Selasa, 30 November 2010

Minat Sejati? Hmmm...

Ada begitu banyak keinginanku saat ini. Keinginan jangka pendek untuk melakukan sesuatu yang tidak sia-sia. Salah satunya adalah menuliskan uneg-unegku di sini saat ini. Bukan uneg-uneg yang suram dan mengerikan sih. Cuma pingin membagikan sedikit cerita saja. Bukan cerita mungkin tepatnya. Sekedar bunga rampai kehidupan.

Aku sebentar lagi akan memulai kegiatan baru. Apakah itu? Tidak lain tidak bukan yaitu mengajar anak-anak main piano di sekolah musik sawokembar. Wew. Kok bisa? Gimana tuh ceritanya? Jadi begini. Beberapa hari yang lalu, aku terima message di fb dari seorang pengurus sekolah musik sawokembar yang intinya meminta kesediaanku untuk membantu mengajar anak-anak main piano. Mereka kekurangan pengajar, katanya. Seorang pengajar akan segera bekerja di luar kota. Dan ketika omong-omong sama pak Paulus, kepala sekolah musiknya, beliau bercerita dengan gaya meyakinkan seorang guru bahwa terbersit nama Yohana (namaku) saat memikirkan siapa yang dapat membantu mengajar. Dibantu dengan doa dan harapan supaya aku mau dan bersedia membantu, beliau pun menghubungiku melalui hp. Dan mungkin karena doa-doa itulah, aku merasakan dorongan dalam hati untuk bersedia membantu sekolah musik sawokembar tanpa perlu banyak berpikir panjang. Entahlah. Memang aku pernah punya keinginan kuat, saat manik dulu, untuk mengajar piano. Dan sepertinya keinginan itu masih ada sampai sekarang, terkubur dalam hatiku dan baru diaktifkan kembali saat-saat ini. Wew. Apakah ini yang namanya panggilan Tuhan? Apakah Tuhan sedang menunjukkan minat sejatiku seperti yang selama ini kudoakan sambil lalu tiap hari? Hmmm... Hmmm... curious... curious...

Karena jadwal jagaku yang nggak bisa dipatok, maka aku pun sudah bilang ke Pak Paulus dan mbak siapa itu namanya (maaf, lupa), kalau aku mungkin bakalan gak bisa kalau harus mengajar di hari tertentu. Untuk bulan Desember ini, kebetulan (atau mungkin bukan kebetulan) hari Selasa aku bebas jaga. Maka, dapat diaturlah jadwal mengajarku setiap selasa (cuma dua kali) di bulan Desember 2010 ini. Mungkin kalau aku sungguh-sungguh punya passion di sini, mengajar piano, aku bisa minta yiska dan dr tono untuk tidak menjadwalku jaga wonosari maupun jaga sore tiap hari selasa. Hmmm... patut dipikirkan. Karena di mana ada kemauan, pastilah ada jalan. Apalagi les bahasa Inggrisnya sudah hampir selesai. Well, kok bisa tepat banget ya waktunya? Entahlah... yang jelas, Tuhan pasti ada rencana yang indah, itu bahasa klisenya.

Ok deh... doakan aku ya, aku akan berusaha... Semangat, semangat!!! ^^

Perjalanan Jogja Nanggulan yang Menyenangkan

Hari ini aku mencetak satu prestasi. Nggak terlalu spektakuler sih. Cuma bisa bertahan nggak ketiduran di mobil sewaktu perjalanan pulang pergi Jogja Nanggulan-Nanggulan Jogja. Perjalanan dari Jogja ke Nanggulan, tepatnya ke BP Maranatha, diiringi oleh alunan rancak musik pujian yang diputer di Sasando 90.3 fm, thanks to Pak Sopir yang mohon maaf aku lupa namanya. Nggak ada yang terlalu menarik untuk diceritakan di sini. Perjalanan pulangnyalah yang lebih menarik. Dijemput tepat jam 13.00 WIB di BP, oleh pak supir yang lain yang sekali lagi mohon maaf aku lupa namanya, aku menghabiskan perjalanan pulang dengan melek semelek-meleknya. Thanks to pak sopir yang mengajakku ngobrol. Bisa-bisanya aku ngobrol ngalor ngidul tentang kecerdasan, kesuksesan, minat bakat, dan seputar kepuasan hidup. Pak sopir itu awal mulanya nanya gimana caranya supaya bisa pinter, karena dia punya anak yang masih duduk di bangku SMA. Dia prihatin dengan nilai bahasa Indonesia anaknya yang dikatakan cukup njomplang jika dibandingkan dengan nilai mata pelajaran eksakta. Yah, aku katakan saja berdasarkan keyakinanku, bahwa nilai-nilai akademis itu hanyalah sebatas di atas kertas. Dan kecerdasan itu ada macam-macam. Sebaiknya pusatkan saja pada kelebihan dan bukan kelemahan si anak. Justru, dengan nilai yang njomplang itu, semakin ketahuan minat dan bakat si anak sehingga ke depannya malah semakin mudah untuk menentukan jurusan apa yang dapat diambilnya. Kemudian aku juga menceritakan bahwa kesuksesan itu nggak bisa diukur semata-mata dengan nilai rupiah yang dihasilkan, tetapi bagaimana seseorang memperoleh kepuasan dalan bekerja. Yang kutekankan adalah: lakukan apa yang disukai, sukai apa yang dilakukan, maka uang akan mengejar kita, bukan kita yang mengejar uang. Aku membandingkan diriku dengan kakakku dalam hal pekerjaan di mana aku sangat menilai positif apa yang dilakukan oleh kakakku. Meskipun banyak yang tidak paham dengan yang dilakukannya, dia tetap berpegang teguh pada impiannya dan berani bayar harga untuk itu. Kulihat hidupnya pun sangatlah menyenangkan dan memuaskan sehingga dapat dikategorikan sebagai hidup yang sukses. Sedangkan aku masih mencari minat sejatiku sampai detik ini, sambil jalan dan kerja serabutan di rumah sakit.

