Minggu, 27 Februari 2011

Baca Buku "Dipanggil Untuk Peduli" yuk... ^^


Aku sedang membaca buku "Dipanggil untuk Peduli--Suatu Theologi Keperawatan Kristen" karya Judith Allen Shelly dan Arlene B. Miller. Buku terjemahan dengan judul asli "Called to Care: A Christian Theology of Nursing" ini sangat menarik bagiku. Panjang, lebar, dalam, dan sangat berbobot. Lepas dari kualitas penerjemahan yang menurutku masih belum sempurna (maaf buat tim penerjemah), aku sungguh merasa tersentuh dan kagum dengan dinamika keperawatan Kristen yang dipaparkan dengan amat bagus. Ibu Judy dan Ibu Arlene membagikan pandangan dan pengalaman mereka bekerja sebagai perawat Kristen yang menghayati pekerjaan profesional mereka sebagai perawat sekaligus menghayati iman mereka kepada Tuhan. Wawasanku jadi sedikit bertambah, khususnya dalam bidang keperawatan Kristen. Aku baru tahu kalau sejarah keperawatan itulah yang lebih bersifat Kristiani dibanding sejarah kedokteran/medicine. Keperawatan itu, menurut buku ini, timbul dari praktek menerima dan memelihara orang-orang sakit dan orang-orang asing yang dilakukan oleh jemaat Kristen mula-mula. Sedangkan praktek kedokteran/medicine itu berasal dari praktek yang erat hubungannya dengan penyembahan berhala. Berkaca dari hal ini, maka para dokter tidak sepantasnya merasa diri lebih hebat atau lebih baik daripada perawat. Karena kalau mau jujur, siapa sih yang sebenarnya "paling berjasa" dalam menangani atau merawat pasien? Dokter paling-paling hanya memeriksa sebentar kemudian memberi instruksi. Sedangkan perawat lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersentuhan dengan pasien secara langsung. Perawatlah yang memperhatikan kebutuhan pasien, bukan hanya dari segi fisiknya semata melainkan juga dari segi mental, sosial, dan bahkan spiritual. Jadi, sudah bukan zamannya lagi para dokter menganggap diri sebagai "bos" sehingga tidak pada tempatnya memperlakukan perawat seperti jongos atau pembantu.

Kembali ke buku "Dipanggil untuk Peduli". Buku terjemahan ini diterbitkan oleh YAKKUM dengan tujuan untuk menginspirasi para perawat dan dokter Kristen khususnya yang bekerja di bawah payung YAKKUM, termasuk RS Bethesda, sehingga mereka mendapat tambahan wawasan dan semangat untuk melayani Tuhan melalui pekerjaan. Untuk lebih jelasnya, aku akan menuliskan daftar isi buku tersebut dengan tujuan bukan sekedar mempromosikan bukunya tetapi supaya lebih membangkitkan minat baca kita semua. Ini dia...

DAFTAR ISI

TANGGAPAN
Tanggapan Ahli

PENGANTAR
Pengantar Penejemahan
Pengantar Direktur Pelaksana Yakkum
Pengantar Penulis

BAGIAN SATU: PENDAHULUAN
  1. Kepedulian & Kisah Kristen
  2. Revolusi dalam Paradigma Keperawatan
  3. Pandangan Alkitabiah tentang Keperawatan
BAGIAN DUA: PRIBADI SEBAGAI FOKUS KEPERAWATAN
4. Apakah Artinya Menjadi Seorang Manusia?
5. Pribadi Sebagai Makhluk Spiritual
6. Pribadi Sebagai Suatu Kehidupan Kultural

BAGIAN TIGA: KONTEKS LINGKUNGAN KEPERAWATAN
7. Lingkungan Kasat Mata
8. Lingkungan yang Tidak Kasat Mata
9. Sebuah Lingkungan yang Dikisahkan

BAGIAN EMPAT: KESEHATAN SEBAGAI TUJUAN KEPERAWATAN
10. Bekerja Menuju Shalom
11. Pengharapan dalam Penderitaan
12. Paradoks Kematian

BAGIAN LIMA: KEPERAWATAN SEBAGAI SEBUAH TANGGUNG JAWAB IMAN
13. Keperawatan dalam Keperawatan Kristen
14. Pandampingan Spiritual
15. Menatap Masa Depan

LAMPIRAN
Pedoman untuk Mengevaluasi Terapi-terapi Alternatif

CATATAN

Demikianlah daftar isi buku "Dipanggil Untuk Peduli". Cukup menarik bukan? Bagi yang belum pernah membacanya, segeralah membaca karena tidak rugi kok meluangkan waktu-waktu senggang kita untuk mencerna isi buku tersebut. Kalau toh tidak semua bisa kita mengerti dan terapkan, paling tidak ada satu dua bagian atau percikan hikmat yang dapat kita ambil dan tanam dalam hati sehingga membuat hidup kita lebih bermakna. Lebih lagi, apa yang kita baca itu dapat mempengaruhi cara berpikir kita ke depan sehingga pekerjaan kita pun dapat menjadi lebih baik lagi. Tunggu apa lagi? Selamat membaca dan Tuhan Yesus memberkati kita semua! ^^

Once Upon A Time In My Life... About Dikte...

Ada satu kejadian yang masih aku ingat waktu aku kelas satu SD. Kejadian itu adalah ketika guruku, Bu Kapti namanya, sedang mengajari kami siswa-siswa kelas satu SDN Ungaran I Teladan Yogyakarta (hehe, ngujub... ^^) pelajaran "dikte". Maksudnya, Bu Kapti membacakan suatu kalimat sederhana, kemudian kami para murid yang masih lugu dan polos ini diwajibkan menuliskan kalimat tersebut dengan baik dan benar. Hadiahnya adalah mendapat nilai bagus. Benar-benar sistem pembelajaran yang menurutku kurang mendidik (maaf, Bu Kapti). Karena, kami dibentuk untuk begitu saja menuruti apa kata orang tanpa diperbolehkan membantah atau bertanya, hanya demi nilai bagus. Ke depannya, nggak heran kalau mentalitas bangsa ini pada umumnya hanya bersikap "Yes Mam, Yes Sir" tanpa pernah mempertanyakan suatu perintah dengan kritis, sekali lagi hanya demi penilaian atau upah semata. Kembali ke kelas Bu Kapti waktu itu. Yang bikin aku terheran-heran, aku ingat pernah dua kali tidak melakukan apa yang seharusnya diakukan oleh murid-murid pada umumnya. Kali yang pertama, aku iseng-iseng mengosongi lima kalimat yang diucapkan oleh Bu Kapti. Padahal, total kalimatnya hanya sepuluh buah. Maka, otomatis aku hanya mendapat nilai lima. Wew... Bayangkan!!! Herannya, aku nggak merasa sedih atau frustrasi. Aku malah senang mendapat nilai lima karena bosan dapat nilai sepuluh terus. ^^ Kali yang kedua, aku 'hanya' mengosongi empat kalimat sehingga nilaiku pun 'cuma' dapat enam. Kali ini, Bu Kapti mulai menaruh perhatian padaku. Di samping angka enam, Bu Kapti menulis pesan yang intinya menanyaiku mengapa aku banyak kosongnya. Beliau pikir mungkin aku mengalami keterbelakangan atau gangguan dalam menangkap pelajaran... mungkin... ^^. Bukannya sedih atau malu atau 'sadar', aku malah bangga mendapat 'surat' dari Bu Kapti itu. Angka enam aku lukis menjadi wajah orang, dan tulisan Bu Kapti aku bingkai indah2. Hehe... Aneh kah? Jujur, waktu kelas satu SD itu aku nggak punya beban untuk mengumpulkan nilai sebagus-bagusnya. Aku ke sekolah karena aku suka sekolah. Aku nggak ada ambisi atau niatan untuk jadi juara atau jadi pengoleksi nilai bagus. Bisa dikatakan, jiwaku masih murni dan polos, belum tercemar racun2 pendidikan yang membodohi. Maaf, maaf kalau ungkapanku ini terlalu kasar...

