Senin, 30 November 2015

Bersyukur untuk Vertigo Bapak, Refleksi Tujuh Tahun

Bapak opname lagi karena vertigo. Sejak Jumat sore, bapak resmi menjadi pasien rawat inap di bangsal saraf. Syukurlah vertigonya terjadi saat bapak tidak sedang menyetir mobil atau sendirian. Bapak waktu itu sedang bekerja di kamar operasi sehingga segera tertolong. Singkat cerita, bapak dipondokkan lagi setelah tujuh tahun berlalu sejak serangan vertigo hebat itu.

Terhitung sudah tiga kali bapak terserang vertigo hebat. Yang pertama saat aku sedang dalam fase depresi yang kelam. Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi. Bapak yang vertigo berat dan harus dibawa ke rumah sakit tidak membuat hatiku tergerak untuk melakukan hal baik. Depresi yang jahat telah melumpuhkan kebaikan hati yang TUHAN tanamkan di dalamku. Bersyukur, ada anggota keluarga besar yang mau menolong dan memperhatikan bapak. Serangan kedua adalah saat aku menjelang masuk masa koasistensi. Waktu itu aku sudah bebas dari cengkeraman depresi, namun masih sedikit apatis dan kurang semanak. Lihat saja postingan-postinganku di sini. Bersyukur, bapak dapat pulih kembali dan melakukan aktivitas seperti biasa.

Kali ini, aku mendapati bahwa diriku telah mengalami pembaharuan. Saat bapak vertigo ini, aku tidak lagi dikuasai depresi. Kebaikan hati--kasih, sukacita, damai sejahtera dan belas kasihan yang murni--kini memenuhi hati dan pikiranku, terutama saat aku menemani bapak yang opname. Aku tidak lagi merasa terbeban amat sangat, bosan tiada terkira, ataupun mengasihani diri sendiri seperti yang sudah-sudah. Sebaliknya, aku merasa sangat bahagia dan bangga karena telah berbuat baik buat bapak. Tidak ada rasa bersalah atau menyesal, yang ada adalah rasa syukur atas berkat dan anugerah TUHAN. Ya, aku bersyukur karena TUHAN telah beracara denganku selama ini. Tujuh tahun berlalu dengan tidak sia-sia rupanya.

Saat aku menjagai bapak yang sedang menderita akibat vertigo, aku beroleh kesempatan untuk mengenal TUHAN lebih lagi. Ada waktu yang cukup untuk membaca-baca bagian dari Injil sehingga pikiranku dipenuhi perkataan kebenaran dan hidup yang kekal dari Tuhan Yesus. Ada waktu untuk berdiam diri dalam keheningan kudus hadirat TUHAN yang membuatku lebih tenang. Ada waktu pula bagiku untuk belajar dan berproses seperti tiga bersaudara Lazarus, Maria, dan Marta itu (bukan kebetulan aku membaca perikop tentang mereka siang tadi). Lazarus mengajariku tentang pengharapan dalam hidup setelah kematian, Maria mengajariku tentang hati seorang penyembah yang menikmati kebersamaan kudus dengan TUHAN, dan Marta mengajariku tentang pelayanan yang sejati melalui hal-hal sederhana. Kesemuanya itu aku praktekkan hari ini saat aku menemani dan menjagai bapak dari pagi sampai sore.

Untuk semua hal yang tersebut di atas, aku hanya bisa mengucap syukur sedalam-dalamnya kepada TUHAN. Segala sesuatu mungkin tetap sama atau sedikit berubah. Tapi, aku tahu satu hal telah berubah dengan nyata, yaitu hati dan pikiranku. Aku yang egois, sombong, dan bodoh ini telah diproses TUHAN sedemikian rupa sehingga menjadi aku yang baru. Semua ini karena anugerah-Nya semata. Haleluya.


