tidur, kecapekan setelah semalaman menangis kesakitan. Dalam tidurnya Asa ini, aku akan lebih sering berada di dekatnya untuk siap siapa terhadap semua kebutuhannya. Ini kulakukan bukan karena takut dimarahi atau dicap sebagai ibu yang tidak becus mengurus anak, melainkan karena aku mengasihi TUHAN dan Asa. Aku mengasihi TUHAN karena aku lebih dahulu dikasihi-Nya. Aku memerlukan anugerah TUHAN untuk bisa menjadi seperti yang TUHAN mau, termasuk menjadi ibu yang baik. Oleh karena itu, cukuplah tulisan ini sampai sekian. Aku akan segera melaksanakan tugasku.

Asa, ini ibu datang! Selamat tidur, selamat istirahat! Sembuh ya, Nak! TUHAN memberkati!

Sabtu, 15 Juni 2013

Utusan Khusus dengan Tugas Khusus

Perasaan atau kesadaran bahwa diri kita adalah 'utusan khusus' dan memiliki 'tugas khusus' itu penting. Hal ini menjadi motivasi intrinsik yang mendorong kita untuk menjalani hidup yang lebih bermakna. Dengan menumbuhkan kesadaran bahwa diri kita adalah benar-benar 'utusan khusus' dari surga atau Kerajaan Allah, kita akan memiliki rasa kebanggaan akan identitas. Kita akan merasa dimiliki. Kita akan dengan mudah mengeyahkan perasaan terasing atau terhilang.

'Tugas khusus' yang kita emban sanggup mendorong kita untuk bekerja di atas rata-rata, tidak biasa-biasa saja. Setiap hari, kita dapat memperbarui atau membentuk ulang 'tugas khusus' kita untuk membuat rutinitas sehari-hari menjadi lebih menantang. Misalnya, tugasku sebagai dokter yang ditempatkan di bagian rekam medis dan piutang ini. Karena setiap hari berkutat dengan hal-hal administratif yang tidak bersentuhan langsung dengan pasien, aku rawan untuk terserang rasa bosan dan disorientasi tujuan. Apalagi jika terlalu banyak atau terlalu sedikit tugas yang harus kukerjakan. Idealnya adalah cukup pekerjaan rutin untuk memberiku kesempatan mengembangkan potensi diri melalui hal-hal yang kusukai. Namun, sering kondisi ideal itu tidak terjadi. Ketika hal ini menimpaku, aku disodori pilihan-pilihan seperti hanyut larut dalam rutinitas sehingga melupakan orientasi mengembangkan potensi diri, atau tetap fokus pada tujuan dan hasrat semangat untuk menemukan jati diri dan mengusahakannya terbentuk sebagaimana mestinya. Karena TUHAN menganugerahi kehendak bebas, maka dengan penuh tangguh jawab, aku memilih untuk mereorientasikan ulang diriku manakala badai disorientasi tujuan itu melanda. Berbagai hal aku lakukan untuk membuatku tetap terjaga dan terfokus pada jati diri dan tujuan hidup yang TUHAN tetapkan.

Dengan meminta, mencari, dan mengetok, aku berusaha terus mendapatkan dan mempertahankan orientasi yang benar bagi diriku. Aku harus senantiasa mengingat, eling lan waspada, bahwa diriku adalah 'utusan khusus' dari Kerajaan Allah dan 'tugas khusus'-ku adalah berdiri teguh di mana TUHAN menempatkanku sampai kerajaan-Nya datang dan kehendak-Nya jadi di bumi seperti di surga.

Jumat, 07 Juni 2013

Metanoia


Ternyata aku masih melakukan metawork hari ini. Apa itu metawork? Dari bacaan spirit motivator dua hari yang lalu, metawork diartikan sebagai seolah-olah melakukan suatu pekerjaan padahal sebenarnya hanya pekerjaan semu. Dengan kata lain, metawork adalah nampaknya saja sedang bekerja tapi sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa. Tampaknya aku sedang sibuk berpikir dan menulis-nulis sesuatu, padahal sebenarnya apa yang kupikirkan dan kutuliskan itu tidak relevan dengan kehidupanku. Benarkah demikian? Tidak juga. Dalam berpikir itu, aku sedang berproses mencari dan belajar. Aku sedang mencari tahu kembali apa yang menjadi passion hidupku. Berarti selama ini aku ngapain aja? Terlalu sibuk dengan apa? Aku terlalu sibuk dengan hal-hal yang sekunder dan tersier mungkin. Aku terlalu asyik berlari ke sana ke mari tanpa mau berhenti untuk menekuni apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabku. Aku mungkin belum kena batunya lagi. Tapi apakah harus menunggu sampai kena batunya dulu baru aku sadar diri? Jawaban klisenya adalah TIDAK. Dari jawaban sangat klise itulah aku harus mencetaknya sehingga menjadi gambar warna-warni sejati yang indah.

Baiklah, aku cukupkan sekian untuk metaparagraf di atas. Sekarang aku harus masuk ke pokok masalah yang sebenarnya. Apa yang sebenarnya hendak kutulis di sini? Sekedar ingin membuktikan diri bahwa aku bisa menulis? Untuk mendapat pengakuan bahwa tulisanku bagus? Jawaban klise berikutnya adalah TIDAK. Mengapa aku suka menulis? Aku suka menulis karena dengan menulis itu aku bisa mendapat kelegaan. Sewagu maupun sebagus apapun tulisanku, aku tidak terlalu ambil pusing. Bagiku, merangkaikan kedua puluh enam alfabet adalah seperti permainan yang mengasyikkan. Melihat mereka tesusun berderet-deret menjadi larik-larik yang rapi dan terbaca itu membuatku terhibur. Rasanya seperti minum obat penenang jiwa. Bisa dikatakan, menulis adalah semacam katarsis bagi jiwa yang kalut oleh kerumitan filosifos eksistensialisme diri. Dan kesenangan itu hampir saja terdistorsi akibat penghargaan-penghargaan kecil yang membuatku hampir lupa diri. Aku hampir lupa bahwa menulis adalah kesenangan tanpa perlu diembel-embeli hadiah ataupun trofi. Menulis adalah kesukaan tanpa harus dikotori oleh keinginan menjadi juara atau yang terbaik. Menulis akan kehilangan keasyikannya jika aku tejebak dalam jerat kompetisi yang tiada akhirnya. Hal ini sebangun dengan kesenangan belajar yang terdistorsi oleh keharusan mencapai prestasi akademik yang gemilang. Aku pernah terjebak di dalam arus zaman itu, dan hampir saja aku terjebak kembali dalam jerat yang sama.

Tuhan layak menerima ucapan syukurku karena telah menegur dan mengingatkanku dengan cara yang lembut tapi tetap terasa sakit. Ya, namanya juga pemangkasan. Cabang kesombongan dan lupa diri yang baru mulai tumbuh itu dipangkas-Nya tanpa tedeng aling-aling. Sakit memang, dan biar sakit, supaya aku tidak terjatuh dalam belitan kesombongan lagi. Memang pada waktu dipangkas, rasanya sakit dan perih, tapi setelah beberapa waktu luka itu menyembuh. Cabang kesombongan diganti dengan tunas kerendahan hati yang sedang bertumbuh dengan manisnya. Disirami dengan air kehidupan yang murni dan sejuk segar, menjadikannya bertumbuh dengan optimal. Hatiku jadi bisa belajar dengan sebagaimana mestinya kembali. Hal-hal kecil dan sederhana menjadi bahan pelajaran yang memberkatiku dengan hikmat dan pengetahuan tiada terkira. Tuhan patut kuberi ucapan terima kasih seribu atas tindakan-Nya yang tepat dan cepat itu. Dan akhirnya, Tuhan layak menerima segala kemuliaan dan hormat dari lubuk hatiku yang paling dalam.