Saat ini aku tidak sepolos dulu. Aku sekarang tidak seberani dan semurni dulu. Sekarang aku mudah terpengaruh oleh apa kata orang yang kemungkinan timbul di belakangku. Aku semakin takut dengan penilaian2 orang lain. Aku heran, ke manakah aku yang waktu kelas satu itu? Ke manakah aku yang nggak ambil pusing dengan penilaian orang lain itu? Rasanya aku sungguh rindu kepadanya. Heran. Aku dulu begitu kreatif ya... ternyata aku ini pernah sekreatif itu rupanya. Hmmm... kenapa sekarang aku bisa gak kreatif lagi ya? Bahkan, aku sekarang jarang banget bertanya. Mungkin karena aku nggak tahu lagi apa yang harus ditanyakan. Aku jarang mempertanyakan sesuatu. Mentalku terlalu dimanjakan dengan didikte oleh orang lain. Aku terlalu asyik tinggal di zona nyaman 'didikte' orang lain. Lihat saja contohnya. Setiap kali jaga di IGD, aku masih belum bisa berpikir secara mandiri 100%. Masih menggantungkan diri pada senior. Sungguh memprihatinkan.

Aku nggak mau terjebak di sini untuk selamanya. Aku nggak mau terjebak dalam 'zona dikte' ini. Aku mau bangkit. Aku mau kembali menjadi diriku seperti waktu kelas satu dulu. Aku yang bebas dari ikatan nilai-nilai dunia. Aku yang berani tampil beda. Aku yang unik dan sukar diprediksi. Ya... aku... Bisakah? Mampukah? Sanggupkah?

Tuhan, tolong aku ya... aku mau menghayati kembali semangatku seperti waktu dulu... sucikan hatiku dan pikiranku, Tuhan... aku mau bersinar lagi bagiMu... bukan klise bukan teori... ini nyata... tolong aku, Tuhan... demi nama Tuhan Yesus... amin...

DIKTE??? NO MORE!!! ^^

Kamis, 24 Februari 2011

Insomnia? ^^

Insomnia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online, artinya adalah "keadaan tidak dapat tidur karena gangguan jiwa". Bagaimana seseorang dapat mengalami insomnia? Menurut Wikipedia, insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang utuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun. Keterangan mengenai insomnia secara klinis, sebab-sebabnya, dan bagaimana cara menanganinya secara medis dapat dicari di berbagai sumber. Silakan mencari sendiri. ^^ Yang ingin saya bagikan di sini mungkin belum pernah atau jarang disampaikan oleh kebanyakan pakar insomnia. Jadi, izinkanlah saya yang belum begitu berpengalaman ini untuk membagikan apa yang saya ketahui dan percayai berkaitan dengan insomnia. Mohon maaf kalau tidak sesuai dengan harapan dan keyakinan Anda.

Ok. Pernahkah Anda mengalami insomnia? Saya yakin sebagian besar dari Anda setidaknya pernah mengalaminya, minimal sekali dalam hidup. Saya juga pernah, dan bukan hanya sekali. Beberapa waktu yang lalu, waktu gejala manik saya kambuh, saya sering sekali mengalami yang namanya insomnia. Saya bisa tidak tidur selama berhari-hari tetapi tetap merasa segar bugar. Yah, namanya juga manik. Saya tidak ingin bercerita tentang maniknya, tetapi tentang insomnianya. Sampai mana tadi? O iya, sampai insomnia... Jadi begini... dari semua penyebab insomnia, ada satu penyebab yang menurut saya sangat penting untuk diperhatikan... faktor penyebab yang satu ini mungkin tidak pernah atau sangat jarang diutarakan oleh kebanyakan orang... apakah itu? Penasaran? Tetaplah bersama saya... ^^

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah mendengar kotbah yang disampaikan oleh seorang hamba Tuhan yang menjelaskan sesuatu yang menarik... kata beliau, jika kita sering terbangun dini hari tanpa sebab apa pun yang jelas, itu bisa berarti Tuhan sedang membangunkan kita untuk suatu maksud... jangan terburu-buru gelisah atau cemas apalagi mengira kita sedang gangguan kejiwaan... belum tentu... menurut penjelasan hamba Tuhan tersebut, yang harus kita lakukan saat tiba-tiba terbangun dini hari itu adalah segera berdoa mencari wajah Tuhan... bagi yang bingung dengan istilah yang terdengar terlalu rohani itu, izinkan saya menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana... ^^ Sewaktu kita terbangun dini hari tanpa ada sebab yang jelas, itu adalah kesempatan yang baik untuk berdoa, memuji Tuhan, berdiam diri, dan membiarkan hati dan pikiran kita tertuju pada hal-hal yang sekiranya Tuhan hendak sampaikan secara khusus... bisa saja Tuhan mendorong kita berdoa untuk suatu kebutuhan khusus, misalnya berdoa untuk bangsa dan negara, untuk gereja, untuk keluarga, atau untuk orang-orang yang tiba-tiba melintas di pikiran kita... Jangan bingung, jangan takut... lakukan saja dengan iman, yakin dan percaya bahwa Tuhan berkenan... kalau toh salah, tidak apa-apa... minimal, kita sudah berusaha untuk tidak kuatir... dan minimal lagi, kita makin dekat dengan Tuhan... Ingat saja akan perkataan ini, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payah kita tidak sia-sia... ^^