Selasa, 24 November 2015

Pemahaman Baru tentang Bipolar: Desain Ulang Pola Pikir

Syukur kepada TUHAN untuk pemahaman baru yang kuperoleh mengenai diagnosis bipolar yang kusandang. Selama ini aku berpikir bahwa diagnosis bipolar ini adalah sebuah stigma yang membedakanku dari orang-orang pada umumnya. Dengan stigma tersebut, aku seperti sudah ditandai untuk menjadi objek tontonan dan pertaruhan antara TUHAN dengan yang bukan TUHAN. Dan aku pun menjalani kehidupanku setiap waktu dengan rasa waspada ekstra, berjaga-jaga penuh supaya tidak kalah dengan pihak yang bukan TUHAN. Pendek kata, bipolar bagiku adalah suatu beban yang harus kupikul sepanjang hayat. Kini, pandangan tersebut diperingan dengan satu pemahaman baru. Bipolar tidak lagi semata-mata menjadi beban bagiku. Bipolar menjadi semacam rahmat dalam penyamaran. Entah bagaimana, pikiranku terbuka untuk menyadari bahwa sebenarnya TUHAN sedang mendesain ulang pola pikirku dengan adanya bipolar itu.

Kesadaran ini berawal dari menyimak baik-baik obrolan para ibu Kalyca melalui fasilitas grup WA. Waktu itu, ibu-ibu Kalyca sedang membahas tentang sistem pendidikan di Indonesia pada umumnya dibandingkan dengan sistem pendidikan yang dianut Kalyca. Intinya adalah sistem pendidikan di Indonesia pada umumnya itu tidak berhasil membangun karakter manusia yang sejati. Sistem tersebut (yang sudah kualami sejak SD, SMP, SMA, dst) hanya mencetak manusia-manusia penghafal yang tidak paham konsep ilmu pengetahuan. Lebih parah lagi, sistem tersebut telah menghasilkan manusia-manusia yang berorientasi pada hasil akhir tanpa menghargai prosesnya. Sebagai contoh, nilai rapor yang bagus, ranking di kelas, nilai-nilai A, IPK tinggi, jabatan/status mentereng, penghasilan selangit tanpa disertai proses pencapaian yang benar. Sudah umum diketahui bahwa siswa mencontek, sekolah membocorkan soal ujian nasional, mahasiswa titip absen, dosen plagiat, pejabat korup, dll itu adalah akibat dari pembiasaan dan pembiaran dalam sistem pendidikan. Sedangkan manusia yang jujur, adil, kritis, dan berani membela kebenaran malah diasingkan, dicibir, dihina, bahkan sampai dihabisi kariernya, reputasinya, nyawanya. (Ibu-ibu Kalyca tidak sampai membicarakan hal-hal yang disebut terakhir, hanya saja pembicaraan mereka membuatku berpikir sampai ke situ).

Aku yang tumbuh dan berkembang di bawah sistem pendidikan konvensional ala Orde Baru ini pun menjadi buktinya. Masa-masa TK tidak begitu kuingat, tapi sepertinya aku tidak mengalami masalah. Masa-masa SD mengenalkanku pada sistem rangking, sepuluh besar, lima besar, juara umum, EBTANAS, NEM. Aku bahkan berkesempatan untuk mengikuti lomba-lomba seperti LCT P4 dan matematika. Sampai SMP, aku pun masih menjalani pola yang sama. Belajar keras untuk menjadi dan mempertahankan gelar juara kelas sudah menjadi makanan sehari-hari. Dengan itu semua, aku merasa layak dipandang sebagai anak pintar. Tapi tetap saja ada satu kekosongan dalam hatiku. 

Masa-masa SMA adalah awal masa pembalikan prioritas. Sejak kelas dua, aku sudah tidak lagi mengejar prestasi akademik semu. Lulus ujian SMA pun aku tidak lagi ada di jajaran sepuluh besar. Rasanya aneh memang, dan aku sempat sedih karena seperti ada yang hilang yaitu penghargaan dari orang-orang. Kemudian masuk kuliah, mulailah benturan itu terjadi. Aku yang masih belum bebas dari pola pikir lama, yaitu harus menjadi nomor satu secara akademis, harus menyerah di bawah tangan TUHAN yang kuat. Aku harus melepaskan keinginan untuk terus menjadi yang terhebat secara akademis. Banyak pergumulan dalam hati dan pikiran yang membuatku lambat menyerap informasi dari para pengajar. Masa-masa itulah aku mengalami goncangan jiwa yang parah. Waktu itu istilah bipolar belum sepopuler sekarang. Jatuh bangun kualami. Pasang surut naik turun suasana hati kulewati. Aku merasa marah pada siapa pun, mungkin juga pada TUHAN. Aku merasa ditinggalkan. TUHAN pun tidak menyatakan apa-apa. Bingung dan hilang arah kualami. Namun entah bagaimana, ini pasti karena anugerah TUHAN, aku bisa juga lulus dan menyandang gelar dokter. Tentu saja dengan tetap menjaga kondisi supaya tidak jatuh lagi dalam ekstrim manik ataupun depresi. 