Memulai dan Menemukan Tujuan

Saat yang paling terasa berat adalah saat memulai sesuatu, misalnya saat hendak membaca, menulis, belajar, bekerja, dll. Rasanya seperti ada halangan tak terlihat yang menahan kita untuk sekedar beranjak dari stadium diam. Belum lagi jika stadium diam itu adalah kondisi jiwa terendah alias malas berbuat apa-apa. Diperlukan lompatan iman yang diikuti perbuatan yang nyata untuk merobohkan hambatan tak terlihat itu. Jika hanya lompatan iman, maka tidak akan terjadi apa-apa. Betul apa kata penulis Alkitab (kitab Yakobus) yaitu bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati. Untuk memulai sesuatu saja dibutuhkan iman dan perbuatan, apalagi untuk meneruskan secara konsisten sampai selesai.

Sesungguhnya, apa yang membuat kita malas dan tidak bersemangat? Mungkin itu karena kegagalan dalam menemukan passion yang tepat bagi jiwa. Hidup jadi asal mengalir saja, tanpa tujuan yang pasti. Kehidupan jadi tampak semu, karena hanya merupakan tiruan saja dari kehidupan sejati. Jika dibiarkan berlarut-larut, maka kita berangsur-angsur akan terjatuh (lagi) dalam jurang depresi yang kelam. Lalu bagaiamana? Apa yang harus kita lakukan? Berhenti, amati, renungi, resapi, dan dapatkan kembali semangat jiwa kita! Lawanlah kemalasan itu! Jangan menyerah! Kita belumlah kalah! Percayalah! Meskipun belum terlihat ujungnya, setidaknya kita tidak terjebak dalam kubangan depresi yang melumpuhkan.

Sesaat sebelum memulai sesuatu adalah saat yang paling berat. Tapi begitu sudah dimulai dan dijalankan, entah itu membaca, menulis, belajar, dan bekerja, rasa malas dan berat tahu-tahu sudah hilang entah ke mana. Yang ada hanyalah perasaan ringan seperti kereta api meluncur di atas relnya. Rasanya ingin terus menerus berlangsung, tidak ingin berhenti. Mungkin hukum kelembaman dan momentum berlaku di sini. Kita cenderung untuk mempertahankan kondisi kita saat ini, entah itu diam atau bergerak. Apapun itu, bergerak lebih baik daripada diam dalam kekelaman.

Setelah bergerak, satu hal yang harus kita lakukan adalah menentukan tujuan. Jika kita asal bergerak, kita hanya terjebak lagi dalam arus putaran waktu yang tidak menuju ke mana-mana. Kita hanya akan kehabisan tenaga dan hidup sia-sia. Aku mengistilahkannya sebagai hidup yang sia-sia. Oleh karena itu, diperlukan pikiran yang senantiasa terjaga dan awas. Pikiran yang terjaga itu akan mencari terus tujuannya sampai ketemu. Tujuan itulah yang menjadi dasar gerak kehidupan kita. Hidup menjadi penuh gairah, tidak lagi sia-sia.

Ada di manakah kita saat ini? Diam? Bergerak? Sudahkah kita menemukan tujuan kita? Sudahkah kita memulai melakukan sesuatu? Sudahkah pikiran kita hidup dan waspada?

Kamis, 23 Mei 2013

Avatar


Saya senang mengikuti cerita Avatar-The Legend Of Aang maupun Avatar-The Legend of Korra. Cerita yang dikemas dalam serial animasi dua dimensi yang sangat sarat akan hikmat dan pengetahuan. Di situ diceritakan tentang adanya manusia-manusia tertentu yang memiliki kemampuan mengendalikan empat unsur alam, yaitu air, udara, api, dan bumi/tanah. Biasanya satu orang hanya mampu menguasai salah satu unsur. Sedangkan yang dinamakan dengan “avatar” adalah orang yang menguasai keempat unsur tersebut. Avatar akan terus muncul dalam setiap generasi manusia. Meskipun pribadi-pribadi avatar itu berbeda-beda, mereka punya keterhubungan dengan avatar-avatar di masa lalu. Tugas utama avatar adalah menjaga keharmonisan dunia (nyata dan roh).
                Dalam kepercayaan tertentu, avatar diartikan sebagai orang yang menjadi titisan dari pribadi yang lebih unggul seperti dewa-dewi. Avatar menjadi penghubung antara manusia dengan roh yang dihormati. Berbagai macam manusia muncul dan dianggap sebagai avatar atau jelmaan dewa. Bahkan, Yesus sendiri, oleh beberapa aliran kepercayaan, dianggap pula sebagai salah satu avatar yang pernah ada di muka bumi ini.
                Lepas dari unsur kepercayaan yang berseberangan dengan iman Kristen, saya ingin menyampaikan sedikit perenungan yang timbul dari hasil menonton film seri Avatar tersebut di atas. Sebagai orang yang percaya kepada TUHAN, saya memandang bahwa orang-orang yang dimiliki dan memiliki Tuhan Yesus itu adalah avatar hidupnya Tuhan Yesus. Maksudnya, setiap kita yang telah tinggal di dalam Tuhan Yesus merupakan perwakilan atau perwujudan dari tubuh Kristus di tengah dunia yang mendambakan keharmonisan hidup. Dengan Roh Kudus yang ada dalam diri kita masing-masing, kita dituntun untuk mewujudkan keharmonisan tersebut. Harmonis ini berarti damai dengan TUHAN, damai dengan diri sendiri, damai dengan sesama, dan damai dengan lingkungan (alam) sekitar kita. Jika dalam film sang avatar itu menguasai empat elemen, maka kita pun dapat dikatakan memiliki sifat seperti keempat elemen tersebut. Api yang melambangkan semangat yang berkobat-kobar untuk melayani TUHAN, air yang bersifat lembut dan memiliki daya untuk menyembuhkan, angin yang lincah dan dinamis, serta bumi atau tanah yang teguh dan kokoh berdiri.
                Dalam syair pujian di Kidung Jemaat 60 bait 2, 3, dan 4, dijelaskan dengan indah bagaimana keempat unsur alam tersebut dapat memuliakan TUHAN. Di sana dikatakan bagaimana angin hebat menderu, membawa awan-awan yang berarak. Sebagai avatar Tuhan Yesus, kita memiliki sifat seperti angin yang tidak kelihatan namun dapat dirasakan secara nyata dampak perbuatannya. Diceritakan pula tentang air murni dan jernih yang berguna untuk menawarkan rasa haus dan dapat membersihkan (hati/jiwa). Kita sebagai avatar Tuhan Yesus pun dapat memberi kelegaan kepada jiwa-jiwa yang begitu haus akan TUHAN. Dikatakan bahwa api bersifat menghangatkan, menyenangkan, gagah, periang, dan tenang. Begitu pula kita sebagai avatar Tuhan Yesus, semestinya kita bisa menghangatkan suasana yang dingin di mana pun TUHAN menempatkan kita. Dan terakhir, sifat bumi yang digambarkan bagaikan ibu pertiwi yang melimpah dengan anugerah, menjadi tempat tumbuhan untuk hidup, berbunga dan berbuah lebat. Kita sebagai avatar Tuhan Yesus juga bersifat dapat menumbuhkan kehidupan yang semarak di samping sifat kokoh dan teguh seperti gunung batu.
                Tugas menjadi avatar seperti yang digambarkan dalam tokoh Aang maupun Korra memang tidak mudah. Avatar menjadi tumpuan dan harapan manusia-manusia, baik itu yang mempunyai kemampuan mengendalikan unsur alam maupun yang tidak. Avatar dituntut untuk bersikap adil dan membawa kedamaian di mana pun dunia membutuhkannya. Tokoh Aang pernah melarikan diri dari tugas dan panggilannya sebagai avatar sehingga untuk beberapa waktu dunia kehilangan kedamaian dan keharmonisan yang didambakannya. Dan ketika Aang kembali, dia harus membayar mahal untuk mengembalikan keseimbangan dan keharmonisan hidup dunia. Tokoh Korra pun juga menghadapi masalah yang tidak kalah peliknya. Dia harus menjaga kedamaian antara manusia-manusia pengendali unsur dengan manusia-manusia non pengendali.
                Sebagai manusia milik TUHAN, kita diperlengkapi dengan kasih dan kuasa Roh Kudus untuk bisa menjalankan tugas dan kewajiban kita layaknya tokoh avatar di mana pun TUHAN menempatkan kita. Sebagai apapun kita, sudah selayaknya kita menjadi pendamai dan penjaga kedamaian. Perkataan Tuhan Yesus pun menjadi dasar dan panduan kita sebagai juru damai, yaitu berbahagialah mereka yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Oleh karena itu, janganlah kita berkecil hati atau bersikap pesimistik menghadapi kondisi dunia yang gelap dan carut marut ini. Justru di tengah kegelapan itulah sinar terang TUHAN yang ada pada kita sangat dibutuhkan. Janganlah kita lari dari tugas dan tanggung jawab kita sebagai “avatar”. Karena jika kita sembunyi, dunia akan semakin kacau dan gelap. Mari kita bersama-sama maju sebagai “avatar”. Bukan dengan kuat dan gagah kita, melainkan dengan kuat kuasa Roh Kudus yang telah dicurahkan dalam diri kita masing-masing.

