Senin, 29 April 2013

Suamiku Sahabatku



                Orangnya lucu, humoris, penuh canda tawa. Setiap ucapan dan gerak-geriknya acap kali mengundang tawa geli meskipun ia tidak pernah bermaksud melucu. Dialah Mas Cah, sang suami, pasangan hidupku yang dianugerahkan TUHAN kepadaku. Nama lengkapnya Cahyono Satriyo Wibawa. Nama panggilannya ada macam-macam, tergantung siapa yang memanggil. Di lingkungan keluarganya, dia biasa dipanggil dengan nama Bowo. Di lingkungan pekerjaannya, dia sering dipanggil sebagai Caca. Beberapa temannya memanggilnya dengan sebutan Mas Cah. Bahkan, salah seorang teman di dunia maya memberinya julukan baru “Ayok”. Ibuku malah memanggilnya dengan julukan “Cahaya”. Aku sendiri sering berubah-ubah memanggilnya. Kadang-kadang aku memanggilnya “Mas Cah” seperti beberapa temannya biasa memanggil. Tapi sering sekali aku memanggilnya dengan sebutan “popo”, pelesetan dari kata “papa”. Jika Krisdayanti dulu memanggil mantan suaminya, Anang, dengan sebutan “pipi” maka aku pun tidak mau kalah memanggil suamiku sendiri dengan sebutan “popo”. Namanya juga panggilan sayang. Harus unik dan beda.
                Cerita perkenalanku dengan Mas Cah terbilang lucu dan unik. Kami berkenalan melalui situs jejaring sosial Facebook. Sebelumnya, kami sama sekali belum pernah kenal. Ceritanya begini. Alkisah, seorang temanku sedang siaran acara bincang kesehatan di sebuah stasiun radio swasta Yogyakarta. Mas Cah waktu itu masih karyawan tetap di sana, bagian teknisi elektroniknya. Obrol punya obrol, Mas Cah berkenalan dengan temanku dan saling bertukar facebook. Mas Cah meng-“add” temanku itu dan pertemanan di jejaring sosial pun dimulai. Karena temanku jarang “online”, maka bosanlan Mas Cah. Maka, Mas Cah pun mencari tahu siapa saja teman-teman dari temanku itu. Ketika sampai kepada namaku, maka tertariklah Mas Cah dengan keindahan namaku, yaitu Yohana. Iseng-iseng, Mas Cah pun mengajakku berteman di facebook. Gayung bersambut. Aku yang memang hobi berselancar di jejaring pertemanan itu, dan mumpung lagi libur setelah selesai koas, menjadi teman “chatting” Mas Cah. Setiap hari selalu kuganggu dia dengan sapaan isengku yang berujung obrolan super lucu. Lama kelamaan, tumbuhlah perasaan sayang di antara kami. Singkat cerita, kami pun kopi darat, sering ketemu, dan menikah setelah mendapat restu dari orang tua kami masing-masing.
                Setelah menikah, persahabatan di antara kami tetaplah terjalin dengan indah dan manis sekali. Mas Cah selalu mengisi hari-hari kami dengan penuh sukacita meskipun kadang-kadang juga ada rasa gemas dan kesal melihat sikapku yang sering kurang dewasa. Tidak jarang Mas Cah menegurku dengan tegas tapi tetap lembut jikalau aku sedang kumat malasnya. Mas Cah yang sudah lulus camp Pria Sejati itu benar-benar mempraktekkan ilmu yang sudah didapatkannya dalam kehidupan keluarga kami. Memang Mas Cah tidak banyak bicara yang muluk-muluk atau pandai mengartikulasikan pengetahuan rohaninya. Tapi sikap hidupnya menyatakan dengan gamblang bagaimana spiritualitasnya yang telah matang dan teruji itu. Menurut pengamantanku, Mas Cah adalah orang yang mengenal TUHAN dengan baik dan sangat mengasihi-Nya, yang semuanya itu terintegrasi dalam sikap hidupnya sehari-hari. Yang paling kusukai dari Mas Cah adalah kesediaannya untuk banyak mendengarkan orang lain, termasuk mendengarkan semua keluh kesahku.
                Pekerjaan kami memang berbeda. Aku berprofesi sebagai dokter sedangkan Mas Cah berprofesi sebagai teknisi elektronik. Tapi ada satu hal yang menyatukan kami dan membuat kami cocok sejak dari pertama kali berkenalan. Hal itu adalah kegemaran kami akan musik-musik rohani yang berkualitas. Aku yang lumayan melek musik dan bisa sedikit memainkan piano dan segala sesuatu yang berbentuk kibor ini sangat terbantu oleh kepekaan Mas Cah akan musik yang bagus dan enak didengar itu. Referensi Mas Cah dan referensiku akan musik saling melengkapi satu sama lain. Sehingga, bahasa kedokteran dan kelistrikan yang lumayan jauh berbeda itu dapat disatukan dengan bahasa musik yang universal. Aku sungguh bersyukur untuk hal ini.
                Satu hal lagi yang membuatku amat terberkati dengan menjadi pasangan hidup Mas Cah yaitu adalah kebiasaan berdoa bersama. Aku sangat senang mengajak Mas Cah untuk berdoa bersama atau merenungkan firman TUHAN bersama. Aku sering meminta Mas Cah untuk memimpin doa, baik itu doa makan, doa pagi, doa malam, maupun doa persiapan pergi kerja. Bahasa yang digunakan Mas Cah sewaktu berdoa begitu sederhana. Tapi, justru dalam kesederhanaan bahasa itulah aku merasakan ketulusan yang tidak dibuat-buat oleh Mas Cah manakala menghadap TUHAN. Memang sudah menjadi kebiasaanku untuk menilai hubungan seseorag dengan TUHAN dari bahasa doanya. Ada orang yang begitu formal jika menghadap TUHAN, ada yang santai namun mesra, ada pula yang sederhana tapi tetap sopan. Dan dari semuanya itu, aku bersyukur memilih Mas Cah yang sederhana dalam hubungannya dengan TUHAN sebagai pasangan hidupku.
                Sampai sejauh ini, aku belajar untuk senantiasa mengekspresikan rasa cinta, hormat, dan sayangku kepada Mas Cah dengan cara-cara yang unik dan kreatif. Kadang kala aku menuliskan surat untuknya, kadang pula aku mengiriminya gambar hati. Lebih sering aku mendoakannya atau berdoa bersama Mas Cah. Yang lebih penting, bahasa kasihku terutama berupa sikap hormatku sebagai istri terhadap suaminya sebagai gambaran dari mempelai perempuan Kristus terhadap mempelai Prianya, yaitu Kristus sebagai kepala jemaat. Aku belajar untuk menjaga kekudusan hati dan pikiranku tetap setia dan mengasihi Mas Cah dengan setulus hati, sama seperti jemaat yang terus menjaga kekudusannya dalam menantikan kedatangan Sang Mempelai Agung, Yesus Kristus, yang kedua kalinya. Itulah yang kupelajari selama aku mengenal dan hidup bersama Mas Cah. Haleluya!