Sepanjang perjalanan itu, dengan kalimat yang simpang siur dan terbata-bata, aku mencoba menjelaskan apa yang menjadi pandanganku tentang hidup dan pekerjaan. Yah, hitung2 sebagai latihan ngomong. Thank God, buat waktu yang luar biasa ini.

Senin, 22 November 2010

Reveal

Terbuka kembali satu sisi kehidupanku yang telah lalu dan mungkin terkubur. Mungkin ini salah satu penyebab mengapa aku sampai mengalami goncangan jiwa sedemikian rupa. Aku diingatkan akan hal ini setelah aku membaca sedikit dari novel Doctors. Aku ingat, usia 18 adalah usia di mana aku lulus SMU dan mulai masuk kuliah. Di usia itu pula, aku sedang begitu antusias dan semangat untuk mengejar hal-hal rohani. Mungkin lebih tepatnya, supaya dipandang rohani. Entahlah. Yang jelas, ada ketidakseimbangan jiwa yang kronis. Di satu sisi aku begitu ingin tampil serohani mungkin, di sisi lain aku kesulitan berkomunikasi dengan orang-orang terdekatku. Begitu keras dan kaku. Ketika beban hati semakin bertambah dengan hal baru, yaitu mulai pacaran back street, sementara masih ada ambisi yang kuat untuk ingin selalu menjadi nomor satu, maka semakin dekatlah aku pada kegoncangan jiwa. Seandainya waktu itu aku bisa bersikap jujur dan terbuka, bukannya sok kuat dan sok rohani, mungkin aku gak akan mengalami yang namanya goncangan jiwa. Seandainya aku bisa menekan egoku dan mulai bersikap rendah hati, maka aku nggak perlu jatuh dalam siklus manik depresi. Tapi aku bersyukur untuk semua yang telah kualami. Semua menjadi berkat. Semua dipakai Tuhan untuk kebaikanku. Aku tidak larut dalam penyesalan diri yang tidak ada habisnya. Semua bisa menjadi bahan pelajaran berharga. Terima kasih, Tuhan Yesus.

Mungkin aku belum bisa cerita secara detil sekarang. Tapi aku bersyukur karena sedikit demi sedikit aku bisa menilai kembali diriku dengan lebih jernih. Baru segini yang bisa kupahami. Tapi tidak mengapa. Lama kelamaan pastilah Tuhan bukakan semua yang masih menjadi pertanyaan besar dalam hidupku. Masa lalu tidak lagi menghantui. Sebaliknya, aku malah menemukan harta rohani yang begitu berharga saat aku menggali kembali ingatanku. Tentunya dengan bimbingan Roh Kudus. Sekali lagi terima kasih buat Bapaku terkasih.

Captivated

Ya Tuhan Yesus... bagaimana rasanya menanggung beban seluruh dunia di pundakMu? Bagaimana rasanya merasakan kepedihan dan kesia-siaan seluruh umat manusia di hatiMu? Aku baru membaca sedikit buku novel tebal berjudul Doctors karangan Erich Segal. Gila, sungguh gila. Benar-benar top markotop. Sungguh-sungguh mantap. Aku sampai kekenyangan dibuatnya. Maksudku, aku sampai kemlakaren. Jiwaku mendapatkan makanan berat yang membuatku merasa amat sangat kenyang kenying. Aku menjadi larut dalam haru biru perasaan yang campur aduk. Campuran antara kekaguman dengan kengerian. Aku merasakan pahit manisnya kehidupan manusia yang fana dan sia-sia. Kesia-siaan yang tergambar melalui cerita fiksi yang didasarkan oleh hasil riset dan pengamatan yang amat jeli. Ditambah dengan perenungan yang cukup dalam tapi tetap ringan untuk bisa dipahami oleh orang awam. Baru membaca sebagian kecil novel itu saja sudah membuatku merasa seperti memikul beban dunia. Hiperbolis ya. Maksudku, aku seperti dibukakan kembali akan diriku sendiri. Aku seolah bisa bercermin, melihat diriku sendiri.

Novel yang kubaca itu berkisah seputar kehidupan mahasiswa kedokteran Harvard tahun 50an. Penuh dengan dinamika dan romantisme, meskipun tidak melupakan aspek-aspek teknis. Yang bikin aku begitu tergetar dan takjub adalah tentang sisi psikiatri atau kejiwaan yang digambarkan dengan demikian suramnya. Aku masih belum bisa bercerita banyak di sini, karena masih terjebak oleh kesan mendalam yang kurasakan. Tapi overall, puji Tuhan Yesus, aku tidak salah membeli buku. Aku merasa tertantang untuk menyelesaikan membacanya dan menarik intisari yang mengena bagi jiwaku. Kuharap aku pun mampu menciptakan karya seperti itu. Doakan saja ya. Aku akan berusaha.

Jumat, 19 November 2010

What Should I Do?