(Dipublikasikan di majalah Bahana bulan Mei 2013)

Senin, 29 April 2013

Suamiku Sahabatku



                Orangnya lucu, humoris, penuh canda tawa. Setiap ucapan dan gerak-geriknya acap kali mengundang tawa geli meskipun ia tidak pernah bermaksud melucu. Dialah Mas Cah, sang suami, pasangan hidupku yang dianugerahkan TUHAN kepadaku. Nama lengkapnya Cahyono Satriyo Wibawa. Nama panggilannya ada macam-macam, tergantung siapa yang memanggil. Di lingkungan keluarganya, dia biasa dipanggil dengan nama Bowo. Di lingkungan pekerjaannya, dia sering dipanggil sebagai Caca. Beberapa temannya memanggilnya dengan sebutan Mas Cah. Bahkan, salah seorang teman di dunia maya memberinya julukan baru “Ayok”. Ibuku malah memanggilnya dengan julukan “Cahaya”. Aku sendiri sering berubah-ubah memanggilnya. Kadang-kadang aku memanggilnya “Mas Cah” seperti beberapa temannya biasa memanggil. Tapi sering sekali aku memanggilnya dengan sebutan “popo”, pelesetan dari kata “papa”. Jika Krisdayanti dulu memanggil mantan suaminya, Anang, dengan sebutan “pipi” maka aku pun tidak mau kalah memanggil suamiku sendiri dengan sebutan “popo”. Namanya juga panggilan sayang. Harus unik dan beda.
                Cerita perkenalanku dengan Mas Cah terbilang lucu dan unik. Kami berkenalan melalui situs jejaring sosial Facebook. Sebelumnya, kami sama sekali belum pernah kenal. Ceritanya begini. Alkisah, seorang temanku sedang siaran acara bincang kesehatan di sebuah stasiun radio swasta Yogyakarta. Mas Cah waktu itu masih karyawan tetap di sana, bagian teknisi elektroniknya. Obrol punya obrol, Mas Cah berkenalan dengan temanku dan saling bertukar facebook. Mas Cah meng-“add” temanku itu dan pertemanan di jejaring sosial pun dimulai. Karena temanku jarang “online”, maka bosanlan Mas Cah. Maka, Mas Cah pun mencari tahu siapa saja teman-teman dari temanku itu. Ketika sampai kepada namaku, maka tertariklah Mas Cah dengan keindahan namaku, yaitu Yohana. Iseng-iseng, Mas Cah pun mengajakku berteman di facebook. Gayung bersambut. Aku yang memang hobi berselancar di jejaring pertemanan itu, dan mumpung lagi libur setelah selesai koas, menjadi teman “chatting” Mas Cah. Setiap hari selalu kuganggu dia dengan sapaan isengku yang berujung obrolan super lucu. Lama kelamaan, tumbuhlah perasaan sayang di antara kami. Singkat cerita, kami pun kopi darat, sering ketemu, dan menikah setelah mendapat restu dari orang tua kami masing-masing.
                Setelah menikah, persahabatan di antara kami tetaplah terjalin dengan indah dan manis sekali. Mas Cah selalu mengisi hari-hari kami dengan penuh sukacita meskipun kadang-kadang juga ada rasa gemas dan kesal melihat sikapku yang sering kurang dewasa. Tidak jarang Mas Cah menegurku dengan tegas tapi tetap lembut jikalau aku sedang kumat malasnya. Mas Cah yang sudah lulus camp Pria Sejati itu benar-benar mempraktekkan ilmu yang sudah didapatkannya dalam kehidupan keluarga kami. Memang Mas Cah tidak banyak bicara yang muluk-muluk atau pandai mengartikulasikan pengetahuan rohaninya. Tapi sikap hidupnya menyatakan dengan gamblang bagaimana spiritualitasnya yang telah matang dan teruji itu. Menurut pengamantanku, Mas Cah adalah orang yang mengenal TUHAN dengan baik dan sangat mengasihi-Nya, yang semuanya itu terintegrasi dalam sikap hidupnya sehari-hari. Yang paling kusukai dari Mas Cah adalah kesediaannya untuk banyak mendengarkan orang lain, termasuk mendengarkan semua keluh kesahku.
                Pekerjaan kami memang berbeda. Aku berprofesi sebagai dokter sedangkan Mas Cah berprofesi sebagai teknisi elektronik. Tapi ada satu hal yang menyatukan kami dan membuat kami cocok sejak dari pertama kali berkenalan. Hal itu adalah kegemaran kami akan musik-musik rohani yang berkualitas. Aku yang lumayan melek musik dan bisa sedikit memainkan piano dan segala sesuatu yang berbentuk kibor ini sangat terbantu oleh kepekaan Mas Cah akan musik yang bagus dan enak didengar itu. Referensi Mas Cah dan referensiku akan musik saling melengkapi satu sama lain. Sehingga, bahasa kedokteran dan kelistrikan yang lumayan jauh berbeda itu dapat disatukan dengan bahasa musik yang universal. Aku sungguh bersyukur untuk hal ini.
                Satu hal lagi yang membuatku amat terberkati dengan menjadi pasangan hidup Mas Cah yaitu adalah kebiasaan berdoa bersama. Aku sangat senang mengajak Mas Cah untuk berdoa bersama atau merenungkan firman TUHAN bersama. Aku sering meminta Mas Cah untuk memimpin doa, baik itu doa makan, doa pagi, doa malam, maupun doa persiapan pergi kerja. Bahasa yang digunakan Mas Cah sewaktu berdoa begitu sederhana. Tapi, justru dalam kesederhanaan bahasa itulah aku merasakan ketulusan yang tidak dibuat-buat oleh Mas Cah manakala menghadap TUHAN. Memang sudah menjadi kebiasaanku untuk menilai hubungan seseorag dengan TUHAN dari bahasa doanya. Ada orang yang begitu formal jika menghadap TUHAN, ada yang santai namun mesra, ada pula yang sederhana tapi tetap sopan. Dan dari semuanya itu, aku bersyukur memilih Mas Cah yang sederhana dalam hubungannya dengan TUHAN sebagai pasangan hidupku.
                Sampai sejauh ini, aku belajar untuk senantiasa mengekspresikan rasa cinta, hormat, dan sayangku kepada Mas Cah dengan cara-cara yang unik dan kreatif. Kadang kala aku menuliskan surat untuknya, kadang pula aku mengiriminya gambar hati. Lebih sering aku mendoakannya atau berdoa bersama Mas Cah. Yang lebih penting, bahasa kasihku terutama berupa sikap hormatku sebagai istri terhadap suaminya sebagai gambaran dari mempelai perempuan Kristus terhadap mempelai Prianya, yaitu Kristus sebagai kepala jemaat. Aku belajar untuk menjaga kekudusan hati dan pikiranku tetap setia dan mengasihi Mas Cah dengan setulus hati, sama seperti jemaat yang terus menjaga kekudusannya dalam menantikan kedatangan Sang Mempelai Agung, Yesus Kristus, yang kedua kalinya. Itulah yang kupelajari selama aku mengenal dan hidup bersama Mas Cah. Haleluya!