Memang tidak biasa dan rasanya aneh bagi kita yang jarang berdoa atau tidak terlalu sering mengalami insomnia. Tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba. Prinsip yang perlu dipegang adalah jangan takut untuk tidak bisa tidur. Sebab semakin takut atau kuatir, semakin tidak tenanglah hati kita... Semakin tidak tenang, semakin tidak bisa kita berdoa. Maka, tenangkanlah dahulu hati kita dan mulailah fokuskan hati dan pikiran pada pribadi Tuhan. Cukup mudah kan? Ya, memang mudah... ^^

Jadi, apabila suatu saat kita mengalami insomnia, atau sekarang juga ada yang sedang insomnia, jangan takut. Lakukan saja apa yang sudah saya utarakan di atas. Berdoa. Sembayang. Setelah itu, kasih tahu saya ya apa yang Anda dapatkan dari Tuhan. OK?! ^^

IGD oh IGD... ^^

Pekerjaan melayani pasien di IGD itu sungguh tidak ringan. Dibutuhkan energi ekstra. Coba bayangkan. Menghadapi berbagai macam manusia dengan karakternya masing-masing. Masih lebih mending kalau menghadapi manusia dalam kondisi terbaiknya, seperti ketika sedang berpesta. Tapi ini rumah sakit. Orang yang datang mayoritas adalah para pasien dengan masalah kesehatannya masing-masing. Orang yang sedang sakit tentu tidak dalam kondisi prima. Dalam kondisi yang sakit dan menderita, manusia cenderung untuk menampakkan karakter mereka yang "sebenarnya". Dalam kondisi biasa yang normal, manusia dapat menahan keburukan-keburukan mereka sehingga mampu menampilkan sisi terbaik dari karakternya. Misalnya, seseorang dapat menunjukkan kesabaran dan kebaikan hati dengan menekan ego atau kemarahannya saat dia sedang dalam kondisi yang biasa-biasa saja. Tapi dalam kondisi sakit atau menderita, orang yang biasanya ramah dan sabar tiba-tiba berubah 180 derajat menjadi pemarah dan tidak ramah. Ini hanya sekedar contoh. Tidak bisa digeneralisir memang.

Kembali ke setting IGD. Di IGD, pasien-pasien yang datang tentunya adalah mereka-mereka yang membutuhkan pertolongan cepat dan tepat. Mereka yang datang ke IGD biasanya menderita sakit yang membutuhkan pertolongan segera. Rata-rata temperamen pasien yang ada di IGD menunjukkan kecemasan, kekuatiran, emosi yang tinggi, ketidaksabaran, ketakutan, dsb. Menghadapi orang-orang seperti ini, dibutuhkan kesabaran dan mental yang tahan banting. Selain fisik yang prima, petugas kesehatan yang bertugas di IGD harus punya sikap mental yang tidak mudah loyo. Menghadapi satu orang yang sikapnya menjengkelkan saja sudah membuat hati seseorang tidak senang dan patah semangat. Apalagi di IGD, ada lebih dari satu orang yang dihadapi dalam sehari. Bisa dibayangkan betapa capek dan penatnya.

Meskipun sudah dibagi menjadi tiga shift, rasanya tetap saja jaga di IGD itu terasa tidak ringan. Untuk mengatasi rasa jenuh dan lelah, maka tidak ada salahnya untuk mengembangkan sikap humor yang sehat sehingga tercipta atmosfer kerja yang menyenangkan. Waktu-waktu yang dihabiskan di IGD bisa diisi dengan obrolan-obrolan ringan sampai berat antara para dokter, perawat, pasien, satpam, petugas pos, dan lain-lain. Dengan mendengarkan dan menanggapi obrolan-obrolan tersebut, beban kerja yang luar biasa berat itu dapat teralihkan atau tidak begitu dirasakan lagi, digantikan dengan sukacita dan semangat. Memang tidak semua orang dapat disenangkan atau puas dengan apa yang kita lakukan atau katakan. Tujuan kita bukanlah untuk menyenangkan semua orang melainkan fokus pada apa yang menjadi tugas utama kita masing-masing. Yang penting, miliki selalu mental dan sikap seorang pembelajar yang baik. Lupakan apa yang sudah lalu, yang membuat patah semangat, yang mengecilkan hati. Ambil hikmahnya saja. Tujukan pandangan pada hal-hal yang membawa sukacita dan damai sejahtera. Di IGD yang hiruk pikuk itu, pastilah tersembunyi mutiara-mutiara kedamaian yang indah yang menanti untuk ditemukan. Selamat mencari. ^^

Senin, 21 Februari 2011

Holistik dalam Pelayanan Kesehatan... Sekedar Uneg-uneg... ^^

Holistik. Kata yang cukup akrab di telinga kita. Mendengar kata ini, dalam bayangan saya selalu muncul gambaran tentang pelayanan yang holistik. Pelayanan dalam bidang apa saja, entah itu keagamaan, kesehatan, pendidikan, saat ini sedang gencar-gencarnya mencanangkan kata "holistik". Bukan sekedar kata. Holistik mengandung makna menyeluruh, mencakup semua aspek, baik itu jasmani maupun rohani. Dalam bidang kesehatan, pelayanan yang holistik tentu saja mencakup pelayanan dari segi fisik, sosial, maupun spiritual. Pelayanan yang holistik ini mencoba menjawab kekurangan atau kelemahan dari bentuk pelayanan kesehatan ala barat yang lebih mementingkan sisi jasmaniahnya saja. Kebudayaan dan pola pikir mayoritas masyarakat dunia barat terlalu condong ke segi fisik material saja sehingga tidak dapat mengakui adanya realitas spiritual yang mempengaruhi hidup manusia. Manusia hanya dipandang sebagai makhluk jasmaniah saja. Sisi rohaniah tidak diperhatikan karena dianggap tidak logis dan tidak dapat dibuktikan keberadaannya. Akibatnya, dalam pelayanan kesehatan ala barat, yang dikedepankan adalah teknologi terkini dalam bentuk terapi obat-obatan kimiawi maupun teknik-teknik pengobatan mutakhir seperti operasi, khemoterapi, radioterapi, dsb. Tidak salah memang, tetapi kurang lengkap. Jika manusia hanya dipandang sebagai makhluk fisik/jasmaniah belaka, maka segi rohaniah/batiniahnya tidak pernah diperhatikan dengan selayaknya. Akibatnya, manusia hanya dipandang seperti layaknya mesin saja lengkap dengan onderdil2 yang dapat rusak. Pelayanan kesehatan ala barat pun terkesan kering akan sentuhan personal dari para pelayannya.