Aku merasa seperti kurcaci di tengah raksasa. Aku merasa diriku adalah orang paling bego di tempat di mana aku berada. Mungkin perasaan-perasaanku ini tidaklah benar 100%. Mungkin aku hanya kurang percaya diri saja. Tapi yang jelas, aku sungguh merasa terasing di sini. Meskipun aku ada backing yang kuat terutama dari Tuhan dan keluarga serta orang-orang yang mengasihiku, aku merasa sangat-sangat tidak layak berada di sini. Aku kembali merasa salah tempat. Aku kembali memikirkan tentang prospek masa depanku. Mungkin menurut orang lain begitu cerah dan gemilang, tapi di mataku ini sungguh mengerikan dan menegangkan. Sungguh aku perlu memetakan kembali kekuatan dan kelemahanku. Aku perlu mawas diri lebih lagi sebelum melangkahkan kakiku.

Dimulai dari pertanyaan dr. Laksmi, apakah aku akan jadi pegawai tetap nantinya. Kurang lebihnya begitu. Pertanyaan yang sederhana dan lugas itu begitu mengena. Pertanyaan itu sukses membuatku meragukan kembali posisiku. Kembali berkecamuk dalam hatiku apakah aku sungguh menyenangi pekerjaan sebagai dokter ini. Apakah aku sungguh mantap untuk bergabung dengan korps RS Bethesda sebagai pegawai tetap. Aku merasa semakin kecil saja. Kemudian, waktu aku mengikuti acara presentasi kasus yang dilakukan oleh dr. Winny dan dr. Hansen. Aku melihat mereka begitu brilian dan tangguh. Merekalah yang layak untuk diandalkan sebagai penerus RS Bethesda yang mumpuni. Melihat ketangguhan mereka, aku merasa semakin tidak percaya dengan diriku sendiri. Aku merasa sangat sangat tidak mampu. Aku seperti membohongi semua orang, termasuk diriku sendiri. Aku seperti merasa sendirian tadi. Minder. Kecil hati. Tidak pe de.

Bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Sementara minat sejatiku masih juga belum tergali. Aku bimbang dan ragu. Sepeti kapal yang diombang-ambingkan gelombang. Kompas yang kupunyai tidak menunjuk ke arah utara, tetapi menunjuk ke arah di mana minat sejatiku berada. Masalahnya, aku masih belum menemukannya. Aku masih belum menemukannya. Maka, sama seperti Jack Sparrow yang kehilangan tujuan dan gairah dalam berlayar, aku pun demikian. Aku hanya berputar-putar ke sana ke mari mengikuti arus dan gelombang. Aku hanya mengikuti jadwal dan peraturan dengan patuh tanpa adanya inisiatif untuk selangkah lebih maju. Hanya mendapatkan capek saja, minim peningkatan kualitas. So this is me right now. Anybody help?

What For

Kadang terbersit pertanyaan, mengapa aku sampai harus mengalami goncangan jiwa yang sedemikian besarnya. Kalau mencontoh sikap simbah putri Giyono, bukan pertanyaan "mengapa" yang seharusnya terucap melainkan pertanyaan "untuk apa". Maka dari itu, aku ubah pertanyaanku menjadi: untuk apa sampai aku harus mengalami goncangan jiwa yang sedemikia besarnya? Segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku ini tentunya nggak pernah terlepas dari campur tangan Tuhan. Mulai dari sejak aku dibentuk di kandungan ibuku, lahir, tumbuh besar, sampai sekarang ini, bahkan sampai nanti, Tuhan senantiasa memeliharaku. Aku semakin bertumbuh dalam pengenalanku akan Dia. Ingin rasanya aku menuliskan perjalanan hidupku itu dengan runtut dan teratur, sebagai dokumen kehidupan yang dapat aku baca-baca kembali. Syukur syukur bisa menjadi berkat bagi banyak orang. Tapi aku masih belum memulainya juga karena kurang disiplin. Yah, mungkin sekarang lah saatnya untuk memulainya. Tuhan kiranya memberiku kekuatan dan ketahanan dalam perjalanan panjang menuliskan cerita hidup versiku ini. Semoga tulisanku itu nanti bisa menjawab pertanyaanku sendiri, "untuk apa, Tuhan?".

^^

Salvation

Meskipun capek, aku tidak merasa terintimidasi. Aku merasa cukup nyaman dengan diriku sendiri. Hari ini sungguh luar biasa. Terima kasih, Tuhan. Dari pagi sampai siang pasien yang datang relatif sedikit, tidak sebanyak waktu Senin kemarin. Siang ini pun masih belum terlalu banyak pasien yang datang. Keluhannya pun masih dalam batas kompetensiku. Puji Tuhan.