Setelah bekerja dan berkeluarga, pelan-pelan aku mulai belajar dan menikmati proses belajar itu. Aku tidak lagi dihantui keharusan untuk menjadi yang nomor satu. Aku belajar untuk tidak lagi memandang sesama rekan sejawatku sebagai pesaing. Aku belajar untuk berani mengeluarkan pendapat dan berdiskusi alih-alih diam atau pura-pura tahu. Aku belajar bahwa hidup itu adalah proses pembelajaran terus-menerus yang tidak akan pernah berhenti oleh lembar ijazah. Dalam dunia pekerjaan pun, aku menyadari bahwa senantiasa belajar itu sangatlah penting. Jika aku lupa belajar, maka aku akan tergilas dalam arus mengejar uang, status, jabatan, dsb. Maka, kutemukan bahwa passion atau hasrat hidupku sebenarnya adalah belajar, bukan semata-mata mengejar predikat semu. Dan dengan hasrat belajar itu, kutemukan kesadaran bahwa hidupku sungguh berharga. Seluruh aspek hidupku sangat berharga di mata TUHAN, termasuk terdiagnosis bipolar itu. 

Jika kurenungkan baik-baik, maka dengan terdiagnosis bipolar, aku semakin menyadari betapa baiknya TUHAN itu. Mungkin jika aku tidak sampai jatuh bangun dalam bipolar, aku akan menjadi lebih baik lagi. Tapi kenyataan menunjukkan bahwa meskipun harus mengalami bipolar, aku tetap bisa menyatakan bahwa TUHAN baik. Kebaikan-Nya bagiku itu tampak dari cara-Nya menyadarkanku akan kekeliruan pola pikirku. Pola pikir lamaku yang terbentuk oleh sistem pendidikan yang dulu telah, sedang, dan akan terus dirancang ulang menjadi pola pikir yang baru sesuai dengan kehendak-Nya yang mulia. Dengan kesadaran demikian, aku tidak lagi memandang diagnosis bipolar sebagai stigma atau beban hidup yang memalukan. Sebaliknya, aku beroleh pemahaman bahwa semua yang terjadi itu adalah seturut dengan kehendak TUHAN yang mahabaik. Oleh karena itu, sekali lagi aku bersyukur atas segala rahmat dan anugerah-Nya yang tidak terkira. Haleluya. Shalom!


Selasa, 17 November 2015

Ingat Bersyukur

Daya ingatku tidak bagus-bagus amat. Aku sering lupa banyak hal. Tapi satu hal yang selalu kuingat yaitu bersyukur. Dengan bersyukur, aku dapat merasa bahagia lebih lama. Dengan bersyukur, aku merasa dunia tidak jelek-jelek amat. Dengan bersyukur, aku semakin menyadari betapa Tuhan itu sungguh amat baik.

Bersyukur adalah sikap yang bagiku sangatlah vital untuk memiliki kehidupan yang penuh makna. Tanpanya, hidup dapat dengan mudah tergelincir ke sisi kelam. Kita jadi mudah bersikap sinis, apatis, dan nyinyir terhadap segala sesuatu. Hal-hal yang kita lihat dan dengar sehari-hari dapat membuat kita terjebak dalam sikap pesimis berlebihan jika saja bersyukur tidak kita jadikan gaya hidup. Misalnya saja berita-berita seputar dunia, negara, dan profesi yang hari-hari ini dipenuhi oleh teror, kekecewaan, dan kemarahan yang dilampiaskan melalui hiruk pikuk dunia maya (dan nyata). Lihat saja status-status dan komentar-komentar yang saling sindir dan saling hujat setiap saat menanggapi peristiwa yang fenomenal. Belum lagi grup-grup WA maupun BBM yang berisi keluhan dan sikap-sikap pesimis apatis terhadap setiap kebijakan dan pernyataan para pejabat terkait profesi masing-masing. Kita jadi lupa bahwa di samping hal-hal yang tampak buruk itu, ada sisi lain yang luput dari sorotan. Ada sisi kemanusiaan yang butuh didengarkan dan dipahami, bukannya dicela dan dihina dina. Ada jurang perbedaan yang perlu dijembatani, bukannya semakin dilebarkan.

