Selasa, 30 Oktober 2012

Roro Mendut dan Lusi Lindri Versi Romo Mangun


Selesai sudah saya membaca dua novel dari trilogi Roro Mendut karya Y. B. Mangunwijaya alias Romo Mangun. Trilogi Roro Mendut terdiri dari tiga novel yang saling berkaitan yaitu Roro Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri. Yang sudah saya lalap habis adalah Roro Mendut dan Lusi Lindri. Yang Genduk Duku masih menunggu saatnya dipertemukan dengan saya karena di perpustakaan yang sering saya kunjungi, novel tersebut sudah lama raib tidak dikembalikan oleh peminjam teakhir. Meskipun demikian, saya sangat bersyukur dan terberkati dengan kedua novel sejarah tersebut. Berikut ini saya coba untuk menuliskan sedikit kesan yang saya dapatkan.
                Mengapa saya membaca novel Roro Mendut dan Lusi Lindri? Selain karena gratis, saya sangat tertarik karena novel-novel ini adalah karya Romo Mangun. Beberapa karya Romo Mangun telah pula saya baca. Di antaranya adalah Burung-Burung Rantau, Burung-Burung Manyar, dan beberapa karya nonfiksi. Semua karya tulis Romo Mangun selalu berhasil membuat saya merasa terberkati. Terberkati karena terhibur dan tersemangati oleh kecerdasan dan kelucuan-kelucuan khas Romo Mangun. Cara beliau menyentil realita budaya masyarakat yang ada begitu cerdas dan sangat pas rasanya. Tidak terlalu menggurui. Jika toh harus menyampaikan pengajaran, tidak pula terasa seperti sok pintar atau yang paling tahu. Hal ini membuat saya menjadi terdorong untuk menggali dan mengembangkan keingintahuan saya juga.
                Hal yang menarik lagi, setiap karya Romo Mangun khususnya novel sering mengangkat tema kewanitaan yang tangguh. Setiap tokoh wanita atau perempuan yang diciptakan dalam novel-novel Romo Mangun sering digambarkan sebagai pribadi yang cerdas, mempunyai kebebasan berpikir dan berekspresi yang tidak didikte oleh budaya pada umumnya, dan selalu menantang ketidakadilan budaya dalam memperlakukan perempuan. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, tokoh-tokoh perempuan tersebut digambarkan seolah ‘menampar’ kaum pria. Budaya yang lebih mengagung-agungkan kejantanan dan harga diri kaum pria diobrak-abrik oleh Romo Mangun dengan apiknya melalui sepak terjang dan sepak pikir tokoh-tokoh perempuan dalam novel beliau. Saya pun menyimpulkan bahwa Romo Mangun adalah seorang penulis yang cenderung feminis, meskipun beliau adalah seorang laki-laki. Kesimpulan saya ini ternyata diamini pula oleh Dra. Wiyatmi, MHum dalam kajiannya terhadap 22 judul novel yang mengangkat tema-tema feminisme (Kedaulatan Rakyat, 28 Oktober 2012).
                Novel Roro Mendut dan Lusi Lindri bercerita tentang pribadi-pribadi perempuan tangguh yang hidup pada zaman kerajaan Mataram Islam, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo dan Amangkurat I. Pribadi-pribadi tangguh tersebut dilukiskan dalam tokoh Roro Mendut, Genduk Duku (abdi Roro Mendut), dan Lusi Lindri (anak Genduk Duku). Diceritakan dengan apik bagaimana perjalanan hidup mereka yang seolah terjebak dalam kekejaman sejarah Mataram yang penuh pertumpahan darah. Roro Mendut yang merdeka, berasal dari pantai utara Pulau Jawa, harus menjadi selir Tumenggung Wiroguno dari kerajaan Mataram, yang juga sudah beristeri banyak sebetulnya. Dikisahkan dalam novel tersebut bagaimana keteguhan hati Roro Mendut untuk merebut kembali kemerdekaannya meskipun harus mengorbankan nyawa. Keteguhan hati dan keberanian Roro Mendut itu menginspirasi Genduk Duku yang kemudian diwariskan pula kepada Lusi Lindri. Berbeda dengan Roro Mendut yang harus mati tragis, Genduk Duku dan Lusi Lindri tetap hidup menyaksikan bagaimana carut marutnya Kerajaan Mataram sepeninggal Sultan Agung. Meskipun mati yang tampak tragis, Roro Mendut tetaplah menang atas kebebasan jiwa dan cinta sejatinya. Genduk Duku dan Lusi Lindri pun demikian. Mereka beroleh cinta sejati masing-masing.
                Kesan yang timbul setelah saya membaca novel Roro Mendut dan Lusi Lindri begitu membekas dalam hati dan pikiran. Selain beroleh tambahan pengetahuan dan pemahaman tentang sejarah Mataram, saya pun beroleh tambahan kekayaan rasa dan olah batin. Saya sangat terkesan dengan pemahaman Romo Mangun akan kehidupan, keharmonisan, kedamaian, kebaikan, dan nilai-nilai berharga lainnya. Dengan bahasa khasnya, Romo Mangun mampu menampilkan hal-hal tersurat dari kenyataan budaya yang ada sepanjang masa. Yang paling menonjol menurut saya adalah bagaimana peran perempuan yang mulia sangat dijunjung tinggi oleh Romo Mangun. Tidak ada kesan vulgar atau saru bahkan ketika Romo Mangun menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas sekalipun. Yang ada adalah perasaan kagum dan paham akan kodrat dan maksud Tuhan semesta alam yang menciptakan manusia laki-laki dan perempuan dengan segala perbedaan dan perannya itu. Kekayaan budaya dan kearifan lokal khas Jawa ditampilkan dengan sangat indah dan manis. Tembang, geguritan, parikan, dan segala macam bentuk kesenian khas Jawa lengkap dengan ungkapan-ungkapannya yang penuh humor banyak mengisi dialog para tokoh.
                Yang menarik adalah bagaimana perpaduan antara fakta dan fiksi yang tidak terlalu kasar atau tampak terlalu dipaksakan. Karena novel Roro Mendut dan Lusi Lindri adalah novel sejarah, maka harus ada riset sejarah terlebih dahulu. Dan luar biasanya, Romo Mangun mampu membangun cerita yang hidup, menarik, dan indah dari fakta-fakta sejarah yang ada. Alur cerita tidak terasa terlalu lambat atau bertele-tele karena ditutup dengan tambahan pengetahuan yang cukup mengenyangkan hati dan pikiran. Latar belakang sejarah terasa cukup menyatu dengan jalannya cerita. Secara keseluruhan, trilogi novel ini sangat bagus dan dapat digolongkan sebagai novel wajib baca. Siapa saja boleh, bahkan haruslah, membacanya supaya dapat mengenal lebih dekat kekayaan budaya dan sejarah bangsa dan negara. Para guru sejarah pun perlu membaca novel-novel seperti ini supaya dalam mengajarkan materi sejarah pun dapat lebih hidup dan mengena di hati para murid.
                