Tadi ada satu pasiennya ibu yang datang untuk kontrol. Post coloctomy. Aku nggak begitu mudeng dengan perjalanan penyakitnya. Sepertinya dulu aku juga yang periksa itu simbah di IGD, aku lupa. Tapi aku cukup senang dengan sikap si simbah. Beliau begitu tenang dan pasrah sama Tuhan Yesus. Nggak nggedumel, nggak menyerah, tapi penuh dengan ungkapan syukur yang nampak dari wajahnya. Karena sikapnya yang luar biasa itu, aku pun dengan pe de nya memperkenalkan diriku sebagai anak dari ibuku. Beliau pun sangat senang dan semakin sumringah. Beliau bercerita banyak tentang pengalamannya operasi dan bagaimana beliau senang kalau ibuku tersenyum. Benar juga apa kata ibu. Pasien itu sudah sembuh kalau melihat dokternya juga menyenangkan. Itu efek sugesti kalau orang psikologi bilang. Tetapi sebagai orang percaya, itu pasti karena Tuhan sendiri yang bekerja. Memang betul bahwa hati yang gembira adalah obat yang manjur. Maka, aku mendapati bahwa salah satu tugas dokter berikutnya adalah bagaimana membuat hati pasiennya gembira sehingga kesembuhan pun dapat terjadi dengan cepat. Bahkan seandainya pasiennya tidak sembuh pun, dengan kata lain berakhir dengan terminal state atau meninggal, mereka dapat meninggal dengan tenang dan tanpa ada rasa takut. Semua ini dapat terjadi kalau mereka sudah punya jaminan hidup kekal sesudah kematian. Dan jaminan itu hanya ada pada Tuhan Yesus saja. Tidak pada yang lain. Itu yang kupercayai. Agama tidak menyelamatkan. Amal ibadah tidak menyelamatkan. Hanya anugerah Tuhan dalam karya penebusan Tuhan Yesus sajalah yang menyelamatkan. Bagian kita hanyalah mau atau tidak mempercayainya. As simple as that. Yah, kadang yang sederhana ini bisa menjadi rumit karena kita terlalu banyak memakai logika dan tidak memakai iman. Padahal Tuhan Yesus sendiri bilang bahwa hanya dibutuhkan iman seperti seorang anak kecil saja untuk memiliki kerajaan Surga. Iman yang langsung percaya pada Tuhan Yesus dan tidak meragukanNya sedikitpun. Hmmm...

Dari capek kok malah jadi merenungkan tentang keselamatan ya? Hehe... entahlah. Aku memang lagi pingin ketak ketik. Daripada bengong nggak jelas juntrungnya. Mending ngetik ngalor ngidul tapi ada isinya. Betul? ^^

Reportase

Aku sudah menghabiskan lebih dari 200 ribu rupiah untuk membeli buku-buku yang kuharapkan bisa mengenyangkan lapar jiwaku. Buku yang pertama kubaca adalah novel tebal berjudul Doctors karangan Erich Segal. Aku berharap mendapatkan gambaran yang konkret dan memberiku semangat tambahan dalam menjalani kehidupanku sebagai seorang dokter. Aku kan sudah berulang kali gembar gembor bahwa aku nggak suka menjadi dokter dan aku nggak cocok jadi klinisi. Mungkin dengan membaca novel ini, aku mendapatkan inspirasi yang mendorongku untuk terus maju sampai aku mendapatkan minat sejatiku. Amin. Buku berikutnya yang akan aku baca adalah Eat, Pray, Love yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Aku sudah nonton filmnya. Meskipun demikian, aku masih merasa kurang puas. Aku ingin menyelami lebih dalam lagi pergumulan batin yang dialami oleh si penulis. Siapa tahu aku pun mendapat masukan yang berharga sehingga semangatku untuk hidup semakin dikuatkan. Amin. Selanjutnya, aku mau membaca buku dwiloginya Andrea Hirata. Tidak diragukan lagi, Andrea Hirata adalah penulis favoritku. Sekelas dengan Pram. Tulisannya bernas dan tidak monoton, sarat akan makna dan pengetahuan. Semoga dwiloginya ini mampu menggetarkan hatiku sama seperti tetraloginya. Amin. Buku pegangan neurologi pun nggak ketinggalan aku beli, mumpung sekarang aku lagi dijadwalkan ikut di SMF saraf selama sebulan. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Ya. Meskipun seharusnya aku sudah katam membaca waktu kuliah dulu, aku mau membaca sekarang supaya aku tidak menjadi dokter yang membahayakan pasien. Semoga dengan membaca-baca sedikit demi sedikit, aku bisa semakin terampil dan berwawasan sehingga semakin percaya diri dalam memeriksa pasien. Amin. Semoga uang dua ratus ribu lebih itu tidak sia-sia kuhabiskan di Toga Mas. Aku serahkan semua ini ke dalam tangan Tuhan Yesus. Ini lho Tuhan, laporanku. ^^ ACC??? hehe...

Tiredness

Capek, Tuhan... aku pingin tidur nyenyak... tapi bagaimana mungkin? Di tempat ini, BP Wonosari ini, tidur nyenyak tanpa gangguan merupakan kemewahan tersendiri... Aku sering mengalami lagi enak-enaknya tidur, ada saja pasien yang datang... tidur yang terganggu itu lebih nggak enak rasanya daripada nggak tidur sama sekali... dan aku mendapati bahwa suatu kenikmatan itu adalah berupa jatuh tertidur... Meskipun demikian, aku bersyukur, Tuhan... dan meskipun ada banyak alasan untuk mengeluh, aku mau tetap bersyukur saja... Aku bersyukur karena aku masih bisa merasa capek... aku bersyukur karena di tengar rasa capekku ini, aku masih bisa menuliskan sedikit uneg-unegku... Nggak jadi masalah kalau aku kurang banyak omong sama orang lain, itulah kelemahanku... Yang penting aku masih bisa menuliskan sepatah dua patah kata meskipun miskin arti, itu kelebihanku... aku belajar untuk nggak terlalu berfokus kepada kelemahanku. Aku mau berfokus tertutama kepada kelebihan yang Tuhan anugerahkan kepadaku. Kalau aku terlalu berfokus pada kelemahan, ujung-ujungnya aku pasti akan terjerat pada depresi lagi. Aku akan memupuk sikap negatif anhedonia yang berlanjut pada mood sedih kemudian berujung pada depresi patologis. Itu yang harus aku hindari. Sebisa mungkin, aku harus menghindarinya, dengan pertolongan Tuhan tentunya. Perjuanganku ini berlangsung terus seumur hidup. Dibutuhkan stamina yang cukup besar, mungkin seperti stamina yang dimiliki oleh Naruto Uzumaki. Wah, sudah lama aku tidak membaca lagi ceritanya. Baru kemarin aku baca lagi episode terbarunya. Benar-benar tokoh yang menginspirasi meskipun fiktif belaka. Thank God.