Lalu bagaimana cara sederhana supaya kita tidak mudah lupa untuk bersyukur? Apa sih yang mesti kita syukuri itu? Berikut ini beberapa hal yang mungkin dapat membantu mencerahkan hati dan pikiran kita... semoga... ^^

  • Saat bangun pagi, jangan langsung buru-buru mandi, makan, dst. Ambil waktu sejenak untuk berdiam diri. Saat diam tenang, mari kita arahkan perhatian kita sepenuhnya kepada Sang Khalik Semesta. Mari sapa Dia dengan segenap rindu, cinta, kasih, dan semua perasaan positif. Tekankan dalam hati bahwa Dia telah terlebih dahulu mengenal dan mengasihi kita dengan begitu limpahnya. Maka, kita hanyalah meresponi segala kebaikan-Nya itu denga sepenuh hati. Peluk erat semua yang kita rasakan, alami, dan hayati saat duduk diam di dalam hadirat-Nya. Nikmati terus kebersamaan yang indah dan kudus itu. 
  • Saat hati dan pikiran dipenuhi oleh kasih dan kekaguman kepada-Nya, maka bolehlah kita mengeskpresikannya dengan berkata-kata, atau bersenandung, atau bersujud, atau apa pun yang baik dan patut kita lakukan. Ingatlah selalu bahwa Dia sangat senang menerima segala pemberian kita yang dilandasi dengan hati yang tulus ikhlas.
  • Sebagai 'penutup' atau kesimpulan dari waktu kudus kita bersama-Nya, dapatkan setidaknya satu kata kunci yang menginspirasi, yang lahir dari kedalaman hati kita, yang tidak dibuat-buat. Misalnya: "anugerah"... "grace"... "berkat"... "rahmat"... "karunia"... dsb... Simpan baik-baik kata kunci tersebut sepanjang hari, dan saksikan adanya perbedaan yang nyata dari hidup kita pada hari itu. 
Langkah-langkah di atas bukanlah formula baku atau hafalan mati yang harus dilakukan secara kaku. Bisa ada variasi-variasinya, tergantung situasi, kondisi, latar belakang budaya/keyakinan masing-masing. Yang terpenting di sini adalah tumbuhnya sikap bersyukur atau penuh rasa terima kasih atas segala anugerah TUHAN yang maha sempurna setiap hari. Karena dengan bersyukur, kita dimampukan untuk menikmati segala kelimpahan dalam hidup ini, apa pun itu bentuknya.

Mari besyukur senantiasa! Salam!

Rabu, 04 November 2015

Teguran-Nya Menyadarkanku

TUHAN itu sungguh baik. Dia menegurku dengan lembut sehingga aku disadarkan bahwa aku telah tertipu dan terpikat. Ya, aku telah tertipu dan terpikat oleh ajaran dunia yang menyerupai kebenaran firman TUHAN. Sungguh licin caranya menipu dan memikatku itu, tanpa kentara. Tapi, sungguh lembut pula cara TUHAN menegurku, yaitu dengan melalui firman-Nya. Firman-Nya sungguh nyata lebih tajam dan berkuasa. Dan saat aku tersadar telah tertipu, aku pun hanya bisa bergumam, "Oooo... gitu to..." (jadi ingat pelajaran tentang mengatasi penipuan di School of Healing level dua ^^). Bagaimana aku bisa tertipu? Dan bagaimana cara TUHAN menyadarkanku? Begini ceritanya...

Seminggu ini aku keranjingan dengan yang namanya 'law of attraction' yang gencar dikumandangkan oleh penulis buku RAHASIA (terjemahan). Aku mencoba mempraktekkan prinsip sederhana itu. Rasanya sangat enak dan membuatku ketagihan. Aku mencoba memikirkan hal-hal yang menyenangkan bagiku dan mengimaninya sungguh-sungguh (tanpa perlu menyerukan doa kepada TUHAN secara khusus). Aku pikir ini sepele dan tidak berbahaya. Toh di buku RAHASIA itu dicatut pula satu ayat tentang berdoa dalam iman yang tertulis dalam kitab Markus. Maka, tanpa pikir panjang, aku pun mengadopsi prinsip 'sederhana' yang ditawarkan oleh si penulis RAHASIA itu.

Kemudian, karena masih keranjingan dengan konsep RAHASIA, aku pun melanjutkan dengan meminjam buku sekuelnya yang berjudul HERO. Tapi ketika kubaca, entah mengapa tidak begitu mengesankan seperti RAHASIA. Rasanya agak hambar dan kurang greget. Aku pun membacanya sambil lalu saja.