(Rumah Cahaya, Senin 29 April 2013)
                

Didengarkan dan Dimengerti sebagai Wujud Terapi

Dari pengalamanku selama ini mengontrolkan diri setiap bulan untuk kondisi kejiwaanku, aku mendapati bahwa aku sangat senang jika diperlakukan sebagai manusia seutuhnya oleh sang terapis (psikiater), dan bukan hanya sebagai diagnosa berjalan. Selama ini sudah terhitung tiga orang psikiater yang menanganiku. Psikiater pertama adalah teman kuliah bapakku. Beliau adalah tokoh terkenal yang sering menulis di koran. Tulisannya bagus-bagus. Sayangnya, aku kurang bisa mempercayai beliau karena beliau pun tidak bisa mempercayaiku. Setiap kali memeriksakan diri, aku mendapati bahwa beliau tidak pernah mempercayai setiap ucapanku, meskipun mungkin memang banyak ucapanku yang tidak relevan. Beliau hanya berkutat pada diagnosa dan terapi tanpa pernah mengajakku berbicara secara personal sebagai manusia seutuhnya. Walhasil, aku bersikap defensif terhadap setiap langkah terapetisnya. Aku malas minum obat-obat resepannya yang sebagian besar hanya membuatku mengantuk dan tidak bisa melakukan aktivitas apapun.

Terapis atau psikiater kedua terbilang cukup manusiawi karena beliau setidaknya mau mendengarkan aku. Begitu juga psikiater ketiga. Aku sangat meghargai mereka atas kesediaan mereka menjadi pendengar itu. Mereka tetap menganalisaku dan mengdiagnosa serta menerapi aku dengan obat-obatan, tapi ada nilai lebih dari sikap mereka yang membuatku bisa menghormati mereka. Jika aku ada di posisi mereka, mungkin aku akan lebih bersikap empatik lagi dan lebih menunjukkan sikap mempercayai pasien tanpa harus kehilangan dasar berpijak sebagai profesional. Tapi yang terutama, sentuhan personal itu jauh lebih penting dan bermanfaat daripada tampilan profesional.

Sebagai seorang yang didiagnosa manik bipolar, aku bisa merasakan bagaimana disalahpahami dan tidak dimengerti sepenuhnya oleh sesamaku manusia. Tapi seiring berjalannya waktu, aku belajar bahwa menjadi orang yang tidak dipahami sepenuhnya itu bukanlah akhir dunia. Meskipun tidak ada yang memahamiku, aku dihibur dengan kebenaran bahwa ada Satu Pribadi yang mengenalku dengan sangat biak, melebihi orang-orang yang terdekatku bahkan diriku sendiri sekalipun. Pribadi itu adalah TUHAN yang aku panggil Bapa dalam doaku yang kusembah dalam nama Yesus Kristus. Tuhan Yesus adalah sang terapis atau psikiater sejati yang paling tahu kondisiku dan bagaimana menanganiku. Aku mempercayakan seluruh jiwaku kepada-Nya. Jika Ia mengizinkanku untuk ditangani oleh psikiater yang juga takut akan Dia, maka aku pun belajar untuk beriman dan bersandar pada hikmat-Nya yang luar biasa. Tuhan Yesus pasti mencurahkan himat-Nya kepada psikiater yang menanganiku itu karena aku adalah anak-Nya.

Selain dipahami dan dimengerti, aku pun belajar memahami dan mengerti terhadap psikiater yang menanganiku. Aku belajar untuk menghormati setiap keputusannya dalam menilai dan menerapi perkembanganku. Aku bersyukur karena beliau terbuka terhadap setiap pertanyaan-pertanyaanku. Setiap pertanyaanku selalu dijawabnya dengan baik. Tidak segan-segan beliau berbagi cerita tentang pengalamannya. Tidak jarang kami berdiskusi mengenai berbagai hal berkaitan dengan pekerjaan dan prospekku dalam melanjutkan pendidikan. Aku bersyukur karena menurut beliau, perkembanganku termasuk baik. Oleh karena itu, aku pun bertekad untuk menjalani terapi dengan sebaik-baiknya supaya aku tetap dapat menjadi berkat yang efektif bagi sekelilingku.

Kiranya perjalananku mengarungi samudera jiwa ini dapat menjadi kesaksian yang hidup yang memberkati siapa saja yang melihat dan mendengarnya. Haleluya!

Sabtu, 27 April 2013

Bersyukur Atas Stigma

Mungkin ini saatnya aku kembali bercerita tentang hidupku, yang jarang sekali kuungkapkan, kecuali kepada orang-orang yang sungguh-sungguh kupercaya. Ini tentang kondisi kejiwaan yang ada padaku sejak usia remaja. Mungkin juga sudah ada yang tahu dan maklum akan keadaan yang aku alami. Tapi izinkan di sini aku untuk menceritakan kembali dengan bahasaku yang semoga dapat mudah dimengerti. Baiklah, kita mulai saja ya.