Rabu, 17 November 2010

I Miss You

Tiada kata yang terucap...
hanya hati yang merindu...
karena lebih baik hati tanpa kata daripada kata tanpa hati...
tiada nada yang terdengar...
hanya jiwa yang menyanyi...
semua ini karena aku begitu merindukanMu...
karena aku tahu Engkau yang terlebih merindukanku...
Engkau yang terlebih dahulu mengasihiku...
Engkau yang pertama kali menunjukkan kasih kepadaku...
aku hanya merespon...
aku hanya bisa ini...
mungkin tak sebanding dengan apa yang telah Engkau berikan...
sangat jauh dari yang bisa kubayangkan...
tapi semoga ini bisa mengisi ruang kosong dalam hatiku...
terima kasih, Tuhan...
Engkaulah sahabat sejatiku...
Engkaulah yang terbaik bagiku...
Engkau baik, dan jiwaku benar-benar menyadarinya...
Haleluya...

Just Giving Thanks

Kalau hatimu dipenuhi rasa rindu, bersyukurlah...
itu tandanya kamu masih sehat...
itu tandanya kamu masih dipenuhi rasa cinta...
itu tandanya kamu masih hidup...
Kalau kamu begitu merindukan Tuhan tapi tak tahu apa yang mesti dilakukan, bersyukurlah...
itu tandanya Tuhan sedang menunjukkan sayangNya kepadamu...
itu tandanya Tuhan sedang mengusik hatimu yang sering terlalu asyik dengan dirimu sendiri...
Itu tandanya kamu masih peka terhadap suaraNya...
Jika kamu membaca tulisan ini dan kamu merasa ini sangat mirip dengan konidisimu, bersyukurlah...
itu tandanya bukan suatu kebetulan kamu ada...
itu tandanya hidupmu bukanlah suatu kecelakaan...
itu tandanya Tuhan itu ada...

Mari... kita berikan waktu yang ada ini untuk sejenak menikmati kebersamaan dengan Tuhan... inilah saat terindah... saat di mana kita berdiam dalam keheningan dan kekudusan hadiratNya...

Kangen

Aku merasa amat sangat kangen sama Tuhan Yesus. Bagaimana ya melukiskannya? Suatu kerinduan yang amat sangat besar sedang melanda hatiku saat ini. Entah kenapa. Aku merasa ingin sekali melakukan sesuatu, entah apa itu. Semacam ruang kosong dalam hatiku yang minta diisi tapi hanya satu yang dapat memenuhinya, yaitu pribadi Tuhan Yesus sendiri. Tapi bagaimana caranya ya? Aku sudah coba telpon mas Cah, dan ternyata mas Cah nggak bisa membuatku merasa terpuaskan. Memang harus Tuhan Yesus sendiri yang kuhubungi. Ok deh. I'll try...

Mimi: Tuhan Yesus...
God: Ya, Mi...
Mimi: aku kangen...
God: sembayang...
Mimi: lho kok ikut-ikut gayaku?
God: hehe...
Mimi: Tuhan Yesus..
God: Ya, Mi...
Mimi: piye ini? aku harus bagaimana?
God: ya sembayang dulu...
Mimi: dulu apa sekarang? hehe...
God: hehe...
Mimi: Tuhan Yesus...
God: Ya, Mi...
Mimi: yuk, ngapain kek... aku ingin berdua denganMu, nih...
God: ya ayo...
Mimi: sekarang ya...
God: ok...
Mimi: sip...
God: ^^

Yah begitulah kira-kira dialog yang terjadi antara aku dengan Tuhan Yesus... hehe...

Minggu, 14 November 2010

Blessing in Disguise ^^

Berkat di balik bencana. Ada udang di balik bakwan. Hehe... begitulah kira-kira... ya, di balik suasana duka dan nestapa yang menggantung akhir-akhir ini akibat bencana alam di Indonesia, pastilah ada berkat tersembunyi yang tinggal tunggu waktunya saja untuk disingkapkan. Saat tirai terbuka, saat itulah suasana duka sontak berubah menjadi sukacita yang tak tergambarkan. Salah satu berkat yang menurutku layak untuk dirayakan adalah diundurnya jadwal ATLS. Advanced Trauma Life Support. Jadwal ATLS yang sedianya akan dilaksanakan tanggal 26-28 November 2010 ini terpaksa diundur hingga sekitar Januari 2011 akibat kondisi tanggap darurat bencana Merapi yang masih belum tahu kapan akan berakhir. Bagiku yang berpembawaan santai, ini merupakan berkat tersendiri. Karena, aku bisa punya waktu yang lebih panjang untuk belajar. Aku nggak suka diburu-buru oleh dead line. Makanya, dalam hatiku, aku mengucap syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yesus atas diundurnya jadwal ATLS ini. Meskipun demikian, aku tidak boleh bermalas-malasan. Aku tetap harus belajar sedikit demi sedikit. Mumpung waktu yang ada cukup panjang. Diharapkan, aku nantinya sudah siap dan tidak memalukan keluarga maupun kerajaan Surga. Hehe...