(Rumah Cahaya, Senin 29 April 2013)
                

Didengarkan dan Dimengerti sebagai Wujud Terapi

Dari pengalamanku selama ini mengontrolkan diri setiap bulan untuk kondisi kejiwaanku, aku mendapati bahwa aku sangat senang jika diperlakukan sebagai manusia seutuhnya oleh sang terapis (psikiater), dan bukan hanya sebagai diagnosa berjalan. Selama ini sudah terhitung tiga orang psikiater yang menanganiku. Psikiater pertama adalah teman kuliah bapakku. Beliau adalah tokoh terkenal yang sering menulis di koran. Tulisannya bagus-bagus. Sayangnya, aku kurang bisa mempercayai beliau karena beliau pun tidak bisa mempercayaiku. Setiap kali memeriksakan diri, aku mendapati bahwa beliau tidak pernah mempercayai setiap ucapanku, meskipun mungkin memang banyak ucapanku yang tidak relevan. Beliau hanya berkutat pada diagnosa dan terapi tanpa pernah mengajakku berbicara secara personal sebagai manusia seutuhnya. Walhasil, aku bersikap defensif terhadap setiap langkah terapetisnya. Aku malas minum obat-obat resepannya yang sebagian besar hanya membuatku mengantuk dan tidak bisa melakukan aktivitas apapun.

Terapis atau psikiater kedua terbilang cukup manusiawi karena beliau setidaknya mau mendengarkan aku. Begitu juga psikiater ketiga. Aku sangat meghargai mereka atas kesediaan mereka menjadi pendengar itu. Mereka tetap menganalisaku dan mengdiagnosa serta menerapi aku dengan obat-obatan, tapi ada nilai lebih dari sikap mereka yang membuatku bisa menghormati mereka. Jika aku ada di posisi mereka, mungkin aku akan lebih bersikap empatik lagi dan lebih menunjukkan sikap mempercayai pasien tanpa harus kehilangan dasar berpijak sebagai profesional. Tapi yang terutama, sentuhan personal itu jauh lebih penting dan bermanfaat daripada tampilan profesional.

Sebagai seorang yang didiagnosa manik bipolar, aku bisa merasakan bagaimana disalahpahami dan tidak dimengerti sepenuhnya oleh sesamaku manusia. Tapi seiring berjalannya waktu, aku belajar bahwa menjadi orang yang tidak dipahami sepenuhnya itu bukanlah akhir dunia. Meskipun tidak ada yang memahamiku, aku dihibur dengan kebenaran bahwa ada Satu Pribadi yang mengenalku dengan sangat biak, melebihi orang-orang yang terdekatku bahkan diriku sendiri sekalipun. Pribadi itu adalah TUHAN yang aku panggil Bapa dalam doaku yang kusembah dalam nama Yesus Kristus. Tuhan Yesus adalah sang terapis atau psikiater sejati yang paling tahu kondisiku dan bagaimana menanganiku. Aku mempercayakan seluruh jiwaku kepada-Nya. Jika Ia mengizinkanku untuk ditangani oleh psikiater yang juga takut akan Dia, maka aku pun belajar untuk beriman dan bersandar pada hikmat-Nya yang luar biasa. Tuhan Yesus pasti mencurahkan himat-Nya kepada psikiater yang menanganiku itu karena aku adalah anak-Nya.

Selain dipahami dan dimengerti, aku pun belajar memahami dan mengerti terhadap psikiater yang menanganiku. Aku belajar untuk menghormati setiap keputusannya dalam menilai dan menerapi perkembanganku. Aku bersyukur karena beliau terbuka terhadap setiap pertanyaan-pertanyaanku. Setiap pertanyaanku selalu dijawabnya dengan baik. Tidak segan-segan beliau berbagi cerita tentang pengalamannya. Tidak jarang kami berdiskusi mengenai berbagai hal berkaitan dengan pekerjaan dan prospekku dalam melanjutkan pendidikan. Aku bersyukur karena menurut beliau, perkembanganku termasuk baik. Oleh karena itu, aku pun bertekad untuk menjalani terapi dengan sebaik-baiknya supaya aku tetap dapat menjadi berkat yang efektif bagi sekelilingku.

Kiranya perjalananku mengarungi samudera jiwa ini dapat menjadi kesaksian yang hidup yang memberkati siapa saja yang melihat dan mendengarnya. Haleluya!

Sabtu, 27 April 2013

Bersyukur Atas Stigma

Mungkin ini saatnya aku kembali bercerita tentang hidupku, yang jarang sekali kuungkapkan, kecuali kepada orang-orang yang sungguh-sungguh kupercaya. Ini tentang kondisi kejiwaan yang ada padaku sejak usia remaja. Mungkin juga sudah ada yang tahu dan maklum akan keadaan yang aku alami. Tapi izinkan di sini aku untuk menceritakan kembali dengan bahasaku yang semoga dapat mudah dimengerti. Baiklah, kita mulai saja ya.

Aku menerima bahwa diriku didiagnosa gangguan manik bipolar. Sejak kapan tepatnya aku tidak begitu ingat. Tapi aku hanya ingin menekankan bahwa aku bersyukur dengan keadaan yang menurut pandangan umum dianggap sebagai stigma ini. Ya, stigma. Stigma sebagai orang yang 'gila', tidak waras, tidak normal, tidak umum. Aku menerima dengan rasa syukur segala macam stigma itu. Malah, aku cukup bangga dengan dianggap sebagai orang yang tidak umum, karena itu berarti aku bukanlah orang pasaran. Itu berarti ada nilai keunikan dan kehususan yang ada padaku, yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang pada umumnya. Sikap ini pun aku jaga betul supaya tidak pula terjerumus dalam kesombongan, karena kesombongan adalah awal kejatuhan dan kehancuran. Cukuplah aku mengembangkan sikap bersyukur atas keunikan diriku ini.

Ilmu kedokteran jiwa hanya menyebutkan ciri-ciri dari suatu gangguan jiwa tanpa menghakimi bahwa hal itu adalah dosa. Kitalah manusia religius yang kerap kali menjatuhkan penghakiman terhadap orang yang sudah terstigmatisasi. Salah satunya adalah stigma 'gila' bagi semua orang yang pergi ke psikiater untuk mendapatkan pertolongan. Sudah sekian lama aku tidak lagi merasa terstigma, meskipun stigma itu mungkin masih diberikan oleh beberapa orang, manakala aku datang ke psikiater untuk kontrol. Rahasia dari sikap santai dan enjoy itu adalah "tidak menstigma diri sendiri dan tidak menstigma orang lain". Rumusan sikap itu aku dapatkan dari tulisan seseorang di blognya. Dengan tidak menstigma diri sendiri, aku terbebas dari sikap menyesali diri yang berlebihan. Dengan tidak menstigma orang lain, aku terbebas dari sikap menghakimi orang lain dengan tidak adil.

Satu hal yang menjadi penghiburanku adalah bahwa aku tidak sendirian sebagai orang yang terlah terstigma. Di dunia yang fana ini, ada banyak orang lain juga yang telah terstigma oleh kondisi mereka masing-masing. Ada yang terstigma karena sakit kronis seperti kanker, ada yang terstigma karena sakit yang belum ada obatnya seperti HIV/AIDS, ada yang terstigma karena kesalahan mereka sendiri seperti menjadi hamil di luar nikah, menjadi orang tua tunggal, dsb. Ini memberiku pemahaman bahwa aku tidak sendirian dalam menanggung beban stigma. Satu lagi yang paling menghiburku adalah bahwa Yesus Kristus sendiri telah menanggung stigma di antara segala stigma, yaitu mati disalib. Salib pada waktu itu adalah suatu bentuk hukuman yang paling kejam dan siapapun yang tergantung di sana distigma sebagai seseorang yang paling malang, berdosa, dan terkutuk. Yesus Kristus terstigma sebagai seorang yang menghujat TUHAN, karena menyatakan bahwa diri-Nya adalah Pribadi TUHAN itu sendiri, meskipun kebenarannya memang demikian. Dengan tekun Ia memikul stigma itu dengan keyakinan penuh bahwa yang dilakukan-Nya adalah tidak sia-sia. Jika dibandingkan dengan yang dialami-Nya, stigma yang kualami masih belum ada apa-apanya. Aku masih belum sampai mencurahkan darah sampai mati. Aku baru sebatas mengalami 'mati karakter dan reputasi'. Mungkin juga tidak, mungkin karakter dan reputasiku masih belum dimatikan. Jadi, aku patut bersyukur amat sangat untuk kondisiku ini.