Di sisi sebaliknya, pelayanan kesehatan ala timur lebih mengedepankan sisi spiritual dibandingkan sisi jasmaniah. Orang-orang yang mendalami mistik ala timur memandang badan atau jasmani manusia itu hanyalah ilusi belaka. Yang paling utama dan merupakan kenyataan yang sebenarnya adalah spiritualitas. Untuk mencapai kondisi yang sempurna, termasuk kesehatan, manusia harus meleburkan dirinya ke dalam dimensi spiritual. Pribadi manusia harus melebur dalam semesta yang impersonal. Menurut tradisi mistik ala timur, keadaan impersonal atau tanpa kepribadian itulah yang paling ideal. Berdasarkan keyakinan ini, maka berkembanglah suatu sistem pelayanan kesehatan holistik ala timur yang mengedepankan usaha-usaha menyatukan/meleburkan pribadi manusia dalam ketiadaan pribadi semesta melalui meditasi-meditasi, penyeimbangan energi, dsb. Dalam perkembanagn zaman dan budaya yang makin materialistik dan kosong secara spiritual, konsep-konsep mistik ala timur itu begitu cepatnya menarik perhatian mereka-mereka yang sudah jenuh dengan buaian materialsme. Maka, tidak jarang orang-orang zaman sekarang pun ikut ambil bagian dalam pengobatan-pengobatan alternatif yang menyebut diri sebagai "holistik" karena sudah frustrasi dengan "kegagalan" pengobatan/pelayanan kesehatan ala barat.

Lalu, di manakah posisi kita sebagai orang percaya (kepada Tuhan Yesus sebagai TUHAN) seharusnya? Terlalu ekstrim dengan mengedepankan salah satu sisi kemanusiaan entah itu jasmani maupun rohani tentu tidaklah tepat. Kita perlu mengingat kembali kebenaran TUHAN yang berdasarkan sumber yang dapat dipercaya, yaitu Kitab Suci (Alkitab). Berdasarkan kesaksian Alkitab, manusia terdiri dari roh, jiwa, dan tubuh di mana ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ketiga bagian itu dapat dibedakan tetapi jika dipisahkan maka mereduksi hakikat kita sebagai manusia yang hidup di dunia. Ketiganya penting. Manusia berada dalam kondisi yang sehat dan sempurna apabila terdapat hubungan yang selaras dan harmonis dengan TUHAN sang Pencipta. TUHAN adalah Pencipta yang memiliki kepribadian. Manusia tidak dapat melebur menjadi tuhan, tetapi TUHAN melalui Roh Kudus dapat tinggal dalam manusia. Kemanunggalan TUHAN melalui RohNya dalam manusia itulah yang menciptakan kondisi sehat seutuhnya yang disebut sebagai Shalom. Jadi, holistik dalam perspektif iman kita sebagai orang yang percaya kepada TUHAN adalah sempurna sama seperti TUHAN adalah sempurna. Jika TUHAN itu baik, maka kita pun harus menjadi baik. Jika TUHAN itu kasih, maka kita pun harus hidup dalam kasih. Pelayanan kesehatan yang holistik pun demikian. Tidak hanya mengedepankan sisi teknologi semata, tetapi juga menunjukkan kasih yang diwujudnyatakan dan dirasakan melalui perbuatan manusiawi.

Sebagai kesimpulan, holistik harus diterapkan dalam berbagai bidang pelayanan. Holistik yang sesungguhnya adalah holistik yang melibatkan TUHAN sebagaimana Dia adanya. Pelayanan kesehatan, pendidikan, keagamaan, dll yang holistik mencakup pelayanan dalam bidang fisik seimbang dengan pelayanan dalam bidang spiritual. Tanpa keseimbangan yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, maka holistik hanya tinggal sebagai jargon tanpa arti yang sesungguhnya. Marilah kita menerapkan prinsip holistik tersebut dalam bidang kita masing-masing di mana Tuhan telah menempatkan kita.


Sabtu, 19 Februari 2011

Ikut Sekolah Menulis Nih Ceritanya... ^^

Fiuh... puji Tuhan haleluya... habis bikin dua renungan singkat untuk kukumpulkan Sabtu minggu depan di kelas menuis renungan. Untuk sementara sepertinya nggak begitu sulit atupun rumit. Cukup ketak ketik singkat sambil menuliskan kembali uneg-uneg berupa cerita kehidupanku yang nggak terlalu muluk. Setelah ketemu temanya, baru aku mencari perikop Alkitab yang pas. Yah, memang kebalik dari cara yang dianjurkan oleh Pak Zega tadi siang. Seharusnya, renungan itu dibuat dengan cara menyesuaikan ilustrasi dengan perikop Alkitab, bukan sebaliknya. Tapi bagaimana ya... aku gak tahu mau nulis bagaimana lagi... ya maaf deh... namanya juga lagi belajar... semoga gak sia-sia. Bukan dimuat atau tidak dimuatnya, melainkan kepuasan hati setelah menuliskan renungan atau buah pikiranku itulah yang terpenting. Bukan pula uang atau honor yang bakal diperoleh, melainkan bagaimana tulisan itu bisa berdampak bagi yang membaca, itu yang terutama. Yah, itulah yang sedang kualami hari ini. Sedikit euforia memang, jadinya menuliskannya di sini pun agak kacau balau. Sekali lagi maaf...

Ini hari pertama aku ikut sekolah menulis dan jurnalistik di GKI Gejayan. Senang sekali. Selain bisa menyalurkan minat dan bakat, aku bisa mangkir sebentar dari kesibukan di RS. Selama beberapa minggu ke depan setiap Sabtu jam 8.00-selesai, aku dengan senang hati duduk manis mendengarkan kuliah2 seputar menulis dan jurnalistik. Aku menyerap semua hal yang bisa kuserap. Harapanku, aku bisa menghasilkan karya tulis yang moncer. Amin. Bisa berupa artikel, tulisan2 pendek, buku, novel, dll. Itu impianku sejak dulu. Sedangkan harapan ibu, aku nantinya bisa membantu RS Bethesda dalam hal promosi di bidang tulisan dan media. Yah, win win solution lah. Thank God buat kesempatan ini. Tidak akan kusia-siakan.