Selain itu, ada lagi berkat tersembunyi. Aku yang tidak atau belum pernah dijadwal di posko Merapi, entah karena alasan apa, juga sangat bersyukur karena aku bisa lebih banyak waktu tenang dan luang yang bisa kugunakan untuk banyak hal. Banyak hal itu apa? Ya seperti berdoa dan belajar. Ora et labora. Itu yang seharusnya. Itu yang semestinya. Di samping itu, aku pun terhindar dari dampak erupsi Gunung Merapi yang membahayakan kesehatan. Aku kan lagi flu. Puji Tuhan!!! Thank God!!! Jadi, gak perlulah merasa sedih atau seperti dianaktirikan apalagi dianakemaskan. Karena aku tahu semua ini pasti ada hikmahnya. Yang ikut ke posko dapat tambahan pengalaman berharga, yang gak diikutkan pun juga terhindar dari bahaya abu vulkanik yang mengandung silica (kabarnya). Pokoknya apapun itu, di mana pun aku berada, aku akan tetap optimis, berpikiran positif, dan tetap semangat. Hehe...

BP Maranatha

Sekarang gantian donk BP Maranatha unjuk gigi. Di sini jauh lebih tenang dan tenteram dibandingkan dengan BP Wonosari (untuk mengatakan lebih sepi ^^). Bayangkan, sehari di sini bisa cuma dapat satu saja pasien. Rekor tersedikit!!! Bravoo!!! Tapi ya konsekuensinya, penghasilan yang kudapatkan pun jauh lebih kecil dibandingkan yang lain. Satu pasien di sini dihargai lima ribu rupiah. Maka, aku yang kemarin dihitung menangani 8 orang pasien, hanya berhak mendapatkan 40 ribu rupiah. Hehe... tetap puji Tuhan!!! Jangan sampai aku jadi hamba uang. Nilai nominal itu bukanlah ukuran utama keberhasilan. Aku lebih mengutamakan kepuasan dan kenikmatan dalam bekerja. Sehingga, pekerjaan yang membosankan ini dapat kupandang sebagai permainan yang menyenangkan. Betul?

Kembali ke BP Maranatha. Meskipun sepi, aku mendapati bahwa suasana di BP ini cukup menyenangkan. Pegawak-pegawainya sejauh ini sangat baik dan ramah. Cewek semua!!! Maklum, BP ini juga merupakan Rumah Bersalin (RB). Jadi, gak ada perawat apalagi perawat cowok di sini. Yang ada adalah ibu dan mbak bidan. Bidan paling senior adalah Bu Deka, panggilannya. Beliau sudah puluhan tahun di sini. Sempat mengalami 'masa jaya' BP Maranatha waktu masih ada om Fifi di sini. Sekarang jadi sepi karena kalah saing sama RS di dekatnya. Hmmm... jangan menyalahkan siapa2... tetap bersyukur dan berpikiran positif aja. Yang penting masyarakat tertolong dan nama Tuhan tetap dimuliakan dengan hati yang tulus. Ada amen?

BP Maranatha... dari namanya sendiri saja, sudah menunjukkan adanya pengharapan besar akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Apalagi masa-masa sekarang yang musim bencana dan musibah. Tanda-tanda kedatanganNya semakin nyata terlihat dan terdengar. Di mana-mana ada banjir, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, tsunami, dll. Dalam masa-masa yang kata orang tak menentu ini, pengharapan akan kedatangan Tuhan Yesus merupakan berita kesukaan yang wajib disebarkan. Bagaimana caranya? Ya, bermacam-macam. Jangan berkecil hati. Tuhan pasti punya cara. Tuhan pasti buka jalan. Yang penting, saat Tuhan Yesus datang, kita sudah siap. Dan bukan hanya kita sendiri saja yang siap, melainkan juga saudara-saudara kita yang saat ini masih dirundun kegelapan dan membutuhkan juru selamat.

"Siapa mau Kuutus?" tanya Tuhan Yesus...

Ini aku Tuhan, utuslah aku...

Maranatha!!!

Chatting

Mengapa aku suka chatting? Meskipun kelihatannya gak berguna dan gak produktif... Karena dengan chatting, aku bisa mengaktualisasikan diriku sedemikian rupa sehingga aku merasa berarti. Aku bisa menyampaikan isi hati dan isi pikiran dengan lebih leluasa. Memang sih minus ekspresi wajah. Kata orang, ekspresi wajah dan bahasa tubuh itu berbicara lebih keras daripada kata-kata. Hm hm... Sungguhkah demikian? Masih belum tahu jawabannya... mungkin karena aku lebih mengandalkan pendengaran daripada penglihatan sehingga kata-kata dan intonasi suara jauh lebih berpengaruh bagiku daripada gerak gerik atau ekspresi wajah. Aku mungkin lebih ke tipe audio person. Beda dengan para visual atau audio visual person. Yang lucu lagi, aku sering bingung kalo bercakap-cakap face to face dengan orang lain. Aku bingung mau lihat apanya, matanya atau mulutnya. Kata orang lagi, kalo bercakap-cakap itu perhatikan matanya. Itu menunjukkan respek atau perhatian yang penuh. Tapi aku malah tambah bingung kalau harus lihat mata. Mau lihat mata kanan apa mata kiri? Kalau lihat mulutnya, itu lebih enak menurutku. Karena kalau telinga sulit mendengar ucapan yang pelan, aku masih bisa membaca gerakan mulutnya. Tapi kata orang lagi, orang yang suka memperhatikan mulut orang lain saat berbicara dan bukannya memperhatikan mata itu memiliki kecenderungan untuk autis. Doh, berarti aku ini cenderung autis ya? Hehe... Puji Tuhan! Lho kok? Lha iya, soalnya rata-rata orang autis itu punya kelebihan yang ornag lain nggak punya. Mereka dianugerahi Tuhan kecerdasan khusus di atas rata-rata. Ah, masa iya sih? Aku mungkin cenderung autis... tapi cerdas di atas rata-rata? Hehe... pingin banget sih, tapi kita tidak boleh sombong, kata mas Bernard (teman dewasa muda). wkwkwk...