Aku menerima bahwa diriku didiagnosa gangguan manik bipolar. Sejak kapan tepatnya aku tidak begitu ingat. Tapi aku hanya ingin menekankan bahwa aku bersyukur dengan keadaan yang menurut pandangan umum dianggap sebagai stigma ini. Ya, stigma. Stigma sebagai orang yang 'gila', tidak waras, tidak normal, tidak umum. Aku menerima dengan rasa syukur segala macam stigma itu. Malah, aku cukup bangga dengan dianggap sebagai orang yang tidak umum, karena itu berarti aku bukanlah orang pasaran. Itu berarti ada nilai keunikan dan kehususan yang ada padaku, yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang pada umumnya. Sikap ini pun aku jaga betul supaya tidak pula terjerumus dalam kesombongan, karena kesombongan adalah awal kejatuhan dan kehancuran. Cukuplah aku mengembangkan sikap bersyukur atas keunikan diriku ini.

Ilmu kedokteran jiwa hanya menyebutkan ciri-ciri dari suatu gangguan jiwa tanpa menghakimi bahwa hal itu adalah dosa. Kitalah manusia religius yang kerap kali menjatuhkan penghakiman terhadap orang yang sudah terstigmatisasi. Salah satunya adalah stigma 'gila' bagi semua orang yang pergi ke psikiater untuk mendapatkan pertolongan. Sudah sekian lama aku tidak lagi merasa terstigma, meskipun stigma itu mungkin masih diberikan oleh beberapa orang, manakala aku datang ke psikiater untuk kontrol. Rahasia dari sikap santai dan enjoy itu adalah "tidak menstigma diri sendiri dan tidak menstigma orang lain". Rumusan sikap itu aku dapatkan dari tulisan seseorang di blognya. Dengan tidak menstigma diri sendiri, aku terbebas dari sikap menyesali diri yang berlebihan. Dengan tidak menstigma orang lain, aku terbebas dari sikap menghakimi orang lain dengan tidak adil.

Satu hal yang menjadi penghiburanku adalah bahwa aku tidak sendirian sebagai orang yang terlah terstigma. Di dunia yang fana ini, ada banyak orang lain juga yang telah terstigma oleh kondisi mereka masing-masing. Ada yang terstigma karena sakit kronis seperti kanker, ada yang terstigma karena sakit yang belum ada obatnya seperti HIV/AIDS, ada yang terstigma karena kesalahan mereka sendiri seperti menjadi hamil di luar nikah, menjadi orang tua tunggal, dsb. Ini memberiku pemahaman bahwa aku tidak sendirian dalam menanggung beban stigma. Satu lagi yang paling menghiburku adalah bahwa Yesus Kristus sendiri telah menanggung stigma di antara segala stigma, yaitu mati disalib. Salib pada waktu itu adalah suatu bentuk hukuman yang paling kejam dan siapapun yang tergantung di sana distigma sebagai seseorang yang paling malang, berdosa, dan terkutuk. Yesus Kristus terstigma sebagai seorang yang menghujat TUHAN, karena menyatakan bahwa diri-Nya adalah Pribadi TUHAN itu sendiri, meskipun kebenarannya memang demikian. Dengan tekun Ia memikul stigma itu dengan keyakinan penuh bahwa yang dilakukan-Nya adalah tidak sia-sia. Jika dibandingkan dengan yang dialami-Nya, stigma yang kualami masih belum ada apa-apanya. Aku masih belum sampai mencurahkan darah sampai mati. Aku baru sebatas mengalami 'mati karakter dan reputasi'. Mungkin juga tidak, mungkin karakter dan reputasiku masih belum dimatikan. Jadi, aku patut bersyukur amat sangat untuk kondisiku ini.

Dengan pengalaman ini, aku bisa mengambil pelajaran berharga. Aku belajar untuk lebih bisa bersyukur dan menikmati keadaan tanpa harus menjadi minder atau sombong. Aku belajar untuk lebih bisa berempati dengan sesama yang mengalami masalah yang serupa atau lebih berat. Aku belajar untuk meringankan beban hati dan pikiran dengan cara berbagi seperti ini. Kiranya apa yang kubagikan ini dapat bermanfaat, menginspirasi, dan memotivasi kita semua untuk lebih lagi bersyukur atas hidup kita. Bukankah hidup ini indah, kawan?

