Rabu, 26 Agustus 2015

Fase dalam Kerja

Aku mendapati bahwa sibuk begerak dalam kerja itu ternyata lebih menyenangkan daripada bermalas-malasan. Melakukan pekerjaan sekecil apa pun itu ternyata jauh lebih memuaskan daripada tertidur tanpa tujuan. Aku mendapati kemerdekaan yang sejati dalam bekerja penuh arti. Kemerdekaan semu nan palsu adalah saat aku membiarkan kemalasan yang jahat menjerat. Tanpa terasa, kemalasan itu dapat membelenggu jiwa sehingga tahu-tahu sudah berada dalam penjara depresi yang melumpuhkan. Sebaliknya, aku akan beroleh kebahagiaan yang sejati jika kugerakkan seluruh keberadaanku untuk mengerjakan hal-hal kecil sederhana yang kujumpai di depan mata.
            Dalam proses bekerja nikmat itu, aku mendapati ada semacam fase ‘engaged’/melekat dan fase ‘withdraw’/surut yang merupakan tapal batas dari fase tenggelam dalam keasyikan kerja yang saleh. Fase ‘engaged’/pelekatan adalah saat aku hendak mulai mengerjakan sesuatu. Rasanya seperti agak berat di awal. Rasa berat itu ada dalam pikiran. Rasa berat itu harus dilawan dengan ketekunan dan kegigihan. Setelah rasa berat itu berlalu, akan diperoleh rasa nikmat cenderung ekstase dalam melakukan aktivitas yang dipilih secara sadar. Itulah yang kunamakan proses pelekatan pada awal kerja.
            Fase surut/’withdraw’ adalah saat pekerjnaan akan berakhir sampai benar-benar selesai. Ada semacam rasa cemas atau khawatir karena akan kehilangan rasa ekstase yang nyaman dari kerja yang telah lekat di hati. Dalam fase surut ini, perlu dipikirkan apa yang hendak dilakukan selanjutnya supaya tidak jatuh dalam kondisi bingung.

            Demikianlah hasil pemancingan ide kali ini. Semoga bermanfaat. Salam damai sejahtera selalu sampai selamanya. Barukh Hashem.

Senin, 10 Agustus 2015

Di Mana Engkau?

Yesus, di mana Engkau saat ini? 
aku baru saja melahap kekelaman 
cerita-cerita sedih nan miris 
di sudut ruang dan waktu 
kemudian aku teringat akan Engkau 
Kristus yang menerobos sejarah 
sebagai titik terang di tengah gelap 
sejarah yang berulang dan berulang 
dalam kisah pilu manusiawi 
Kristus, Engkau hadir dan mengintervensi 
begitu lembut hampir tak kentara 
tampak jauh namun dekat 
Immanuel 
Yesus, Engkaulah Kristus itu 
saat kemuraman menggelayuti hati 
kutujukan pikiranku akan Engkau 
yang saat ini baru berupa bayangan 
namun akan segera nyata


            “Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” (Yesaya 60:2)