BP Wonosari tempat Mengungsi ^^


Kembali ke BP Wonosari meskipun bukan jadwalnya karena menggantikan Yiska yang harus ikut pelatihan. Hati terasa ringan dan tidak ada beban. Karena ke wonosari, maka tidak bisa untuk ikut naik ke posko pengungsian Merapi di Banteng maupun Atmajaya. Dari 5 sekawan genk IGD, cuma aku saja satu-satunya yang belum pernah ditugaskan di posko merapi. Berpikir positif saja. Mungkin karena ada alasan yang lebih baik. Tetap semangat!!! Bagaimana tidak semangat... setiap kali ke BP Wonosari, pasti ada saja waktu untuk istirahat yang paling nikmat. Di manakah itu? Tidak lain tidak bukan adalah di "limosin putih" mobil ambulance yang tiap pagi mengantarkan pulang pergi Bethesda-BP-Bethesda. Entah kenapa, setiap kali naik si limo putih, rasa kantuk tidak dapat ditahan. Maka, tidak ada cara lain selain tidur untuk mengatasi rasa kantuk berat itu. Walhasil, aku jadi jarang banget ngobrol sama the driver, mas Arif. Padahal kan asyik tuh ngobrol... hehe...

Meskipun BP Wonosari kecil dan tidak ber-AC, aku selalu merasa nyaman berada di sana. Seperti di rumah sendiri. Mungkin masih belum bisa mengaktualisasikan diri sendiri 100% sih, karena aku masih merasa sangat kurang kompeten. Padahal sudah dibooster dengan semangat pagi dan belas kasihan. Tapi sepertinya itu semua belum cukup ya. Dan nggak ada yang bisa menggantikan kompetensi yang hilang selain dengan belajar kembali. Mungkin di antara para dokter yang ditugaskan di sini, akulah yang kompetensinya paling memprihatinkan. Tapi aku tahu aku tidak boleh minder, tidak boleh berlarut-larut berkecil hati, tidak boleh patah semangat. Aku masih harus terus maju sampai menemukan minat sejatiku. Selama ini aku gembar-gembor nggak suka dengan dunia klinis, lebih suka dunia ilmu kesehatan masyarakat. Nah, sekarang waktu tanggap darurat bencana merapi ini, aku perlu mengecek kembali apa yang kuyakini itu. Sungguhkah aku cocok berada di lingkungan yang kugembar-gemborkan itu? Aku sudah lihat sekilas bagaimana suasana posko pengungsian di Banteng, poskonya YEU. Kurang lebih begitulah lingkungan kerja yang jadi wilayah IKM. Salah satunya. Apakah aku cocok di situ? Hmmm... Entahlah...

Hari ini di BP Wonosari ada satu pasien yang juga merupakan pengungsi dari daerah Cebongan, Sleman. Datang dengan keluhan panas, menggigil, sakit perut kanan bawah. Setelah dicek darah, didapati angka lekositnya tinggi, khas appendisitis. Aku sudah menawarkan untuk dirawat di RSB Yogya. Sekarang tinggal menunggu. Semoga gak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kasihan, sudah mengungsi, masih harus menderita sakit. Kiranya Tuhan memberkati.

Peaceful Mind--Once Upon A Time In Wonosari

Akhirnya kelegaan itu tiba. Istirahat. Entah bagaimana, aku akhirnya merasa tenang dan damai kembali. Meskipun tidur siangku nggak terlalu nyenyak, kualitas tidurku menurun, aku sekarang bangun dengan perasaan segar dan pikiran yang jernih. Kubaca-baca kembali tulisan-tulisanku sebelumnya yang kutulis waktu aku lagi kalut dan gak tenang. Kudapati bahwa Tuhan sungguh baik. Tuhan bekerja menenangkanku dan menyadarkanku bahwa aku nggak pernah ditinggalkanNya seorang diri. Bahkan ketika aku merasa amat sangat tidak nyaman dan tidak enak hati. Tuhan selalu ada besertaku. Imanuel. Haleluya. Kalimat-kalimat inspiratif dari Max Lucado di buku Just Like Jesus telah mencelikkan mata batinku. Aku disadarkan bahwa apa pun yang kupikirkan dan kurasakan, Tuhan tahu. Saat aku merasa sangat tidak nyaman seperti tadi pagi, Tuhan juga tahu. Dia pun turut merasakan. Dan dia memahaminya. Benar apa kata Max. Tuhan menerimaku apa adanya, tetapi Dia tidak membiarkan aku seadanya. Dia ingin aku menjadi seperti Yesus. Wew... Tuhan nggak ingin aku berkubang dalam kesedihan dan kemurungan. Tuhan nggak ingin aku tenggelam dalam menyalahkan diri sendiri. Tuhan ingin aku bangkit. Tuhan menciptakanku untuk menjadi anak yang menyukakan hatiNya. Dan Tuhan bersuka saat melihatku bertumbuh semakin kuat. Tuhan beruka saat mnelihatku bersukacita di dalamNya. Betapa luar biasanya hal itu!!! Haleluya!!!