Saat acara pendalaman Alkitab di rumah Cahaya, barulah aku beroleh teguran dari TUHAN melalui firman yang disampaikan. Bukan kebetulan kalau tema firman yang disampaikan saat PA malam ini adalah 'pertobatan'. Ayat-ayat rujukan yang diambil secara perlahan membuka kesadaranku. Berikut ayat-ayat tersebut:
Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yesaya 55: 6-9)
Oleh karena itu katakanlah kepada kaum Israel: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Bertobatlah dan berpalinglah dari berhala-berhalamu dan palingkanlah mukamu dari segala perbuatan-perbuatanmu yang keji. (Yehezkiel 14: 6)
Satu kata yang menyentakku adalah kata berhala. Aku diingatkan bahwa berhala itu dapat berupa diri sendiri yang diposisikan lebih tinggi dari TUHAN. Atau dengan kata lain, berhala itu dapat berupa sikap egosentris atau antroposentris dalam hatiku yang timbul setelah aku membaca RAHASIA itu. Kemudian, aku pun diingatkan kembali akan ayat-ayat berikut ini:
Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di padang angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasillan buah. (Yeremia 17: 5-8)
Memang, di sepanjang tulisan RAHASIA dan sekuelnya, sangat ditekankan sikap percaya pada diri sendiri. Di samping itu, pribadi TUHAN tidak dinyatakan secara gamblang. Sebagai gantinya, dipakailah istilah 'semesta', yaitu pihak yang akan memenuhi semua keinginan pribadi orang yang menerapakan prinsip RAHASIA itu. Nah, di sinilah letak gap antara RAHASIA dengan kebenaran firman TUHAN. Untuk lebih jelasnya, akan kukutip satu lagi ayat dari Alkitab.
Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapa yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya. (Yeremia 17: 9)
Kesimpulan sementara yang bisa kubagikan di sini adalah sebagai berikut:

  • Penulis RAHASIA mengajarkan sebagian kebenaran dan mencampurnya dengan prinsip-prinsip yang tidak sesuai dengan firman TUHAN. Misalnya, prinsip berdoa dengan iman (tertulis di kitab Markus) dicampur dengan sikap egosentris. 
  • RAHASIA menekankan bahwa perasaan itu sangat penting dan sangat dapat dipercaya, padahal firman TUHAN mengatakan sebaliknya.
  • RAHASIA mengajarkan supaya manusia mengandalkan dirinya sendiri dan mengharap mendapat pertolongan dari 'semesta'. Siapakah semesta? Tidak dijelaskan secara gamblang. Padahal, Firman TUHAN berkata bahwa pertolongan kita adalah Dia yang menciptakan langit dan bumi. 
  • RAHASIA seolah mengajarkan bahwa manusia layak dan berhak memperoleh 'hak waris' surgawi tanpa harus melalui pertobatan dan penebusan. Padahal, firman TUHAN dalam Alkitab mengajarkan bahwa yang berhak memperoleh hak waris adalah anak-anak TUHAN. Siapakah anak-anak TUHAN itu? Mereka adalah yang mau bertobat dan menerima karya penebusan dalam Kristus Yesus.
Berdasarkan prinsip dalam Alkitab, yaitu supaya kita menguji segala sesuatu karena tidak semuanya itu berasal dari TUHAN, maka aku pun menarik lagi beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  • TUHAN itu baik. Dia tidak langsung menghukum manakala kita melakukan kesalahan, tetapi Dia menegur atau mengingatkan kita terlebih dahulu supaya kita bertobat, berbalik dari yang jahat. (Ini membuktikan bahwa asumsi seorang bapak yang dengan lantang diutarakan tadi siang di tempat kerja itu tidak benar--> bapak itu berkata bahwa Gusti Allah itu gak pernah ngasih peringatan, Gusti Allah itu langsung ngasih hukuman ^^)
  • TUHAN yang baik itu sanggup menjaga anak-anak-Nya dari penyesatan atau penipuan. Terbukti dengan apa yang kualami malam ini. Syukur kepada TUHAN.
  • TUHAN menjaga kita melalui kuasa-Nya dalam firman dan Roh Kudus yang dianugerahkan secara ajaib. 
Demikianlah yang bisa kusaksikan malam hari ini. Semoga memberkati. Haleluya ^^