Tuhan bener2 baik dan kreatif. Tahu betul apa yang menjadi kerinduan dan kegelisahanku. ^^

Selasa, 15 Februari 2011

Sedikit Cerita tentang Dunia Tidak Kasat Mata... ^^

Banyak cerita tentang hantu atau makhluk-makhluk tak kasat mata. Di rumah, di sekolah, di kantor, di rumah sakit. Di mana-mana. Tak terkecuali di RS Bethesda di mana aku setiap hari wira-wiri ini. Kemarin aku mendengarkan sebentar obrolan asik dengan Bu Cicik, perawat ruang E, istrinya Pak Wahyu, tentang pengalaman-pengalamannya dengan dunia lain. Ternyata Bu Cicik lumayan sering diberi penampakan atau sejenisnya ketika beliau bertugas. Ada yang berupa penampakan pocong, ada juga yang berupa bau bunga melati atau pandan. Kalau bau melati yang harum banget itu tandanya ada yang mau meninggal, biasanya pasien atau orang yang dikenalnya, begitu cerita Bu Cicik. Seru sekali mendengarkannya sehingga aku betah mendengarkan berlama-lama sampai-sampai follow up pasien pun aku lama-lamain supaya bisa terus mendengarkan. Hehe. Ada cerita tentang telepon dari ruang E yang meminta dikirim tabung oksigen, ternyata tidak ada orang yang menelepon. Ada lagi cerita tentang pasien yang dikunjungi "pendeta dari surga". Yang menarik, ada yang punya indra keenam mengatakan bahwa setiap orang yang meninggal pasti dijemput makhluk gaib, bias berwujud perempuan atau apa saja.

Tidak semua orang bisa melihat makhluk-makhluk gaib atau dunia tidak kasat mata itu. Aku sendiri sampai sekarang juga belum pernah ditampaki atau mendapat pengalaman gaib seperti itu. Tapi aku percaya makhluk-makhluk itu ada. Di mana-mana. Yang aku ketahui, dunia lain itu penuh dengan roh-roh yang terbagi menjadi roh-roh jahat dan roh-roh yang melayani Tuhan. Roh-roh jahat sendiri asalnya dari roh-roh yang melayani Tuhan namun terjatuh berasama dengan kejatuhan Penghulu Malaikat bernama Lucifer. Sedangkan roh-roh yang melayani Tuhan itu biasa disebut sebagai malaikat. Tugas mereka adalah melaksanakan perintah Tuhan seperti menyampaikan pesan Tuhan, melindungi umat Tuhan, dsb. Dari penjelasan firman Tuhan yang pernah aku baca di Alkitab, jumlah malaikat yang di pihak Tuhan itu lebih besar daripada malaikat-malaikat yang jatuh. Makanya, aku tidak takut atau ngeri terhadap fenomena dunia lain atau alam gaib. Karena aku percaya, Tuhan melindungiku sedemikian rupa dengan anugerahNya yang memagariku seperti perisai. Pasti ada malaikat-malaikat yang dikirimNya secara tersembunyi untuk melindungiku. Dan lagi, bukankah Roh yang ada pada kita itu lebih besar daripada roh yang ada di dunia ini? Jadi, tidak ada alasan untuk takut dengan penampakan-penampakan apa pun juga.

Kembali ke penampakan di RS Bethesda. Ibu juga katanya pernah ditampaki. Tapi ibu pernah bilang kalau mereka-mereka yang menampaki itu malah membantu ibu dalam tugasnya. Bisa jadi, beberapa penampakan itu sebenarnya adalah malaikat, bukan roh jahat. Atau, bisa juga merupakan cara Tuhan untuk menyampaikan sesuatu yang penting kepada kita. Misalnya, ada pasien yang dalam keadaan gawat kemudian ada perawat yang mendapat penampakan di sekitar pasien itu sehingga secara "tidak sengaja" perawat itu dapat segera menolong pasien yang kondisinya sedang gawat tersebut. Memang tidak semua penampakan atau roh itu berasal dari Tuhan. Makanaya, kita pun perlu mengujinya. Prinsipnya, jangan takut. Yang penting kita memiliki dan tinggal di dalam kasih Tuhan. Karena kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan, termasuk ketakutan terhadap hal-hal gaib yang tidak kasat mata.

Bagi yang diberi anugerah dan kelebihan untuk melihat hal-hal gaib, jangan takut dan jangan pula sombong. Karena Tuhan pasti punya rencana yang indah dan khusus. Yang penting, muliakan Tuhan dengan apa pun kemampuan atau pengalaman itu. Bagi yang tidak punya kemampuan atau kelebihan untuk melihat hal-hal gaib, tetaplah bersyukur karena Tuhan tetap mengasihi. Yang terpenting bukanlah bisa atau tidak bisanya kita melihat atau mengalami hal-hal seperti itu. Yang terpenting adalah kita tetap hidup di dalam kasih, baik ketika kita menghadapi hal-hal natural maupun ketika kita mengalami hal-hal supranatural. Jadi, sekali lagi jangan takut. Hehe...

Minggu, 13 Februari 2011

Seni Menjadi Pasien

Bukan hanya dokter saja yang perlu belajar "seni menjadi dokter"... Menjadi pasien pun ada seninya... Lho, seni menjadi pasien? Seperti apa ya itu? Hehe... meskipun aku bukan pakar ilmu seni atau psikologi, aku mau mencoba mengutarakan pandanganku tentang ini... jadi, mohon maaf kalau apa yang aku tuliskan ini banyak ngawurnya ^^. Menjadi pasien tentu bukanlah keinginan dari manusia pada umumnya. Karena menjadi pasien itu berarti menjadi sakit atau tidak berdaya. Dalam kondisi sakit dan tidak berdaya itu, orang mendapat status sebagai "pasien" manakala dia meminta pertolongan profesional dokter atau ahli penyembuhan lainnya. Dan sebagai pasien, seringkali mereka yang sakit itu berada atau ditempatkan di posisi yang lebih rendah daripada dokter atau ahli penyembuhannya. Meskipun sekarang orientasi pelayanan kesehatan sudah beralih ke pasient safety dan sejenisnya, tetap saja posisi pasien masih di bawah posisi dokter atau ahli penyembuhan berdasarkan pengetahuan dalam bidang kesehatan yang dimiliki. Ya wajar saja... yang tidak tahu berguru pada yang lebih tahu, demikian pula pasien "berguru" pada dokter atau ahli penyembuhan.