Saat ini, hujan sedang turun rintik-rintik membasahi bumi Selang, Wonosari, BP Bethesda, tempat di mana aku berada saat ini. Tempat yang mencuri hatiku. Tempat yang membuatku tergetar dengan semangat untuk memajukan sistem informasi kesehatannya, ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini. Tempat di mana aku pernah merasa sangat antusias dan semangat. Tempat di mana aku pernah menaruh belas kasihan yang murni untuk sesamaku. Masih adakah semuanya itu? Belum setengah tahun berlalu. Apakah aku sudah semakin menyatu dengan tempat ini? Apakah aku sudah bisa membaur dengan mereka yang ada di sini? Apakah aku sudah bisa memberkati dan bukannya menjadi beban? Hmmm... Thank God, for this wonderful and beautiful place. You have taken me and still using me. I surrender my life to You. Here I am Lord.

Akhirnya, aku memutuskan kembali untuk beryukur dan memuji Tuhan dalam hatiku dengan segenap yang ada padaku sekali lagi. Haleluya!!!

Stiffness

Tuhan, kenapa aku kaku sekali sih? Apakah Engkau menciptakanku sekaku ini? Untuk apa aku harus menjadi kaku seperti ini? Bagaimana caranya aku menjadi pribadi yang memancarkan kasihMU yang luwes itu? Itulah segelintir pertanyaan dan kegelisahanku saat ini. Aku tidak ingin mendengar jawaban yang bukan dari Tuhan. So, aku tidak akan menanyakannya kepada siapa pun juga selain kepada Tuhan. Tuhan pasti mendengar. Tuhan punya jawabannya. Yang kuperlukan hanyalah sabar menunggu, menenangkan hatiku, dan mendengarkan saja jawaban dariNya. Bisa melalui apa saja. Sesimple itu. Nggak bertele-tele, nggak muluk-muluk. Aku sudah bosan omdo. Aku pingin yang lebih simple dan praktis. Bagaimana kalau jawabannya nggak enak? Nggak nyaman? Yah, aku akan berusaha untuk melembutkan hatiku supaya aku bisa dibentuk seperti yang Tuhan mau. Dibentuk menjadi seperti apa? Lebih tepatnya, seperti Siapa? Ya seperti Tuhan Yesus sendiri. Makanya, bukan suatu kebetulan kalau aku sekarang juga lagi baca-baca buku berjudul Just Like Jesus karangan Max Lucado.

The Silence of Mimi

Lagi-lagi aku mendapat masukan tentang kependiamanku... kali ini dari Pak Wahyu Martono. Dengan gayanya yang santai dan gak langsung secara frontal, beliau memberiku masukan tentang kelemahanku (atau kelebihanku) ini. Pak Wahyu tiba-tiba saja bertanya dengan santainya, gimana aku waktu periksa pasien di posko. Terus tanya-tanya seputar itu. Bahkan Pak Wahyu menawarkan untuk diperiksa, untuk sekedar latihan ngomong. Katanya lagi, aku bisa bikin semacam skenario untuk latihan ngomong biar kalau periksa gak diem aja. Wew... Meskipun kesannya cuma sambil lalu saja, aku cukup memasukkannya ke dalam hati. Tahu sendiri kan, kalau aku ini masih sangat sensitif. Meskipun chasingku dari luar kelihatan diem dan cool, di dalam ini kebat kebit nggak karuan. Semakin mencoba menenangkan diri, malah semakin nggak karu-karuan. Semakin berusaha untuk berpikiran positif, malah semakin banyak pikiran negatif yang menyerbu. Doh... susahnya jadi Mimi... T_T

Aku tahu aku memang cenderung pendiam. So what? Salahkah dengan itu? Mungkin menjadi masalah karena aku ditempatkan di garis depan di mana dibutuhkan skill komunikasi aktif yang menuntut keaktifan dari pihakku. Aku sudah berusaha semampuku. Mungkin masih kurang. Yang kubutuhkan mungkin bukan masukan-masukan yang membuatku tambah merasa down atau nggak pe de, melainkan inspirasi, bombongan, dan tambahan semangat yang disampaikan sedemikian rupa sehingga tidak membuatku menjadi patah semangat. Wedew... ruwet ya... Aku ni kalau dikritik, baik itu positif apalagi negatif, bukannya tambah semangat untuk maju tapi malah kendor karena merasa diri masih jauh dari sempurna. Ya aku tahu sih, aku masih banyak kekurangan terutama di bidang komunikasi ini. Tapi semakin ditunjukkan letak kekuranganku, aku malah semakin gak bergairah untuk memajukan diriku. Dibutuhkan cara yang kreatif untuk membuatku mau maju dan mengatasi kekuranganku tanpa membesarkan kelemahan-kelemahanku. Piye yo? Ada yang bisa?

Aku nggak mau menyalahkan orang lain. Aku nggak mau berharap sepenuhnya pada manusia. Aku nggak mau menunggu diperlakukan seperti yang kuharapkan. Aku akan mencoba lagi untuk melakukan hal-hal baik dan sederhana seperti yang sudah pernah aku canangkan. Semangat pagi. Belas kasihan. Itu saja dulu. Selanjutnya aku serahkan pada Tuhan. haleluya. Amin!!!!!!!