Selasa, 16 April 2013

Bapakku yang Baik


                Bapak, atau ‘pak’, demikian aku memanggil ayahku. Bapak adalah seorang ayah yang menjalankan fungsinya dengan luar biasa baik. Beliau selalu berusaha menjadi suami dan ayah yang baik dengan perbuatan yang nyata. Kata-kata verbalnya memang irit dan cenderung minimal. Tapi itulah bapakku. Jika sudah asyik bekerja, lupalah beliau akan keharusan untuk berkata-kata atau bercakap-cakap. Pekerjaan sehari-harinya adalah membersihkan dan merapikan rumah dengan segala isinya. Setelah rumah beres dan bersih, barulah beliau berangkat ke kantor atau tempat kerjanya di rumah sakit ladang TUHAN di Yogyakarta. Kebiasaan uniknya ini kadang membuat ibuku gemas dan kesal karena adanya perbedaan prinsip dan pendirian. Maklum, ibuku lebih suka datang pagi-pagi tepat waktu sedangkan bapakku lebih suka datang santai tanpa mengikuti aturan jam kantor.
                Nama panggilan bapak di rumah maupun di kantor adalah sama, yaitu Erry. Lengkapnya Erry Guthomo. Beliau berprofesi resmi sebagai dokter spesialis anestesi. Pekerjaan profesionalnya adalah membantu membius dan menstabilkan kondisi fisik pasien yang dioperasi. Pekerjaan personalnya adalah menjadi ayah, suami, dan teman yang baik bagi keluarga dan teman-temannya. Dilahirkan sebagai anak pertama dari tujuh bersaudara membuat bapakku terkondisi untuk selalu bersikap dewasa. Apalagi setelah ditinggal oleh ayahnya, yaitu kakekku, yang meninggal waktu peristiwa G 30 S tahun 1965 dulu itu. Praktis, tugas sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap terhadap ibu dan keenam adiknya menjadi tugas wajib yang harus dipikul sepenuhnya oleh bapakku yang waktu itu baru kelas enam sekolah dasar. Menjadi dewasa secara dini, itulah yang terjadi dalam diri bapakku.
                Sikap bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam diri dan sekitarnya telah terpatri sedemikian rupa dalam jiwa bapakku. Hal ini tampak dari sikap beliau ketika bekerja di ladang TUHAN. Tidak peduli seberapa pun capek dan lelahnya, jika memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya untuk berjaga, maka tugas itu dilakukannya tanpa protes atau mengeluh. Yang ada hanya semangat untuk melakukan pekerjaan dengan murni dan konsekuen. Ya, murni dan konsekuen, sama seperti penghayatan akan nilai-nilai Pancasila yang merupakan jiwa bangsa Indonesia. Bapakku memang seorang Pancasilais sejati, itu yang selalu beliau tekankan. Beliau selalu mengedepankan nilai-nilai toleransi dalam kebersamaan hidup sehari-hari. Bisa dimaklumi karena beliau tumbuh dan berkembang sebagai anak seorang tentara yang sangat setia kepada bangsa dan negara. Jiwa yang penuh semangat bela negara kakekku itu sepertinya diwarisi dengan segala kepenuhannya dalam diri bapakku. Meskipun sebagai dokter sipil, sikap dan gerak-gerik bapakku terlihat lebih tegap dan gagah jika dibandingkan oleh dokter militer.
                Mekipun minim kata, aku tahu bahwa bapakku sangat menyayangiku. Itu terbukti dengan sikap dan kebiasaan unik beliau dalam menunjukkan kasih dan perhatiannya. Bagi orang lain yang melihatnya, mungkin mereka beranggapan bahwa bapakku adalah pribadi yang angker dan menakutkan. Tapi bagi kami yang mengenalnya, bapakku adalah orang yang lucu, humoris, dan tidak terduga. Bapakku suka memberi kejutan. Jika hatinya sedang berkenan, spontan saja beliau akan memberikan sesuatu tanpa diminta. Sering sekali aku diberinya uang atau barang yang nilainya tidaklah kecil hanya karena beliau memang ingin memberi. Padahal, aku tidak pernah meminta kepada beliau. Sifat bapak yang suka memberi ini memberikanku gambaran yang nyata akan sifat TUHAN sebagai Jehova Jireh, TUHAN yang menyediakan. Sehingga, aku tidak pernah punya perasaan kuatir akan kekurangan apa pun. Aku bersyukur karena figur bapak sebagai ayahku telah dipulihkan sehingga pandanganku akan Bapa di surga pun menjadi tidak terdistorsi. Ini semua karena anugerah TUHAN.
                Sebagai anak yang baik, aku pun ingin menyenangkan hati bapakku. Karena bapakku juga bukan orang yang menyukai sesuatu yang NATO (no action talk only), maka aku pun bertekad hati untuk tidak menjadi pribadi yang demikian. Aku bertekad hati untuk menjadi pribadi yang satu antara kata dan perbuatan. Aku belajar dari bapakku untuk tidak mudah membual atau meninggikan diri dengan berkata-kata indah. Sebaliknya, aku belajar untuk bersikap sepi ing pamrih rame ing gawe yang berarti melakukan segala sesuatu tanpa banyak sesumbar. Dari bapakku pulalah aku belajar menilai pribadi orang lain. Karakter dan kepribadian seseorang nampak terutama bukan dari perkataannya yang fasih melainkan dari sikap dan perilakunya berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Aku senantiasa berdoa supaya bapakku dianugerahi kesehatan dan umur panjang supaya dapat menyaksikan perbuatan TUHAN yang nyata dalam generasi demi generasi.

(Rumah sakit ladang TUHAN di Yogyakarta, Selasa 16 April 2013)