Kamis, 11 Oktober 2012

Mengampuni dan Memberkati


Mengampuni dan Memberkati
Oleh: dr. Yohana Puji Dyah Utami

                Ah, ini dia topik hangat kita kali ini. Perihal Tante Menik dan sikapnya yang ‘aduhai’ itu. Bikin orang banyak bilang “aduh” dan malas menyapa “hai” padanya. Apa pasal? Entah mengapa dan entah bagaimana sikap Tante Menik bisa sedemikian negatifnya terhadap keluargaku dan keluarga besarku. Akarnya apa? Bagaimana cara mencabutnya? Aku harus sangat berhati-hati menjaga perasaan dan pikiranku terlebih dahulu. Setiap kali muncul gambaran sikap Tante Menik yang negatif itu, aku segera mengucapkan kalimat doa singkat nan ampuh ini, “Tuhan, ampuni Tante Menik. Berkati Tante Menik.” Kemudian, aku lanjukan dengan deklarasi ini, “Aku mengampuni Tante Menik. Aku memberkati Tante Menik”. Berkali-kali, mengikuti perintah Tuhan Yesus Kristus, tujuh puluh kali tujuh kali.
                Itu adalah “perisai iman” yang kupakai untuk bertahan terhadap serangan Iblis yang memakai Tante Menik dengan sikapnya itu. Lalu, “pedang roh”nya adalah doa-doa syafaat atau permohonan yang keluar dari hatiku yang terdalam. Tentu saja sesuai dengan prinsip kebenaran firman Tuhan! Supaya lebih josss, aku rahasiakan baik-baik semua kalimat doaku itu. Tidak sampai kutuliskan di sini. Tunggu nanti kalau sudah dijawab Tuhan, baru aku buka ‘blak’. Luar biasa, bukan?
                Cara yang kupakai ini aku tiru atau terinspirasi dari Alkitab. Di kitab Daniel ada diperintahkan TUHAN supaya memeteraikan semua perkataan TUHAN. Dirahasiakan! Jangan diungkap dulu! Tujuannya supaya rencana TUHAN itu dapat terlaksana dengan sukses sesuai waktu-Nya yang presisi. Juga, supaya pihak musuh bingung dan bertanya-tanya akan strategi TUHAN itu. Perlu dicatat, Iblis itu tidak maha tahu. Hanya TUHAN-lah yang maha tahu!
                Di pihak lain, di kitab Wahyu, rasul Yohanes diperintahkan untuk menulis dan tidak memeteraikan apa yang ditulisnya itu. Ini juga strategi jitu TUHAN supaya membuat musuh kelabakan sendiri. Jadi, ada waktunya untuk berdiam diri menyimpan rahasia dan ada waktu untuk ‘membuka kartu’. Rahasianya adalah ‘TIMING’ atau ‘KAIROS’. Jika waktunya sudah tiba, dan kemenangan sudah 100% di tangan TUHAN dan sekutu-Nya, maka barulah kita boleh buka kartu. Jreng jreng!!! Seru sekali melihat reaksi kaget musuh dan antek-anteknya.
                Satu lagi! Ini adalah peperangan rohani. Musuh kita bukanlah melawan darah dan daging, melainkan dedengkot Iblis dan kroco-kroconya di udara. Kalau ada manusia yang secara sadar atau tidak sadar telah menjadi boneka Iblis, ya kasihan sekali! Tugas kita adalah berdoa, mengampuni, dan bersyafaat seperti Tuhan Yesus. Biar TUHAN dan malaikat-malaikat-Nya yang berperang menggantikan kita. Tugas kita adalah ‘duduk diam’, berdoa, dan mengamati jalannya peperangan. Jika disuruh ‘bangkit berdiri’ untuk bersorak, ya bersoraklah! TUHAN sudah pasti menang!
                Kembali ke masalah konkret kita kali ini: Tante Menik. Sudah jelas, kan? Musuh kita bukanlah Tante Menik, melainkan si Iblis yang telah membutakan dan membisiki Tante Menik dengan hal-hal yang bukan-bukan. Gambarannya sama seperti Yudas Iskariot yang pikirannya dirasuk Iblis itu sehinngga akhirnya mengkhianati Tuhan Yesus. Tidak sampai seperti orang kesurupan macam jathilan itu, kan?
                Tugas kita adalah tetap berdoa, tetap mengampuni, dan tetap memberkati siapapun yang menyakiti hati kita. Perkara dia dongkol atau benci sama kita, itu urusan dia dengan Tuhan. Yang penting kita tidak ikut membenci. Serahkan saja perkara “nyebelin” ini pada yang Mahaadil dan Mahabijaksana. Dan jangan lupa serukan “mantra” dahsyat ini manakala hati kita tertusuk oleh perkataan-perkataan negatifnya: “Kami mengampunimi, kami memberkatimu, Tante Menik!” Salam damai! Peace!