Yang seringkali kuamati meskipun akurasinya patut dipertanyakan ^^, ternyata sikap sebagai seorang pasien pun turut mempengaruhi proses komunikasi dengan sang dokter/ahli penyembuhan yang nantinya juga mempengaruhi proses kesembuhan penyakitnya. Ada pasien yang bersikap positif optimistik dan kooperatif, namun ada juga yang bersikap negatif pesimistik dan tidak kooperatif. Sikap positif pasien ditunjukkan dengan menyapa dokter/ahli penyembuhan dengan ramah, rendah hati, mau bekerja sama, terbuka terhadap masukan, mau belajar, dan punya harapan serta semangat meskipun mungkin penyakit yang dideritanya sukar disembuhkan atau bahkan tidak dapat disembuhkan sama sekali. Dokter/ahli penyembuhan yang menghadapi pasien seperti ini akan terbantu juga dalam melayani, minimal merasa simpati terhadap pasiennya sehingga kalaupun toh tidak bisa memberi jaminan kesembuhan 100%, dokter tetap bisa memberikan pelayanan terbaik dengan hati yang penuh sukacita dan semangat. Sebagai timbal balik, pasien akan mendapat kepuasan entah dia sembuh sempurna atau tidak... Sikap optimis yang menyertai sikap positif itu akan mendorong kemajuan terapi juga. Sudah banyak kasus yang menunjukkan bahwa efek placebo atau sugesti yang timbul dari sikap optimis ternyata berpengaruh banyak terhadap kesembuhan suatu penyakit yang sukar dijelaskan secara ilmiah. Apalagi jika ditambah faktor eks yaitu faktor Tuhan, maka tidak mustahil yang namanya mukjizat itu dapat terjadi.

Sebaliknya, sikap negatif yang ditunjukkan pasien dapat berupa sikap antipati, bermusuhan, meremehkan, tidak percaya, senang membantah, dan hanya mencari gara-gara. Sikap ini dapat menghambat hubungan komunikasi dengan dokter/ahli penyembuhan sehingga menghambat pula proses kesembuhan yang dapat berlangsung. Apalagi jika ditambah dengan sikap pesimistik. Penyakit seringan apa pun bahkan tidak akan tersembuhkan apabila pasien itu sendiri sudah tidak punya harapan dan semangat di dalam dirinya. Dalam hal ini, tugas pasien adalah mengaktifkan kembali sikap positif dan optimisme dalam dirinya. Tidak mudah memang, apalagi jika si pasien dalam kondisi yang depresi. Dibutuhkan dukungan yang kuat dari dokter/ahli penyembuhan, keluarga, teman2, dan lingkungan sekitar pasien untuk membangun semangat dan harapan yang positif itu.

Membangun sikap yang positif, optimis, dan kooperatif itulah yang aku sebut sebagai "seni menjadi pasien". Bukan hal yang mudah memang, sebab sikap yang positif itu bukanlah sikap alamiah dari manusia yang hidup di dunia yang tidak abadi ini. Tetapi bagaiamanapun juga, sikap positif itu perlu dan harus terus menerus ditumbuhkan apalagi jika sedang berada di posisi sebagai pasien. Kemenangan yang sejati dari seorang pasien bukanlah semata-mata sembuh dari penyakit fisiknya melainkan bagaimana menumbuhkan dan mempertahankan sikap hati dan jiwanya tetap hidup. Sehingga, meskipun pada akhirnya harus menghadapi kematian akibat penyakit yang diderita, si pasien tetaplah tergolong sebagai pemenang.

Siap menjadi pasien yang menang? Hehe... ^^

Seminggu di SMF Interna, Ini yang Aku Dapatkan... ^^

Seminggu mengikuti dr. Sapto di polikilinik interna dan visite di bangsal2 RS Bethesda ini memberiku beberapa inspirasi untuk menuliskan tentang sesuatu. Salah satunya adalah mengenai hubungan dokter dengan pasiennya. Hubungan dokter dengan pasien ada banyak jenisnya. Ada yang murni hubungan terpetik, ada yang bercampur dengan persahabatan/pertemanan, dan ada juga hubungan yang memanfaatkan. Hubungan yang murni terapetik antara dokter dan pasien adalah hubungan yang standar terjadi di lingkungan medis klinis. Dokter hanya berperan sebagai agen dan pasien sebagai klien. Tidak lebih dan tidak kurang. Di luar ruang praktek tidak ada lagi hubungan apa-apa. Bisa dikatakan, hal ini merupakan sikap profesional yang umum yang sudah seharusnya ada pada dokter terhadap pasien-pasiennya. Dalam hubungan ini, pasien datang dengan membawa keluhan2 mereka untuk dikonsultasikan dengan dokter, kemudian dokter menganalisa-memeriksa-mendiagnosa-memberi terapi atau konsultasi, setelah itu selesai. Tidak ada pembicaraan lebih lanjut. Tidak ada obrolan basa-basi. Dokter tidak perlu mengenali pasien lebih lanjut, tidak perlu mengetahui latar belakang pasien lebih lanjut.

Hubungan yang bercampur dengan persahabatan/pertemanan merupakan hubungan yang lebih dari sekedar hubungan terapetik. Bisa dikatakan, hubungan jenis ini merupakan hubungan plus. Sikap profesional dokter tetap ada tetapi tidak berhenti sampai di situ saja. Dokter juga menambahkan sikap yang lebih kepada pasien2nya. Dokter menganggap pasien2nya seperti teman atau keluarganya sendiri. Dokter mengembangkan sikap empati yang mendalam di samping kompetensi klinisnya. Dokter akan sangat peduli dengan apa saja yang dialami oleh pasien2nya, bukan hanya sekedar memeriksa penyakitnya saat itu saja. Obrolan basa-basi pun sering diutarakan dokter untuk membuat pasien merasa lebih nyaman.

Hubungan ketiga, yaitu hubungan yang memanfaatkan merupakan hubungan yang bisa dikatakan tidak membangun antara dokter dan pasien. Hubungan ini memanfaatkan kepercayaan dan kebaikan hati entah dari dokter maupun pasiennya. Pihak yang memanfaatkan maupun yang dimanfaatkan bisa dari dokter atau pasiennya. Sebagai contoh, ada dokter yang memanfaatkan pasien dengan melakukan pemeriksaan2 yang tidak perlu sehingga pasien harus mengeluarkan beaya yang lebih dari seharusnya. Sebaliknya, ada pula pasien yang memanfaatkan kebaikan hati dokternya hanya untuk mendapatkan perhatian lebih atau keuntungan pribadi. Bisa dikatakan, hubungan jenis ini merupakan hubungan yang minus.

Dari ketiga jenis hubungan itu, aku melihat dr. Sapto termasuk dokter yang mengembangkan hubungan terapetik plus persahabatan/pertemanan dengan pasien2nya. Memang ada satu dua kasus yang dialami beliau di mana beliau dimanfaatkan oleh pasiennya. Tapi hebatnya, dr. Sapto tidak pernah kulihat memarahi pasien2nya semenjengkelkan apa pun sikap mereka meskipun beliau tahu juga bahwa sedang dimanfaatkan. Bahkan, dalam kondisi yang jenuh dan capek pun beliau tetap melayani pasien dengan seramah mungkin. Mungkin ini semua karena proses belajar beliau yang luar biasa. Belajar bukan hanya ilmu kedokterannya saja, melainkan juga ilmu komunikasi dan manajemen kasih yang tidak diajarkan di sekolah formal. Pastilah beliau belajar sikap yang luar biasa itu dari kehidupan sehari-hari. Sikap luar biasa itu pasti terbentuk bukan sehari dua hari saja melainkan bertahun-tahun dari kebiasaan2 kecil di lingkungan sekitar.