Senin, 15 April 2013

Murakabi Selayang Pandang


Setiap Rabu sore sampai malam, aku dan Mas Cah biasanya menghadiri acara persekutuan doa dan pendalaman Alkitab kalangan keluarga berjiwa muda di lingkungan GKJ Gondokusuman Yogyakarta. Persekutuan ini akrab disebut sebagai persekutuan keluarga Murakabi, disingkat PKM. Pada awal pembentukannya, PKM ini merupakan singkatan dari Persekutuan Keluarga Muda karena awalnya dibentuk sebagai wadah bersekutu keluarga-keluarga anggota jemaat GKJ Gondokusuman yang masih terbilang muda usia perkawinannya. Seiring berjalannya waktu, ternyata bukan hanya keluarga muda saja yang menjadi anggota aktifnya, melainkan juga para ibu-ibu yang sudah janda ataupun lama usia perkawinannya. Dengan hikmat dan kearifan yang ada, maka dipakailah nama “murakabi” sebagai pengganti kata “muda”.
                Murakabi sendiri kurang lebih berarti menjangkau sampai luas, bukan hanya berguna bagi lingkungan keluarga atau kelompok sendiri. Dengan filosofi yang indah itulah persekutuan ini bertumbuh. Anggota yang datang dan berinteraksi semakin lama semakin bertambah banyak dan erat hubungannya. Seperti layaknya persekutuan pada umumnya, setiap Rabu acara diisi dengan puji-pujian, doa, berbagi kesaksian hidup, dan pemaparan aplikasi firman TUHAN oleh para pembicara yang berkompeten di bidang masing-masing. Acara sering berlangsung santai, tidak kaku, selalu penuh canda tawa. Tidak ada kata bosan atau kapok bagiku dan Mas Cah untuk mengikuti acara-acara persektuan bersama keluarga murakabi ini.
                Ada tiga hal penting yang menjadi catatan dari adanya persekutuan murakabi ini. Hal pertama adalah pengenalan akan TUHAN dan kebenaran firman-Nya. Dalam setiap acara persekutuan itu, setiap pembicara tidak melulu berlatar belakang theologia atau kependetaan. Malah seringnya pembicara berasal dari kalangan awam atau profesional seperti dokter, psikolog, pendidik, marketing, dan lain sebagainya. Wawasan kami jadi bertambah luas. Kami menjadi mengerti mengenai dunia kesehatan, psikologi, pendidikan, bisinis, dan lain-lain yang lebih membumi dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari. Setiap tema atau materi dibahas secara mendalam dan diberi dasar kebenaran firman TUHAN-nya oleh pendeta yang selalu hadir mendampingi persekutuan murakabi ini. Yang paling menarik dari sesi ini adalah bagian diskusi interaktifnya. Setiap orang yang merasa tergerak atau berkepentingan selalu melontarkan komentar atau pertanyaan cerdas dan menggelitik yang semakin mempertajam perspektif kami akan tema yang diusung. Bisa dikatakan, dalam persekutuan murakabi ini, selalu terjadi proses pembelajaran yang tidak pernah berakhir. Pembelajaran akan hidup dan dasar firman TUHAN yang menjadi penuntun bagi hidup itu.
                Hal kedua adalah tentang persekutuan antaranggota murakabi itu sendiri. Setelah dibekali dengan firman TUHAN dan hikmat kehidupan sehari-hari, maka dalam keseharian, para anggota murakabi selalu mempraktekkannya pertama-tama dengan mewujudkan kasih yang tulus antara sesama anggota. Keakraban dan keguyuban yang indah terjadi dengan luar biasa dalam kehidupan sehari-hari anggota persekutuan murakabi ini. Hal itu tampak dari aktivitas dan kegiatan yang bersifat sosial kekeluargaan yang sering terjadi. Misalnya, jika ada anggota yang sakit atau tertimpa musibah, maka anggota-anggota yang lain selalu berinisiatif untuk menjenguk dan memberikan dukungan dalam doa, daya, dan terkadang dana pula. Hal ini pernah kurasakan ketika aku melahirkan anak pertama kami, Asa, di rumah sakit ladang TUHAN di Yogyakarta ini. Sebagian besar anggota persekutuan murakabi beramai-ramai datang menjenguk dan mendoakan kami waktu itu. Persekutuan yang indah ini sungguh nyata kurasakan. Jika bukan TUHAN yang bekerja membentuknya, maka tidak mungkin kesatuan hati dan keakraban yang murni itu dapat terwujud sedemikian rupa.
                Hal ketiga adalah kegiatan atau aksi persekutuan murakabi terhadap lingkungan di luar persekutuan. Selama ini persekutuan murakabi sering mempersembahkan talenta dalam memuji TUHAN di gereja-gereja lain dan acara-acara tertentu, seperti acara pernikahan dan penghiburan kematian. Dari hal-hal sederhana itu, terjalin suatu komunikasi dan semangat yang nyata dalam berbagi kasih dan berkat kepada sesama di luar tembok gereja. Selain itu, sedang dilakukan pula usaha yang bersifat menjangkau semua orang di gereja yaitu usaha menyediakan kebutuhan pokok sehari-hari dalam harga murah yang siap diantar sesuai pesanan. Ke depannya, mungkin akan ada aksi yang lebih luas lagi yang dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, bukan hanya masyarakat Kristen dalam lingkungan gereja.
                Murakabi adalah persekutuan dengan semangat yang terus-menerus bertumbuh, mengalir, dan bergerak menjangkau ke luar kepada lingkungan yang lebih luas, sama seperti makna filosofinya. Aku sungguh bersyukur terlibat dan terhisap dalam persekutuan yang indah ini. Kiranya murakabi dapat terus menjadi saluran berkat yang memberkati setiap orang yang ada di sekitarnya. Bravo! Maju terus murakabi!

(Rumah Sakit Ladang Anggur TUHAN di Yogyakarta, Senin 15 April 2013)