Dengan pengalaman ini, aku bisa mengambil pelajaran berharga. Aku belajar untuk lebih bisa bersyukur dan menikmati keadaan tanpa harus menjadi minder atau sombong. Aku belajar untuk lebih bisa berempati dengan sesama yang mengalami masalah yang serupa atau lebih berat. Aku belajar untuk meringankan beban hati dan pikiran dengan cara berbagi seperti ini. Kiranya apa yang kubagikan ini dapat bermanfaat, menginspirasi, dan memotivasi kita semua untuk lebih lagi bersyukur atas hidup kita. Bukankah hidup ini indah, kawan?

Selasa, 16 April 2013

Bapakku yang Baik


                Bapak, atau ‘pak’, demikian aku memanggil ayahku. Bapak adalah seorang ayah yang menjalankan fungsinya dengan luar biasa baik. Beliau selalu berusaha menjadi suami dan ayah yang baik dengan perbuatan yang nyata. Kata-kata verbalnya memang irit dan cenderung minimal. Tapi itulah bapakku. Jika sudah asyik bekerja, lupalah beliau akan keharusan untuk berkata-kata atau bercakap-cakap. Pekerjaan sehari-harinya adalah membersihkan dan merapikan rumah dengan segala isinya. Setelah rumah beres dan bersih, barulah beliau berangkat ke kantor atau tempat kerjanya di rumah sakit ladang TUHAN di Yogyakarta. Kebiasaan uniknya ini kadang membuat ibuku gemas dan kesal karena adanya perbedaan prinsip dan pendirian. Maklum, ibuku lebih suka datang pagi-pagi tepat waktu sedangkan bapakku lebih suka datang santai tanpa mengikuti aturan jam kantor.
                Nama panggilan bapak di rumah maupun di kantor adalah sama, yaitu Erry. Lengkapnya Erry Guthomo. Beliau berprofesi resmi sebagai dokter spesialis anestesi. Pekerjaan profesionalnya adalah membantu membius dan menstabilkan kondisi fisik pasien yang dioperasi. Pekerjaan personalnya adalah menjadi ayah, suami, dan teman yang baik bagi keluarga dan teman-temannya. Dilahirkan sebagai anak pertama dari tujuh bersaudara membuat bapakku terkondisi untuk selalu bersikap dewasa. Apalagi setelah ditinggal oleh ayahnya, yaitu kakekku, yang meninggal waktu peristiwa G 30 S tahun 1965 dulu itu. Praktis, tugas sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap terhadap ibu dan keenam adiknya menjadi tugas wajib yang harus dipikul sepenuhnya oleh bapakku yang waktu itu baru kelas enam sekolah dasar. Menjadi dewasa secara dini, itulah yang terjadi dalam diri bapakku.
                Sikap bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam diri dan sekitarnya telah terpatri sedemikian rupa dalam jiwa bapakku. Hal ini tampak dari sikap beliau ketika bekerja di ladang TUHAN. Tidak peduli seberapa pun capek dan lelahnya, jika memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya untuk berjaga, maka tugas itu dilakukannya tanpa protes atau mengeluh. Yang ada hanya semangat untuk melakukan pekerjaan dengan murni dan konsekuen. Ya, murni dan konsekuen, sama seperti penghayatan akan nilai-nilai Pancasila yang merupakan jiwa bangsa Indonesia. Bapakku memang seorang Pancasilais sejati, itu yang selalu beliau tekankan. Beliau selalu mengedepankan nilai-nilai toleransi dalam kebersamaan hidup sehari-hari. Bisa dimaklumi karena beliau tumbuh dan berkembang sebagai anak seorang tentara yang sangat setia kepada bangsa dan negara. Jiwa yang penuh semangat bela negara kakekku itu sepertinya diwarisi dengan segala kepenuhannya dalam diri bapakku. Meskipun sebagai dokter sipil, sikap dan gerak-gerik bapakku terlihat lebih tegap dan gagah jika dibandingkan oleh dokter militer.
                Mekipun minim kata, aku tahu bahwa bapakku sangat menyayangiku. Itu terbukti dengan sikap dan kebiasaan unik beliau dalam menunjukkan kasih dan perhatiannya. Bagi orang lain yang melihatnya, mungkin mereka beranggapan bahwa bapakku adalah pribadi yang angker dan menakutkan. Tapi bagi kami yang mengenalnya, bapakku adalah orang yang lucu, humoris, dan tidak terduga. Bapakku suka memberi kejutan. Jika hatinya sedang berkenan, spontan saja beliau akan memberikan sesuatu tanpa diminta. Sering sekali aku diberinya uang atau barang yang nilainya tidaklah kecil hanya karena beliau memang ingin memberi. Padahal, aku tidak pernah meminta kepada beliau. Sifat bapak yang suka memberi ini memberikanku gambaran yang nyata akan sifat TUHAN sebagai Jehova Jireh, TUHAN yang menyediakan. Sehingga, aku tidak pernah punya perasaan kuatir akan kekurangan apa pun. Aku bersyukur karena figur bapak sebagai ayahku telah dipulihkan sehingga pandanganku akan Bapa di surga pun menjadi tidak terdistorsi. Ini semua karena anugerah TUHAN.
                Sebagai anak yang baik, aku pun ingin menyenangkan hati bapakku. Karena bapakku juga bukan orang yang menyukai sesuatu yang NATO (no action talk only), maka aku pun bertekad hati untuk tidak menjadi pribadi yang demikian. Aku bertekad hati untuk menjadi pribadi yang satu antara kata dan perbuatan. Aku belajar dari bapakku untuk tidak mudah membual atau meninggikan diri dengan berkata-kata indah. Sebaliknya, aku belajar untuk bersikap sepi ing pamrih rame ing gawe yang berarti melakukan segala sesuatu tanpa banyak sesumbar. Dari bapakku pulalah aku belajar menilai pribadi orang lain. Karakter dan kepribadian seseorang nampak terutama bukan dari perkataannya yang fasih melainkan dari sikap dan perilakunya berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Aku senantiasa berdoa supaya bapakku dianugerahi kesehatan dan umur panjang supaya dapat menyaksikan perbuatan TUHAN yang nyata dalam generasi demi generasi.

(Rumah sakit ladang TUHAN di Yogyakarta, Selasa 16 April 2013)