(Tulisan ini sebagai tanggapan atas tulisan-tulisan Tante Menik di Facebook yang pedas dan menyesatkan)

Jumat, 05 Oktober 2012

Saat Menunggu


Tuhan, Bapa…
Saat ini, di tempat ini
Aku duduk tenang
Menunggu
Menunggu-Mu
Dan menikmati
Menikmati-Mu
Sungguh indah, sungguh nyaman
Waktu ini
Tidak ada yang sia-sia
Semuanya bermakna
Tuhan Yesus…
Aku tahu Engkau hadir
Saat ini, di tempat ini
Lebih dari kata dan bahasa
Aku sungguh menikmati
Saat-saat menunggu ini
Haleluya…

(saat duduk-duduk menunggu perpus dibuka)

Syukur, Puji Tuhan


Syukur
Puji Tuhan
Ternyata tidak sia-sia
Kemarin itu
Ternyata ada yang kena
Kupikir kacau
Kupikir wagu
Ternyata tidak juga
Satu orang mengatakan
Bagus dan tepat kena
Ia pun curhat
Sungguh senang
Begini to rasanya
Kalau kita dihargai
Sekali lagi kukatakan
Syukur
Puji Tuhan

(setelah mendapat tanggapan positif atas renungan di Rawat Jalan)

Kamis, 04 Oktober 2012

Siang Hari Kebingungan


Tadi siang aku
Sempat bingung
Tidak tahu mau ke mana
Tidak tahu mau apa
Hanya karena
Ketidakjelasan
Tidak apa-apa
Untung cuma sehari
Tapi ada satu
Kesalahan
Aku sungguh malu
Tidak kuulang lagi
Maaf
Ampun
Terima kasih
Amin

(saat siang hari kebingungan tidak tahu harus ke mana)

Pagi Ini


Pagi ini
Aku berjalan
Bersiap untuk berbagi
Kupikir aku mampu
Kupikir aku siap
Karena TUHAN bersamaku
Kulakukan panggilanku
Berbagi bersama mereka
Tapi anehnya
Seperti ada yang kurang
Apa ya…
Mungkin kurang kusuk
Mungkin kurang doa
Mungkin kurang hening
Kulihat pada TUHAN
Dia masih ada
Lalu apa…
Mungkin aku yang kurang
Kurang sabar
Kurang tenang
Terlalu sombong
Terlalu sembrono
Ampun, TUHAN
Tidak kuulang lagi
Lain kali lebih baik
Terima kasih
Sudah memberkatiku
Tadi
Amin
Amin
Amin

(sesudah berbagi renungan dengan teman-teman di Rawat Jalan)

Rabu, 03 Oktober 2012

Tolong Ya, TUHAN


TUHAN…
Aku butuh api-Mu
Yang membakar
Bangkitkan semangat
Saat ini
Energiku habis tersedot
Entah ke mana
Entah karena apa
Buatlah aku
Bangkit kembali
Perjalanan masih panjang
Aku perlu kekuatan
Tenaga ekstra
Energi lebih
Dari-Mu saja
Tolong ya, TUHAN
Amin

(saat merasa kelelahan dan kengantukan yang amat sangat)