Ibuku Pahlawanku


Ibu adalah orang terdekat yang mengenalkanku pada TUHAN dan kasih-Nya sejak aku masih kecil. Ibu jugalah yang membimbing, membombong, dan menstimulasiku sehingga aku menjadi seperti sekarang ini. Banyak hal yang ibuku lakukan yang mempengaruhiku baik aku sadar maupun tidak menyadarinya. Tulisan ini adalah sebagai penghargaan dan wujud cinta kasihku kepada ibuku, sang Kartini ladang anggur TUHAN di Yogyakarta.
                Lahir sebagai anak kelima dari delapan bersaudara, ibuku tumbuh sebagai seorang perempuan kuat yang sangat peduli kepada keluarganya. Beliau biasa dipanggil dengan nama kecilnya di tengah keluarga besar kami, yaitu sebagai bude, tante, eyang, dan ibu Titiek. Nama lengkapnya adalah Pudji Sri Rasmiati. Dengan gelar profesi kebanggannya, yaitu dokter, beliau lebih dikenal sebagai dr. Pudji di lingkungan kerja rumah sakit. Tapi bagiku, apa pun jabatan atau profesinya, ibuku tetaplah ibu yang luar biasa. Beliau tetap kupandang dan kuperlakukan sebagai ibu meskipun profesi dan posisi jabatannya sedemikian rupa menuntut sikap profesional. Sikap profesional ini pada umumnya mereduksi personalitas atau kepribadian seseorang sehingga membuatnya kehilangan kemanusiawian manakala berinteraksi dengan orang lain. Namun, dalam diri ibuku, profesionalisme tidaklah membuatnya menjadi mesin atau budak kerja. Ibuku tetap mampu bersikap manusiawi dan personal meskipun dalam lingkungan profesional yang paling tidak berpribadi seperti apa pun itu. Dan itulah yang membuatku salut dan bangga menjadi anak ibuku.
                Hubunganku dengan ibuku penuh dengan warna-warni kehidupan antara ibu dan anak. Waktu kecil, aku sering bersikap seenaknya sendiri dan tidak menghormati ibuku. Sampai suatu ketika TUHAN mengizinkanku untuk ‘kena batunya’ yang keras dan sakit sekali sehingga membuatku harus berubah sikap lebih mengasihi dan menghormati ibuku. Sejak itu, sikapku berubah menjadi jauh lebih baik. Aku mulai belajar mengenal ibuku dan mendoakan segala sesuatu yang terbaik untuk beliau. Tidak ada lagi sikap kurang ajar atau memusuhi, yang ada hanya sikap mengasihi, menghargai, dan menghormati. Meskipun tidak jarang kami berselisih paham dan berdebat sengit mengenai sesuatu hal, aku tetap menghormati ibuku dengan menyampaikan pendapatku dengan cara sebaik mungkin yang tidak merendahkan atau melecehkan harkat dan martabat ibuku. Semua ini aku pelajari seiring perjalanan hidupku yang tidak luput dari liku-liku.
                Dalam tugas pekerjaannya, ibuku selalu bersikap menjunjung tinggi totalitas. Bagi beliau, pekerjaan di ladang TUHAN, baik itu sebagai klinisi maupun struktural, bukan sekedar pekerjaan mencari uang belaka melainkan sebagai wujud nyata pelayanan beliau kepada TUHAN. Iman ibuku nampak nyata dalam setiap sepak terjangnya. Segala sesuatu yang ada di depannya selalu dikerjakan dengan sungguh-sungguh, tanpa pamrih, dan sesempurna mungkin. Semangat ibuku yang tinggi dalam bekerja itu sering membuat orang yang melihatnya geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa seorang perempuan bekerja sedemikian rupa, mengatur waktu dan perhatiannya dengan cermat, sehingga pekerjaan sebagai dokter bedah dan sebagai bagian struktur organisasi ladang TUHAN tidak ada satupun yang terbengkalai. Semangat yang gigih itu juga menyemangati setiap orang yang terlibat di dalam pekerjaan ibuku. Mungkin itu salah satu sebabnya ibuku dijuluki sebagai “Kartini” ladang TUHAN ini.
                Satu hal yang membuatku salut, bangga, dan hormat terhadap ibuku adalah sikap beliau dalam membimbing dan mendidik bawahan dan juniornya. Dalam mendidik, ibuku tidak pernah memadamkan semangat orang yang dididiknya. Sebaliknya, ibuku mengarahkan dan membombong mereka supaya terdorong untuk mau belajar dan maju. Metode yang sering digunkan oleh ibuku adalah memberikan tugas atau pekerjaan yang harus diselesaikan. Dari tugas dan pekerjaan itu, ibuku menanamkan sikap bertanggung jawab dan mau belajar terus menerus. Selain itu, ibuku pun dapat menilai karakter seseorang melalui setiap pekerjaan yang dilakukannya. Jika hasilnya belum sesuai harapan, ibuku dengan sabar terus mendorong orang itu untuk bisa memenuhi target yang diharapkan. Aku melihat ibuku sangat berjiwa besar sebagai seorang pendidik. Bisa dikatakan bahwa beliau termasuk figur guru teladan.
                Ibuku sangat bangga dan mengidolakan figur ayahnya, yang berarti adalah kakekku juga, yaitu eyang Kasmolo Paulus. Lebih dikenal dengan sebutan dr. Kasmolo, kakekku telah menginspirasi dan memotivasi ibuku untuk meneruskan jejak perjuangannya menjadi seorang dokter bedah yang tetap berpegang teguh pada prinsip pelayanan dan kasih kepada TUHAN. Ketika muda, ibuku sering diajak eyang Kasmolo visite (mengunjungi dan memeriksa keadaan) pasien di rumah sakit ladang TUHAN di Yogyakarta. Mungkin dari kegiatan jalan-jalan itulah mulai tertanam jiwa kasih dan militan seorang dokter Kristen dalam diri ibuku. Jiwa kasih dan militan itu tampak ketika ibuku berjuang mempertahankan dan memajukan rumah sakit ladang TUHAN ini meskipun harus menghadapi banyak tantangan. Bisa dibayangkan besarnya tantangan bagi seorang perempuan yang berprofesi sebagai dokter bedah yang didominasi oleh laki-laki sambil mengerjakan urusan struktur organisasi rumah sakit dan menjaga keharmonisan keluarga (kecil dan besar) itu. Ibuku sering menganalogikan dirinya sendiri sebagai pohon beringin dalam keluarga yang bertanggung jawab memastikan kelangsungan hidup anggota keluarganya yang lain. Dan analogi itu sangat aku amini kebenarannya berdasarakan pengamatan dan pendengaranku selama ini.
                Dalam lingkungan keluarga, ibuku sangat gemar mengumpulkan anggota-anggota keluarga dalam suatu acara persekutuan yang akrab dan meriah. Rumah besar beliau sering menjadi tempat berkumpulnya sanak saudara dan handai taulan dari dalam maupun luar kota pada hari Natal, tahun baru, atau acara-acara khusus seperti ulang tahun, syukuran, dan lain sebagainya. Ibuku sangat menyukai suasana kebersamaan dalam riuh rendahnya celoteh keluarga besar. Bisa dimaklumi, karena beliau tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga besar pula. Ibuku sering bercerita tentang suka duka keluarga besarnya dulu. Diceritakannya bagaimana eyang Kasmolo selalu membacakan Alkitab sebelum mulai makan bersama di meja makan. Dengan bahasa zaman sekarang, mezbah keluarga sudah terjadi di keluarga besar ibuku dulu. Dan mezbah keluarga seperti inilah yang dirindukan untuk terus-menerus berlangsung di rumah oleh ibuku. Sungguh warisan iman yang luar biasa. Aku patut bersyukur dan berbangga.
                Akhirnya, aku hanya bisa bersyukur dan berbangga memiliki seorang ibu yang luar biasa. Dan wujud syukurku itu aku tuangkan dalam tulisan ini. Jika aku agak kesulitan atau kurang luwes dalam mengekspresikan rasa cinta dan sayangku kepada ibuku, maka semoga dengan tulisan ini semua rasa cinta dan sayang itu dapat tersampaikan dengan baik. TUHAN memberkati dan merahmati ibuku selalu! Haleluya!