Senin, 15 April 2013

Murakabi Selayang Pandang


Setiap Rabu sore sampai malam, aku dan Mas Cah biasanya menghadiri acara persekutuan doa dan pendalaman Alkitab kalangan keluarga berjiwa muda di lingkungan GKJ Gondokusuman Yogyakarta. Persekutuan ini akrab disebut sebagai persekutuan keluarga Murakabi, disingkat PKM. Pada awal pembentukannya, PKM ini merupakan singkatan dari Persekutuan Keluarga Muda karena awalnya dibentuk sebagai wadah bersekutu keluarga-keluarga anggota jemaat GKJ Gondokusuman yang masih terbilang muda usia perkawinannya. Seiring berjalannya waktu, ternyata bukan hanya keluarga muda saja yang menjadi anggota aktifnya, melainkan juga para ibu-ibu yang sudah janda ataupun lama usia perkawinannya. Dengan hikmat dan kearifan yang ada, maka dipakailah nama “murakabi” sebagai pengganti kata “muda”.
                Murakabi sendiri kurang lebih berarti menjangkau sampai luas, bukan hanya berguna bagi lingkungan keluarga atau kelompok sendiri. Dengan filosofi yang indah itulah persekutuan ini bertumbuh. Anggota yang datang dan berinteraksi semakin lama semakin bertambah banyak dan erat hubungannya. Seperti layaknya persekutuan pada umumnya, setiap Rabu acara diisi dengan puji-pujian, doa, berbagi kesaksian hidup, dan pemaparan aplikasi firman TUHAN oleh para pembicara yang berkompeten di bidang masing-masing. Acara sering berlangsung santai, tidak kaku, selalu penuh canda tawa. Tidak ada kata bosan atau kapok bagiku dan Mas Cah untuk mengikuti acara-acara persektuan bersama keluarga murakabi ini.
                Ada tiga hal penting yang menjadi catatan dari adanya persekutuan murakabi ini. Hal pertama adalah pengenalan akan TUHAN dan kebenaran firman-Nya. Dalam setiap acara persekutuan itu, setiap pembicara tidak melulu berlatar belakang theologia atau kependetaan. Malah seringnya pembicara berasal dari kalangan awam atau profesional seperti dokter, psikolog, pendidik, marketing, dan lain sebagainya. Wawasan kami jadi bertambah luas. Kami menjadi mengerti mengenai dunia kesehatan, psikologi, pendidikan, bisinis, dan lain-lain yang lebih membumi dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari. Setiap tema atau materi dibahas secara mendalam dan diberi dasar kebenaran firman TUHAN-nya oleh pendeta yang selalu hadir mendampingi persekutuan murakabi ini. Yang paling menarik dari sesi ini adalah bagian diskusi interaktifnya. Setiap orang yang merasa tergerak atau berkepentingan selalu melontarkan komentar atau pertanyaan cerdas dan menggelitik yang semakin mempertajam perspektif kami akan tema yang diusung. Bisa dikatakan, dalam persekutuan murakabi ini, selalu terjadi proses pembelajaran yang tidak pernah berakhir. Pembelajaran akan hidup dan dasar firman TUHAN yang menjadi penuntun bagi hidup itu.
                Hal kedua adalah tentang persekutuan antaranggota murakabi itu sendiri. Setelah dibekali dengan firman TUHAN dan hikmat kehidupan sehari-hari, maka dalam keseharian, para anggota murakabi selalu mempraktekkannya pertama-tama dengan mewujudkan kasih yang tulus antara sesama anggota. Keakraban dan keguyuban yang indah terjadi dengan luar biasa dalam kehidupan sehari-hari anggota persekutuan murakabi ini. Hal itu tampak dari aktivitas dan kegiatan yang bersifat sosial kekeluargaan yang sering terjadi. Misalnya, jika ada anggota yang sakit atau tertimpa musibah, maka anggota-anggota yang lain selalu berinisiatif untuk menjenguk dan memberikan dukungan dalam doa, daya, dan terkadang dana pula. Hal ini pernah kurasakan ketika aku melahirkan anak pertama kami, Asa, di rumah sakit ladang TUHAN di Yogyakarta ini. Sebagian besar anggota persekutuan murakabi beramai-ramai datang menjenguk dan mendoakan kami waktu itu. Persekutuan yang indah ini sungguh nyata kurasakan. Jika bukan TUHAN yang bekerja membentuknya, maka tidak mungkin kesatuan hati dan keakraban yang murni itu dapat terwujud sedemikian rupa.
                Hal ketiga adalah kegiatan atau aksi persekutuan murakabi terhadap lingkungan di luar persekutuan. Selama ini persekutuan murakabi sering mempersembahkan talenta dalam memuji TUHAN di gereja-gereja lain dan acara-acara tertentu, seperti acara pernikahan dan penghiburan kematian. Dari hal-hal sederhana itu, terjalin suatu komunikasi dan semangat yang nyata dalam berbagi kasih dan berkat kepada sesama di luar tembok gereja. Selain itu, sedang dilakukan pula usaha yang bersifat menjangkau semua orang di gereja yaitu usaha menyediakan kebutuhan pokok sehari-hari dalam harga murah yang siap diantar sesuai pesanan. Ke depannya, mungkin akan ada aksi yang lebih luas lagi yang dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, bukan hanya masyarakat Kristen dalam lingkungan gereja.
                Murakabi adalah persekutuan dengan semangat yang terus-menerus bertumbuh, mengalir, dan bergerak menjangkau ke luar kepada lingkungan yang lebih luas, sama seperti makna filosofinya. Aku sungguh bersyukur terlibat dan terhisap dalam persekutuan yang indah ini. Kiranya murakabi dapat terus menjadi saluran berkat yang memberkati setiap orang yang ada di sekitarnya. Bravo! Maju terus murakabi!

(Rumah Sakit Ladang Anggur TUHAN di Yogyakarta, Senin 15 April 2013)