Masih 3 minggu lagi aku mengikuti dr. Sapto di SMF Interna ini. Waktu yang ada ini akan aku manfaatkan untuk menyerap ilmu dan keteladanan beliau. Harapan ke depan, aku bisa setidaknya mempunyai sikap yang luar biasa itu. Dan kiranya di dunia ini semakin banyak dr. Sapto-dr. Sapto bermunculan sehingga wajah dunia yang kelam ini dapat tercerahkan. Amin.

Ribetnya Persiapan Pernikahan

Ribetnya mempersiapkan pernikahan... apalagi di Indonesia, khususnya di Jogja... di sini, pernikahan bukan hanya sekedar mempersatukan dua orang yang berbeda saja, melainkan juga dua keluarga... keluarga besar, lagi... wew... baru dalam persiapan saja sudah terlihat dan terbayang betapa merepotkannya... belum beaya yang nanti bakalan dikeluarkan... kalau dipikir-pikir, boros juga ya... "cuma" mengumumkan pernikahan saja kok ribetnya setengah mati... sepertinya sayang ya membuang-buang uang hanya untuk hal-hal yang tersier... tapi, sekali lagi tapi, tidak bisa disimplifikasikan demikian juga... Pernikahan merupakan salah satu peristiwa dalam hidup manusia yang menunjukkan kebesaran Tuhan di mana manusia belajar bahwa jalan Tuhan tidak terselami... Di samping kelahiran dan kematian, pernikahan merupakan "misteri Ilahi" yang sering menimbulkan perasaan kagum, heran, dan takjub... bagaimana bisa seorang laki-laki bertemu dengan seorang perempuan kemudian mengikat janji sehidup semati padahal baru kenal beberapa waktu... pernikahan merupakan gerbang memasuki kehidupan baru selanjutnya, seperti halnya dengan kelahiran dan kematian... oleh karena itu, peristiwa pernikahan ini pun perlu dirayakan sedemikian rupa sebagai tonggak atau momen bersejarah bagi yang bersangkutan dan keluarganya...

Bagi orang yang terlalu memikirkan besarnya beaya, maka akan merasa sangat sayang dan heran mengapa uang yang sebesar itu bisa-bisanya dihabiskan dalam sehari hanya untuk memamerkan sesuatu yang hanya bisa dinikmati sebentar, yaitu dalam hal ini berupa pesta pernikahan yang mewah dan megah... Mereka berpikir sungguh alangkah sayangnya jika uang sebesar itu hanya dihabiskan untuk bunga2, dekorasi, riasan dsb yang hanya bertahan selama satu atau beberapa hari saja... Tapi bagi orang yang tidak terlalu mendewakan uang dan kekayaan, mereka tidak akan terlalu merasa sayang mengeluarkan begitu besar beaya demi menghasilkan sesuatu yang indah dan berkesan mendalam... Pertimbangannya, orang-orang yang menghadiri suatu pesta pernikahan akan disuguhi dengan pemandangan yang indah/cantik serta jamuan yang lezat sehingga menerbitkan rasa kagum dan syukur kepada Tuhan yang memberikan segala kekayaan dan kenikmatan serta kemampuan untuk menikmati semuanya itu... Yang terpenting di sini adalah kepuasan batin yang melebihi segala nilai uang...

Kembali ke ribetnya persiapan pernikahan... pernikahan bukan melulu soal berapa beaya yang nantinya bakal dikelarkan... memang besarnya beaya itu penting, tapi itu bukanlah hal yang paling esensial dalam pernikahan... yang paling esensial adalah bagaimana menjaga supaya pernikahan itu tetap kudus dan berkenan bagi Tuhan... ribetnya persiapan pernikahan tidak sebanding dengan proses kehidupan yang jauh lebih kompleks lagi... ribetnya persiapan pernikahan hanya merupakan gambaran dari rumitnya kehidupan yang sesungguhnya... ribetnya persiapan pernikahan perlu untuk dijalani tetapi janganlah menjadi alasan untuk bersungut-sungut atau berhenti melanjutkan kehidupan...

Selamat beribet-ribet ya... ^^

Jumat, 11 Februari 2011

Dari Sinetron Aku Belajar Toleransi... ^^

Sinetron yang tidak aku suka selalu mengisi ruang keluarga rumahku setiap sore sampai malam hari. Dengan musik yang asal genjreng dan cerita yang tidak karuan (menurutku), sinetron2 itu membombardir rumahku. Aku sudah nggak pernah lagi ngikutin segala macam sinetron Indonesia sejak... sejak kapan ya? Yah, pokoknya sudah lama lah... Meskipun demikian, tetap saja sinetron2 nggak mutu (menurutku) itu selalu merajai jam2 belajar masyarakat. Padahal aku dan kakakku sudah nggak pernah menontonnya. Tapi ternyata masih ada juga orang2 yang suka dengan sinetron2 seperti itu. Di rumahku saja ada dua pengikut setia sinetron2 nggak jelas (menurutku) di satu stasiun TV swasta ternama. Mereka adalah ibu dan Lek Sar, dan kadang2 bapak juga. Entah apa motivasi mereka menontonnya. Yang jelas, selalu saja mereka rame atau ribut sendiri waktu menonton sinetron. Seolah-olah mereka merasa lebih pintar dan lebih tahu bagaimana jalan cerita sinetron yang ditonton itu seharusnya. Berisik sekali deh kalau Lek Sar mulai berkomentar... ^^ Mungkin ini semacam katarsis bagi Lek Sar dan ibu yang sehari-harinya sudah sibuk sekali bekerja di rumah dan di kantor, menerima omelan dari orang2, mendengar ketidakpuasan di sana sini, dsb dsb. Kemarahan dan frustrasi yang menumpuk itu kemudian dicurahkan atau dilampiaskan dengan memaki-maki layar televisi, tepatnya tokoh2 yang sedang dilakonkan di sinetron2.