(Rumah Sakit Ladang TUHAN di Yogyakarta, Senin 15 April 2013)

Minggu, 14 April 2013

Pak Harto, Sang Pemerhati yang Penuh Aksi


Penampilannya sederhana, tidak terlalu menyolok. Pekerjaan rutinnya pun tidak terbilang spektakuler, ‘hanya’ berkutat di depan komputer menekuni data-data rekam medis. Jika aku menjadi beliau, aku pasti sudah mati kebosanan. Dialah Pak Daniel Suharta. Kami akrab memanggilnya Pak Harto, seperti nama presiden kedua Indonesia itu. Setiap hari aku berjumpa dengan Pak Harto. Bukan suatu kebetulan jika aku ditempatkan di ruangan besar kantor rekam medis bersebelahan dengan Pak Harto. Setiap pagi, kami selalu bersalam komando ria dan menyapa dengan yel “jiwa korsa”, seolah-olah kami adalah anggota Kopasus sungguhan. Maklum, aku dan Pak Harto masih berkerabat dekat dengan abdi negara alias tentara di keluarga masing-masing. Adanya persinggungan dengan para jiwa korsa di keluarga itu membuat aku dan Pak Harto memiliki pula jiwa militan yang kuat dan tangguh. Hal itu tampak dari langgam bahasa percakapan kami sehari-hari. Tidak ada rasa mengasihani diri sendiri, pesimistik, negativistik, dan berbagai macam kelemahan dalam karakter setiap kali kami bercakap-cakap. Yang ada adalah saling menguatkan, menyemangati, dan meneguhkan sikap dan pendirian.
                Di rumah sakit ladang TUHAN ini, Pak Harto terkenal dengan kegiatannya bersepeda. Beliau dipercaya untuk menggiatkan kegiatan bersepeda para karyawan rumah sakit. Dengan senang hati dan penuh semangat, Pak Harto menggiati bersepeda itu. Ternyata, dalam keseharian pun, Pak Harto adalah seorang pesepeda yang aktif. Aktif dalam arti giat berpikir dan beraksi nyata di masyarakat, bukan hanya terkungkung di lingkungan rumah sakit saja. Hati Pak Harto tertambat pada sikap dan budaya masyarakat yang tampak pada lalu lintas jalan raya kota Yogyakarta tercinta. Pak Harto rajin menulis tentang toleransi masyarakat dalam berkendara dan menggunakan fasilitas publik seputar lallu lintas. Seringkali tulisan beliau menjadi headline “kompasiana”, sebuah situs jurnalisme publik yang sangat terkenal dan populer itu. Saking produktifnya menulis, Pak Harto pun membukukan artikel-artikelnya menjadi satu jilid yang disimpannya sebagai pengingat dan penyemangat hidup. Aku sempat dikasih pinjam jilidan itu dan membaca beberapa artikel ciamik beliau. Sangat tajam namun masih dalam koridor sopan santun ala wong Yogyakarta tulisan-tulisan beliau.
                Dalam pandangan Pak Harto, toleransi hidup masyarakat yang sesungguhnya nampak dari sikap mereka di jalan raya. Apa pun agama, kepercayaan, suku, dan rasnya akan tampak karakter aslinya manakala diperhadapkan dengan situasi-situasi di jalan raya. Sebagai contoh ketika menanti antrian lampu lalu lintas di perempatan jalan, Pak Harto sering prihatin karena sebagian besar pengguna jalan lebih memilih membunyikan klakson kendaraan mereka ketimbang rela antri bersabar menunggu giliran menjalankan lagi kendaraan. Hal ini menunjukkan bahwa kesabaran dan kerelaan bekorban demi kepentingan bersama masyarakat kita masih jauh dari ideal. Bandingkan dengan masyarakat Jepang yang masih tertib antri ketika menerima bantuan saat gempa dan tsunami melanda wilayah mereka beberapa waktu yang lalu. Contoh lain lagi yang membuat geram hati Pak Harto adalah bagaimana hak para pejalan kaki diserobot atau dilanggar oleh para pengguna jalan yang lain, terutama para pengendara sepeda motor. Trotoar-trotoar yang seharusnya aman dan nyaman dipakai untuk berjalan kaki menjadi tempat yang sering digunakan para pengendara motor yang tidak sabar menunggu antrian kendaraan yang sudah terlalu padat di jalan raya. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan yang menjadi hak si lemah masih belum bisa diberikan oleh si kuat dalam masyarakat kita sehari-hari.
                Keprihatinan Pak Harto pada masalah-masalah lalu lintas dan sopan santun di jalan raya menunjukkan betapa peka hati beliau terhadap masalah-masalah yang dihadapi sesama di sekitarnya. Di tempat kerja pun Pak Harto tidak tinggal diam manakala melihat atau mendengar sendiri akan adanya ketidakbenaran dan ketidakadilan. Bisa dikatakan bahwa Pak Harto adalah manusia yang bertindak dan beraksi (man of action), bukan hanya berpikir dan berwacana. Meskipun bukan pemegang jabatan tinggi, kepedulian dan pengaruh beliau sangat besar terasa. Ini semua tidak lain dan tidak bukan adalah karena satunya kata dan perbuatan Pak Harto. Aku bisa katakan bahwa Pak Harto termasuk salah satu manusia langka yang ada di negeri Indonesia, bahkan di muka bumi ini. Langka karena tidak banyak orang mau bersusah payah atau repot-repot menegakkan kebenaran dan keadilan padahal mereka mampu untuk itu. Langka karena banyak orang yang suka berdiskusi dan berwacana tetapi tidak mau mewujudkan hasil diskusi tersebut dalam tindakan yang nyata dan sederhana. Langka karena dalam kesederhanaan itulah terilhat wibawa luar biasa.
                Banyak hal yang bisa kupelajari dan kuteladani dari Pak Harto. Aku belajar bahwa menjadi dokter tidak harus berubah sikap menjadi arogan atau menjaga-jaga wibawa di hadapan orang lain. Kewibawaan atau citra diri seseorang itu akan terpancar dengan sendirinya ketika kita dapat bertindak sesuai dengan perkataan kita. Selain itu, status sosial ataupun harta kepemilikan kita tidak seberapa penting jika dibandingkan dengan karakter kita yang jauh lebih dari emas nilainya. Yang terakhir, sikap kita terhadap diri sendiri maupun orang lain tampak dalam keseharian kita melalui hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap waktu. Oleh karena itu, bijaksanalah dalam berpikir, berbicara, bersikap, dan bertindak. Semua hal ini hanya dapat terjadi jika kita bekerja sama dengan pribadi Utama alam semesta, yaitu TUHAN. Maju terus, Pak Harto! Salam komando!             