Ibuku Pahlawanku


Ibu adalah orang terdekat yang mengenalkanku pada TUHAN dan kasih-Nya sejak aku masih kecil. Ibu jugalah yang membimbing, membombong, dan menstimulasiku sehingga aku menjadi seperti sekarang ini. Banyak hal yang ibuku lakukan yang mempengaruhiku baik aku sadar maupun tidak menyadarinya. Tulisan ini adalah sebagai penghargaan dan wujud cinta kasihku kepada ibuku, sang Kartini ladang anggur TUHAN di Yogyakarta.
                Lahir sebagai anak kelima dari delapan bersaudara, ibuku tumbuh sebagai seorang perempuan kuat yang sangat peduli kepada keluarganya. Beliau biasa dipanggil dengan nama kecilnya di tengah keluarga besar kami, yaitu sebagai bude, tante, eyang, dan ibu Titiek. Nama lengkapnya adalah Pudji Sri Rasmiati. Dengan gelar profesi kebanggannya, yaitu dokter, beliau lebih dikenal sebagai dr. Pudji di lingkungan kerja rumah sakit. Tapi bagiku, apa pun jabatan atau profesinya, ibuku tetaplah ibu yang luar biasa. Beliau tetap kupandang dan kuperlakukan sebagai ibu meskipun profesi dan posisi jabatannya sedemikian rupa menuntut sikap profesional. Sikap profesional ini pada umumnya mereduksi personalitas atau kepribadian seseorang sehingga membuatnya kehilangan kemanusiawian manakala berinteraksi dengan orang lain. Namun, dalam diri ibuku, profesionalisme tidaklah membuatnya menjadi mesin atau budak kerja. Ibuku tetap mampu bersikap manusiawi dan personal meskipun dalam lingkungan profesional yang paling tidak berpribadi seperti apa pun itu. Dan itulah yang membuatku salut dan bangga menjadi anak ibuku.
                Hubunganku dengan ibuku penuh dengan warna-warni kehidupan antara ibu dan anak. Waktu kecil, aku sering bersikap seenaknya sendiri dan tidak menghormati ibuku. Sampai suatu ketika TUHAN mengizinkanku untuk ‘kena batunya’ yang keras dan sakit sekali sehingga membuatku harus berubah sikap lebih mengasihi dan menghormati ibuku. Sejak itu, sikapku berubah menjadi jauh lebih baik. Aku mulai belajar mengenal ibuku dan mendoakan segala sesuatu yang terbaik untuk beliau. Tidak ada lagi sikap kurang ajar atau memusuhi, yang ada hanya sikap mengasihi, menghargai, dan menghormati. Meskipun tidak jarang kami berselisih paham dan berdebat sengit mengenai sesuatu hal, aku tetap menghormati ibuku dengan menyampaikan pendapatku dengan cara sebaik mungkin yang tidak merendahkan atau melecehkan harkat dan martabat ibuku. Semua ini aku pelajari seiring perjalanan hidupku yang tidak luput dari liku-liku.
                Dalam tugas pekerjaannya, ibuku selalu bersikap menjunjung tinggi totalitas. Bagi beliau, pekerjaan di ladang TUHAN, baik itu sebagai klinisi maupun struktural, bukan sekedar pekerjaan mencari uang belaka melainkan sebagai wujud nyata pelayanan beliau kepada TUHAN. Iman ibuku nampak nyata dalam setiap sepak terjangnya. Segala sesuatu yang ada di depannya selalu dikerjakan dengan sungguh-sungguh, tanpa pamrih, dan sesempurna mungkin. Semangat ibuku yang tinggi dalam bekerja itu sering membuat orang yang melihatnya geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa seorang perempuan bekerja sedemikian rupa, mengatur waktu dan perhatiannya dengan cermat, sehingga pekerjaan sebagai dokter bedah dan sebagai bagian struktur organisasi ladang TUHAN tidak ada satupun yang terbengkalai. Semangat yang gigih itu juga menyemangati setiap orang yang terlibat di dalam pekerjaan ibuku. Mungkin itu salah satu sebabnya ibuku dijuluki sebagai “Kartini” ladang TUHAN ini.
                Satu hal yang membuatku salut, bangga, dan hormat terhadap ibuku adalah sikap beliau dalam membimbing dan mendidik bawahan dan juniornya. Dalam mendidik, ibuku tidak pernah memadamkan semangat orang yang dididiknya. Sebaliknya, ibuku mengarahkan dan membombong mereka supaya terdorong untuk mau belajar dan maju. Metode yang sering digunkan oleh ibuku adalah memberikan tugas atau pekerjaan yang harus diselesaikan. Dari tugas dan pekerjaan itu, ibuku menanamkan sikap bertanggung jawab dan mau belajar terus menerus. Selain itu, ibuku pun dapat menilai karakter seseorang melalui setiap pekerjaan yang dilakukannya. Jika hasilnya belum sesuai harapan, ibuku dengan sabar terus mendorong orang itu untuk bisa memenuhi target yang diharapkan. Aku melihat ibuku sangat berjiwa besar sebagai seorang pendidik. Bisa dikatakan bahwa beliau termasuk figur guru teladan.
                Ibuku sangat bangga dan mengidolakan figur ayahnya, yang berarti adalah kakekku juga, yaitu eyang Kasmolo Paulus. Lebih dikenal dengan sebutan dr. Kasmolo, kakekku telah menginspirasi dan memotivasi ibuku untuk meneruskan jejak perjuangannya menjadi seorang dokter bedah yang tetap berpegang teguh pada prinsip pelayanan dan kasih kepada TUHAN. Ketika muda, ibuku sering diajak eyang Kasmolo visite (mengunjungi dan memeriksa keadaan) pasien di rumah sakit ladang TUHAN di Yogyakarta. Mungkin dari kegiatan jalan-jalan itulah mulai tertanam jiwa kasih dan militan seorang dokter Kristen dalam diri ibuku. Jiwa kasih dan militan itu tampak ketika ibuku berjuang mempertahankan dan memajukan rumah sakit ladang TUHAN ini meskipun harus menghadapi banyak tantangan. Bisa dibayangkan besarnya tantangan bagi seorang perempuan yang berprofesi sebagai dokter bedah yang didominasi oleh laki-laki sambil mengerjakan urusan struktur organisasi rumah sakit dan menjaga keharmonisan keluarga (kecil dan besar) itu. Ibuku sering menganalogikan dirinya sendiri sebagai pohon beringin dalam keluarga yang bertanggung jawab memastikan kelangsungan hidup anggota keluarganya yang lain. Dan analogi itu sangat aku amini kebenarannya berdasarakan pengamatan dan pendengaranku selama ini.
                Dalam lingkungan keluarga, ibuku sangat gemar mengumpulkan anggota-anggota keluarga dalam suatu acara persekutuan yang akrab dan meriah. Rumah besar beliau sering menjadi tempat berkumpulnya sanak saudara dan handai taulan dari dalam maupun luar kota pada hari Natal, tahun baru, atau acara-acara khusus seperti ulang tahun, syukuran, dan lain sebagainya. Ibuku sangat menyukai suasana kebersamaan dalam riuh rendahnya celoteh keluarga besar. Bisa dimaklumi, karena beliau tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga besar pula. Ibuku sering bercerita tentang suka duka keluarga besarnya dulu. Diceritakannya bagaimana eyang Kasmolo selalu membacakan Alkitab sebelum mulai makan bersama di meja makan. Dengan bahasa zaman sekarang, mezbah keluarga sudah terjadi di keluarga besar ibuku dulu. Dan mezbah keluarga seperti inilah yang dirindukan untuk terus-menerus berlangsung di rumah oleh ibuku. Sungguh warisan iman yang luar biasa. Aku patut bersyukur dan berbangga.
                Akhirnya, aku hanya bisa bersyukur dan berbangga memiliki seorang ibu yang luar biasa. Dan wujud syukurku itu aku tuangkan dalam tulisan ini. Jika aku agak kesulitan atau kurang luwes dalam mengekspresikan rasa cinta dan sayangku kepada ibuku, maka semoga dengan tulisan ini semua rasa cinta dan sayang itu dapat tersampaikan dengan baik. TUHAN memberkati dan merahmati ibuku selalu! Haleluya!

(Rumah Sakit Ladang TUHAN di Yogyakarta, Senin 15 April 2013)