Mengingat segi positif dari sinetron, yaitu sebagai sarana katarsis atas kepenatan sepulang atau sehabis kerja seharian (bagi ibu dan Lek Sar, bukan bagiku ^^), maka aku pun mengembangkan sikap toleransi yang amat sangat besar sedemikian rupa terhadap ritual menonton sinetron. Meskipun suaranya cukup keras dan mengganggu konsentrasiku setiap kali aku membutuhkan suasana yang nyaman untuk menulis, membaca, atau berdoa, aku berusaha untuk tidak marah2 atau bersungut-sungut terhadap ibu maupun Lek Sar. Meskipun mungkin aku punya segudang alasan yang benar mengenai kejelekan sinetron Indonesia saat ini, aku tetap harus menghargai mereka2 yang telah mengikatkan segenap emosi jiwanya demi menonton sinetron dan melihat jagoannya yang 'dikuya-kuya' itu akhirnya menang. Meskipun menurutku bodoh sekali jika sampai terhanyut dan terlarut dalam alur cerita sinetron yang mbulet nggak karuan, aku tetap tenang dan sabar membiarkan mereka (ibu dan Lek Sar) asyik nonton sinetron.

Jika aku sampai marah2 nggak karuan sama ibu dan Lek Sar cuma gara2 sinetron, maka apa bedanya aku dengan mereka2 yang gampang marah nggak karu2an sehingga melakukan tindakan anarkis terhadap pihak2 yang punya keyakinan yang berbeda dengan dirinya? Jika aku sampai melakukan aksi sepihak seperti mematikan televisi di saat ibu dan Lek Sar sedang asyik nonton sinetron, maka apa bedanya aku dengan mereka yang sukanya main hakim sendiri dengan merusak harta milik orang lain yang berbeda aliran atau pandangan? Dan jika aku sampai hati memaksakan keinginanku untuk memutar lagu2 rohani Hillsong atau True Worshippers alih2 membiarkan televisi menyala dengan sinteron yang sedang ditonton oleh ibu dan Lek Sar, maka apa bedanya aku dengan mereka yang sukanya memaksakan kehendak dan keinginan dengan cara unjuk kekuatan atau pamer massa?

Yah, ini cuma sekedar uneg2ku... Aku memang masih belum berani mengutarakannya secara gamblang dan terang2an... karena siapakah aku ini? Aku cuma seorang anak bungsu di keluargaku dengan ibu dan PRT bernama Lek Sar yang suka nonton sinetron. Aku sendiri nggak suka nonton sinetron. Hehe... Semoga maksud uneg2ku ini bisa kesampaian ya... Salam damai!!!


Minggu, 06 Februari 2011

Berkat dari Workshop Penulisan dan Jurnalistik

Haleluya... Puji Tuhan... ibu ternyata mendukungku untuk ikut Sekolah Penulisan dan Jurnalistik yang diadakan di GKI Gejayan... katanya supaya bisa membantu promosi dan marketing RS Bethesda karena selama ini sangat minim promosi dalam bentuk tulisan di media massa... Maka jadilah kegiatan Workshop kemarin Sabtu itu bakalan berlanjut... wew... benar-benar 'tumbu oleh tutup'... pucuk dicinta, ulam tiba... Aku yang sedang bergumul mencari jawaban sepertinya mulai mendapatkan titik terang... Sepertinya Tuhan mulai membukakan jalan dan pikiranku... haleluya... thanks ya Father God... Setidaknya 'kemangkiranku' kemarin Sabtu tidak sia-sia... hehe...

Sepertinya semuanya memang sudah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan Yesus yang amat sangat kreatif dan strategis... Aku ikut workshop itu karena baca di selebaran yang ada di GKJ Gondokusuman waktu kebaktian Sabtu sore minggu lalu... Puji Tuhan aku datang ke kebaktian Sabtu sore itu... Coba kalau aku gak datang... gak bakalan aku tahu tentang workshop, dan gak bakalan aku tahu tentang sekolah penulisan dan jurnalistik... hidupku bakalan begitu2 saja, monoton... Tapi, sekali lagi puji Tuhan, Tuhan memang benar2 baik dan dahsyat... semuanya serba tepat... hidupku bakalan penuh warna dan mengasyikkan... yes!!!

Padahal aku cuma pingin menyalurkan hobby dan talenta menulisku saja... aku cuma pingin tahu bagaimana cara dan kiat2 menulis yang efektif... eh ternyata... hmmm... bagaimana ya menceritakannya? Seperti mendapat rezeki nomplok... berkat Tuhan banget... Ibu mengarahkanku untuk ke depannya bisa membantu bagian humas dan pemasaran RS Bethesda... dengan mengikuti sekolah penulisan dan jurnalistik itu, diharapkan aku bisa membantu menuliskan apa saja tentang RS Bethesda... hm hm... win win solution nih... aku pingin belajar menulis lebih tajam lagi, dan ke depannya bisa menghasilkan karya tulis berupa buku... dan RS Bethesda pun tidak dirugikan dengan mengizinkan salah seorang pegawai kontraknya ini mangkir setiap hari Sabtu... ada manfaat timbal balik lah... hehe... mungkin ekspektasiku terlalu tinggi dan muluk ya... Biarlah... lebih baik bermimpi besar daripada tidak punya mimpi sama sekali... ^^

Aku mau serahkan semua harapan dan sukacitaku ini kepada Tuhan Yesus yang telah sedemikian rupa memberkatiku... kiranya kehendak Tuhan saja yang jadi... dan kiranya kerajaan Tuhan dinyatakan di muka bumi ini...

Haleluya... Maranatha...!!!

Sabtu, 05 Februari 2011

Ora Et Labora

Berdoa dan bekerja
itu yang harus selalu kulakukan
dengan tekun dan setia
karena itulah kunci keberhasilan
Doa mengandalkan Tuhan
bekerja melakukan bagianku
sepertinya mudah
dan memang mudah
jika aku melakukannya dengan rajin
tanpa menunda-nunda
tapi seringnya
aku menunda-nunda
kemalasan
itulah yang harus kuperangi
supaya aku tidak selamanya
jatuh dalam jerat kemalasan dan kebodohan

Nasihat untuk Diri Sendiri

Pelajarilah sesuatu...
Pelajari apa?
Sesuatu yang baru...
Sesuatu yang berguna...
Supaya apa?
Supaya bertumbuh dan bertambah
Dalam hikmat dan pengetahuan
Mengapa?
Agar hidupmu berguna
tidak sia-sia
Agar dapat membangun
menginspirasi dan memotivasi
bukan sekedar mencerahkan
Ingat, kamu adalah garam dan terang...
berfungsilah sebagaimana kamu seharusnya...

"When I Think of You" - Michael W. Smith (with the African Childrens Cho...

Hehe... karena setiap Kamis pagi selalu mendengarkan lagu ini diputar di Sasando FM, lama-lama jadi suka juga... Yahwe is the best... ^^