(Rumah Kemuliaan TUHAN di Pelem Kecut, Minggu 14 April 2013)
                

Sabtu, 13 April 2013

Terima Kasih, Bu Sari



            Kami memanggilnya Bu Sari. Seorang perempuan ramah yang setia menyapa kami, para pekerja rumah sakit ini, dengan berbagai macam makanan dagangannya. Setiap jam delapan sampai sembilan pagi, Bu Sari selalu datang menyambangi kami di kulon desa, tempat favorit kami untuk makan-makan, begitu kami menyebutnya. Di kulon desa itulah keakraban yang murni dan alami terjadi manakala kami menyantap makanan dagangan Bu Sari. Ada nasi kucing (nasi dengan lauk teri atau tempe ditambah sedikit sambal khas angkringan Jogja), nasi gudangan (nasi dengan lauk sayur bayam, taoge, dengan disertai parutan kelapa), nasi pecel, dan yang terbaru adalah nasi jinggo. Minumannya pun beraneka macam ragamnya. Ada jus jambu, jus alpokat, susu kedelai, dan kadang teh hangat. Belum cukup itu, masih ditambah lagi gorengan tempe dan kletik-kletik­ khas desa seperti lanting, kacang polong goreng, ketela berbentuk kubus kecil-kecil yang digoreng, dsb. Suasana sangat meriah ditimpali senda gurau para karyawan. Murah harga-harganya pula. Maka, kloplah sudah menjadi murah meriah.
                Sebagian besar karyawan sudah sangat akrab dan mengenal instalasi satu ini, yaitu instalasi Bu Sari (IBS). Berbagai macam bagian tumpah ruah menyambut setiap kedatangan perempuan energik meskipun sudah berumur ini. Dengan menarik bawaannya melintasi lorong-lorong rumah sakit menuju pos favoritnya, kulon deso, Bu Sari selalu nampak ceria dan semangat. Keceriaannya itu menular kepada kami para karyawan. Dengan keramahan sederhana, dagangannya pun laris manis mengisi perut-perut kami yang lapar dan dahaga. Lapar dan dahaga jasmani dan jiwani. Bukan hanya tubuh kami saja yang dikenyangkan, melainkan jiwa kami juga mendapatkan seteguk penyejuk dahaga. Karyawan-karyawan yang akan memulai berjibaku setiap hari memperoleh energi mereka dari instalasi Bu Sari ini.
                Selain melepas penat dan lelah psikis, instalasi Bu Sari yang fenomenal ini dapat pula menjadi ajang peleburan sekat-sekat atau kelas-kelas masyarakat yang meninabobokkan kami. Sekat-sekat berupa penggolongan semu masyarakat kelas atas, menengah, dan bawah yang diwakili para dokter, perawat, pramurukti, satpam, admin, dll menjadi lebur tak berbekas manakala Bu Sari datang. Serbuan perut-perut lapar membuat kami melupakan bahwa kami telah dilabeli stempel-stempel palsu kelas masyarakat itu. Di situlah kami dapat saling ejek, menghina dina satu sama lain tanpa takut kena hukuman. Di situlah pula kami dapat saling berbagi tanpa ada ewuh-pakewuh. Sungguh suasana kerakyatan yang egaliter yang indah terjadi. Dan semuanya ini karena faktor Bu Sari.
                Apa yang begitu sukar dan rumit dicapai oleh berbagai macam program ala top down untuk menyatukan semangat para karyawan rumah sakit, entah itu oleh bagian sosio pastoral, bidang, maupun kelompok-kelompok kerja, sepertinya telah tercapai dengan begitu sederhana dan mudahnya oleh instalasi Bu Sari ini. Tidak ada ekskulsivisme yang jamak terjadi pada paguyuban-paguyuban yang ada. Yang ada hanyalah perasaan hangat kekeluargaan yang menyatukan kami setiap civitas hospitalia ini. Sederhana. Tidak sukar. Hanya karena perut lapar dan keramahan seorang Bu Sari.
                Suatu saat nanti mungkin aku akan meluangkan waktu untuk bersepeda, main ke rumah Bu Sari, bertemu dengan Bu Sari dan keluarganya. Di sana mungkin nanti aku akan berbagi apa yang ada padaku, berbagi hidup, berbagi cerita, berbagi sukacita. Hitung-hitung sebagai ‘balas jasa’ atas semua yang telah Bu Sari sumbangkan bagi kesejahteraan rumah sakit ladang anggur TUHAN ini. Terima kasih, Bu Sari. TUHAN memberkatimu!   

(Jumat, 8 Maret 2013—rumah sakit ladang anggur TUHAN di Yogyakarta berhati nyaman)