Minggu, 14 April 2013

Pak Harto, Sang Pemerhati yang Penuh Aksi


Penampilannya sederhana, tidak terlalu menyolok. Pekerjaan rutinnya pun tidak terbilang spektakuler, ‘hanya’ berkutat di depan komputer menekuni data-data rekam medis. Jika aku menjadi beliau, aku pasti sudah mati kebosanan. Dialah Pak Daniel Suharta. Kami akrab memanggilnya Pak Harto, seperti nama presiden kedua Indonesia itu. Setiap hari aku berjumpa dengan Pak Harto. Bukan suatu kebetulan jika aku ditempatkan di ruangan besar kantor rekam medis bersebelahan dengan Pak Harto. Setiap pagi, kami selalu bersalam komando ria dan menyapa dengan yel “jiwa korsa”, seolah-olah kami adalah anggota Kopasus sungguhan. Maklum, aku dan Pak Harto masih berkerabat dekat dengan abdi negara alias tentara di keluarga masing-masing. Adanya persinggungan dengan para jiwa korsa di keluarga itu membuat aku dan Pak Harto memiliki pula jiwa militan yang kuat dan tangguh. Hal itu tampak dari langgam bahasa percakapan kami sehari-hari. Tidak ada rasa mengasihani diri sendiri, pesimistik, negativistik, dan berbagai macam kelemahan dalam karakter setiap kali kami bercakap-cakap. Yang ada adalah saling menguatkan, menyemangati, dan meneguhkan sikap dan pendirian.
                Di rumah sakit ladang TUHAN ini, Pak Harto terkenal dengan kegiatannya bersepeda. Beliau dipercaya untuk menggiatkan kegiatan bersepeda para karyawan rumah sakit. Dengan senang hati dan penuh semangat, Pak Harto menggiati bersepeda itu. Ternyata, dalam keseharian pun, Pak Harto adalah seorang pesepeda yang aktif. Aktif dalam arti giat berpikir dan beraksi nyata di masyarakat, bukan hanya terkungkung di lingkungan rumah sakit saja. Hati Pak Harto tertambat pada sikap dan budaya masyarakat yang tampak pada lalu lintas jalan raya kota Yogyakarta tercinta. Pak Harto rajin menulis tentang toleransi masyarakat dalam berkendara dan menggunakan fasilitas publik seputar lallu lintas. Seringkali tulisan beliau menjadi headline “kompasiana”, sebuah situs jurnalisme publik yang sangat terkenal dan populer itu. Saking produktifnya menulis, Pak Harto pun membukukan artikel-artikelnya menjadi satu jilid yang disimpannya sebagai pengingat dan penyemangat hidup. Aku sempat dikasih pinjam jilidan itu dan membaca beberapa artikel ciamik beliau. Sangat tajam namun masih dalam koridor sopan santun ala wong Yogyakarta tulisan-tulisan beliau.
                Dalam pandangan Pak Harto, toleransi hidup masyarakat yang sesungguhnya nampak dari sikap mereka di jalan raya. Apa pun agama, kepercayaan, suku, dan rasnya akan tampak karakter aslinya manakala diperhadapkan dengan situasi-situasi di jalan raya. Sebagai contoh ketika menanti antrian lampu lalu lintas di perempatan jalan, Pak Harto sering prihatin karena sebagian besar pengguna jalan lebih memilih membunyikan klakson kendaraan mereka ketimbang rela antri bersabar menunggu giliran menjalankan lagi kendaraan. Hal ini menunjukkan bahwa kesabaran dan kerelaan bekorban demi kepentingan bersama masyarakat kita masih jauh dari ideal. Bandingkan dengan masyarakat Jepang yang masih tertib antri ketika menerima bantuan saat gempa dan tsunami melanda wilayah mereka beberapa waktu yang lalu. Contoh lain lagi yang membuat geram hati Pak Harto adalah bagaimana hak para pejalan kaki diserobot atau dilanggar oleh para pengguna jalan yang lain, terutama para pengendara sepeda motor. Trotoar-trotoar yang seharusnya aman dan nyaman dipakai untuk berjalan kaki menjadi tempat yang sering digunakan para pengendara motor yang tidak sabar menunggu antrian kendaraan yang sudah terlalu padat di jalan raya. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan yang menjadi hak si lemah masih belum bisa diberikan oleh si kuat dalam masyarakat kita sehari-hari.
                Keprihatinan Pak Harto pada masalah-masalah lalu lintas dan sopan santun di jalan raya menunjukkan betapa peka hati beliau terhadap masalah-masalah yang dihadapi sesama di sekitarnya. Di tempat kerja pun Pak Harto tidak tinggal diam manakala melihat atau mendengar sendiri akan adanya ketidakbenaran dan ketidakadilan. Bisa dikatakan bahwa Pak Harto adalah manusia yang bertindak dan beraksi (man of action), bukan hanya berpikir dan berwacana. Meskipun bukan pemegang jabatan tinggi, kepedulian dan pengaruh beliau sangat besar terasa. Ini semua tidak lain dan tidak bukan adalah karena satunya kata dan perbuatan Pak Harto. Aku bisa katakan bahwa Pak Harto termasuk salah satu manusia langka yang ada di negeri Indonesia, bahkan di muka bumi ini. Langka karena tidak banyak orang mau bersusah payah atau repot-repot menegakkan kebenaran dan keadilan padahal mereka mampu untuk itu. Langka karena banyak orang yang suka berdiskusi dan berwacana tetapi tidak mau mewujudkan hasil diskusi tersebut dalam tindakan yang nyata dan sederhana. Langka karena dalam kesederhanaan itulah terilhat wibawa luar biasa.
                Banyak hal yang bisa kupelajari dan kuteladani dari Pak Harto. Aku belajar bahwa menjadi dokter tidak harus berubah sikap menjadi arogan atau menjaga-jaga wibawa di hadapan orang lain. Kewibawaan atau citra diri seseorang itu akan terpancar dengan sendirinya ketika kita dapat bertindak sesuai dengan perkataan kita. Selain itu, status sosial ataupun harta kepemilikan kita tidak seberapa penting jika dibandingkan dengan karakter kita yang jauh lebih dari emas nilainya. Yang terakhir, sikap kita terhadap diri sendiri maupun orang lain tampak dalam keseharian kita melalui hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap waktu. Oleh karena itu, bijaksanalah dalam berpikir, berbicara, bersikap, dan bertindak. Semua hal ini hanya dapat terjadi jika kita bekerja sama dengan pribadi Utama alam semesta, yaitu TUHAN. Maju terus, Pak Harto! Salam komando!             

(Rumah Kemuliaan TUHAN di Pelem Kecut, Minggu 14 April 2013)
                

Sabtu, 13 April 2013

Terima Kasih, Bu Sari



            Kami memanggilnya Bu Sari. Seorang perempuan ramah yang setia menyapa kami, para pekerja rumah sakit ini, dengan berbagai macam makanan dagangannya. Setiap jam delapan sampai sembilan pagi, Bu Sari selalu datang menyambangi kami di kulon desa, tempat favorit kami untuk makan-makan, begitu kami menyebutnya. Di kulon desa itulah keakraban yang murni dan alami terjadi manakala kami menyantap makanan dagangan Bu Sari. Ada nasi kucing (nasi dengan lauk teri atau tempe ditambah sedikit sambal khas angkringan Jogja), nasi gudangan (nasi dengan lauk sayur bayam, taoge, dengan disertai parutan kelapa), nasi pecel, dan yang terbaru adalah nasi jinggo. Minumannya pun beraneka macam ragamnya. Ada jus jambu, jus alpokat, susu kedelai, dan kadang teh hangat. Belum cukup itu, masih ditambah lagi gorengan tempe dan kletik-kletik­ khas desa seperti lanting, kacang polong goreng, ketela berbentuk kubus kecil-kecil yang digoreng, dsb. Suasana sangat meriah ditimpali senda gurau para karyawan. Murah harga-harganya pula. Maka, kloplah sudah menjadi murah meriah.
                Sebagian besar karyawan sudah sangat akrab dan mengenal instalasi satu ini, yaitu instalasi Bu Sari (IBS). Berbagai macam bagian tumpah ruah menyambut setiap kedatangan perempuan energik meskipun sudah berumur ini. Dengan menarik bawaannya melintasi lorong-lorong rumah sakit menuju pos favoritnya, kulon deso, Bu Sari selalu nampak ceria dan semangat. Keceriaannya itu menular kepada kami para karyawan. Dengan keramahan sederhana, dagangannya pun laris manis mengisi perut-perut kami yang lapar dan dahaga. Lapar dan dahaga jasmani dan jiwani. Bukan hanya tubuh kami saja yang dikenyangkan, melainkan jiwa kami juga mendapatkan seteguk penyejuk dahaga. Karyawan-karyawan yang akan memulai berjibaku setiap hari memperoleh energi mereka dari instalasi Bu Sari ini.
                Selain melepas penat dan lelah psikis, instalasi Bu Sari yang fenomenal ini dapat pula menjadi ajang peleburan sekat-sekat atau kelas-kelas masyarakat yang meninabobokkan kami. Sekat-sekat berupa penggolongan semu masyarakat kelas atas, menengah, dan bawah yang diwakili para dokter, perawat, pramurukti, satpam, admin, dll menjadi lebur tak berbekas manakala Bu Sari datang. Serbuan perut-perut lapar membuat kami melupakan bahwa kami telah dilabeli stempel-stempel palsu kelas masyarakat itu. Di situlah kami dapat saling ejek, menghina dina satu sama lain tanpa takut kena hukuman. Di situlah pula kami dapat saling berbagi tanpa ada ewuh-pakewuh. Sungguh suasana kerakyatan yang egaliter yang indah terjadi. Dan semuanya ini karena faktor Bu Sari.
                Apa yang begitu sukar dan rumit dicapai oleh berbagai macam program ala top down untuk menyatukan semangat para karyawan rumah sakit, entah itu oleh bagian sosio pastoral, bidang, maupun kelompok-kelompok kerja, sepertinya telah tercapai dengan begitu sederhana dan mudahnya oleh instalasi Bu Sari ini. Tidak ada ekskulsivisme yang jamak terjadi pada paguyuban-paguyuban yang ada. Yang ada hanyalah perasaan hangat kekeluargaan yang menyatukan kami setiap civitas hospitalia ini. Sederhana. Tidak sukar. Hanya karena perut lapar dan keramahan seorang Bu Sari.
                Suatu saat nanti mungkin aku akan meluangkan waktu untuk bersepeda, main ke rumah Bu Sari, bertemu dengan Bu Sari dan keluarganya. Di sana mungkin nanti aku akan berbagi apa yang ada padaku, berbagi hidup, berbagi cerita, berbagi sukacita. Hitung-hitung sebagai ‘balas jasa’ atas semua yang telah Bu Sari sumbangkan bagi kesejahteraan rumah sakit ladang anggur TUHAN ini. Terima kasih, Bu Sari. TUHAN memberkatimu!   

(Jumat, 8 Maret 2013—rumah sakit ladang anggur TUHAN di Yogyakarta berhati nyaman)